Chapter 2. Uji Coba.
.
.
Dalam rangka ulang tahun Sehun, jadi ini hadiah dari lolipopsehun untuk kalian semua yang ingin cerita ini dilanjut.
.
.
#HappyBirthdaySehun
Also, this is HunHan again because I miss them so much.
Don't forget to review.
ENJOY
.
.
"Darimana saja, Oh Sehun?" tanya Chanyeol saat sehun baru saja masuk ke dalam rumah. Pria itu hanya mendengus ringan, melirik jam tangannya sekilas, kemudian duduk di meja makan samping Chanyeol dan Jongin yang sedang mengunyah makanan mereka.
"Kau pikir darimana aku pergi?" balas Sehun kesal.
Jongin tertawa, kembali mengunyah makanannya. "Bersenang-senang dengan tugas kuliah?"
"Apa perlu kalian bertanya," kembali, Sehun mendengus sebal.
Chanyeol dan Jongin hanya tertawa renyah mendengar ucapan pria yang lebih muda dari mereka itu. Yah, mereka berdua sudah sering dan nyaris bosan mendengar keluhan Sehun. Tentu saja, untuk otak setumpul itu, pasti sulit bagi Sehun menyelesaikan semua tugas kuliahnya.
"Oh ya, mereka sudah mengirim hadiahnya," ucap Chanyeol, mendadak saja membuat Sehun menegakkan tubuh dan memandangi pria itu dengan kerutan dalam di kening.
"Mereka sudah mengirimnya?" seolah tak mendengar ucapan Chanyeol, pria itu menanyakannya lagi.
"Kenapa tampak terkejut sekali?" tanya Jongin, kali ini sama bingungnya.
Sehun hanya menggelengkan kepala, mencoba mengingat ucapan Luhan tadi siang –ya, Luhan, gadis yang menggodanya habis-habisan. Luhan bilang akan mengantarkan hadiahnya secara langsung, tapi kenapa malah mengirimkannya melalui rekening bank.
Aneh sekali.
"Mereka mengirim semua hadiahnya?" ucap Sehun.
Chanyeol mengangguk semangat. "Semua. Bahkan mereka tidak memotong biaya pajak,"
"Coba saja cek rekeningmu," sahut Jongin acuh.
Sehun hanya mengangguk, tanpa sadar dalam hati kecewa. Tentu saja, ia berharap bertemu lagi dengan Luhan saat gadis itu mengantar hadiahnya secara langsung. Hanya bertemu, yah, meskipun Sehun dalam hati berharap hal lain.
Dan ia agak menyesal tidak meminta alamat atau nomor untuk menghubungi Luhan.
Sehun bisa saja mengunjungi kantor gadis itu, tapi ia tak punya alasan kuat untuk bertemu. Bukankah urusannya dengan Luhan sudah selesai sekarang.
Tanpa sadar, Sehun menghela napas berat dan itu membuat kedua orang sahabatnya memandanginya dengan bingung, lagi-lagi tak bisa membaca pikiran pria berwajah pucat itu.
"Kenapa kau tampak kusut sekali, Oh Sehun?" tanya Chanyeol, terlalu penasaran untuk diam.
Sama dengan pria itu, Jongin juga memandangi Sehun dengan bingung. Mereka berpikir seharusnya Sehun senang karena masalah keuangan sudah selesai, tapi kenapa pria itu malah tampak sedih sekarang.
"Apa kau menyesal?" tanya Jongin tiba-tiba saja, dan itu membuat baik Chanyeol maupun Sehun bingung.
"Apa maksudmu?" balas Sehun.
Jongin hanya mengangkat bahu acuh. "Sepertinya kau tampak tidak cerah," ia berhenti sebentar untuk menatap Chanyeol. "Jadi kupikir mungkin saja kau menyesal sudah mengikuti kompetisi itu,"
Sehun tersenyum ringan. "Tidak, aku tidak menyesal," balasnya singkat, kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar mandi masih dengan langkah gontai.
Meninggalkan dua orang sahabatnya yang masih bingung dengan tingkah pria itu.
Ada apa dengan Sehun?
.
.
Sehun menggeliat malas, ini masih terlalu pagi untuk bangun sebenarnya, tapi perutnya yang berbunyi tak memberinya pilihan lain selain bangun dan mencoba tetap hidup dengan makan. Ini akhir pekan, jadi pasti Sehun harus menyiapkan makannya sendiri. Yah, biasanya Chanyeol akan dengan senang hati memasak, tapi di akhir pekan, kedua orang sahabatnya itu pasti sudah sibuk dengan kegiatan tidak penting di kampus.
Keduanya memang sudah gila dengan meluangkan waktu berharga akhir pekan untuk acara kegiatan kampus.
Baru saja Sehun duduk sambil menikmati kopi paginya setelah mandi, suara bel rumahnya yang berdengung nyaring mau tak mau membuatnya beranjak untuk membuka pintu. Sungguh, Sehun akan mengutuk siapa saja yang mengganggu waktu akhir pekannya.
Tanpa melihat siapa yang datang melalui intercom, Sehun membuka pintu dan pria itu langsung membulatkan mata saat melihat siapa yang datang. Sehun sampai harus mengusap mata beberapa kali karena tak mempercayai pengelihatannya sendiri.
"Hai, Sehun. Apa kabar?" ucap gadis mungil itu, melambaikan tangannya di depan wajah Sehun yang masih tampak seperti melamun.
Pria itu tidak menunjukkan perubahan raut wajah sama sekali, ia hanya memandangi gadis dihadapannya dengan tatapan takjub yang tak bisa ia sembunyikan. "Apa yang kau lakukan disini, Luhan?"
Luhan tersenyum, mengangkat bahu acuh sambil menggoyang-goyangkan plastik putih besar yang ia bawa. "Merindukanku?" ia nyengir. "Aku hanya mengantarkan hadiah tambahan," ucapnya saat Sehun masih saja tampak melamun seperti orang bodoh.
Sehun mengernyit. "Hadiah tambahan?"
Luhan mengangguk semangat, senyum lebarnya mengembang. "Boleh aku masuk?"
Sehun mengerjap beberapa kali, kemudian dengan bodoh menggeser tubuhnya, mempersilahkan Luhan masuk. "Ah ya, masuklah,"
Sambil tertawa-tawa kecil, gadis itu masuk, kemudian bibir mungilnya bedecak kagum. "Wah, kau tinggal di tempat yang bagus," bisik gadis itu sambil masih mengedarkan pandangan ke seluruh rumah Sehun.
"Tidak terlalu bagus,"
"Kau tinggal sendiri?"
"Tidak," bisik Sehun, pria itu berjalan kearah dapur untuk mengambilkan Luhan minuman dingin. "Aku tinggal dengan dua orang teman,"
"Ah, benarkah? Temanmu wanita?"
Sehun tertawa renyah, memberikan satu gelas air dingin pada gadis itu. "Semuanya pria," ia mempersilahkan Luhan untuk duduk. "Kenapa kau bertanya?"
Luhan hanya mengangkat bahu acuh. "Hanya saja, tempatmu ini bersih sekali,"
"Ya, salah satu temanku memang penggila bersih-bersih," dan Sehun membayangkan wajah Chanyeol saat mengatakan hal itu. Luhan hanya menganggukkan kepala ringan, tidak berkomentar lagi. "Ah ya, aku sudah terima hadiahnya. Terima kasih,"
"Sama-sama, Sehun. Itu kan sudah hakmu," balas gadis itu, kembali meminum air putihnya.
Dan Sehun menelan ludah kasar saat melihat bagaimana bibir berwarna merah Luhan melingkupi pinggiran gelas. Dalam otak kotornya, ia sudah membayangkan bagaimana jika kejantanannya yang menggantikan pinggiran gelas beruntung itu. Sehun sudah bisa membayangkan bagaimana tekstur dan rasa bibir Luhan yang memabukkan, ia bisa mengingat semua rasanya dengan benar.
Bibir mungil itu luar biasa cantik.
"Sehun, apa yang kau lihat?" suara Luhan membuyarkan lamunan kotor Sehun, gadis itu memandangi gelas ditangannya bergantian dengan wajah Sehun.
Pria itu berdeham gugup, menelan ludah kasar saat pandangannya matanya bertemu dengan mata jernih Luhan. "Tidak ada," sahutnya.
"Kau aneh sekali,"
"Entahlah," pria itu berbisik, duduk perlahan di samping gadis yang sedang memandanginya bingung itu. "Ngomong-ngomong ada urusan apa datang kemari?"
Bibir Luhan mengerucut lucu, ia sedikit merengut. "Memangnya aku tak boleh mengunjungimu?"
"Bukan begitu, Luhan," sahut Sehun cepat-cepat. "Aku senang kau datang, tentu saja. Kukira kau tidak akan mengunjungiku karena, ya kau tau, hadiahnya sudah dikirim,"
Luhan tersenyum lebar. "Sudah kubilang aku membawa hadiah tambahan," ia mengambil kantung plastik putih besar yang dibawanya sejak tadi, kemudian nyengir.
"Apa itu?"
"Kau tau kan aku bekerja di perusahaan ayahku?" Sehun mengangguk ringan. "Kemarin aku lupa memberikan ini padamu,"
Luhan mengulurkan plastik besar itu pada Sehun dan dengan kerutan dalam dikening, pria itu membukanya. Dan Sehun membuka mulut lebar-lebar saat membuka bungkusan itu. Demi Tuhan, Sehun tak mengira hadiah tambahan yang Luhan berikan akan seperti ini.
"Ya Tuhan," bisik pria itu, takjub saat tangannya mengambil bungkusan besar dari balik plastik putih itu.
Luhan menahan tawa. "Ini produk perusahaan kami,"
"Dan kau memberikan sebanyak ini?"
Luhan hanya mengangkat bahu acuh sambil nyengir. "Ini produk baru yang masih harus kami kembangkan. Jadi–,"Luhan menggantungkan kalimatnya, kemudian mendekatkan wajah kearah Sehun. "Sepertinya semuanya butuh uji coba,"
"Uji coba, kau bilang?" pria itu menatap Luhan dengan pandangan tak percaya. "Kau ingin aku mencoba semua ini, Luhan?"
"Ya, ini demi perusahaan juga,"
Sehun menelan ludah kasar. "Mungkin butuh waktu berbulan-bulan untuk memakai semua ini dan Ya Tuhan, kau pikir aku meniduri banyak gadis setiap malam?" Sehun mulai kesal saat membalik-balikkan beberapa kotak kondom.
"Aku tidak keberatan datang setiap malam,"
"Tunggu dulu," bisik Sehun, sedikit menarik tubuhnya sendiri ke belakang. "Apa maksudnya kita harus mencoba semua ini?" Sehun mengangkat bungkusan itu ke atas, menunjukkannya pada Luhan.
Gadis itu nyengir. "Kau tak mau?"
"Ah, bukan begitu," sahut Sehun. "Well, jujur saja aku tidak begitu suka,"
"Denganku?"
Sehun tertawa renyah. "Bukan, Luhan," ia mengusapkan jemarinya, merapikan helaian rambut Luhan yang sedikit berantakan. "Aku tidak suka memakai, well, pengaman," pria itu nyengir.
Luhan terkikik geli. "Kenapa begitu?"
Sehun mengernyit. "Kau tau kan," ia berhenti sebentar. "Itu sesak dan tidak nyaman,"
Bibir Luhan mengerucut lucu, "Sayang sekali," bisiknya. "Apa kedua temanmu suka menggunakan kondom? Aku bisa meminta mereka melakukan uji coba kalau begitu,"
Sehun nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Kau kan belum kenal mereka,"
"Aku juga belum mengenalmu saat menunggangimu beberapa hari lalu,"
Sehun mendesah ringan. "Oke, aku akan memakainya. Uji coba, kan?"
"Ya, uji coba," gadis itu nyengir.
Sementara Sehun hanya memandangi Luhan dan beberapa kotak kondom itu bergantian. Dalam hati berpikir, entah dosa atau bukan sehingga ia harus bertemu dengan gadis gila seliar Luhan.
.
.
"Kau mau yang mana?" tanya Sehun, membuka beberapa kardus kondom sementara Luhan sudah berbaring di atas ranjang Sehun dengan hanya menggunakan pakaian dalam.
"Terserah,"
Sehun membalik-balikkan kotak-kotak itu, membacanya satu persatu. Demi Tuhan, bahkan Sehun belum pernah melihat kondom sebanyak ini dalam hidupnya. Mungkin jika ia menjual ini secara online, Sehun akan mendapat banyak uang.
"Aku tak tau, kau mau ini?" Sehun mengangkat satu buah kotak kondom berwarna hitam.
Luhan berpikir sebentar. "Itu tak ada rasanya," balas Luhan.
Sehun menghampiri gadis itu, kemudian membuka kotak kondom di depan wajah Luhan. "Tapi ini lucu, aku belum pernah melihatnya,"
"Lucu?" Luhan tergelak.
"Lihat saja, ini glow in the dark,"
"Di supermarket sudah banyak, Oh Sehun,"
"Kau bilang terserah,"
Luhan mendengus malas. "Baiklah, oke. Kita pakai yang itu dulu," Luhan menarik tubuhnya untuk duduk, kemudian meregangkan ototnya yang kaku –melakukan sedikit pemanasan sebelum memulai olahraga yang sebenarnya.
Sementara Sehun juga mulai meregangkan otot-ototnya. "Berapa kali malam ini?"
Luhan berpikir sejenak. "Setelah menghabiskan seharian untuk bermain-main, aku sedikit lelah," bisik gadis itu.
Dan Sehun mendengus kesal. "Sial, aku menghabiskan seluruh waktu libur akhir pekanku untuk mengantarmu belanja,"
Gadis itu membalas dengan tawa renyah menyenangkan. "Kau sendiri yang bilang mau membelikanku baju saat aku berkunjung, tapi kau belum beli, jadi aku harus beli sendiri,"
"Oke, cukup sudah," balas Sehun sementara gadis itu nyengir. "Buka bajumu, jangan buang waktu lagi. Aku tak tau kapan Jongin dan Chanyeol pulang,"
Luhan merengut kesal, dengan malas membuka celana dalamnya sendiri. "Bagus kalau mereka pulang cepat, lebih baik bermain bersama-sama, kan?"
"Tidak," sahut Sehun cepat. "Aku tidak suka main bersama-sama," pria itu sudah membuat tubuhnya sendiri telanjang.
"Wow, aku tak pernah tau kau punya tubuh sebagus itu,"
Sehun tertawa renyah, duduk diatas ranjang samping Luhan. "Kau kan sudah pernah lihat di dalam siaran langsung,"
Jemari mungil gadis itu menelusuri leher hingga perut Sehun yang terbentuk sempurna. "Beda saja, ini lebih nyata,"
Dan pria itu tergelak keras. "Tampak menikmati sekali, Luhan. Kau belum pernah lihat tubuh telanjang seorang pria atau bagaimana?"
"Diam," bentak gadis itu. Sehun masih tertawa sementara Luhan sudah mendorong tubuh pria itu agar terlentang di atas ranjang dan mulai merangkak naik diatasnya.
"Kau akan menaikiku lagi?" btanya Sehun dan gadis itu hanya mengangguk lucu sambil nyengir. "Sepertinya kau suka mengendalikan ya?"
"Apakah terlihat seperti itu?" balasnya, bibir basah gadis itu sudah bergerak menelusuri leher hingga dada Sehun, membuat desahan tertahan pria itu sedikit terdengar.
"Sial," umpatnya saat bibir Luhan menghisapi pinggulnya dengan kuat. "Kenapa bibir mungilmu bisa senakal ini?"
Luhan menahan tawa sementar bibir dan lidahnya mulai membasahi paha dalam Sehun. "Kalau kau memilih kondom rasa apel, kejantananmu mungkin bisa merasakan mulutku juga,"
"Bisa aku berubah pikiran dan memilih rasa apel?"
Luhan menarik wajahnya dari selangkangan Sehun dan menyeringai. "Terlambat, sayang," bisik gadis itu dengan suara berat. "Selalu ada konsekuensi dari setiap pilihan," ia tertawa lagi.
Selesai mengecupi seluruh permukaan tubuh telanjang Sehun, gadis itu mulai duduk diatas paha Sehun, sedikit menggerak-gerakkan tubuhnya, hingga pusat tubuh Luhan yang basah dan panas menempel. Sehun menelan ludah kasar, imajinasi liarnya mulai membayangkan adegan demi adegan yang pernah Luhan lakukan padanya.
"Mana kemarikan, Sehun," bisik gadis itu, dan Sehun menyerahkan kondom di tangannya. Luhan membukanya, kemudian melirik lampu kamar Sehun. "Ini sudah agak gelap, kan?"
Sehun mengikuti pandangan gadis itu. "Ini sudah paling redup,"
"Oke," balas Luhan, gadis itu merobek bungkusan alumunium foil dengan giginya kemudian meletakkan plastik elastis berbentuk gulungan itu di depan bibir. "Begini cara memasang pengaman yang benar,"
"Apa yang–,"
Sehun tidak melanjutkan kalimat saat Luhan memasukkan kejantannya ke dalam mulut –dan berusaha memasangkan gulungan plastik elastis itu agar melingkupi kejantanan Sehun dengan lidahnya. Ia bisa mendengar suara desahan tertahan pria itu, tapi Luhan tak peduli.
"Ya, kau benar, itu cara terbaik," bisiknya dengan suara berat.
Luhan melepaskan mulutnya, kemudian sedikit mengernyit. "Rasanya tidak enak," gerutunya, kemudian berdecak kagum saat melihat hasil karyanya sendiri. "Wah, itu sungguh menyala, Sehun,"
Pria itu tak bisa menahan tawa. "Memang menyala, kau ini bagaimana. Bekerja di perusahaan kondom tapi tidak tau kondom glow in the dark,"
Luhan mengerucutkan bibir lucu, ia mencondongkan tubuhnya kedepan untuk menerima ciuman panas pria itu. Sehun selalu bisa membuatnya gila dengan sentuhan bibir dan lidah. Pria itu selalu mencium dengan panas, terburu-buru, cepat, dan basah hingga membuat napasnya berantakan.
Bibirnya basah karena mulut dan lidah Sehun, sementara tubuh bagian bawahnya basah karena gairah.
"Oke, Sehun, berhenti," rengek Luhan, ia menarik bibirnya dari ciuman pria itu dan terengah-engah. "Kau bisa membunuhku jika menciumku seperti itu," dengusnya kesal.
"Maaf," Sehun nyengir. "Kau terlalu manis, sayang,"
"Pembual,"
Luhan hanya tersenyum, ia menarik tubuhnya mundur dan mengangkat pinggulnya sedikit. Sebelah tangannya menyentuh kejantanan Sehun yang menyala sementara ia mulai mencari jalan masuknya sendiri.
"Oke, masukkan," Sehun terkekeh ringan saat melihat gadis itu kepayahan.
"Diam, brengsek," ucap Luhan, kemudian mendesah ringan saat kejantanan Sehun benar-benar sudah memenuhinya dengan sesak. "Sial, Oh Sehun,"
"Sial," desis pria itu dengan kasar, sementara Luhan mulai bergerak-gerak gelisah diatas tubuhnya.
Luhan mengerang kasar saat ia menaik turunkan tubuhnya sendiri diatas kejantanan Sehun. Desahan kasar gadis itu terdengar putus asa, dan gerakan tubuhnya mulai tak bisa ia kendalikan sendiri. Sehun mencengkeram pinggul Luhan dengan kuat, berusaha membantu tubuh gadis itu agar naik turun dengan cepat diatas tubuhnya sendiri.
Sehun menggeram kasar, mendesahkan nama Luhan keras-keras.
"Ya Tuhan, Sehun, kau benar-benar luar biasa," Luhan mulai meracau, ia masih berusaha menggerakkan tubuhnya lebih cepat. Napasnya berantakan, matanya terpejam erat, sementara bibirnya terbuka lebar dan kepalanya menengadah tinggi-tinggi ke atas.
Sehun terkekeh ringan memandangi wajah Luhan yang sangat menggoda. Tubuh telanjang gadis itu sedikit mengkilap karena keringat, sementara wajahnya memerah.
"Kau cantik, Luhan," bisik Sehun, masih mencengkeram pinggul gadis itu untuk membantunya bergerak lebih cepat.
"Dan kau luar biasa keras, Oh Sehun, sial,"
Ucapan gadis itu membuat Sehun tertawa renyah, ia bisa merasakan tubuh gadis itu mencengkeram kejantanannya lebih erat lagi, lebih panas dan lebih licin dari sebelumnya. Sehun berusaha membantu Luhan mencapai puncak kenikmatannya sendiri, berusaha membuat gadis itu lega.
Dan hanya beberapa saat berlalu, Luhan mengerang kasar. Ia merasakan panas berlomba-lomba turun dari perut menuju pusat tubuhnya sendiri, kemudian panas itu membakar Luhan sepenuhnya. Luhan terguncang, merasakan panas membasahi tubuhnya hingga melingkupi kejantanan Sehun yang masih memenuhinya dengan sesak.
Gadis itu mendesahkan nama Sehun, terengah-engah sementara ia masih berusaha kembali pulih dari pelepasan gairah dahsyatnya. Sementara Sehun menahan tubuh lemas gadis itu agar tidak terkulai jatuh.
"Sudah?" tanya Sehun, memandangi gadis itu dengan kepala miring dan tersenyum lebar.
Luhan menggerutu. "Ya, sial, sudah,"
"Kau masih saja mudah menyerah,"
"Ya, brengsek," ia mendengus kasar.
Sehun mendorong gadis itu kebelakang hingga tautan tubuh mereka terlepas dan suara desahan ringannya terdengar lagi. Pria itu membalikkan tubuh Luhan hingga kepalanya menghadap ke bawah, membuat gadis itu bertumpu pada lutut dan sikunya sendiri.
Sehun menggoda gadis itu di depan pintu masuknya. "Kau bisa mengatasinya, Luhan?"
"Ya, jangan menggodaku, sial. Masukkan saja,"
Sehun menampar pantat gadis itu sedikit keras dan membuatnya mengerang tertahan. "Selalu tidak sabaran,"
Luhan tidak menjawab, gadis itu sibuk mengerang sementara Sehun mendorongnya dengan kasar dari belakang. Pria itu mencengkeram pinggul Luhan kuat-kuat, menarik dan mendorong tubuh gadis itu dengan tempo gila. Sehun mendorongnya dengan kasar, keras, kuat, dan memenuhi Luhan dengan sesak.
Gerakan tarik ulur pria itu bisa membuat Luhan menggila, kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Bahkan Luhan sudah tidak bisa mengingat namanya sendiri saat Sehun mendorong kejantanannya lebih cepat dan lebih dalam lagi.
"Lebih keras, Sehun," dan pria itu menampar pantat Luhan sekali lagi dengan kasar. "Sial,"
Sehun masih mendorongnya dengan kasar, terus menuntut Luhan hingga gadis itu nyaris menyerah lagi. Ia tidak berhenti bahkan saat Luhan memekik, mencengkeramnya lebih erat lagi, hingga napas gadis itu terdengar tersengal-sengal, nyaris habis.
Dan luhan memekikkan nama Sehun saat ia menerima pelepasan gairahnya untuk kedua kali. Gadis itu membasahi kejantanan Sehun yang masih bergerak-gerak dengan kasar di dalam tubuhnya. Sungguh, Sehun sama sekali tidak memberinya jeda untuk berhenti sebentar.
Ia mencengkeram pinggul Luhan lebih kuat lagi agar tubuh gadis itu tidak terkulai jatuh ke atas ranjang. Sehun menahannya sementara ia berusaha menyelesaikan hasratnya sendiri, berusaha menyelesaikan pelepasannya yang semakin mendekat.
"Luhan," ia berbisik dengan suara berat, gadis itu hanya menjawab dengan gumaman putus asa, kepalanya sudah terkulai lemas sementara tubuhnya masih dipaksa tetap tegang. "Kau yakin produkmu ini tidak akan bocor?"
"Sial," erangnya saat Sehun mendorong lebih cepat. "Jangan meragukan perusahaanku, brengsek,"
Sehun tertawa renyah. "Ya, tentu saja. Aku juga tak meragukanmu,"
Sehun mendorongnya lebih cepat, dan Luhan bisa merasakan kejantanan pria itu semakin memenuhinya dengan sesak, kemudian tanpa sadar pria itu mencengkeram pinggul Luhan lebih kuat lagi, mendorong lebih keras lagi.
"Oh Sehun," Luhan memekik saat gairahnya terlepas lagi.
"Sialan," ucap Sehun saat pria itu melepaskan semua gairahnya di dalam tubuh Luhan.
Pria itu menghentaknya sekali untuk menyelesaikan pelepasannya, kemudian mengecupi punggung telanjang Luhan sebelum melepaskan tautan mereka. Sehun tertawa renyah melihat Luhan yang kehabisan napas di bawah tubuhnya.
"Menikmatinya, Luhan?" pria itu membalikkan tubuh Luhan untuk mencium bibirnya dengan lembut, berusaha menenangkan meskipun itu hanya membuat napas Luhan semakin berantakan.
Luhan mendorong dada pria itu menjauh dan Sehun melepaskan tautan mereka. "Sial, Sehun. Kau bisa membuatku kehabisan napas,"
Sehun tertawa renyah, bertumpu pada lengannya, ia masih berada di atas tubuh Luhan untuk mengecupi leher dan dada gadis itu. "Bagaimana rasa produkmu sendiri?"
Gadis itu terkikik geli, mengangkat tubuhnya sedikit untuk melepaskan kondom bekas dari kejantanan Sehun, kemudian menggoyang-goyangnya plastik berisi cairan putih itu di depan wajah Sehun. "Tidak bocor, kan?" ia menyombongkan diri.
Sehun mengangguk beberapa kali. "Sudah terbukti," balasnya sambil nyengir. "Kau juga sudah terbukti," dan keduanya tertawa renyah. "Bagaimana, kau menyukai teksturnya?"
"Kondomnya lembut dan kau keras. Itu kombinasi sempurna,"
Pria itu hanya tersenyum, mengecupi bibir Luhan lagi dengan lembut. "Siap mencoba produk lainnya malam ini, Luhan?"
"Tak bisakah kau memberiku jeda?"
Sehun hanya menjawab dengan tawa keras saat melihat gadis itu memejamkan mata dengan wajah lelahnya.
.
.
"Kalian sudah pulang?" Sehun nyaris berteriak dari arah dapur saat mendengar suara pintu yang dibuka.
"Ya, menurutmu bagaimana," itu suara Chanyeol dan Sehun terkekeh rng. "Apa yang kau lakukan di dapur, Oh Seh –Ya Tuhan, hai," sapa Chanyeol saat melihat Luhan yang tersenyum dari balik wastafel. Gadis itu melambaikan tangan untuk menyapa Chanyeol dan Jongin.
"Hey," sahut Jongin, memandangi Sehun dan Luhan bergantian dengan wajah bingung.
"Kenalkan ini Luhan, temanku," ucap Sehun dengan cengiran lebar.
"Teman?" ulang Jongin sambil melirik Luhan yang hanya memakai kemeja panjang milik Sehun tanpa menggunakan celana.
"Ya, teman," Luhan membenarkan.
"Wah, aku belum pernah melihatmu sebelum ini," ucap Chanyeol, mengulurkan tangan dan Luhan menyambutnya.
Luhan tersenyum. "Aku baru dua kali bertemu dengan Sehun,"
Dan kedua orang pria itu memandangi Sehun dengan wajah bingung. "Dua kali bertemu, Oh Sehun?" Chanyeol sedikit menggoda temannya itu.
"Kenapa?" gerutu Sehun sebal. "Luhan ini anak pemilik perusahaan yang memberikan hadiah pada kita,"
Chanyeol dan Jongin sedikit terkejut mendengar itu. "Wah, aku harus berterima kasih untuk itu,"
"Jangan berterima kasih padaku, aku hanya salah satu pegawai biasa. Itu perusahaan ayahku," kembali, gadis itu nyengir.
"Dan kau mengunjungi Sehun sebagai teman?" Jongin sedikit ragu saat mengucapkan itu, ia meringis, takut itu akan menyakiti hati Luhan.
"Luhan datang untuk mengantar hadiah tambahan," jelas Sehun.
"Hadiah tambahan?" ulang Chanyeol, masih bingung.
Sehun dan Luhan hanya tertawa, tidak menjawab pertanyaan itu. Tapi pria itu berjalan kearah ruang tamu untuk mengambil kantung plastik besar yang Luhan bawa tadi. Masih dipandangi dengan bingung, Sehun mengeluarkan isi kantung itu dan membuat kedua pria di depannya membuka mulut lebar-lebar.
"Luhan menyuruhku melakukan uji coba untuk produk barunya,"
"Sial," bisik Jongin dan Chanyeol nyaris bersamaan.
"Ini terdengar gila, kan?" Luhan nyengir. "Kalian mau uji coba juga?"
Chanyeol nyaris tersedak ludahnya sendiri sementara Jongin lupa cara menutup mulut. "Men-coba-nya?" tanya Chanyeol tergagap.
Luhan mengangguk semangat sementara Sehun menahan tawa. "Hanya untuk melihat apakah itu bocor atau tidak dan hanya memastikan teksturnya lembut,"
"Kau menyuruh kami mencoba semua kondom ini?" Jongin nyaris tak percaya dengan ucapannya sendiri sebenarnya.
Sehun tergelak. "Uji coba, dude. Uji coba,"
"Kalian sudah punya pacar?" tanya Luhan. Kedua pria itu mengangguk kaku. "Bagus sekali, kalian bisa pakai semua ini dan melaporkannya padaku,"
Chanyeol dan Jongin kehabisan kata.
"Jongin bilang ingin menjadi bintang film dewasa," ucap Sehun dan Jongin memukul punggung pria itu kuat-kuat.
"Oh ya?" Luhan berbinar-binar.
"Jangan dengarkan dia," sahut Jongin kesal. "Itu cuma bercanda,"
"Kalau kalian mau, perusahaan kami mencari model, loh," Luhan tertawa-tawa lucu saat mengatakannya.
"Apa kau bilang?" Jongin dan Chanyeol mengatakannya bersamaan.
Luhan nyengir, menatap Sehun yang mengangguk ringan. "Kalian hanya akan difoto dari pinggul hingga bawah," ucap Luhan. "Dan uang yang kalian dapat juga lumayan. Bagaimana? Tertarik?"
Chanyeol dan Jongin memandangi Sehun dengan raut wajah bingung, sementara pria itu mengangkat bahu acuh. "Coba saja, bukankah kalian ingin mencoba hal gila?" ucap Sehun sambil terkekeh ringan.
"Bagaimana denganmu?" tanya Jongin.
Sehun menggelengkan kepala. "Aku tidak akan menjadi model kondom, sudah kubilang kan aku tidak ingin kejantananku go international," bisiknya dan Luhan tertawa renyah. "Aku akan menjadi penguji coba saja,"
"Tuh kan," Luhan menambahkan. "Kalau kulihat, kalian ini memenuhi syarat, kok," gadis itu memandangi tubuh Chanyeol dan Jongin dari atas hingga bawah.
"Memenuhi syarat, kau bilang?" Sehun mencibir. "Kau tau, Luhan, kejantanan mereka kecil," tambahnya. Jongin dan Chanyeol hanya mengumpat kesal.
"Kalau kalian tidak keberatan, aku bisa lihat dulu, kan?"
Refleks, Chanyeol dan Jongin mundur, menutupi bagian bawah tubuhnya dengan tangan. "Melihatnya?" Jongin nyaris membulatkan mata.
"Sedikit saja," bisik Luhan. Ia memandangi Sehun sedikit dan pria itu menatapnya bingung.
"Kau akan melihatnya?" tanya Sehun, bingung.
Luhan mengangguk semangat. "Ya, Sehun. Sedikit saja, kok,"
"Tidak, Luhan. Jangan," sahut Chanyeol, mulai gugup saat Luhan berjalan mendekat.
Luhan menyeret tangan kedua pria itu dan memaksa mereka duduk di sofa. "Tidak akan lama, sebentar saja, kok," ulang gadis itu, berusaha meyakinkan. Ia duduk bertumpu di depan Chanyeol dan Jongin yang mulai gugup.
Kedua orang pria itu menelan ludah kasar, menatap Sehun meminta bantuan sementara Sehun hanya menggelengkan kepala ringan, raut wajahnya masih bingung.
"Luhan, ini benar-benar ide buruk. Kau tak mungkin kan menelanjangi Chanyeol dan Jongin?" kata Sehun.
Gadis itu menoleh ke belakang untuk melihat Sehun. "Aku hanya memeriksanya saja, janji tidak akan menunggangi mereka," ia nyengir.
Sementara Chanyeol dan Jongin terkejut mendengarnya.
"Oke, Luhan. Apa tak bisa orang lain yang memeriksanya?" ucap Chanyeol.
Luhan menggeleng. "Kalian malu?" ragu, Chanyeol dan Jongin mengangguk. "Baiklah, aku tak akan membuka celananya,"
Chanyeol dan Jongin baru saja mendesah lega saat Luhan mengatakan hal itu, tapi detik selanjutnya napas keduanya tercekat saat tangan Luhan meraba bagian depan celana mereka. Luhan meremasnya sedikit sementara Chanyeol dan Jongin menahan napas.
"Luhan," bisik Chanyeol dengan suara berat, ia memandangi Sehun dan pria itu hanya menggelengkan kepala.
"Sebentar saja," ucap Luhan, masih meremas kejantanan Chanyeol dan Jongin dari balik celana. "Hanya hingga ini sedikit membesar saja," tambah Luhan, kembali fokus pada pekerjaannya –membuat kejantanan Chanyeol dan Jongin membengkak. "Tahan sebentar,"
"Sial," Jongin mendesah tipis.
"Oke, sudah," Luhan melepaskan tangannya sementara kedua orang itu mendesah sebal. Tentu saja, kesal karena gadis itu sudah selesai. "Sepertinya kalian lolos, ukurannya pas, kok. Kalau memang berminat, bisa menghubungiku saja,"
Sehun tertawa, menarik tubuh Luhan untuk berdiri sementara dua orang pria dihadapannya mengatur napas yang mulai berantakan. "Ya, kalian bisa kerja paruh waktu," tambah Sehun.
Pria itu menarik Luhan menuju lantai atas. "Senang bertemu denganmu, Chanyol dan Jongin," Luhan nyaris berteriak saat Sehun mendorong tubuhnya masuk ke dalam kamar.
"Luhan, aku ingin bicara denganmu,"
"Ya, kau sudah bicara," bisik gadis itu, mengalungkan tangan ke leher Sehun dan naik dalam gendongannya. BIbirnya mengecupi bibir Sehun sekilas, melumatnya dengan lembut dan pria itu duduk di atas ranjang masih dengan Luhan diatas pangkuannya.
"Aku serius," bisiknya dari balik bibir Luhan.
"Ya, sayang. Katakan saja,"
Sehun mendesah ringan. "Bagaimana kalau kau menjadi kekasihku saja?"
Luhan mengernyit, menarik wajahnya untuk melihat pria itu. "Kenapa?"
"Hanya saja," Sehun tidak lanjut bicara.
"Kau takut aku akan menunggangi Jongin dan Chanyeol?" tanya Luhan. Pria itu tampak ragu, tapi samar ia mengangguk ringan.
"Ya, Luhan," ia menundukkan kepala, merasa bodoh dan malu sekarang.
Alih-alih menertawai Sehun, gadis itu malah memeluk Sehun erat-erat. "Ya, aku mau, Sehun," ucapnya ringan.
"Serius?" Sehun menarik gaids itu dari pelukannya dan menatapnya dengan pandangan tak percaya.
Luhan mengangguk ringan. "Agar aku tidak menyentuh Jongin dan Chanyeol, kan?"
"Luhan, serius," gerutunya.
Gadis itu tergelak, mengecupi bibir Sehun beberapa kali. "Ya, aku serius. Aku mau, Sehun. Tapi apa kau pikir ini tidak terlalu cepat?"
"Kau bahkan menunggangiku saat pertama kali bertemu,"
"Ah ya, kau benar,"
"Kurasa kita cocok, Luhan,"
Luhan mengernyit. "Cocok?"
"Sama-sama gila,"
Dan keduanya hanya tertawa renyah, mungkin selanjutnya, Sehun akan mendengar suara desahan Luhan hingga pagi menjemput.
Mengabaikan kedua orang temannya di bawah sana yang mungkin sedang tersiksa sekarang.
Masa bodoh.
.
.
FIN (2)
.
.
#happySehunday
KOK DILANJUT SIH? GATAU AH KENAPA INI DILANJUT!
Jangan tanya apakah ada FIN (3) hahaha
Aslinya ini FF udahan tapi sayang kalo distop disini jadi dilanjut dalam rangka ulang tahun Sehun. Hari ini update barengan kaka DEARLU09 tersayang. Check debut PWP dia ya. Emang dalam rangka hari ulang tahun Sehun ini, kami berdua lagi pengen ngasih kado PWP HunHan hahahaha.
Also, ini juga buat kaka-kaka di bawah naungan grup extrakulikuler ARTHUR KIM, HUNHANSLAYS, BEIBIEXOL, XIUGARBABY, PARKD. Nih buat kalian semua, udah ada kondom glow in the dark-nya, kan?
Udah itu aja.
Kalian yang baca ini WAJIB review kalo enggak awas aja ya! Nanti dikirimin Luhan kondom ke rumah kalian baru tau rasa HAHAHA
Maaf kalo ini kurang panas karena lolipopsehun masih baru belajar bikin PWP.
Yaudah, jangan lupa komen ya.
Makasih.
With love,
lolipopsehun
