"Kalian berdua sedang apa?" Paman Cho menatap Kyuhyun dan Sungmin bergantian dengan sangat heran. Tidak ada seorangpun yang menjawab hingga Sungmin berbalik dengan pakaianya yang sudah kembali utuh lalu mengambil selimut yang berserakan di lantai.
"Aku mengantarkan selimut, Paman" Meskipun Sungmin berusaha untuk tampak biasa tapi dari suaranya barusan Paman Cho bisa merasakan kegugupannya yang luar biasa. "Tapi selimutnya terjatuh, aku akan menggantinya. Permisi!"
Paman Cho tersenyum kecil dan membiarkan Sungmin keluar dari kamar. Ia memandang Kyuhyun lagi dan menutup pintu.
"Kau mau melakukan apa, bocah? Bagaimana kalau aku tidak datang tadi?"
"Aku hanya bermain-main sedikit. Tenanglah Paman, aku tidak akan melakukan apa-apa."
"Tidak melakukan apa-apa? Kau nyaris menelanjanginya!"
"Paman, dia menyukainya! Dia tidak berteriak kan?"
Paman Cho memukul kepala Kyuhyun dengan keras sehingga laki-laki itu mengaduh. "Dia pria terhormat. Mana mungkin dia akan berteriak begitu saja di rumahnya sendiri. Eommanya bisa kena serangan Jantung kalau mengetahui kelakuanmu ini."
~ o ~
Cho Kyuhyun x Lee Sungmin
~ o ~
KYUMIN, BoysLove, Mpreg, Mature Content
~ o ~
Summary:
"Aku berusaha melupakan hasratku semenjak itu, tapi malam ini aku tidak bisa! Kau sudah menyebabkanku melakukan hal yang paling tidak aku sukai selama dua minggu terakhir ini, Sungmin."/ Melakukan hal apa?/ "Onani!"
.
~KYUMIN ~
.
Kyuhyun sangat berharap bisa melihat Sungmin lagi. Tapi pagi ini Sungmin sama sekali tidak muncul hingga saat kepulangannya tiba.
Pria itu ternyata sudah kembali ke Seoul pagi-pagi sekali karena harus segera bekerja. Sepanjang perjalanan pulang hingga sampai di flat milik Donghae, Kyuhyun nyaris tidak bisa memikirkan apa-apa lagi selain kejadian kemarin, melihat Lee Sungmin di atas ranjang membuatnya sangat bergairah. Pria yang galak ternyata bisa membuatnya merasa sangat berapi-api seperti ini.
Dia sama sekali tak menyangka, tubuh Sungmin sangat wangi dan rambutnya selembut sutra. Kulit mulus dan pinggul yang sempurna semakin memperkaya khayalannya. Kedua hal terakhir sudah sangat lama Kyuhyun ketahui, tapi kemarin adalah saat yang paling tidak pernah disangka-sangka dalam hidupnya karena dapat melihat Sungmin secara langsung. Seandainya Paman Cho tidak datang…
Kyuhyun mengerang.
"Kau kenapa?" Donghae menyadarkannya.
Sepupunya itu sedang asyik membaca buku sambil duduk di sebelahnya. Hari ini dia tidak pergi bekerja, Donghae tidak akan pergi ke kantor saat ia diminta mengurusi masalah kliennya, dan berkali-kali Kyuhyun selalu menjadi alasannya untuk bolos kerja.
"Sejak tiba disini kau terus melamun, sekarang malah mengeluarkan suara-suara aneh. Jangan bilang kau ditampar lagi oleh Lee Sungmin."
"Tidak. Aku tidak mendapatkan hadiah khusus itu seperti biasa." Kyuhyun tersenyum getir. Seandainya dia dan Sungmin bertemu lagi, pria itu pasti akan menamparnya lagi. Hal itu bisa dipastikan.
"Hyung, kenapa kau tidak bilang kalau pria itu adalah Lee Sungmin?"
"Memangnya kenapa? Kau tidak menyukainya? Atau dia menolakmu?"
"Kata Ibunya, pengacara gila itu tidak pernah menolak perjodohan. Pasangannya yang selalu menolak. Tapi setelah ia memerintahkanku untuk menolak perjodohan itu, aku mengerti sebabnya. Dia pasti mengancam semua calon yang sudah menjalani perjodohan dengannya seperti yang dilakukannya padaku."
"Benarkah kalau dia juga melakukan itu kepadamu? Luar biasa sekali dia!"
"Dia sangat menarik, saat acara perjodohan Lee Sungmin benar-benar berdandan dengan cantik, ia memakai pakaian yang memperlihatkan bentuk tubuhnya dengan jelas, memakai kemeja berbayang dengan bahan yang transparan. Benar-benar seksi sekali!"
Donghae yang tadi tersenyum tiba-tiba kehilangan binarnya. Kyuhyun masih berfikiran seperti itu? Kenapa Sungmin berdandan tidak biasa untuk Kyuhyun?
"Kau bahkan menyebutnya cantik"
"Dia memang cantik"
"Kau benar. Saat kuliah dulu beberapa orang temannya memanggil Sungmin dengan sebutan Nymph karena tubuhnya dan juga kecantikannya yang diluar kadar pria pada umumnya."
"Iya! Dia seperti Nymph, peri yang sangat cantik." Kyuhyun terdengar semakin antusias.
Bagaimana bila Sungmin tidak mengenakan pakaiannya? Bagaimana bila ia mengenakan kemeja berbayangnya setiap hari? Kyuhyun tersenyum mesum.
"Kau akan menikah dengannya?" Donghae membuyarkan lamunannya.
"Kau fikir aku gila, Hyung?" Kyuhyun mengerang lagi. "Aku tidak akan menikah dengannya karena ia terlalu cerdas dan galak untuk menjadi istriku. Lee Sungmin bisa mematikan petualangan cintaku! Tapi aku akan bermain-main sebentar, Aku akan membuatnya tergila-gila padaku sebagai balasan tamparan demi tamparan yang selalu dilayangkannya untukku. Dan sebagai akibat karena sudah berani-beraninya membangkitkan gairahku."
Donghae mendengus, ia pasti akan merasa semakin bersalah kepada Sungmin jika itu benar-benar terjadi. Ia akan menemui Sungmin di kantor besok, Donghae harus membicarakan sesuatu.
"Utamakan pernikahanmu" Donghae bersuara lagi.
"Menikah itu masalah mudah, aku bisa memilih wanita mana yang kusukai, tapi seperti yang ku bilang kalau aku ingin bersenang-senang dulu"
~ KYUMIN ~
Sungmin sekarang sedang benar-benar kalut. Bayangan tentang Cho Kyuhyun yang mengerjainya di rumah Ibunya mungkin tidak akan pernah hilang sama sekali. Laki-laki itu pasti tertawa di belakangnya dengan sangat puas.
Kemarin dia benar-benar nekat untuk pulang sendirian pagi-pagi buta agar tidak melihat wajah orang itu lagi seumur hidupnya. Bagaimana bila Kyuhyun menerima perjodohan itu? Apa yang harus Sungmin lakukan setelahnya?
Tapi rasanya mustahil Kyuhyun akan bersedia menikah dengannya. Menikah dengan Sungmin berarti mengorbankan kehidupan bersenang-senangnya karena Sungmin bukanlah orang yang suka berbagi apapun yang menjadi miliknya.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam, beberapa orang di kantor mungkin sudah pulang ke rumah masing-masing dan beristirahat. Tapi map-map yang menumpuk di hadapanya sama sekali tidak ingin ditinggalkan.
"Kau masih bekerja?" Seseorang membuka pintu ruangan dimana Sungmin duduk seorang diri sekarang, Donghae.
Sungmin mengusahakan sebuah senyum. Meskipun tidak menjawab apa-apa Sungmin mengembangkan tangan memperlihatkan tumpukan map yang ada di atas mejanya lalu mengangkat bahu.
"Kenapa tidak kau bawa pulang saja?"
"Kalau ku bawa pulang, aku akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dibandingkan di kantor."
"Kalau begitu apa salahnya? Yang penting semua pekerjaan kita selesai dengan baik." Donghae mendekati Sungmin dan mengangkat tumpukan map itu dari atas meja. "Kita pulang. Ayo ku antar."
Sungmin terperangah, Donghae sama sekali tidak bertanya apakah Sungmin bermaksud untuk pulang atau tidak. Laki-laki itu membawa semua pekerjaan milik Sungmin keluar kantor dan Sungmin mau tidak mau harus mengikuti. Donghae memaksa, tapi ia melakukan itu karena sangat memperdulikan Sungmin. Hal yang semakin membuat Sungmin kesal pada kejadian perjodohan itu.
Perlahan-lahan Sungmin membuka pintu mobil Donghae dan duduk di sebelahnya lalu menikmati perjalanan yang tidak terlalu terburu-buru menuju flatnya. Shindong seharusnya ada di rumah hari ini karena dia berjanji untuk tidak membiarkan Sungmin sendirian seperti malam kemarin.
"Sebenarnya aku tidak suka bertanya ini, tapi sungguh aku ingin tahu" Donghae memulai pembicaraan lagi. "Bagaimana dengan perjodohan kemarin?"
Sungmin mendesah, Donghae tahu pria itu sangat tidak suka membahas semuanya, Cho Kyuhyun pasti sudah membuatnya kesal. Menyadari kalau dirinya akan menikah dengan laki-laki yang selalu diperanginya itu adalah pukulan yang berat baginya. Tapi Sungmin tetap menjawab meskipun dengan nada yang malas, ia tidak ingin membuat Donghae kecewa.
"Buruk"
Mendengar jawaban yang singkat itu, Donghae spontan tertawa.
"Buruk? Karena Cho Kyuhyun, kah?"
"Seharusnya kau yang datang, kan? Kenapa dia yang datang?"
"Kau sangat berharap aku yang datang?"
Sungmin memandangnya sebentar lalu kembali menoleh ke jalanan yang masih ramai. "Tidak juga, tapi ku rasa kau jauh lebih baik dibandingkan dia"
"Kenapa?"
"Apa lagi? Karena dia seorang penggoda. Entah berapa banyak wanita yang dihabisinya setiap malam dan aku tidak yakin bisa menghabiskan hidupku dengan orang yang seperti itu"
"Memangnya kenapa? Kau tergoda padanya?" Donghae berkata dengan nada yang berbeda, mungkin Sungmin menyadari perubahannya sehingga membuat pria itu memandangnya meskipun sangat sebentar sekali.
Sungmin tidak menjawab apa-apa selain hembusan nafas, cukup untuk membuat Donghae tersenyum getir.
"Ayolah, kau sendiri juga tahu kalau hampir semua laki-laki memiliki sikap yang sama. Kyuhyun hanya sedikit lebih menonjol karena dia pernah berurusan dengan artis yang menjadi penyebab kau menamparnya untuk pertama kali ditahun ini. Lagi pula suatu keajaiban bila Kyuhyun menggoda, para wanitalah yang biasa mendekatinya. Sedangkan aku, beberapa kali melakukan hal yang sebaliknya. Artinya aku lebih buruk dibandingkan dengan Kyuhyun, kan?"
Dia sudah menggodaku! batin Sungmin, dia ingin meneriakkan itu. Namun ia memilih untuk mengatakan kata-kata yang lain.
"Kau membelanya karena kau saudaranya"
"Astaga!" Donghae pura-pura kesal dengan perkataan Sungmin barusan.
"Percayalah, aku juga orang yang sama jika kau menganggapku lebih baik darinya. Sekali lagi, Kyuhyun hanya sedikit lebih menonjol karena dia berurusan dengan artis itu. Seandainya saat itu yang berhubungan dengan klienmu adalah aku, maka yang akan kau tampar berkali-kali itu sudah pasti wajahku."
"Setidaknya kau tidak pernah…" Sungmin diam, dia tidak berani melanjutkan kata-katanya sedikitpun. Meskipun ia tahu Donghae sedang memandangnya heran, Sungmin tidak akan pernah menceritakan kejadian kemarin pada orang lain. "Dia pasti menolak perjodohan itu, kan?"
"Bagaimana kalau dia menerimanya?"
Sungmin menatap Donghae lebih lama, laju mobil sudah berhenti dan tanpa terasa Sungmin sudah sampai di depan gedung flatnya.
Mendengar perkataan Donghae membuatnya semakin terganggu oleh perasaan takut. Laki-laki itu tersenyum untuk membuat Sungmin lebih tenang. Tapi sudah terlambat, Sungmin tidak akan pernah bisa tenang setidaknya sampai besok pagi.
"Berjanjilah padaku kalau tidak akan pernah terjadi apa-apa padamu bila dia menerimanya. Jika tidak, aku bersumpah akan menyesali diriku karena menyerahkan dirimu kepada Cho Kyuhyun!" Donghae menarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan diri, sedetik kemudian menyentuh kepala Sungmin sebentar.
"Aku menganggapmu seperti adikku sendiri, membiarkannya mendekatimu karena kau adalah satu-satunya orang yang selalu bisa memberikannya pelajaran. Karena itu, teruslah memberi pelajaran kepada Cho Kyuhyun karena dia tidak akan berhenti jika bukan dirimu yang menghentikannya."
"Bagaimana caranya?"
"Jangan pernah tundukkan wajahmu sekalipun kepadanya. Sungmin kau harus berani menunjukkan kekejamanmu kepada Kyuhyun. Dengan begitu pada akhirnya hanya akan ada dua hal yang mungkin terjadi; dia memutuskan pertunangan lebih dulu atau dia tidak akan bisa hidup tanpamu."
Sungmin berusaha menyimpan baik-baik nasihat Donghae dalam otaknya. Tentu saja kedua hal itu menguntungkan bagi Sungmin. Bila akhirnya dia dan Kyuhyun akan menikah pun, Kyuhyun seharusnya mengubah sikapnya. Ia tersenyum sekilas lalu berterima kasih dan keluar dari mobil sambil memeluk map-mapnya. Flatnya tidak memiliki lift, jadi Sungmin harus menaiki anak tangga satu persatu hingga ia sampai di lantai tiga dimana dirinya dan Shindong tinggal.
Ada perasaan aneh saat dia dan Donghae berbincang-bincang tadi, ucapan Donghae membuat Sungmin diliputi perasaan yang misterius.
Sungmin berhenti melangkah. Ponselnya berdering dan itu adalah telepon dari Shindong, teman satu flatnya.
"Kau dimana? Kenapa belum pulang?" Shindong menyerang seketika sebelum Sungmin sempat berbicara.
"Aku lembur dan harus mengerjakan banyak pekerjaan hari ini. Tapi aku akan berada di depan pintu dalam waktu kurang dari semenit."
"Baiklah!" Shindong lalu menutup telepon.
Sungmin sekarang benar-benar sudah berhenti di depan pintu flatnya dan bersiap masuk. Sekilas ia melirik ke flat sebelah yang lampunya masih menyala terang. Ia kenal dengan wanita yang tinggal disana, wanita itu tidak pernah menyalakan lampu sebelum tengah malam karena ia baru pulang bekerja pada jam-jamnya orang tidur. Sungmin mengangkat bahu, mungkin wanita setengah baya bermarga Jung itu sedang tidak bekerja hari ini.
"Selamat datang!" Shindong membukakan pintu dengan riang lalu memeluk Sungmin erat-erat. "Kau jahat sekali, kenapa tidak memberitahu padaku?"
Sebelah alis Sungmin terangkat, ia tidak mengerti dengan apa yang Shindong katakan. Sungmin harus memberi tahunya tentang apa? Tapi begitu melihat Kyuhyun berdiri di belakang Shindong, Sungmin rasa ia tahu apa yang Shindong maksud.
Yang jelas saat ini Sungmin sama sekali tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya menunggu sampai Shindong melepaskan pelukannya dan memandang Kyuhyun yang mendekatinya.
"Kenapa kau tidak minta dijemput, aku pasti menjemputmu."
Sungmin berdesis samar mendengar ucapan manis Kyuhyun barusan.
"Aku pulang bersama…" Sepertinya Sungmin tidak bisa mengatakan kepada Kyuhyun kalau dirinya pulang bersama Donghae. Bagaimana bila Kyuhyun sampai punya ide untuk meminta Donghae memberitahunya kapan dan jam berapa Sungmin pulang kemudian membayar orang untuk menculik, memukuli, lalu membuangnya ke laut?
Sungmin mengerjapkan matanya. Mungkin pikiran konyolnya sudah sangat keterlaluan.
"Siapa?" Kyuhyun membantu Sungmin membuyarkan lamunannya.
"Supir taksi"
Kyuhyun lagi-lagi tersenyum misterius. Senyum yang sama dengan senyuman yang membuat Sungmin tidak bisa berfikir seperti waktu itu.
Ia membenci Kyuhyun dan membenci keadaan seperti ini. Laki-laki itu selalu berhasil membuatnya merasa bodoh dan kehilangan akal sehingga kini ia merelakan Kyuhyun menggenggam tangannya begitu saja.
Sungmin berusaha memulihkan kembali inderanya dan berhasil, tapi hanya sementara. Ia kembali bingung saat melihat tangan Kyuhyun sudah menyelipkan sebuah cincin di jarinya. Sebuah cincin bermata ruby merah yang bersinar-sinar diterangi lampu.
"Maaf karena aku terlambat memberikan cincin pertunangan kita." Kyuhyun kemudian mengangkat tangannya dan memperlihatkan cincin dengan model serupa tanpa ruby.
"Apa maksudmu?"
"Memangnya apa lagi?" kyuhyun tersenyum lagi sehingga membuat Sungmin merasa lumpuh. Ia mencium kening Sungmin dengan mesra.
"Terimakasih atas semuanya. Kau sudah berhasil membuatku tidak bisa berhenti memikirkanmu." Ia mengedipkan mata.
Sungmin tahu kalau kedipan itu menjurus pada saat dimana Kyuhyun hampir melepaskan seluruh kancing kemejanya pada perjodohan kemarin. Laki-laki itu benar-benar menerimanya? Jadi perkataan Donghae tadi sebenarnya sedang memberi petunjuk tentang hal ini kepadanya?
"Aku tidur dulu karena besok pagi harus bekerja."
"Kau yakin dengan ini?"
"Kenapa? Karena aku dicintai banyak wanita? Kau takut terserang cemburu setiap waktu? Kebiasaanku mungkin tidak bisa hilang begitu saja, tapi setidaknya aku akan berusaha menguranginya."
"Aku tidak suka berbagi hal yang sudah menjadi milikku."
Kyuhyun merespon ancaman Sungmin dengan mengangkat bahu. "Baiklah, selama kau mengenakan cincin itu, berarti Aku adalah milikmu dan begitu juga sebaliknya." Kali ini Kyuhyun benar-benar meninggalkannya untuk masuk ke flat sebelah.
Sungmin masih setengah sadar saat Shindong menariknya ke dalam rumah dan memaksanya untuk duduk di sofa ruang tengah.
Kyuhyun benar-benar menerima perjodohan ini? Sungmin mencubit lengannya dan meringis sakit. Ia tidak bermimpi. Laki-laki itu mengatakan kalau dia menjadi milik Sungmin dan begitu juga sebaliknya sebelum memasuki flat sebelah. Flat Nyonya Jung.
Tunggu dulu, flat Nyonya Jung? Apa yang dilakukanya disana? Jangan katakan kalau nyonya Jung juga selirnya!
"Apa yang dilakukannya disini, apa hubungannya dengan Nyonya Jung?" Sungmin bertanya kepada Shindong yang sudah kembali duduk di sebelahnya sambil membawakan segelas air putih dan memberikannya kepada Sungmin. "Jangan katakan kalau dia dan Nyonya Jung …?"
"Apa yang sedang kau fikirkan?" Shindong tergelak. "Kau jangan berprasangka buruk dulu, dia pindah ke flat sebelah sore ini dan wanita itu sudah pergi pada Jum'at lalu. Makanya jangan pulang terlalu malam, kau jadi ketinggalan banyak informasi. Katanya dia tidak ingin jauh darimu."
"Apa dia sudah gila?"
"Tentu saja ku fikir dia sudah gila saat dia mengatakan kalau kau sudah bertunangan dengannya, mengingat kalian berdua bermusuhan. Saat ku tanya apakah terjadi sesuatu, dia hanya tersenyum. Artinya iya kan? Memang terjadi sesuatu dengan kalian berdua."
Sungmin mengerang. Sepertinya hidupnya memang tidak akan pernah tenang, dia akan sibuk memikirkan masalah ini dan mungkin tidak akan tidur semalaman. Sungmin memandangi map-map yang ada di sampingnya, ia tidak yakin akan menyentuhnya malam ini.
"Eomma memaksaku untuk menikah dengannya, hanya itu. Dan aku tidak yakin kalau pertunangan ini bisa bertahan lama karena aku bisa saja membunuhnya kalau melihat laki-laki itu membawa perempuan ke flatnya. Kau tahu, kan? Kalau aku tidak suka membagi milikku."
Lagi-lagi Shindong tertawa. Semua perkataan Sungmin terdengar lucu baginya.
"Aku tahu, itu yang mendasari alasanmu untuk tidak menyukainya. Ayolah, siapa yang bisa menolak laki-laki seperti dia? Tampan, kaya, berprestasi, semua wanita akan mendekatinya. Aku percaya Kyuhyun orang yang baik."
Sungmin memutar bola matanya. Kelihatannya Shindong benar, tidak ada seorang pun yang bisa menolak Cho Kyuhyun dengan segala pesonanya. Termasuk Shindong sendiri yang kelihatannya juga mengagumi Kyuhyun tanpa disadarinya.
Apa yang terjadi pada Shindong setelah ia memberikan dukungannya pada Sungmin untuk memerangi Kyuhyun selama ini?
Sebagai seorang dokter kandungan, bukan sekali dua kali dia mengeluh karena banyak sekali wanita yang datang untuk menggugurkan kandungannya dan itu disebabkan oleh Cho Kyuhyun. Laki-laki yang seperti dia cukup banyak dan Donghae juga mengatakan hal yang sama. Benarkah Donghae juga laki-laki dengan jenis yang sama seperti Kyuhyun?
Sungmin mendengus kesal, meletakkan gelasnya di atas meja kemudian membawa map dan tas kerjanya ke dalam kamar.
Untuk beberapa saat ia memandangi cincin pertunangannya yang diberikan oleh Kyuhyun barusan. Mengapa harus memakai ruby?
Melihat cincin itu malah semakin membuatnya marah sehingga Sungmin melepas cincinnya dan melemparkannya ke dalam laci meja tulis di sudut ruangan.
~ KYUMIN ~
Bertemu dengan Kyuhyun setiap hari adalah beban yang penuh dengan penderitaan. Pagi hari, Sungmin harus berusaha sebisa mungkin untuk bangun lebih pagi dan berangkat kerja lebih awal asalkan tidak bertemu dengan laki-laki itu.
Pada malam hari saat Shindong ada di rumah, Sungmin tidak bisa menolak melihat Kyuhyun dan Shindong mengobrol dan dirinya hanya bisa diam agar Kyuhyun sadar bahwa Sungmin tidak suka dengan kehadirannya. Belum lagi sikap-sikap tidak menyenangkan yang juga harus diterimanya.
Kyuhyun selalu menggodanya meskipun dengan sesuatu yang kecil. Seperti menggenggam tangan misalnya, dan laki-laki itu selalu melakukannya setiap kali dia datang ke rumah dengan membawa berkaleng-kaleng minuman dan tidak akan pulang sampai semua minumannya habis.
Selama itu, Sungmin harus merelakan tangannya untuk terus berada dalam genggaman Kyuhyun. Menolak adalah kata-kata yang paling kuat yang pernah terfikirkan tapi tidak pernah sanggup untuk Sungmin lakukan. Tapi selama semuanya itu tidak mengganggunya tidak akan pernah jadi masalah, Kyuhyun pun tidak datang setiap hari ke rumahnya dan terkadang seminggu penuh Sungmin tidak akan melihat Kyuhyun sepulang kerja.
Mengenai Kyuhyun dan teman-teman kencannya tidak pernah membuat Sungmin pusing, kecuali hari ini.
Sungmin berusaha menutupi telinganya dengan bantal karena laki-laki itu mengeluarkan suara-suara aneh yang membuatnya tidak nyaman. Dia sedang bercinta, tentu saja begitu.
Sungmin mengambil I-pod di laci meja tulis dan berusaha mengalihkan pendengarannya ke beberapa jenis musik yang mungkin bisa membantu karena Sungmin tidak bisa berkonsentrasi mengerjakan tugasnya bila ada keributan, tapi tidak berhasil.
Shindong membuka pintu kamar Sungmin dan mematikan I-pod yang membuat pekerjaan Sungmin malah semakin kacau. Bunyi musik berhenti dan desahan demi desahan kembali mengganggu.
"Aku tidak bisa tidur." Shindong berbisik. "Mereka keras sekali, membuatku iri."
Mata Sungmin membesar mendengar pernyataan Shindong barusan. "Iri?"
"Sikapmu seperti seseorang yang tidak pernah melakukannya saja." Shindong berbisik polos.
Mendengar itu Sungmin mengerang. Bukan masalah itu yang mengganggu, ia sama sekali tidak iri!
Pekerjaan yang sedang dikerjakannya kali ini benar-benar sudah deadline dan ia bahkan belum mengerjakannya lebih dari enam puluh persennya. Sungmin bahkan tidak yakin pekerjaannya akan selesai dalam tiga hari ke depan.
Sekarang apa yang terjadi? Pekerjaannya diganggu oleh suara-suara berisik tunangannya yang bercinta dengan seorang wanita pada tengah malam seperti ini.
"Aku akan memberinya pelajaran!" Ia kemudian mengaduk-aduk meja tulisnya dan menemukan cincin bermata ruby, cincin tunangannya. Setelah memakainya, Sungmin beranjak pergi ke flat sebelah.
Shindong terperangah tak menyangka saat melihat Sungmin menggedor-gedor pintu flat Kyuhyun dengan brutal, kelakuannya ini mengakibatkan semua tetangga menjadi terbangun.
Untungnya tidak perlu waktu yang lama bagi Shindong untuk merasa tidak enak karena Kyuhyun segera keluar hanya dengan menggunakan celana pendeknya. Laki-laki itu memandangnya dengan gusar.
"Untuk apa mengganggu malam-malam begini?"
Sungmin tidak menjawab, ia langsung masuk ke dalam flat Kyuhyun tanpa permisi. Shindong hanya bisa mengangkat bahu saat Kyuhyun memandangnya penuh tanya dan secepat mungkin menyusul Sungmin masuk ke kamar pribadinya.
Sungmin sedang mencaci maki seorang wanita yang hampir bugil di atas tempat tidur. Pemandangan yang langka karena Sungmin sudah lama sekali tidak mengeluarkan kata-kata sadisnya _kecuali kepada Cho Kyuhyun tentunya. Wanita itu mencoba membalas tapi tidak begitu kuat, hasrat sudah membuatnya melemah.
"Jangan pernah kau mencoba datang lagi dan mendekati tunanganku!" Sungmin berteriak. Ia memperlihatkan cincin di tangannya yang mirip dengan cincin yang dipakai Kyuhyun. "Sekarang cepat kenakan pakaianmu atau kau ku usir dalam keadaan setengah telanjang seperti sekarang ini!"
Wanita itu memandang Kyuhyun gugup, tapi Kyuhyun tidak bisa melakukan apa-apa. Secepat mungkin ia berusaha mengenakan pakaiannya dan segera berlari keluar flat sambil menangis. Malam ini dia sudah dipermalukan, mustahil bila dia tidak merasa kecewa kepada Kyuhyun yang bahkan tidak membelanya.
Sungmin tersenyum menang lalu mengangkat wajahnya dihadapan Kyuhyun. "Aku sudah bilang, kan? Aku tidak suka berbagi hal-hal yang menjadi milikku. Seharusnya kau menyesal karena menerima perjodohan ini."
Kyuhyun memandangnya penuh dendam. Pria ini sudah mengganggu privasinya dengan cara yang luar biasa, di luar pintu flatnya ada beberapa orang tetangga yang berkerumun untuk melihat keributan yang sudah ditimbulkan Sungmin.
"Kenapa tiba-tiba kau merasa terganggu?"
"Karena suara kalian mengganggu pekerjaanku!" Sungmin membentak. "Aku harap untuk tiga hari ke depan kau tidak mengganggu pekerjaanku dengan ini. Jika hasratmu tidak bisa ditahan, kenapa tidak kau bawa saja wanita-wanita itu ke hotel?" Ia beranjak pergi kembali ke flatnya dan menyeruak kerumunan orang.
Kyuhyun mendesah kesal. Hari ini Sungmin sudah mempermalukannya dan dia tidak akan tinggal diam. Ia mengambil bathrobe-nya dan mengganjal pintu flat Sungmin sebelum Sungmin menutupnya.
"Aku bersumpah kau tidak akan pernah bisa bekerja dengan tenang tanpa memikirkanku!" desisnya.
Sungmin terdiam beberapa detik, lalu berusaha menutup pintu flatnya dengan kasar. Sesegera mungkin ia kembali ke kamarnya dan tidur lebih cepat dari rencana. Ia harap besok bisa mengerjakan semuanya dengan lebih baik. Sayangnya keributan itu tidak bisa membuat Sungmin tidur begitu saja sehingga ia harus bangun kesiangan dan memakan roti bakar sarapannya sambil berlarian mengejar taksi.
~ KYUMIN ~
"Kau lembur lagi malam ini? Mau ku buatkan kopi?" Shindong menyapanya saat Sungmin baru saja memasuki pintu kamarnya.
Sungmin sudah berusaha mengerjakan semua pekerjaan yang tersisa di kantor hingga ia bisa pulang cepat hari ini. Setidaknya, pekerjaannya hanya tersisa sedikit dan dirinya bisa tidur tepat jam sembilan malam. Sungmin membuka kemeja, jas dan celana abu-abunya, menyambar sebuah singlet di lemari lalu segera duduk di atas kursi meja tulis.
"Boleh, kalau tidak merepotkan."
Shindong beranjak ke dapur dan kembali beberapa menit kemudian dengan secangkir kopi. Ia kelihatannya akan menemani Sungmin seperti biasa sambil membaca buku.
Tidak kurang dari setengah jam kemudian suara gaduh di ruangan sebelah terdengar lagi. Sungmin dan Shindong saling berpandangan.
"Telepon saja. Minta dia mengecilkan suaranya."
Sungmin mengambil tas kerjanya dan merogohnya beberapa saat. Tapi ia sama sekali tidak menemukan ponselnya. Ia berusaha mengingat-ingat dimana benda itu di letakkannya. Tapi Sungmin tidak bisa mengingat apa-apa.
"Dimana ya?"
"Apanya?"
"Ponselku. Coba kau telepon, semoga saja deringnya bisa membantuku untuk menemukannya."
Shindong merogoh sakunya dan memainkan ponselnya dengan segera. Ia mencoba menelpon ponsel Sungmin tapi tidak ada bunyi. Shindong menggeleng, "Tidak ada bunyinya, kan? Tapi ponselmu masih aktif, memangnya kau tinggalkan dimana?"
Sungmin kembali berusaha mengingat-ingat. Tapi suara-suara di flat sebelah semakin intens dan membuatnya tidak bisa berfikir jernih. Ia mengerang, Sungmin tidak tahan lagi dan Kyuhyun harus siap bila kejadian beberapa hari yang lalu terulang lagi. Ia kembali merogoh laci mejanya dan berusaha menemukan cincin pertunangannya. Setelah memakainya Sungmin melangkah keluar kamar.
"Kau mau kemana?" tanya Shindong keras.
"Kemana lagi?"
"Dengan pakaian seperti itu?"
Sungmin memandang tubuhnya dengan cepat. Ia hanya mengenakan singlet tipis dan celana pendek body-fit di tubuhnya. Kyuhyun membuatnya kesal. Secepat mungkin ia meraih bathrobe yang tergantung di belakang pintu lalu mengenakannya.
"Kau mau ikut?"
Shindong menggeleng. "Aku akan mencari ponselmu saja"
"Baiklah." Sungmin melangkah dan langkahnya terhenti lagi saat Shindong memanggil namanya.
"Sungmin-ah, cobalah untuk tidak membuat keributan kali ini. Jangan sampai tetangga-tetangga kita terganggu dan mengusir kita keluar malam ini juga."
Mendengar itu setidaknya Sungmin masih bisa tersenyum. Ia berjalan cepat dan mengetuk pintu flat Kyuhyun lebih sopan. Tapi kesopanan membuatnya harus menunggu lebih dari satu menit hingga akhirnya Kyuhyun membuka pintu dan menatap Sungmin dengan malas.
"Aku baru saja memulainya. Tidak bisakah kau menunggu sampai aku selesai?" Ujar Kyuhyun geram.
"Kau menggangguku Cho Kyuhyun! Pekerjaanku menumpuk dan ini caramu untuk membuatku mengingatmu?"
"Lalu kenapa kau kemari?"
"Karena kau menggangguku dengan cara yang sama, dan aku pastikan akan menyelesaikannya dengan cara yang sama juga!"
Sungmin memutuskan akan masuk ke dalam kamar Kyuhyun, tapi wanita baru yang berbeda lagi baru saja keluar dan menghampiri mereka. Pakaiannya masih lengkap hanya terlihat sedikit lebih kusut saja.
"Ada apa ini?" tanyanya sopan. "Apa kami mengganggu?"
"Nona, bisakah kau meninggalkan tempat ini?" Kali ini Sungmin lebih tenang. Lawan bicaranya sekarang kelihatannya bukan wanita murahan yang biasa Kyuhyun bawa ke flat seperti sebelumnya. "Karena Cho Kyuhyun adalah tunanganku."
"Benarkah?" wanita itu kelihatan cukup terkejut, ia memandang Kyuhyun heran. "betul begitu?"
Kyuhyun mengangguk lemah. "Tapi bukan berarti aku terlarang untuk melakukan ini kan?"
Wanita itu memegangi kepalanya. "Tapi tunanganmu kelihatannya tidak berfikir begitu. Aku tidak bisa meneruskan ini kalau harus menyakiti hati orang lain."
Sungmin berdesis sinis. Dia takut menyakiti hati orang lain? Tentu saja Kyuhyun sudah menipunya karena wanita itu kelihatannya tidak tahu bahwa laki-laki yang hampir saja tidur dengannya sudah bertunangan.
Meskipun tampaknya sangat kecewa, wanita itu tetap berjalan anggun menuju kamar dan kembali dengan high heels dan mantelnya. Sebelum pergi ia meminta maaf setulus hati kepada Sungmin dan mengatakan kalau ia tidak bermaksud untuk merebut tunangannya.
Mendapat reaksi seperti itu Sungmin merasa tidak enak, sebisa mungkin Sungmin berusaha untuk tersenyum dengan hormat dan memandangi wanita itu hingga bayangannya menghilang.
"Kali ini apa?" Kyuhyun menatapnya geram.
"Kau lihat sekarang jam berapa? Jam delapan malam dan kau melakukan hal seperti itu pada jam-jam seperti ini dengan suara keras? Apa kau tidak malu didengar tetangga yang lain?"
"Kau merasa terganggu?"
"Tentu saja. Karena aku tidak suka berbagi hal yang sudah menjadi milikku. Kau akan menderita dengan keputusanmu untuk bertunangan denganku. Jadi berhentilah berpura-pura. Katakan kepada Pamanmu kalau pertunangan kita tidak bisa dilanjutkan lagi dan pergi dari hidupku!"
Kyuhyun menarik tangan Sungmin dengan kasar lalu memandang cincin bermata merah yang bersarang dengan indah di jari manisnya.
"Bagaimana bunyi perjanjian kita? Selama kau memakai cincin ini aku adalah milikmu, tapi kau selalu menggunakan cincin ini pada saat kau ingin menggangguku!"
Kyuhyun kemudian mendekatkan tangan Sungmin ke mulutnya lalu menggigit cincin itu sehingga jari manis Sungmin benar-benar terjepit, Sungmin berteriak kesakitan.
"Kau melupakan satu hal, Lee Sungmin! Selama kau mengenakan cincin ini kau juga milikku!"
Sungmin terpaku, ia hanya bisa memandang Kyuhyun yang menutup pintu flat dengan kakinya sehingga menimbulkan bunyi debuman yang keras. Laki-laki itu tersenyum untuk pertama kalinya hari ini di hadapan Sungmin dan seperti biasa senyuman itu membuatnya kehilangan akal tapi tidak cukup membuatnya bodoh dan tidak melawan saat Kyuhyun melepaskan bathrobe-nya dengan paksa.
Tapi Kyuhyun tidak berhasil, setiap kali ia melangkah maju Sungmin akan mundur dan menjaga jarak. Setidaknya sampai punggung Sungmin menyentuh dinding di sebelah pintu kamar pribadi Kyuhyun yang agak terbuka. Ia menelan ludah lalu berusaha memegangi leher bathrobe-nya saat wajah Kyuhyun semakin mendekat.
"Kenapa, Sungmin? Kau ingin melakukannya di dalam kamar? Kurasa tidak perlu karena ruangan ini cukup luas untuk kita jelajahi."
Sungmin benar-benar terkesiap saat lengan Kyuhyun tiba-tiba merangkul punggungnya, kedua tangannya yang tadi berada di leher sekarang sudah jatuh tertelungkup di dada Kyuhyun.
Sungmin berusaha untuk protes tapi kata-katanya berhasil dirampas oleh Kyuhyun saat laki-laki itu menemukan bibirnya dan segera melumatnya dengan liar, Sungmin ingin berteriak tapi Kyuhyun cukup pandai mengambil kesempatan dengan menjejalkan lidahnya memenuhi rongga mulut Sungmin.
Sungmin berusaha melawan, tapi Kyuhyun terlalu kuat dan semua sentuhan Kyuhyun pada akhirnya membuatnya menyerah. Ia merelakan saat bathrobe-nya ditanggalkan dari tubuhnya dan membalas cumbuan Kyuhyun sebisanya. Sebelah lengan Kyuhyun menekan punggungnya agar Sungmin tidak mundur dan bisa lebih rapat lagi menempel padanya.
Bukan hanya itu, tangannya yang satu lagi mengangkat pinggul Sungmin agar sejajar dengan bagian tubuhnya yang sudah mengeras di pangkal paha. Kaki Sungmin bahkan tidak lagi menginjak lantai, Kyuhyun cukup kuat untuk membuatnya menggeliat merasakan sensasi sensual yang sangat tidak bisa dielakkan.
Tapi semua perilaku Kyuhyun berhenti saat mendengar pintu diketuk kencang, ia melepaskan rangkulannya dari Sungmin dan membiarkan pria itu mengenakan bathrobe-nya kembali.
Setelah itu, Kyuhyun bergegas membuka pintu dan menatap Donghae dengan kesal. Sepupunya datang diwaktu yang sangat tidak tepat.
Donghae menyadari pandangan tidak suka Kyuhyun kepadanya. Melihat penampilannya, Donghae tahu kalau sepupunya itu baru saja melakukan sesuatu dengan seseorang. Tapi Donghae tidak perduli, ia tetap melangkah masuk dan terkejut saat melihat Sungmin dalam keadaan yang sangat kusut. Sekali lagi ia memandang Kyuhyun, tapi kali ini dengan tatapan tak percaya.
Donghae berusaha untuk tidak melihat Sungmin, tapi tidak bisa. Walau bagaimanapun ia bisa melihat Sungmin yang mendekati Kyuhyun dengan pandangan yang sangat tajam lalu berujar kasar.
"Jaga mulutmu, Cho! Jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi!"
Kyuhyun tersenyum sinis. "Jangan pernah berharap, Nymph! Aku bisa saja melakukannya lagi bila kau terus menggangguku!"
"Benarkah? Kalau begitu aku bersumpah akan membuatmu tidak bisa lagi meniduri perempuan manapun bila kau melakukan hal yang sama lagi kepadaku!"
Sungmin melangkahkan kakinya dengan kesal tanpa memandang Donghae lagi. Ia malu karena sudah membiarkan Kyuhyun melakukannya. Apa yang terjadi padanya sehingga ia menghentikan perlawanannya? Apakah dia sudah gila karena menikmati semua perlakuan Kyuhyun tadi?
Sungmin membanting pintu kamarnya dengan kesal kemudian menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang. Sedangkan Kyuhyun, dia sendiri sulit menerima kalau dia sudah memperlakukan Sungmin dengan cara seperti itu. Ini pertama kalinya Kyuhyun memaksa seorang pria karena biasanya ia bermain-main dengan wanita dan mereka yang mendekatinya lebih dulu tanpa paksaan, mencumbunya tanpa paksaan dan…
Kyuhyun tidak bisa lagi melanjutkan fikirannya, ia sudah cukup terkejut dengan perasaan yang timbul karena permainan ini. Semua hal yang dimaksudkan untuk sekedar mempermainkan Sungmin benar-benar sudah berubah menjadi gairah yang seharusnya tersalurkan dengan serius seandainya Donghae tidak datang malam ini.
Kyuhyun memandang Donghae yang sejak tadi hanya diam membisu.
"Kau kenapa, Hyung? Jangan berfikir yang tidak-tidak. Aku hanya membalasnya karena Lee Sungmin sudah dua kali mengusir kekasihku dalam seminggu ini."
"Kau membalasnya dengan apa? Kau tidak memukulnya, kan?"
"Aku mana mungkin memukulnya. Kau kesini untuk apa?"
Donghae menyerahkan sebuah undangan kepadanya. "Undangan pernikahan dari Kim Kibum, dikirimkan ke rumah. Ibumu juga menelponku dan memintamu untuk segera menghubunginya. Lalu aku juga ingin mengembalikan ini." Donghae mengeluarkan sebuah ponsel dari sakunya. "Ponsel milik Sungmin. Tertinggal di mobilku dan melihatnya seperti tadi aku tidak akan berani mengganggunya malam ini. Aku harap kau bisa memberikan kepadanya besok pagi."
"Di mobilmu?" Dahi Kyuhyun berkerut, sepertinya salah satu perkataan Donghae sangat menarik perhatiannya. Bukan tentang pernikahan Kibum sahabatnya, bukan juga tentang telepon dari Ibunya, melainkan cerita tentang ponsel Sungmin yang tertinggal di mobil Donghae.
"Kau sering mengantar jemput Nymph-ku, Hyung? Kau sedang berkhianat ya? Berani-beraninya kau mengganggu tunanganku."
"Mengganggu apanya? Aku cuma berusaha berbaik hati memberinya tumpangan karena dia selalu datang pagi, dan pagi hari sangat sulit untuk menemukan taksi di daerah ini. Aku mengantarnya pulang juga karena alasan kesopanan, mana mungkin aku membiarkan dia pulang sendirian sedangkan aku mampu untuk mengantarnya."
Donghae berusaha mengelak. Alasannya tentu saja lebih dari itu, tapi mendengar Kyuhyun memanggil Sungmin dengan sebutan Nymph-ku membuatnya berusaha untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya.
"Besok kau tidak usah mengantar jemputnya lagi, Hyung. Karena aku yang akan melakukannya." Kyuhyun berkata datar.
.
TBC
.
Anak sama bapak sama aja, ya? Sama-sama pengganggu! Kkk~ #lirikDonghaesamaBapaknya
Anyeoooong,,,
Seperti biasa saya mau mengucapkan terima kasih buat yang sudah m'follow, m'favoritkan maupun buat yang sudah me'review di chap awal. Saya tidak bisa menyebutkan satu persatu, jadi mohon dimaklum.^^
Terima kasih juga buat yang sudah mengoreksi, saya sudah memperbaikinya.
Mengenai keterlambatan saya dalam mengupdate (saya jelaskan disini saja ya). Mungkin diantara kalian ada yang kecewa karena saya tidak bisa update secepat dulu, waktu pertama publish memang dalam seminggu itu saya benar-benar sedang free jadi saya bisa update hampir setiap hari, tapi sekarang jadwal saya sudah kembali penuh, jadi agak sulit untuk update kilat lagi. -_-
Meskipun begitu, saya akan usahakan untuk rutin update tiap minggunya, entah itu dipertengahan atau diakhir minggu. Jika memungkinkan saya akan update seminggu 2x (tapi tidak janji ya, hehe...). Tadinya mau ngasih info ini pas update 'HUSBAND' kemarin, tapi malah lupa. -_-
Saya tidak akan memaksa kalian untuk me'review,
Tapi jika kalian tetap memberikan review saya akan berterima kasih sekali ^^
Oke, see u next chap & saranghaeeee reader-nim...
_Pegasuss_
