chapter 2—prkjmins, 2017.
warning: sexual activity!
Hari sudah malam.
Dokter-dokter mulai melepas jas prakteknya, guru-guru mulai membereskan meja kerjanya yang dipenuhi oleh kertas ujian siswa, dan pegawai kantor telah mengantri di depan lift—meninggalkan semua beban dengan tawaran makan malam yang menggugah dari orang rumah. Jaebum melangkahkan kakinya di parkiran, tangan kanannya sibuk melonggarkan dasinya yang begitu mencekik leher. Ia berhenti di depan sebuah Lamborghini Asterion yang terparkir di barisan VIP. Itu mobil barunya—masih berumur sejagung dibanding dengan mobil sebelumnya, Porsche Cayman yang sudah menemani Jaebum selama ia masih berkuliah.
Pria itu menumpukan badannya pada bagian depan mobil tersebut, kedua netranya melihat sekeliling area parkir. Masih banyak mobil berjejer rapi di garis yang telah ditentukan, mengungkapkan secara tidak langsung bahwa masih ada cukup banyak pegawai yang belum pulang dari kantor. Tapi Jaebum tidak peduli, ia sedang mencari seseorang—lebih tepatnya menunggu secara tidak sabar. Ini tidak salah tulis, Jaebum benar-benar tidak sabar karena ia ingin cepat-cepat pulang dan bercumbu dengan submisifnya.
Ia menunggu, sampai suatu waktu terdengar suara hak sepatu bertubrukan dengan permukaan lantai dari kejauhan, iramanya agak cepat—mungkin ia sedang berlari atau jalan cepat. Jaebum membawa pandangannya menuju asal suara, sedetik kemudian ujung bibirnya terangkat.
Choi Youngjae, wanita yang ia tunggu telah datang.
Begitu wanita itu datang, Jaebum segera membukakan pintu mobil untuknya. Youngjae sontak memandang Jaebum, tidak biasanya dominannya ini melakukan hal tersebut. Biasanya pria itu hanya sibuk menerima panggilan telepon di kursi kemudi sembari menunggunya turun ke parkiran. Bukannya Youngjae berharap, ya—ia hanya heran. Youngjae masih ingat siapa dia di mata Jaebum. Ia bukanlah siapa-siapa lelaki bermarga Im tersebut, hanya seorang submisifnya, bukan kekasih atau istrinya—ya walau pun pada kenyataannya ia sedang mengandung benihnya.
Jaebum menatap iris Youngjae, bingung karena submisifnya itu tak kunjung masuk ke dalam mobil, "Ada apa?" tanyanya. Youngjae mengalihkan pandangannya, warna merah padam muncul malu-malu pada kedua pipinya.
"Masuklah. Aku bisa menutup mobilnya sendiri." balas Youngjae. Jemarinya bergerak melepaskan tangan Jaebum dari ujung pintu mobil dengan perlahan, agar ia tak tersinggung. Jaebum hanya terdiam lalu berjalan menuju bagian kemudi mobil. Tak lama, mobil tersebut bergerak keluar dari area parkir kantor.
.
.
Ini sebenarnya bukanlah bagian cerita dunia yang manis. Kisah ini sama sekali tidak bisa dikategorikan dalam cerita manis, karena sesungguhnya kisah Im Jaebum dan Choi Youngjae adalah kisah tragis.
Pertemuan mereka sangat pahit, di tengah jalanan sepi pada suatu malam. Saat Jaebum baru saja pulang dari kantor, ia melihat seorang wanita sedang berlari dari arah kanan terjatuh tepat di depan matanya. Tak lama, muncul dua tiga pria besar—seperti penagih hutang—datang dari arah yang sama, menodong-nodongkan pisau mereka ke arah wanita tersebut.
Jaebum bukan orang yang peka terhadap sekitar, apalagi kondisi kebatinannya saat itu sedang buruk akibat ayahnya yang datang tiba-tiba ke kantornya, meminta agar ia kembali mengakuinya sebagai seorang ayah. Iya, pria paruh baya yang menjatuhkannya ke dalam dunia gelap itu memintanya untuk kembali—mungkin karena melihat kesuksesan anaknya—. Jelas Jaebum menolak mentah-mentah. Ia sudah kecewa berat dengan sang ayah yang telah mengusirnya ketika umurnya masih menginjak 16 tahun.
Jaebum tidak berniat untuk berkomunikasi dengan siapa pun saat itu, tapi ketika ia bersitatap dengan netra jernih Youngjae yang begitu memilukan, Jaebum menolongnya. Jaebum menolong seorang anak yang baru saja kehilangan orang tuanya, dengan hutang berlimpah yang belum terbayarkan.
Namun, Choi Youngjae tidak sama seperti Im Jaebum. Ia masih menyayangi orang tuanya, meski pun mereka meninggalkannya dengan sejumlah hutang yang memedihkan mata. Youngjae masih mau mendatangi pusara keduanya—bahkan dengan senyum mengembang, membuat Jaebum gagal memahami jalan pikiran wanita itu.
Untuk apa susah-susah mengunjungi orang tua yang tega meninggalkanmu dalam gelap? Jika Jaebum adalah Youngjae, jelas pria itu tidak akan menganggap lagi ayah dan ibunya sebagai orang tua.
Ia bertanya kepada Youngjae, dan tahu apa jawabannya?
"Mereka tetap orang tuaku. Sebanyak-banyak luka yang tercipta dari rasa kehilangan ini, tidak lebih banyak dari kenangan manis bersama mereka."
.
.
Pukul sepuluh malam.
Keduanya sudah berada di kamar Jaebum. Warna putih begitu dominan di ruangan itu, menampilkan nuansa klasik sekaligus bersih. Ruangan pribadi Jaebum ini jauh lebih mewah dibandingkan dengan kamar Youngjae, dengan luas dua puluh lima meter persegi dan perabot yang tidak bisa dibilang murah. Ranjang king size yang ia gunakan sendiri—pengecualian ketika ia sedang tidur dengan Youngjae—, lalu sofa empuk yang berada tepat di depan ranjang, lemari beserta cermin panjang dari Swedia, belum lagi perlengkapan-perlengkapan lainnya yang serba banyak. Hampir tidak ada benda yang terbilang sederhana dalam kamar Jaebum.
Im Jaebum tersenyum penuh arti kala Youngjae berdiri canggung di depannya. Malam ini, ia ingin mencicipi tubuh submisifnya. Setelah sore tadi berkontak langsung dengan tubuh Youngjae, ia tidak dapat konsentrasi lagi dengan pekerjaannya. Persetan, gambar sampel saja berubah menjadi tubuh telanjang Youngjae—oke, katakan Jaebum mesum.
Youngjae menatap pintu kamar Jaebum gugup, pria itu menguncinya tepat setelah mereka masuk ke dalam. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini, namun dalam hati Youngjae masih memohon untuk pergi dari sana.
"Tidak ada jalan keluar, kitten. Pintu akan kubuka nanti pagi—,"
"—dan malam ini kau harus memuaskanku."
Jantung Youngjae serasa berhenti berdetak beberapa detik, kedua netranya terperangkap dalam sosok Jaebum yang begitu menggoda dengan penampilannya yang berantakan. Rambutnya tak tertata, dua kancing atas kemejanya tidak terpasang, dan dasi merah yang melingkari lehernya terlihat longgar. Semoga saja tidak ada darah yang keluar dari lubang hidung Youngjae.
Pria itu menaikkan sebelah alisnya, "Tidak lupa kan dengan perjanjian tadi?" ucapnya, masih dengan tatapan intens. Youngjae meremas ujung roknya—ya ampun, seseorang tolong selamatkan jantungnya sekarang juga karena sepertinya sebentar lagi alat pemompa darah itu akan meledak.
"Lepas jas dan dressmu."
"A—apa?"
"Aku yakin telinga manismu mendengar perintahku, sayang." Youngjae menatap gugup pakaiannya. Dengan tangan gemetar, ia meraih kancing jasnya lalu melepaskannya. Satu per satu kancingnya terlepas, sampai tak ada kancing lagi yang terpasang, Youngjae melepas jas merahnya dan meletakkannya begitu saja di lantai. Kini hanya tersisa dress merah muda selututnya, wanita itu ragu untuk melepasnya.
"Kenapa diam? Cepat lepas pakaianmu lalu duduk di pangkuan daddy." astaga, Im Jaebum benar-benar pria brengsek.
Youngjae memejamkan matanya dalam-dalam ketika tangannya bergerak menurunkan dress kesayangannya itu dari tubuh mungilnya. Kini ia hanya bisa pasrah mendapati tubuhnya sudah setengah telanjang. Wanita itu kemudian berjalan menuju sofa—tempat Jaebum duduk—, dan dalam sekejap mata, ia sudah berada di pangkuan Jaebum.
Jaebum tersenyum puas. Astaga, lihatlah payudara itu! Terlihat menyembul di balik bra yang dipakai Youngjae, membuatnya tidak sabar untuk mencicipinya. Begitu juga dengan bongkahan pantat dalam celana minim submisifnya—oh, Jaebum ingin segera menamparnya di atas ranjang.
"Goodness,kau sebenarnya manusia atau malaikat, hm?" Jaebum menarik belakang leher Youngjae lalu menautkan bibirnya dengan bibir ranum wanita tersebut. Pipi Youngjae memanas, ia tidak bisa berpikir jernih lagi sehingga tanpa sadar melumat bibir Jaebum, padahal pria itu hanya mengecupnya. Alhasil Jaebum tersenyum geli melihat tingkahnya.
"A—ah, maafkan aku," wanita itu menyadari tindakannya. Ia menarik wajahnya kembali, namun ditahan oleh Jaebum.
"Terus cium aku, Princess.Puaskan aku." bisiknya sebelum menempelkan kembali belahan bibirnya di tempat yang sama. Youngjae kembali melumat bibir tipis Jaebum dengan mata terpejam. Ia bukanlah seorang good kisserseperti dominannya, yang bisa memabukkan lawan jenisnya dalam sekejap. Bagaimana bisa ia menjadi pencium handal jika menyentuh bibir orang saja badannya sudah bergetar?
Jaebum mengelus surai karamel Youngjae pelan ketika merasakan getaran yang meragukan dari tubuh wanitanya. Choi Youngjae ini, padahal sudah kesekian kalinya mereka bercinta tapi masih saja seperti baru pertama kali disentuh—takut dan ragu. Pria itu menepuk punggung Youngjae, menyuruhnya secara tidak langsung untuk melepaskan ciuman mereka. Ia kemudian menatap manik gelap itu lekat.
"Tindih aku sekarang juga, bermainlah di atas tubuhku," nada Jaebum terdengar lebih tenang dari biasanya, namun tidak membuat jantung Youngjae berdetak normal—malah lebih cepat lima kali lipat.
Wanita berpipi tembam itu mendorong lembut bahu dominannya agar terbaring ke permukaan kasur. Ia menggigit bibirnya, apa yang harus dilakukannya setelah ini?
"Gerakkan pinggulmu di atas kejantananku," perintah Jaebum. Ia sudah menduga Youngjae pasti tidak tahu apa-apa. Mendengar perintah Jaebum, Youngjae sempat terkejut. Ada sekerlip rasa tidak ingin dalam dirinya—kecil sekali. Tapi mau tidak mau ia harus menurutinya, karena menolak Jaebum sama saja dengan cari mati.
"—shit." Jaebum mengumpat pelan, merasakan pantat Youngjae tepat di atas kejantanannya. Ia mengerang, menikmati setiap gerakan pinggul Youngjae yang membuat jiwanya melayang.
Youngjae melambatkan gerakannya ketika mendadak merasakan sesuatu yang menusuk-nusuk bagian bawahnya. Baru saja ia menurunkan pandangannya, Jaebum telah membalikkan posisi mereka.
"Kau lambat, Jae," pria itu melepas kaitan bra Youngjae cepat lalu melumat putingnya dengan rakus. Youngjae meremas kain seprai kasur, menahan desahan yang sudah berada di ujung lidahnya.
"Apakah kurang nikmat?" Youngjae tidak bisa menahannya lagi, ia meloloskan sebuah desahan saat Jaebum menampar pantatnya cukup keras.
"Berhenti menampar bokongku, itu sakit!"
"Aku akan berhenti setelah aku mendapatkan panggilanku—"
"Daddy, that's hurt—ah!"
Youngjae memekik, merasakan sesuatu memasuki lubang pantatnya. Ia baru menyadari kalau Jaebum telah menanggalkan celana dalamnya dan mulai menjamah bagian privatnya. Lubangnya berkedut kala Jaebum memasukkan jari kedua ke dalamnya.
"Da—daddy—"
"Dasar cengeng, begini saja sudah menangis," punggungnya melengkung, kali ini Jaebum memasukkan dua jari sekaligus. Matanya terpejam sangat kuat, membuat satu bulir air mata jatuh melewati pelipisnya.
"Berbalik." perintah sang dominan. Youngjae mengangguk pelan. Dengan tubuh yang sudah bergetar total, ia merubah posisinya menjadi menungging. Jaebum membuang seluruh pakaiannya ke sembarang arah, napasnya sangat berat akibat menahan gairahnya. Adik kecilnya yang sudah lama bangun terus meminta-minta untuk segera dipuaskan.
Jeritan lemah terdengar dari mulut Youngjae kala Jaebum menghujam lubangnya. Pria itu kemudian menarik kembali tubuhnya lalu menusuknya sekali lagi ke titik yang sama.
"Youngjae, mana suaramu?"
"Yes, daddy uh—"
"Cepat ikuti gerakanku, sayang." Jaebum melambatkan ritmenya sedikit, bertujuan agar submisifnya tersebut dapat mengikutinya lebih mudah. Youngjae perlahan menyesuaikan tubuhnya dengan setiap hujaman yang diberikan oleh Jaebum.
"Lebih cepat, baby—"
"Aku sedang berusaha, sabar sedikit!" emosi Youngjae hampir saja tersulut akibat Jaebum mulai menampari pantatnya lagi. Beberapa saat setelah wanita itu sudah berada di tempo yang sama dengannya, Jaebum mengerang. Ia begitu dipuaskan di dalam sana. Lubang Youngjae begitu hangat dan memijat kejantanannya, membuatnya merasakan sensasi yang tidak bisa diungkapkan dalam barisan kata.
"Holy shit,sebentar lagi aku sampai—"
Mata Youngjae membulat, sepertinya Jaebum menyemburkan cairannya di dalam. Ia selalu lupa untuk menarik kejantanannya ketika ingin orgasme—pantas saja Youngjae dibuat hamil olehnya. Sudah mencapai puncak, Jaebum merebahkan tubuhnya ke samping sembari menarik Youngjae lebih dekat. Ia mengesampingkan poni pendek wanita itu lalu mengecup keningnya yang berkeringat.
"Hah, coba saja aku beristirahat cukup kemarin, pasti aku masih bercinta denganmu," Jaebum mencubit pelan hidung yang menjadi salah satu pelengkap wajah cantik wanita di hadapannya saat ini. Youngjae mendengus, ia sudah tahu karena kejantanan Jaebum di bawah sana masih tegang.
"Tidurlah. Aku tidak ingin mendengar atasanku ketahuan sedang tertidur saat memimpin rapat besok." sahut Youngjae. Wanita itu bangun, berniat untuk kembali ke kamarnya. Tapi Jaebum menahan tangannya.
"Ada apa?" tanya Youngjae. Jaebum menariknya ke dalam sebuah pelukan yang erat, tidak ada niatan untuk membiarkan Youngjae pergi dari sisinya.
"Tidur di sini saja. Aku ingin memelukmu dalam tidurku."
.
.
Jaebum mengerutkan keningnya ketika secercah cahaya menyerang matanya. Ia membuka kelopak matanya, mendapati jendela kamar yang sudah terbuka, membiarkan udara sejuk masuk ke dalam ruangan.
Pria itu beranjak dari ranjangnya, berniat untuk membereskan pakaian kerjanya yang semalam ia lempar kemana-mana. Namun ia bingung, kamarnya telah bersih dan rapi—tidak ada lagi pakaian yang berserakan di lantai mau pun sofa. Kemana semua pakaiannya?
Ah. Choi Youngjae.
Jaebum berjalan keluar, mencari wanita yang membawanya ke dalam tidur nyenyak semalam. Dan ia menemukan sosoknya sedang berdiri di depan counterdapur, membelakangi posisinya.
Choi Youngjae sudah terlihat anggun dari sisi belakang. Rambut panjangnya yang tersisir rapi menjuntai sampai punggung, tubuhnya dibalut dengan kamisol putih berenda yang longgar dan celana pendek—menampilkan lekuk mempesona yang tidak diketahui banyak orang. Pagi ini, Youngjae bagaikan seorang malaikat yang bermandikan sinar matahari, sangat cantik.
Bukankah tidak masuk akal jika Jaebum tetap mengatakan bahwa ia tidak menaruh perasaan terhadap Youngjae selagi detak jantungnya bertambah seiring waktu setiap ia melihat sosoknya?
Iya, benar.
Jaebum telah jatuh hati pada seorang Choi Youngjae, tapi ia tak mau mengakuinya.
Pria itu menatap lekat Youngjae, memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukannya. Ia mengambil tempat duduk, tangannya membawa secangkir minuman—sepertinya itu susu. Setelah nyaman dengan posisinya, Youngjae mengelus perut buncitnya sembari tersenyum ayu.
"—Mama akan membawamu ke dokter nanti siang. Kamu senang tidak?"
Kepala Jaebum seperti dihantam batu beratus ton. Ia mengepalkan tangannya, kedua alisnya telah bertaut.
Entah kenapa, Jaebum tidak suka mendengar kalimat itu.
to be continued.
pojokers:
sorry for slow-update! aku enggak sempat terus megang laptop, dan mumpung libur, aku selesain chapter dua secepat mungkin (kemarin aja selesai ketik un-betaed sampe jam setengah tiga pagi oml).
thankyou buat semua yang sudah review, follow, dan favorite! aku sama sekali ga nyangka bakal ada yang baca fanfic ini hehe.
kebanyakan banyak yang bingung ya sama alur ceritanya. kenapa bummie sama onje terlibat dalam perjanjian, terus kenapa onje hamil, kenapa jaebum gamau ngakuin anaknya, dan masih banyak lagi tanda tanya. tenang aja kok, satu per satu pertanyaannya pasti terjawab—ikutin aja terus ceritanya, hehehehehe.
mind to give me feedback?
