Fanfic ini merupakan remake dari manga "Kuchizuke wa uso no aji".
.
Sinopsis: Tanpa diduga, Jung Yunho, seorang CEO muda yang sukses, terjerat oleh pesona Kim Jaejoong, sang penipu cantik. Mampukah dia lolos dari permainan Jaejoong?
.
Bab II Tentang Kim Jaejoong
Meskipun ini bukan pertama kalinya Yunho bertemu Jaejoong, namun dia masih terpesona dengan mata indah dan wajah cantik itu. Senyumnya yang menawan mampu menghipnotis Yunho, membuatnya blank sesaat.
Kenapa dia baru bertemu makhluk seindah itu?
"Oi." Yoochun menyenggol lengan atas Yunho.
"Huh?"
"Minumlah."
Yunho menunduk, menatap segelas cocktail di hadapannya.
"Tapi aku tidak ingin pesan apa-apa."
"Anggap saja itu sebagai ucapan permintaan maafku karena telah menabrakmu tadi siang-eh, boleh kupanggil kau Yunho-ah?"
Ya Tuhan… suara Jaejoong terdengar merdu di telinga Yunho.
"Jadi kalian pernah bertemu?"
"Yep. Trims." Yunho mengangkat gelasnya kemudian menyesap minumannya. Rasanya enak.
Dia mencium bau yang familiar di hadapannya. Dia mencondongkan tubuhnya di depan Jaejoong.
"Parfummu… sama seperti yang kupakai."
"Benarkah?" Yoochun memandang Yunho penuh arti. "Kebetulan sekali."
Ah, aku mengerti. Tak heran jika aku merasa nyaman berada di dekatnya.
"Ini pertama kalinya aku bertemu dengan seseorang yang memakai parfum yang sama denganku." Yunho bagai tersengat listrik ketika Jaejoong menyentuh punggung tangannya. "Aku sangat senang."
Perlahan rasa kantuknya menghilang. Dia merasa badannya sedikit hangat dan… bergairah. Jantungnya pun berdebar kencang.
Apa benar tidak ada seorang pun yang bisa membuatmu jantungmu berdebar-debar kencang, Yunho-ah?
Tapi dia laki-laki!
Baru hari ini aku bertemu dengan Jaejoong namun aku sudah merasa ada yang tidak beres denganku. Mungkinkah ini hanya imajinasiku saja?
Untuk membuktikan dugaannya, Yunho datang lagi ke bar Cassiopeia dua malam berturut-turut- tanpa Yoochun. Alih-alih merasa biasa-biasa saja terhadap Jaejoong, dia malah merasa semakin terpesona dengan lelaki cantik itu. Kesempurnaan fisiknya, keramahannya, senyumannya… ah, ingin sekali rasanya Yunho mencicipi bibir merah merekah itu.
Tampaknya aku mulai tidak waras karena menyukai laki-laki.
Setelah ngobrol cukup lama dengan Jaejoong, Yunho baru tahu bahwa dia memiliki wawasan yang sangat luas. Dia bisa diajak ngobrol mulai tentang masalah sepele seperti cuaca, fashion, bahkan informasi finansial internasional. Rasanya tidak berlebihan jika Yunho mengklaim bahwa Jaejoong lebih update daripada koran bisnis online.
"Kebanyakan pelanggan kami adalah laki-laki berusia di atas 30 tahun." Begitu alasan Jaejoong. "Beberapa di antara mereka adalah pegawai bank dan pengusaha high class, seperti kau. Jadi mereka sering cerita padaku sementara mereka menikmati minuman. Mungkin bagi sebagian besar orang mendengarkan cerita mereka sungguh membosankan, tapi aku justru menikmatinya."
Jaejoong adalah pendengar yang sangat baik. Dia bisa membuat pelanggannya gembira karena mau mendengarkan cerita mereka tanpa bercerita sedikit pun tentang dirinya sendiri. Dia selalu memamerkan senyum mautnya saat menolak ajakan kencan pelanggan wanita dengan halus.
Intinya, Jaejoong mampu memikat hati siapa pun. Baik laki-laki maupun perempuan.
Jaejoong mengaku belum punya pacar. Hm, dia bisa saja gay kan? Jika Jaejoong memiliki kekasih, dia pasti sangat cantik.
"Ah,"kata Yunho saat melirik jam tangan. "ini sudah waktunya tutup kan?"
"Um, Yunho-ah, maukah kau minum denganku?"
Dia memberi Yunho segelas cocktail lagi,
"Akhir-akhir ini kau sering datang kemari, Yunho-ah." Jaejoong menyesap minumannya sendiri.
"Yeah, akhir-akhir ini aku punya banyak masalah pekerjaan jadi aku datang kemari untuk menenangkan pikiran."
Aku tidak mungkin bilang bahwa aku penasaran dengannya kan?
"Begitu." Jaejoong mengangkat gelasnya dan mengamati buah ceri yang tenggelam di dasar gelasnya. "Kupikir kau datang kemari karena ingin bertemu denganku. Ternyata aku salah."
Yunho menelan ludah saat memperhatikan pipi Jaejoong yang merona merah dan pandangannya yang sayu akibat pengaruh alkohol. Dia harus menahan diri agar tidak menyerang Jaejoong saat ini juga.
Yunho tertawa hambar. "Kenapa aku ingin bertemu dengan laki-laki?"
"Itu benar. Meskipun aku adalah biseksual, kau adalah pria normal, bukan?"
Yunho menaikkan alis kirinya. Huh? Jaejoong adalah biseksual?
"Aku minta maaf telah mengatakan sesuatu yang aneh. Tapi sejak pertama kali aku bertemu denganmu, aku merasakan semacam takdir di antara kita berdua."
Jaejoong tertawa. "Maaf aku harus meninggalkanmu sekarang. Aku harus mencuci gelas ko-"
Ucapannya terhenti karena Yunho menciumnya.
Aku tidak pernah berciuman dengan laki-laki sebelumnya, tentu saja. Tapi aku merasa bibir Jaejoong bahkan lebih lembut dari bibir wanita mana pun yang pernah kucium.
"Aku menyukaimu,"bisik Jaejoong. Bibirnya menempel di bibir Yunho. Dia menjambak rambut Yunho dan memperdalam ciuman mereka.
Deg deg deg. Jantungku kembali berdetak kencang.
Sungguh sensasi yang luar biasa.
.
.
Yunho terbangun oleh suara kicau burung di pagi hari. Saat tangannya hendak memeluk Jaejoong kembali, jemarinya hanya merasakan dinginnya tempat tidur. Dia membuka mata. Jaejoong tidak ada di sampingnya.
Yunho bangkit karena ingin buang air kecil. Namun seketika matanya terbelalak ketika melihat baju dan celananya, yang tadi malam ia campakkan di atas lantai, hilang. Yang tersisa hanyalah pakaian dalam.
Damn, dia mengambil pakaianku! Dompetku!
Untunglah dia tidak mencuri ponsel yang kuletakkan di atas nakas.
Aku harus menghubungi Jaejoong.
Jemari Yunho berhenti menari di atas layar ponsel. Tapi aku tidak memiliki nomor ponselnya.
Sejak awal aku sudah merasa ada yang tidak beres pada Jaejoong. Ciuman pertama di bar itu… aku merasakan sedikit aroma nikotin pada bau mulutnya.
Padahal aku tidak pernah melihatnya merokok.
Yunho duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Sekarang apa yang harus kulakukan dengan hanya memakai pakaian dalam?
Persetan dengan pakaianku. Aku bisa meminta bantuan kepada resepsionis. Aku juga tidak masalah dengan uang dan kartu kredit yang dibawa Jaejoong. Permasalahannya adalah, sejak kapan dia merencanakan semua ini? Saat Yoochun membawaku ke bar Cassiopeia? Tidak… bukan. Saat Jaejoong menabrakku di dalam lift? Ya, dia pasti telah merencanakannya sejak saat itu.
Dan aku berpikir bahwa semua ini adalah takdir!
Yunho menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dan menatap langit-langit kamar.
Meskipun aku telah ditipu, anehnya, aku tidak marah,
Dia memanfaatkan wajah sayu dan suara merdunya untuk memikatku.
Aku menyukaimu.
Apakah dia bohong padaku?
.
.
Malamnya Yunho pergi ke bar Cassiopeia. Dia terkejut melihat Jaejoong berdiri dengan tenang di belakang meja bar, seolah tidak terjadi apa-apa. Senyumnya pun nampak senormal biasanya.
"Selamat datang, Yunho-ah."
Bahkan sebelum Yunho sempat mengucapkannya, Jaejoong telah meletakkan segelas minuman yang biasa dia pesan di hadapannya.
Seperti malam-malam sebelumya, aku terus memperhatikannya bekerja hingga bar tutup. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku masih mau menemuinya setelah apa yang telah dilakukannya padaku. Lagipula, mengapa Jaejoong tidak berusaha menghindariku?
Jaejoong mengeluarkan sebatang rokok dari kantong celananya dan menyalakannya. Dia menghembuskan asap rokok dengan santai.
"Ini," Dia menaruh sebuah kantong kertas di atas meja. "baju dan dompet yang sempat kupinjam hari ini. Tenang, bajumu telah kucuci. Aku tidak mengambil uangmu. Aku hanya sempat beberapa kali menggesek kartu kreditmu."
Yunho hanya bisa melongo melihat cengiran di wajah cantik Jaejoong.
.
.
Bersambung
.
Terima kasih bagi yang telah review, favorit, dan follow fanfic ini. Termasuk silent reader. Oh ya, saya bukan gia shirayuki ya :D
