Wattsapp guys hehehe, akhirnya aku bisa update lagi yaa, duh senangnyaaaa TT, alasan aku sempet 'menghilang' karena waktu itu aku ga bisa buka website Fanfiction makanya aku ga update, eheheh tapi sekarang sudah bisa. Untuk teman-teman yang sudah review, duh thankyou banget…
Balas komen:
Tes, Darkmania, Guest, yuki2617, Akunsudahtidakdipakailagi : Thank you hehehe, ini aku udah update chapter 2, read, comment and subscribe yaaa
Firdaus minato : hmmmm hahahaha, ditunggu aja yaaa ;)
Yemimatst: iya aku juga suka crackpair, anti mainstream gitu deh, dan thank you ya buat masukannya tentang kehamilan, jujur aku kurang tau soal itu, dan nanti aku coba edit untuk chapter 1 yaa, tentang Heiji… hmmm… nanti yaa tetap follow aja ceritakuu, ehehehe, comment and subscribe yaaa
Luna Nightingale : Halo, apa kabar? Hehehehe, wah aku ga nyangka pasangan ini bakal didukung dan disukai, nah, untuk chapter chapter berikutnya tetap ikutin aja yaaa, comment and subscribe . I am really happy that I become your inspiration anyway! Eheheheh
.
.
.
.
.
"Bagaimana? Kau masih hidup?" tanya seseorang dibalik handphone Shinichi.
"Kau menyindir ya? Tentu saja aku masih hidup, dalam kebahagiaan, setelah diriku meminum antidote darimu…" ujar Shinichi sinis sambil menyandarkan tubuhnya di sofa rumahnya. Sedangkan orang yang berada di telpon itu tertawa renyah.
"Berterima kasih pada Shiho Miyano yang sudah menolongmu bertemu kembali dengan sang kekasih."
"Ya, ya, terima kasih nona Shiho…" ujar Shinichi dengan nada dibuat malas.
"Sama-sama tuan Shinichi Kudo, selama kau tidak membuat masalah kau tidak perlu berurusan denganku yang menyebalkan dan angkuh ini…"
Membuat masalah? Tiba-tiba Shinichi teringat akan kejadian 1 bulan yang lalu, insiden yang ia buat dengan perempuan yang tidak terlalu ia kenal. Ya, benar, tidak terlalu kenal. Walaupun waktu Shinichi bersama-sama dengan Ran, Heiji, dan Kazuha bertemu dengan kasus, menyelesaikan bersama, bahkan bertemu dengan banyak rintangan, tapi bukan berarti ia semakin mengenal perempuan yang selalu berada di samping Heiji. Ia bahkan tidak mau mengenalnya. Ia tidak peduli pada perempuan selain Ran dan ibunya. Tapi tiba-tiba, karena satu malam, ia selalu dibayang-bayangi dengan raut muka Kazuha yang dingin tapi penuh kesedihan karenanya. Ia merasa bersalah, telah merenggut harta berharga yang dimiliki oleh seorang perempuan.
"Hmmm… kenapa kau diam saja? Jangan-jangan kau sudah membuat masalah?" Shiho membuyarkan lamunannya dan seakan-akan bisa membaca pikiran Shinichi dari kejauhan.
"A.. Apa? Tentu saja tidak… a.. aku…" tiba-tiba Shinichi panik dan Shiho mencium keanehan dari suara Shinichi, "Ehm… Shiho,"
"Ya, tuan detektif?"
"Jika tiba-tiba suatu pagi kau menemukan di tempat tidur kau sedang tidur tidak memakai busana dan mendapati bahwa ada laki-laki di sebelahmu dan itu bukan Akai, tapi aku… apa yang akan kau lakukan?" tanya Shinichi.
Shiho berdiam tak bergeming selama 10 detik. "Mungkin sebelum aku membunuhmu, Shuichi sudah membunuhmu duluan," jawab Shiho tenang.
Shinichi bergidik ngeri membayangkan dirinya mati dicincang-dicincang oleh Shuichi Akai. Haduh, seharusnya aku tidak bertanya kepada professor sinting itu.
"Kenapa memangnya? Kau sudah meniduri wanita lain selain Ran?"
DEG! Shinichi tiba-tiba merasakan jantungnya mencelos keluar. Gila pikirnya, bagaimana tebakan dia selalu benar? "Apa maksudmu? Tentu saja tidak, aku kan hanya bertanya," Ia teringat akan perjanjiannya dengan Kazuha, dan berusaha mencari topik lain, "Oh ya, bagaimana kabar Akai? Dia baik-baik saja? Apa dia sedang bertemu dengan kasus baru?"
"Hmmm… ya dia baik-baik saja, saat ini Shuichi sedang di London untuk kasus narkoba yang sedang ia pegang. Jadi aku di sini bersama dengan Jodie, dia menemaniku di kala aku sendirian, yah coba ada kau, pasti aku bisa mengejekku sesuka hatiku, jadi aku tidak bosan…" Shinichi hanya menunjukkan muka 'oi-oi' nya walaupun Shiho tidak melihatnya secara langsung, tapi bukan berarti ia kesal kepada wanita itu.
"Ya sudah, daripada kata-katamu membuat aku kesal, mending aku tutup dulu, Bye—" tiba-tiba Shiho memotong pembicaraannya.
"Hei Kudo!" seru Shiho. Shinichi menempelkan handphonenya lagi di telinganya, "Apa?"
"Kalau kau ada masalah, jangan sungkan-sungkan bercerita padaku, aku tahu hidupmu tak akan pernah bebas dari masalah, makanya siapa tau aku bisa memberikan solusi…" Shiho menghela napas, dan mengatakan, "Bagiku, kau, Shinichi Kudo, kau adalah saudara pengganti kakakku, kau tahu…"
Shinichi tersenyum mendengar kata-kata yang menenangkan. Shiho Miyano sudah seperti kakaknya sendiri, selalu memberikan nasihat, tapi kadang juga seperti adiknya, karena Shinichi selalu melindungi Shiho di saat ia dipojoki oleh kehadiran Organisasi Hitam. Ia menutup teleponnya, dan menyandarkan kepalanya di sofa.
"Huft…"
.
.
Kazuha mengganti bajunya dengan seragam sekolah. Ia melepaskan bajunya, dan menatap ke cermin. Ia menatap lekat perutnya, lalu merabanya. Di sini ada bayi? Sejujurnya Kazuha masih tidak percaya kalau dirinya sedang mengandung. Dia masih 18 tahun. Ia masih ingin sekolah, kuliah, bertemu dengan teman-teman, dan pacaran dengan orang yang ia cintai. Tiba-tiba, matanya berlinang air mata. Bagaimana bisa hidupnya menjadi berubah sejauh ini?Ia sudah sangat bahagia dengan kehidupannya sebagai seorang anak SMA.
"Hei, Kazuha! Kok kau lama sekali sih? Cepat, nanti kita telat sekolah, ahou!" teriakan laki-laki yang akrab didengarnya dari ruang tamu membuat Kazuha terkaget dan buru-buru menghapus air matanya dan mengenakan seragam. Pokoknya tidak ada yang boleh tahu selain bibi, ayah tidak boleh tahu, Heiji pun tidak!
Kazuha pun berlari kecil turun tangga, dan mendapati Heiji sudah memasang muka kesal karena menunggunya. "Bagaimana sih? Katanya mau ditunggu, tapi kok lama sekali?"
"Ah… Iya! Aku tahu, ayo cepat pergi!" seru Kazuha dan menarik tangan Heiji dengan kasar.
.
Sesampainya di kelas dan belajar, Kazuha hanya berdiam, tak memperhatikan penjelasan Ibu Hime, guru Matematikanya. Ia menatap lurus tapi tatapan matanya kosong. Sementara Heiji asik membaca novel detektif kesukaannya di ujung belakang kelas tanpa memperhatikan gurunya.
"…. Yama… Toyama… Kazuha Toyama!" seru Ibu Hime tiba-tiba mengagetkan murid seisi kelasnya. Ibu Hime cukup dikenal sebagai guru killer, yang suka tiba-tiba menyuruh maju muridnya untuk mengerjakan soal di papan tulis. Heiji pun yang tadinya asik sendiri tiba-tiba ikut tersentak dan melihat ke sumber suara dan mendapati teman dari kecilnya itu ditatap tajam oleh nenek sihir di sekolahnya.
"Kenapa kamu bengong? Cepat kerjakan soal di papan tulis!" seru Bu Hime. Kazuha memandang ibu itu, lalu berdiri dengan pelan, dan maju mengerjakan soal. Dia tiba-tiba tidak bisa berpikiran jernih, pikirannya campur aduk. Ia memikirkan tentang janin yang berada di dalam tubuhnya, dan tiba-tiba muka lelaki yang membuatnya berbadan dua muncul dalam pikirannya.
"Maaf bu, saya tidak bisa mengerjakan… Saya sedang tidak bisa berpikir bu.." ujar Kazuha lemah. Teman-temannya terkejut melihat reaksi Kazuha begitu lemah, khususnya Heiji. Kazuha dikenal sebagai gadis yang heboh, meluap-luap dan semangat namun cukup pintar di kelasnya (walaupun tidak sepintar Heiji, Ran dan Shinichi), tapi ia cukup jago matematika. Dan yang membuat Heiji kaget adalah muka Kazuha yang muram. Sebenarnya daritadi dia mendapati Kazuha yang terlalu diam. Biasanya, ia suka mengeluh dan mengomel karena Kazuha yang cerewet dan bawel kepadanya. Tapi kini, ia bingung kepada perilaku Kazuha. Muncul kekhawatiran kecil kepada teman dekatnya itu.
"Hah? Bukannya biasanya kau bisa mengerjakan? Ada apa denganmu?" tanya Bu Hime dengan nada marah tapi sedikit khawatir.
"Saya izin bu ke toilet, mungkin setelah itu saya bisa mengerjakan," Kazuha tersenyum tipis dan keluar kelas. Bu Hime menjadi kebingungan, begitu pula teman-temannya, khususnya Heiji yang ingin bangkit dari kursinya mengejar Kazuha, tapi tak mungkin karena ia tidak mungkin masuk toilet wanita.
Kazuha membasuh mukanya dengan air dari kran wastafel, dan menatap cermin lagi. Duh… bodoh sekali dirimu Kazuha! Dirimu yang seperti itu bisa membuat orang-orang tahu! Gila, aku harus bersikap normal! Kazuha menarik napas kencang dan berusaha untuk tersenyum ceria. Aku pasti bisa!
.
Bel istirahat berbunyi. Kazuha mengeluarkan kotak bekal dan duduk menghadap teman-teman di belakangnya. "Ayo kita makan!" ujar Kazuha semangat. Salah satu temannya, Mitsuki, bertanya dengan nada khawatir, "Tadi kau kenapa Kazuha-chan? Apa kau baik-baik saja?"
Kazuha menggangguk. "Hmm.. tentu saja, tadi aku sedang melamun saja,"
Sembari makan, Heiji mendatangi Kazuha yang sedang makan siang, "Hei, Ahou! Kau sekarang jadi bertambah bodoh ya sekarang?" tanya Heiji yang pura-pura bercanda, padahal arti pertanyaan Heiji, Kazuha, kenapa kau jadi jadi bersedih?Apa kau sedih?
"Tidak, enak saja!" jawab Kazuha, "Sudah, pergi sana! Kau membuat nafsu makanku berkurang,"
"Bagus dong, jadinya tubuhmu tidak gendut lagi!" Heiji langsung lari ketika Kazuha siap-siap melempar tutup tempat bekalnya dengan muka siap ingin meledak. Heiji tertawa-tawa meninggalkan Kazuha sekaligus menjadi lega, Ya, sepertinya dia baik-baik saja.
"Hei Kazuha, akhir pekan kita ke Tokyo yuk!" ajak Heiji saat jalan pulang dengan Kazuha.
"Ke Tokyo? Untuk apa? Apa kau ingin membeli sesuatu?"
"Hei, ahou! Masa kau tidak tahu tujuan kita ke Tokyo, tentu saja bertemu dengan Kudo dan Ran-neechan!" Kazuha tiba-tiba menghentikan langkahnya. Bertemu dia? Haduh, memangnya tidak bisa ya Heiji hanya berhubungan dengannya lewat telepon? Apa selalu harus bertemu?
"Kalau aku tidak ikut?" tanya Kazuha datar.
"Apa? Alasan apa? Kenapa kau tidak ikut? Nanti Ran-neechan akan mengomel padaku karena aku tidak membawa seorang teman di saat aku mencuri waktu dengan pacarnya itu!"
"Makanya jangan merebutnya dari Ran-chan…"
"Mana bisa, nanti bosan, lagipula jarang-jarang kok kita ke Tokyo, pokoknya kau harus ikut ya!" Heiji tidak setuju dan menolak keras keinginan Kazuha, sebenarnya alasan ia ingin ke Tokyo karena ia merasa Kazuha harus bertemu dengan teman curhatnya, Ran, siapa tahu Kazuha menjadi lebih lega. Padahal Heiji tidak tahu, membawa Kazuha ke Tokyo, sama saja membuat Kazuha menjadi makin sedih dan menderita, dan kemungkinan terburuk adalah… ia bisa mendapati Kazuha tidak berada di sisinya lagi.
.
.
"Shinichi, kau sedang apa? Ayo kita jemput Hattori dan Kazuha-chan!" seru Ran menarik-narik Shinichi yang sedang menonton bola.
"Haduh… kan masih lama sampainya… dan kenapa harus dijemput juga sih? Memangnya mereka tidak tahu arah rumahku apa?"
"Ayolah, jangan seperti itu, aku kangen sekali dengan Kazuha! Kami berencana setelah menjemput mereka, kita berbelanja di Shibuya, sementara kau dan Hattori bisa bermain sendiri dengan misteri dan permainan detektif-detektif itu!"
Shinichi memasang muka kesal dan berdiri. "Ya sudah, ayo!" Ran pun melompat kecil penuh kegirangan dan mengalungkan lengannya ke lengan Shinichi. Ia senang bermanja-manja dengan Shinichi, tentu saja, ia begitu rindu dengan teman-yang-akan-menjadi-pacarnya itu. Jadi sejak Shinichi 'kembali', ia sering sekali melakukan kontak fisik dengan Shinichi, seperti mengalungkan lengannya, memegang tangannya, tapi tidak sampai mencium sih heheheh. Ia hanya menunggu Shinichi menembaknya sekali lagi (sebelumnya Ran pernah di tembak oleh Shinichi di London) lalu berkata "Yes". Ya, dia berharap sekali Shinichi menyatakan perasaannya sekali lagi.
.
.
"Wah…. KAZUHA-CHAN!" teriak Ran berlari menghampiri Kazuha yang baru keluar dari kereta bersama Heiji dan memeluknya erat.
"Aduh… Ran-chan!" ujar Kazuha memeluk balik Ran.
Shinichi mendatangi mereka, dan menatap Heiji, "Apa harus memelukmu juga?" tanyanya.
"Yee.. di dalam mimpimu!" Heiji mundur seakan memperlihatkan dirinya jijik. Shinichi hanya tertawa saja. Tapi tawanya memudar ketika matanya bertatapan dengan Kazuha yang sudah melepaskan pelukannya dengan Ran.
"Hai Toyama," Shinichi berusaha tersenyum. Gila, bisa-bisanya aku tersenyum tenang dan berkata hai kepadanya seolah tak terjadi apa-apa.
"Hai." jawab Kazuha singkat. Haduh, bagaimana aku bisa berhadapan dengan dia, aku hanya ingin menangis jika melihat mukanya. Muka Kazuha yang datar berusaha menahan rasa sakit, amarah yang meluap-luap di dalam hatinya. Kazuha memalingkan mukanya dan tersenyum kepada Ran, "Bagaimana Ran-chan? Apakah kau siap untuk berbelanja nanti?"
"Tentu saja aku siap! Siapkan tenagamu saja Kazuha-chan untuk mengelilingi Shibuya," Ran menarik tangan Kazuha, "Ayo Shinichi kita ke parkiran mobil, antarkan kami ke Shibuya ya,"
"Ya ya," Shinichi hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Jika seperti ini saja, Ran mengeluarkan senyum cerianya, yang selalu membuat hatinya deg-deg an dari dulu. "Ayo Hattori," mereka pun berjalan menuju parkiran mobil.
.
.
"Jam berapa harus kujemput?" tanya Shinichi mengeluarkan kepalanya dari balik kaca mobil sambil berbicara kepada Ran yang sudah di luar mobil bersama Kazuha.
"Hmmm… aku tidak tahu, mungkin kami bisa pulang sendiri, karena mungkin akan sangat lama…" Ran mengedipkan sebelah matanya kepada Kazuha yang tersenyum. Biasa lah, perempuan di tengah mall itu akan memakan waktu yang sungguh lama.
"Ya sudah, Kudo, ayo! Kami pergi pergi dulu ya, Kazuha, dan Ran-neechan!" seru Heiji girang. Mereka pun melambaikan tangannya dan berpisah satu sama lain.
.
.
"Kazuha-chan, baju yang mana lebih bagus? Yang ini atau yang ini?" Ran menempelkan kaos putih bergaris dan turtleneck merah tanpa lengan secara bergantian. "Hmm… kurasa kaos putih itu lebih cocok padamu…" ujar Kazuha sambil menunjuk ke arah baju putih.
"Benarkah? Hmmm… kalau begitu aku beli yang ini saja…, ehm., tapi ini juga bagus, hmmm.." Kazuha tertawa melihat kebingungan Ran. "Ya sudah, beli dua-duanya saja, kau cantik dengan baju apapun Ran-chan…"
Senyum Ran pun melebar, "Benarkah?Kalau begitu aku ambil saja dua-duanya…"
"Kau semakin ceria saja Ran-chan, seperti gadis yang jatuh cinta…"
Muka Ran tiba-tiba memerah, "Ah, benarkah? Ah… biasa saja…"
"Kau sudah jadian dengan Kudo?" tanya Kazuha.
"Ehm… Belum sih… tapi aku melakukan segala macam upaya untuk menarik perhatiannya kepadaku heheheh…" Ran tersipu malu, sedangkan Kazuha menatapnya datar. Ya mau gimana, mereka sudah seperti ditakdirkan dari kecil untuk bersama. Walaupun waktu itu Ran tidak sadar akan kehadiran Shinichi di dalam Conan, mereka tetap terhubung dengan kuat. Seolah cinta mereka tak akan pernah tergoyahkan. Dan tiba-tiba, karena kejadian satu malam saja, seseorang menjadi penghalang dan penghancur antar hubungan mereka berdua, yaitu… Kazuha Toyama. Kazuha terdiam dan memikirkan bagaimana dirinya bisa keluar dari masalah ini. Ia ingin melarikan diri, tapi tidak bisa, ia berteman dekat dengan Ran. Ran adalah temannya yang begitu dekat dengannya. Ran adalah gadis yang cantik, pintar, lemah lembut, dan sabar, ia disukai oleh semua orang, bahkan seorang Shiho Miyano yang dulunya adalah Ai Haibara yang dingin bisa luluh oleh Ran, sedangkan aku… pikir Kazuha, aku dikenal galak, bodoh, cantik saja tidak, andai saja… Eh? Kok aku jadi iri kepada Ran-chan? Ya ampun tak seharusnya aku tidak memikirkan hal seperti ini…
"…Kazuha-chan…. Kazuha!" seru Ran menyadarkan lamunan Kazuha.
"Eh iya? Apa?" ujar Kazuha.
"Kenapa kau melamun saja tadi, apakah kau sakit?" tanya Ran khawatir.
"Apa? Ya ampun tentu saja tidak," Kazuha memaksakan diri untuk tertawa, "Eh, sudah mulai sore nih, ayo kita bayar dulu baru ke rumahmu," Kazuha mengalungkan tangannya pada lengan Ran. Ran pun mengangguk dan berjalan ke arah kasir.
.
"Kami pulang!" seru Ran riang.
"Hei, Ran-neechan! Hei, Kazuha, gimana setelah mutar-mutar, kewarasanmu kembali?" tanya Heiji.
"Diam kau ahou!" seru Kazuha.
"Jahat sekali kau Hattori! Apa kau setiap hari mengejek dia seperti itu?" ujar Ran membela Kazuha.
"Hei, aku tidak mengejek, tapi kemarin-kemarin muka dia jelek sekali, selalu muram seperti orang stress!" seru Heiji.
"Eh? Benarkah? Astagah Kazuha… ada apa? Apa ada masalah?" tanya Ran khawatir.
"Ah… Heiji hanya salah lihat, aku biasa saja…" ujar Kazuha sambil tersenyum.
Shinichi memandang Kazuha dengan pandangan bertanya-tanya, gadis itu punya masalah apa? Pas sekali ketika Shinichi melihat ke arahnya, matanya bertemu dengan mata Kazuha. Ketika ia ingin memalingkan wajahnya, ia tidak bisa. Ada sesuatu yang menahannya, ia menatap dalam mata gadis itu, dan merasakan kepedihan. Sakit hati, amarah, dendam… Walaupun Shinichi orangnya cuek, tapi ia merasa bahwa untuk kali ini, ia harus menanyakannya. Entah mengapa, jika ada sesuatu yang terjadi, ia harus bertanggung jawab.
.
.
Sehabis mereka makan malam di café Boikot, Shinichi pergi ke toilet, dan setelah keluar dari toilet, ia berpapasan dengan Kazuha yang juga keluar dari toilet juga. Mereka terhenti dan menatap satu sama lain.
"Kau… habis dari toilet?" tanya Shinichi.
"Iya, kau tidak bisa lihat?"
"Hmm… Kurasa masalah kita sudah selesai, waktu itu kau bilang untuk melupakan semuanya yang terjadi pada malam itu…"
"Jadi maumu aku bisa senyum-senyum ramah padamu, maaf ya, itu sulit…"
"Tapi perbuatanmu itu seakan kau ingin semua orang tahu apa yang terjadi…"
Kazuha terdiam, masalahnya tidak semudah itu, ia merasa bahwa dirinya sudah tidak tahu apa yang harus diperbuat, ia hanya bisa marah terhadap dirinya sendiri, perlahan air matanya menetes dari matanya. Hal itu membuat Shinichi kaget.
"Apa… Ah… Ma… maaf…" ucap Shinichi sambil terbata-bata. Ia terkaget dengan reaksi gadis itu. Tidak disangka ada gadis yang lebih emosional daripada Ran. Setahunya, di antara gadis-gadis yang ia kenal, Ran adalah gadis yang paling mudah luluh hatinya. Tapi ia melihat gadis yang ia kira cukup kuat ternyata dibuat menangis olehnya. Kazuha menghapus air matanya cepat, ia tidak ingin Shinichi semakin bertanya-tanya tentang dirinya.
Tiba-tiba dari arah berlawanan, ada lelaki gemuk yang sepertinya buru-buru ingin ke toilet, dan saat ia berlari, ia menabrak cukup kencang Kazuha (yang saat itu Kazuha dan Shinichi berdiri di dekat pintu toilet), sehingga Kazuha terjatuh ke belakang, laki-laki gemuk itu mengabaikan, sedangkan Shinichi yang melihatnya refleks menarik tangan Kazuha yang mau terjatuh, dan Kazuha tertarik ke arah Shinichi dan jatuh ke arah pelukannya.
Mereka terdiam. Kazuha menengok ke atas untuk menatap muka Shinichi yang sedang menggenggam tangan dan menahan pinggang gadis itu. Shinichi juga terdiam melihatnya, ia melihat begitu dekat wajah gadis yang sekarang sedang menempel pada tubuhnya. Ia mendapati kecantikan gadis itu yang tidak biasanya ia perhatikan. Sedangkan Kazuha terkaget dengan posisi yang sangat dekat, tiba-tiba ia merasa gugup. Tapi mereka terdiam dan tidak melepaskan satu sama lain. Mungkin mereka sudah… tenggelam?
