.
.
SEMENJAK ADA DIRIMU
A Naruto Fanfic by Naara Azuya
Disclaimer : Masashi Kishimoto
—A Multichapter—
.
.
Bolt membantu mamanya merapikan semua pakaian ke dalam tas jinjing besar. Dia dan Hanabi sudah menemani Hinata menginap di rumah sakit—menggantikan Naruto yang bersikeras menyelesaikan semua pekerjaannya agar selanjutnya bisa mengambil cuti seminggu. Bolt tentu lebih memilih untuk tidur bersama mamanya di ruangan harum yang hangat itu dibanding menginap di kediaman Hyuuga.
Himawari sebelumnya masih harus menginap selama dua malam di rumah sakit untuk mengontrol keadaannya. Hinata juga dinilai masih harus menetap di rumah sakit karena dokternya menilai keadaan Hinata yang belum pulih benar—ingatlah kepada daya tahan tubuh Hinata yang pada dasarnya lemah—walau Naruto sekian kali dengan keras kepala berkata bahwa wanitanya itu seorang jounin yang bahkan selamat dari Perang Besar Shinobi sebelumnya dan mampu bertarung di bulan.
Tapi, siapa yang akan menang melawan seorang dokter bernama Haruno Sakura yang sudah mengambil marga Uchiha dalam adu mulut bertopik medis? Hanya shinobi medis berpengalaman yang bisa. Maka, jangan tanya jika Naruto yang melakukannya.
POFF!
"Sudah selesai, minna?" Nanadaime Hokage muncul di tengah ruangan, menyingkirkan kepulan asap putih yang menyelubunginya. Pemilik Kurama itu menatap istrinya yang membantu bocah kecil berambut mengembang yang menyusun sekian tas.
"Ne, akan lebih cepat lagi kalau kau ikut membantu, onii-sama." Sahut Hanabi yang sibuk menggendong Himawari. "Kau sendiri sudah selesai, onii-sama?"
"Ya, kurang lebih. Masih ada beberapa hal kecil yang harus diurus." Naruto tersenyum, lalu menatap Bolt. "Ah, tadi Shikadai menjemput ayahnya di ruangan papa. Dia bertanya tentang keadaanmu, Bolt. Dia juga membawa kotak bekal dan sandalmu. Ne, kau melupakannya di rumah Kiba-ojichan ya?"
"Sungguh?" Bolt menutup resleting tas ranselnya sambil mengangguk semangat. "Wah, meleka lindu padaku ya, papa?"
"Tentu saja, Bolt-kun." Hanabi mengacak rambut keponakan pertamanya itu. "Jika Himawari-chan sudah bugar, kita akan mengundang teman-temanmu ke rumah. Benar kan, onee-sama?" Bolt menatap mamanya penuh harap. Itu akan sangat menyenangkan!
"Benalkah, mama?"
Hinata tersenyum, mengangguk. "Iya, sayang. Orang tua mereka juga."
"Ojii-sama juga? Konohamalu-san?"
"Tentu, Bolt. Juga Shukaku-chan, Matatabi-chan, Isobu-chan, Son Goku-chan, Kokuou-chan, Saiken-chan, Chumei-chan, Gyuuki-chan dan Bee-san, dan juga, uhm..." Naruto menatap delapan jari yang teracung di depan wajahnya. Dia menautkan alis, lalu kembali merapalkan tujuh nama pertama. "Sepertinya papa melupakan satu...ehm...siapa yang terakhir?"
Hanabi memutar bola matanya malas. Entah kakak iparnya itu sedang bergurau atau sekedar memancing atensi Bolt. Hinata tertawa kecil melihat Bolt yang ikut menghitung para bijuu yang rencananya akan masuk daftar tamu undangan.
"Ah! Aku ingat, papa!" Bolt mengacungkan jari telunjuknya ke arah Naruto yang menatap anaknya dengan mata berbinar.
"Benarkah, Bolt? Siapa yang terakhir itu?"
Bolt tertawa sambil melompat dan memeluk perut Naruto. "Kulama-chan!"
Naruto berseru sambil menepuk keningnya yang dijatuhi rambut kuning pendek. "Luar biasa, Bolt!" Pria itu mengacak rambut Bolt, membuat anak itu tertawa-tawa. "Hebat sekali!"
"Himawari-chan juga nanti akan sehebat Bolt-niichan, kan?" Hanabi mengayunkan lengannya yang membopong tubuh Himawari. Naruto menaikkan alis sambil melepaskan tangan Bolt yang melingkari perutnya. Dia mendekati Hanabi, lalu mengelus pipi Himawari yang tertidur.
"Himawari bahkan akan lebih hebat dari papanya!" ujar kepala klan Uzumaki itu. Senyum lebar di wajahnya berbanding terbalik dengan raut putra sulungnya yang sedikit tertekuk.
Bolt menatap punggung papanya bingung. Matanya semakin membulat dan alisnya bertaut saat mamanya ikut tertawa, menghampiri bayi itu.
Dia tidak pernah dibandingkan dengan orang lain sebelumnya. Pujian dan perhatian papanya selalu ditujukan untuk dirinya. Tapi sekarang, Bolt sangat bingung dan cenderung kecewa—hingga dia bahkan tidak berlari menyongsong papanya untuk berseru cerewet dan menarik pakaian pria itu. Matanya bergulir, memberi tatapan pada bayi kecil yang kini sudah berada di pelukan papanya, mendapat ciuman sayang dari papanya.
Pelukan, perhatian, dan ciuman itu hanya miliknya, sepanjang pengetahuannya. Dan seorang akachan yang membuatnya menjadi aniki itu merebut semuanya dengan cepat.
Hanabi tak sengaja melihat mata sendu keponakan yang wajahnya terlipat masam itu. Hyuuga bungsu itu mengikuti arah pandang Bolt, menautkan alis.
"Jangan-jangan..."
.
.
.
"Cantik sekali kan, Inojin-kun?" Ino mendekati ranjang ayun Himawari. Putranya menyisipkan kepala di sebelah leher Ino, menggangguk.
"Dia punya pipi yang sama dengan Bolt, mama. Tapi mungkin nanti akan lebih milip Hinata-obasan." Bocah itu menyentuh pucuk hidung Himawari. "Aaa, dia lebih imut dali Bolt."
Ino terkikik saat Bolt yang lewat di dekat ranjang Himawari memonyongkan bibirnya. "Kau juga tidak lebih imut daliku, Inojin." Sungutnya.
Kediaman Uzumaki sedang ramai. Anak tercantik Nanadaime Hokage kini menginjak umur dua minggu.
Teman-teman seperjuangan Naruto dan Hinata datang berombongan, menjenguk bayi manis itu. Di malam yang teduh, para lelaki memilih untuk bersepi-sepi di beranda, ditemani papan dan bidak-bidak shogi dan lima botol sake non-alkohol—mengingat keberadaan Rock Lee di antara mereka. Jangan bertanya tentang para wanita jika kau mendengar tawa bising bervolume rendah—mengerti maksudku?—di ruang keluarga. Tidak terlupakan juga tawa renyah anak-anak yang menguasai lantai dua.
"Wah, Bolt! Yang lain mana?" Inojin meninggalkan ibunya, mendekati Bolt tanpa rasa bersalah. Ino mengecup pucuk kepala putranya, lalu bergabung dengan wanita lain yang bersimpuh di atas karpet.
Bolt mengarahkan ibu jari ke tangga. "Naik saja, ada Shika, Chou, dan Milai-neechan." Bocah itu lalu meninggalkan kawannya yang masih berpikir, berdiri dengan jarak dua jengkal dari ranjang ayun Himawari.
"Ne, kau mau ke mana? Kalau Salada-chan? Tadi kulihat Sasuke-ojichan di kolidol." Inojin setengah berteriak pada Bolt yang sudah melangkah ke dapur—membuat desisan pelan dan tatapan tajam ke arah putra Sai itu menyeruak dari ibu-ibu yang duduk melingkar di atas karpet. Kasihan Inojin, Yamanaka Ino adalah wanita yang paling kencang desisannya. Pemilik mata cerah itu menutup mulut dengan satu tangan, menggeser tubuh hingga punggungnya menempel di anak tangga.
"Kau terlalu ribut, Inojin-kun." Mirai berjalan dari dapur ke arah tangga dengan diikuti Sarada. Siswi tahun pertama akademi itu membawa nampan dengan piring-piring plastik berisi pudding karamel di atasnya. Sarada yang susah payah mengangkat kaleng biskuit dengan kacamata yang terlihat akan merosot dari tulang hidung, menoleh pada Inojin.
"Ino-kun, Bolt bilang kau mencaliku. Benal?" alisnya tertarik ke atas. Inojin mengangguk pelan. Sarada meletakkan bawaannya ke lantai saat Mirai sudah mendaki ke atas. "Telnyata benal. Kenapa?"
Inojin mengangkat bahunya. Dengan berbisik, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Sarada. "Tidak juga. Aku kila kau tidak ikut ke sini, Sala-chan."
Sarada menautkan alis saat ujung hidungnya dengan ujung hidung Inojin nyaris bersentuhan. "Ne, kau telalu dekat, Ino-kun." Uchiha itu mendorong wajah Inojin dan membuat kaki bocah itu menabrak ranjang ayun Himawari. Bolt menghampiri mereka, berjalan dengan tangan memegang toples keripik kentang yang separuh kosong melalui ranjang Himawari.
Ranjang itu berayun, Himawari membuka mata.
"Oi, kenapa belum ke atas?" seru Bolt. Inojin dan Sarada menoleh pada Bolt, melebarkan mata dan mendekatkan telunjuk ke mulut. Mendesis.
Himawari mengerutkan alis.
Bolt menatap mereka dengan kepala dimiringkan. Suara ranjang yang berayun sedikit mendecit, membuat para wanita menolehkan kepala mereka. Menyadari hal tidak menyenangkan yang akan terjadi saat tubuh Bolt berjalan limbung dengan beban di tangan melewati ranjang ayun, Sarada mengangkat kembali kalengnya dengan bantuan dua tangan Inojin. Bergerak cepat, mereka menyeret kaleng itu di anak tangga. Suara yang ditimbulkan sangat tidak menyenangkan.
Desisan lain terdengar, Himawari mengerutkan bibirnya.
Tubuh Bolt bersinggungan dengan ranjang yang masih berayun. Guncangan terjadi, Himawari menggerakkan tubuhnya. Dia menarik napas sedikit-sedikit, mengeluarkan suara terisak yang cukup kentara.
Bolt mendengar itu. Dia bergegas, menyusul kedua temannya yang sudah menyelesaikan setengah anak tangga. Kaki-kaki kecilnya memanjat, tangannya memeluk toples yang isinya terkocok-kocok dengan suara seperti maracas. Anak itu semakin panik, berusaha menjaga agar toplesnya tidak bersuara.
"Inojin, Salada! Tunggu'ttebasa!"
Hinata menolehkan kepalanya dengan mata melirik cepat. Dari ranjang Himawari yang berayun lalu menuju Bolt yang mendaki tangga. Wanita lain mengikuti arah matanya, terkejut saat melihat kaki Bolt yang salah langkah. Sarada dan Inojin berhenti menyeret kaleng, mengawasi dari atas.
"Ale!" Bolt merasakan tubuhnya tidak seimbang. Satu tangan berusaha menggapai pegangan tangga, satunya memeluk toples. Ujung jarinya menyentuh pegangan tangga saat tubuhnya tertarik gravitasi. Bolt merasakan toples itu melompat dari pegangannya. Kedua tangan Bolt mengulur ke depan, mencari pegangan lain dan berusaha meraih toples.
Uchiha menutup mulut dengan tangan, Yamanaka membulatkan mata.
"GYAAA!"
"Bolt-kun!"
Hinata berdiri, melompat dari karpet. Tangannya menculik Bolt ke dalam pelukan, menumbukkan punggung bocah itu dengan perutnya. Bolt memejamkan mata, Hinata meringis. Punggung wanita itu membentur lantai kayu.
BRUK
PYAR
Toples itu terjun bebas, pecah dan memuntahkan isinya dengan heboh setelah berguncang dengan suara maracas yang bising. Lengan Hinata yang melingkari Bolt menjadi sasaran kepingan keripik kentang itu. Beberapa menyusup ke wajah Bolt yang sudah terisak.
"Mama...Mama..."
Hinata merasakan Bolt memutar tubuh, memeluknya erat. Jujur saja, itu terasa menyakitkan dengan punggungnya yang terasa sedikit remuk. Dengan senyum lembut, dia mengelus punggung Bolt dan mencium kepalanya. "Daijobu,Bolt. Daijobu." Langkah kaki dari beranda dan lantai dua memenuhi telinga Hinata.
"Hinata-chan!"
"Hinata!"
"Onee-sama!"
"Oba-chan!"
"UWAA!"
Mendengar tangisan itu, Hinata berdiri dengan Bolt di gendongannya. Tubuhnya bergetar dengan telapak tangan teracung yang memberi tahu, "Jangan mendekat.". Saat mendekati ranjang ayun, dia menurunkan Bolt lalu meraih tubuh Himawari yang meronta.
Hanabi meraih Bolt yang limbung, hendak kehilangan kesadarannya. Mata biru bocah itu mengabur saat tubuhnya terlepas dari tubuh mamanya. Potret terakhir yang didapatnya adalah tubuh mamanya yang dipeluk papanya dari belakang. Mereka berdua berusaha menenangkan Himawari.
Alis Bolt bertaut, bibirnya bergetar. Saat dia merasa sangat ingin terlelap, dia sempat melihat mata ungu kelabu Hanabi yang tangan bibinya itu memeluk tubuhnya erat.
.
.
.
Bolt berdiri di ruangan gelap. Kakinya seperti tertanam di lantai yang terbuat dari kapas. Anak itu mengusap wajahnya berulang kali saat melihat sebuah kotak bekal berbentuk katak melompat ke arahnya. Bolt bisa mendengar suara halus saat kotak itu membuka tutupnya, menampilkan sushi bento yang ditata membentuk wajahnya.
"Ne, ini bentomu, Bolt. Habiskan, ya."
Bolt mengangguk. "Tentu, mama!" seru anak itu riang sambil berusaha meraih kotak itu. Namun tangannya seperti memendek, dan tubuhnya memberat hingga tenggelam ke dalam timbunan kapas-kapas. Bolt berusaha bernapas dan mengeluarkan dirinya. Saat kepala berambut kuning cerah itu melewati kapas-kapas, yang bisa ditangkap mata birunya adalah kotak bento yang sama, menariknya keluar.
Bolt merasa seringan bulu, tubuhnya terhempas ke atas kapas-kapas itu. Senyumnya terlengkung saat kotak bekal itu membuka tutupnya. Dahi Bolt berkerut mendengar suara-suara aneh saat itu, diikuti bau yang tidak menyenangkan dan tekstur keras dan lengket yang terbentuk di kapas-kapas di bawahnya.
"Demi Tuhan, Bolt! Yakisoba apa ini? Sini, biar ojii-chan buatkan yang baru."
"Gyoza ini sepeltinya sedikit aneh. Ne, kau makan saja bekalku."
"Lumayan. Walau sedikit lengket di sini."
"Uhm. Lima dari sepuluh."
Bolt membulatkan mata saat kotak bekal itu terbuka. Yakisoba bengkak, gyoza aneh, onigiri lengket, dan okonomiyaki berantakan. Bolt menarik kakinya, berusaha lari. Kapas-kapas itu seperti memeluk kakinya, dan kotak bekal katak itu semakin dekat dengannya.
"UWAA! MAMA!"
.
.
.
"UWAA! MAMA!"
Bolt tersentak, mengangkat punggung dengan tiba-tiba. Hanabi yang duduk di sebelahnya mengusap kain basah yang menempel di dahi Bolt. Sarada, Inojin, Mirai, Shikadai, dan Chouchou yang sejak tadi sibuk berbincang, segera menoleh.
"Sudah sadal, ya?" Inojin berdiri, mendekati Bolt. "Ale? Kau belkelingat, Bolt-kun. Sepelti habis dikejal-kejal." Anak-anak lain ikut mengerubungi Bolt. Mirai menyentuh lengan Bolt dengan punggung tangannya. "Mimpi buruk, Bolt-kun?"
Bolt mengangguk tanpa melihat mata Mirai. Dia segera menoleh pada Hanabi yang mengusap kepalanya. "Oba-sama, mama di mana?"
"Hinata-obasan ada di kamalnya. Dia baik-baik saja kalna mama cepat melawatnya." Sarada angkat bicara. Bolt menghembuskan napas lega walau merasa kesal dengan Sarada yang lekas sekali jika topik perbincangan seputar kehebatan keluarganya.
"Ne, Salada-chan selalu menghebatkan mama dan papanya. Menjengkelkan, tau!" Chouchou melirik Sarada cepat. Yang dilirik membuang muka sambil mengangkat kedua bahunya. Bolt tersenyum tipis.
"Chouchou mewakiliku dengan baik'ttebasa." Batinnya sambil melirik Sarada. "Ne, kalau papa ada di mana, oba-sama?"
Hanabi menatap Bolt sambil mengusap wajah bocah itu.
"Menjaga Hima-chan. Kalna Hinata-obachan sakit, Hokage-sama halus menjaga Hima-chan." Shikada angkat bicara. Bolt menatap Shikadai lurus. Dia menggigit bibir, memejamkan mata.
"Ih, masih saja."
Hanabi mendapati perubahan wajah keponakannya, cepat mengalihkan pembicaraan. Dalam hati, dia tidak meragukan lagi hipotesanya. "Kau bermimpi apa, Bolt-kun?"
"Ano," Bolt menautkan alisnya. "Kotak bentoku mengejarku. Isinya bento buatan papa, jadi mengelikan sekali, oba-sama." Ujarnya lirih. Kelima teman sebayanya berseru ngeri, Mirai mengerutkan kening. Hanabi tersenyum pelan.
"Kalau begitu, sementara ini oba-sama saja yang membuatkan bento,ya?" Hanabi menatap Bolt. Bocah itu baru akan bertanya ketika dia buru-buru melanjutkan, "Mama masih kurang sehat."
"Tapi kalau mama sudah sehat, dia akan membuat bento untukku lagi kan, oba-sama?"
"Ne, Hinata-obasan kan halus menjaga Hima-chan?" entah siapa yang mengatakan itu. Bolt melipat bibir dengan wajah masam. Hanabi tertawa kecil, menepuk-nepuk pipi keponakannya.
Dalam hati, Bolt melihat bayangan sushi bento yang melambaikan tangan padanya.
.
.
