Title: Blue Gem
Author: Hikari Kou Minami
Disclaimer: Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata, Katekyo Hitman Reborn! © Akira Amano
Genre: Crime, Mystery, Fantasy
Warning: kemungkinan OOC, Future AU, beberapa yang tidak masuk akal, action agak gagal, misteri juga agak gagal, typo/misstype, judul asal.
Note: Uwaaa saya kebanyakan nonton anime fantasi-misteri ini kayaknya. #didapuk. Sama nonton berita juga, ding. #dor. Sebenarnya agak gampang-gampang susah ngetik chapter ini, sayanya aja yang prokras mulu dan semangat ngetiknya yang muncrat pas saya lagi banyak tugas _(:"3 _/ #dibuang. Btw, Namimori daerahnya deket Tokyo nggak, sih? Serius, saya agak lupa. #digiles. Ohiya, ini emang dasarnya HiruMamo. Well, dapet idenya ya mereka sih. U.U Sekali lagi, kalau ada kesalahan teknis, silakan dilaporkan di kolom review~ /o/
Saya tidak memiliki apapun kecuali cerita dalam fanfiksi ini. Tidak ada keuntungan komersil apapun dalam pembuatan fanfiksi ini.
02: Overnight Story
Sawada Tsunayoshi berjalan dengan cepat seraya melewati mobil-mobil yang terlihat mahal yang berjejer dengan begitu berantakan di sekelilingnya. Ia sendiri baru saja keluar dari sebuah mobil hitam yang kini terparkir di bagian paling ujung dari area parkir yang sudah tak karuan suasananya. Kerutan khawatir menghiasi wajahnya meskipun kakinya tetap melangkah dalam tempo yang dirasanya cukup tenang untuk ukuran dirinya.
Baru saja ia mendengar kabar bahwa rencana mereka telah gagal dan target yang mereka lindungi dibawa oleh kawanan mafia yang menjadi lawan mereka sekarang. Sedikit meremehkan berakibat fatal, dan ia mengerti akan hal itu. Hanya saja suasananya terlalu riskan.
Langkah kakinya membawanya ke arah pintu belakang restoran besar tempat kejadian perkara. Suasana ricuh masih terasa kala ia masuk ke dalam ruangan belakang restoran itu—tak kalah dengan suasana yang menyapanya seketika ia melangkahkan kakinya keluar dari mobil. Wanita-wanita bergaun dan pria-pria berjas terlihat melewatinya dengan kecepatan luar biasa. Melewati dapur, terlihat sekumpulan pria dan wanita berpakaian serba putih ala chef dengan ekspresi takut di wajah mereka. Inilah kondisi dimana pria berumur dua puluh dua tahun itu memilih untuk meminta guardian-nya menahan diri.
Sesampainya ia di ruang utama yang penuh dengan meja dan kursi berserakan, terlihat tiga guardian-nya berikut dengan sekumpulan orang yang pernah ia lihat sebelumnya. Seorang pria berambut spiky pirang terlihat sedang berbicara dengan pria yang mendedikasikan dirinya sebagai tangan kanannya. Sepertinya malam ini ia akan berbicara lebih panjang dari biasanya.
"Bonggo... Bonggo apa tadi?" pria dengan plester di hidungnya yang agak mirip kera terdengar sayup mengeja nama dari keluarga mafianya. Untuk ukuran orang Jepang, nama itu memang cukup susah dieja.
"Vongola Family ... kalian itu mafia?" ucap pria yang berambut pirang jabrik dengan wajah serius. Ah, dia pasti Youichi Hiruma yang ditakuti dan sering dibicarakan itu, pikirnya. Sejujurnya ia sendiri juga takut dengan pria ini ketika pertama kali melihatnya. Aura yang dipancarkan pria itu bahkan hampir sama dengan aura Cloud Guardian-nya jika sedang ingin bertarung (dan itu membuat langkah kakinya jadi perlahan—langkah demi langkah).
"Ya, kami adalah mafia," pemuda berambut perak yang mempunyai nama Gokudera Hayato itu mengiyakan terkaan sang pria setan itu. Hijau zamrud milik pemuda itu menatap tidak suka kepada pria di depannya. "Begitu juga dengan orang-orang yang membawa wanita bernama Mamori Anezaki itu,"
"Lalu, apa hubungannya Mafia Sialan itu dengan Manajer Sialan? Aku tak pernah mendengar hal yang berhubungan dengan mafia dari bibir Manajer Jelek itu," tanya Hiruma tanpa mengubah ekspresi di wajahnya.
"Hal itu..."
"Akan kujelaskan, Gokudera-kun," ucap Tsuna menginterupsi ketika langkahnya kini berjarak sekitar lima meter dari mereka.
"Juudaime!" ucap Gokudera dengan wajah yang menyelipkan rasa senang namun juga kecewa sambil menoleh ke arah sang Bos.
"Juuda—SE-SENA?!" Haha Bros diikuti lainnya minus Hiruma dan Musashi mendadak berteriak menyebut nama rekan mereka ketika pandangan mereka bertemu dengan pemuda yang dipanggil "Juudaime" tadi.
"HIEEEE?!" Sementara yang dipanggil mendadak berteriak bebarengan dengan pemuda tadi dengan teriakan yang sama dan ekspresi yang sama ketika menyadari sesuatu yang membuat mereka saling berteriak.
"Kau punya kembaran, Sena?" tanya Monta kemudian seraya menoleh ke arah Sena.
"Hieee, ti-tidak, kok!" bantah Sena kemudian sambil menoleh ke Monta dan yang lainnya. Sementara itu, pemuda yang perawakannya agak mirip dengan Sena terlihat menjadi tenang kembali. Sepertinya ia tahu hal ini akan terjadi, hanya saja tadi dia juga kelepasan kagetnya karena tidak menyangka akan sebegitu miripnya dengan pria atlet American Football itu walaupun ia sudah tahu itu dari awal.
"Benar. Aku bukan kembaran dari Kobayakawa Sena," ucap Tsuna kemudian dengan sikap tenangnya yang telah kembali seperti semula.
"K-K-Kau tahu namaku?" tanya Sena dengan sedikit tergugup. Sikap gugup milik pria ini masih melekat.
"Karena kami memiliki data mengenai kalian semua," jawab Tsuna kemudian. Hijau zamrud milik Hiruma memicing sejenak. "Begitu pula dengan data mengenai keluarga dan tim lawan kalian saat SMA,"
"Kenapa kau bisa memilikinya, Kembaran Cebol Sialan?" tanya Hiruma tegas.
"Hi—"
"Beraninya kau memanggil Juudaime seperti itu!" teriak Gokudera merasa tidak terima.
"Kau tak terima, Rambut Perak Sialan?" ucap Hiruma kemudian sambil menyeringai dan mengangkat AK-47-nya.
"Akan kuledakkan kau, Rambut Jabrik Sialan!" ucap Gokudera lagi sambil mengeluarkan dinamitnya.
"Maa, maa, tenanglah, Gokudera," kata Yamamoto sambil tersenyum.
"Diam kau, Yakyu-baka!" ucap Gokudera lagi.
"Ehem," Tsuna berdeham—mencoba menenangkan kedua belah pihak. "Karena kalian berhubungan dengan Mamori Anezaki," kata Tsuna menjawab pertanyaan dari Hiruma sebelumnya dengan tatapan tajam. Mata coklatnya melirik sekeliling. Gendang timpani-nya mendengar suara langkah kaki berikut sirene khas petugas kepolisian.
"Soal Mamori Anezaki dan siapa sebenarnya kami, akan kujelaskan di Vongola HQ. Akan berbahaya jika kukatakan di sini. Kalian ikuti kami!" ucapnya sambil berbalik dan melangkah dengan cepat diikuti oleh tiga pria yang datang lebih awal tadi. Para mantan pemain Deimon Devil Bats—minus Hiruma—hanya bisa saling memandang hingga kemudian mengikuti dari belakang. Sementara Hiruma hanya memandang kelompok yang menyebut diri mereka mafia itu sejenak, sampai akhirnya kakinya ikut melangkah.
Ruangan itu berdinding metalik dengan pintu besi otomatis yang akan terbuka jika seseorang mendekatinya. Sebuah meja panjang besar tertata di tengah ruangan berikut dengan kursi-kursi yang berjejer mengelilingi meja tersebut dengan rapi. Para mantan pemain DDB—minus Hiruma—tidak menyangka jika bangunan berbentuk rumah yang cukup besar itu adalah markas besar mafia yang terbesar di Italia dan terletak di Jepang.
Vongola Head Quarter—sebutan bagi bangunan besar itu—tidak seperti bangunan milik yakuza yang sering mereka lihat di televisi. Mafia yang ini lebih bekerja di balik layar atau mungkin karena tidak ingin diketahui oleh musuh. Mungkin peralatan mereka juga lebih canggih daripada yakuza biasa, pikir para pemain DDB—minus Hiruma lagi.
"Silakan duduk," Tsuna mempersilakan mereka semua untuk duduk seraya duduk di kursi yang paling ujung sementara tiga guardian-nya berdiri di belakang mereka. Tsuna hanya menelan ludahnya ketika melihat posisi duduk Hiruma yang amat tidak sopan.
"Nah, sekarang, cepat katakan kepada kami semua yang kau tahu, Kembaran Cebol Sialan!" kata Hiruma dengan nada serius. Gokudera yang ingin memaki mendadak terdiam ketika melihat lambaian tangan sang Bos yang memintanya untuk berhenti.
"Baiklah. Akan kujelaskan," jawab Tsuna tenang. "Kami adalah keluarga mafia bernama Vongola Family. Namaku Sawada Tsunayoshi, bos Vongola kesepuluh," katanya seraya memperkenalkan diri. "Meskipun kami memang mafia, namun kami bukanlah seperti keluarga mafia lain yang kalian pikirkan. Kami hanya meneruskan tujuan utama Primo dan leluhur kami sewaktu membentuk Vongola Family ini, yaitu menyelamatkan orang-orang dari para penjahat seperti yang kalian lihat tadi," kata Tsuna mengawali.
"Masuk ke topik utama," Tsuna memberi jeda sedikit. "Mamori Anezaki ... adalah target yang sudah diincar oleh kelompok tadi selama beberapa tahun terakhir ini," lanjutnya kemudian.
"A-APA?!" pekik hampir seluruh mantan anggota DDB. Sementara itu, Hiruma hanya meletuskan permen karetnya seperti biasa, namun dengan pandangan yang tak biasa.
"K-Kenapa bisa? Memangnya apa hubungannya Mamo-nee dengan mereka?" tanya Suzuna tak percaya kalau wanita cantik yang sudah ia anggap seperti kakaknya itu memiliki hubungan apapun seperti kerja sama atau apalah itu. Kalau yang punya hubungan Hiruma, sih, lain cerita.
"Mamori Anezaki memiliki sesuatu yang diincar oleh kelompok itu ... yang sanggup membuat mereka menguasai dunia," jawab Tsuna kemudian.
"Me-Menguasai dunia?!" sekali lagi mereka berteriak. Ini semua sungguh tidak masuk akal. Tadi mafia, sekarang menguasai dunia. Apa memang benar? Ini bukan permainan mafia gadungan, kan? Ini bukan variety show di tv yang suka menjebak orang itu, kan? Ini kenyataan, kan?
"Me-Memangnya apa yang Mamori-neechan miliki?" tanya Sena. Rasanya teman sejak kecilnya itu tidak punya sesuatu yang bisa dikaitkan dengan hal yang berhubungan dengan mafia. Apa ini kesalahan?
"Blue Gem," ucap Tsuna. Hiruma memicing. "Sebuah permata biru berkekuatan suci yang mampu menata ulang seluruh tatanan dunia menjadi sesuai yang diharapkan oleh sang pengaktif permata tersebut," terangnya kemudian.
"S-SERIUS?!" mereka kembali berteriak. Oke, ini memang tidak masuk akal. Orang waras pun mungkin akan ketawa sampai jungkir balik ketika mendengar hal ini, dan mungkin mengira orang-orang di depan mereka ini terkena sindrom anak kelas dua SMP yang sering mereka lihat. Oh yeah, ini bukan anime ataupun manga, ini kenyataan. Apa ada hal semacam itu?
Sesungguhnya mereka ingin sekali tertawa sejak mereka mendengar kata 'menguasai dunia', namun sorot mata tajam Bos Vongola berikut dengan guardian-nya serta sikap Hiruma yang kini menjadi semakin serius, membuat mereka urung melakukannya. Sepertinya ini memang bukan main-main.
"Mungkin ini terdengar tidak masuk akal bagi kalian, tapi ini sangat masuk akal bagi kami," ucap Tsuna kemudian seakan meyakinkan mereka. Berterimakasihlah pada intuisinya yang mampu mendengar isi pikiran mereka. Ia lalu mengingat kembali kejadian yang juga pernah ia anggap mustahil yang terjadi delapan tahun yang lalu ketika ia pertama kali bertemu dengan Reborn serta pertarungan-pertarungan yang menyambutnya kemudian.
"Sepertinya aku kebanyakan baca manga," sahut Togano kemudian.
"T-Tapi ... rasanya benar-benar sulit dipercaya. Ya, kan, Sena?" Monta menoleh ke arah Sena.
"I-Iya," jawab Sena sambil meringis.
"Apakah Anezaki-san tahu akan hal tersebut? Lalu, kenapa mereka baru menangkapnya sekarang?" terdengar Musashi mengambil bagian untuk berbicara—membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Dia tidak tahu akan hal tersebut. Menurut penyelidikan kami, permata itu sendiri ditanam dalam tubuhnya sejak ia masih bayi oleh seseorang," jawab Tsuna. "Soal kenapa baru sekarang, itu masih dalam pencarian kami,"
"Lalu, apa rencana kalian?" gilliran Hiruma yang bertanya.
"Kami akan pergi ke Poveglia Island lusa," jawab Tsuna. Hiruma mendelik. "Kami mendapat informasi dari Hibari-san bahwa tempat untuk mengaktifkan kekuatan permata itu berada di sana dan mereka akan mengaktifkannya sepuluh hari lagi. Kami berencana merebut kembali Anezaki Mamori secepatnya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," katanya. "Kalian bisa beristirahat di sini dan kembali ke Deimon besok," lanjutnya lagi. "Serahkan saja kepada kami. Kami pasti akan menyelamatkan Anezaki Mamori!" ucap Tsuna meyakinkan.
"Kekeke, sayangnya, aku tidak mau kembali ke kota jelek itu," sahut Hiruma kemudian seraya berdiri dari duduknya. "Karena Manajer Sialan adalah alat yang sangat berguna bagi tim sialanku dan dia masih ada utang strategi sialan yang tadi sempat ia buat yang tersimpan dalam tasnya," katanya lagi. "Jika kalian ingin pulang, pulang saja. Aku takkan menahan kalian ataupun memaksa kalian untuk ikut, dan Manajer Sialan itu juga sudah bukan manajer kalian lagi. Jadi kalian bebas memi—"
"A-Aku..." Sena memotong perkataan Hiruma. "Aku akan ikut Hiruma-san," lanjut pria berambut coklat karamel itu. "Dari dulu, Mamori-neechan selalu menolongku. Kini giliranku untuk menolongnya," tambahnya lagi dengan ekspresi yang terlihat siap.
"A-Aku juga MAX!" Monta mendadak ikut berbicara. "Aku tidak bisa diam kalau sampai Mamori-san terluka!" Kalau demi Mamori, pria berwajah mirip monyet ini memang akan melakukan apapun.
"Monta!" sahut Sena senang.
"Aku juga akan ikut," ucap Juumonji kemudian. "Bagaimanapun juga, dia juga menjadi manajer Saikyoudai Wizard," tambahnya lagi seraya menyebutkan tim yang paling disegani dalam pertandingan amefuto tingkat perguruan tinggi tersebut yang merupakan timnya.
"Kalau Kazu-nii ikut..." kata Kuroki.
"... kami juga harus ikut!" sambung Togano kemudian dengan senyum mantap di bibir mereka.
"Kami tidak akan mundur seperti waktu Death March dulu!" sahut Kuroki.
"Setidaknya aku juga ingin mengalami sendiri sesuatu yang mirip yang ada di shounen manga yang sering kubaca!" tambah Togano lagi.
"FUGO FUGO FUGO!" Komusubi berteriak kemudian. "Aku... jugha... ingin ikut..!" bahasa kuatnya mendadak berubah menjadi bahasa manusia normal umumnya.
"Aku juga ikut!" Kurita juga ikut berteriak. "Aku ingin makan kue sus lagi dengan Mamori-san," katanya kemudian.
"A-Aku juga akan ikut," Yukimitsu mengangkat tangannya. "Walau mungkin tidak akan banyak membantu, aku akan mencoba merawat mereka yang terluka,"
"Ahaha, aku yang gentleman 1000% inipun juga harus ikut untuk menyelamatkan Mademoiselle Mamori!" ucap Taki seraya mengangkat jempolnya dan memamerkan giginya dengan efek cling-cling.
"A-Aku juga!" kata Suzuna kemudian.
"Eeeh? T-Tapi Suzuna.." sela Sena ragu.
"Tapi kenapa?" ucap Suzuna cepat. "Aku juga ingin menyelamatkan Mamo-nee. Dia adalah wanita yang paling kuhormati di dunia ini, dan aku rasanya tidak bisa hanya diam saja menunggu kalian menyelamatkannya," raut sedih terlihat di wajahnya, membuat Sena dan yang lainnya terdiam untuk sesaat.
"A... Ano.." Tsuna kemudian memotong keheningan yang sesaat tadi. "Sebenarnya, aku tidak ingin kalian ikut karena hal ini sangat berbahaya. Kalian bisa saja mati," kata Tsuna dengan raut wajah khawatir. Sudah jelas, dia tidak ingin warga sipil yang tidak tahu menahu masalah mafia seperti ini harus kehilangan nyawa mereka yang berharga. Kalau yang ikut Hiruma, sih, beda cerita. Kalau ia larang, bisa-bisa nyawanya ikut melayang. Setan itu benar-benar menyeramkan.
"Tidak," ujar Sena kemudian. "Kami tetap akan ikut. Demi menyelamatkan Mamori-neechan!" kata Sena diikuti dengan anggukan beberapa mantan DDB.
"T-Tapi kalian bisa mati," ujar Tsuna kembali mencegah mereka.
"Itu..."
"Yang kalian hadapi nanti bukan lagi monster-monster lapangan sialan itu, Bocah-Bocah Sialan. Aku tidak akan bertanggungjawab kalau kalian benar-benar mati konyol di sana," ucap Hiruma kemudian yang langsung membuat mereka semua terbungkam. "Persiapkan diri kalian baik-baik kalau kalian benar-benar ingin menyelamatkan Manajer Sialan itu dengan taruhan nyawa kalian!" katanya lagi sambil beranjak ke arah pintu.
"Hei, kau mau kemana? Ini belum selesai!" sahut Gokudera kemudian.
"Ada urusan penting, Rambut Perak Sialan!" jawab Hiruma sambil berjalan menuju ruangan di balik pintu yang telah terbuka. Sedetik kemudian, pintu itu menutup kembali, meninggalkan ruangan yang sebelumnya dalam keadaan yang masih hening.
"Kalian pikirkan dahulu malam ini," ucap Tsuna memecah keheningan. "Jika kalian benar-benar ingin untuk ikut serta, hubungi kami karena kami membutuhkan persiapan untuk kalian," tambahnya lagi. Mereka masih terdiam dan bergeming. "Kumohon, karena ini juga menyangkut nyawa kalian. Sekalipun kalian pikir kalian siap jikalau harus terluka, kalian harus berpikir lebih jauh lagi. Sekali lagi, ini bukan permainan," tambah Tsuna lagi masih berusaha untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. "Rapat ini kututup. Kalian bisa beristirahat di kamar yang telah kami sediakan."
Beberapa menit kemudian, mereka berjalan keluar dari ruangan tersebut dengan masih terdiam, meninggalkan Tsuna dan ketiga guardian-nya di dalam. Tsuna menghela napas ketika mendengar suara bunyi pintu yang ditutup. "Kau melakukannya dengan baik, Tsuna," kata si pria berkulit tan bernama Yamamoto Takeshi.
"Benarkah?" kata Tsuna sambil berdiri dan berbalik arah menatap mereka. Wajahnya terlihat masih agak grogi namun lebih rileks daripada yang ia perlihatkan tadi di depan Hiruma dan lainnya.
"Benar, Juudaime! Kau melakukannya dengan sangat baik!" puji Gokudera yang secara tak langsung juga menyetujui ucapan sang Rain Guardian tadi. "Tapi orang yang bernama Hiruma Youichi itu benar-benar menyebalkan! Aku tak yakin kita bisa bekerja sama dengan baik dengannya,"
"Tapi semangat mereka sangat sangat to the extreme!" si pria berambut putih satunya ikut berbicara dengan nada yang sedikit lebih keras sambil mengepalkan tangannya yang berbalut perban putih. "Aku tidak menyangka mereka akan berkata ingin ikut dalam misi berbahaya ini dengan sangat extreme," lanjut Sasagawa Ryohei—nama pria itu—lagi.
"Ya. Meskipun sebenarnya aku tidak ingin mereka ikut. Aku tidak mau jika mereka yang tidak ada sangkut pautnya terluka," tambah Tsuna kemudian.
"Tapi tatapan mata mereka terlihat sudah mantap," ujar Gokudera.
"Tapi kalau mereka ikut, waktu keberangkatan kita pasti harus diundur juga, kan?" tanya Yamamoto kemudian.
Tsuna mengangguk. "Karena kita membutuhkan persiapan lebih banyak."
Waktu hampir menunjukkan pukul sepuluh malam. Jalan yang penuh keramaian semakin lama semakin tenang. Kota Namimori tak terlihat begitu berbeda dengan Kota Deimon. Setidaknya itu yang pertama kali pria berambut pirang jabrik yang sedang berjalan di dalam keheningan malam ini ketika pertama datang ke Namimori.
Tapi sekarang bukan hal itu yang sedang berada di pikirannya.
"Penembakan misterius baru saja terjadi tadi malam pukul tujuh lebih empat puluh lima menit di felicità Restaurant yang terletak di Kota Deimon. Menurut saksi mata, saat penembakan misterius ini terjadi, terlihat sekelompok berjubah hitam memasuki restoran dengan langkah cepat. Kelompok ini diduga sebagai dalang di balik kejadian ini," sebuah televisi besar terpampang di sebuah gedung pencakar langit di tengah kota tersebut.
"Kuso..." umpat Hiruma pelan seraya melewati gedung tersebut tanpa menolehkan kepalanya. Lagipula juga untuk apa? Toh, dia sendiri juga merupakan salah satu saksi mata yang ada di sana—dan mungkin sekaligus korban yang paling menderita.
"Kejadian terjadi diawali dengan padamnya lampu di dalam restoran. Polisi sudah menyelidiki bahwa padamnya lampu tersebut karena kabel listrik dipotong dan mesin cadangan listrik yang seharusnya tersedia telah dicuri,"
"Kuso..." Hiruma masih mengumpat dengan pelan. Berita tersebut membuat otaknya mau tidak mau memaksanya memutar kembali reka kejadian yang ia lihat itu. Kejadian paling sialan yang pernah ia alami.
"Beberapa detik setelah pemadaman terjadi, terdengar deru tembakan serta suara kaca yang pecah. Semua orang yang berada di dalam restoran segera panik dan berlari menuju pintu belakang untuk mencari keselamatan,"
"Kuso...!" pria itu mengingat kembali saat-saat kelompok itu datang dan menangkap Mamori di hadapannya. Merebut Mamori dari tangannya. Menghancukan segala hal yang telah direncanakannya.
"Menurut saksi setempat, tidak ada laporan adanya korban yang terluka ataupun tewas dalam insiden ini. Namun kerugian yang dialami diperkirakan sebesar satu juta yen..."
.
"Hiru—mph!"
.
"KUSO!" Hiruma akhirnya berteriak. Sialan. Sialan. Sialan! Semuanya benar-benar sialan dan menyebalkan. Tuhan seakan-akan sedang ingin menghukum panglima dari neraka ini atas dosa-dosanya yang telah ia lakukan kepada para manusia-manusia di sekelilingnya demi keinginannya seorang. Menghukumnya dengan merebut orang yang kini paling dekat dengannya. Sungguh hukuman yang berat namun pantas untuknya. Bahkan kalah dalam Rice Bowl jauh lebih baik daripada harus kehilangan sesuatu yang paling berharga dan berguna baginya.
Klang!
Ia lalu menendang sampah kaleng di depannya. Seriusnya, ia ingin sekali bertemu dengan kelompok berjubah hitam itu lalu menembaki kepala mereka satu per satu kemudian membawa wanita itu pergi. Sayangnya, dia tidak mengenal musuhnya kali ini. Alat penyadap yang ia pasang di anting Mamori memang membantunya untuk melacak keberadaan wanita itu, tapi bersikap sembrono akan berakibat fatal. Revolver yang ia bawapun tak memadai amunisinya dan ia tak membawa senjata lain selain itu (dan AK-47 mainan miliknya). Sepertinya, ia harus pulang dan mengambil beberapa senapan kesayangannya.
Sejujurnya, ia masih meragukan akan Vongola Family itu sendiri. Walau nama itu pernah menyambangi telinganya, namun tetap saja, ia tak terlalu mengenal dan mengetahui perihal mengenai mafia. Meskipun begitu, aura sang Bos yang bernama Sawada Tsunayoshi itu terlihat meyakinkan daripada perawakannya. Sepertinya, ia memang harus bekerja sama dengan mereka untuk sekarang.
Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam. Menilik isinya sebentar dan lalu menutupnya lagi. Ia lalu terdiam sejenak dan kemudian menatap langit tak berbintang di atasnya. Ujung bibirnya perlahan terangkat hingga membentuk seringai tipis. "Kekeke, tunggu di sana, ya, Manajer Sialan. Anak-anak bodoh itu pasti akan menyelamatkanmu. Setelah itu, kau harus membayar utang strategimu tadi, kekeke."
Kekehan itu kemudian lenyap dalam heningnya malam.
To Be Continued
