Note:

Terima kasih untuk readers semua yang sudah membaca, fav, dan follow fic ini. Terima kasih juga atas dukungan kalian semua yang ingin melanjutkan fic ini dan ada beberapa yang ingin fic ini diangkat menjadi Light Novel atau Doujinshi. Di cerita ini, saya membuat proporsi tubuh Levi sedikit lebih tinggi dari Eren sedangkan Eren sedikit lebih pendek dari Levi. Nah karena masukan kalian yang ingin fic ini tetap berlanjut, sekarang sudah bisa dinikmati kembali dengan chapter terbaru. Selamat membaca semua~


Tok! Tok! Tok!

Erwin menghentikan aktivitasnya, ditatapnya tajam pintu geser Jepang yang dihiasi oleh shoji klasik.

"Siapa?" tanyanya dengan tajam. Jeda sejenak, lalu terdengar suara yang pelan dan sopan,"Erwin-sama, saya datang bersama dengan Levi-sama."

Erwin menopang dagunya dengan kedua tangan,"Masuk." Dingin dan tegas, memang sudah ciri khas dari Erwin Smith. Pintu pun bergeser dan menampilkan sosok dua pria yang masuk lalu berjalan mendekati meja tempat Erwin tengah duduk. Anak buah Levi membungkuk hormat.

"Kau boleh pergi," ujar Erwin tanpa melirik sedikitpun anak buahnya itu. Pria itu mengangguk lalu keluar dengan sopannya dari ruangan Erwin, kini tersisa dua pria yang sama-sama tak kalah dinginnya.

"Kuharap kedatanganku disini tidak buang-buang waktu," ujar Levi seraya mengambil posisi duduk di seberang Erwin, menatap tajam lawan bicaranya kali ini. Erwin menghela napas,"Sepertinya kau masih saja tetap bersikap seperti itu meski aku ini atasanmu."

Levi mendecak kesal, kedatangannya disini sangat membuang waktu. Perlu diingat, bahwa Levi sangat benci membuang waktu dalam hidupnya—apalagi bila berurusan dengan urusan pribadinya itu. Erwin hanya terkekeh kecil dan itu membuat Levi semakin sebal.

"Levi, ada yang harus ku informasikan mengenai suatu hal."

Levi menautkan sebelah alisnya, Erwin mulai mengeluarkan beberapa lembar kertas dari balik laci. Memberikan kertas-kertas tersebut kepada Levi yang dengan setengah hati diterima oleh si empu. Iris kelabu itu membaca cermat setiap tulisan yang tertera di kertas tersebut.

"Kau membeli perlengkapan, lagi?" tanya Levi seraya meletakkan kertas-kertas itu. Erwin mengangguk mantap,"Tentu saja, mengingat Mafia lain yang saling menyerang satu sama lain." Jawabnya dengan enteng. Levi menghela napas.

"Kau bisa menyuruh anak buah sialanmu untuk mengambil perlengkapan ini."

"Aku tahu." Jawab Erwin sekenanya membuat Levi menatap tajam kembali ekpresi dibalik topeng tersebut,"Lalu, kenapa kau tak melakukannya? Apakah kau memang pengecut?"

"Levi, bersikaplah sopan terhadap atasanmu ini."

"Aku tidak butuh basa-basimu, Erwin. Yang kuperlukan sekarang adalah alasan mengapa kau menunjukku untuk melakukan hal ini," tukas Levi dengan tegas. Ia lipat kedua tangan di depan dadanya, memperlihatkan sifat angkuh yang selalu ia tunjukkan kepada setiap orang—termasuk kekasihnya sendiri.

Erwin menghela napas sembari menggelengkan kepala, seperti inilah Levi. Tidak akan pernah berkata 'Baik akan kulakukan' sebelum mendapat penjelasan yang masuk akal dan logis.

"Jangan berpura-pura tidak mengerti, Levi."

Sejenak iris kelabu itu menatap dalam iris emerald Erwin, mencari seluk-beluk segelung informasi mengenai perintahnya ini. Tiba-tiba, kedua iris itu membulat—Levi memang tidak bodoh dan ia tahu apa maksud Erwin menyuruhnya untuk melakukan tugas ini. Sedetik kemudian, ekspresi itu normal kembali.

"Kau mengerti sekarang, Levi?" tanya Erwin antusias dan disambut oleh anggukan singkat si empu. Seketika itu juga, Erwin menyeringai puas ditatapnya Levi dengan bangga. "Lebih baik kau bersiap, lima belas menit lagi Annie akan menunggumu."

"Tak perlu menyuruhku, Erwin. Aku bisa melakukannya sendiri," tukas Levi seraya beranjak dari kursi lalu berjalan keluar dari ruangan Erwin.

Dengan langkah tegap, menyusuri lorong luas markas Akuma Masuku. Dalam langkahnya, pikiran Levi berkutat akan kertas yang disodorkan Erwin kepadanya tadi. Ia sedikit tidak percaya dengan semua data itu. Mendecak kesal, ia mulai menepis pikiran negative itu dan mempercepat langkahnya. Yang ingin dilakukan Levi saat ini ialah bersiap dan menatap kembali paras manis kekasihnya.

Apapun yang terjadi, ia akan memberitahu kekasihnya itu. Ia tidak suka melihat orang lain cemas karena dirinya. Karena untuk sekarang dan selamanya, Eren hanya milik Levi seorang dan tidak boleh ada yang menyentuh selain dirinya sendiri—itu berlaku mutlak.

Meski diluar Levi sangat cuek dan dingin, tapi disatu sisi ia sangat over protective kepada Eren dan itulah sebab mengapa Eren menyukai Levi melalui sikap dinginnya.

.

.

Barricade | Kazu Kirana

Shingeki No Kyojin | Hajime Isayama

Warning! Typo(s), violence, gore, BDSM, bondage, ONLY 18 PLUS!

Genre: Crime/Romance

Levi Ackerman x Eren Jaeger

Rate: M

.

.

"Eh? Pergi ke pelabuhan? Untuk apa?" Eren menatap Levi dengan bingung, untuk apa ia pergi ke pelabuhan? Bukankah jarak dari markas ke pelabuhan memakan waktu dua jam? Levi memutar bola matanya malas.

"Dasar bodoh, tentu saja bisnis, bocah."

Eren langsung mengangguk mengerti sembari menatap punggung Levi yang tengah bersiap-siap, Levi hanya mengenakan kemeja putih dengan kancing atas yang dibuka satu. Kedua lengan kemeja yang digulung hingga siku memperlihatkan tato bergambar naga hitam yang menghiasi lengan kanannya dan celana jeans berwarna hitam yang membalut kedua kaki atletisnya.

Sangat sederhana sekali, tetapi itulah gaya pakaian yang selalu dipakai oleh si empu. Yang membedakan ialah kemejanya saja, terkadang warna putih dan terkadang warna hitam. Perlahan, tangan halus Eren menepuk pelan punggung pria yang sedikit lebih tinggi darinya.

"Levi, berjanjilah kau akan pulang dengan selamat." Nada suaranya sedikit—sangat dipelankan, kepalanya tertunduk tidak berani menatap paras tampan sang kekasih. Levi sedikit menautkan alisnya bingung,"Kenapa kau berkata itu, bocah? Kau meremehkanku, begitu?" tanyanya sembari menoleh ke arah Eren.

"Bu-bukan be—"

Grep!

Iris zamrud itu membulat, kaget dengan perlakuan Levi yang secara tiba-tiba. Levi merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapannya seraya berbisik,"Aku akan kembali, tunggu aku sebentar lagi, Eren." Dikecupnya kening kekasihnya lembut, Eren tersipu malu. Pipinya sudah semerah kepiting rebus.

Dilepaskannya pelukan itu dan ditatapnya dalam iris zamrud yang senada dengan batu giok, samara-samar Levi tersenyum tipis. Semakin dekat jarak diantara mereka membuat Eren harus mundur beberapa langkah dan berhentilah langkahnya begitu mendapati tembok yang sekarang bersentuhan dengan tubuhnya. Levi menempelkan tangan kirinya ke tembok sedangkan tangan kanannya menyentuh dagu Eren.

Diangkat hingga kedua iris saling bertemu sapa. "Le-levi?" tanya Eren ragu-ragu, ia tidak bisa memalingkan wajahnya karena Levi sudah mengunci pergerakannya dan bisa dilihat paras semanis cokelat itu kembali memerah.

"Wajah itu hanya boleh ditunjukkan kepadaku, tidak boleh ada satu pun orang yang boleh melihat wajahmu seperti ini. Mengerti, bocah kuntet?" Eren mengangguk mengerti dan dihadiahi oleh kecupan singkat nan lembut dari si empu.

Levi melepaskan genggamannya lalu berbalik mengambil senjata magnum perak dengan ukiran namanya, disimpan senjata itu kedalam sebuah tempat yang diikat dipahanya. Mengeratkan genggaman pada kedua sarung tangan kulit berwarna hitam, setelah selesai Levi hendak berjalan keluar ruangannya sebelum—

Grep!

Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan mendapati Eren yang tengah memeluknya dari belakang, membenamkan wajahnya di balik punggung tegap kekasihnya.

"Levi, jaga dirimu disana ya," ujar Eren dengan lembut. Aroma bvlgari yang menguar menggelitik indra penciuman Eren, menambah kesan maskulin sang wakil ketua Akuma Masuku. Sangat khas sekali harum Levi.

Ia tidak menolak bahkan menjawab dengan kata-kata kasar, ia tersenyum tipis seraya menyentuh tangan halus sang kekasih. "Aku pasti akan kembali, Eren. Dan aku berjanji akan selalu melindungimu."

Setidaknya kalimat tersebut berhasil membuat Eren bernapas lega.

.

.

.

Di dalam sebuah limosin, Levi memandang keluar kaca. Menyaksikan indahnya malam kota Osaka, lampu-lampu yang berkelap-kelip menghiasi indahnya malam. Samar-samar ia tersenyum tipis, seandainya ia bisa keluar hanya untuk sekedar jalan-jalan tapi itu tidak mungkin. Mengingat bahwa ia salah satu anggota Yakuza yang menjabat menjadi wakil ketua tidaklah mudah untuk pergi ke dunia luar tanpa pengawasan. Ia menghela napas lelah.

"Levi-sama, sebentar lagi kita sampai."

Limosin yang ditumpangi Levi berhenti disalah satu kawasan luas dekat pelabuhan, supir itu keluar lalu membukakan pintu untuk Levi. Setelah terbuka lebar, Levi keluar dengan angkuhnya dari mobil dan bisa terlihat seorang pemuda berambut botak tipis memandangnya seraya berkata,"Aaaa~ Apakah kau yang bernama Levi?"

Levi tidak sendiri, dibelakangnya terdapat Annie salah satu koordinator bagian perdagangan bersama para anak buahnya. Si empu memandang remeh lawan bicaranya,"Mulutmu kotor juga, bocah." Jawabnya dengan enteng.

Pemuda itu—Connie menatap jengkel Levi, berani-beraninya Levi berkata seperti itu kepadanya,"Hoi pak tua! Bajingan kau berani berkata seperti itu kepadaku, heh?!" geram Connie dengan murka. Levi hanya menghela napas pendek.

"Sepertinya, bocah tengik sepertimu harus diberi pelajaran." Levi hendak memegang senjatanya sebelum—

"A-ah sudahlah, Connie. Kita disini bukan untuk adu jatos, 'kan?" tukas salah seorang gadis yang berada di kelompok Connie, gadis yang memiliki surai blonde dan berperawakan mungil itu bernama Historia.

Levi mengurungkan niatnya untuk mengelurkan senjata, dilipatnya kedua tangan di depan dadanya yang memberikan kesan angkuh nan berwibawa. Connie masih memandang jengkel Levi tetapi ia acuhkan,"Hmph! Baiklah." Jawabnya mengalah.

Historia tersenyum simpul, lalu ia mulai menatap iris kelabu yang sedari tadi menunggu. "Apakah sudah disiapkan?" tanyanya dengan ramah, Levi mengangguk lalu menoleh mengisyaratkan salah satu anak buahnya untuk memperlihatkan isi koper yang mereka bawa.

Lalu, begitu dibuka koper tersebut penuh dengan jutaan yen yang tak terhitung nilainya. Levi menatap tajam gadis bersurai blonde itu,"Apakah barangnya sudah ada, gadis desa?"

"Tentu saja sudah," tukas Historia seraya menjentikkan jemarinya, lalu salah satu anak buah mereka memberikan koper tersebut kepada Historia. Sesaat, Historia dan anak buah Levi berjalan seraya menukar koper lalu kembali ke tempat asal.

Disaat anak buah Levi tengah mengamati, tiba-tiba ia terlonjak kaget,"Ini bom!" teriaknya hingga membuat semua orang terkejut—minus kelompok Connie, seketika itu juga seringai Historia mengembang. "Terima hadiah dari kami, tikus liar."

BUM!

Sebuah ledakan besar pun muncul menimbulkan efek suara nan keras hingga beberapa bangunan bahkan limosin pun hancur terbakar, beberapa dari anggota Akuma Masuku tewas terbakar hingga menyisakan Levi dan Annie serta sedikit anggota dari Akuma Masuku. Levi berusaha bangun dari acara berbaringnya lalu—

"Tch!"

Merasakan sakit yang berpusat di pergelangan kaki kanannya, iris kelabu itu mendapati sebuah serpihan kaca menancap mulus tepat pada pergelangan kakinya. Tangannya tergerak memegang lalu mencabut serpihan kaca tersebut, meringis menahan sakit begitu serpihan berhasil dicabut.

"Heichou, kau tidak apa-apa?" tanya Annie sembari membantu Levi untuk berdiri.

"Kemana perginya para bajingan brengsek itu?" Levi balik bertanya dengan kemurkaan, Annie memandang sekitar dan mendapati bahwa mereka tengah dikepung oleh pasukan Connie. "Kita dikepung, Heichou," bisiknya dengan suara pelan.

Levi pun berdiri dengan sempurna dan ditatapnya sekeliling mereka yang sudah dikepung oleh banyak pasukan musuh, sedangkan pasukan Levi merapat untuk melindungi sang wakil kapten beserta Annie.

Annie berdiri membelakangi Levi begitupula dengan si empu. "Heichou," ujarnya kalem. Levi menutup matanya seraya berkata,"Aku mengerti."

Levi berteriak memerintahkan para pasukannya, lalu dengan secepat kilat mereka mengangkat senjata dan menembaki musuh. Pasukan Connie tidak sempat menyerang karena pasukan Levi dengan gesit langsung menyapu habis seluruh pasukan Connie.

Annie dengan kedua pisau perak miliknya langsung menyerang Historia yang dengan cepat langsung ditangkis kunainya, menatap tajam iris Historia—Annie langsung menendang kaki Historia hingga si empu jatuh ke tanah.

"Lebih baik kau menyerah saja, gadis bodoh." Ujarnya seraya menekan pisaunya yang sebentar lagi akan mengenai leher Historia, dengan sekuat tenaga ia berusaha menahan pisau perak Annie.

"Jangan senang dulu, nenek sihir." Tengkuk Annie langsung dipukul dengan keras oleh salah satu anak buah Connie dan berakibat ia pingsan ditempat, seringai sadis pun terpatri di paras cantik Historia.

Di satu sisi, Levi tengah adu jatos bersama Connie. Ia tidak menggunakan senjata magnumnya, melainkan menyerang dengan tangan kosong begitu juga dengan Connie. Levi menghantam keras bagian samping perut Connie hingga menimbulkan si empu terbatuk lalu terlempar beberapa meter hingga terbentur salah satu tiang listrik.

Levi berjalan mendekat lalu berhenti tepat di depan Connie, diangkatnya kerah kemeja Connie hingga membuat pemuda itu sesak napas. "Bocah tengik, apa yang sebenarnya kau rencanakan, hm?" bisik Levi tepat ditelinga Connie yang membuat pemuda itu bergidik ngeri.

"Jawab, bajingan."

Connie berusaha meneguk ludahnya susah payah,"I-ini semua re-rencana—"

"Katakan dengan jelas atau kau mau aku merobek dan mengelurkan isi perutmu, hmm?"

"Tidak!"

"Kalau begitu, katakan sekarang juga." Connie meneguk ludahnya sekali lagi, perlahan ia mulai membuka mulutnya dan balas berbisik,"Ini semua rencana ketua." Mendengar itu, Levi menautkan sebelah alisnya.

"Maksudmu?"

"Ketua bilang akan ada—"

Duak!

Levi mengerang sakit begitu tengkuknya dipukul, perlahan cengkraman di kerah Connie mulai melemah. Matanya berkunang-kunang dan kesadarannya pun menghilang. Levi pingsan ditempat, disatu sisi Connie menyeringai puas mendapati sang wakil kapten Akuma Masuku tak sadarkan diri.

Ia mulai beranjak dari duduknya lalu berdiri dengan tegap, diliriknya Levi yang tengah tak sadarkan diri,"Oi, Historia! Apa perlu kita bawa si bangsat ini?" tanyanya sembari menunjuk Levi.

"Tidak perlu, kita biarkan saja mereka disini. Untuk sekarang lebih baik kita segera bergegas, kau tak mau 'kan ketua marah lagi?" tanya Historia sembari memasukkan dua pisau itu ke suatu tempat yang terikat di kedua pahanya.

Connie mendecak kesal, ia pun berjalan mengikuti Historia dan meninggalkan Levi serta anak buahnya di pinggir pelabuhan dengan keadaan tak sadarkan diri.

.

.

.

Suara nyaring yang berasal dari sepasang sepatu boots itu menggema disepanjang lorong, langkahnya begitu terburu-buru layaknya dikejar kereta. Seorang wanita bersurai cokelat itu menggeser pintu ruang kerja Erwin dengan keras tanpa izin dari si pemilik.

Erwin menatap tajam wanita itu, jujur saja ia sangat terganggu akan suara bising yang dibuat oleh wanita tersebut. "Bisakah kau ketuk pintunya dulu, Petra?" tanya Erwin sinis ke arah wanita yang dipanggil Petra yang sekarang sudah ada dihadapannya.

"Erwin-sama, ini bukan main-main. Aku mendapat sebuah sinyal dari GPS." Petra merupakan salah satu koordinator bagian GPS maupun komunikasi, untuk itu apapun bentuk dari informasi Petra akan langsung melaporkannya kepada Erwin.

"Berasal darimana?" tanyanya sembari menopang dagu dengan kedua tangan.

"Koordinat 0.14356 radius 40km dan terletak dibagian Tenggara, saya yakin itu adalah Heichou."

"Sepertinya mereka sudah berhasil menjalankan misi tersebut," tukas Erwin sekenanya. Petra langsung melirik tajam lawan bicaranya itu,"Ketua, ini bukan soal berhasil atau tidak! Ini merupakan—"

BUM!

Sebuah ledakan besar pun muncul, memekakkan telinga siapapun yang mendengar. Ruang kerja Erwin pun berguncang hebat, otomatis si empu dan Petra pun dengan sigap menggenggam meja kerja Erwin.

"Suara apa itu?" tanya Petra dengan pelan, Erwin tak menjawab melainkan hendak melihat dari balik jendela sebelum—

"Erwin-sama!"

Suatu layar transparan pun muncul dihadapan keduanya dan menampakkan salah satu anak buah Erwin, mimik wajahnya terlihat sangat ketakutan. "Ada apa?" tanya Erwin kalem.

"Sayap kiri diserang secara mendadak! Dan sekarang—UUAAARRGGHH!"

Sinyal pun terputus begitu saja, Erwin mendecak kesal. Ini semua diluar perkiraannya, ia bahkan tidak tahu bahwa markas Akuma Masuku akan diserang secara tiba-tiba. "Petra, segera informasikan kepada seluruh anggota agar cepat tiba diposisi mereka masing-masing!"

"Siap!" Wanita cantik itu langsung berlari keluar dari ruangan meninggalkan Erwin seorang diri di dalam ruangannya. Ia pun beranjak dari kursinya menuju kesalah satu lemari kaca, dipecahkannya kaca tersebut dengan sekali hantam. Lalu, mengambil shotgun dan sniper dari balik lemari tersebut.

Ditariknya sekali lalu disimpan dibalik punggung tegapnya. Berjalan keluar dari ruangannya menuju salah satu tempat yang harus ia kunjungi—ruangan Levi.

.

.

.

Disatu sisi, Eren melihat dari balik jendela. Terdapat beberapa sekelompok musuh yang berhasil menerobos dengan mudah, bagaikan menginjak semut dalam sekali hentakan. Eren menggenggam erat ujung kimononya, apapun yang terjadi ia harus melindungi dirinya—tanpa ada Levi sisinya.

Kaki jenjang itu membawa dirinya kesalah satu lemari milik Levi, dibukanya dengan kasar dan terlihat deretan senjata yang mengkilap—bisa diingat bahwa Levi maniak kebersihan dan pastinya senjata itu selalu dibersihkan setiap seminggu sekali. Diambilnya dengan kasar beberapa senjata yang menurut Eren akan ia perlukan.

Sniper. Magnum. Dua pisau belati.

Tiga senjata itu yang diambilnya saat ini. Mengikat dua tempat pisau di kedua pahanya, serta mengalungkan sniper di punggungnya. Kini, kedua tangan itu menggenggam sebuah pistol magnum.

Eren berjalan keluar dari ruangan Levi, menyusuri megahnya lorong markas. Seketika ia bersembunyi dibalik tembok begitu mendapati dua musuh yang tengah berjalan, diangkat lalu memicingkan mata dan—

Dor! Dor!

Dua sasaran pun tertembak tepat dikepala, Eren pun mulai berlari kecil melangkahi dua mayat pasukan musuh tersebut. Perlu diketahui, Eren memang handal dalam bidang sniper maupun beladiri. Jadi tak dipungkiri lagi bukan?

"Jangan bergerak."

Suara itu mengagetkan Eren, sontak ia pun berhenti dan menoleh. Mendapati seorang gadis bersurai hitam sebahu dengan syal merah yang melilit dileher jenjangnya, sorot mata Eren pun berubah menjadi tajam. "Siapa kau?" tanyanya sinis.

Gadis itu terkekeh singkat, ia semakin menjulurkan crossbow itu tepat kesasaran jantung Eren. Sekali tarik mungkin benda runcing itu akan mengenai tepat ke jantung Eren, si empu mulai menelan ludah.

"Tentu saja aku salah satu dari pasukan musuh, bocah bodoh."

"Jaga perkataanmu, nona."

"Oh ya? Lalu apakah aku harus menjaga perkataanku bila kau memang lelaki jalang?" tanya gadis itu dengan nada mengejek, sontak ubun-ubun Eren terasa panas dengan perkataan gadis tersebut.

"Jaga ucapanmu, nona. Atau kau mau aku memotong dan mengikis lidahmu menjadi salah satu pahatan?" Eren pun tak kalah jauh dengan gadis itu, menjulurkan senjata magnum itu tepat sasaran diotak gadis tersebut. Gadis itu semakin memandang remeh lawan bicaranya.

"Sekarang aku bertanya sekali lagi, siapa dirimu?" Eren semakin menatap tajam gadis tersebut, perlahan gadis itu menurunkan crossbow miliknya dan menghela napas. "Mikasa Ackerman, wakil ketua Mogui Zhanshi." Ujarnya dengan seringai yang terpatri diparas cantiknya.

Iris zamrud itu membulat, bukankah itu salah satu Mafia yang terdapat di Cina? Kenapa mereka disini? Dan terlebih lagi adalah nama belakangnya mirip—tidak, melainkan sama dengan kekasihnya.

"Jangan sembarang memakai nama Ackerman!" teriak Eren geram, kedua tangannya terkepal hingga terlihat buku-buku jari yang memutih. Mikasa hanya menatap Eren jenuh,"Haa~ sepertinya Levi-niisama belum memberitahumu tentang diriku ya?"

"Ma-maksudmu?!"

"Aku adalah adik kandung Levi-niisama dan aku kesini untuk memberinya pelajaran."

Eren dibuat terkejut kembali, bagaimana mungkin ia adalah adik kandung Levi? Selama ini, Levi tak pernah mengungkit masa lalunya. Bisa jadi ini adalah tipu daya musuh. "Jangan macam-macam, aku tahu semua taktikmu."

"Taktik katamu? Bagaimana bisa taktik itu ialah fakta yang sesungguhnya?"

"Aku tidak percaya kalau kau memang adik kandung Levi!"

Mikasa membuang ludahnya kesamping lalu menatap Eren keji,"Baiklah bila itu maumu. Bagaimana, bila aku langsung memberimu pelajaran, hmm?"

Dengan secepat kilat, Mikasa hendak menonjok Eren tetapi berhasil ditepis oleh si empu. Kaki jenjang Mikasa pun terayun dan menendang bagian samping tulang rusuk Eren, membuat si empu terlempar beberapa langkah. Eren mulai memfokuskan lagi pandangannya ke depan.

"Makan ini!" Teriak Mikasa, ia melompat dan salah satu kakinya hendak mengenai Eren. Dengan cepat, Eren berhasil menghindar membuat Mikasa menendang salah satu tembok hingga runtuh.

Eren pun mulai melemparkan beberapa pukulan ke arah Mikasa dan beberapa kali juga Mikasa terkena pukulan Eren. "Jangan bangga dulu, bocah jalang."

Mikasa berlari dengan cepat lalu menyambar crossbow miliknya, diarahkan tepat ke arah Eren. Menekan pelatuk beberapa kali membuat panah runcing itu melesat dengan cepat menuju si empu, Eren berusaha menghindar dari serangan Mikasa namun—

"Uuaarrgghh!"

Salah satu panah berhasil menembus lengan kanan Eren, ia meringis kesakitan. Dilepasnya panah tersebut dan dibuangnya kesembarang arah, sakit langsung menyerang kepalanya juga.

"Hahaha! Sepertinya obatnya bereaksi juga," ujar Mikasa kalem diikuti tatapan sadis. Perlahan, pandangan Eren mulai mengabur. Napasnya pun melemah dan akhirnya ia pun jatuh tak sadarkan diri. Eren pingsan ditempat.

Mikasa mulai berjalan mendekati Eren, dijambaknya surai eboni itu hingga menampilkan paras manis si empu. "Aku heran, kenapa Levi-niisama sangat menyukai bocah jalan sepertimu." Umpatnya pelan lalu menggendong Eren layaknya seonggok mayat, berjalan menyusuri lorong sembari membawa Eren yang tak sadarkan diri keluar dari markas Akuma Masuku.

.

.

.

"Sumimasen, Levi-sama. Tetapi kami tak menemukan tanda-tanda keberadaan Eren-sama."

Iris kelabu itu terkejut hebat mendapati tak ada satu pun keberadaan sang kekasih, ia langsung melirik Erwin tajam. "Bukankah sudah kubilang bahwa aku menitipkan bocah tengik itu kepadamu, Erwin?"

"Aku sudah bergegas sebisa mungkin tapi saat aku ke kamarnya tak ada satu pun batang hidungnya yang muncul."

Levi menggertakan giginya kesal, kedua tangan ia kepalkan hingga buku-buku jarinya memutih. Erwin mendapati wakilnya tengah dilanda emosi, perlahan ia hendak menepuk pundak Levi tetapi ditepis dengan kasar oleh si empu.

"Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu." Tukas Levi dengan kilat emosi, mau tidak mau Erwin harus menelan pil pahit kali ini.

"Jadi, apa rencanamu sekarang, Erwin-sama?" tanya Annie dengan tatapan datarnya.

"Untuk sekarang kita akan beralih ke sayap kanan dan setelah semua suasana mencair baru kita akan memulai misi kita yang sebenarnya, semua mengerti?"

"Siap!"

Levi mengontrol kembali emosinya, meski tengkuknya masih terasa sakit. Tetapi, apapun yang terjadi ia harus tetap tenang dan berkepala dingin. Agar semua kasus bisa terpecahkan jalan keluarnya.

Apapun yang terjadi, ia harus menyelamatkan Eren. Meski harus merenggut nyawanya seorang.

.

.

.

-To Be Continued-


A/N: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan membaca kelanjutan fic saya, mungkin adegan-adegan dewasa akan dimuat di chapter depan.

Saya minta maaf sebesar-besarnya bila banyak kekurangan dalam cerita ini.

Review please?^^

Sign,

Kazu Kirana