A Love Story of Jimin
Casting: Yoongi, Jimin, Bts's member
Romance. Hurt/Comfort. Sad Romance.
Warning! It's genderswitch!
Don't like so don't bash. Don't like so don't read.
Just simple. I told you!
Maaf untuk kemarin karena salah menulis judulnya.
Penting! Untuk yang minta karakter ceweknya jangan Yoongi maupun Jimin, maaf aku ga bisa mengabulkan permintaan kamu itu. karena ini ceritanya tentang couple YoonMin, jadi salah satu diantara mereka harus jadi cewek. Kalo yang jadi cewek itu karakter lain, nanti couplenya ga jadi YoonMin dong! Nikmatin aja ya ceritanya, kalau ga suka ya jangan dibaca, hehehe. Aku kan sudah peringantin diawal tuh!
.
.
Summary: Park Jimin tidak mengenal cinta sejati. Sejak kecil ia selalu diabaikan oleh orang yang sangat dibutuhkannya. Dan ketika ayahnya pergi dengan taksi itu, Jimin telah berjanji untuk tidak memperdulikan apapun. Min Yoongi juga selalu menolak cinta. Hidupnya selalu dibawah bayang-bayang sebuah rahasia besar. Tidak mempunyai teman dan selalu menyendiri.
Ketika akhirnya Jimin dan Yoongi bertemu, mereka menyembunyikan perasaan mereka. Tapi takdir berkata lain untuk mereka. Cinta mulai tumbuh tanpa mereka pedulikan. Dan saat mereka menyerah, disanalah mereka berlabuh. Pada cinta mereka.
Setelah ribuan hari esok, mereka tetap saling mencintai. Tapi harus ada harga yang harus dibayar pada cinta mereka
.
.
.
.
Chapter 2
.
.
Jimin sudah memasuki dunia SMA awal musim semi delapan tahun kemudian. Semua yang dilalui Jimin dan keluarganya selama delapan tahun terakhir ini adalah sebuah perjuangan. Ibu Jimin yang bekerja mati-matian dan bekerja serabutan demi hidupnya dan kedua anaknya. Ibu Jimin sangat bersyukur kepada Tuhan karena diusia yang masih dua belas tahun Jimin sudah membantu ibunya bekerja sebagai pengantar koran.
Jimin dan Jirin tidak pernah merepotkan ibu mereka dengan keinginan-keinginan mereka layaknya anak lain yang seusianya. Walaupun hidup mereka dibawah kata cukup tapi mereka tidak pernah mengeluh. Jirin tumbuh menjadi gadis paling pintar diusianya. Ia selalu menjadi juara kelas dan itu membuatnya mendapatkan beasiswa penuh hingga ia lulus di sekolah dasarnya.
Hyun Joo tidak pernah merasa bersyukur melebihi hidupnya saat ini. Ia mempunyai dua malaikat yang selalu dicintainya dan selalu ada saat ia mulai kehilangan gairah hidup. Hidupnya mungkin saja sempurna kalau delapan tahun silam lelaki yang mengaku sebagai suaminya itu tidak pergi meninggalkan mereka. Tapi Hyun Joo tidak pernah menengok ke belakang, baginya masa lalu itu hanyalah sebuah pembelajaran untuk masa depannya.
Sejak masuk SMA Jimin mulai jarang pulang kerumah. Awalnya Hyun Joo merasa khawatir pada anak sulungnya. Biarpun mereka hidup didesa tapi Hyun Joo tetap mengkhawatirkan pergaulan mereka. Setidaknya tiga hari dalam seminggu Jimin tidak berada dirumah.
Keadaan itu terus berlanjut, bahkan intensitas Jimin pulang kerumah benar-benar jarang. Jika ada kesempatan untuk pulang itupun tidak lama, pagi hari pulang dan sorenya ia pergi lagi. Dan yang lebih membuat Hyun Joo khawatir setiap Jimin pulang anaknya itu selalu membawa uang yang lumayan banyak. Hyun Joo sempat berpikir mungkin saja Jimin mempunyai pekerjaan tetap di luar sana. Tapi ketika suatu hari Jimin pulang dengan muka yang babak belur, Hyun Joo benar-benar khawatir.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan diluar sana Park Jimin? Bicara dan jangan membuat ibumu khawatir!"
Jimin masih terdiam sambil sesekali meringis ketika lukanya tidak sengaja tertekan oleh Jirin yang sedang mengobatinya.
"Park Jimin, jawab ibumu!" Hyun Joo berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putranya. Jirin memberi isyarat pada Jimin untuk menjawab, Jimin menghela napas dan merebahkan kepalanya disofa.
"Aku bertarung, Bu. Menjadi petinju."
Hyun Joo mendadak pusing dan cepat-cepat mencari pegangan sebelum tubuhnya terjatuh. Jirin dengan cekatan menangkap ibunya dan mendudukannya di sofa terdekat. Adik Jimin itu memberikan minyak angin untuk mengurangi rasa pusing pada ibunya. Setelah itu ia kembali pada Jimin tapi tidak untuk mengobatinya, melainkan menuntut jawaban yang lengkap dari ucapannya barusan.
"Apa yang kau maksud menjadi petinju, oppa? Coba jelaskan pada kami!" Jirin walaupun masih berusia tujuh tahun tapi sudah mengerti tentang kehidupan. Kecerdasannya membuat pola pikirnya berbeda dengan teman sebayanya. Jimin tersenyum lembut pada Jirin, "Kau tidak akan mengerti, Jirin. Kau cukup belajar saja dan mengurusi ibu. Aku yang akan bertanggung jawab soal keuangan."
"Ucapan gila macam apa itu, Jimin?" Hyun Joo sudah ada dihadapannya sambil berkacak pinggang lagi. "Aku yang seharusnya berbicara seperti itu. Kau dan Jirin cukup belajar saja, aku yang akan bekerja dan mencari uang untuk kalian!"
Jimin berdiri dan memegang bahu ibunya. Hyun Joo tidak pernah menyadari perubahan pada fisik Jimin. Anak laki-lakinya tumbuh menjadi pemuda yang tampan, dengan mata kecil dan hidung runcing. Hyun Joo juga harus mendongak untuk menatap anaknya karena ia begitu tinggi, padahal Jimin baru enam belas. Secara tidak langsung Jimin sangat menuruni ayahnya.
"Ibu, aku tidak bisa diam begitu saja melihat wanita yang paling aku cintai membanting tulang untuk keluarganya. Aku ini lelaki, Bu, aku tidak bisa diam saja."
Ucapan Jimin begitu tulus terdengar di telinga Hyun Joo. Air mata perlahan mulai menuruni pipi wanita itu. Jimin mengulurkan tanganya dan menghapus air mata dari wajah cantik ibunya dan memeluknya. Jimin bersungguh-sungguh pada ucapannya tadi. Hanya ada dua wanita yang paling ia cintai, ibunya dan adik perempuannya. Jimin mengulurkan satu tangannya pada Jirin dan mengajak gadis kecil itu bergabung dengannya untuk memeluk ibu mereka.
.
.
.
.
Yoongi adalah gadis enam belas tahun yang paling cantik di desanya. Ayahnya seorang dokter hewan dan ibunya perawat di salah satu rumah sakit di kota. Yoongi jarang sekali bergaul dengan teman-temannya. Setiap pergi dan pulang sekolah selalu diantar ayahnya, kadang juga ibunya. Hidup Yoongi menjadi suatu rahasia besar oleh mereka yang mengenalnya.
Selain jarang bergaul Yoongi juga jarang masuk sekolah. Setidaknya ia absen sebanyak empat kali dalam sebulan dan itu sudah menjadi rutinitasnya. Hara adalah salah satu orang yang cukup dekat dengan Yoongi. Meskipun cukup dekat tapi ia tidak benar-benar dekat sebagai sahabat. Menurutnya Yoongi selalu mempunyai satu hal yang sangat ditutupinya. Hara sering sekali mencoba mengorek sisi lain dari Yoongi tapi gadis cantik itu selalu melindungi dirinya sebelum Hara mendapatkan jawaban yang diinginkan.
Yoongi sangat berbeda dari gadis-gadis biasanya. Kulitnya putih lebih ke pucat dan tubuhnya sangat ringkih, walaupun begitu Yoongi masih mempunyai lekukan-lekukan feminim. Dan yang paling membuat Yoongi beda dari gadis lain adalah pesonanya yang selalu terpancar dalam dirinya. Entah memang dilahirkan untuk cantik, setiap yang melihat Yoongi akan langsung terpesona. Belum ada gadis yang cantiknya melebihi Yoongi.
Meskipun Yoongi memiliki keluarga yang utuh, wajah yang cantik dan orang-orang yang selalu menyanjungnya, tetap saja Yoongi merasa ada sesuatu yang kurang. Yoongi selalu merasa kesepian bukan karena tidak mempunyai teman. Ia juga kurang begitu paham apa yang terjadi pada dirinya. Semenjak ia melihat salah seorang temannya berkencan dengan kekasihnya, perasaan itu lalu muncul.
Yoongi sempat bertanya pada ibunya perihal yang sedang dialaminya akhir-akhir ini. "Karna kau sudah besar dan sudah menjadi seorang gadis dewasa. Makanya kau memiliki perasaan seperti itu." Itulah jawaban yang didapat dari ibunya. Tapi Yoongi belum benar-benar puas akan jawaban dari ibunya. Ia akan mencari jawabannya sendiri. Nanti, jika saat itu sudah tiba, ia yakin akan menemukan jawabannya.
Selain cantik Yoongi mempunyai tatapan mata yang misterius. Matanya yang kecil dan seolah selalu bersinar itulah yang membuat orang-orang terpesona padanya. Yoongi tidak banyak bicara, tetapi ia sangat cerdas. Yoongi adalah gadis yang sungguh sempurna.
Tetapi Yoongi menyimpan rahasia besar dibalik kesempurnaannya.
.
.
Sudah tiga hari Jimin pulang kerumah dan itu tentu saja membuat ibunya senang. Setiap hari Hyun Joo selalu memasak makanan kesukaan Jimin. Ia selalu pulang lebih awal untuk menemani Jimin dirumah. Setelah mengetahui pekerjaan Jimin, Hyun Joo tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan dan selalu memastikan kesehatan anaknya. Jimin berkata ia mempunyai sebuah apartemen kecil di kota dekat dengan sekolahnya, dan apartemen itu menjadi tempat tinggalnya jika ia tidak pulang kerumah. Jimin juga bercerita uang yang dihasilkan dari pertandingan tinjunya cukup untuk menyewa apartemen dan biaya sekolahnya, itu sebabnya selama ini ia tidak pernah meminta uang sekolah pada ibunya.
"Tapi kau selalu membawa uang yang banyak ketika pulang, apa itu sisa dari bayaran apartemen dan sekolah?" Hyun Joo bertanya.
"Tidak. Sebenarnya itu uang tabunganku selama enam tahun menjadi penjual koran."
Hyun Joo tidak bisa tidak menitikan airmatanya. Jimin benar-benar tumbuh menjadi lelaki dewasa yang bertanggung jawab. Kekhawatiran Hyun Joo selama delapan tahun ini ternyata salah, Jimin tetap menjadi Jimin yang dulu. Hanya saja satu hal yang membuat Hyun Joo bersedih. Jimin tidak pernah berbicara tentang ayahnya. Ia tidak pernah menceritakan ayahnya pada Jirin. Ia telah membuang semua foto-foto yang ada gambar ayahnya. Ia selalu bersikap seolah ia tidak pernah mempunyai seorang ayah.
Hyun Joo pernah menyinggung ayahnya dalam pembicaraannya bersama Jimin, tapi reaksi yang didapat sungguh menohok hati Hyun Joo. Jimin langsung pergi, ia tidak mau mendengar nama ayahnya terucap dari bibir ibunya. Sebelum pergi Jimin sempat berkata, "Aku tidak mempunyai ayah. Dan aku tidak mengenal siapa ayahku."
Hati Hyun Joo benar-benar hancur mendengar itu. Meskipun Hyun Joo juga membenci perbuatan suaminya saat itu, tapi ia tidak bisa memungkiri kalau ia masih mencintai suaminya. Menyesal sudah sangat terlambat. Hyun Joo menyadari betul hubungan ayah-anak yang dilakoni Jisook dan Jimin. Jimin selalu memuja ayahnya. Ia bangga mempunyai ayah seperti ayahnya.
Dan saat Jisook pergi, Jimin menangis. Mungkin Jimin juga merasakan apa yang dirasakannya saat itu. Ditinggal, dikhianati, dikuasai oleh perasaan putus asa. Jimin sudah sangat berbeda semenjak peristiwa itu. Ia sudah tidak lagi mengenal cinta dalam hidupnya, kecuali cinta pada ibu dan adiknya. Hyun Joo hanya berharap suatu saat ada seseorang yang akan mengajari Jimin apa arti cinta itu sebenarnya.
Hyun Joo tersenyum dan kembali memeluk Jimin. "Jadilah anak yang bisa kubanggakan Jimin. Maaf karena aku, kau dan Jirin tidak bisa menikmati hidup yang sebenarnya." Jimin melepas pelukan ibunya begitu ia merasa getaran ditubuh ibunya. Jimin kembali mengusap air mata yang jatuh diwajah ibunya yang menangis, dalam hati ia berjanji tidak akan membiarkan ibu dan adiknya menangis lagi.
"Ini sudah takdir Tuhan, Bu. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku berjanji, aku akan membanggakan ibu dan Jirin sehingga kita tidak perlu hidup seperti ini lagi."
.
.
To be continued
.
.
.
.
Terima kasih untuk yang review, follow, favorite.
