.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : T rate/Mpreg/Typo(s)/Slight GaaSaku/TOTALLY HINA-CENTRIC

Genre : Humor/Friendship/Mystery

No pair!

Main cast : Sasori, Sasuke, Itachi

By : Devilish Grin

Chapter 1

Baby Doll Baby Human

(What is going on here?)

.

.

Itachi masih ternganga lebar sambil menatap sang adik serta Sasori yang berdiri dengan ekspresi yang sulit diartikan. Sungguh, kali ini ia sedang menggunakan kapasitas otaknya yang setengah itu secara maksimal untuk mencerna perkataan yang baru saja terlontar dari mulut adiknya. Beberapa kali mata hitam itu mengerjap-ngerjap. Itachi masih mematung di sana, tidak peduli dengan kotak susu yang baru saja ia beli tumpah.

"Itachi-san, kau menumpahkan kotak susumu," ucap Sasori sambil melirik ke arah cairan putih yang sudah menggenang di bawah kaki sang sulung Uchiha dengan datar.

"Jawab dulu pertanyaanku, apa kau benar-benar..., hamil...?" tanyanya masih dengan ekspresi yang sama. Itachi sungguh tidak peduli dengan nasib kotak susu yang sudah kosong itu. Sekarang dia sedang memikirkan apa yang ada di dalam perut sang Akasuna.

Sasuke hanya mampu terdiam, tidak tahu harus bereaksi atau bicara apa. Demi kami-sama tadi dia benar-benar salah bicara. Salahkan Itachi yang suka masuk sembarangan ke dalam tanpa mengucapkan salam terlebih dulu. Rasanya ia ingin sekali menampar Itachi berkali-kali sampai pemuda itu hilang ingatan, melupakan semua yang diucapkannya barusan.

"Aku tidak hamil dan kau salah dengar," jawab Sasori dengan tenang.

"Masa? Tapi rasanya aku tadi mendengar Sasuke menyebut-nyebut kata 'kandunganmu'." Itachi menatap Sasori dengan tatapan tidak percaya. Demi keriput yang sudah bertengger di wajahnya selama 20 tahun, dia tadi tidak salah dengar. 'Aku juga yakin kalau readers tidak salah baca? Kalian melihatnya 'kan?.' Batinnya mulai ngawur.

"Kau salah dengar, aku tadi tidak bilang seperti itu," timpal Sasuke, menguatkan perkataan Sasori dan berharap Itachi berhenti bertanya-tanya.

"Kupingku ini belum sakit, Sasuke, masih sehat dan waras, jadi aku tidak mungkin salah dengar!" Itachi sedikit ngotot.

"Tapi kau sudah tua," sambar Sasuke sekenanya dan muncul perempatan di kepala sang kakak.

"Apa kau bilang? Aku belum tua, Adikku sayang." Itachi tidak terima dibilang sudah tua.

"Kau sudah tua, lihat saja, wajahmu sudah keriputan." Sasuke menyerang titik kelemahan Itachi dan sukses membuat pemuda yang lahir dua tahun lebih dulu darinya itu gusar.

"Arrgh! Ya sudahlah, terserah kalian. Anggap saja aku tadi salah dengar!" Itachi buru-buru pergi meninggalkan kedua pemuda itu dengan perasaan keki karena disebut tua dan keriputan oleh adiknya sendiri. Oh, mereka tidak tahu saja kalau di luar sana banyak wanita yang mengejar-ngejar cintanya.

"Susu pesananmu tumpah, mau aku yang membelikannya untukmu?" Sasuke mengambil kotak susu yang tadi tumpah dan membuangnya ke tempat sampah.

"Tidak perlu." Pemuda merah itu hanya menggeleng lemah. Dia belum terbiasa dengan makanan dan minuman manusia.

"Setidaknya cobalah untuk makan sesuatu." Sasuke menghembuskan napasnya sambil mengambil kain pel untuk membersihkan tumpahan susu tadi.

"Biar aku saja yang membersihkannya." Dengan cepat Sasori menyambar gagang kain pel yang sedang dipegang Sasuke dan membersihkan tumpahan susu itu dengan cekatan.

"Jadi, kau mau kubawa ke dokter?" Sasori langsung menatap malas ke arah Sasuke yang kembali membahas masalah dokter.

"Berapa kali harus kukatakan kalau aku tidak mau ke dokter, Sasuke-san." Sasori menghempaskan napasnya dengan berat. Uchiha bungsu ini benar-benar terlalu memaksa dirinya untuk ke dokter. "Selain itu, apa yang akan dikatakan dokter itu nanti, kalau melihat seorang laki-laki hamil?" dengusnya. Sungguh tidak terbayang memang. Bisa-bisa dia akan menjadi sorotan umum dan paling parah, beritanya menyebar, dan dia akan menjadi selebriti dadakan karena kehamilannya yang sangat langka, bagi para manusia.

Sasuke menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil mengangkat bahu menanggapi ucapan Sasori. Pemuda merah itu memang ada benarnya. Membawanya ke dokter adalah hal yang sangat mustahil. Bagaimana nanti mereka harus memberi penjelasan.

"Yah, setidaknya aku minta kau untuk menjaga kandunganmu," ucapnya dengan penuh harap.

"Jangan khawatir Sasuke-san. Tanpa kau meminta, aku akan melakukannya karena aku sangat menyayangi anak ini," balas Sasori sambil mengukir senyum tipis dan memegang perutnya. Sasuke ikut sedikit tersenyum. Dia yakin kalau Sasori bisa menjaga anak itu.

"Tuh 'kan benar, aku memang tidak salah dengar," gumam Itachi yang ternyata mendengarkan percakapan keduanya secara diam-diam.


Sore harinya, kedai dango

Itachi merasa sedikit jenuh, dan jujur saja, berada di antara kedua laki-laki dingin seperti adiknya dan Sasori membuatnya merasa seperti nyamuk yang keberadaannya tidak diperhatikan. Bosan, dan akhirnya Itachi memutuskan untuk keluar sejenak. Sekarang di sinilah ia, berada di kedai dango bersama dengan beberapa ekor temannya. Lengkap, ada manusia, iblis juga bahkan shinigami, tapi tentunya tidak ada satu orang pun yang tahu identitas mereka yang sebenarnya.

"Sasori hamil? Jangan bercanda, un!" kata-kata itu terlontar dari seorang pemuda pirang, atau lebih tepatnya seorang shinigami yang memiliki keahlian dalam hal ledakan, meskipun pernah dikalahkan dengan telak oleh Itachi.

"Aku juga tidak percaya," timpal gadis berambut hitam, merupakan partner pemuda itu.

"Aku tidak bohong karena aku jelas mendengarnya, percayalah padaku!" Itachi berusaha meyakinkan teman-temannya. "Selain itu, ada satu hal yang membuatku heran, kenapa Sasuke begitu perhatian padanya? Aku curiga jangan-jangan..." Itachi sengaja menggantung kalimatnya dan memandang semua teman-temannya dengan wajah serius dan membuat Kiba yang sedari tadi memerhatikan Itachi jadi merasa sakit perut.

"Jangan-jangan anak itu adalah anak Sasuke!" sambungnya sambil menggebrak meja.

"Uhuk... Uhuk...!" Gaara sukses kaget dan terbatuk. "Itu tidak mungkin Itachi-san." Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan menyambar segelas minuman dingin di sebelahnya. Sasori dan Sasuke bersama? Itu tidak bisa dibayangkan, selain itu, bagaimana dengan Hinata? Mereka semua tahu dengan jelas kalau pemuda-pemuda itu mencintai gadis yang sama. Apa mungkin mereka berdua berubah haluan? Gaara dengan cepat menepis otak busuknya.

'Semua ini gara-gara Itachi,' bisiknya dalam hati dan menganggap Itachi sebagai sumber maksiat.

"Aku juga sependapat dengan Gaara, hal itu tidak mungkin." Sakura satu suara dengan Gaara. Tak mungkin kedua pemuda itu bersama apalagi sampai memiliki anak.

"Itu..., aku juga tidak tahu, makanya aku membutuhkan bantuan kalian untuk menyelidiki kebenarannya..." Sekali lagi, Itachi menatap teman-temannya, tapi kali ini dengan tatapan memelas.

"Menyelidiki mereka berdua? Maaf saja, ya, tapi lebih baik aku mati ditelan iblis daripada disiksa mereka nantinya kalau sampai ketahuan." Shikamaru dengan senang hati langsung mundur sebelum maju ke medan perang (?).

"Aku juga sama," balas Kiba dengan cepat. "Aku masih sayang pada nyawaku," imbuhnya sambil membayangkan bagaimana nasibnya nanti kalau sampai ketahuan oleh Sasori dan Sasuke. Mendadak bulu romanya meremang semua ketika membayangkan dirinya berada di dalam sebuah panci panas raksasa dengan Sasori dan Sasuke yang berpakaian ala nenek sihir sambil mengaduk-ngaduk panci tersebut.

"Aku akan membantumu," ujar Orochimaru dengan senyum sumringah yang tiba-tiba muncul di antara mereka dan langsung merangkul pundak Itachi seenaknya.

"Hei, aku tidak meminta bantuanmu." Itachi dengan cepat menepis tangan Orochimaru. Semakin lama kelakuan laki-laki itu semakin aneh saja.

"Tapi aku ingin membantu atas dasar inisiatifku sendiri," balasnya sambil tersenyum mencurigakan.

"Kau tidak berniat untuk memakan Sasori 'kan?" tanya Neji dengan tatapan curiga. Tentu saja dia tidak lupa dengan obsesi laki-laki pecinta hewan melata itu beberapa tahun lalu, sampai sekarang.

"Ouch, Neji. Kau terlalu berprasangka buruk terhadapku. Apa kau tahu itu sangat menyakitkan." Orochimaru menatap Neji dan menampilkan wajah sedih sembari menunjuk ke arah dadanya, seakan-akan ucapan Neji itu telah menusuk hatinya.

"Menjauhlah dariku, orang tua!" ketus Neji disaat Orochimaru mau maju mendekatinya.

"Tapi, aku juga jadi penasaran. Apa benar Sasori hamil?" Sakura akhirnya malah jadi ikut-ikutan ingin menyelidiki.

"Jangan macam-macam Sakura. Kau bisa mati kalau mereka sampai mengetahuinya," sambar Gaara memperingati.

"Hee? Kenapa tiba-tiba saja kau bicara seperti itu? Apa kau mengkhawatirkanku, Gaara-kun~" Sakura bukannya mendengarkan tanda peringatan dari Gaara, tapi dia malah menggoda pemuda itu dengan nada suara manja.

"Aku hanya memperingatimu, Sakura," jawab Gaara dengan tegas.

"Ya, ya, setidaknya kalau aku mati nanti akan ada seorang shinigami yang akan menangisiku," balas Sakura sambil tersenyum jahil ke arah Gaara yang kini sukses mengalihkan pandangannya dari gadis itu.

"Jadi...?" Itachi melirik teman-temannya meminta kepastian.

"Aku akan ikut membantu!" jawab Sakura dengan mantap. Yah, sepertinya gadis itu sudah berada pada keputusannya untuk membantu Itachi. Gaara yang duduk bersebrangan dengan si surai muda hanya bisa menggeleng pasrah.

"Aku juga akan membantu!" seru Orochimaru tidak kalah bersemangatnya dari Sakura.

"Bersiap saja besok-besok akan ditemukan dua mayat yang mati konyol," celetuk Shikamaru sambil setengah terkekeh.

"Kau kejam, un!" Deidara melirik tak percaya ke arah Shikamaru yang baru saja seperti mengutuk temannya untuk mati. Shikamaru hanya menyeringai sesaat.

Pada akhirnya Itachi menghabiskan waktu sorenya bersama dengan teman-temannya, dan membicarakan Sasuke juga Sasori sampai tiba saatnya sang surya tenggelam dari peraduannya berganti dengan sang dewi malam.

"Sudah malam, un. Kami harus kembali ke tugas kami." Deidara dan partnernya yang bernama Kurotsuchi menjadi orang pertama yang mengundurkan diri, berpamitan. Sebagai seorang Shinigami dia memang bertugas untuk menyisir setiap wilayah.

"Aku juga." Tak lama Gaara berdiri dari posisinya mengikuti jejak Deidara dan Kurotsuchi untuk undur diri.

Setelah itu satu-persatu dari mereka ijin, berpamitan pulang kepada Itachi dan hanya tinggal menyisakan Orochimaru dan Sakura di sana. Kedua orang itu berniat untuk mengikuti Itachi dan melihat sendiri mengenai kedua pemuda yang sekarang ini tinggal bersama dengannya.

"Baiklah, Itachi-san. Kita pulang sekarang?" tanya Orochimaru yang sepertinya sudah tidak sabar.

"Yah, baiklah, tapi di sana jangan coba-coba membuat keributan dengan Sasori." Sebelum mengajak Orochimaru ke rumahnya, Itachi sempat melemparkan ultimatum kepada pria itu untuk tidak mengganggu Sasori.

"Tenang saja, karena aku dan Sasori sudah berdamai sejak lama," balasnya sambil tersenyum aneh yang malah membuatnya semakin mencurigakan.

"Hah, sudahlah, ayo ke rumahku." Itachi hanya mengendikkan bahu, malas memikirkan mengenai kebenaran ucapan Orochimaru. Tapi satu hal yang jelas, dia akan bertindak kalau pria ular itu berani berulah.


Kediaman Uchiha

Pemuda berambut panjang yang merupakan tonggak keluarga Uchiha sekarang sudah tiba di kediaman barunya bersama dengan Sasuke plus Sasori. Ia datang bersama dengan Orochimaru dan Sakura tentunya yang sudah mengekor sejak dari kedai dango. Keduanya penasaran setelah mendengar cerita Itachi dan ingin menyelidiki kebenarannya juga.

"Aku pulang!" teriaknya dari arah luar pintu dan masuk ke dalam rumah yang pintunya tidak terkunci.

Itachi mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk, dan ketiganya melepaskan alas kaki masing-masing pada bagian depan rumah.

"Okaeri, Itachi-san..." Sasori menyambut kedatangan Itachi dan pemuda itu sempat terkejut melihat kehadiran Orochimaru serta Sakura, dua orang yang cukup lama tak dijumpainya itu.

"Ah, Konbawa, Sasori-kun." Begitu melihat Sasori ada di depannya, Orochimaru langsung tersenyum dan menyapanya hangat, sementara Sakura melambai senang ke arah Sasori sambil berpikir kalau pemuda itu masih sama dan tidak berubah, baik fisik atau pun sikapnya.

"Konbawa, Orochimaru-san, Sakura-chan," balasnya dengan sopan.

"Nice apron, Sasori-kun," puji Orochimaru sambil mengulum senyum dan melirik ke arah celemek berwarna biru muda dengan motif beruang madu yang dikenakan Sasori.

Menyadari arah pandangannya Orochimaru membuat iblis berkepala merah itu dengan cepat melepaskan apron yang masih menempel pada tubuhnya. Semburat merah tipis menghiasi wajah pemuda itu. Malu? Tentu saja. Mana ada iblis mengenakan apron manis begitu. Risih? Sangat, mengingat Orochimaru sempat memiliki obsesi aneh pada dirinya.

"Sasuke di mana?" tanya Itachi dan langsung menjejakkan kakinya masuk menuju ruangan tamu bersama dengan Orochimaru juga Sakura.

"Dia ada di dapur. Kami sedang menyiapkan makan malam, kebetulan ada Orochimaru-san, juga Sakura-chan. Apa kalian mau bergabung?" mendengar penjelasan Sasori berhasil membuat pikiran ketiga orang lainnya berkelana ke mana-mana. Dua orang laki-laki memasak bersama di dapur? Sungguh mengejutkan, apalagi kalau kedua laki-laki itu adalah Sasori dan Sasuke. Tentu pertanyaan, ada apa dengan mereka akan mengusik pikiran siapa pun yang mendengarnya.

"A-ah, makan malam, ya? Ke-kebetulan aku memang lapar!" sambar Sakura cepat dengan sedikit canggung. Bingung mau bereaksi bagaimana, gadis permen kapas itu memilih untuk merangsek masuk ke meja makan.

Orochimaru menjadi orang kedua yang menyusul Sakura dan kemudian diikuti oleh Itachi serta Sasori. Keempat orang itu kini tengah berkumpul di meja makan sambil menunggu Sasuke yang masih berkutat dengan hidangannya di dapur.

.

.

"Apa ada seseorang yang bisa membantuku?" suara pemuda raven itu menggema dari arah dapur.

"Biar aku saja." Sasori dengan cepat bergerak menuju dapur.

Tak berapa lama kedua pemuda itu muncul dari balik dapur sambil membawa beberapa hidangan untuk makan malam berupa, irisan jamur, daging, sayuran, tahu dan sebuah panci masak khusus.

"Wah, makan besar, nih!" celetuk Itachi dengan air liur yang nyaris menetes begitu melihat makanan-makanan itu dikeluarkan.

"Selamat dinikmati." Sasuke tersenyum puas.

Sasuke kemudian duduk di sebelah Itachi, dan di sebelahnya ada Sakura yang duduk bersebrangan dengan Orochimaru. Sementara Sasori tampaknya memilih untuk tidak bergabung bersama dengan para manusia itu. Kakinya bergerak untuk meninggalkan meja makan, namun langkahnya terhenti ketika sebuah suara memanggilnya.

"Kau mau ke mana, Sasori?" suara itu bersumber dari sang raven, Uchiha Sasuke.

"Aku rasa lebih baik aku meninggalkan kalian semua di sini," jawabnya yang merasa tak betah lama-lama berada di sekitar manusia.

"Duduk dan makanlah bersama kami." Kata-kata yang terlontar itu lebih terdengar seperti sebuah perintah dibanding permintaan, dan hal ini membuat ketiga orang lainnya terheran-heran.

"Tidak, terima kasih. Bukankah kau sudah tahu, kami tidak memakan makanan manusia." Sasori dengan jelas menolak dan raut wajah Sasuke seketika itu berubah. Ini akan menjadi pertanda buruk. Sasuke tidak biasa ditolak.

Tanpa banyak bicara si bungsu Uchiha itu segera bangkit dari bangkunya. Ia berjalan cepat mendekati Sasori, dan belum sempat pemuda merah itu bergerak ke mana-mana, Sasuke sudah menariknya dan memaksanya untuk duduk. Hal ini tentu saja menyita perhatian ketiga orang lainnya. Sasuke tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya (kecuali pada Hinata), terlebih lagi pada seorang laki-laki.

"Duduk dan makan saja. Setidaknya kau harus memakan sesuatu." Sasuke menyendokkan nasi ke dalam mangkuk dan menyodorkannya kepada Sasori. Mulut Itachi menganga, Sakura dan Orochimaru nyaris tidak berkedip dengan pemandangan ini.

"Sasuke, jangan memaksaku. Aku tidak menginginkan makanan ini." Sasori menatap mangkuk yang penuh berisi nasi itu dengan malas.

"Kau harus makan makanan yang sehat dan bergizi, karena kau itu sedang..." Sasuke terdiam sesaat, menyadari dia hampir saja keceplosan bilang kalau Sasori itu sedang mengandung.

Hening sesaat...

"Karena kau itu sedang apa, Sasuke...?" tanya Sakura, mengulang kembali kalimat Sasuke yang tadi terputus dengan perasaan penasaran. Instingnya sebagai perempuan menyatakan memang ada yang terjadi antara Sasuke dan Sasori, entah apa itu.

'Sial, aku lupa kalau aku tidak sendiri!' Sasuke sukses mengumpat berkali-kali lipat dalam hati. Sesaat tadi dia memang sempat melupakan keberadaan 3 mahkluk lainnya di dalam ruangan.

"Karena dia sedang berada di dunia kita, dunia manusia dan dia membutuhkan energi yang lebih besar untuk mempertahankan wujudnya," jawab Sasuke dengan asal. Meski asal, tapi Sakura tampaknya percaya dengan penjelasan yang diberikan Sasuke barusan. Gadis itu manggut-manggut (sok) mengerti meskipun sebenarnya dia bingung.

"Sasori, lebih baik kau makan atau aku akan memaksa dan menyuapimu!" onyx itu kembali menatap Sasori dan memberikan ancaman serius. Itachi nyaris saja menyemburkan semua makanan dari mulutnya.

"Uhuk... Uhuk...!" dengan cepat sang sulung Uchiha menyambar gelas minumannya.

"Baiklah, aku akan memakannya tapi aku tidak janji untuk menghabiskannya." Sasori akhirnya mengalah karena ancaman Sasuke pastinya.

.

.

Selang beberapa saat akhirnya kegiatan makan malam (yang menyiksa bagi Sasori) selesai. Orochimaru dan Sakura memutuskan untuk berpamitan pulang setelah cukup puas membuktikan sendiri apa yang diceritakan Itachi mengenai keanehan antara Sasuke dan Sasori.

"Aku rasa apa yang dikatakan Itachi memang benar. Mereka berdua seperti menyembunyikan sesuatu dan aku sudah memutuskan untuk menyelidikinya, bagaimana denganmu, sensei?" ujar Sakura di sela-sela perjalanan pulangnya. Pokoknya dia sudah bertekad akan hal ini.

"Yah, selama masih ada kaitannya dengan Sasori, aku akan ikut menyelidikinya," balas Orocimaru sambil tersenyum. Dan, keduanya kembali melanjutkan perjalanan pulang yang terpisah di sebuah persimpangan.

Kembali ke kediaman Uchiha

Sasuke, Sasori dan Itachi sedang bersama-sama membereskan meja makan dan membawa piring-piring tersebut ke dapur untuk dicuci.

"Biar aku saja yang mencuci semuanya karena kalian tadi sudah memasak," ujar Itachi sambil melirik kedua pemuda itu untuk kembali ketika mereka ingin mendekat dan membantu Itachi.

Itachi mulai mengambil salah satu piring dan mencucinya. Sasuke serta Sasori hanya saling melemparkan pandang dalam diam, hingga akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Itachi sendirian di dapur. keduanya ke dalam kamar masing-masing tanpa bicara sepatah kata pun.

Di dalam kamar

Sasori tidak tahu harus melakukan apa di dalam kamar. Dia sangat tidak terbiasa melakukan kegiatan seperti yang dilakukan para manusia di dunia, contohnya seperti tidur. Dia bisa dikatakan tidak tidur, karena dia hanya tidur untuk mengumpulkan energinya atau kalau dia benar-benar berada dalam tingkat kelelahan tinggi, tapi tidak dalam keadaan seperti ini. Selain itu dia sendiri mulai merasa bosan diam di kamar. Dia terbiasa bergentayangan ke mana-mana dan banyak melihat manusia melakukan aktifitas dalam keadaan larut begini.

BRAKH!

Tiba-tiba saja Sasori seperti mendengar sesuatu dari balik jendela kamarnya (kamarnya berada di bawah dan jendela kamarnya berhadapan langsung dengan halaman samping rumah). Pemuda itu bergegas berlari ke arah jendela kamarnya dan meningkatkan kewaspadaan dirinya. Siapa tahu di luar sana ada musuh.

Krieeet...

Begitu jendela kamarnya terbuka, ia dapat melihat sosok berjubah hitam dengan tudung besar dan mengenakan topeng rubah berwarna putih dengan beberapa garis merah pada wajahnya.

"Shibaraku desu, Sasori-san...," ucap sosok itu sambil melepaskan topeng yang sedang ia kenakan.

"Ah, Yagura-san." Sasori langsung menghela napas lega begitu mengetahui yang datang adalah Yagura, salah satu orang kepercayaan Mito, juga Hinata.

"Aku kemari membawakan sesuatu dari Mito-sama." Pemuda berwajah baby face itu berjalan mendekati Sasori ke arah jendela kamarnya yang terbuka.

"Apa ini?" tanyanya sambil mengamati sebuah botol berisi pil-pil hitam kecil dalam genggaman tangannya.

"Itu obat untuk..., ehm..., memperkuat kandungan...," jawab Yagura sedikit canggung, "dan, Mito-sama berpesan kepada anda untuk mulai memakan makanan manusia," sambungnya menyampaikan pesan penting dari Mito.

"Kenapa?" Sasori mengernyit dan tampaknya ia tidak suka dengan perintah itu.

"Kata Mito-sama, ada kemungkinan bayi yang ada dalam kandunganmu itu adalah bayi manusia dan dia membutuhkan asupan gizi seperti bayi manusia lain pada umumnya," balas Yagura menjelaskan dan Sasori mengangguk mengerti.

"Baiklah, saya hanya ingin mengantarkan obat serta pesan dari Mito-sama. Saya pergi dulu." Yagura hendak pergi ketika tiba-tiba Sasori kembali memanggilnya.

"Yagura-san, bagaimana keadaan Hinata-sama pada saat ini...?" Sasori jelas tidak bisa menyembunyikan rasa rindunya pada wanita itu.

"Hinata-sama baik-baik saja. Mito-san selalu mengawasinya." Sasori tersenyum lega setelah mendengar kabar Hinata yang baik-baik saja. "Saya tahu anda pasti khawatir dan ingin bertemu dengannya. Tapi, saya mohon jaga perasaan anda untuk tidak menemuinya sampai waktunya tiba, dan tolong sampaikan salam Mito-san pada Tuan Sasuke." Setelah menyampaikan pesan itu, sosok Yagura menghilang dari pandangan mata.

Sasori menghela napas dan tak lama pandangannya teralih ke arah perutnya sendiri. Sepertinya dia tidak punya pilihan lain selain mencoba untuk beradaptasi dengan makanan manusia kalau dia menginginkan bayi dalam kandungannya itu sehat dan bisa terlahir di dunia (ataupun di underworld) dengan selamat. Selain itu hati kecilnya berdoa agar semua keputusan ini bisa ia jalani dan suatu saat nanti mereka bisa bertemu kembali.

'Hinata, tunggulah...'

TBC


A/N : Masih ambigu 'kah? Oh, tolong jangan salah persepsi dulu, dan saya harap kalian tidak terhasut oleh pikiran busuk Itachi. Hinata akan muncul tapi mungkin tidak pada awal-awal chapter. Mungkin pertengahan, dan adegannya tidak akan terlalu banyak. Kisah ini lebih menitikberatkan dari sudut pandang Sasuke dan Sasori serta dari sudut pemikiran nista Itachi sendiri yang membuat suasana menjadi kacau dan tidak semestinya.

Mungkin chapter 4 atau 5 akan saya buka rahasia dibalik ini semua, jadi harap bersabar.

Sekali lagi saudara-saudara ini bukan YAOI, dan tetap mewaraskan jalan pikiran kalian, baca dengan teliti agar tidak terkontaminasi dengan pemikiran Itachi (sekali lagi, Itachi saya jadikan oknum penebar virus yang 'iya-iya').