2nd Gift
Dream a Little Dream
a/n :tidak memasangkan Makubex dengan siapaPUN, hanya ingin melihat wajah bocah itu tersenyum sepenuh-penuhnya.
Makubex melihat ke sekitarnya. Selalu sama setiap hari, reruntuhan membosankan menandakan kehancuran dan kebejadan moril.
Berapa lama lagi aku akan terkurung dalam Ura Shinjuku ini?
Pertanyaan itu mengalir bebas seperti angin yang tidak pernah pasti menuju ke mana. Dia seperti burung dalam sangkar yang sudah lupa bagaimana caranya mengepakan sayap dan berada di langit biru kembali.
Lalu seolah tertipu Virtual World rancangannya, benda-benda bulat putih bersih, berdiameter tidak terlalu besar berjatuhan dari langit.
Dia mengulurkan tangannya, bola itu lumer mencair dalam panas suhu tubuhnya.
Reruntuhan hilang dalam kabut, muncul kembali dalam metafora, kerlap-kerlip merah dan hijau seperti kunang-kunang yang memeriahkan langit yang sedang meneteskan bulir-bulir air mata.
Lalu muncul sosok itu, berambut panjang kecoklatan berpadu dengan ikat kepala merah jambu yang serasi dengan bola mata coklatnya. Tersenyum lembut dengan hasrat keibuannya.
"Di tengah kota ada pohon natal yang besar. Mau lihat bersama?"
Wajah penuh tanda tanya sendu pemuda tanggung itu berintegralistik menjadi euforia. Tidak pelak lagi sebutan 'anak kecil' melebelinya mulai sekarang.
Seandainya saja kejadian itu terjadi dalam realita sementara senyumnya tersungging untuk dirinya yang puas dalam dunia virtual ciptaannya.
Sementara wanita di sampingnya hanya tersenyum simpul melihat wajah bahagia si bocah tanggung. Sinar dari layar komputer merender profil wajah dan kilau mata coklatnya yang terlihat semakin sempurna.
"Mimpilah yang indah, sampai suatu saat aku bisa membawamu keluar untuk melihat pohon natal sungguhan…
…Kelakpasti."
---HFSmile---
