SUDAH DI REVISI ULANG
Seoul, korea selatan, 9 oktober 2016.
Malam itu adalah saksi seorang Park Jimin, saksi sebagaimana ia berjanji untuk selalu menjaga Yoongi-nya dengan ketulusan rasa kasih sayang yang melimpah, rasa cinta yang melimpah. Tidak akan ada lagi wajah sedih yang ingin dilihatnya dari wajah kekasihnya itu. Dulu ia memang hanya sekedar menyukai pria mungil itu dan tidak terlalu peduli dengan masalah yang menimpanya, tetapi setelah melihat kejadian yang menimpa dirinya dengan adikknya dahulu membuat Jimin sangat ingin melindungi Yoongi, melihatnya terpuruk dari masa lalu adalah hal yang terburuk bagi Jimin.
Ia ingin menjadi kekasih Yoongi bukan semata-mata hanya ingin menghiburnya dari masa kelamnya itu, tetapi ia ingin menjadi seseorang yang selalu berada disampingnya, selalu menyayanginya dan mencintainya. Percobaan pertama saat Jimin ingin mendekati pria itu adalah penolakan mentah-mentah darinya, saat itu Jimin masih duduk dibangku kelas satu senior high school. Berbagai cara sudah dilakukannya agar Yoongi menerima keberadaannya di sekitarnya, tetapi memang dasarnya keras kepala, ya mau sampai kapanpun Jimin tidak akan menyerah begitu saja terhadap penolakan Yoongi.
Dan tada, hasilnya sangat memuaskan meskipun dirinya diterima menjadi kekasih Yoongi setelah perjuanganya selama bertahun-tahun berhasil. yeah, setidaknya perjuanggannya terbayar karena tahun ini adalah tahun ke empat mereka menjadi sepasang kekasih, cukup lama bukan ? Tidak ingin ke jenjang yang lebih serius ? Belum saatnya, itu adalah perkataan Yoongi untuk Jimin.
Jimin juga tidak ingin terburu-buru untuk merubah statusnya bersama Yoongi menjadi suami dan istri ? haha... what ? istri ? Yoongi tidak akan suka panggilan itu. secara halusnya ia lebih memilih di panggil uke dibandingkan istri kelak saat ia sudah menikah, meskipun ia masih tetap tidak menyukai panggilan uke tersebut tetapi mau bagaimana lagi kan ?
Yoongi, uke itu memang sudah takdirnya statusmu, bukan panggilan. Aduh, ada-ada saja ya Yoongi.
"Hoii hyung!!" Teriak Heoseok heboh.
"Ck..apa sih ? Tidak perlu berteriak, suaramu itu cempreng tahu."
"Heh ? Suaramu yang cempreng Yoongi hyu- aww yak! Hyung, sakit." Hoseok mengaduh setelah mendapat cubitan keras di perutnya.
"Berani berkata seperti itu lagi ? Aku pastikan besok kuburanmu sudah tersedia lengkap dengan batu nisannya."
"Oke, oke aku menyerah. Tapi, memangnya kau tega melakukan itu pada sepupu jauhmu ini ?" Goda Hoseok pada Yoongi.
"Aku ? Tega padamu ? Haha..tentu saja, untuk apa tak tega dengan sepupu seperti cacing kepanasan." Setelah berucap pedas seperti itu Yoongi meninggalkan Hosoek yang cemberut tidak terima.
"Huh, untuk keluarga. Kalau tidak sudah aku cincang kau hyung, ehh?? Tapi sayang, tidak ada yang imut dan semanis dia lagi..haha.. Hoseok kau ini bicara apa sih ?" Hoseok tertawa karena pikiran bodohnya.
"Oppa!! Darimana saja kau hah ? Kenapa baru muncul hari ini, kemarin kau kemana ? Sialan kau meninggalkan aku sendirian dengan tugas itu. Seharusnyakan kau yang mengurusnya." Seorang yeoja cantik memekik kesal sesaat setelah melihat Yoongi memasuki ruang kelas untuk mata kuliah pagi ini, seisi kelas terkejut mendengat teriakannya. Yoongi saja sampai terlonjak dari posisinya saking terkejutnya.
"Astaga Park Yeongsun, bisa tidak bicaranya pelan-pelan. Bisa mati muda aku karena kaget mendengar suara melengkingmu itu." Gerutu Yoongi, ia kemudian menuju bangku yang masih kosong.
Yeongsun menghampiri Yoongi kemudian duduk disebelah lelaki imut itu.
"Tapi oppa, kau lari dari tanggung jawabmu sebagai ketua senat. Seharusnyakan event kemarin kau yang mengontrolnya, kenapa malah jadi aku yang kena marah ? Mentang-mentang aku wakil ketua." Yeoja itu cemberut dengan melipat kedua tangan didepan dadanya.
"Jangan-jangan kau pergi kencan ya dengan Jimin ? kemarin juga anak itu tidak muncul sama sekali. Ayo jawab dengan jujur padaku sekarang!" Sambung Yeongsun.
"Eiihh, jangan sok tahu bocah, siapa yang bilang aku berkencan dengannya ? Aku pulang ke apartemenku karena suntuk dan yah, seperti biasa ada sedikit masalah dengan kepalaku ini. Meskipun ujung-ujungnya bertemu juga dengan bocah itu." Terang Yoongi.
"Oh, begitu. Tapi tetap saja kau lari dari tugasmu. Hari ini kau harus menyelesaikan laporan eventnya, tidak ada tapi-tapian. Pokoknya harus selesai hari ini, bahan laporan sudah aku letakkan dimejamu diruang senat. Sudah tidak ikut rapat evaluasi, jangan harap bisa pulang sebelum laporan selesai. Dan kalau sudah selesai, besok serahkan padaku ya oppa, biar aku yang berikan kepada dosen seni kita." Dengan tampang polosnya Yeongsun segera beranjak dari duduknya setelah mencubit gemas pipi kenyal Yoongi.
"Shit! Kalau tahu begini, kemarin lebih baik tidur di kampus daripada harus mengerjakan laporan sialan itu...haaah.. berarti hari ini tidak pulang ke apartemen ? Baiklah, tidak apa karena ini adalah tugas apa boleh buat." Yoongi mengedikkan bahu santai. Beberapa menit kemudian dosen mata kuliah mereka pagi ini datang, kelas pagi itupun dimulai.
Baru saja Yoongi memasuki ruang rapat senat, ia sudah dibuat tercengang. Pasalnya melihat tumpukkan dokumen yang sepertinya bahan untuk laporan yang dibicarakan oleh Park yeongsun tadi saat jam mata kuliah pagi belum dimulai.
Yoongi mendudukkan tubuh letihnya di kursi yang memang tersedia di sana. Ia memijit pangkal hidungnya karena merasa sedikit sakit diarea tersebut.
"Sialan bocah satu itu, kalau tahu sebanyak ini aku tidak akan menyetujuinya. Ini terlalu banyak... haishh... seharusnya setengahnya dia yang mengerjakan." Keluh Yoongi.
"Tidak bisa dibiarkan, aku harus menghubungi bocah itu, jika dia menolak aku tidak akan segan mengeluarkannya dari keanggotaan senat, wakil bukannya membantu bekerja sama dengan ketua." Sambung Yoongi. Ia kemudian merogoh saku depan celananya mengambil ponsel miliknya. Kemudian ia mencari kontak Park Yeongsun dan segera meneleponnya.
"Yeoboseyo ?"
"Yak!! Park Yeongsun!! Kau gila atau bagaimana hah ? Dokumen bahan laporannya sebanyak itu ?" Sembur Yoongi setelah sambungan telepon tersambung.
"Oppa, pelankan suaramu! Astaga telingaku sakit mendengar kau berteriak seperti itu" ujar Yeongsun, Yoongi mendengus mendengar tanggapan yang di terimanya, 'sialan bocah ini malah mengatai suaraku begitu ?' Umpat Yoongi dalam hati.
"Jawab saja pertanyaanku bocah!" Seru Yoongi kesal.
"Memangnya kenapa oppa ? Memang sebanyak itu bahan laporannya." Jawab Yeongsun polos di seberang telepon. Polos ? Apa pura-pura polos ?
"Aku tidak mau tahu kau harus menyelesaikan setengah laporannya, tidak ada pengecualian! Kau itu wakil ketua senat, jangan seenaknya melalaikan tugas, kalau kau tidak mau menyelesaikan sebagian laporannya ? Aku pastikan namamu aku coret dari daftar anggota senat dan jabatan wakit ketua senat akan aku cabut darimu. Aku tutup!" Setelah berucap panjang lebar Yoongi segera mengakhiri sambungannya secara sepihak.
Yoongi menghela nafas berat, melirik ke jam tangan miliknya sebentar dan kemudian berdecak kesal. "Ini sudah jam tiga sore, dan aku harus mengerjakan laporan sialan ini ? Yang benar saja?!" Keluh Yoongi.
"Min Yoongi mulai mengerjakannya sekarang atau kau pulang larut." Monolog Yoongi. Ia akhirnya mulai mengambil laptop dari dalam laci mejanya menyalakannya kemudian mulai serius mengerjakan laporannya.
Jimin baru saja sampai kekampus saat jam menunjukkan pukul tiga sore, ia kebagian jam kuliah sore hari ini. Jimin sebenarnya malas untuk kekampus kalau sudah kena jam kuliah sore, mengantuk katanya. Tapikan itu kewajiban dirinya sebagai mahasiswa bukan ?
Jimin mengitari lorong gedung kampus jurusan seni tari tepatnya seni tari modern/kontemporer, ia sedang mencari ruang tari sebenarnya sebelum kelas di mulai pukul empat nanti, datang lebih dulu tidak masalah kan ? Bicara soal ruang tari, bukankah ruang tari dekat dengan ruang senat tempat Yoongi sekarang berada ?
Jimin memasuki ruang tari dan melihat sekelilingnya, rupanya sudah ada beberapa mahasiswa yang datang. Jimin berjalan memasuki ruangan ganti baju, sesaat setelah menutup pintu ruang ganti ia melihat Hosoek, sunbae-nya di kelas seni modern dance.
"Jimin ? Tumben datang cepat ? Biasanya kau akan masuk saat kelas sudah 10 menit dimulai." Ujar Hoseok.
"Hanya ingin saja hyung, lagi pula Yoongi hyung belum pulang juga saat aku menunggunya. Seharusnya jam kuliahnya selesai satu jam yang lalu." Jimin membuka bajunya kemudian mengganti baju kemejanya dengan kaos hitam lengan panjang.
"Yoongi ? Ia ada di ruang sebelah Jim, ruang senat."
"Ruang senat ? Memangnya apa yang dia lakukan di dalam sana ? Biasanya juga dia bawa pulang tugas-tugasnya." Heran Jimin.
"Tadi sebelum masuk ke ruang senat ia bilang ada tugas laporan yang harus di selesaikan hari ini juga." Dengan spontan, Hoseok menjawab kebingungan Jimin.
"Hmm... baiklah terima kasih informasinya hyung, aku pergi keluar duluan."
Setelah mendapat anggukkan dari Hoseok Jimin langsung keluar dari ruang ganti, anak-anak lain ternyata sudah hampir berkumpul semua di ruang tari. 'Tinggal sebenar saja tidak apa kan ? Kelas juga belum dimulai, masih ada waktu 45 menit sebelum dosen tari datang.' Fikir Jimin dalam hati.
"Oh! Jimin sunbae ? Mau ke mana ? Kelas tidak lama lagi mulai." Panggil salah satu siswa kelas tari hari ini, anak-anak lain pun menoleh kearah Jimin yang berhenti di ambang pintu masuk ruang tari.
Jimin lalu melambaykan tangannya kemudian kembali berjalan tanpa menoleh kebelakang sedikitpun. "Kalian diamlah disitu, bila perlu pemanasan dulu, aku ada urusan." Sahut Jimin sebelum benar-benar menghilang di balik pintu ruang tari.
"Setahuku kalau dia keluar ruang tari berarti tujuannya hanya satu kan ?" Seru masiswa lain.
"Ruang senat kan ? Disana ada Yoongi sunbae, kekasih Jimin sunbae." Sahut mahasiswa lainnya lagi.
"Ya kau benar, ayo mengintip ? Haha.. sekali-sekali mengintip orang pacaran itu menyenangkan bukan ?" Yang berada di ruang tari itupun berbondong-bondong keluar menyisakan Hoseok yang baru saja keluar dari ruang ganti yang menatap heran kepada anak-anak seni tari yang keluar ruangan. "Mau kemana mereka ?" Tanya Hosoek pada dirinya sendiri.
Jimin baru saja menempelkan kedua tangannya di masing-masing kenop pintu, ia langsung mendorongnya perlahan takut orang yang ada di dalam terganggu, tanpa berniat menutupnya kembali saking tergesanya ingin melihat wajah kekasih gulanya itu ia sedikit memperercepat jalannya beruntung ia tidak memakai sepatu pantofelnya dan lagi kursi putar yang Yoongi tempati memunggungi pintu masuk.
Sesegera mungkin setelah sampai di belakang Yoongi, Jimin menarik kursi itu sedikit menjauhi meja dan memutarnya agar orang yang duduk diatasnya menghadap dirinya.
"Aish.. apa yan-
Tanpa aba-aba Jimin menubrukkan bibir keduanya dalam ciuman lembut. Yang mendapat 'serangan' terkejut bukan main, matanya membola kaget dan tubuhnya menjadi kaku.
Tak ada respon apapun dari Yoongi, Jimin mulai menggerakkan bibirnya bergerak melumat bibir tipis nan manis milik Yoongi. Kedua tangan Jimin sudah berada di pinggang Yoongi, ia langsung mengangkat Yoongi dari kursi putarnya kemudian mendudukkannya ke atas meja kerja Yoongi tanpa melepaskan ciuman keduanya.
Yoongi tidak bisa berbuat apa-apa, ia terlalu menikmati ciuman lembut yang memabukkan dari Jimin kekasihnya. Tangan Yoongi mengalung cantik di leher Jimin, lenguhan-lenguhan kecil menggema di ruangan itu.
Setelah beberapa menit berlalu, mereka akhirnya melepaskan tautannya karena membutuhkan oksigen untuk bernafas.
"Yak park!! Hah..kau mau...hah... membuatku mati muda ?!" Umpat Yoongi sambil menatap Jimin tajam.
"Siapa suruh meninggalkanku di apartemen sendirian ? Aku bahkan masih tidur di kamarku dan hyung sudah pergi kekampus tanpa membangunkan aku ?" Datar Jimin.
"Heh! Siapa suruh semalaman tidak tidur eo, salah sen-
Yoongi berhenti berbicara saat matanya tak sengaja berkelana kesana kemari dan berhenti menatap pintu masuk ruang senat, 'shit! Jadi dari tadi aku dan Jimin jadi tontonan gratis ?!' Umpat Yoongi, tapi pipinya tiba-tiba terasa panas karena malu. Jimin menaikkan satu alisnya heran melihat kekasihnya ini berhenti berbicara dengan rona merah di pipi putihnya.
"Hyung wae ?" Tanya Jimin akhirnya. Tanpa aba-aba Yoongi menarik baju Jimin agar mendekat padanya, ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jimin, lengannya memeluk erat Jimin agar tidak melepaskan pelukkannya.
"Hei bocah, kenapa tidak menutup pintunya ?! Anak-anak jurusan seni sedari tadi melihat kita, sialan!" Umpat Yoongi, suaranya agak teredam karena ia berbicara dengan wajahnya yang menghadap dada Jimin.
Jimin akhirnya menoleh kearah pintu dan memang benar anak-anak jurusan seni tari sedang berkumpul di depan sana. Jimin terkekeh kecil dibuatnya, ia memang sengaja tidak menutup pintunya tapi ia tidak tahu kalau anak-anak lain akan berkumpul disana menonton kemesraan pasangan fenomenal seantero kampus ini.
"Kenapa malah tertawa bocah!" Kesal Yoongi sambil memukul pelan dada Jimin.
"Tidak apa hyung, kan sudah biasa. Kenapa, hyung malu eo ?" Goda Jimin.
"Bocah sialan, mati saja sana."
"Benarkah ? Kau ingin aku mati hyung ? Baik-
"Ishh.. PARK JIMIN!!!" Teriak Yoongi. Jimin kembali tertawa, ia tahu kekasih gulanya ini mana rela pangeran tampannya mati, oopps sepertinya sifat 'terlalu' percaya dirinya kumat lagi.
Biarkanlah sejoli itu mengumbar kemesraannya disana, selagi masih ada waktu untuk hal itu. Kita tidak ada yang tahu kisah mereka kedepannya bukan ?! Tuhan mungkin menyiapkan kisah tak terduga di masa depan, siapa yang tahu ?
T.B.C
Nadya kim present
Rabu, 19 april 2017.
Sintang, Kalimantan Barat, Indonesia.
Renew: Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia
FANTASIAMOONLIGHT
2018
