Cahaya kuning keemasan terpancar dari arah timur. Suasana sekitar masih tampak gelap. Angin berhembus kencang, menusukkan kesejukan namun terasa segar pada kulit. Kokok ayam dan kicauan burung mulai terdengar menyambut suasana pagi yang indah ini.

Halilintar mengerutkan alisnya, merasa terganggu dengan suara kokok ayam dan kicauan burung yang seolah memaksanya untuk segera bangun. Baru saja ia akan merapatkan selimut, sesuatu bergerak-gerak di belakang kepalanya. Dengan terpaksa Halilintar membuka mata.

"Miaww.."

Seekor kucing berukuran kecil mengeong lembut ikut memaksanya bangun. Sudah menjadi rutinitas si mungil untuk membangunkan Halilintar setiap tidur di rumah majikannya.

"Oh..kau ternyata.." katanya dengan suara serak lalu kembali menutup matanya, bersiap melanjutkan tidur. Alisnya semakin berkerut tidak nyaman saat kucing mungil itu memainkan hidungnya dengan kedua kaki bagian depannya. Halilintar menahan napas.

"Ukh..pergilah. Aku masih ngantuk," usirnya sambil menurunkan kucing itu ke bawah tempat tidur dengan hati-hati, takut akan menyakiti si mungil.

"Miaw...miaw..."

Sang kucing tidak menyerah, menatap lekat wajah damai Halilintar yang sudah kembali terbang ke alam mimpi. Detik berikutnya si mungil melompat ke atas bantal dan langsung menabrakkan tubuh berbulunya pada wajah Halilintar. Yang ditabrak sangat terkejut dan bangun tiba-tiba, hampir saja membuat tubuh kecilnya terlempar. Untung ia berhasil menghindar dan duduk di samping Halilintar dengan tatapan polos.

"Ukh! Hachi!..hachi!..HACHI!"

Halilintar menggosok hidungnya keras hingga memerah. Saat kucing itu menabrakkan tubuhnya, tanpa sengaja ia menghirup bulunya karena terlalu terkejut. Ia menatap kesal kucing mungil yang balik menatapnya polos itu. Rasanya ingin saja meremas tubuh kecil kucing itu, namun tidak tega. Di saat-saat seperti ini ia merutuki Fang yang sudah mengamanati si mungil untuk membangunkannya. Rasa kantuknya hilang sudah, lagipula tahu kucing itu tidak akan membiarkannya kembali tidur. Jadi, Halilintar berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri meski sesekali masih bersin-bersin.

.

.

Selesai membersihkan diri dan berganti baju, Halilintar keluar dari kamar mandi dan menemukan kucing yang membangunkannya tadi masih setia duduk manis di atas bantal. Melihat Halilintar keluar, kucing itu menarik-narik selimut yang belum terlipat lalu menatapnya lagi.

Halilintar mengerti. Ia berjalan mendekat lalu mengambil selimut itu dan dilipatnya dengan rapi. Diangkatnya kucing itu, dielusnya lembut lalu membawanya keluar dari kamar. Bersinnya masih belum berhenti. Ia sebenarnya alergi terhadap bulu kucing, tapi ia terlanjur sangat menyukai hewan lucu berbulu lembut ini.

GUBRAK!

"AARGH!"

"MEAAWWW!"

Saat hendak melangkah keluar, tubuhnya hilang keseimbangan melihat benda yang hampir diinjaknya. Alhasil, ia terjatuh dengan wajah menghantam lantai lebih dulu dan kucing yang ada di pangkuannya menjerit keras karena tertindih tubuhnya.

.

.

.

.

Disclaimer Boboiboy © Animonsta Studio

Warnings: Elemental Siblings, No Super Power, Parent!BoboiboyYaya, No Yaoi, Typo

Genre: Family & Friendship

.

.

.

Happy reading

DOK! DOK! DOK!

"Hali! Kau kenapa?!"

"Hali! Bukalah. Jangan membuatku khawatir,"

Fang terus menggedor pintu kamar mandi dengan raut wajah yang sulit dijelaskan antara panik, khawatir dan takut. Pasalnya, sudah lebih dari tiga puluh menit Halilintar tidak keluar. Sesaat setelah mendengar keributan di lantai atas tadi, ia langsung berlari memeriksa keadaan. Bangkai seekor tikus yang cukup besar tergeletak di depan pintu kamar dengan bercak darah di sekitarnya, dan yang membuatnya panik, darah itu bukanlah darah bangkai tikus yang tergeletak di depan pintu. Begitu mengikuti jejak darah tersebut, ternyata tetesan darah itu berakhir di depan pintu kamar mandi.

"Hali! Buka atau aku dobrak dari sini!" Fang mulai habis kesabaran.

"Jangan masuk! Aku-..Uhuk!" Halilintar berteriak dari dalam sebelum akhirnya terbatuk.

"Hali! Biarkan aku masuk!" Fang hilang kesabaran. Ia memutar kenop pintu dengan kasar.

Clek.

Fang merasa bodoh sekarang. Ternyata sejak tadi pintu tidak terkunci. Untuk apa ia terus berteriak sejak tadi sampai suaranya hampir habis. Dilihatnya Halilintar sedang menunduk di depan westafel, masih terbatuk. Fang langsung mendekat dan terkejut mendapati wajah Halilintar pucat pasi dengan hidung terus mengeluarkan darah, belum lagi batuknya yang tidak berhenti yang juga memuntahkan darah. Fang yang panik langsung keluar menyambar ponselnya untuk memanggil dokter pribadi keluarganya.

Fang kembali menghampiri Halilintar. Mimisannya sudah berhenti, begitu pun dengan batuknya yang juga sudah berhenti. Matanya terbelalak, bersyukur refleknya yang cepat dapat menangkap tubuh lemas Halilintar yang tiba-tiba terhuyung, hampir jatuh.

"Halilintar!"

Fang menepuk-nepuk pelan pipi pucat Halilintar, dan berhasil. Kelopak mata yang awalnya tertutup mulai bergerak terbuka perlahan.

"Tetaplah sadar."

Langsung saja dipapahnya tubuh Halilintar keluar dari kamar mandi lalu mendudukkannya di ranjang dengan punggung disandarkan pada sandaran kasur di belakangnya. Fang membuka jaket merah-hitam Halilintar yang sudah basah dan kotor terkena darahnya. Ia melihat memar di dahi Halilintar, tangannya terangkat untuk menyentuhnya pelan.

"Akh.." Halilintar meringis menahan sakit.

"Maaf," Fang menurunkan tangannya lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Hei, kau. Sini," panggilnya dengan melambaikan tangan pada kucing kecil yang tampak penasaran mengendus bangkai tikus di depan pintu. Si kucing yang merasa dipanggil langsung menghampiri tuannya. Fang mengangkat kucing itu dan mendudukkannya di dekat Halilintar.

"Nah, kau jaga Hali. Jangan biarkan dia tidur," pesan Fang. Karena ia tahu membiarkan Halilintar tidur sama saja membiarkannya pingsan, takut akan memperburuk kondisinya.

Fang yakin kucing mungil itu mengerti ucapannya. Ia pun keluar menuju dapur untuk mengambil sebaskom air dan handuk kecil untuk mengompres memar di dahi Halilintar.

.

Sampai di dapur, Fang mengambil baskom berukuran sedang lalu mengisinya dengan air. Saat sedang mengisi air, ia merasa sesuatu yang berbulu mengelus-elus kakinya, Fang melihat kucingnya yang lebih besar menatapnya dari bawah. Ia tersenyum mengerti lalu berjongkok.

"Ah, kebetulan kau datang. Aku sudah melihat hasil buruanmu, kau memang hebat. Tapi, jangan makan tikus, ya? Bahaya," katanya sambil mengusap lembut kepala kucing manisnya. Si kucing menutup matanya menikmati usapan lembut tangan majikan tersayangnya.

.

Fang kembali ke kamarnya dengan baskom berisi air di tangan kanan dan tongkat pel di tangan kirinya. Ia menarik kursi dari depan meja belajarnya mendekat ke samping ranjang. Diperasnya handuk yang sudah dibasahinya lalu menyentuhkannya pelan pada dahi Halilintar.

"Tahan sedikit," ucapnya ketika Halilintar meringis kesakitan. "Ini. Kau pegang. Aku akan membersihkan lantai dulu," lanjutnya, mengambil tangan Halilintar untuk menahan handuk kecil itu di dahinya.

.

Ting tong

Fang sudah selesai membersihkan lantai beberapa menit yang lalu. Kini dia sedang duduk di samping Halilintar sambil kembali mengompres dahinya. Terdengar bel pintu depan berbunyi menandakan ada tamu di luar.

"Aku ke depan dulu," Halilintar hanya mengangguk kecil. Fang cemas sejak tadi Halilintar hanya diam, hanya menjawab dengan gelengan atau anggukkan kepala saja.

.

Ting tong

"Sebentar," teriak Fang.

Fang berjalan menuruni tangga menuju pintu utama lalu membukanya, dokter yang tadi dihubunginya akhirnya datang juga.

"Ah, dokter. Masuk."

"Hm. Terima kasih."

Fang menceritakan singkat keadaan Halilintar sambil berjalan mengantar dokter itu ke kamarnya. Sampai di kamarnya, Fang pun mempersilahkan dokter untuk memeriksa keadaan Halilintar. Dokter lalu memberikan beberapa pertanyaan pada Halilintar.

.

"Jadi, bagaimana keadaannya?"

"Tidak terlalu parah, untung saja darah yang sempat tertelan sudah berhasil dikeluarkan. Dia hanya perlu istirahat total. Tenggorokannya mengalami luka ringan, dalam waktu dekat akan segera sembuh. Jadi, usahakan untuk memakan makanan bertekstur lembut. Tubuhnya lemah karena terlalu banyak darah yang keluar. Saya sudah memberinya obat, berikan secara teratur. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi, jika tiba-tiba dia sakit kepala atau bahkan pingsan segera larikan ke rumah sakit," jelas dokter panjang.

"Syukurlah. Terima kasih, dokter."

"Sama-sama. Kalau begitu, saya pamit dulu."

"Iya. Hati-hati."

Fang menutup pintunya saat mobil sang dokter sudah tidak terlihat. Menghela napas. Padahal hari ini Fang sudah menyiapkan makanan kesukaan Halilintar untuk sarapan. Tapi, sudahlah. Masih ada hari besok. Fang kembali ke dapur untuk memasakkan bubur dan sup untuk sarapan Halilintar.

.

.

.

"Kau selalu saja membuatku cemas."

"Tapi, meski begitu aku tetap menyayangimu, adik payah."

Fang berbicara sendiri sambil mengacak rambut pemuda yang dia sebut adik payah. Halilintar belum bangun lagi setelah meminum obat yang diberikan dokter dua jam yang lalu. Bersyukur dokter tidak memberikan obat berbentuk tablet, sehingga memudahkan Halilintar untuk meminumnya.

Fang memutuskan mengambil novel horor yang belum selesai ia baca, lalu duduk kembali di samping Halilintar. Ia mulai membuka novelnya lalu melanjutkan membaca. Tak lama Fang langsung tenggelam dalam cerita novel yang dibacanya.

.

"Fang..."

Suara yang terlampau halus memanggil namanya. Tubuhnya menegang, Fang menatap sekeliling kamarnya dengan gemetar, atmosfer ruangan memberat, keringat dingin membasahi dahi dan pelipisnya. Ia langsung teringat cerita novel yang sedang dibacanya, mungkinkah hantu dalam novelnya keluar dan mendatanginya?

"Fang..."

Suara itu kembali memanggil namanya. Tubuhnya semakin tegang. Tiba-tiba ia merasakan pahanya disentuh sesuatu yang ia yakini sebuah tangan. Napasnya semakin memburu.

PLAK!

"Kau kenapa, sih?"

"EH?"

Fang menoleh perlahan ke arah Halilintar dan menemukan sahabatnya itu menatapnya aneh. Otaknya memproses apa yang baru saja terjadi, butuh beberapa detik sampai akhirnya ia tersadar sepenuhnya.

"Eh? Sudah bangun ternyata. Bagaimana keadaanmu?" tanyanya kikuk sambil membantu Halilintar duduk.

"Aku su..dah baik," Fang meringis melihat Halilintar tampak kesakitan saat berbicara, karena lukanya.

"Hari ini istirahat saja."

"Aku harus la..tihan," sanggah Halilintar dengan suara memelan karena menahan sakit, lalu berdiri dengan cepat. Belum dua langkah berjalan, kepalanya terasa seperti berputar dan tubuhnya terhuyung. Fang secepat kilat menahannya agar tidak jatuh.

"Lihat? Baru berjalan saja kau hampir pingsan. Tidak ada latihan untuk hari ini. Tidak ada yang lebih penting dari kesehatanmu," Fang kembali menidurkan Halilintar di kasurnya.

"Fa-.."

"Dan sebaiknya kau jangan banyak bicara," Fang takut memperparah luka Halilintar, dan tidak ingin Halilintar bertanya tentang perilaku anehnya tadi.

.

.

.

"Kau pasti berhasil, Hali."

"Hm. Aku janji."

"Aku percaya padamu," Fang menepuk bahu sahabatnya sebelum akhirnya berbalik menuju lorong berbeda dengannya,lorong khusus penonton.

"Terima kasih, Fang," ucapnya pelan, memandangi punggung sahabatnya yang perlahan menjauh.

.

"Hai, Hali. Maaf aku tidak sempat mengontrolmu saat latihan. Tapi aku yakin kau pasti berlatih dengan baik."

"Ya, manajer Gopal. Tentu saja."

"Persiapkan dirimu, kau pasti berhasil," kata manajer Gopal, menepuk bahu pemuda yang sudah seperti anaknya sendiri itu. Lalu, giliran rekan-rekannya yang lain memeluknya bergantian sambil menyemangatinya.

Halilintar merupakan anggota termuda diantara rekan-rekannya yang lain, maka tidak heran ia diperlakukan bak anak bungsu dalam sebuah keluarga. Ia tersenyum.

Tiga puluh menit kemudian, Halilintar sudah bersiap di belakang garis start, seluruh peserta sudah menjalankan pemanasan. Ia terus menenangkan diri, menutup mata lalu membukanya kembali. Mengangguk mantap.

3...2...1...0

Bendera berkibar, tanda dimulainya pertandingan. Halilintar tancap gas, melajukan mobilnya secepat mungkin.

.

.

.

"Hei! Kau hebat tadi, aku sempat khawatir terjadi sesuatu padamu saat pemain curang tadi berhasil membocorkan tangki mesinmu," ucap salah seorang rekan tertuaya sambil memeluknya erat.

"Hali! Kau tidak apa-apa, 'kan? Untung saja itu saat putaran terakhir."

"Kau tidak apa-apa, Hali!? Kau tidak menjawab kami."

"Hali! Kau tidak apa-apa? Mobilmu bahkan hampir terbalik tadi."

"Hali! Kau baik-baik saja?"

Rekan-rekan dan manajernya dengan panik menghampirinya yang berwajah pucat. Satu persatu memeluk menyampaikan rasa khawatirnya.

"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit syok jadi aku tidak sempat menjawab kalian. Maafkan aku," jawab Halilintar sedikit merasa bersalah.

"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang kau selamat," Halilintar sangat bersyukur setidaknya mereka masih mementingkan keselamatannya daripada kemenangannya.

"Terima kasih," kata Halilintar tulus.

"HALILINTAR!" yang dipanggil terkejut mendengar suara panik di belakangnya, ia berbalik dan menemukan Fang di sana sedang berlari ke arahnya.

"Kau tidak apa-apa, 'kan!? Tidak terluka!?" tanya Fang khawatir.

"Aku tidak apa-apa, tenang saja," katanya tersenyum.

"Kau yakin?," tanya Fang ragu.

"I-.."

BRUK!

"HALI!?"

.

Tubuh yang terbaring lemah itu bergerak perlahan, kelopak matanya mulai terbuka lalu mengerjap untuk memfokuskan pandangannya.

"Ah, Hali. Syukurlah, kau sudah sadar."

Ia menoleh kesamping, menemukan sahabatnya duduk di sana.

"Fa..Fang?" panggilnya lemah.

"Hm? Ini. Minum dulu," Halilintar bangun untuk mendudukkan diri dibantu oleh Fang, menerima gelas berisi air putih dari tangan sahabatnya lalu meminumnya.

"Terima kasih," katanya. Ia memperhatikan sekeliling.

"Kau ada di rumahku. Teman-teman dan manajermu tahu kau benci rumah sakit dan aku mengusulkan membawamu kesini."

"Oh."

"Kau...benar-benar tidak apa-apa?"

"Hm? Memangnya aku kenapa?"

"Kau pingsan setelah kompetisi kemarin."

"Oh-...APA!?"

Ia ingat kompetisi itu, tapi...kemarin? "Tidak mungkin. Kau bohong, 'kan?"

"Untuk apa membohongimu? Kurang kerjaan. Kau syok berat sampai pingsan dan semalaman kau tidak sadar," Halilintar menunduk lesu.

"Maafkan aku...aku..kalah, ya?" Halilintar menatapnya dengan sirat penyesalan.

"Kau bercanda!? Kau menang kemarin," Fang menatapnya kaget. Halilintar membulatkan matanya.

"Be-benarkah...?" tanyanya tidak percaya. Fang tersenyum, mengangguk lalu memeluknya erat.

"Kau memang terbaik, aku bangga padamu," kata Fang tulus. Halilintar hanya membalas pelukan Fang tak kalah erat, tidak bisa mengucapkan apapun.

"Ah, Hali. Kau mandi dulu, sana," Fang melepas pelukannya.

"Memangnya kita mau kemana?" tanya Halilintar.

"Kita rayakan kemenanganmu, dan aku tidak menerima penolakan," kata Fang saat melihat Halilintar akan protes.

"Huh. Iya," jawabnya malas.

.

"Kita mau kemana, sih!?" Halilintar mulai kesal, sejak tadi Fang tidak mau menjawabnya.

"Kau tidak bisa diam, ya. Kita sudah sampai," Fang menghentikan mobilnya di depan gedung club Halilintar. "Ayo masuk. Diam dan jadilah anak manis," Fang terus menariknya ke dalam.

"Sebenarnya ada apa, Fang!?" Halilintar bertambah kesal saat Fang hanya diam. Tiba-tiba sahabatnya itu menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah pintu geser besar, ia bingung. Setahunya ini gudang tempat anggota clubnya memodifikasi mobil. Ingin bertanya, namun percuma. Jadi, ia berusaha sabar mengikuti.

.

SREEETTT! WUSH!

.

.

.

.

TBC

A/N:

Ukh..bingung mau berhenti dimana. Pendek, lagi. Maafkan saya, dan terima kasih buat yang udah mau baca cerita saya ini.

Balasan review

Ayya: Oke, saya usahakan. Terima kasih sudah review.

Guest: Terima kasih review dan pujiannya.

Untuk yang punya akun, saya balas di PM.

*RnR