A/N : Update~~~~
Yuka : to the Te~ Ka~ Pe~
Len : gak bacod dulu nih?
Nova : kelamaan Len.
Summary : In the distant future where supernatural power is commonly found. Len Kagamine, a boy with the power of ESP, along with Kaito Shion, who is also an Esper, thrown into the world that they never see. The world where fairies live.
Vocairy : Another World
.
Disclaimer : I don't own any of these characters, except this story.
Beauty as the beast by Kaori Sadohara.
Warning : Gaje (sudah pasti), Typo (kalau ada), pendek, aneh, ajaib, bahasa gahol ada disini, ada OC yang gaje kepemilikan nya, dll. dst. dsb.
.
.
Don't like? Must Like! Hahahaha...
#gue serius!
.
[ All in normal PoV ]
Rumah Kaca Kerajaan – Unknown Place...
"Miku... apa kau yakin ini akan berhasil?" tanya seorang cewek berambut honey-blonde pendek, memakai empat jepit rambut berwarna kuning dan pita putih yang diikat dengan indah di atas rambut nya.
"Tentu saja Tuan Putri." Ucap perempuan yang dipanggil Miku. Dia memiliki rambut yang panjang berwarna hijau yang diikat pony tail ke depan. (Yuki : belakang udah mainstream. XD | Miku : gue bantai lu Author!). Ehem... gak jadi. Miku memiliki rambut hijau panjang yang diikat twin tail yang akan bergerak mengikuti gerakan kepala nya.
"Huft! Sudah ku bilang jangan panggil aku dengan 'Tuan Putri'. Panggil aku Rin!" seru Tuan Putri menggembungkan pipi nya.
"Hehehe. Oke Rin-hime-sama~." Ucap Miku mencubit kedua pipi sang Tuan Putri.
"Lwepwaskwan."
"Hahaha." Miku tertawa lepas melihat sang Tuan Putri yang semakin menggembungkan pipi nya kesal.
"Ku harap Kaa-san akan cepat sembuh." Ucap Rin lirih. Miku menghentikan tawa nya, dan memegang bahu Rin.
"Pasti. Aku kan The Herbalist that Never Was." Ucap Miku bangga.
"Kata seorang penggila negi." Respon Rin dengan senyum gaje.
"Negi itu enak tau!" Miku protes.
"Ya... ya... ya..." Kalau Miku sudah berbicara tentang negi, akan susah selesai nya. Jadi Rin hanya pergi mencari tanaman obat yang lain.
"Hey! Jangan pergi Rin-chan!" Miku mengejar sang Tuan Putri.
-0o0-
Ruang bawah tanah – Unknown Place...
"Rei, ini surat nya. Aku telah menyelesaikan surat ini secepat yang aku bisa." Ucap Rui sambil menyerahkan sebuah surat berwarna putih kepada kakak kembar nya, Kagene Rei.
"Baiklah terima kasih." Rei mengambil surat itu. "Ku harap siapa pun yang mendapat surat ini bisa membantu kita mengalahkan 'dia' dan mengakhiri mimpi buruk ini." Lanjut nya. Rui mengangguk.
Kemudian mereka berdua pergi ke ruangan yang lain.
KLEK
Rei membuka pintu berwarna coklat di depan nya pelan. Rui mengikuti dari belakang.
"Oh, ada apa Rei, Rui?" Ucap seorang perempuan yang duduk di atas meja sambil membawa botol yang aroma nya sangat khas di tangan kanan nya.
"Meiko. Aku ingin kau mengirim surat ini ke dunia lain." Jawab Rei sambil menunjukkan surat di tangan kanan nya. Orang yang dipanggil Meiko kaget.
"Kau ingin minta bantuan para hantu?" tanya Meiko.
"Bukan baka! Maksud ku dunia yang lain. Kalau teori ku benar, maka ada dunia yang lain yang berhubungan dengan dunia kita." Ucap Rei.
"Kau tau. Aku sangat tertarik dengan teori mu itu." Ucap Meiko. "Pertama kali aku membaca buku "Teori Dunia Gaje" milik mu, aku tidak bisa berhenti tertawa selama dua jam, hyahahaha." Lanjut Meiko sambil tertawa. Dia ingat ketika dia menerima sebuah buku dari sahabat nya tentang dunia paralel. Dia mengira bahwa sahabat nya sudah gila.
"Terima kasih atas pujian nya Meiko." Jawab Rei 'senang'.
"Tapi..." Meiko mengusap air mata yang ada di sudut mata nya. "... bagitu aku membaca isi dari buku mu, aku jadi tertarik untuk menemukan dunia yang lain itu." Lanjut Meiko.
"Kalau begitu kau mau membantu kami kan?" tanya Rui. Meiko meletakkan botol sake nya di atas meja lalu turun ke lantai.
"Tentu saja." Jawab Meiko. Kemudian dia mengambil surat yang ada di tangan Rei.
"Kau ingin aku mengirim surat ini kemana?" tanya Meiko.
"Aku ingin kau mengirim surat itu ke koordinat 'dun14-94j3-51-b4k4uth0r-n0v4'." Jawab Rei sambil menyerahkan selembar kertas yang berisi koordinat tujuan.
"Kau yakin?" tanya Meiko lagi.
"Ya. Karena hanya dari koordinat itu saja yang menunjukkan adanya gelombang tsunami-#plak! Maksud ku gelombang radio dan Ultrasonic yang cukup gaje." Jelas Rei mantab.
"Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar." Ucap Meiko lalu menghidupkan sebuah mesin. Jangan tanya mesin apa itu karena aku juga tidak tahu. :D #dikroyok
BIP
Bzzzrrtttt
KLAP KLAP
Mbeek(?)
Meong(?)
"..." Rei dan Rui hanya bisa sweatdrop di tempat.
"Ok, sekarang untuk koordinat nya..." Meiko kemudian mengetikkan koordinat tujuan yang diberikan oleh Rei.
"Daaaannn... mainkan~." Ucap Meiko sambil menekan tombol berwarna biru bertuliskan 'Send'.
TING
TING
TING
TING
Bzzzttt
Aku yang dulu bukan lah yang sekarang~
Dulu ditendang sekarang ku digiring(?)~
Dulu dulu dulu ku menderita~
Sekarang aku pun sengsara~
DEMI TUHAAAAANNN~~
DUAAAARRRRRRRRRR
"..." Rei dan Rui makin sweatdrop.
"Oke, pesan sudah terkirim. Sekarang bayar!" seru Meiko sambil mengulurkan tangan kanan nya.
"Heh! Kau bilang ingin membantu ku?" Rei protes.
"Di dunia yang gaje ini, gak ada yang gratis Rei. Sekarang bayar!" seru Meiko dengan nada penagih hutang.
"#%$%!" Rei menggumam bahasa Planet Mars dan menyerahkan beberapa koin emas.
"Terima kasih. Senang berbisnis dengan anda." Ucap Meiko mengedipkan salah satu mata nya. Rei dan Rui muntah berjamaah.
"Kalau ada sesuatu beritahu kami. Kami ada di tempat biasa." Ucap Rei lalu pergi dari ruangan itu diikuti oleh Rui di belakang nya.
"Serahkan pada ku." Jawab Meiko.
-0o0-
Tepi sungai – The City...
"Hanya itu kah kemampuan kalian?" tanya Len yang berdiri dengan tenang dan tersenyum. Di sekeliling nya ada lima cowok yang terbaring di atas tanah.
"Membosankan..." Ucap Len sambil berjalan pergi. Namun, sesuatu menghentikan langkah nya.
'Aura ini...' Batin Len lalu menengok ke belakang.
"!" Mata Len terbelalak kaget karena salah satu dari lima cowok itu berdiri. Tapi bukan itu saja, percikan-percikan petir berwarna kuning juga mengelilingi cowok itu.
'ESP User...' Len mengamati cowok di depan nya dengan serius.
"Ha... Haha... HAHAHA!" cowok itu tertawa keras seperti orang gila, atau memang sudah gila? #plak
"Kau benar-benar menghibur ku bocah." Lanjut cowok itu. Petir mulai menyambar area di sekitar nya.
"Apa kau seorang Esper?" tanya Len.
"Kalau iya kenapa? Nama ku Oliver. Dan aku seorang Esper elemen petir level 5!" ucap cowok itu yang mengaku bernama Oliver.
"Hoo... ku pikir kau itu hanya lah seorang pengecut yang hanya berani melawan cewek lemah." Ucap Len mengejek sambil tetap tersenyum.
Flashback on...
"Berikan sedikit 'umpan' pada lawan mu. Jika lawan mu memakan 'umpan' itu, maka kau sudah bisa melihat kemenangan." Ucap Hibiki-sensei sambil berjalan ke depan murid nya.
"Ingat Len. Emosi mu mempengaruhi teknik bertarung mu." Lanjut nya.
"Aku akan mengingat nya, sensei." Jawab Len mantab.
Flasback off...
'Ayo Oliver... makan 'umpan' ku...' Batin Len berharap.
"Terus lah berbicara bocah karena hari ini akan ku buat kau tidak bisa BICARAAAA!" seru Oliver sambil mengumpulkan energi listrik di tangan kanan nya.
'Dapat...' Batin Len tersenyum senang.
"Raiton : Kiiroi no Hõtengeki!" seru Oliver. Petir yang terkonsentrasi di tangan kanan nya membentuk tombak trisula listrik yang kemudian dilempar ke arah Len dengan kecepatan tinggi.
"Heh." Len tetap diam di tempat nya.
Bzzzzrrrrtttt
BLAAAAARRRRRRR
"Hehe, tamat kau bocah." Ucap Oliver sambil tertawa kemenangan. Perlahan asap yang menyelimuti tempat Len berdiri mulai hilang.
"NA-NANI!" Oliver melangkah mundur. Terkejut karena Len masih berdiri di sana tanpa luka sedikit pun.
"Oi... oi... Apa yang kau lakukan?" tanya Len sambil membersihkan debu yang menempel di seragam nya.
"Ti-tidak mungkin! Bagaimana kau bisa bertahan dari serangan terkuat ku! Kau hanya bocah biasa!" seru Oliver sedikit panik. Belum pernah ada seseorang yang bisa berdiri setelah menerima 'Kiiroi no Hõtengeki' milik nya. Dan sekarang, seorang bocah berdiri dengan senyum gaje nya setelah menerima serangan itu.
'Heh, dia belum tau siapa Len sebenarnya.' Batin Kaito yang dari tadi mengamati pertarungan sahabat nya dari atas pohon apel di tepi sungai.
"Maaf mengecewakan mu Oliver. Nama ku Len Kagamine. Esper elemen petir level 7. Dan aku bukan bocah, aku sudah SMA." Ucap Len tersenyum.
"Le-Level 7! Kau hanya menggertak! Belum pernah ada yang berhasil mencapai level setinggi itu!" ucap Oliver berusaha tenang, tapi tubuh nya berkata lain.
"Hoo... kau ingin mengetes ku? Baiklah." Ucap Len tenang kemudian mulai mengumpulkan energi di tubuh nya.
Bzzzrrtttt
Crip Crip Crip
Suara seperti burung yang berkicau mengiringi petir biru yang 'menari' di sekitar Len.
"!" Oliver berjalan mundur ketika Len menarik nafas dan mengangkat tangan kanan nya ke depan. Perlahan petir biru mulai terkonsentrasi di telapak tangan nya membentuk sebuah bola petir berukuran dua kali lipat ukuran bola basket.
'Ti-tidak mungkin... petir biru hanya bisa diperoleh di level 6 ke atas...' Oliver semakin panik dan bersiap untuk lari.
"Raiton : Aorai no Dogõ." Ucap Len tenang. Bola petir di tangan nya meledak dan melesat dengan cepat ke arah Oliver yang bersiap lari.
Bzzzrtttt
BLAAARRRRRR
Asap berwarna putih menyelimuti tempat Oliver berdiri. Perlahan asap itu mulai menghilang dan menampakkan Oliver yang terkapar di atas tanah. Baju seragam 'Utau Gakuen'-nya rusak di bagian belakang nya.
"O-Oliver-sama!" seru 4 cowok yang berusaha bangun. Kaget pemimpin mereka dikalahkan dengan satu serangan.
"Hei kalian!" seru Len kepada 4 cowok tadi.
"Jangan menyalah gunakan kekuatan kalian atau kalian akan mendapat 'urusan' dari ku." Ucap Len tenang dengan tersenyum ceria, tapi petir di sekitar tubuh nya berkata lain.
"Ba-Baik!" seru ke-empat cowok itu lalu pergi dan menyeret pemimpin mereka menjauh dari tempat itu.
"Kerja bagus Len!" Ucap Kaito turun dari atas pohon.
"Kenapa kau tidak membantu ku BaKaito!" seru Len protes.
"Untuk apa? Kau bisa mengatasi mereka tuh." Jawab Kaito dengan senyum gaje andalan nya.
"Huft." Len ber-huft-ria. Kemudian dia berjalan ke tempat Kaito hingga sebuah surat misterius jatuh dari langit tepat mengenai kepala nya.
"Apa ini? Surat?" tanya Len heran sambil membolak-balikkan surat itu.
"Apa itu Len?" tanya Kaito begitu Len sampai di tempat Kaito.
"Surat dari langit." Jawab Len dengan gaje nya.
"Coba buka." Ucap Kaito. Len mengangguk lalu membuka surat misterius itu.
"Tolong! Kami butuh bantuan!"
.
.
Ucap Len dan Kaito bersamaan. Heran.
"Pasti ini kerjaan anak-anak kurang gaje itu." Ucap Kaito.
"Entahlah Kaito, kurasa ini bukan surat biasa." Ucap Len yang mengamati surat di tangan nya.
"Maksud mu?" tanya Kaito heran.
Seolah menjawab pertanyaan Kaito, surat itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya emas yang sangat menyilaukan. Len dan Kaito spontan menutup mata mereka.
T~B~C
.
Review boleh, gak review gak boleh. :D
#gue duarius!
.
Semua kritik diterima disini.
#gue tigarius!
.
.
A/N : Mungkin sedikit mirip dengan anime Mondaiji blablabla sou desu yo?, tapi hanya bagian surat aja kok, hehehe. #dikroyokparamondaiji
Ehem, bales review~~
To readergaje :
Halo readergaje, saya author gaje, mari kita bentuk klub The Gajest! #plak!
Yuki : Emm, karena update-nya gak ASAP, jadi gue boleh minta golok nya kan? *smile*
Nova : jangaan! *panik*
Arigatõ~.
To Akanemori :
Iya, mungkin... entahlah...ampuni aku!
Yuki : dasar gaje!
Dan iya, Putri nya itu Rin.
Arigatõ~.
To Nisemono Akine :
Terima pake kasih~. :D
Arigatõ~.
To Shinichi Rukia :
Mereka gak normal. *muka polos*
Lenka : Len! Siapin RR!
Len : Ryõkai!
Nova : *kabur duluan*
Lenka : WOI!
Iya, Tuan Putri nya itu Rin.
Arigatõ~.
To rikascarlet37 :
Keren apa gaje? XD XD XD
Beauty as The Beast itu Insert Song-nya anime Mondaiji blablabla sou desu yo?. :)
Arigatõ~.
To kagamika rin :
Semoga makin penasaran dengan kelanjutan Fic gaje saya. #plak
Arigatõ~.
To Yamine Alice :
Len : arigatõ.
Rin : *sweatdrop*
Kaito bisa bela diri juga, dan baka juga-#dilempartrukeskrim, tapi bukan Lui guru nya. :)
Len dan Lenka itu manusia ajaib, hahaha. #dilindas
Arigatõ~.
To flippy :
Len jadi Esper elemen petir. Info lebih lanjut hubungi klinik Nyang Sang(?). :D #dikroyoklagi
Arigatõ~.
To Namikaze Kyoko :
Len : kalau begitu percayalah... percayalah... perrrrrcayalah~ #plak
Hehehe, iya, bukan BakAkito, tapi baKaito harusnya. Gomen~.
Arigatõ~.
To Alfianonymous22 :
Mungkin... tapi aku gak ahli dalam hal romance dan semacam nya, hehehe. #plak
Arigatõ~.
To Nisikagawa Rina :
Silahkan, kalau perlu menyelam juga bisa. XD #abaikan
Mungkin... tapi tunggu aja kelanjutan dari Fic ini sampai tamat. :)
Arigatõ~.
To Azakayana Yume :
Semoga makin penasaran dengan kelanjutan Fic gaje saya. #plak
Len : lu copas dari tulisan di atas?
Nova : *ngangguk tanpa dosa*
Len : *facepalm*
Salam kenal juga. :)
Arigatõ~.
