Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Atobe Keigo akhirnya bisa meninggalkan rumah sakit pukul 4.30 sore menuju Bandara Narita. Jika perhitungannya tepat, Oshitari akan mendarat paling tidak pukul 5 sore. Dia sangat berharap lalu lintas sore ini cukup lancar sehingga dia bisa tiba di sana paling tidak 10 menit lebih awal dari waktu mendarat.
Di tengah perjalanan, dia mendengar ponselnya berdering. Dia menekan tombol pada earphonenya untuk menerima panggilan tersebut, "Ya?"
"Selamat sore, Atobe Keigo-sama. Saya Watanabe Shun, Kepala Menara Komunikasi di Bandara Narita," jawab seorang pria di teleponnya.
"Watanabe-san, aku sedang perjalanan ke bandara sekarang."
"Saya harap perjalanan Anda cukup lancar sampai ke bandara, karena ada seseorang yang terhubung dengan menara kami dari pesawat jet pribadi yang terbang dari California. Orang ini ingin berbicara dengan Anda."
"Oh, tanyakan saja apa perlunya karena aku masih di perjalanan."
"Dia bersikeras ingin berbicara langsung dengan Anda, Atobe-sama. Jika Anda bisa lebih cepat tiba di bandara, kami akan mengirim beberapa staff untuk mengantar Anda ke menara komunikasi."
"Apa yang terjadi? Bagaimana keadaannya?"
"Saya rasa semuanya baik-baik saja. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan atau yang lainnya. Status pesawatnya juga normal."
"Baiklah, secepatnya aku tiba di sana. Terima kasih informasinya, Watanabe-san!"
Sebisa mungkin Atobe tetap tenang saat mengendarai mobilnya dengan cepat. Pikirannya mendadak penuh. Dia sangat berharap tidak ada masalah serius dengan Oshitari dan pesawatnya. Lalu mengapa pula dia bersikeras menghubunginya lewat menara komunikasi? Itu tandanya Oshitari masih berada di perjalanan, masih berada di atas pesawatnya. Watanabe bilang tidak ada tanda-tanda darurat apa pun. Jika memang demikian, mengapa harus menghubunginya lewat menara komunikasi?
Tak lama kemudian Atobe tiba di Bandara Narita. Dia langsung disambut oleh 3 orang staff bandara dan diantar ke menara komunikasi. Menara itu terletak di sebelah barat bandara. Banyak di antara para pekerja di sana yang mengenali Atobe. Mereka tidak segan menyapanya. Atobe sedikit canggung membalas sapaan mereka karena saat ini suasana hatinya sedang tidak tenang.
"Selamat datang di menara komunikasi, Atobe-sama. Saya Watanabe yang tadi menelpon Anda," sapa seorang pria paruh baya kepadanya.
"Apa kalian masih terhubung dengan mereka?" tanya Atobe ikut berjalan masuk ke ruang pemancar.
"Ya, kami masih terhubung dengan mereka. Silakan duduk di sini, Atobe-sama."
Atobe memasang headphone dan siap berkomunikasi dengan siapa pun di jet pribadi itu. Menurut keterangan Watanabe, sejauh ini hanya ada 1 pesawat jet pribadi yang melapor akan mendarat di Narita. Itu artinya, hanya jet pribadi milik Oshitari yang akan datang kemari. Sudah pasti yang akan berkomunikasi dengannya adalah pilot jet pribadi itu, atau mungkin Oshitari sendiri.
"Di sini Gerard, pilot jet pribadi Oshitari," sahut suara seorang pria dari pengeras suara.
Atobe mendekatkan mikrofon di samping kepalanya dan berkata, "Selamat sore, Kapten Gerard. Aku Atobe Keigo. Sambungkan aku dengan Oshitari."
Sempat terjadi keheningan beberapa menit, kemudian suara gemeresak terdengar lagi di pengeras suara. "Keigo, kau di sana?" suara rendah dan dalam itu menggetarkan hati Atobe lewat headphone-nya.
"Yuushi!" seru Atobe sedikit panik.
"Whoa, jangan keras-keras, Keigo. Kau hampir membuat gendang telingaku pecah!"
"Mengapa kau menghubungiku lewat menara komunikasi? Di mana kau sekarang?"
"Jarak 2 jam lagi aku akan tiba di Narita. Tetapi aku punya permintaan khusus padamu, Keigo. Aku ingin kau mendengarkanku sekarang."
"Baiklah, Yuushi. Aku mendengarmu dengan jelas di sini."
"Aku memohon izinmu untuk mendarat di Seoul."
Jantung Atobe seakan berhenti berdetak mendengar permintaan Oshitari ini. Dia berkata, "Kau akan mendarat di Narita. Mengapa kau harus ke Seoul?"
"Untuk mengejutkanmu, pesawatku dibajak, Keigo."
Atobe nyaris membuang jauh headphone di kepalanya karena terkejut mendengar kata-kata Oshitari barusan. Pesawatnya dibajak. Pertanyaan berikutnya adalah siapa orang yang berani membajak sebuah jet pribadi? Dia mulai memutar otaknya secepat mungkin. Pilotnya? Pramugarinya? Atau…
"Berapa orang awak pesawatmu, Yuushi?" tanya Atobe mencoba tetap tenang.
"Hanya ada 4 orang awak. Aku pergi bersama 2 pengawal pribadiku. Sialnya, keduanya kini mengkhianatiku," jawab Oshitari.
"Mustahil! Pengawal pribadimu mengkhianatimu? Lalu kau ingin bilang bahwa merekalah yang sekarang ini sedang membajak pesawatmu, begitu?"
"…Kau benar…"
"Sialan!" dikuasai amarahnya, Atobe menggebrak meja. Semua orang di ruangan ini terkejut mendengarnya. Watanabe yang berdiri di dekatnya pun nyaris tidak bisa melakukan apa pun.
"Waktuku tidak banyak, Keigo," lanjut Oshitari kemudian. "Izinkan aku mendarat di Seoul. Jika aku tidak mendapat izinmu, pesawat ini akan diledakkan oleh mereka."
"Mengapa pula kau harus meminta izin padaku, Yuushi? Kau tidak perlu-"
"Keigo!" bentak Oshitari sampai Atobe nyaris tidak bisa berkata apa-apa. Kedua tangannya terkepal kuat di atas meja. Giginya gemeretak menahan marah. Dia mendengar Oshitari berbicara dengan nada tinggi, "Aku tidak akan pernah berkhianat padamu! Aku akan mengikuti semua keputusanmu! Hidup dan matiku ada di tanganmu, Rajaku!"
"Yuushi…" gumam Atobe lirih.
"Atobe-sama," Watanabe kemudian menghampirinya. Satu tangannya diletakkan di atas pundaknya yang gemetar dan dia berkata, "Anda harus memutuskannya. Seperti yang dia bilang, hidup dan matinya berada di tangan Anda."
"Sial, aku sudah tahu itu!" gerutu Atobe. Kepalanya mendadak terasa penuh. Dia ragu sebenarnya. Dia tidak berani memutuskan apa pun. Jika dia menolak permintaan Oshitari untuk mendarat di Seoul, maka dia akan kehilangan Oshitari selamanya karena jet pribadinya akan diledakkan. Namun dia tidak tahu apakah masih bisa bertemu dengan Oshitari lagi jika dia mengizinkannya mendarat di Seoul? Bagaimana jika para pembajak pesawat itu menculiknya dan tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi?
"Atobe-sama, keputusan Anda…" kata Watanabe sekali lagi.
Tangan Atobe gemetar memegang mikrofon di sisi kepalanya. Dia menarik nafas dalam dan berkata dengan lantang, "Mendaratlah di Seoul! Mendaratlah dengan selamat! Hiduplah, Oshitari Yuushi! Aku tidak akan memaafkanmu jika kau harus mati saat mendarat di sana!"
Oshitari tertawa dan berkata, "Terima kasih, Atobe Keigo Ou-sama. Aku berjanji akan hidup untukmu!"
"Ya, berjanjilah untuk tetap hidup, Yuushi. Kau dengar kata-kataku kan? Aku sungguh tidak akan memaafkanmu jika kau mati!"
Percakapan pun berakhir sampai di situ. Atobe masih berusaha mengatur nafasnya yang tersengal. Dia mencoba menenangkan diri. Satu tangannya mengurut-urut keningnya. Segala macam perasaan bergejolak di dalam dirinya. Dia tidak berharap apa pun lagi kecuali bisa bertemu dengan Oshitari. Tidak peduli dia mau mendarat di Jepang, di Seoul, atau di mana pun itu, pokoknya harus bertemu. Dia berdiri menegakkan kepalanya dan berkata kepada Watanabe, "Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mereka tiba di Seoul?"
"Kurang lebih 1 jam 20 menit dari sekarang, Atobe-sama," jawab pria paruh baya itu sambil melihat jam tangannya. "Apalagi mereka menggunakan jet pribadi. Seharusnya bisa lebih cepat. Tergantung bahan bakar yang mereka punya."
"Kau punya ide bagaimana supaya aku bisa tiba di Seoul sebelum mereka?"
Watanabe terkejut mendengar Atobe bertanya demikian padanya. Kedua mata kelabunya menatap wajahnya tajam. Dia mengerti apa maksud dari pertanyaan itu. Maka dia pun langsung menjawab dengan tegas, "Mari ikut saya, Atobe-sama!"
-000-
Jet pribadi Oshitari telah memasuki langit Korea Selatan. Kapten Gerard meminta kepada semua awak pesawat termasuk Oshitari untuk mengencangkan sabuk pengaman karena sebentar lagi mereka akan mendarat. Oshitari melihat James yang duduk di depannya tersenyum lebar penuh kemenangan. Dia masih belum menjelaskan apa pun mengenai tindakannya ini.
"Sebentar lagi…" gumam pria itu.
"James," panggil Oshitari. "Kau masih berhutang satu penjelasan padaku."
"Oh, rasanya kita tidak punya banyak waktu, Tuan Muda. Beberapa menit lagi kita akan mendarat. Iya kan?"
"Kau hanya perlu menjelaskan semuanya dengan singkat. Dan berhenti memanggilku Tuan Muda jika kau sudah mengkhianatiku."
"Saya tidak pernah mengkhianati Anda, Tuan Muda. Saya bahkan ingin seterusnya berada di sisi Anda."
"Jika memang kau masih ingin bekerja untukku, mengapa pula kau melakukan ini?"
"Sepertinya Anda tidak perlu tahu. Ya, lebih baik Anda tidak usah tahu. Percuma saja, Anda juga tidak akan peduli. Atau yah, sedikit saja penjelasan supaya Anda bisa sedikit lebih rileks saat turun di Bandara Incheon nanti."
Meski terikat dengan sabuk pengaman, James tidak kesulitan mencondongkan tubuhnya dan menopang dagunya dengan kedua punggung tangannya. Dia berkata, "Saya hendak menghancurkan pabrik bijih besi yang ada di Korea Selatan. Saya harus menghancurkannya supaya perusahaan ayah Anda tidak jadi melanjutkan kerja sama dengan mereka."
"Sayangnya perjanjian kerja sama itu sudah disetujui kedua belah pihak, James," jawab Oshitari.
"Ya, karena itulah perjanjian kerja sama dengan Brightford pun harus dibatalkan! Anda tidak tahu berapa kerugian yang harus kami tanggung, hah?!"
"Tunggu dulu. Kau bilang apa? Brightford?"
James melempar serangkap lembaran kertas tepat ke pangkuan Oshitari. Dia lalu berkata, "Surat perjanjian dengan Brightford sudah lebih dulu ditandatangani sebelum kemudian Tuan Besar memilih pabrik di Korea Selatan sebagai pemasok bahan baku pabrik perusahaan Anda. Tanpa ada pemberitahuan apa pun!"
"Lalu apa hubungannya denganmu? Kenapa harus kau yang protes?"
"Anda tidak perlu tahu! Saya tidak akan menjelaskan apa pun kepada Anda! Membahasnya saja sudah membuat saya sakit hati! Sebaiknya Anda diam saja dan tidak usah tanya macam-macam!" dikuasai amarahnya, James kemudian mengambil headphone dan berbicara kepada Kapten Gerard. "Gerard! Berapa lama lagi kita akan tiba di Incheon?"
"10 menit lagi, James," jawab Kapten Gerard dari pengeras suara.
James kemudian beralih kepada Oshitari lagi, "Terima kasih, Tuan Muda. Berkat bantuan jet pribadi Anda, saya bisa meloloskan beberapa bahan peledak yang akan saya rakit di Seoul."
"Tidak mungkin! Aku pikir itu hanya ancamanmu saja!" seru Oshitari.
"Oh, mungkin saja, Tuan Muda. Tidak ada pemeriksaan khusus di bandara untuk penumpang jet pribadi, benar?"
"Aku akan membuatmu membayar semua perbuatanmu, James," balas Oshitari geram. Kedua tangannya terkepal kuat. "Selesai kita mendarat di Seoul, aku akan membuat perhitungan denganmu. Akan kugagalkan aksimu di pabrik bijih besi itu!"
-to be continue-
Chapter 3 coming up next!
