Hai hai minna~ ketemu lagi sama Mitsu, author payah bin aneh ini di chapter 2...
Ekhm, Om Kishimoto, saya mohon izin pinjem chara-nya sebentar..! m(_ _)m
Buat readers...langsung saja, selamat membaca...
R 'n R !
Don't like, don't read! Mohon untuk tidak nge-FLAME, tetapi kritik membangun diterima. ^^
HIMITSU MEZU PRESENT:
.
.
.
A Naruto fanfiction,
~ONE OCTAVE~
Disclaimare: Masashi Kishimoto.
Main Pairing: NaruHina.
Genre: Romance, Friendship.
Rated: T
Warning: OOC, gaje, abal, typo, judul gak begitu nyambung, juga ada OC dan crack pairing untuk keperluan cerita.
Chapter: 2 (Complicated Love)
Hinata tengah duduk manis di bangku kelasnya pagi ini, cerahnya hawa pagi dengan kesegaran khas Konoha serta kicauan burung-burung yang merdu seakan telah mengantarkan Hinata ke sekolahnya. Setidaknya sampai Tenten datang. Setelah Tenten mengambil posisi duduk, mereka berdua pun saling ber-ohayo ria.
"Eng...Hinata, bukannya pagi ini sebelum masuk kamu harus.." ujar Tenten.
"Aah! I-iya ya... untung saja kamu mengingatkanku." Hinata memotong kalimat Tenten yang ia sudah ketahui maksudnya.
Hinata langsung bangkit berdiri. Tenten tersenyum pasti. Mata lavender Hinata mulai mencari dua sosok anak berpelanggaran yang kemarin diperintahkan Anko-sensei untuk menemuinya.
Setelah menemukan salah satunya, Hinata pun menghampiri sosok yang sedang duduk di depan koridor kelasnya.
Dan mata mereka bertemu. Sesosok remaja lelaki berambut blonde kuning keemasan dengan mata biru laut shappire-nya yang menatap ke bola mata lavender sang gadis Hyuuga. Segaris merah mulai timbul di wajah Hinata.
"Eng..U-Uzumaki-san, a..aku kesini. Ano...perintah Anko-sensei kemarin. Kau harus kesana se-sekarang. Kurasa pelanggaran mu sudah kau hilangkan, ja..jadi.." ujar Hinata yang memang suka sangat terbata-bata bila bicara dengan orang yang baru dikenalnya. Apalagi Naruto adalah cowok yang cukup populer di sekolahnya.
"Haaaaahh...baiklaah! eh, tunggu! Dimana Shikamaru? Dia kan juga.." kata Naruto malas.
"Ini, Hinata. Surat izinnya Shikamaru, dia ada urusan keluarga." Tiba-tiba Ino datang sambil menyerahkan surat itu ke tangan Hinata. Hinata masih terdiam kaget, melihat Ino yang langsung berlalu ke dalam kelas. Tentu saja untuk menemui Sasuke.
Hinata memasukkan surat Shikamaru ke kantong rok sailor-nya sambil melirik Naruto. Dalam diam, ia telah menjawab pertanyaan Naruto.
Muka Naruto langsung masam. Ia kesal dengan Shikamaru yang seharusnya jadi 'teman' hukumannya hari ini, malah tidak datang.
Akhirnya Naruto mengikuti Hinata menuju ruang guru sambil terus menggerutu kesal.
"Huh, awas saja si rambut nanas itu! Bisa-bisanya ia melarikan diri dari hukuman ini. Bisa habis nih, kalau aku sendirian yang dihukum! sial..sial..siaaaal!" Naruto mengutuki Shikamaru.
'Yaampun Naruto, Shikamaru 'kan memang tidak masuk karena kebetulan ada urusan keluargaa. Ckckckckc...' ujar Hinata dalam hati. Ya, nyalinya memang tidak cukup bila ia mengatakannya langsung di hadapan Naruto yang belum dikenalnya.
Sebenarnya Hinata enggan berjalan berdua dengan laki-laki yang belum akrab dengannya. Jantungnya berdetak cepat. Beberapa bulir keringat dingin membasahi pelipisnya. Bukan berarti suka, tapi memang beginilah Hyuuga Hinata bila berhadapan dengan lawan jenisnya.
Sepanjang jalan ia berdoa supaya ia cepat sampai di kantor guru dan mengakhiri perjalanan yang tanpa kata-kata ini. Ia sangat gugup apalagi ia dan Naruto melewati koridor-koridor yang ramai.
'Ya Tuhaan... kenapa rasanya kantor guru jauuuh sekali? Mengapa tidak sampai-sampai...? Ayolaaah.. mana suasananya muram sekali. Aduuh, kira-kira mau mengobrol apa ya, dengan Naruto supaya memperbaiki suasana ini?' Hinata mulai membatin lagi.
Saat beberapa meter lagi mencapai ruang guru, Naruto yang tadinya cemberut pun membuka suara.
"Eengg.. hei, kau. Tadi kamu memanggil nama margaku kan? Mulai sekarang panggil Naruto saja ya!" ujar Naruto bersemangat.
"I-iya.. baiklah, Naruto-san." Kata Hinata tiba-tiba. Ia refleks menjawab cepat karena sedari tadi jantungnya berdetak cepat.
'Aneh ...padahaal sejak tadi ia terus menggerutu. Mengapa tiba-tiba ia bersemangat begini?' batin Hinata heran.
Naruto pun memamerkan cengiran kudanya pada Hinata. Lalu Hinata mengetuk dan membuka pintu ruang guru yang telah ada di depannya. Dan masuk diikuti Naruto.
Di dalam, Anko sudah menanti. Hinata makin tegang saja, sementara Naruto menelan ludahnya. Naruto tetap takut pada Anko-sensei walau ia telah menggunting rambut ber-cat nya, sesuai perintah Anko-sensei.
Setelah melapor pada Anko-sensei mengenai kasus Naruto, ia juga menyerahkan surat Izin Shikamaru seusai menjelaskan absennya Shikamaru hari ini dan langsung beranjak pergi menuju kelas.
Hinata melangkah keluar ruang guru sambil menghembuskan nafas lega. Ia lega sekali susana muram tadi telah berakhir.
Kini Naruto sedang di hukum menggunting rumput taman oleh Anko-sensei. Sebelumnya, Hinata mendengar ceramah Anko-sensei pada Naruto, yang sebenarnya tidak sengaja terdengar dari arah koridor kantor guru tempat Hinata berjalan. Suara Anko-sensei yang tegas juga keras memang terdengar sampai jauh. Setidaknya itu hal yang terkenal luas di Konoha Kotogakko ini.
'Malang juga nasibmu Naruto-san..' batin Hinata bersimpati.
Dan sejak saat itulah Hinata mengenal Naruto. Terlebih lagi, mereka dan Sasame sering membicarakan anime beserta segala atributnya. Dari komiknya, cerita barunya, koleksinya, sampai soundtrack plus penyanyinya.
Seperti siang ini, mereka sedang mengobrol ria tentang sebuah Anime sambil mencatat pelajaran yang gurunya tidak hadir. Mereka menulis satu meja bertiga, berdekatan. Ya, hari ini Hinata tidak seperti biasanya, ia tidak menulis dengan 'geng' nya yang berisi Sakura dan kawan-kawan.
Mereka juga memutar lagu anime dari handphone Sasame. Dan menyanyi bersama. Naruto-lah yang suaranya paling keras, Hinata hanya bersenandung pelan. Namun mereka sangat enjoy dengan hari itu. Yah.. walaupun mereka baru mengenal karena anime.
"Kalau panyanyi soundtrack anime, kamu suka siapa Hinata?"
"Ah, itu.. a-aku suka Yui. Kalau Naruto-kun?"
"Wah..kita sama! Kalau Sasame?"
"Aku siih, banyak!"
TEEEEEEETTT
Obrolan ditutup dengan kalimat Sasame. Setelah terdengar bel pulang, mereka bertiga pun membereskan barang-barang mereka dan segera pulang.
Namun, saat Hinata hendak berjalan melewati pintu, Naruto memanggilnya.
"Hinata!"
"Ya?"
"Bisa bantu aku? Engg...hari ini kau ada kegiatan di klub musik kan?" tanya Naruto.
"I-iya, apa yang bisa kubantu?" Hinata bertanya balik.
"Bisa kita ke klub musik bersama? Aku baru masuk klub, nih.."
"Ta-tapi... aku sudah janji dengan Shion-chan," ujar Hinata pelan.
"SHION-CHAN?-uff.." lepas kontrol, Naruto berteriak lumayan kencang.
Hinata hanya mengangguk. Terlihat Shion sudah menunggu Hinata dari kejauhan.
"Eh, go-gomen Naruto-kun..aku duluan, sayonara!" Hinata langsung melenggang pergi ke tempat Shion.
"Haaah... padahal aku ingin pergi bareng dengannya, biar sekalian bareng Shion-chan~" keluh Naruto pelan. Rupanya benar gosip yang mengatakan Naruto masih menyimpan rasa pada mantan kekasihnya, Shion.
Kini, biola cokelat mungil sudah dalam kuasa Hinata. Lantunan nada-nada merdu keluar dari biola klasik yang dimainkan Hinata. Fakta bahwa seluruh siswa Konoha Kotogakko yang mengenal Hinata juga pasti tahu kemahiran gadis ini dalam bermain biola memang benar.
Shion pun menyusul. Keyboard silver ditangannya menghasilkan nada merdu yang berdampingan dengan biola Hinata. Setelah itu, Suara drum Kin Tsuchi, gitar Sasame, bass Natsuki dan seharusnya vokal Ino ̶̶̶ yang kali ini sedang absen, ikut mengalun dalam sebuah lagu. Band.
Lomba band putri tingkat SMA se-Konoha lah yang akan diikuti oleh band putri yang akan mewakili Konoha Kotogakko ini. Maka dari itu mereka berlatih sore ini.
Lain dengan Sakura. Saat ini di klub musik, Hinata memang tidak bersama Sakura yang biasanya dekat dengannya, karena Sakura juga sedang serius mempersiapkan diri untuk lomba piano solo nya.
Mata Hinata menyusuri sekeliling klub musik. Ia melihat Naruto, ̶ teman akrab barunya itu terlihat sedang memandangi Shion. Lalu Hinata melihat Sakura yang dikenal di sekolah sebagai seorang master piano, sedang berkutat dengan grand piano putih. Kiba, Chouji dan teman-teman lainnya yang sedang serius dengan alat musik masing-masing.
Saat break klub musik, Hinata mengahampiri Sakura yang masih saja duduk di depan piano. Padahal anak lain sudah keluar ruangan klub untuk makan-makan ringan atau sekedar refreshing.
"Sakura-chan.. ini minumlah dulu! A-aku tau kau sedang serius untuk lomba Chopin itu, tapi semua kan ada waktunya. Sekarang break dulu," kata Hinata lembut seraya menyerahkan sekotak jus pada Sakura.
"Ah, iya..terima kasih." Ujar Sakura sambil tersenyum dan menerima jus itu. Benar juga apa yang Hinata katakan.
Hinata mengambil tempat duduk di sebelah Sakura. Mata Amethyst-nya memandang grand piano putih di depannya dalam-dalam. Hening sesaat.
"Waktu SD aku suka manga. Dan sejak SMP hobi ku lebih mengarah pada biola dan orangtuaku pun mendukungnya, sampai sekarang. Tapi entah mengapa belakangan ini aku sangat tertarik dengan benda ini ya?" kata gadis berambut indigo itu sambil menekan salah satu tuts piano. TINGG.
"Memang menyenangkan." Ujar Sakura tersenyum tipis.
"Dan aku bo..bodoh sekali tidak minta diajarkan, atau... bila kini tidak memintanya , padahal a-aku tahu sejak dulu temanku ini masternya, hihihi.." sambung Hinata dengan penekanan di kata 'bila'.
"Wakatta..." kata Sakura pelan.
Jari- jari sang master Haruno Sakura pun menari dengan lincahnya di atas piano. Hinata hanya mendengarkan nada-nada lembut itu sambil memperhatikan cara bermain Sakura.
"Moonlight sonata," ujar Sakura.
"Selalu bagus.. se-sensei. Hahaha," Hinata memuji.
" Seperti yang kau tahu. Piano ini terdiri dari beberapa oktaf, satu oktaf terdiri dari tujuh buah nada." Sakura memulai 'les privat' nya.
"Do-re-mi-fa-sol-la-si-do," ucap Hinata sambil menekan tuts tiap-tiap nada.
"Dan yang terpenting, kunci sukses bermain musik, piano... ingat, tujuh nada ini berurutan dalam satu oktaf. Namun kita harus memainkannya dengan teratur. Bila ditekan semua nadanya secara bersamaan, pasti kacau 'kan bunyinya?" jelas Sakura.
"Hm, jadi kalau mau mengkombinasikan nada dalam sekali tekan, harus disesuaikan jumlahnya nada, bunyi, dan harmonisasinya. Iya kan Sakura-chan?" Hinata yang sedari tadi memainkan piano semampunya, memotong perkataan Sakura.
"Yap, akor. Sekarang coba mainkan lagu, dong!"
"Ah..aku 'kan tidak bisa Sakura chan~"
"Kalau kau paham yang ku katakan tadi, pasti kau menguasai semua nada di sini."
"..."
Perbincangan sore itu berlanjut dengan dentingan piano dari tangan Hinata. Tidak begitu bagus, yah wajar lah... pemula.
"Hei, Hinata... kapan kita mau membeli komik baru itu?" tanya Kiba yang tiba-tiba datang di belakang Hinata.
"Ah Ki-Kiba! mengagetkanku saja.." seru Hinata
Sakura yang sedari tadi memperhatikan permainan piano Hinata, hanya menengok ke arah sumber suara.
"Oi, Sakura! Tumben mukamu serius sekali," kata Kiba.
"Biasa lah, di-dia sedang serius mau lomba Chopin. Hahaha," Hinata menjelaskan.
"Oh iya, Kiba..lusa saja gimana?" sambung Hinata.
"Mmm... baiklah. Biasa ya, sepulang sekolah!" kata Kiba.
"Jadi, Naruto masuk klub musik ini, hanya untuk mendekati Shion lagi?" Kin Tsuchi membuka perbincangan gossip sepulang dari klub musik. Hinata berjalan di sampingnya beserta beberapa siswi lain. Sakura tidak pulang bersama Hinata karena ia masih latihan khusus.
"Entahlah, tapi terlihat jelas sih..." kata seorang siswi.
"Iya tuh..blablablabla..."
'Mulai lagi deh.' Batin Hinata. Ia tidak terlalu suka gossip.
Tiba-tiba ia melihat pemandangan yang seharusnya terlarang.
"Hah!" Ia menutup mulutnya tidak percaya. Mematung. Pertanyaan teman-temannya pun tak dijawabnya.
Jelas terlihat Sasuke sedang mendekat pada Ino di lorong antar kelas yang kosong. Ino bersender merapat ke tembok di belakangnya, sementara Sasuke di depannya. Satu tangan Sasuke di tembok tempat Ino bersender, tangan kirinya di bahu Ino. Ini memang sudah sore.
'Pantas saja Ino tak terlihat di klub musik tadi. Ternyata hanya alasan konyol ini, yang membuat Ino absen, ckckckck'. Pikir Hinata.
Wajah mereka makin dekat saat tiba-tiba terdengar teriakan keras seseorang.
"CIEEEE... TEMEEEEE...!" ternyata Naruto yang berteriak dengan tanpa berdosanya, ia tak sadar telah mengganggu momen Sasuke dan Ino. Tapi membuat Hinata lega.
Beberapa saat kemudian, jitakan mendarat di kepala durian Naruto. Setidaknya Naruto mendapat pelajaran: jangan macam-macam dengan Uchiha yang sedang serius, apalagi sampai mempermalukannya di depan banyak orang.
HINATA'S POV
Tidur adalah hal paling mujarab untuk mengobati capek. Ya, hal itulah yang selalu tubuh mungil ini di ranjang berwarna lavender ku. Capek, setelah kegiatan seharian ini. Apalagi aku selalu kepikiran akan hal tadi. Tak ku sangka, Ino, sahabat baikku, yang dulu berkomitmen sama denganku menjadi seperti ini.
Mungkin, mungkin aku terlalu berlebihan mengkhawatirkan Ino. Atau mungkin anak-anak SMA lain akan menganggapku sok suci, tidak peka, atau apalah. Karena aku anti dengan hal-hal yang berbau 'pacaran fisik'. Yah...kalian mengerti maksudku kan?
Hal-hal yang kini terbilang tidak aneh itu, bagiku... sama saja seperti menjual harga diri kita secara murah. Misalnya sekarang cowok A yang memacari kita, cowok itu bebas mencium lah, peluk-peluk lah. Lalu, suatu saat bila sudah putus, ganti cowok lain. Begitu saja seterusnya. Kalau sudah begitu, berapa harga seorang perempuan sebenarnya? Miris.
Kemudian, suatu saat nanti bila kita menikah, berarti suami kita dapat 'barang bekas'? meski 'hanya' bekas dicium atau dipeluk orang lain, sama saja judulnya 'bekas' kan? Menyedihkan.
Jadi aku tidak ingin pacaran dulu, nanti malah terjerumus hal 'mengenaskan' seperti tadi, atau bahkan lebih mengerikan? Mungkin ada. Memang tidak seperti kebanyakan gadis lain, aku tidak begitu berambisi untuk punya pacar di masa SMA ini, santai saja lah.'Belajar dulu, toh kalau sudah sukses kan banyak yang mau.' Begitu kata Kaa-san ku.
Waktu SMP, Aku, Ino, Sakura, dan Himawari pernah berkomitmen demikian. Tapi kini rupanya Ino tak bisa menahan pesona Pangeran Uchiha, yang memang terbukti pada lebih dari 80 persen siswi di sekolah. Yah.. makannya kini aku mengkhawatirkannya.
Tapi, bukan berarti aku tidak normal. Hey.. tentu saja aku pernah menyukai laki-laki. Tapi untuk kali ini, belum ada lelaki yang mengisi hatiku.
Entah mengapa, aku jadi takut untuk mencintai seseorang. Seperti pengalamanku sebelumnya, aku takut perasaanku tak bisa tersampaikan. Jadi sia-sia. Oleh karena itu, sekarang kuputuskan untuk fokus belajar dan berprestasi tentunya.
Dan juga, kesendirianku ini bukan berarti aku tidak laku. Umm.. kalau boleh sedikit sombong, meskipun aku merasa tidak begitu cantik, sudah ada 8 cowok yang sudah menembakku selama ini.
Himawari pernah berkata '8 itu baru yang menembak lho.. belum lagi yang tidak kau ketahui, Hina.. ckckckck.. kau ini memang idola ya! Haha...' ah, dasar Himawari itu berlebihan. Aduh, jadi malu sendiri.
Sudahlah, merepotkan kalau terus dipikirkan. Perlahan aku memejamkan mataku dan terlelap dalam mimpi.
NORMAL POV
"Musim panas nanti.. akan ada study tour. Diharapkan seluruh siswa ikut, ka-karena mempengaruhi nilai." Dengan usaha kerasnya untuk berbicara lantang, Hinata kini tengah berdiri di depan kelas.
"Ke mana Bu Hinata?" ujar Kiba iseng.
"Iih..Ki-Kiba, aku ini bukan guru! Tujuannya..engg..ki-kita akan ke Suna, lalu ke Tokyo, tepatnya di Shinjuku. Selama tiga hari empat malam." Lanjut Hinata.
Sumpah, saat ini Hinata sedang perang besar-besaran. Bukan perang melawan Akatsuki atau mafia lainnya, tapi melawan rasa gugupnya. Tentu saja gugup, seorang Hinata yang pemalu, harus berbicara keras di depan kelas yang berisi banyak siswa.
Yah, walaupun semua itu temannya, tapi Hinata tidak terlalu PD untuk menjadi pusat perhatian seluruh siswa seperti ini. Itulah Hinata yang seorang ketua kelas terpaksa, mungkin lain hal nya kalau Naruto atau Lee yang berada di posisi ini. Tapi seluruh manusia di kelas tidak mungkin membiarkan dua perusuh itu yang memimpin mereka.
"Tour nya sekitar sebulan lagi, jadi harap semuanya mempersiap- KYAAAA!" tiba-tiba Hinata terjatuh.
Seluruh kelas yang tadinya tenang jadi riuh. Dan beberapa murid mengerubungi Hinata dan ...Tenten yang baru saja mempertunjukan err.. 'Drama Korea' yang ..aneh? Ya, aneh karena Tenten tiba-tiba saja menubruk Hinata yang sedang memberikan pengumuman hingga jatuh tersungkur.
Kemudian Tenten yang menindih Hinata segera bangun. Posisi mereka bisa dibilang sangat romantis karena Tenten memeluk Hinata yang tersungkur di lantai.
"A-ada apa ti-tiba-tiba begini, Tenten-chan?" ujar Hinata pelan, masih shock dan bingung.
"Oi, Tenten nafsu amat!" ujar Lee dari kerumunan.
"Memangnya ada sesuatu yang sangat berbahaya ya?" kata Shiho.
"Hey kalian jangan salah paham! dan Hinata, maaf, aku mendorongmu tiba-tiba. Aku hanya ingin menyelamatkanmu dari makhluk itu!" seru Tenten sambil merapikan bajunya yang kusut.
Semua murid yang berkerumun, termasuk Hinata, memandang ke sekeliling. Bingung karena tidak menemukan si makhluk pembuat masalah.
'Hiiii... jangan-jangan di kelas ini ada setan lewat' pikir Ino menebak-nebak.
'Jangan-jangan, langit-langit kelas mau copot lalu Tenten menyadarinya. Waa Tenten bisa meramal!' pikir Naruto asal.
"Wha..mungkin Tenten punya sharingan tajam yang bisa melihat cepat peluru melesat ke arah Hinata !' Tebak Kiba makin ngaco.
Dan khayalan aneh lainnya pun terbayang di benak para murid. Mereka jadi takut sendiri akan bahaya yang mereka tebak, walaupun belum pasti. Konyol.
Tenten yang sadar akan situasi, segera angkat bicara.
"CICAK itu! tadi Cicak itu mau jatuh ditas kepala Hinata, maka aku cepat-cepat mendorong Hinata agar dia terhindar dari makhluk PHOBIA nya-yang bisa-membuatnya-pingsan itu!" seru Tenten.
GUBRAK. Semua sweatdropped, melongo, tapi lega juga karena hal-hal mengerikan tidak terjadi seperti bayangan mereka. Semua, kecuali Hinata yang sibuk teriak-teriak ketakutan dan berlari menjauh setelah menyadari dan menemukan si cicak hanya satu meter darinya.
"Yah...begitulah Hinata ..bisa berubah cuma gara-gara makhluk itu." Tenten pun sweatdropped dengan penjelasannya sendiri. Murid-murid tambah heran.
Naruto yang jahilnya keluar, mengambil sapu dan menaruh cicak itu di atas sapu. Perlahan ia menghampiri Hinata dengan cicak itu.
"Hi-na-ta-chan!" tiba-tiba Naruto berseru jahil tepat di belakang Hinata.
"KYAAAA...!" refleks Hinata lari saat Naruto menyodorkan cicak di sapu itu.
Ia berlari keluar kelas. Naruto mengejar, menakut-nakuti Hinata. Melewati lorong-lorong kelas, serta mengelilingi halaman sekolah.
Saat itu bel istirahat berbunyi, banyak murid menonton acara kucing-kucingan Naruhina. Hinata berlari sekencang-kencangnya sambil menahan malu yang biasanya sangat tak bisa ia tahan. Tapi ketimbang ia harus pingsan saat Naruto dan cicak itu mencapainya, lebih baik terus berlari.
"NARUTO-KUN...BUANG CICAK ITU~ CEPAAT...!" keluarlah teriakan Hinata yang limited edition.
"Eheheehehe...cicaknya suka padamu niih!" kata Naruto jahil.
Beberapa detik kemudian, Hinata mulai kelelahan. Lalu...seseorang..
"HEH..KALIAAAAAN..!KENAPA KEJAR-KEJARAN DI KORIDOR BEGINI? MENGHALANGI JALAN ORANG TAHUU...!"
Tepat, Anko-sensei.
Hinata merinding. Naruto langsung menghentikan larinya. Ia menelan ludahnya.
Walau Anko-sensei akan memarahinya, ia jadi lega karena ada 'penghenti' Naruto dari aksinya.
Perlahan-lahan dan gemetar, Hinata membalikkan badannya menghadap Anko dan Naruto.
"Kalau mau pacaran jangan mengganggu jalan orang! Lagipula tidak etis sekali kalian kejar-kejaran disini. MEMANGNYA JALAN INI PUNYA MBAH MOYANG KALIAN APAA? Apa kau mau ku hukum LAGI? Hm, Uzumaki!" seru Anko dengan penegasan pada kata 'lagi' dan kalimat terakhir yang ditujukan untuk Naruto.
"I-iya.. maaf Sensei," ujar Naruto dengan wajah madesu. Hinata diam saja. Menunduk dalam-dalam.
"Huh.. sana kembali ke kelas! Daripada ribut disini!" kata Anko tegas.
Baru saja Anko pergi saat Naruto dan Hinata masih membeku. Detik selanjutnya Naruto langsung tersenyum iseng dan melirik kearah Hinata. Hinata lagi-lagi merinding.
"Hehe.."
Saat Naruto hendak mengambil ancang-ancang, sebuah teriakan terdengar.
"HOOOOIIII...Ayo lanjutkan! Dimana semangat masa muda kalian..?" tentu Guy yang berbicara.
"HEI..ayo lari teruuus..! yang tadi itu sangat seru! Hahhahaha..aku melihatnya dari tadi! Jangan cuma gara-gara nenek sihir itu kalian langsung berhenti!" seru Guy dengan lebainya sambil mengacungkan jempol dan nyengir kuda trademark-nya itu.
Seketika urat jijik Hinata menegang berbarengan dengan mengencangnya urat jahil Naruto serta putusnya urat malu Guy.
Guy mulai bersorak-sorak heboh. Sedikit demi sedikit Naruto maju menyodorkan cicak di sapu itu kearah Hinata yang berada beberapa meter darinya.
Pikiran Hinata sudah seperti benang kusut. Ill feel, takut, bingung, sweatdropped. 'Baru saja Anko-sensei menyuruh berhenti, kenapa guru satu ini malah menyuruh lanjutkan?' batin Hinata sembari melangkah menjauhi Naruto.
...
...
JTAKKKK
Tanpa diketahui Naruto dan Hinata yang telah berlari, sebuah jitakan mendarat di kepala Guy berkat seseorang yang merasa kesal dan tersinggung, Anko.
Setelah lama berputar-putar, mereka berdua akhirnya kelelahan. Hinata kembali ke kelas disusul Naruto yang telah membuang cicaknya.
"Huuh..Naruto-kun apa-apaan sih tadi itu? A-aku kan sangat-sangat phobia..memangnya kau tidak bisa bayangkan akibatnya?"
"Ja-jahil itu ada batasnya!" seru Hinata. Bicaranya terpotong-potong, nafasnya terengah-engah, namun nadanya menyiratkan kemarahan kecil.
Tidak biasanya Hinata seperti ini, tapi Hinata memang dapat berubah se-drastis apapun jika sudah menyangkut CICAK.
Sebenarnya Naruto merasa bersalah, tapi ia malah nyengir.
"Iyaa sori..tapi tenang, sudah kubuang kok cicaknya...habis, kamu larinya cepat sih..aku capek mengejarmu, jadi males nakut-nakutin kamu lagi," ujar Naruto.
BLETAKK!
"AWW ...Itai!"
Kamus kanji tebal mendarat di kepala Naruto.
"Makannya, jangan seenaknya jahil sama cewek! Apa kau tidak tahu Hinata pernah pingsan sampai dibawa ke rumah sakit, cuma gara-gara makhluk itu hah!" seru Sakura dengan aura neraka dari belakang Naruto.
"I-iya baiklah, aku tak akan melakukannya lagi~ ampun Sakura-chan..!"
"WUUUHUUU...! yo Naruto! Mesra sekali kejar-kejarannya, padahal masih siang looh!" ujar Lee keras dari belakang kelas sambil meniru trademark nya Guy.
"Ciee...cie... Naruto, Shion lepas sekarang ngincernya Hinata niih!" Natsuki ikut bersorak.
"Cieeee...!"
"Suit..suiiit.."
"Gossip baru niih!"
"PJ ditunggu yaaa..!"
Sontak wajah Hinata memerah. Baru saja ia memasuki kelas, saat ia TEPAT di depan kelas BERSAMA Naruto begini malah langsung diledek oleh teman-temannya.
Naruto langsung angkat bicara.
"Hei, apaan sih! Aku itu tadi hanya iseng! Tidak mungkin aku menyukai Hinata, karena aku tak mungkin merebutnya dari Kiba. Itu sama saja menghianati teman sendiri, ya kan Ki...eh! Upph!"
Cepat-cepat Naruto menutup mulutnya, tapi terlambat. Ia sudah terlanjur mengatakannya keras. Kiba hanya membeku di tempat duduknya. Pura-pura tidak tahu. Sesekali matanya menatap Naruto tajam yang tak disadari siapapun.
BLUSH!
Hinata hanya dapat tertunduk, wajahnya semakin memanas.
"OOOHHHH...TERNYATA KIBA TOH, YANG SAMA HINATA...!" satu kelas ber-ooh ria.
'Kami-sama...apa hari ini aku tidak bisa lebih sial lagi?' batin Hinata.
Sementara Kiba sibuk memprotes pernyataan tadi dan men-death glare Naruto yang ketakutan karena tak sengaja membocorkan rahasia temannya.
'Maaf Hinata, mungkin setelah ini kau akan sering di ejek orang-orang karena aku. Salahku sendiri tidak mengungkapkannya langsung padamu...kuharap kau masih mau menjadi temanku. Bagaimanapun, perasaanku ini tak bisa kucegah..' batin Kiba sedih.
"GAARA!"
Set set set...WHUSSS
TEPP
"SHUTT LANGSUNG!"
SRAKKK
"KYAAA...KEREEEN!"
"GAARA-CHAN, I LOVE YOU"
"SASUKE...KYAAAA!"
" Good job Sasuke, Gaara!" kata Lee.
"Bagus, sekarang break sebentar! Setelah itu bangkitkan lagi semangat muda kalian!" seru seorang coach sekaligus guru olahraga itu sambil mengepalkan tangannya ke udara dengan mata berapi-api.
Para pemain yang sedang toss dengan wajah mereka yang cool –tentu saja tidak semuanya cool ̶ tiba-tiba berubah air mukanya menjadi mode 'mata segaris dan mulut titik' karena melihat guru mereka yang lebay.
Siang itu, walau sudah lewat jam pulang sekolah, namun Konoha Kotogakko masih ramai karena ada berbagai kegiatan ekstrakulikuler. Apalagi hari ini ada latihan gabungan antara Konoha Kotogakko dan Konoha Chuugakko, SMP terbaik di Konoha yang telah berjalan cukup lama.
Entah karena olahraga basket adalah favorit anak-anak sekolah atau karena para pemainnya yang menjadi favorit, latihan gabungan klub basket SMP dan SMA selalu ramai penonton terutama para gadis.
Namun klub-klub lainnya pun tak kalah ramainya karena semangat para anggotanya yang aktif dan seringkali berprestasi di berbagai bidang.
Tak terkecuali gadis berambut indigo yang baru saja keluar dari ruang klub musik setelah latihannya selesai. Ia berjalan bersama Shion, Ino, dan Sakura menuju gym lapangan basket. Kenapa gym lapangan basket? Karena mereka janjian berkumpul dengan Temari, Tenten dan Shiho untuk pulang bersama. Namun selain itu ada sebab lain.
"Temari!" panggil Shion pada teman sebangkunya yang sedang membagikan minuman pada para anggota tim basket. Tepat, Temari adalah manager klub basket.
"Ah..hei Shion. Cepat, langsung saja!" kata Temari sambil menarik Shion dan menyerahkan sebotol minuman lalu mendorongnya tepat ke hadapan... adik BUNGSU nya.
"Hai.." tebakan semuanya pasti benar. Gaara, adik bungsu Temari yang masih kelas 3 SMP itu berujar datar dengan wajah cool nya yang berkeringat akibat bermain basket barusan pada ...pacar barunya!
Oh tuhan, wanita mana yang tidak histeris melihat cowok keren ini dengan jarak hanya 30 cm. Ditambah lagi cowok itu menatap dalam dalam dengan mata tajam yang imut seperti panda. Dalam hati Shion menjerit gemas sebagai... pacar baru cowok itu.
"H-hai Gaara, ini!" ujar Shion sambil menyerahkan sebotol minuman pada pacarnya yang ia kenal dari teman sebangkunya.
"Cie... Shion sama..adiknya Temari ya?" kata Sakura.
"Ya, mereka baru jadian tiga hari yang lalu lho!" Temari yang menjawab.
"Hoi, mana minumanku?" protes Shikamaru pada Temari.
"Huh..buat apa pemain malas sepertimu di kasih minum?" omel Temari, merasa menang.
"Hei, merepotkan, dasar tidak adil! Jangan disangkut bautkan dengan masalah tadi dong,"
"Salah sendiri! Siapa suruh tidak mengerjakan tugas tadi! Kan aku juga ikut kena getahnya!"
"Siapa suruh sekelompok denganku?"
"Aku tak akan sekelompok denganmu kalau kelompoknya tidak ditetapkan guru, bodoh!"
"Merepotkan, cepat berikan minumnya, aku haus!"
"Ambil saja sendiri! Dasar merepotkan!"
"Hei..itu kata-kataku!"
"Peduli apa?"
Bla..bla..bla..
"Haah..mereka itu, duduk depan-belakang kerjaannya bertengkar terus.." kata Hinata pelan.
Mereka semua, duduk di bangku pemain pinggir lapangan sambil berbincang sekaligus berpacaran kecuali Hinata dan Sakura tentunya.
Gaara dan Shion yang masih malu-malu, Shikamaru dan Temari yang tidak mengaku berpacaran karena memang tidak ada pernyataan resmi, tapi sikap bertengkar-yang dinilai mesra- mereka sangat bisa membuat orang mengira mereka berpacaran, dan...Sasuke-Ino?
"Kenapa dengan Sasuke dan Ino?" bisik Hinata ke telinga Sakura.
"Mana kutahu, Tapi sepertinya mereka bertengkar." Balas Sakura kembali berbisik.
"Huuh.. habis, sekarang Ino jarang cerita padaku..sama Natsuki terus, atau sama Sasuke!" lanjutnya.
"Iya, de-denganku pun jarang. Ngomong-ngomong Natsuki mana ya?" ujar Hinata.
Ino, walaupun duduk di sebelah Sakura dan Hinata tapi di paling ujung barisan, sama dengan Sasuke yang berada di ujung satunya, tidak menggubris Sakura dan Hinata yang tengah berbisik. Ia tampak merenung dengan pandangan kosong.
"...betul juga ya, sekarang Ino diam saja. Tidak biasanya. Oh, Natsuki tadi pulang duluan. Hei lihat itu! Sasuke di ujung sana sedang dikerubuti fangirl nya. Biasanya 'kan Ino langsung menghampiri Sasuke dan bertingkah mesra, supaya fangirl Sasuke envy," kata Sakura berusaha bicara se-pelan mungkin.
"I-iya benar. Dan kulihat..Se-sedari tadi mereka saling mencuri pandang singkat tapi tidak mau ketahuan satu sama lain. Sasuke juga diam saja," sambung Hinata.
"Yeeehh..Sasuke emang diam terus!" kata Sakura masih berbisik, takut ketahuan Ino.
"Hai Ino! Loh..tumben gak sama Sasuke?" sembari melirik bergantian antara Ino dan Sasuke, Lee berujar kencang yang sampai terdengar Sasuke, membuat Ino dan Sasuke terpaku membisu, hatinya memanas.
Tak ada jawaban. Ino semakin tertunduk. Sasuke menatap tajam namun kosong, bukan kearah Ino, tapi kearah depan. Sakura dan Hinata harap-harap cemas.
Menyadari suasana tidak enak, Shikamaru dan Temari berhenti bertengkar.
"Teman-teman, maaf.. aku duluan."
Tiba-tiba Ino beranjak pergi dengan tergesa-gesa sebelum Sakura ataupun Hinata sempat bereaksi.
Shikamaru memberi Sasuke tatapan 'Jangan-berlagak-bodoh-cepat-kejar-dia'.
Dengan tenang setelah sebelumnya diam, Sasuke meninggalkan gym dan mengejar Ino.
"Be-benar katamu Sakura.." ujar Hinata pelan.
Spontan, setelah kejadian itu tatapan orang-orang menghujani Lee. Merasa bersalah, Lee melangkah mundur untuk menghindari tatapan orang-orang. Dan..menabrak Naruto yang baru masuk.
"Eh..gomen Naruto!" kata Lee.
"Lho, Naruto..bukannya kau sudah pulang?" tanya Sakura.
"Na..Naruto-kun, tumben sekali kesini. Eh, Tenten dan Shiho sudah selesai rupanya," Hinata ikut bertanya.
"Hehehe..habis, tidak ada teman pulang. Malas pulang sendiri, eh ketemu Tenten dan Shiho di depan gym. Mereka bilang mau pulang bareng kalian, yasudah aku ikut saja. Sekalian bareeng..." jelas Naruto.
Ia melirik Sakura yang mengerti omongan Naruto. Tapi nada bicara Naruto berubah setelah menyadari Shion yang ia harapkan masuk ke pandangannya, sedang mengobrol mesra dengan Gaara yang tidak dikenalnya. Pintar, Naruto segera mengalihkan kata-katanya.
"Bareng Lee. Ya kan Lee?" sambung Naruto dengan semangat tinggi yang di buat-buat.
"Yoo..Naruto!" balas Lee.
Drrrt drrrt... e-mail
From : kibaakamaru
Cc : -
Subject: beli komik
Hinata, jadi kan beli komiknya? Kita harus cepat, nanti kemalaman.
kau dimana? Nanti aku ketempatmu.
'Yaampun, aku lupa! Dan lagi... setelah kejadian di kelas tadi aku jadi gugup ketemu Kiba, bagaimana ini?' batin Hinata. Lalu dengan cepat ia balas e-mail itu.
"Sakura, ma-maaf aku tak bisa pulang bareng kalian, aku baru ingat ada janji," kata Hinata.
Tak lama kemudian, Kiba, dengan gugup karena kejadian tadi, menemui Hinata di gym. Hinata dan Kiba langsung jadi sasaran ejekan. Hinata diam karena malu dan gugup, sementara Kiba mati-matian membuang rasa malu dan gugup. Ia sibuk menggubris ejekan teman-temannya dan berusaha membalas teman-temannya yang tertawa jahil.
Sebelum pergi, sekilas Kiba melirik kesal kearah Naruto yang sejak tadi diam merasa bersalah. Ya, Kiba yang sangat dirugikan akibat omongan Naruto tadi siang. Jarak antara dirinya dan Hinata yang ia inginkan jadi makin dekat justru sebaliknya karena kaduanya saling merasa gugup saat berdekatan. Dan jarak antara Naruto dan Kiba pun menjauh, Kiba marah pada Naruto yang tidak bisa menjaga rahasianya.
Hinata dan Kiba berjalan dalam diam melewati koridor. Kemudian mereka melihat Ino bersama Sasuke dari jarak yang cukup jauh. Tidak terlihat mesra, justru sebaliknya. Terdengar adu mulut mereka dengan nada tinggi.
Otomatis Hinata menghentikan langkahnya, diikuti Kiba. Khawatir dengan sahabatnya, Hinata memutuskan untuk mengawasi Ino. Ia dan Kiba bersembunyi di balik tiang koridor.
"Maumu apa? kita putus saja, begitu?" ujar Sasuke.
"Sasuke,Hiks...aku..tidak bermaksud.." Ino mulai terisak.
"Bahkan kau sudah tahu, aku telah mengetahuinya! Jadi apa lagi?" Sasuke menggenggam kasar pergelangan tangan Ino yang berusaha berontak.
"Kurang apa lagi seorang Uchiha Sasuke bagimu, hah? Padahal aku sudah terlanjur mencintaimu, Kenapa kau berpaling? Dimana kesalahku?" sambung Sasuke bertubi-tubi. Nada bicaranya makin meninggi.
"Hiks..hiks.." Ino berheti berontak, menunduk. Sasuke menatap benci pada Ino. Dari jauh, Hinata khawatir.
"Aku..sudah tidak tahan..." ucapan Ino terhenti. Perlahan, Ino mengangkat kepalanya. Menatap Sasuke tajam.
"FANGIRLS MU! KAU TIDAK TAHU SELAMA INI MEREKA SELALU MENYIKSAKU SAAT KAU TIDAK DISAMPINGKU!" Ino berteriak kencang di lorong kelas yang sepi. Genggaman Sasuke melemah. Tatapan Sasuke tetap datar.
"Asal kau tahu saja. Kemarin lusa, mereka menahanku saat aku menuju klub musik. Hiks..hiks..mereka terus menyiksaku dan menyuruhku untuk segera putus denganmu. Tapi tiba-tiba, Sai menolongku DAN KAU MALAH MENUDUH AKU SELINGKUH?"
"Lalu kau marah, memaksaku berciuman ..untung saja Naruto berteriak saat itu." Sasuke hanya menatap kosong saat Ino berujar marah. Perlahan genggaman Sasuke terlepas.
"ITUKAH YANG DISEBUT PANTAS? SAAT AKU MENDERITA KARENA KAU SENDIRI YANG TAK BISA MELINDUNGIKU WALAU HANYA DARI FANGIRLS MU, SASUKE..!"
"Kau marah..? Kau tahu aku menyukai orang lain? SAI MEMANG LEBIH BAIK DARIMU WALAU TAK PUNYA FANGIRL SEPERTIMU, TAPI MULAI SEKARANG.. AKULAH FANGIRLNYA!" Ino tak bisa menahan emosinya.
Hening sesaat. Air mata Ino tumpah. Hinata dan Kiba makin cemas.
"Kau puas?" ujar Sasuke pelan.
"Bagus. Kita punya perasaan yang sama. Benci. Sejak dulu aku memang benci dengan perempuan genit dan mudah berpaling." ucapan Sasuke tajam menusuk hati Ino. Hinata pun tercengang mendengarnya.
"Alasan sudah jelas. Selesai sampai disini, dan jangan kembali lagi, Yamanaka."
Sedetik setelahnya, Sasuke pergi meninggalkan Ino yang menangis. Hinata dan Kiba segera menghampiri Ino dan menenangkannya. Langit sudah semakin senja. Mereka pun pulang.
Di perjalanan pulang Naruto, Sakura, Tenten, dan Shiho, entah mengapa Naruto merasakan suatu chemistry antara dirinya dan Sakura yang makin akrab sejak mereka sekelas.
'Aku menyukai Sakura? Yang sudah kuanggap saudara?' Naruto membatin. Ia tidak percaya dengan hatinya sendiri. Dan berusaha menepis semua itu.
Sebuah buku mungil dibuka. Warna lavendernya yang manis serasi dengan corak hiasan kecil di buku diary tersebut. Tinta pun bermain mencurahkan isi hati sang pemilik:
Aku sedang giat-giatnya belajar piano. Dapat diumpamakan, tujuh buah nada dan satu nada pengulangannya yang diajarkan Sakura punya makna tersendiri dibalik kejadian-kejadian di sekitar kami.
Di khayalanku, satu oktaf itu: Gaara-Shion-Naruto-Sakura-Sasuke-Ino-Sai.
Lalu, nada pengulangannya? Masih misteri...
Entahlah...semuanya membingungkan! Tapi aku akan mencarinya!
To Be Continued..
Mitsu: waa...chapter yang panjaaaang! *tepar abis ngetik banyak*
Wahai readers, saya minata maaf bila ada kesalahan dan hal-hal yang tidak diinginkan seperti crack pairing, romance NaruHina kurang terasa, belum masuk klimaks, dll.*maklum, masih kouhai*. Karena ini baru penjelasan hubungan antar karakter dan keadaan. Tapi saya akan berusaha lebih baik untuk chapter depan agar cerita makin berisi! Mohon dukungannya!
ohya.. saya juga mau bales review nih. Dari Sapphirelavender's: Iya sapphire-san.. maaf itu kan baru prolog. Di chapter ini sudah cukup kah, NaruHina nya? ohya.. doumo arigatou :D
Readers: Halah banyak cincong lu! Udah hampir 5000 kata tau! Capek nih bacanya!
Mitsu : I-iya..*pundung*
Spoiler chapter depan:
"Lalu, menurut rapat ketua kelas kemarin... se..sekolah kita dan Sekolah Khusus Putra Konoha, sekolahnya Nii-san, akan satu penginapan dan akan bekerjasama dalam tour ke Suna dan Tokyo ini!" lanjut Hinata.
"KYAAA...ASIIIK!" jerit Tenten ...
Ohya, apakah para readers, senpai dan reviewers sudi memberitahu Mitsu kalau ada miss typo? REVIEW please!
Keep reading...Arigatou, to.. Jaa-ne! ^~^
