Hancur.

Satu kata seribu makna. Benar-benar mewakili keadaan Baekhyun saat ini. Ia tidak bisa mendeskripsikan hati dan pikirannya. Dua jam yang lalu dia merasa semuanya akan baik-baik saja. Dia hanya perlu meminta izin pada Soyou demi penghidupan yang lebih baik–pikirnya. Baekhyun hanya bocah polos yang bahkan tidak bisa membedakan mana yang tulus mana yang penuh akal bulus.

Kehidupannya yang serba minim membuat Baekhyun bersemangat mengubah diri. Sekolahnya biasa saja. Otaknya pun tidak terlalu pintar. Walau tidak kaya, Ia juga masih punya teman sebaik Kyungsoo dan tidak menjadi korban bullying. Semua biasa saja.

Hingga Park Chanyeol datang.

Mahasiswa jurusan bisnis manajemen dari kampus terkenal itu muncul bagai ombak di tengah pasang. Tiba-tiba tinggi dan menggairahkan. Hidung mancung dengan perawakan atletis membuat Baekhyun sama sekali tidak curiga saat Chanyeol tiba-tiba intens mendekatinya, sejak mereka bertemu tidak sengaja di Festival Sekolah Baekhyun.

Chanyeol adalah pangeran. Darah biru yang punya keturunan prajurit Silla. Senyumnya idiot dan humornya keterlaluan. Tapi, Baekhyun menyukainya. Jadi, dia tidak menolak apapun yang berjudul Chanyeol. Pun, tubuhnya diberikan saja

Tapi, nyatanya Chanyeol memanglah hanya personifikasi dari ombak pasang. Cepat datang cepat pergi. Seratus dua puluh hari yang diharapkan Baekhyun berakhir bahagia kini hanya seperti petir di siang bolong. Seolah, apa yang terjadi hanyalah imajinasi Baekhyun.

"Aku tidak bisa menelepon Kyungsoo." Gumam Baekhyun, putus asa setelah puas menangis di perpustakaan. Jangan tanyakan bagaimana herannya penjaga disana melihat pemuda setengah kuyup yang hanya membaca dan menangis dalam diam.

"Telepon Soyou noona juga tidak bisa. Aku harus apa." Rasanya, Baekhyun bahkan sudah lelah menangis. Yang dilakukannya lima belas menit ke belakang hanyalah menghela nafas sambil menatap telepon genggamnya yang sengaja ia matikan.

"Dik?"

Baekhyun menoleh saat suara renta yang ramah terdengar. Ternyata itu Bibi Ahn, penjaga kantin di sekolahnya. Wanita paruh baya itu tersenyum menatap Baekhyun. Dia benar-benar menyayangi murid manis ini seperti cucunya sendiri. Baekhyun pun menyayanginya mengingat Ia tidak pernah lagi merasakan kasih sayang ibu atau nenek.

"Bibi Ahn sedang apa disini?" Baekhyun menghapus airmatanya. "Dan untuk apa tas besar itu?"

Bibi Ahn tersenyum. "Aku mau pulang ke Bucheon. Uangku sudah cukup untuk membuat toko kecil-kecilan disana. Lagipula Taehyung akan masuk SMP. Dan dia menolak sekolah asrama lagi."

Taehyung adalah cucu satu-satunya Bibi Ahn yang sering dibilang mirip Baekhyun. Anak itu bersekolah asrama di Gwangju dan hanya pulang sebulan sekali. Taehyung yatim piatu sama sepertinya. Keluarganya pun hanya Bibi Ahn.

"Kau sendiri? Sedang apa disini? Kenapa belum pulang?"

Baekhyun gelagapan. Ia menatap bergantian antara Bibi Ahn dan buku yang tadi tidak dibacanya. Haruskah dia bilang kalau dia hamil? Haruskah dia bilang kalau dia tidak punya tempat tinggal lagi? Gengsinya terlalu besar untuk kembali pada Soyou. Haruskah dia juga bilang kalau Chanyeol meninggalkannya? Sial. Mengingat Chanyeol membuat Baekhyun hampir menangis lagi.

"Bibi Ahn." Baekhyun menghela nafas. "Boleh aku ikut Bibi ke Bucheon?"

.

.

.

"Kyungsoo! Kyungsoo!"

Seorang pemuda manis menoleh heran. Ia meninggalkan masakannya dan berjalan keluar dari dapur melewati ruang tamu mininya. Pintu depan masih digedor dari luar. Ia membuka pelan kunci dan menemukan Byun Soyou terengah-engah.

"Noona?" Kyungsoo melebarkan matanya heran. "Noona, ada apa? Kenapa kesini tidak memberi kabar?"

Kyungsoo mengenal Soyou sejak pertama Ia dan Baekhyun berteman di SMP. Baginya yang hanya mempunyai kakak lelaki–yang sibuk sekali–membuatnya sedikit banyak akrab dengan Noona satu-satunya Byun Baekhyun.

"Dimana Baekhyun?"

Loh, Apa katanya? "Baekhyun? Aku belum bertemu dengannya. Dia juga tidak kesini. Bukankah seharusnya dia juga dirumah kalian?"

Diluar dugaan, Soyou merosot di depan pintu dan menangis. Kyungsoo kelabakan. Kakaknya belum pulang kerja dan seorang wanita dewasa menangis di depan pintu rumahnya. Pemuda bermata khas itu ikut berjongkok.

"Noona, Ayo masuk dulu. Kubuatkan teh."

Soyou masih menangis tapi tetap berdiri. Kyungsoo memapah perempuan dewasa yang lebih tinggi darinya itu dengan hati-hati. Lagipula ia juga penasaran dengan maksud kedatangan Soyou. Karenanya, selepas membantu wanita itu duduk di sofa, Ia bergegas ke dapur, membuat teh dan melupakan masakannya.

"Diminum dulu, Noona."

Isakan kecil Soyou masih terdengar. Wanita itu menatap Kyungsoo dengan pandangan sayu dan wajah yang sedih. Kyungsoo jadi serba salah. Apa seseorang baru saja memutuskan hubungan dengan Soyou? Tapi, kenapa tadi dia menanyakan Baekhyun? Memang apa hubungannya?

"Baekhyun." Isakan Soyou menghilang tapi airmata tetap mengaliri pipi cantiknya. "Baekhyun pergi dari rumah."

Bola mata Kyungsoo hampir keluar. "Apa?!"

"Dia menulis surat. Dia bilang dia hamil dan akan pergi ke pacarnya. Dia bilang pacarnya akan bertanggung jawab dan membiayai kuliahnya nanti. Aku seperti orang gila saat membacanya. Aku bahkan tidak tahu siapa pacarnya."

Bagai dihantam beton ratusan kilo, Kyungsoo mengambil udara banyak-banyak. Baekhyun dan pacarnya. Dua informasi yang datang bersamaan dengan fakta lain yang tak kalah membuatnya terkejut. Kehamilan Baekhyun. Maksudnya, Baekhyun hamil anak Chanyeol–

"Kyungsoo?"

–refleks, Kyungsoo menoleh. "Y-ya, Noona?"

"Kau tahu siapa pacar Baekhyun?"

Bibir Kyungsoo langsung terkatup. Kehilangan kata-kata. Tentu saja aku tahu. Bocah itu membicarakannya setiap hari. Tapi– "Aku tidak tahu, Noona."

Air muka Soyou kembali meredup, kehilangan cahaya harapan. Dua fakta baru menghantui otak Kyungsoo saat ini. Kehamilan Baekhyun dan Kenyataan Baekhyun tidak pernah mengenalkan Chanyeol kepada kakaknya, keluarga satu-satunya yang ada. Kyungsoo meminta maaf dalam hati.

Maafkan Aku, Noona. Biarkan aku mencari bocah itu dulu dan membawanya kembali padamu.

Kyungsoo menghela nafas. Anak itu benar-benar berhutang banyak penjelasan.

.

.

.

Hari sudah terlalu larut. Bulan semakin terang dan langit semakin gelap. Park Chanyeol menyetir porsche baru milik Sehun ke dalam halaman rumah mewahnya. Pemuda itu menguap lebar. Langkahnya ia bawa masuk kedalam rumah dengan pelan agar tidak hilang keseimbangan. Seorang pelayan menghampirinya dan langsung membantu membawa tas ke kamarnya di lantai atas.

"Dari mana saja kau?"

Itu suara Lee Junki, adik dari ibunya yang bertugas merawatnya selama di Korea. Junki mendapat mandat khusus dari orangtuanya menjadi pengasuh sekaligus pendidik Chanyeol agar lebih siap mengemban perusahaan, mengingat Junki juga merupakan pewaris perusahaan keluarga Lee.

"Oh, selamat malam, Paman." Kekeh Chanyeol dengan senyum idiotnya.

"Aku bertanya, Park Chanyeol." Suara desis Junki terdengar kesal. "Darimana saja kau? Mabuk-mabukan? Bermain dengan para jalang?"

Chanyeol makin terkekeh. "Paman kaku sekali, coba ikut aku kapan-kapan. Yang kau sebut jalang itu bisa jadi hiburan untuk adik kecil milikmu."

"PARK CHANYEOL!"

"Sudahlah, Paman." Chanyeol menghela nafas kasarnya. "Jika yang mau khawatirkan hanya tugas akhirku, aku sudah menyelesaikan semuanya. Kirim undangan pada ayah dan ibu untuk datang ke wisudaku bulan depan."

"Kau fikir aku percaya?"

"Harus." Chanyeol menyeringai. "Telepon saja Professor Kim. Dia meloloskan tugas akhirku."

Junki menatap keponakannya skeptis. "Kau tidak menggunakan uang untuk menyogoknya kan?"

"Oh, tunggu. Apa Paman baru saja menghina kredibilitas Profesor Kim? Ckck. Benar-benar."

Junki mendengus, lalu menghela nafasnya kasar. Jemarinya memijat pelipisnya. Terlalu pusing dengan tingkah bebas sang keponakan. Ia lelah menggunakan kata baik-baik saja pada sang kakak di luar negeri sana.

"Kalau begitu segeralah tidur. Kau membuatku pusing."

Kekehan terdengar dari bibir Chanyeol. "Paman, kau benar-benar harus mencari seorang pendamping. Ini sudah empat tahun sejak kau tidak sengaja meniduri pelayan itu. Lagipula, fungsi pelayan kan memang melayani. Apalagi cantik. Hehe."

Bolehkah Junki memukul kepala Chanyeol saat ini? Apa dosa yang dilakukan kakakmya hingga melahirkan pemuda brengsek seperti keponakannya?

.

.

.

Baekhyun menuruni mobil safari berwarna hitam yang berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Bibi Ahn turun setelah membayar uang ongkos perjalanan mereka. Matanya menyipit, efek senyuman lebarnya untuk Baekhyun.

"Masuklah, nak. Sini. Taehyung pasti senang melihatmu."

Baekhyun akhirnya menceritakan segalanya pada Bibi Ahn. Hanya wanita paruh baya itu harapannya. Setidaknya hingga Bean lahir dan Ia siap membawanya kembali kerumah Noonanya. Ia hanya perlu tempat pengasingan. Baekhyun seperti anak anjing yang hilang arah dan Bibi Ahn tidak sampai hati meninggalkannya sendirian.

"Taehyung-ah? Taehyung-ah?"

Bunyi pintu dibuka terdengar. "Nenek? Loh– Baekhyun hyung?"

Baekhyun mengetahui Taehyung begitu pun sebaliknya karena Ia adalah perantara surat Taehyung dan Bibi Ahn selama anak itu berada di asrama sekolah. Bibi Ahn bilang ibu Taehyung dulu berwajah seperti Baekhyun. Dan, Taehyung memiliki tiga puluh persen kemiripan dengannya.

"Hai, Taehyung."

Bibi Ahn tersenyum. "Baekhyun akan tinggal sementara dengan kita. Kau tidak apa-apa, kan?"

"Apa?" Taehyung tersenyum lebar. "Selamanya juga tidak apa. Ayo, hyung! Biar aku buatkan teh."

Entah Baekhyun harus menyebutnya apa. Mungkin keberuntungan ditengah kemalangan. Orang-orang seperti Bibi Ahn dan Taehyung entah kapan lagi bisa ditemukannya. Baekhyun menanam pengingat jasa dalam hati. Ia mengelus perutnya.

Suatu saat, kita harus membalas jasa mereka ya, Bean?

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Iya tau ini dikit. Pelan-pelan ya. Diriqu masih saqit dan wb menyerang. The wall habis ide. Kudu tobat dulu dari Rated M kayanya. Eh fic ini ratednya apa sih? /amnesia