Love In Apartment
.
.
Summary : Apa jadinya jika seorang anak pejabat seperti Sakura, bertemu dan memutuskan untuk tinggal bersama dengan Sasuke, tukang susu keliling idola para wanita yang tampan tapi menyebalkan.
.
.
Special thanks to :
Nurama Nurmala, 4ntk4-ch4n, Fidya Raina Malfoy, Me, Imechan, Rizuka Hanayuuki, Sasusaku phoreper, Michiko Michiharu, Bell-chan, Tsumuji Nijikawa, Uryu Ryu Yu Ryuzaki, Shirayuki-Asahara
Dan semua silent readers yang telah meluangkan waktunya untuk membaca fic ini ^_~
.
.
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance
Warning : AU, OOC, Typo(s), ide pasaran, Aneh bin abal, dan masih banyak lagi
Enjoy the fic ^_^
.
.
Kedua alis Sasuke nyaris bertaut melihat sesosok gadis aneh yang kini tengah terbaring di atas kasur empuknya. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding lalu mendengus sebal. Siapa yang tak marah jika apartemennya dimasuki orang tak dikenal dan dengan seenak jidatnya pingsan begitu saja karena berhasil melihat tubuh polos Sasuke yang aduhai. Pemuda itu memijit kening dan menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi. Sepertinya keperjakaan yang susah payah dijaganya selama bertahun-tahun harus berakhir sampai disini.
"Eng..." suara pelan gadis itu menyadarkan Sasuke dari lamunannya. Ia menegakkan tubuh dan berjalan pelan mendekati sang gadis dengan tampang sangar.
"Di mana ini?" Sakura memicingkan matanya sambil menggaruk-garuk kepala pinknya.
"Di kamarku, Bodoh. Pergi sekarang dari apartemenku." Tanpa basa-basi dan kata pengantar, Sasuke langsung mengusir gadis itu. Sakura mendongak dan seketika matanya membulat melihat pemuda yang tengah berdiri di hadapannya. Bayangan tubuh atletisnya praktis terlintas di otak mesum Sakura. Ia langsung menunduk dengan pipi yang memerah.
Melihat wajah Sakura yang merona, tentu saja telinga dan wajah tampan Sasuke ikut-ikutan merona bak tomat busuk. Apa lagi yang dipikirkan oleh gadis itu selain kejadian laknat tadi.
"Jangan berpikiran macam-macam ya, Gadis gila. Apa saja yang kau lihat, hah?" Sasuke menunjuk-nunjuk hidung Sakura.
Sakura hanya bisa menundukkan kepala sembari memain-mainkan jarinya. Bingung mau menjawab apa. Ia menggigit bibir sebelum membuka suara.
"A-aku memang melihat semuanya. Tapi tenang saja. Hanya sekilas kok. Aku kan sudah pingsan duluan." Sakura mencoba memberikan pembelaan.
"Tenang katamu? Kau sudah melihat semuanya dan kau bilang tenang. Kau gila," ucap Sasuke agak keras.
Sakura mendelik. "Kau yang gila. Siapa suruh telanjang seperti itu. Bukan salahku kalau aku melihatnya," sergahnya lagi.
"Lupa ya? INI APARTEMENKU!" jawab Sasuke ketus seraya menyentil dahi lebar Sakura.
Gadis itu meringis sambil mengelus-elus jidatnya yang memerah karena sentilan Sasuke. "Maaf, aku lupa."
"Apa lagi yang kau tunggu? Keluar dari tempatku sekarang juga. Ini jam dua malam. Aku mau tidur." Sasuke menarik lengan gadis itu agar segera beranjak keluar dari apartemennya. Pemuda itu menyeret Sakura keluar dan bersiap menutup pintu apartemennya namun dengan kilat tangan mungil Sakura menahan pintu dan memaksa untuk masuk.
"Aku juga mau tidur. Numpang..." rengek Sakura sambil menarik-narik ujung kaos Sasuke dengan tampang memelas. Berharap pemuda itu mau membukakan pintu maaf dan pintu apartemennya lebar-lebar.
"Hey, apa-apaan kau. Lepas! Pergi! Hush!" Sasuke mengibas-ngibaskan kaosnya agar cengkeraman Sakura terlepas.
"Kalau kau tidak mengizinkan aku untuk masuk, aku akan berteriak agar penghuni di sini terbangun dan menghajarmu," ancam Sakura seraya berkacak pinggang. Ia berdiri tegak di depan pintu apartemen Sasuke seolah menantang pemuda di depannya.
Sasuke menyeringai. "Silahkan. Kau orang asing. Paling-paling kau yang akan dihajar." Sasuke terkekeh pelan lalu bersiap menutup pintu apartemennya.
"Aku akan berteriak dan mengatakan bahwa kau mencoba memperkosaku."
'SREK.'
Sakura menyobek lengan gaunnya hingga bahunya sedikit terekspos. Hal itu kontan membuat Sasuke membuka kembali pintu apartemennya dan menyenderkan bahu di kusen pintu.
"Kau mengancamku? Coba saja kalau berani," tantang Sasuke balik. Ia mulai kesal karena jam tidurnya yang berharga harus hilang begitu saja karena gadis aneh ini.
Sakura tersenyum singkat, menarik nafas, dan...
"KYAAA!"
oOo
Seorang pria berambut perak tampak memijit-mijit pelipisnya sambil sesekali menenangkan wanita disampingnya yang sedang menangis tersedu-sedu.
"Sudahlah, Rin. Jangan menangis terus. Kau membuatku pusing," bujuk Kakashi sembari mengelus-elus punggung istrinya yang sesenggukan.
Rin mendelik dan menarik rambut jabrik suaminya dengan sebal. "Tentu saja aku menangis, Suami bodoh. Sakura menghilang dan kita tak tahu dia ada di mana. Bagaimana kalau ada yang menculiknya?" Rin menangis lagi dengan raut wajah yang dramatis dan sinetronis.
Kakashi menghela nafas panjang. Mencoba mendinginkan kepala karena sudah dikatai bodoh oleh istri sendiri. Ia memang khawatir dengan putri semata wayangnya. Namun berbekal pengalaman pribadi di masa lalu, pria itu yakin jika Sakura pasti akan baik-baik saja. Sejak kecil, Sakura sudah diajari oleh Tsunade bagaimana cara memukul orang dengan baik dan benar. Kakashi sendiri sudah pernah merasakan nikmatnya bogeman mentah Sakura di punggungnya. Ayahnya saja dihajar, apalagi orang lain.
"Tenang saja, Rin. Tidak akan ada apa-apa dengan Sakura. Aku sudah menyuruh Ibiki untuk mencari informasi. Lagipula kalau dia hilang, kita kan masih bisa membuat penggantinya," Kakashi mencoba mencairkan suasana dengan candaannya.
Rin menoleh ke arah suaminya dengan wajah bringas. "Kalau dia hilang, aku juga akan menghilangkanmu, Kashi."
Kakashi langsung hening.
"Eng... Nyonya, benar apa kata Kakashi-san. Anda tidak perlu khawatir. Kita perlu istirahat." Giliran Maito Guy yang buka suara. Kalau boleh jujur, Guy sendiri sudah kebelet ingin pulang. Hanya karena anaknya yang kurang ajarlah, dengan terpaksa ia ikut nimbrung untuk mencari keberadaan Sakura yang menghilang.
"Hiks... Hiks... Sakura-chan di mana? Jangan-jangan dia kabur karena tidak ingin dijodohkan. Hiks... Hiks..." Lee mencoba berspekulasi sambil mengusap bulir-bulir air mata yang jatuh di pipinya.
Kakashi menatap malas ke arah Lee. Ini lagi satu. Kalau mau jujur, ia sendiri ingin menyuruh Guy dan Lee untuk segera angkat kaki dari rumahnya. Hanya karena Guy adalah koleganya, dengan terpaksa ia harus berlapang dada menerima keberadaan Guy dan Lee yang tiba-tiba saja ikut-ikutan nimbrung mencari keberadaan Sakura. Agak menyesal kenapa ia harus bertemu dengan duo alis tebal ini pada saat di restoran tadi.
"Benar juga. Mungkin Sakura minggat karena tidak ingin dijodohkan. Bagaimana ini, Kashi?" Rin makin histeris.
"Itu pasti. Kalau saja Sakura-chan dijodohkan denganku pasti ia tidak akan lari." Lee lebih histeris.
Kakashi sweatdrop. Sakura memang tidak akan lari, namun akan langsung tewas di tempat jika yang akan dijodohkan dengannya adalah Lee. Setidaknya itu menurut Kakashi.
"Lebih baik kita istirarahat. Kita akan menunggu informasi dari Ibiki dan akan memulai pencarian sesegera mungkin. Selamat malam," putus pria itu menyudahi diskusinya.
oOo
Mendengar teriakan Sakura, praktis membuat Sasuke melotot dan dengan sigap langsung membekap mulut Sakura serta menyeretnya masuk ke dalam apartemen dan menyandarkan gadis itu ke dinding. Tidak disangkanya sama sekali, bahwa Sakura berani untuk menjerit sekeras itu.
"Kau gila? Bagaimana kalau pemilik apartemen ini mendengar. Aku bisa diusir, "desisnya tepat di telinga gadis itu. Sakura yang masih dibekap hanya bisa manggut-manggut.
Tiba-tiba saja terdengar derap langkah yang tergesa-gesa menuju apartemen Sasuke. Namun belum sempat Sasuke melepaskan bekapan tangannya pada Sakura, pintu telah dibuka dan menampakkan sesosok pria yang kini tengah menatap Sasuke dan Sakura dengan mata terbelalak.
Seorang pemuda merangkul dan membekap seorang gadis dengan baju yang tersobek serta tubuh yang saling merapat di dinding. Sungguh pemandangan yang luar biasa.
"I-ini tidak benar. Kau sudah berani membawa wanita ke dalam apartemenmu dan berbuat yang tidak-tidak." Pria tersebut menunjuk-nunjuk Sasuke dengan raut wajah pucat.
Sasuke dan Sakura sontak menjauhkan diri.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Kakuzu-san. Aku bisa menjelaskannya." Sasuke mencoba membujuk si pemilik apartemen yang masih menatapnya dengan mata membesar.
"Tidak perlu dijelaskan. Segera bayar biaya apartemen bulan ini dan angkat kaki dari sini. Kau bisa mencemarkan nama baikku." Kakuzu menggerak-gerakkan tangannya sebagai isyarat untuk meminta uang pada Sasuke.
"Ini cukup?" Sakura yang sedari tadi hanya diam saja langsung mengacungkan segepok uang tepat di wajah Kakuzu. Tanpa tedeng aling-aling, tangan lentik Kakuzu dengan cekatan menyambar uang yang ada di genggaman Sakura.
"Ok. Selamat bersenang-senang," Kakuzu berkata seraya melemparkan senyum termanis yang ia punya.
Sasuke mendecih. "Bukankah kau bilang aku bisa mencemarkan nama baikmu?" tanyanya datar.
"Yang mana ya?" Kakuzu balik bertanya dengan gaya sok amnesianya. Sasuke mencibir. Ia sudah hafal dengan tabiat Kakuzu. Memang dasarnya matre, lihat uang sedikit saja pasti langsung lupa ingatan.
"Akhir-akhir ini aku memang sensitif. Maafkan aku mengganggu waktu kalian. Silahkan beristirahat," lanjutnya lagi seraya keluar dari apartemen sambil melambaikan tangan sok akrab.
Sakura menutup pintu apartemen lalu berbalik ke arah Sasuke sembari tersenyum.
"Mulai hari ini, aku juga berhak tinggal di apartemen ini. Selamat malam." Sakura berjalan santai melewati Sasuke yang masih terpaku pada posisinya.
"Hey, kau mau ke mana, Bodoh?" tanya Sasuke sambil menatap malas ke arah gadis pink itu.
"Ke kamar. Ngantuk," jawab Sakura acuh tanpa menoleh ke arah Sasuke.
"Kau pikir itu kamarmu. Kau tidur di sofa." Sasuke segera menyusul langkah Sakura untuk mendahuluinya.
Gadis itu menahan lengan Sasuke. "Aku ini wanita, Tuan. Kau saja yang tidur di luar. Kau bukan banci kan? Selamat tidur." Dengan tidak sopannya Sakura langsung masuk dan menutup pintu kamar.
"Sialan," gerutu Sasuke. Pemuda itu beranjak menuju sofa dan membaringkan tubuhnya yang lemas. Tak ada waktu untuk memikirkan kesialannya hari ini. Dalam hitungan menit, pemuda itu pun telah terlelap di alam bawah sadarnya.
'Semoga mimpi buruk ini cepat berakhir.'
oOo
Sakura merentangkan tangannya lebar-lebar seraya menguap. Staminanya sudah lumayan pulih mengingat malam kemarin adalah malam yang cukup melelahkan baginya.
Dengan perlahan ia keluar dari kamar dan meneliti seisi apartemen. Tak ada tanda-tanda keberadaan pemuda itu di dalam apartemen. Sakura menghela nafas lega. Paling tidak ia tidak perlu lagi melihat tampang jutek pemuda berambut spike itu.
'Kriuk.'
Sakura memegangi perutnya yang keroncongan. Ia kemudian melangkah menuju dapur. Berharap ada pengganjal perut di dalam sana. Tidak lucu kalau ia harus mati kelaparan di tempat seperti ini.
Senyumnya berkembang ketika melihat semangkuk bubur daging dan segelas susu telah bertengger manis di atas meja. Ia tersenyum kecil. Namun keningnya sedikit berkerut melihat secarik kertas di samping gelas. Sakura mengambil kertas itu dan mulai membacanya.
Hey gadis mesum, ini sarapan untukmu. Aku berangkat kerja dan akan pulang sekitar jam 3. Aku harap aku tak melihatmu lagi setelah aku pulang kerja.
Salam tidak damai,
Sasuke.
Sakura merengut kesal. Enak saja si Sasuke itu mengusirnya begitu saja. Ia sudah berbaik hati merelakan uangnya dalam jumlah besar untuk diberikan pada Kakuzu. Jangan harap ia akan pergi dari sini. Lagipula tempat ini tidak terlalu mencolok. Cocok sebagai tempat persembunyiannya untuk sementara waktu. Peduli amat dengan Sasuke. Ia suka atau tidak, Sakura akan tetap tinggal di sini.
oOo
Sakura menselonjorkan kakinya di bawah meja sembari menekan-nekan tombol remote TV. Setelah mandi dan berganti dengan pakaian yang ia pinjam tanpa izin dari lemari Sasuke, ia malah menjadi semakin mengantuk dan bosan. Ia melirik jam dinding dan mendesah pelan. Jam setengah empat. Tapi si unggas itu belum pulang juga. Jangan salah mengira kalau ia merindukannya. Hell no. Gadis itu hanya benci dengan suasana senyap seperti ini. Paling tidak dengan kehadiran Sasuke, akan ada yang bisa diajak berkelahi.
'Ting Tong.'
Sakura mengernyit. Tidak mungkin Sasuke menekan bel terlebih dahulu untuk masuk ke apartemennya sendiri. Anak itu kan tidak sopan. Sakura bergegas menuju ke arah pintu dan membukanya perlahan. Ia menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan bingung.
"Sasuke? Kenapa wajahmu?" tanyanya sambil mengarahkan telunjuknya tepat di depan wajah pemuda itu.
Si pemuda hanya bisa mengerutkan dahi. "Kenapa wajahku?"
"Cepat sekali kau keriputan. Padahal kemarin garis keriput itu tak ada di wajahmu," jawab Sakura polos.
Jawaban Sakura praktis membuat bibir pemuda itu meruncing. "INI BUKAN KERIPUT DAN AKU BUKAN SASUKE!" pekiknya tak terima.
"Jangan berteriak di tempat orang, Baka Itachi!" Sasuke yang baru saja datang tiba-tiba menyela. Ia menyeka peluh yang mengalir di dahinya dan langsung masuk tanpa memedulikan Itachi yang masih berada di ambang pintu.
"Begitu cara menyambut kakakmu, hah?" Itachi mengekor masuk lalu merebahkan diri di atas sofa.
"Kau kakaknya ya? Pantas mirip," Sakura bertanya sambil menatap Itachi lekat-lekat.
"Ya. Aku kakaknya. Dan ini bukan keriput," Itachi mengulang kalimat terakhirnya. Masih tak rela dikatai keriput oleh gadis itu.
"Ngomong-ngomong kau siapa? Jangan-jangan kau istri Sasuke, ya?" tanyanya dengan serius.
Sakura melotot menatap Itachi. "Sembarangan. Aku tidak mungkin menikah dengan orang miskin, pelit, dan judes seperti dia," jawabnya ketus.
Itachi tampak menahan tawa dan sedetik kemudian ia pun tertawa lepas. "Sasuke, kau dikatai miskin dan pelit lho. Hahaha..." Itachi berkata pada Sasuke yang baru saja muncul dari arah dapur.
Sasuke memutar bola matanya. "Biarkan saja dia berkata seenak jidatnya yang lebar itu. Lagipula dia akan segera pergi dari sini," sahutnya datar.
Sakura tertawa sinis. "Ingat ya. Kau punya hutang padaku. Aku sudah menyelamatkanmu dari Kakuzu. Aku tidak mau pergi."
"Akan kuganti uangmu. Tapi secara angsuran." Sasuke duduk di samping Itachi seraya mengibas-ngibaskan tangan tak peduli.
Gadis itu mendecih. "Kau pikir aku tukang kredit barang. Aku tidak terima cicilan. Kalau tidak bisa bayar kontan sekarang, suka atau tidak, aku tidak akan pergi," sahutnya lagi.
Sasuke membuang muka tanpa mengeluarkan suara. Gadis ini makin ditanggapi akan semakin liar dan menyebalkan. Lebih baik didiamkan saja.
"Sudahlah, Sasuke. Lagipula aku ingin bicara denganmu." Itachi mencoba menengahi. Ia kemudian mengalihkan pandangan padke arah Sakura.
"Maaf, kita belum berkenalan. Aku Uchi—"
"Dia Takizawa Itachi. Cukup panggil Itachi," sela Sasuke. Itachi memandang adiknya sekilas lalu mengangkat bahu.
"Aku Haruno Sakura," katanya memperkenalkan diri.
"Haruno? Sepertinya cukup sering kudengar. Kau asli Suna atau dari luar kota?" tanya Itachi. Keningnya sedikit mengernyit.
Sakura menggeleng cepat sambil tertawa hambar. "Harunoki. Harunoki Sakura. Panggil saja Sakura. Aku dari Iwagakure."
Sasuke dan Itachi saling berpandangan lalu menatap Sakura sekilas. Sasuke menarik nafas pelan dan berkata, "baiklah. Kau akan tinggal di sini. Tapi sebelumnya pergilah ke dapur. Buatkan aku dan Itachi minuman." Ia mengibaskan tangan menyuruh Sakura agar segera pergi dari hadapannya.
Sakura manyun. "Baik, Tuan," jawabnya sambil memencong-mencongkan bibir.
Sesaat setelah sosok Sakura meninggalkan mereka, Itachi mulai angkat bicara. "Gadis itu agak aneh."
"Dan mesum," Sasuke melanjutkan. Itachi tertawa singkat lalu menepuk-nepuk bahu pemuda di sampingnya.
"Apa kabar, Otouto? Lama tak berjumpa." Itachi melirik Sasuke seraya tersenyum kecil.
Sasuke menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. "Jangan basa-basi, Itachi. Apa yang ingin kau bicarakan?"
Pemuda berambut panjang itu mengubah raut wajahnya menjadi lebih serius dan memandang Sasuke dengan tajam.
"Pulanglah, Sasuke. Ini perintah."
TBC
Author's note :
Lega deh... Akhirnya bisa update juga. Urusan makin banyak bikin kepala makin puyeng. Jadi ya gitu deh... Ngetiknya disempet-sempetin pas ada waktu luang.
Tidak lupa saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua yang udah baca & review. Berkat kalian, fic ini masih bisa dilanjutin. Makasih ya :) Peluk dan cium hangat untuk kalian semua *Dirajam readers*. Buat yang belum review, ayo review *teriak pake toa mesjid*... hehehe...
Trus gimana dengan chap ini, Minna? Tambah jelekkah atau tambah aneh? Komentar, saran, & kritik (yang membangun) sangat dibutuhkan lho ^_^
Akhir kata
Mind to review?
