Title : That Idol is Mine

Length : Chaptered

Main Pair : Sehun x Luhan (GS)

Genre : Romance, Drama

An : EXO yang dimaksud disini EXO-K ya, kalau EXO – M juga dimasukin kan gak lucu ada dua Luhan. Maaf lupa sebelumnya. Dan juga maaf untuk updetnya yang terlaluuuu lama, karena pemblokiran FFn saya musti celingak – celinguk kemana – mana buat nyari cara buka FFn lagi. Ok, dari pada panjang – panjang, this is it!

Sebelumnya...

"Aku butuh jawabanmu sekarang"

"N-ne?" ucapannya membuatku kembali ke alam nyata dan kembali menatapnya bingung.

"Jika diam, aku anggap persetujuan"

Persetujuan apa lagi ini? Aku benar – benar bingung dan gugup sekarang dan sama sepertinya tadi aku mulai meremas kedua tanganku. S-se-sebenarnya aku... aku juga—

Aku membulatkan mataku sempurna saat sesuatu yang kenyal dan lembut menyapu bibirku. Dia menciumku! Oh Sehun menciumku!

Chapter 2

.

.

.

Seluruh tubuhku menegang, kedua telapak tanganku mengepal erat dan mataku yang tadinya membulat kini terpejam erat. Pikiranku benar – benar kosong sebelum akhirnya Sehun melepaskan tautan bibirnya namun masih berada pada jarak yang cukup dekat dari wajahku. Aku membuka mata dengan cepat, memandang kemanapun asal tidak pada Sehun dan menggeser dudukku sedikit menjauh dari Sehun. Oh tidak! Aku yakin wajahku sudah seperti kepiting rebus sekarang!

"Kau malu rupanya" bisiknya sambil menarik salah satu sudut bibirnya.

"Y-ya! A-aku tidak, m-maksudku, bukan begitu, tapi—" aku menghentikan kalimatku yang berantakan saat melihat ia tertawa cekikikan sambil memegang perutnya. Dengan kesal aku melempar wajahnya dengan bantal.

"Geumanhae (Stop it) Oh Sehun!"

"Na do saranghae (I Love You too) Xi Luhan!" balasnya asal.

~oo0oo~

5 September 2013

Sudah tiga bulan aku tidak bertemu dengannya. Kami hanya saling berkirim pesan atau sesekali menelepon. Terakhir kali aku menghabiskkan waktu berdua dengannya adalah ketika ulang tahunku lima bulan yang lalu. Setelah itu kami hanya bertemu saat ia menjemputku beberapa kali dari rumah sakit dan mengantarku pulang. Ia langsung pergi setelahnya bahkan tanpa mengantarku masuk.

Dan sejak albumnya keluar, ia benar – benar tidak punya waktu lagi untuk sekedar mengunjungiku sebentar. Kalian bertanya kenapa bukan aku yang mengunjunginya? Maaf, aku masih ingin hidup, aku tidak mau dikunyah hidup – hidup oleh fansnya diluar sana. Ya, sejak full album pertama EXO keluar, popularitas mereka benar –benar meroket. Ditambah lagi dengan repackaged album yang bahkan lebih fenomenal.

"Huh~" untuk kesekian kalinya aku menghela napas berat. Aku benar – benar lelah sekarang.

Aku merebahkan diri diatas kasur yang terdapat di ruang staf dan memandang langit – langit sejenak, kemudian mengambil ponsel dari sakuku. Sebuah pesan masuk.

"Kyaa!" seketika aku menutup mulutku untuk meredam teriakanku ketika melihat nama pengirim pesan itu.

From : Sehuni~

Bogosipta (I Miss You)

Aku terus memandangi pesan itu, masuk satu jam yang lalu saat aku sedang berada di ruang operasi.

Senyum lima jari mengembang di wajahku. Hanya dengan satu kata, bahkan tanpa emoticon sekalipun berhasil membuat energiku seperti di-charge kembali.

To : Sehuni~

Na do bogosipta (I Miss You too).

Sibuk? Jangan lupa makan, ne? Saranghae~

Aku sama sekali tak mengharapkan ia segera membalas pesanku. Karena itu aku langsung memasukkan ponsel ke saku dan bangkit dari tempat tidur. Aku sudah tidak perlu tidur lagi sekarang! Dengan riang aku keluar dari ruangan staf itu dan kembali bekerja.

~oo0oo~

10 Oktober 2013

Aku mematung tepat setelah menutup pintu apartemenku. Tidak, aku tidak menutupnya, pegangan pintu itu terlepas begitu saja saat pandanganku tertumpu pada sosok yang tengah merentangkan tangannya tak jauh di depanku.

Tanpa berkata apa – apa aku melepas sepatu asal – asalan dan meninggalkan tasku begitu saja di lantai, kemudian segera berlari masuk ke pelukan namja yang sangat – sangat aku rindukan saat ini. Tak ada yang bicara. Kami hanya menyampaikan kerinduan lewat pelukan erat ini. Sehun melepaskan pelukannya saat merasakan baju bagian dadanya basah dan menatapku yang lebih pendek darinya.

"Aigo~ Dasar cengeng" bisiknya sampil menarik pipi kananku. Aku hanya menunduk malu, entahlah, air mataku tiba – tiba menyeruak saat mencium baunya yang telah lama hilang dari indra penciumanku.

Cup!

Sehun mencium bibirku sekilas kemudian menghapus pipiku yang basah.

Aku kembali memeluknya erat, seolah – olah ia akan kembali pergi untuk waktu yang lama.

Luhan POV end

~oo0oo~

Selama satu setengah jam berada di apartemen Luhan, Sehun tidak pernah merubah posisinya. Yakni duduk di sofa sambil menonton dan membelai rambut sebahu Luhannya. Luhan? Ia juga sama, masih tetap melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sehun, berjaga – jaga jika Sehunnya tiba – tiba pergi.

Sayangnya kebersamaan mereka sedikit terusik karena ponsel Sehun yang berbunyi.

"Yeoboseyo (hello), hyung?"

"..."

"Ah ne, aku segera kembali, ne.." ujar Sehun sebelum kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana panjangnya.

"Kau harus pergi? Tsk! Cepat sekali~" rengek Luhan melepaskan pelukannya dan menegakkan punggung.

Sehun mengangguk sambil tersenyum kemudian mengelus surai Luhannya yang masih memasang tampang merengut.

"Jangan pasang wajah seperti itu, nanti aku bisa memakanmu!" canda Sehun kembali memasang jaket dan meraih topinya yang ia letakkan di atas meja.

Luhan tidak menjawab, ia hanya memperhatikan Sehun dengan wajah sedih dan mengekori Sehun yang beranjak menuju pintu.

"Aku pergi dulu" pamitnya setelah mengecup dahi Luhan sekilas. Luhan hanya mengangguk kemudian menutup pintu saat Sehun telah pergi.

~oo0oo~

Luhan tengah mengawasi pasiennya yang berada di ICU saat ponselnya yang berada di dalam saku bergetar.

From : Sehuni~

Honey, kau pulang hari ini?

Luhan segera membalas pesan dari Sehun, namun belum sempat ia menekan tombol 'send' profesornya masuk ke ruangan itu dan mendapati Luhan tengah sibuk dengan ponselnya.

"Apa yang sedang kau lakukan Xi Luhan?!" teriaknya tertahan.

Luhan segera memasukkan ponselnya ke saku, berdiri tegak dan menatap profesornya takut – takut.

"A-ada pesan dari ibuku profesor" bohong Luhan.

Profesor itu menatap Luhan sekilas kemudian beralih ke pasien yang masih dalam keadaan koma saat ini.

"Bagaimana keadaannya?" tanya profesor itu tanpa menatap Luhan.

Luhan segera memberikan catatan pasiennya pada sang profesor.

"Tetap awasi perkembangannya dan jangan memainkan ponselmu lagi!" perintah profesor itu sambil mengembalikan catatan pasien pada Luhan dan keluar meninggalkan Luhan yang segera mengendurkan bahunya.

"Mengagetkan saja" bisik Luhan kembali mengecek kondisi pasiennya dan melupakan pesan Sehun yang belum ia balas.

~oo0oo~

"Mweoya (What the)? Apa dia sedang sibuk sekarang?" tanya Sehun sambil memandangi pesannya yang belum juga di balas.

"Sehuni! Simpan ponselmu! Kamera akan on beberapa detik lagi" bisik Suho yang duduk tepat di sebelah Sehun.

Sehun segera memasukkan ponselnya ke saku dan menegakkan punggung saat PD-nim sedang menghitung mundur. EXO sedang ada di sebuah talkshow sekarang, dan ini adalah jadwal terakhir mereka untuk hari ini. Itu artinya sekitar pukul enam sore nanti mereka semua bisa beristirahat dan kembali bekerja keesokan harinya. Karena itu Sehun menanyakan jadwal Luhan hari ini, ia berniat untuk menemui Luhan setelah acaranya selesai.

.

.

.

Sehun masih memandangi ponselnya. Ia sedang dalam perjalanan menuju dorm bersama member lainnya. Ini sudah tiga jam namun Luhan tak kunjung membalas pesannya.

"Ada apa disana?" tanya Chanyeol berusaha mengintip ponsel Sehun.

Sehun segera membalikkan ponselnya dan menjawab gugup,

"A-aniya (Nothing), hyung"

"Apa kau menuggu telepon dari seseorang?" kali ini Baekhyun ikut memperhatikan magnae mereka yang diam sedari tadi.

"Aniya~" bantah Sehun kemudian memandang keluar jendela untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut dari hyungdeulnya. Sepertinya sekarang ia mengerti apa yang dirasakan Luhan saat ia sibuk promosi album beberapa bulan belakangan.

~oo0oo~

15 November 2013

"Wasseo (you're coming)?" sapa Luhan pada Sehun yang sedang melepaskan sepatunya.

Luhan sendiri berada di dapur sekarang, ia sedang mengaduk sup buatannya. Cuaca mulai dingin dan sup adalah makan malam terbaik di saat - saat seperti ini.

Tiba – tiba sepasang lengan memeluk pinggang Luhan dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Sehun.

"Honey~ Aku kesal sekali hari ini~" rengek Sehun sambil meletakkan dagunya di pundak Luhan.

"Lagi? Aigo~ uri jagi kesal setiap hari sepertinya~" jawab Luhan sambil tersenyum kemudian mematikan kompor.

"Ini gara – gara Baekhyun hyung! Ia selalu saja punya sesuatu untuk membuatku marah!" Sehun melepaskan pelukannya dan duduk di meja makan menunggu sup buatan Luhan.

Luhan hanya tersenyum menanggapi namjachingunya ini. Ia sudah terbiasa dengan semua keluh kesah Sehun padanya. Awalnya Luhan kaget, melihat tingkah kekanak – kanakan Sehun karena saat – saat awal mereka pacaran Sehun terlihat begitu dewasa di matanya. Tapi kemudian ia sadar jika Sehun memang lebih muda dari dirinya, jadi tak heran jika Sehun sedikit manja.

"Baiklah Tuan Oh, bagaimana kalau kita anggap sup ini adalah Baekhyun, kita akan mengunyahnya habis – habisan" ujar Luhan sambil meletakkan semangkuk nasi dan semangkuk sup di depan Sehun.

"Okay, rasakan kau Baekhyun hyung!" Sehun menatap supnya seolah – olah itu adalah Baekhyun kemudian menyendoknya kasar.

Luhan tersenyum geli melihat Sehun yang tengah kesal. Benar – benar imut!

~oo0oo~

31 Desember 2013

Luhan tengah sibuk membaca buku di kursinya saat para residen lain masuk ke ruangan itu dan duduk di kursi masing – masing.

"Ah~ eottohke (What should I do)? Ini tahun baru pertamaku bersama putri kecilku, tapi aku malah jaga malam hari ini" keluh seorang sunbae Luhan

"Apa boleh buat, jadilah ajeossi penjaga yang baik malam ini seonsaengnim~" ejek salah seorang sunbae lainnya.

"Kata perawat Oh saat malam tahun baru banyak pasien yang masuk, benarkah begitu sunbae?" tanya seorang residen tahun pertama pada Luhan yang duduk disampingnya.

"Ne. Biasanya begitu" jawab Luhan kemudian menatap sunbaenya yang tengah menelepon sang istri bahwa ia tidak bisa pulang malam ini.

"Jogiyo (Excuse me) Ahn sunbaenim..." panggil Luhan saat sunbaenya itu hendak menyimpan ponsel ke saku.

"Wae?" orang yang dipanggil Ahn sunbaenim itu menoleh pada Luhan.

"Jadwalku kosong malam ini. Bagaimana jika kita bertukar jadwal, aku akan menggantikan sunbae malam ini"

"JINJJA (Really)?!" teriak Ahn sunbaenim membuat residen lain menatap kesal padanya. Luhan pun mengangguk sebagai balasan.

"Eh, tapi ini malam tahun baru, kau tidak merayakannya bersama keluargamu?" tanya Ahn sunbaenim.

Luhan memaksakan senyumnya,

"Aku tinggal sendiri disini sunbae, kedua orang tuaku di China"

"Ah benar! Aku lupa! Kalau begitu kau yang menggantikanku malam ini 'kan? Gomapta Xi Luhan! Kau benar – benar bisa diandalkan!". Luhan hanya menanggapi ucapan sunbaenya dengan senyum dan melanjutkan kegiatan membacanya kembali.

Bekerja lebih baik baginya malam ini, ini tahun baru keduanya di Korea. Dan Luhan sangat tahu bagaimana kesepiannya memandang kembang api sendirian dari apartemennya. Ya, sendirian. Karena Sehun sedang berada di luar kota sekarang untuk syuting reality show bersama member EXO lainnya.

Karena itu ia memilih untuk merelakan jadwalnya pada orang yang membutuhkan –orang yang merayakan tahun baru bersama orang yang dicintai.

~oo0oo~

10 Januari 2014

Luhan melihat jam tangannya sekilas kemudian menghela napas berat.

"Hah~ masih pukul lima sore~ Kenapa Lee sunbaenim harus melahirkan hari ini? Aku benar – benar lelah~" keluhnya.

Luhan meregangkan tubuhnya kemudian melanjutkan perjalanan menuju ruang staf, ia benar – benar sibuk hari ini karena salah satu sunbaenya tiba – tiba harus melahirkan. Ya, tiba – tiba, karena menurut perkiraan, Lee sunbaenim akan melahirkan dua bulan lagi. Akibatnya, dokter yang berjaga siang hari ini berkurang satu dan itu artinya pekerjaan Luhan bertambah banyak.

Tiba – tiba Luhan mendapat telepon dari UGD mengenai pasien yang harus segera dioperasi karena terjatuh dari sebuah bangunan tua yang hendak dihancurkan. Sebuah besi dengan panjang sekitar setengah meter tertancap melintang di perutnya.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Luhan sambil berusaha mengatur napas karena berlari ke UGD.

"Dari hasil pemeriksaan besi itu mengenai paru – parunya" jawab hoobae Luhan sambil memperlihatkan hasil pemeriksaan tersebut pada Luhan.

"Pertama – tama potong dulu besi yang masih di luar sependek mungkin" perintah Luhan sebelum menelepon profesornya.

"Profesor ada seorang anak yang harus segera dioperasi karena besi tertancap di perutnya dan mengenai paru – paru"

"Cepat siapkan ruang operasi, aish! aku sedang berada di Gwangju sekarang. Dimana sunbaemu?!"

"Lee sunbaenim harus menjalani sesar hari ini karena bayinya bermasalah, Ahn sunbaenim sedang memimpin operasi, dan Kim seonsaengnim yang membantunya, hanya tinggal aku dan Shin Ae sekarang. Eotteokhajyo profesor?" jawab Luhan sedikit panik.

"..."

"Profesor? Apa anda masih mendengar saya?" tanya Luhan karena Profesornya tidak menanggapi perkataan Luhan barusan.

"Kalau begitu kau yang melakukannya"

"N-NE? T-tapi—"

"Hanya memulainya Xi Luhan! Jika bukan kau siapa lagi? Kau mau menyuruh hoobaemu?! Kau hanya perlu memulai operasinya sesuai instruksiku! Saat akan menarik besi itu keluar kau bertukar tempat dengan Ahn seonsaengnim. Kau hanya perlu memulainya dan menyelesaikan bagian Ahn seonsaengnim! Akan aku usahakan datang secepat mungkin. Aku akan segera memberitahu Ahn seonsaengnim, saat sudah berada di ruang operasi segera telepon aku, arasseo!"

"Ne, aiguseubnida (understand) profesor!"

.

.

Luhan telah selesai mempersiapkan diri dan masuk ke ruang operasi. Ia benar – benar gugup! Ini adalah operasi pertamanya, biasanya ia hanya menjadi asisten dari sunbaedeul-nya.

"Xi Luhan, kau sudah siap?" terdengar suara sang profesor dari speaker ponsel Luhan yang diletakkan di dekat meja operasi.

"Ne, profesor" jawab Luhan mantap.

"Aku akan mulai membius"

Luhan mengangguk pada dokter anastesi yang tengah menyuntikkan bius.

"Mess (pisau bedah)" ujarnya memulai operasi.

Perlahan – lahan Luhan mulai membedah bagian perut anak itu. Saat hampir selesai tiba – tiba darah muncrat mengenai wajahnya.

"Argh!" seru Luhan yang terdengar oleh profesornya dari seberang sana.

"Wae? Apa yang terjadi?"

"Darah tiba – tiba muncrat profesor. Aku akan mencari sumbernya dan menghentikan pendarahan dulu" jawab Luhan.

Luhan memasukkan kassa yang diberikan hoobaenya dan menekan bagian yang berdarah. Namun darah terus mengalir hingga Luhan menambah kassanya terus menerus.

"Seonsaengnim! Kejenuhan oksigen menurun!"

"Detak jantung juga menurun!" seru perawat Oh berturut – turut

"Xi Luhan! Jahit kembali perutnya dan lakukan kejut jantung terlebih dahulu!" suara sang profesor kembali terdengar dari ponsel Luhan

"Ne!"

Park Shin Ae –hoobae sekaligus asisten Luhan segera menyiapkan defibrillator (alat kejut jantung). Kemudian melanjutkan pekerjaan Luhan menjahit perut pasien. Sedangkan Luhan mulai bersiap untuk melakukan kejut jantung. Keadaan benar – benar ribut karena detak jantung anak itu terus menurun.

"Xi Seonsaengnim! Detak jantungnya menghilang!" kali ini dokter anastesi yang berseru. Luhanpun bergegas melakukan kejut jantung.

"Hana dul set!"

"50 Joule!" seru Luhan saat tak ada yang berubah dari layar elektrokardiograf selain garis lurus.

"Hana dul set!"

Masih tidak ada perubahan.

"100 Joule!" seru Luhan

"Hana dul set!"

"160 Joule!"

"Hana dul set!"

"250 Joule!"

"Seonsaengnim terlalu berbahaya! Ini anak – anak!"

"Tidak apa – apa lanjutkan!" sang profesor kembali menyela lewat telepon.

Dengan berat hati perawat Oh mengubahnya menjadi 250 Joule.

"Hana dul set!"

"Seonsaengnim..." suara lemah perawat Oh menandakan bahwa tak ada kemajuan yang terjadi.

"Xi Luhan—" belum sempat sang profesor menyelesaikan kalimatnya Luhan langsung memotong,

"Aku akan melakukan CPR (Resusitasi Jantung Paru)" semua orang di ruangan itu memandang Luhan terkejut.

"YA! NEO MITCHEOSSEO!" teriakan profesor yang berasal dari ponsel Luhan itu menggema di ruang operasi.

"S-sunbae, sunbae bisa merobek paru – parunya..." suara lemah Shin Ae berusaha menahan Luhan.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?!" seru Luhan frustasi diiringi dengan bunyi monoton nan panjang dari elektrokardiograf.

"Umumkan waktu kematiannya" bisik sang profesor kemudian memutuskan sambungan telepon.

Semua orang memandang Luhan yang terpaku di depan meja operasi. Melihat Luhan diam saja Shin Ae akhirnya mengambil inisiatif,

"Pasien Lee Eun Kyu meninggal pada 10 Januari 2014 pukul 17.25"

.

.

To be Continue...

Yuhu~ chap 2 datang~~ Mian telat, lagi persiapan buat ikut tes soalnya dan terimakasih banyak buat yang udah review dan baca chap kemarin. Saya sangat menghargai reviewnya, dan jika ada masukan jangan ragu untuk kasih tau ya! Sampai ketemu di chap berikutnya!^^