LOVE AGAIN
Sumary : tak pernah terbayang dalam hidup Naruto, ia akan mengalami hal seperti ini dalam hidupnya, menemukan cahaya terang yang selalu membuatnyatsenyumnya kembali.
Disclamer : Masashi kishimoto
Makasih buat yang udah pada review. Dah kasih banyak kritik yang membangun buat aku. Maaf ya kalau hasilnya masih belum bagus. Semoga para senpai gak bosen buat kasih saran-saran lainnya.
2nd princhass
Baik, akan aku coba perbaiki, makasih sarannya senpai.
Reyvanrifqi
sip
Gyuururu-kun
Hehe... emang buru-buru,,, maafya aku gak punya laptop sendiri jadi kalau ngetik minjem jadi cepet-cepet dech.(curhat dikit) Makasih buat kritiknya senpai.
Uzumaki zhufar
Oke, akan aku usahain buat lebih baik.
Hinami-pyon hyuzumaki
Wahhh seneng banget ada yang suka ma ceritaku, ia senpai akan aku usahain alurnya gak kecepetan.
Happy reding...
Chapter 2
Perpisahan
Bel tanda pulang telah berbunyi, menandakan bahwa pelajaran yang di kini di ajar kurinai sensei telah berakhir. Semua anak bergembira menerima akhir pelajaran, hari ini. Tak terkecuali Hinata dan Naruto. Mereka segera memberskan buku mereka dan bersiap untuk pulang.
Hinata sudah bersiap-siap pulang dengan Naruto, namun ada sebuah tangan yang menghentikan langkahnya.
"Ino-chan, ada apa, aku sudah mau pulang." Ucap Hinata pada Ino,
" iya Hinata, aku tahu, tapi ada hal yang ingin aku bicarakan itu sangat penting." Ucap Ino sembari menarik Hinata ke atap sekolah.
Naruto yang sudah menunggu di depan pintu pun tak bisa mencegah ketika salah satu sahabat terdekat Sakura inu membawa gadisnya.
"Hinata-chan, aku akan menunggumu di depan ya, jangan terlalu lama, aku tak mau terlambat untuk acara malam ini." Teriak Naruto dengan keras.
Hinata ingi sekali menjawab pernyataan Naruto, tapi saat ia akan menoleh, dengan cepat ia di tarik Ino.
Melihat itu Naruto mengangkat bahu dan berjalan menuju mobilnya di depan.
AIRA-CHAN FANFICTION
"Ino-chan apa yang ingin kau ucapkan padaku, sampai-sampai menarikku ke atap seperti ini. "Ucap Hinata yang masih terengah-engah.
Ino masih saja terdiam dan tak banyak berkata, ia memperhatikan Hinata dengan seksama. Masih berfikir apkah ia sanggup mengatakan semua yang ia ketahui kepada Hinata.
"Ino, Ino-chan." Hinata memperhatikan Ino lebih dekat. Hinata melambai-lambaikan tangannya di depan Ino, seketika itu Ino tersentak dan sadar bahwa dirinya melamun.
"Hinata. . . . "Ino mengucapkan nama Hinata dengan lirih, ia sudah yakin bahwa ia akan menceritakan semuanya pada Hinata. Iya Hinata memang harus tau. Dan ia akan mengatakannya saat ini juga. Ini juga demi kebaikan Hinata.
"Hinata, ada yang ingin aku bicarakan padamu, ini penting." Ino menghentikan ucapanya sebentar.
Hinata hanya terdiam memndengarkan apa yang akan di ucapkan gabis bermata indah itu. " ini tentang Naruto." Ucap Ino dengan lirih.
Mulut Hinata terbuka tutup seperti ingin bicara namun seakan enggan mengungkapkan apa yang ia rasa, gadis hyuga ini memilih diam dan membiarkan sahabatnya untuk bmelanjutkan perkataannya.
Namun setelah lama Hinata terdiam, Ino tak kunjung berkata lagi, gadis berambut blonde itu masih terlihat ragu.
"Ino-chan sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Maaf bukanya aku tak mau mendengarkanmu bicara, tapi, tapi Naruto-kun sudah menungguku di bawah." Ucap Hinata mengakhiri kebisuan di antara mereka.
Ino terlihat menarik nafas, dia benar-benar akan menceritakan semuanya.
"Hinata, aku tahu hubunganmu dan Naruto saat ini adalah sepasang kekasih, dan aku melihat kau sangat bahagia dengannya, Benarkah begitu?"
Hinata mengangguk menjawab pertanyaan Ino," ia Ino-chan aku sangat bahagia, Naruto-kun sangat menyayangiku dan dia juga berencana untuk mempertemukan aku dengan ibunya malam ini." Ucap Hinata sambil tersenyum manis.
'Hinata, apa kau yakin untuk tetap bersama Naruto bila kau tau kenyataan yang sebenarnya,' pikir Ino sesaat mendengar apa yang Hinata katakan.
"Hinata, aku tahu kau kau sangat menyayangi Naruto aku tak pernah melaramg kau berhubungan dengannya, tapi ada satuhal yang harus kau tahu, kalau Naruto itu tak benar-benar tulus menyayangimu." Ucap Ino pada Hinata.
Seketika itu juga senyum yang sempat tercetak di wajak manis gadis Hyuga itu menghilang, berganti dengan wajah penuh ketidak percayaan dan penasaran.
"Apa maksudmu Ino-chan, kau bilang Naruto-kun tak pernah menyayangiku. Apa maksudnya? "Tanya Hinata dengan air mata di pipinya. Ia masih tak percaya demgan apa yang dikarakan sahabat baiknya ini.
Tak mau melihat sahabatnya yang amat ia sayangi itu menangis, Ino menceritakan semua yang ia tahu. Semua, tak ada seditpun yang terlewat, ia tahu ini menyakitkan tapi ini pilihan ia tak mau sahabat baiknya ini tersiksa lebih lama lagi.
Setelah mendengar apa yang diceritakan sahabat kuningnya itu dia menangis sejadi-jadinya, tak percaya dengan apa yang terjadi. Hingga badannya lemas dan jatuh tak sadarkan diri.
AIRA-CHAN FANFICTION
'Kenapa Hinata lama sekali ia apa yang ia lakukan dengan si ratu gosip si.' Tanya Naruto pada dirinya sendiri. Ia bosan menunggu sahabat Sakura itu terlalu lama.
Karena lelah menunggu ia berjalan mencari gadisnya, tak tahu kemana Ino pergi ia berjalan menyusuri koridor kampus. Hingga tak lama ia mendengar suara orang minta tolong.
Naruto berjalan mencari sumber suara, setelah yakin bahwa yang ia dengar adalah suara Ino, Naruto segera berlari, ia khawatir dengan gadis pujaanya yang sedang bersama Ino.
AIRA-CHAN FANFICTION
Naruto terdiam saat melihat tiba di atap, ia melihat gadisnya sedang tergeletak tak sadarkan diri di pangkuan Ino.
Segera setelah ia sadar dengan apa yang terjadi, ia berlari menuju Hinata. "Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan pada Hinata?" Tanya Naruto penuh kekhawatiran.
"Aku, aku hanya berbicara padanya, hanya itu." Ucap Ino penuh rasa takut karena melihat Naruto yang menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan.
"Kalau terjadi sesuatu dengan Hinata, aku tidak akan mengampunimu, ingat itu." ancam setelah itu ia menggendong Hinata dan membawa Hinata ke dalam mobilnya.
AIRA-CHAN FANFICTION
Naruto masih terdiam di ruang tunggu di klinik dekat kampusnya,terlihat seperti banyak hal yang ia pikirkan.
"Apa yang harus aku katakan pada ibu ya, ia pasti marah bila tahu aku tak jadi membawa Hinata kerumah, huuh tapi apa yang harus aku lakukan."pikir Naruto sembari mengutak-atik handphonya.
"Tapi membawa Hinata dalam keadaan seperti ini, tak mungkin, mana bisa aku melakukannya." Ucap Naruto pada dirinya sendiri.
Naruto memang berencana mengenalkan sang kekasih pada ibunya. Selain karena ingin membuktikan keseriusannya dengan Hinata, ini juga karena tuntutan sang ibu yang memaksanya harus segera membawa sang kasih kehadapan sang ibu agar menggagalkan perjodohan yang di rencanakan sang ibu.
Setelah menghubungi ibunya dan mendengar banyak sekali ocehannya, akhirnya sang dokter cantik itu yang memeriksa Hinata menemuinya.
"Maaf membuatmu menunggu uzumaki-san." Ucap sang doker memulai pembicaraan.
"Bagaimana keadaan Hinata? Apa yang terjadi padanya?" Tanya Naruto penuh kekhawatiran.
"Tenang uzumaki-san, nona Hinata baik-baik saja. Ia hanya shok, sebentar lagi juga akan sadar." Ucap sang dokter menenangkan.
Naruto menghembuskan nafas lega, dia mengucapkan terima kasih pada dokter yang biasa di panggil sizune itu.
Naruto segera menuju ruang rawat Hinata, duduk di samping gadis lavender kesayangannya, menjaga sang gadis yang masih terpejam, ia pandangi wajah gadisnya itu,cantik, sungguh cantik.
"Hinata, wajahmu sangat mirip dengan shion, cantik amat cantik, kau selalu mampu membuatku tenang saat melihat senyummu." Ucap narto dalam hatinya.
Naruto menjaga Hinata hingga larut malam, hingga sang gadis mulai terbangun, saat itu sang pangeran Uzumaki itu terlelap, terlihat sekali bahwa ia kelelahan.
"Uh,, aku dimana ini?" tanyanya entah pada siapa. kini yang ia liat hanyalah tembok dengan cat warna puth, jelas amat bebeda dengan kamar yang biasa ia tempati.
"Hinata, kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?" Tanya Naruto saat melihat gadis hyuga itu membuka matanya.
"Iya aku sudah sadar Naruto-kun, kenapa aku ada di sini. Dan ini dimana?" Tanyanya seperti oang kebingungan.
" Kau ada di klinik Hinata, tadi aku menemukanmu pingsan saat bersama Ino." terang Naruto menjawab kebingunan Hinata.
Seketika itu barulah ia ingat apa yang sebelumnya terjadi. Ia ingat apa yang membuatnya jatuh pingsan.
Wajah Hinata yang terlihat sedih dan kecewa membuat Naruto tak tahan. Pemuda berambut blonde itu tak pernah akan membiarkan gadisnya iyu bersedih.
"Hime.. kau kenapa, apa yang membuatmu bersedih?" Tanya Naruto penuh perhatian.
Ketika si rambut kuning ini ingin memeluk Hinata, gadis berparas ayu ini segera berontak. Naruto yang terheran, terpaksa melepas pelukannya.
"Hinata kau kenapa? Apa yang terjadi padamu?" Tanya pria berambut blonde itu.
"Pergi, pergi dari hadapanku. Jangan pernah ganggu aku."Kecam Hinata penuh penekanan.
Naruto masih tak mengerti apa yang sebemarnya terjadi. Ia tetap berusaha menenangkan Hinatanya.
"Pergi dari hadapanku Naruto-kun. Tinggalkan aku dan jangan pernah ganggu hidupku lagi."teriak Hinata lebih keras.
Karena tak mau Hinata asemakin kacau ia segera meninggalkan ruang rawat Hinata.
"Baik hime, aku pergi. Tenangkan dirimu, aku aka memjagamu di luar."ucap Naruto sembari mnutup pintu.
To Be Continues
Semoga gak terlalu mengecewakan, kaya yang kemaren ea.
Jangan lupa tinggalin reviuw buat aku ya.
Menerima kritik dan saran (hehehe).
