Selamat Membaca~

SPECIAL THANKS TO : Jasmine DaisynoYuki, Mimo Rain, yukiko senju, MinYeolKook, Dewi15, Arnygs, Mikuni Ichida, miszshanty05, winteraries, RisaSano, viraoctvn, fannyc, sivanya anggarada, yunaucii, Arum Junnie, Chinatsu Ichihara, zukie1157, Ryuusuke583, SNlop, Cherry blosoom, Guest, , blackblue, ZeeZeee, D'angel, Aiko Michishige, zadita uchiha, Khioneizys, Kyuuuuu, Namikaze Eiji, diah, and Zoldikyachiru.

Disclaimer : all characters belong to Masashi Kishimoto.

WARNS : gender switch miss, typo, OOC, aneh, abal, diksi belum sempurna sepenuhnya, eyd kurang, OOT, dan don't like don't read.

Genre : Drama, Romance, Little Humor, & Hurt/Comfort.

Rated : K+ sampai dengan T

Pair : SasuFemNaru (bisa bertambah seiring waktu)

Summary : Naruto awalnya adalah manajer di restoran yang dijalankan oleh keluarganya sendiri yaitu Namikaze's Café, sebagai orang yang royal Naruto selalu melayani dengan baik pelanggannya. Tapi semua berubah saat pemuda Uchiha itu mengajukan syarat yang merubah seluruh hidup Naruto selama satu bulan, syarat apa yang diberikan Sasuke padanya?/"Kau tidak akan bisa lepas dariku dobe…"/"Teme sialan!"/Warn : SasuFemNaru

Naruto © Masashi Kishimoto

One Month Troublesome © Akihiko Fujiwara

One Month Troublesome
Chapter 2 : The Winner!

.

.

.

Sasuke nampak merapikan dasi berwarna merahnya didepan cermin, dia memandang pantulan bayangannya dengan wajah datar. Tak lama dia diam beberapa menit mengamati lekukan wajahnya sendiri, Sasuke menyisir rambutnya kebelakang menggunakan tangan. Merasa sudah rapi pemuda raven itu keluar dari dalam kamar dengan setelan jas seperti biasa, Sasuke menuju kedapur yang sudah didului oleh ayahnya yang tengah anteng duduk dikursi mereka masing-masing sambil membaca koran. Ritual pagi seorang Fugaku Uchiha.
Sasuke menuju kursi tempat dia biasa duduk, memperhatikan ibunya yang tengah menyiapkan sarapan dan sesekali mengecek handphonenya sesaat.

"Si baka aniki itu masih belum pulang dari jalan-jalannya ya?" tanya Sasuke memulai percakapan, Fugaku melipat korannya dan menatap putra bungsunya itu yang memandangnya datar.

"Yaa, terakhir kali kakakmu itu memberitahu kalau dia sedang berada di Italia untuk 3 hari kedepan. Entah sebenarnya apa yang tengah dia cari disana…" jelas Fugaku tak mengerti menyesap kopi nya diatas meja, Sasuke mengangguk pelan. Paham dengan penjelasan ayahnya itu.

Mikoto nampak menuang omelet kedalam piring kecil lebar, wanita itu berjalan menuju meja makan tempat suami dan putra bungsunya tengah duduk.
Mikoto tersenyum sekilas kearah Sasuke sembari memberikan omelet masakannya kepada putra bungsunya itu, wanita itu duduk disamping suaminya. Fugaku nampak bersiap dengan mengelap garpu.

"Sasuke…ibu khawatir akhir-akhir kau sering sekali pulang larut malam. Apa sebaiknya kalau Yamato menggantikan pekerjaanmu saja jika ada lembur?" tanya Mikoto yang memperhatikan Sasuke mengunyah suapan pertama omeletnya, pemuda raven itu diam sejenak sembari mengunyah. Setelah dia rasa makanannya sudah ditelan, Sasuke angkat bicara. "Tidak mungkin Yamato menggantikanku bu, lagipula ini sudah menjadi pekerjaanku. Cepat atau lambat pasti aku akan sibuk seperti sekarang…" jelas Sasuke.

Mikoto menopang dagu masih menatap Sasuke yang duduk dihadapannya, Fugaku yang terlihat asik memakan sarapannya menoleh memperhatikan istrinya yang nampak diam membisu sambil memperhatikan putra mereka makan. Pria paruh baya itu menggeleng pelan, ya wajar saja Mikoto bersikap seperti itu. Lagipula Itachi putra sulung mereka sering tak pulang karena mengurusi perusahaan miliknya sendiri dan harus berkeliling dunia, Sasuke juga sibuk mengurusi perusahaan keluarga dan selalu pulang larut malam.

"Anata, lagipula mereka sudah besar. Sudah waktunya bagi mereka untuk menuju ke jalan yang telah mereka pilih masing-masing, kita yang tua ini hanya bisa mendukung. Bukan begitu Sasuke?" ujar Fugaku mengelus pundak istrinya, Sasuke yang mendengarnya dan tengah mengunyah itu diam sejenak.

"Hn, benar sekali"

Mikoto menghela napas pelan kemudian tak lama dia tersenyum simpul "Ya ada benarnya juga, ketika mereka sukses nanti kita juga yang akan berbangga hati" ujar wanita itu tersenyum, Fugaku yang duduk disebelahnya ikutan tersenyum. Begitu pula pemuda raven itu dengan senyuman tipisnya menyetujui statement sang ibunda.

"Oh ya, ayah lupa memberitahumu kalau hari ini sampai 5 hari kedepan kami ada urusan di Hokkaido jadi kami dengan terpaksa meninggalkanmu disini. Kau tidak apa-apa kan Sasuke?" ujar Fugaku yang sudah selesai duluan memakan sarapannya, Sasuke menggigit mulut bagian dalamnya mendengar penuturan sang ayah.

"Hn, aku tidak apa-apa. Aku bisa meminta tolong pembantu yang lain untuk memasakkanku selagi ibu dan ayah tidak ada."

"Jaga diri baik-baik ya Sasuke, kalau ada apa-apa kau bisa menelfon kami" imbuh Mikoto, Sasuke tersenyum sekilas dan mengangguk pelan menanggapinya.

Pemuda raven itu mengelap bersih mulutnya dengan sapu tangan diatas meja, meminum habis susu putih dan merapikan kembali pakaiannya untuk segera berangkat ke kantor.
"Kalau begitu, aku pergi sekarang. Ayah, Ibu, aku pergi" Sasuke mencium tangan kedua orang tuanya dan segera berlalu pergi dari sana, Fugaku dan Minato menatap punggung pemuda raven itu sampai akhirnya hilang dibelokan ruang makan menuju ruang depan.

Sasuke membuka pintu kemudi mobil dan merangkak masuk kedalam, pemuda itu diam sejenak membenarkan Alexandre Christie silvernya yang bertengger gagah di pergelangan tangan kirinya. Sasuke merogoh smartphone nya didalam saku celana, mengutak-atik mencari dengan cepat kontak yang akan dia telfon.

"Yamato?

"Ya, Pak? Ada apa?" jawab suara Yamato di seberang.

"Aku agak telat datang ke kantor, karena pagi ini ada rapat dengan Perusahaan Kaminari gantikan aku memimpin rapat. Aku sedang ada sedikit urusan di Café Namikaze pagi ini. Aku akan datang ke kantor tepat pukul 8.30 pagi, jangan lupa" jelas Sasuke berbicara via telfon dengan pandangan tajam mengarah lurus kedepan.

"Siap, saya akan melaksanakannya Pak. Tetap berhati-hati diperjalanan anda…"

"Hn, aku mengerti"

Sasuke mematikan sambungan telfonnya, memasukkan kembali androidnya kedalam saku celana. Menghidupkan mesin mobil Mercedez-Benz McLaren silver kesayangannya, dan segera tancap gas menuju tempat awal tujuanya. Ya meskipun bukan ke perusahaan Uchiha Adv. namun Sasuke punya sedikit urusan yang harus dia selesaikan dengan sang pihak manajer. Seringaian tipis muncul dibibir merah marun sang CEO muda berbakat itu.

Ditempat lain, Naruto mengawasi dengan cermat para pegawainya di ruang memasak. Gadis itu sengaja memperhatikan langsung kelapangan karena minggu kemarin Akimichi Chouji kepala koki restoran mengajukan laporan mengenai resep baru yang ingin dia masukkan kedalam menu café, otomatis sebagai manajer Naruto dengan senang hati menerima resep baru yang diajukan anak buahnya.

"Untuk bahan dasarnya kau menggunakan apa Chouji?" tanya Naruto memulai percakapan, mata sapphirenya masih memandang dengan cekatan pekerjaan anak buahnya. Chouji yang berdiri disisi gadis itu membenarkan topi koki nya dan menjawab pertanyaan Naruto.

"Saya memakai bahan dasar setiap menu disini Naruto-san, hanya saja saya sedikit menambahkan taburan topping wijen di akhir proses. Mungkin ini hal yang wajar tapi untuk steak daging dengan taburan wijen dan irisan keju mungkin menjadi menu pilihan yang pas…" jelas pemuda berbadan besar itu, Naruto manggut-manggut setuju mendengar penjelasan pria itu.

"Kalau memang rasanya tidak kalah dengan menu lainnya, aku segera memasukkannya kedalam daftar menu baru kali ini" Chouji yang berganti mengangguk dengan ucapan Naruto barusan.

Saat keduanya tengah asik memperhatikan koki yang lain memasak, Jugo masuk keruang dapur melalui pintu depan. Pria berbadan tinggi besar dan tegap itu berjalan menghampiri Naruto dan Chouji berada, Naruto melirik kearah pria itu mengerti ada sesuatu yang ingin disampaikannya.

"Naruto-san"

"Ada apa Jugo?" tanya Naruto.

"Ada tamu yang mencari anda diluar, katanya penting. Anda diminta untuk segera menemuinya sekarang" jelas Jugo langsung, gadis pirang itu menyipitkan matanya mendengar penjelasan barusan. Siapa orang yang berani untuk menganggu pekerjaannya, dia pikir dia yang paling berkuasa? Merepotkan.

"Siapa?" Naruto memutar bola matanya.

"Saya tidak diperbolehkan memberitahu namanya sampai anda datang menemuinya sendiri Naruto-san. Dia berkata kalau dia tidak suka menunggu"

Naruto mendecah kesal, menyusahkan saja. Dia tidak tahu kalau seorang Namikaze Naruto saat ini sedang sibuk bekerja, apa dia tidak tahu hal itu? Kalau saja ini tidak direstoran sepertinya gadis itu akan memberikan pelajaran kepada orang yang berani-beraninya menganggu dirinya sekarang.

"Sebenarnya atasanmu aku atau tamu itu Jugo? Kenapa kau mau disuruh-suruh seperti itu?" Naruto menaikkan nada bicaranya satu oktaf, Jugo hanya bisa menunduk. Semua koki yang tengah memasak itu berbisik-bisik mengapa atasan mereka tiba-tiba berbicara dengan nada tinggi, Chouji yang berfirasat akan ada sesuatu yang terjadi memilih untuk sedikit menjauh.

"Maafkan saya" sesal Jugo masih menunduk, Naruto memegangi kepalanya frustasi.

Gadis pirang itu berlalu pergi, melenggang keluar dapur meninggalkan semua bawahannya menuju keruangan pengunjung. Chouji menghampiri Jugo yang masih saja menunduk, pria itu menepuk pundak Jugo pelan. Jugo mendongak menatap Chouji yang memasang senyum simpul.

"Tenang saja, Naruto-san tidak benar-benar marah padamu kok. Dia hanya tidak suka jika waktu kerjanya diganggu, kalau begitu kembalilah ke pekerjaanmu Jugo. Semua pasti baik-baik saja…" hibur Chouji kepada teman satu kerjanya itu, Jugo diam berpikir. Senyuman tipis muncul diwajah kotaknya, mengerti dengan penuturan sang senior.

"Baiklah Chouji-san, aku mengerti. Terima kasih banyak atas bantuanmu" Jugo membungkuk 90 derajat membentuk hormat, Chouji hanya mengangguk dan tersenyum hangat. Jugo kemudian segera pergi dari sana menyusul langkah Naruto.

XXX

Sasuke mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja, bosan. Dia memandang ke sekeliling café dan semua mata seluruh gadis tertuju langsung padanya. Tentu saja, siapa gadis yang tidak terpesona melihat eksekutif muda yang tengah duduk sendirian dengan balutan jas putih menawan sekaligus dianugerahi wajah rupawan bak pangeran dari cerita dongeng. Ya mungkin hanya Naruto saja yang punya perspektif berbeda mengenai pemuda raven itu dari gadis-gadis lainnya, Sasuke hanyalah pemuda penganggu merepotkan.

Sasuke menghela napas pelan, bosan menunggu kedatangan seseorang. Bukankah seingatnya tadi dia sudah menyampaikan pada bawahan manajer itu bahwa temui dia sekarang, karena dia tidak suka menunggu.

"Ada perlu apa lagi kemari Sasuke-san? Kau bahkan sudah membuat bawahanku tunduk padamu" seru Naruto menekankan nada pada kata Uchiha, gadis itu berdiri tegap dimeja dihadapan Sasuke, pemuda raven itu mendongak dengan wajah datar.

Sasuke tak menjawab pertanyaan Naruto, dia diam terlebih dahulu menatap gadis itu. Yang ditatap malah memasang wajah sebal, sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan intens seorang Uchiha Sasuke, Naruto memutar bola matanya terlalu lelah menunggu jawaban yang akan dilontarkan oleh pemuda itu.

"Sasuke-san, kau tidak tuli kan?"

"Hn"

"Lalu kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku dan lebih memilih untuk menatapku dengan berdiam diri cukup lama? Aku bukan lukisan, kau tahu. Kau benar-benar menyusahkan" Naruto mengucapkannya frontal, sepertinya kekesalan dalam dirinya sudah tidak dapat dibendung lagi menatap wajah pemuda raven yang ya mungkin saja datang kemari untuk menagih perihal 'persyaratan' aneh yang dia usulkan kemarin.

"Hn"

"Itu bukan jawaban Teme!" Naruto emosi.

Sasuke hanya menyeringai tipis, dia berdiri dari duduknya berjalan menghampiri Naruto dan mengenggam lengan gadis pirang itu. Naruto menelan ludah, jangan bilang kalau Sasuke akan melakukan sesuatu yang macam-macam padanya.
Pemuda raven itu menyeret kursi dihadapannya dengan tangan kiri yang bebas, kemudian mendorong pelan Naruto untuk duduk dikursi itu.

"Kau terlalu banyak bicara dobe, duduklah. Kita akan membicarakan sesuatu secara empat mata…" bisik Sasuke tepat ditelinga kanan Naruto, gadis itu merasakan sensasi geli akibat bibir Sasuke yang terlalu dekat saat membisikkannya. Bahkan hempusan napas pemuda itu begitu terasa di permukaan kulit telinganya, Sasuke kembali ketempat duduknya.

"Maksudmu membicarakan apa? Persyaratan kemarin? Maaf Tuan Uchiha, aku sedang sibuk. Aku tidak bisa diganggu"

"Jangan menghindar Nona Namikaze, aku memang tidak akan memaksamu. Tapi aku rasa tidak semua perusahaan bisa beruntung menjalin kontrak dengan perusahaanku, jadi aku pikir kau harus menimang-nimang kembali tawaran ini" Sasuke menopang pipi kirinya dengan tangan kiri diatas pegangan kursi, menatap lurus Naruto dengan kedua mata onix nya.

"Tawaran dengan menyetujui persyaratan menjadi maid mu itu? Heh, aku tidak akan pernah mau…" Naruto menyipitkan matanya kearah Sasuke, seolah menantang pemuda itu bahwa dia tidak mau menyetujui keinginan Sasuke. Pemuda raven itu masih dengan mode datarnya, menatap lurus Naruto. Gadis pirang itu hanya bisa mendecah kesal.

"Kau yakin akan menolak kontrak ini?"

"Aku yakin sepenuhnya…"

"Kau tidak akan menyesal?" goda Sasuke.

"Sama sekali tidak" Naruto tetap kukuh dengan jawabannya.

Sasuke hanya bisa menyeringai, entah seringaian yang keberapa kali semenjak dia bertemu gadis pirang dihadapannya itu.
"Kau naif dobe, kau ingin menghindarinya tapi aku tahu kalau dipikiranmu kau merasa menyesal karena tidak menyetujui persyaratan kontrak ini hanya karena aku memintamu untuk menjadi maid. Dengan begitu satu calon mitramu akan pergi, benar bukan?"

Naruto mati kutu, bagaimana bisa si Uchiha menyebalkan itu dapat menebak dengan benar apa yang sedang dipikirkan Naruto. Gadis pirang itu menelan ludahnya kasar, berusaha untuk memasang wajah tenang agar tidak bisa terbaca oleh pemuda raven itu. Tapi sayang nampaknya tebakan Naruto meleset jauh.

"Tentu saja aku tahu apa yang kau pikirkan, anggap saja kalau pikiran kita ini menyatu dobe" terka Sasuke, gadis pirang itu mendecah membuang wajahnya kesamping sambil melipat kedua tangannya didepan dada.

"Jangan menggombal teme, aku tidak akan terpengaruh sama sekali"

"Jadi kau berharap aku menggombal?" Sasuke mendekatkan wajahnya lebih dekat kewajah Naruto, gadis pirang itu menahan napas melihat seringaian yang terukir dibibir sang CEO muda itu. Akibat ulah Sasuke itu semua mata tertuju kearah dua pasangan itu, ada yang cemburu berharap mereka yang saat ini dihadapan sang pemuda raven. Dan ada juga yang menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ekhem" Naruto sengaja berdehem keras untuk mencegah Sasuke semakin mendekat lagi, pemuda raven itu kembali duduk dikursinya dan menatap Naruto seakan kejadian tadi adalah tidak sengaja.
"Mohon untuk tidak membuat hal yang aneh-aneh disini Sasuke-san" terka Naruto.

"Hn"

"Kenapa kau begitu menyebalkan?"

"Hn"

"Dan kenapa kau harus menjawab dengan kata-kata ambigu mu itu? Kau benar-benar menyebalkan teme!"

"Hn" Naruto menggeram mendengar untuk yang kesekian kali kalimat Sasuke yang tidak pernah jelas itu terlontar di mulut sang empunya, sedangkan Sasuke hanya menanggapi dengan santai sambil menyeruput kopi hitamnya. Pemuda itu melirik ke jam tangannya, sepertinya waktunya tidak banyak lagi.
"Jadi bagaimana jawabanmu Dobe? Kenapa kau suka sekali mengulur-ngulur waktu, itu sangat menganggu…"

"Kalau memang mengganggu kau tinggal mengganti syarat yang lain kan Tuan Uchiha, tidak perlu menjadi maid segala" protes Naruto melipat kedua tangannya didepan dada.

"Kalau aku inginnya itu bagaimana?" tatap Sasuke intens, Naruto lagi-lagi harus menahan kekesalannya menatap wajah bak tembok yang selalu ditunjukkan lelaki dihadapannya ini seakan bahwa syaratnya itu mudah dan gampang. Tapi bagi Naruto? Sama sekali tidak.
"Sudahlah dobe, kau tidak perlu malu-malu kucing segala tinggal bilang ya dan selesai. Tidak susah bukan?"

"Aku menyesal mempunyai rencana untuk bekerja sama dengan perusahaanmu kalau akhirnya menjadi seperti ini, aku tidak akan menerimanya. Masih banyak perusahaan yang ingin bekerja sama denganku…terima kasih banyak atas kesempatannya Tuan Uchiha" ucap Naruto tegas dengan raut wajah seriusnya, nampaknya gadis pirang itu tidak bisa lagi menahan dilema berat karena permasalahan itu. Dan akhirnya Naruto menemukan jawaban yang dia berikan kepada Sasuke, dia bangkit dari duduknya dan segera berlalu meninggalkan sang CEO yang tengah menatapnya tanpa ekspresi.

Pemuda raven itu sontak menggapai lengan Naruto dan menggenggamnya keras membuat empunya harus berhenti berlalu, gadis pirang itu berusaha untuk melepaskannya namun nampaknya kekuatan Sasuke lebih dominan.
"Baiklah aku hargai jawaban mu Naruto, tapi karena kau sudah menolak tawaran ku. Bisa kupastikan kalau tidak akan ada satupun perusahaan yang mau menjadi mitra mu, dan café ini hanya tinggal nama" bisik Sasuke tepat ditelinga gadis pirang itu, Naruto membulatkan matanya mendengar ancaman pemuda itu.

Naruto berbalik dan menatap Sasuke dengan pandangan intimidasi, keberaniannya yang ingin dia tunjukkan tadi seketika sirna mendapatkan pandangan layaknya harimau yang mendapat mangsa itu. Sasuke menyeringai lebar merasa menang, Naruto menggigit bibir bawahnya bingung.

"Jadi kau mengancamku?"

"Bukan ancaman, hanya sebuah pelajaran untukmu. Aku kan sudah bilang, kau tidak akan bisa lari dariku dobe…"

"Apa sih maumu Teme?!" teriak Naruto sudah tidak sabaran lagi, untungnya saja café ini adalah miliknya sendiri. Jadi tidak perlu takut untuk diusir keluar karena bertengkar di tempat umum, seluruh pegawai yang tengah bekerja itu mencari kesempatan untuk mencuri dengar pembicaraan sang atasan dengan CEO Uchiha Adv. itu termasuk Ino sendiri.

"Kau tahu sendiri kan mau ku apa dobe?" Naruto menatap tajam Sasuke, dan pemuda raven itu tidak menanggapinya. "Aku ingin ini," Sasuke menunjuk lurus kearah Naruto membuat gadis pirang itu kaget sekaligus timbul rona merah disekitar pipinya, Naruto buru-buru menggelengkan kepalanya.

"Saya tidak untuk dijual, sekarang silahkan pergi Sasuke-san. Saya tidak akan berubah pikiran!" seru Naruto dengan nada sopan.

"Baiklah tidak masalah, tapi ingat kata-kata ku tadi. Uchiha tidak pernah main-main dengan ucapannya!"

Dengan kalimat terakhirnya Sasuke berbalik dan pergi berlalu meninggalkan café itu, Naruto memandanginya sampai menghilang tepat didepan pintu utama. Gadis itu menghela napas, memijat keningnya pening. Apa benar kalau jawabannya itu sudah tepat?
Naruto menyeret kakinya pergi dari sana menuju kembali keruangannya untuk menenangkan diri saat ini, Ino memandangi Naruto dari meja kasir. Nampaknya sahabatnya itu memiliki permasalahan yang cukup berat.

"Ino-san, aku rasa Sasuke-sama menyukai manajer kita. Buktinya selama aku perhatikan tatapan matanya, ada yang berbeda dari sana" cetus Tenten tiba-tiba yang sudah berdiri disampingnya membuat gadis blonde itu hampir terlonjak kaget, Ino menghela napas.

"Tenten kau seperti hantu saja tiba-tiba sudah berada disitu, ya aku juga tidak tahu pasti. Mungkin benar yang kau katakan, lihat saja syarat yang diberikan CEO muda itu pada Naruto tempo hari…"

"Woah, syarat apa itu Ino-san? Aku sama sekali tidak mengetahuinya" seru Tenten heboh sendiri, Ino yang menatapnya hanya geleng-geleng kepala. "Sasuke-san mengajukan sebuah syarat untuk café kita agar perusahaan mereka mau bekerja sama, dan kau tahu syarat itu apa?" Tenten memasang mata berbinar dan mengangguk angguk penasaran mendengar lanjutan sang senior yang nampaknya sangat seru itu.

"Menjadi maid sang CEO muda itu dengan waktu selama satu bulan penuh…" mulut Tenten terbuka setelah Ino menyelesaikan kalimatnya, wah-wah kenapa dia baru dengar berita heboh seperti ini. Benar bukan tebakannya tadi kalau pemuda raven itu menyukai atasannya.

"Sugoi, itu benar-benar syarat yang berani. Aku sudah yakin kalau Sasuke-sama pasti menyukai Naruto-san"

"Ino, Tenten jangan bergosip. Kembali ke pekerjaan kalian!" tegur Jugo yang tidak sengaja lewat disana, kedua gadis itu buru-buru kembali ke pekerjaannya. Ya mungkin Ino akan menghibur sahabatnya itu kalau waktu kerjanya sudah berakhir, nampaknya Naruto butuh sedikit dorongan.

XXX

"Tadaima…" teriak Naruto saat melangkahkan masuk kaki jenjangnya, dia melepas hak tingginya dan meletakkannya ke rak sepatu yang berada disudut belakang pintu depan. Gadis pirang itu berjalan menuju dapur untuk meneguk segelas air dingin, dia melihat sang ayah yang tengah duduk di kursi meja makan sambil memainkan smartphonenya dan ibu nya yang tengah sibuk didapur.

"Naru-chan? Kau sudah pulang? Okaerinasai…" sapa Kushina yang melihat putrinya sudah berdiri tak jauh dari ruang makan dan dapur, Minato mendongak mendengar sang istri menyambut putri bungsu mereka. Senyuman hangat merekah sempurna di wajah pria itu.

"Naruto, kemarilah duduk bersama kami" seru Minato menyeret kursi disampingnya mempersilahkan sang putri tersayang untuk ikut bercengkerama, Naruto tersenyum dia berjalan menghampiri sang ayah dan duduk di sana.

"Terima kasih ayah" ucap Naruto.

"Tak masalah, kenapa baru pulang jam segini Naruto? Ada pekerjaan yang tertunda ya di café?" tanya Minato menatap raut lelah dari wajah sang putri, Naruto memijit keningnya dan balik menatap sang ayah. "Iya ayah, aku harus mengurusi beberapa dokumen yang belum sempat aku baca tentang proposal keuangan restoran"

"Wah nampaknya sekarang kau sudah sibuk ya, mempercayakan restoran keluarga padamu memang pilihan tepat" sanggah Kushina sambil membawa makanan keatas meja makan, Naruto menoleh kearah ibunya yang tersenyum lebar itu. Hati gadis pirang itu merasa teduh memiliki keluarga yang begitu mendukung karir nya, Minato pun ikutan tersenyum simpul.

"Ya aku senang kalau ayah dan ibu bangga sudah mempercayakan café untuk aku jalankan, semoga saja seterusnya selalu lancar. Doakan saja ya, ayah, ibu" seru Naruto, Minato dan Kushina mengangguk mendengarnya. "Tentu saja sayang…"

"Oiya ngomong-ngomong Kak Kyuu kemana?" tanya Naruto sambil menuang jus jeruk kedalam gelas dan meneguknya habis.

"Kyuu tadi pamit kalau dia mau pergi kerumah temannya, katanya urusan pekerjaan" Minato menjelaskan sembari mengambil kari didalam mangkok besar dan menuangnya kedalam piringnya, Naruto mengangguk-angguk paham. Tumben kakak perempuannya itu tidak ada dirumah saat dia pulang dari café, biasanya Kyuubi yang berisik itu adalah orang pertama yang menyambutnya saat pulang. Pantas saja tadi sepi.

"Yasudah kita makan dulu, setelah itu kita lanjutkan obrolannya. Ayo Naru-chan makanlah, Ibu tahu kau pasti sudah kelaparan…" terka Kushina menyodorkan piring berisi nasi dan kari kearah putrinya, gadis pirang itu tersenyum lima jari kearah ibunya dan segera melahap makanannya.

Ditempat berbeda, Sasuke nampak memberhentikan mobil McLaren nya digarasi rumahnya yang begitu besar dan luas. Didalam garasi terdapat lima mobil sport berbeda merk yang semuanya merk terkenal, pemuda raven itu diam sejenak melonggarkan dasi merahnya dan menatap arlojinya. Tak lama dia segera keluar dari mobil membawa tas kerjanya dan mengunci mobil dengan alarm, pemuda itu berjalan menuju pintu rumahnya yang tinggi nya dua kali lipat tinggi Sasuke.

Saat ingin membuka pintu, pintu itu sudah duluan terbuka lebar menampakkan seorang pemuda berambut coklat dan mempunyai sepasang tatto merah dikedua pipi nya. Sasuke sekilas terkejut kenapa tiba-tiba sahabatnya Kiba berada didalam rumahnya larut malam begini, sedangkan pemuda itu hanya nyengir kuda.

"Yo, Sasuke…"

"Kiba? Kenapa kau bisa berada didalam rumahku?" tanya Sasuke sambil berjalan masuk melewati pemuda tatto itu, Kiba menutup pintu dan menguncinya. Dia menyusul langkah kaki sang sahabat. "Aku tadi bertemu dengan Yamato di gerbang depan, karena dia akan masuk untuk mengantarkan beberapa dokumen yasudah aku mengikutinya saja. Lagian kau sendirian kan dirumah? Jadi aku berbaik hati menemanimu malam ini" seru Kiba tertawa lebar, Sasuke yang tengah menggulung lengan kemejanya hanya menatap sahabatnya itu datar.

"Kau sendirian?"

"Tidak aku dengan Shikamaru dan Neji, sepertinya mereka tengah dikamarmu bermain PlayStation…" Kiba berdiri disamping kulkas memperhatikan tangan lincah Sasuke yang tengah bermain-main dengan minuman nya, sepertinya keahlian bertender milik Sasuke tidak pernah luntur. "Mereka tidak sadar umur…" sindir Sasuke masih sibuk meracik minuman.

"Yaa mereka memang seperti itu Sasuke, maklumi saja…"

"Hn" ucap Sasuke dengan kalimat tidak jelasnya seperti biasa. "Gaara tidak ikut kemari?"

"Dia mengatakan kalau malam ini dia ada sedikit urusan dengan klien nya dari Perusahaan Luar Negeri, jadi Gaara tidak bisa gabung bersama kita" jelas Kiba yang sedari tadi berdiri disamping kulkas kini berjalan dan duduk didepan meja bar memperhatikan Sasuke yang sedang menjadi bartender dadakan.

"Hn, aku mengerti"

Beberapa menit pemuda raven itu sudah selesai dengan aktivitasnya, dia membawa dua gelas cocktail ditangannya. Dia menyerahkan satu gelas kepada Kiba, pemuda tatto itu menyambutnya senang. "Hinata tidak mencarimu?" tanya Sasuke.

Kiba meneguk minumannya setengah gelas, dia menoleh kearah Sasuke yang duduk dimeja bar khusus didalam rumahnya sendiri.
"Dia sudah tahu kok kalau aku pergi kerumahmu, Neji juga sudah mengizinkannya…"

"Hn, baguslah"

Sasuke meneguk habis minumannya, dia mengelap sisa minuman yang meluber ke pinggir bibirnya. Pemuda raven itu beranjak meninggalkan Kiba yang asik sendiri dengan minumannya yang tinggal setengah, Sasuke menyambar tas kerjanya yang dia letakkan di kursi ruang tamu dan segera naik keatas kamarnya. Tak lama dia sampai didepan pintu kamarnya yang bercat hitam putih, Sasuke segera membuka pintu kamarnya dan benar saja ada Shikamaru dan juga Neji disana tengah duduk bersila didepan TV LCD 45inch miliknya. Sasuke menghela napas pelan, dia masuk kedalam kamar dan sengaja tak menutup kembali pintunya.

Nampaknya kedatangan Sasuke tadi sama sekali tidak menganggu aktivitas kedua sahabatnya, buktinya mereka berdua masih saja asik bermain video game Pro Evolution Soccer Playstation 4 yang Sasuke yakin kalau benda itu adalah milik Itachi yang dibawa kemari.
Pemuda raven itu mengacuhkannya, dia menaruh tas kerjanya diatas tempat tidur dan kembali keluar. Sasuke merogoh kantong celananya mengambil I-Phone 6 miliknya dan mencari kontak Yamato disana.

"Halo Pak Sasuke, ada apa?"

"Yamato aku punya tugas penting untukmu" perintah Sasuke dengan suara baritone.

"Ya, tugas apa pak?" tanya Yamato dari seberang.

"Ini tentang Café Namikaze…"

XXX

Sudah seminggu berlalu sejak Naruto menolak persyaratan yang cukup menyulitkannya, dan sekarang nampaknya gadis pirang itu terlihat lebih ceria dibanding sebelumnya. Dia terlihat tengah berdiri di meja kasir dengan mata sapphire berbinar dan senyuman merekah sempurna diwajah cantiknya menambah nilai tersendiri di diri Naruto Namikaze, seluruh pegawainya yang merasakan perubahan di diri sang atasan pun ikutan tersenyum terlebih Ino. Sepertinya sahabatnya itu terlihat lebih baik dari hari sebelumnya.

"Ada apa ya dengan raut wajah itu?" seru Ino tiba-tiba disamping Naruto, gadis pirang itu sontak terlonjak kaget melihat kedatangan tiba-tiba sang sahabat. "Kau mengagetkanku saja Ino"

"Gomen, jadi kenapa dengan raut wajah itu Naruto? Sepertinya kau sedang berbahagia?" goda Ino dan Naruto hanya tersenyum lebar menanggapinya.

"Yaa seperti yang kau lihat, aku berbahagia sekali karena CEO Uchiha yang kurang kerjaan itu tidak lagi datang-datang kemari dan menagih persyaratan anehnya. Itu benar-benar membahagiakan Ino…" seru Naruto dengan nada senang dan mata berbinar terang, Ino terkekeh melihatnya. Benar pendapatnya kalau sahabatnya itu memang sedang berbahagia, lihat saja wajahnya itu.

"Kau terlihat sangat membenci Sasuke-san sampai-sampai kau sesenang itu Naruto…"

"Tentu saja, siapa yang mau diberi syarat aneh seperti itu. Aku rasa hanya orang gila yang mau menerimanya" terka Naruto tertawa diikuti oleh Ino.

Tiba-tiba Sai datang kearah mereka dengan raut wajah serius, Naruto dan Ino yang melihat ekspresi diwajah Sai sontak berhenti tertawa.
"Naruto-san saya harus bicara dengan anda sekarang…"

"Ada apa memangnya Sai?" Naruto memasang wajah panik, Ino disebelahnya pun sama halnya.

"Saya tidak bisa mengatakannya disini, lebih baik kalau diruangan anda saja…"

"Baiklah kita kesana sekarang, Ino aku tinggal dulu ya" pamit Naruto kepada sahabatnya itu dan ditanggapi anggukan singkat, Naruto segera keruangannya dilantai atas diikuti Sasi dibelakangnya.

Mereka berdua sampai diambang pintu, Naruto segera membuka pintu ruangannya. Gadis pirang itu berjalan menuju kursi tempat biasa dirinya duduk, dia mempersilahkan Sai untuk duduk di sofa didepan meja kerjanya.

"Jadi ada hal penting apa Sai? Sampai-sampai kita harus membicarakannya disini?" tanya Naruto menatap serius Sai yang memasang wajah tegang, gadis pirang itu sendiri deg-degan ada apa sebenarnya, karena baru kali ini dia melihat raut wajah tegang dari Sai.

"Jadi begini Naruto-san, karena perjanjian kontrak dengan Uchiha Adv batal pihak kita perlu mencari perusahaan lain untuk menjadi mitra. Tapi semenjak tiga hari yang lalu—" Sai tidak melanjutkan kata-katanya, membuat Naruto semakin gelisah. Bulir keringat sebesar biji jagung turun perlahan dari pelipisnya, oh ini sangat merepotkan "Kenapa dengan tiga hari yang lalu Sai?" Naruto tidak sabaran.

"Semenjak tiga hari yang lalu, saya sudah mendapatkan 6 perusahaan yang bisa kita ajak untuk menjalin kontrak. Tapi entah mengapa mereka tiba-tiba membatalkan ajakan itu tanpa alasan yang jelas, kalau hanya satu dua perusahaan saya tidak heran. Tapi ini semuanya dan dalam waktu bersamaan Naruto-san…" beber Sai dengan sangat ringkas, jelas dan padat. Naruto diam sejenak mencerna penjelasan Sai barusan, gadis pirang itu nampak memijit keningnya pusing. Padahal baru beberapa menit yang lalu dia tengah bergembira, dan sekarang ada saja hal-hal yang membuatnya harus gila sendiri.

"Kapan mereka membatalkan ajakannya Sai?"

"Tadi pagi, tepat pukul 05.00 Naruto-san…" seru Sai.

Gadis pirang itu menghela napas berat, dia menggigiti bibir bagian bawahnya. Memegangi kepalanya dan menunduk menatap meja kerjanya lurus, Sai yang melihat kegelisahan di diri atasannya hanya bisa diam. Dia sendiri juga tengah kebingungan.
"Kenapa kita tidak mencari perusahaan lain nya selain dari keenam perusahaan tadi?"

"Saya juga sudah melakukannya Naruto-san, tapi belum sempat saya mengutarakan keinginan pihak mereka sudah menolaknya terlebih dahulu…"

Naruto semakin pusing sendiri, ada apa ini sebenarnya. Dia bangkit dari duduknya, menatap sejenak jendela ruangannya yang mengarah lurus kejalanan depan café. Gadis pirang itu berjalan bolak-balik sembari berpikir sesuatu, Sai yang sudah pusing pun hanya bisa duduk diam dikursinya dan menunduk. Naruto mengacak rambutnya frustasi, tiba-tiba sesuatu terlintas saja didalam pikirannya.

"Baiklah aku hargai jawaban mu Naruto, tapi karena kau sudah menolak tawaran ku. Bisa kupastikan kalau tidak akan ada satupun perusahaan yang mau menjadi mitra mu, dan café ini hanya tinggal nama"

Ucapan yang dilontarkan oleh CEO Uchiha Adv tepat seminggu yang lalu itu kembali terngiang sempurna ditelinga Naruto, gadis pirang itu terdiam sejenak. Mata sapphirenya tiba-tiba membulat sempurna, jangan-jangan kejadian ini karena ulah si Sasuke Uchiha. Naruto semakin kesal membayangkan ancaman yang dikatakan pemuda itu bahwa dia akan benar-benar melakukannya, dan sekarang dia harus bagaimana?

"Naruto-san?"

Naruto menoleh kearah Sai yang memandangnya khawatir, gadis pirang itu menghela napas pelan. Dia kembali ketempat duduknya dan memandang lurus Sai.
"Aku sudah tahu penyebab semua ini…"

"Anda serius?" tanya Sai tak percaya.

"Tentu saja, sekarang berikan aku nomer telfon Sasuke Uchiha"

Sai tiba-tiba mengkerutkan keningnya, tak mengerti kenapa tiba-tiba atasannya itu meminta no telefon seorang Sasuke Uchiha. Bukankah gadis itu sendiri yang menolak tawaran sang CEO muda itu, Naruto memutar bola matanya terlalu lama melihat reaksi lamban Sai.

"Untuk apa Naruto-san? Bukankah anda sendiri yang menolak perjanjian itu, jangan-jangan anda ingin menjalin kontrak kembali?" tebak Sai dengan wajah sedikit kaget, Naruto diam sejenak dan bersandar di punggung kursi sambil mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja kerja. "Ya mau bagaimana lagi Sai, buktinya saat aku menolak tawarannya dia mengacamku…"

"Mengancam?!"

"Ya mengancam karena aku menolak persyaratannya, dia bilang bahwa tidak akan ada satupun perusahaan yang mau menjadi mitra mu dan café ini tinggal nama. Aku kira dia hanya besar omong, tapi ternyata si teme itu memang mewujudkannya…sialan!" Naruto geram sendiri membayangkan wajah pemuda raven itu yang tengah menyeringai menang padanya, cih seandainya saja dari awal café miliknya tidak mengajak kerjasama dengan Perusahaan si pantat ayam itu. Semua pasti akan baik-baik saja, ya seprti itulah pikiran yang berkecamuk dalam diri Naruto saat ini.

"Wah, sepertinya Sasuke-san tidak akan melepaskan mu begitu saja. Lihat saja dia benar-benar mengabulkan ucapannya…" Sai yang sedari tadi memasang wajah cemas dan bingung kini malah tersenyum seperti biasanya, Naruto yang tadi kesal sekarang semakin kesal melihat raut wajah Sai yang nampak membela pemuda raven itu. "Jadi kau membela si teme-pantat-ayam itu daripada atasanmu sendiri?"

Sai hanya bisa tersenyum, ya memang beginilah jadinya kalau memancing seorang perempuan yang tengah kesal.
"Tidak saya hanya kagum saja Naruto-san, saya sudah mengirim kontak Sasuke-san ke nomor anda. Kalau begitu saya permisi, selamat berjuang ya…"

Sai segera pergi dari sana sebelum dirinya yang menjadi korban, sedangkan Naruto hanya uring-uringan didalam ruangannya sendiri. Memaki-maki seorang Sasuke Uchiha yang sudah membuat hidupnya begitu merepotkan, dan lihat saja bagaimana raut wajah Naruto sekarang. Gadis itu melipat tangannya didepan dada memandang lurus dengan ekspresi emosi, mau bagaimanapun Naruto memasang ekspresi kesalnya tetap saja keimutan gadis itu tidak pernah hilang.

Naruto meraih smartphonenya, mencari kontak Jugo dan segera memanggilnya.
"Jugo?!"

"Ya Naruto-san, ada apa?"

"Siapkan mobil sekarang, aku ingin kau mengantarkanku kesuatu tempat…aku akan turun beberapa menit lagi"

"Baik, akan saya siapkan sekarang juga"

Dan disinilah sekarang Naruto didalam mobilnya sendiri dengan Jugo yang menyetir, gadis pirang itu duduk dikursi belakang sambil melemparkan pandangannya keluar. Pikirannya melayang entah kemana-mana, dan yang lebih membingungkannya lagi kenapa dia harus datang kerumah Sasuke Uchiha? Dia sudah gila ya? Naruto mengacak surai pirangnya frustasi pada dirinya sendiri merutuk bagaimana bodohnya dia harus datang kerumah si pantat ayam itu, Jugo yang mengamati tingkah laku atasannya itu hanya bisa menggelengkan kepala.

Beberapa menit berlalu dan mobil sedan hitam itu berhenti didepan sebuah gerbang yang begitu luas dan tinggi, didepannya ada pos satpam yang menyambut kedatangan mereka.

"Selamat siang, ada perlu apa dengan Keluarga Uchiha?" sapa satpam itu sopan sembari melongok kedalam jendela mobil, Naruto hanya acuh saja lagian kan ada Jugo yang akan menjaawabnya.

"Kami dari salah satu mitra kerja Sasuke-san, apakah beliau ada dirumah"

"Sudah membuat janji dengan tuan Sasuke?"

"Iya sudah" ucap Naruto tiba-tiba sambil memasang wajah cuek, padahal dia dating kesini tanpa sepengetahuan sang pemilik rumah. Ah masa bodo, dia ingin cepat-cepat ingin meninju wajah tembok seorang Sasuke Uchiha itu, sang satpam terdiam sejenak dan akhirnya tersenyum simpul.

"Baiklah Tuan Sasuke ada didalam silahkan masuk…" jelas sang satpam, Jugo segera mengucapkan terimakasih dan membawa mobil sedan itu masuk kedalam pekarangan rumah Keluarga Uchiha, Naruto yang memandangi rumah itu beserta dengan isinya berdecak kagum didalam hati melihat betapa luas dan besarnya rumah itu. Atau mungkin bukan disebut sebagai rumah lagi melainkan istana.

Taman bunga yang begitu indah dengan kolam ikan yang luas disebelah utara, menambah kesan teduh dan menakjubkan istana Uchiha itu. Garasi mobil yang besar dan memajang dibagian selatan tempat dia akan menuju kesana nampak lima mobil berjejer dengan dilapisi penutup khusus mobil, Naruto berbinar-binar menyaksikannya betapa mewah dan kaya nya keluarga Uchiha itu. Ya meskipun rumahnya juga besar tapi dia bahkan hanya memiliki dua mobil.

"Naruto-san kita sudah sampai…"

Naruto tersadar dari kekagumannya, dia menoleh kesekeliling. Jugo keluar duluan, memutari mobil dan membukakan pintu mobil untuk gadis pirang itu. Naruto keluar perlahan dari dalam mobil, menatap sekelilingnya. Jugo menutup kembali pintu belakang.
Gadis pirang itu teringat sesuatu, dia meraih smartphone didalam saku mantelnya. Segera mencari kontak Sasuke yang dikirim Sai tadi, sambungan telefon terdengar dan Naruto nampak memasang wajah tegang.

"Halo?" ucap suara baritone dari seberang, Naruto diam sejenak tidak berani menjawabnya. Sial, kenapa dia harus gugup disaat seperti ini mendengar suara menyebalkan itu?

"Halo?" ucap Sasuke dengan nada satu oktaf lebih tinggu, Naruto menarik napasnya.

"Sasuke-san, ini saya Naruto Namikaze. Saya ingin bertemu dengan anda sekarang juga…"

Sasuke yang berbaring tadi dengan mata setengah tertutup sontak membuka matanya mendengar siapa seseorang yang sedang menelfonnya itu, setengah tak percaya.
"Oh kau ya, ada perlu apa Naruto?"

"Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan anda" seru Naruto.

"Baiklah, aku akan menemuimu nan—"

"Tidak usah, aku sudah didepan rumahmu sekarang" potong Naruto sebelum Sasuke meneruskan ucapannya.

Pemuda raven itu setengah terkejut mendengar ucapan Naruto bahwa gadis itu sudah berada didepan rumahnya, yang benar saja bahkan dia sampai tidak berpikiran sampai kearah sana. Sasuke mengucek matanya dan bangkit berdiri berjalan menuju jendela kamarnya yang mengarah kepekarangan rumah Uchiha, dan benar saja gadis dengan rambut pirang digerai tengah berdiri disana. Sasuke menyeringai lebar dengan penuh makna, matanya masih menatap lurus objek itu.

"Baiklah, aku akan kesana dobe~"

.

.

.

TBC

A/N : haloo, Hiko balik menuntaskan chapter dua. Ehm sebenarnya niatnya untuk update fic ini setelah dua fic Hiko selesai, tapi entah kenapa ide di fic ini begitu deras berjalan (?) jadi dengan semangat 45 Hiko ngelanjutin chapter duanya *nyengir kuda*

Baiklah ngga ada pesan khusus lagi dri Hiko, hanya saja readers sepertinya banyak menebak tunangan Gaara itu Naru :D hehehe kalau itu masih rahasia, gomen *plakk
Jawabannya akan terlihat saat cerita mencapai klimaks nanti…baiklah terimaksih untuk para pembaca yg sudah meluangkan waktunya mereview dan membaca fic abal Hiko arigatou gozaimasu minna. Hiko juga sudah membaca semua review kalian semua meskipun engga sempat Hiko balas tapi Hiko sudah sangat termotivasi membacanya

Mohon maaf kalau di chapter ini terkesan aneh, tidak jelas dan jelek, seterusnya akan Hiko perbaiki, akhir kalimat mohon review minna. Satu review kalian sangat berarti untuk author, sankyuu~
Sampai jumpa lagi next chapter, Jaa-ne