Miluju Tě, Princezna!
Fiksi ini terinspirasi dari fanfiction Ménage à Trois karya Eclaire Delange, tepatnya dari segi penokohan dan latar tempat. Adapun ide dan pengembangan alur murni hasil imajinasi saya pribadi.
-000-
Chapter II: Lenka Katerina?
Sepertinya Zhang Yixing ditakdirkan untuk menjadi..., ehem, selebriti sekolah.
Please, seolah tidak cukup mencuri perhatian seantero Seoul International British School lewat penampilannya yang ajaib dengan memilih seragam laki-laki, sekarang pilihannya untuk kegiatan ekstrakurikuler di SIBS juga tak kalah bikin heboh: sepak bola.
Why?
Masih tanya kenapa?
Sepanjang sejarah SIBS, tak pernah ada satu pun murid perempuan yang terjun ke lapangan hijau untuk memperkuat The Chivalries, klub sepak bola kebanggaan SIBS!
Rupa-rupanya Zhang Yixing berminat mengubah sejarah milik sekolah yang sebentar lagi merayakan ulang tahun ke-20 ini. Benar-benar mengejutkan lagi diluar dugaan, sampai-sampai Xi Luhan selaku manajer The Chivalries harus menggelar rapat darurat bersama jajaran pengurus The Chivalries, para pemain, pelatih, guru olahraga SIBS yang bertindak sebagai pembina klub, dan yang terakhir adalah Kim Joonmyeon sang ketua OSIS merangkap anggota dewan penasihat ekstrakurikuler SIBS.
Sepanjang sejarah The Chivalries, mungkin rapat darurat inilah rapat pertama dan satu-satunya yang mengusung agenda paling tak biasa.
"Yang benar saja? Zhang Yixing berminat jadi anggota tim?" Kim Jongin, striker kesayangan nomor dua milik The Chivalries membelalakkan matanya. Pemuda ganteng berkulit tan ini langsung kelihatan antusias. FYI, Jongin ini paling semangat apabila topik pembicaraan tak jauh-jauh dari kata cewek.
"Tapi dia itu 'kan cewek..."
"Cewek yang berlagak jadi cowok," Chanyeol, striker nomor satu The Chivalries menambahkan. "Sumpah, baru kali ini aku ketemu cewek seunik dia."
Yang lainnya mengangguk-angguk setuju, mengimani pendapat Chanyeol tentang sosok Zhang Yixing.
"Tapi bagaimana pun juga dia tetap cewek, 'kan? Meski ternyata dia bisa main bola, menurutku lebih baik kita tidak merekrutnya. Cewek itu merepotkan, benar? Upss, sorry, Luhan Noona, aku tak bermaksud menyinggung," Seokjin sang kiper langsung ciut begitu dihadiahi deathglare dari mata rusa cantik milik Luhan. Maklum, di ruangan milik kantor The Chivalries ini hanya Luhan satu-satunya yang perempuan.
"M-maksudku...," Seokjin agak terbata, "perempuan itu punya semacam batasan. Misalnya, ehm, tamu bulanan, 'kan? Bagaimana kalau dia sedang masuk siklus sementara dia harus bertanding? Apa tidak repot lagi kasihan?"
Yang lain manggut-manggut mendengar opini Seokjin. Opini Seokjin memang sangat beralasan. Apa jadinya bila Zhang Yixing yang tengah, ehem, menstruasi harus bergerak super gesit untuk memblok serangan lawan dan menggocek bola ditengah-tengah kepungan kawan dan lawan yang semuanya laki-laki?
"Seokjin benar. Lagipula apa kita tidak ditertawakan klub lain kalau tim kita diisi perempuan? Ayolah, klub ini bukan lelucon, Luhan Noona." Kali ini giliran Moon Taeil sang bek tengah The Chivalries yang sumbang suara.
Luhan menghela napas. Pendapat para pemain The Chivalries memang sangat beralasan. Apa kata klub lain jika The Chivalries mengikuti pertandingan dengan bek sayap (posisi yang diincar Yixing) berjenis kelamin perempuan?
W O W
"Menurut Anda bagaimana, Ssaem?" Luhan menolehkan kepalanya ke arah Kang In, guru olahraga SIBS merangkap pembina The Chivalries. Pemilik mata cantik bak rusa ini mencoba mencari pencerahan dari gurunya.
Kang In berdeham pelan. "Menurutku tidak bijaksana memberikan kesempatan pada Miss Zhang untuk menjadi anggota tim," Kang In menjawab dengan berwibawa.
"Kesebelasan kita semuanya diisi laki-laki. Tidak elok rasanya melibatkan perempuan. Mungkin Miss Zhang tidak keberatan bergabung dengan anggota tim yang semuanya laki-laki, tapi anggota tim yang lain belum tentu, bukan?" lanjut guru olahraga berparas tampan ini.
"Aku sependapat dengan Kang In Ssaem," Shin Hye Sung, pelatih The Chivalries, ikut urun suara. "Bukan bermaksud menolak kesetaraan gender, hanya saja, yah, kesebelasan kita ini diisi laki-laki. Lagipula aku tak ingin Miss Zhang menjadi titik lemah tim kita dalam pertandingan. Kubu lawan bukan tak mungkin menjadikannya bulan-bulanan mengingat dia, ehm, perempuan. Jangan sampai bek kita justru dibuat kerepotan melindungi bek sayapnya ketimbang kiper dan gawang."
Bisa ditebak, yang lain manggut-manggut setuju kecuali dua orang pemuda yang kebetulan duduk bersebelahan. Sama-sama tampan, hanya saja berbeda dari segi... Tinggi badan.
Bahkan perbedaan itu terlihat mencolok meski mereka dalam posisi duduk. Hell, Joonmyeon agaknya salah mengambil tempat duduk di sebelah pemuda setinggi tiang bendera itu. Yah, asal kalian tahu saja, ketua OSIS kita yang berwajah angelic ini terbilang, ehem, pendek untuk ukuran laki-laki.
"Ehm." Si Tampan setinggi tiang bendera di sebelah Joonmyeon mendadak berdeham, mengalihkan perhatian para peserta rapat dalam ruangan berukuran 5x6 bernuansa pastel ini.
"Sorry." Suaranya agak berat, tetapi kharismatik. Dan jangan lupakan paras tampan miliknya. Duh, benar-benar... Maskulin banget!
"Menurutku kalian terlalu berlebihan soal Zhang Yixing," kata Si Tiang Bendera dengan lagak cuek. Image-nya berubah, terkesan semau gue.
"Maksudmu, Kris?" Luhan mengerutkan kening, seperti halnya Kang In dan Hye Sung.
Kris, Si Tiang Bendera, balas menatap Luhan. "Maksudku, kita bahkan belum melihat bagaimana dia melesat menggiring bola atau memblok serangan lawan, tapi kalian bahkan tak mau memberinya kesempatan dengan alasan gender," ujar Kris.
"Menurutku itu berlebihan. Bagaimana kalau ternyata dia jago mengolah bola? Lagipula...," Kris mendadak merendahkan suaranya, "tidak ada peraturan di klub ini yang menyebutkan bahwa anggota tim harus laki-laki."
Skak mat!
Para peserta rapat seolah kena guyur air es begitu mendengar penuturan Kris yang sengaja menekankan pada kata laki-laki tadi. Bagaimana mereka bisa melupakan peraturan paling dasar tersebut?
"Ayolah, sekarang ini era kesetaraan gender," Kris melanjutkan dengan santainya. Dia menyisir poni pirangnya yang mencuat, begitu menawan layaknya model-model majalah. "Aku sebagai kapten sih tak keberatan punya rekan satu tim perempuan, asal dia main bagus dan lincah. Lagipula dia itu lumayan cantik, aku sih tak keberatan melindungi dia sekalian melindungi Seokjin dan gawang kita." Kris menyeringai najis.
Joonmyeon mendadak ingin menyumpal mulut Kris dengan kaus kaki kumal entah milik siapa yang bertengger tak elit di rak sepatu. Entah kenapa dia gusar mendengar kalimat Kris yang terdengar sarat modus terhadap Zhang Yixing.
"Eh, tapi-"
"Ehm."
Sungguh, seumur-umur baru kali ini Joonmyeon menyela saat seseorang tengah bicara. Korban perdananya adalah Seokjin yang hendak memprotes Kris. Joonmyeon jadi heran sendiri kenapa dia menyela Seokjin lewat dehaman berwibawa, tapi dia sungguh-sungguh ingin berpendapat sekarang setelah sedari tadi bertahan menjadi pendengar yang baik.
"Maaf, tapi aku sependapat dengan Kris. Sepengetahuanku tidak ada aturan tertulis yang menyebutkan bahwa anggota The Chivalries harus laki-laki." Joonmyeon memamerkan senyum angelic yang bisa membuat gadis-gadis diabetes serempak, kecuali mungkin Luhan dan... Zhang Yixing.
"Menurutku tidak ada salahnya memberikan kesempatan untuk Yixing menunjukkan kebolehannya sebelum tim memutuskan untuk merekrutnya atau tidak. Rasanya itu lebih elok ketimbang langsung menolaknya mentah-mentah tanpa ada kesempatan unjuk gigi."
Yang lain terheran-heran memandangi Joonmyeon dan Kris bergantian. Kenapa dua pemuda berbeda tinggi badan ini mendadak begitu seiya-sekata seperti ini?
"Err, sepertinya pendapat Kris Hyung dan Suho Hyung ada benarnya juga. Setidaknya kita lihat dulu kemampuan Yixing Noona, baru memutuskan," suara setengah cadel terdengar menanggapi Joonmyeon.
Itu suara milik Oh Sehun, pemuda berkulit pucat yang duduk di sebelah Luhan dengan satu tangan menggenggam tangan Luhan di bawah meja. Gelandang The Chivalries yang tampan bak Adonis ini mengerling Luhan dengan mesra. Maklum, Luhan ini berstatus kekasihnya.
"Kurasa Yixing Noona tak akan nekat mencoba bergabung dengan klub kalau dia tak punya kemampuan. Benar, tidak?" Sehun mengedarkan pandang berkeliling, meminta dukungan.
Para peserta rapat saling bertukar pandang, sebagian besar terlihat sangsi.
Joonmyeon mengedarkan pandang berkeliling, berharap ada dukungan untuk Sehun. Hei, sejak kapan dia se-concern ini terhadap urusan internal klub sepak bola?
Kenapa aku jadi begitu peduli pada urusan rekrutmen pemain? Bukankah selama ini aku tak pernah peduli pada siapa pun yang direkrut klub?
Err... Wajar saja, 'kan? Soalnya ini berkaitan dengan hajat hidup Zhang Yixing.
Joonmyeon menepis rasa heran terhadap dirinya sendiri dengan memberi sugesti bahwa dia terbawa suasana karena merasa bertanggung jawab sebagai school buddy yang dipilih untuk Yixing. Bukankah school buddy yang baik adalah school buddy yang membantu urusan seorang murid baru di SIBS?
Ya, menurut Joonmyeon demikian. Camkan itu baik-baik.
-000-
"Klub belum bisa memutuskan apakah kau bisa ikut seleksi atau tidak," Joonmyeon memberitahu Yixing pada salah satu jam istirahat. Seperti biasa dia menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi mengingat bahasa Korea Yixing belum begitu bagus ditambah aksen asingnya yang sangat mengganggu.
"Mereka masih mempertimbangkannya."
"Sudah kuduga," Yixing menanggapi dengan ogah-ogahan seperti biasanya. Dia ini Nona Ogah-Ogahan, oke? Saking ogah-ogahannya, Joonmyeon pernah membayangkan Yixing berlari dengan ogah-ogahan pula meski sebatalion zombie mengacaukan seisi SIBS.
Heol, betapa absurdnya khayalan seorang Kim Joonmyeon.
Yixing bahkan tak menatap Joonmyeon yang berdiri di sebelah mejanya. Gadis itu memilih berkutat membereskan tempat pensil dan bukunya. Tampak buku fisikanya ditumpuk dengan buku berbahasa asing yang tak dikenali Joonmyeon.
"Kurasa karena aku perempuan, benar?" Nada bicara Yixing mendadak kecut.
"Eh?" Joonmyeon refleks mengalihkan perhatiannya dari buku berbahasa asing milik Yixing untuk menatap paras cantik namun datar di hadapannya.
"Karena aku perempuan, makanya klub sulit mengambil keputusan." Nada bicara Yixing berubah datar. Gadis itu buru-buru memasukkan buku dan tempat pensilnya ke laci.
"Ehm, sepertinya begitu. Harap maklum, kau ini murid perempuan pertama yang mendaftar menjadi pemain di klub," kata Joonmyeon menanggapi.
Yixing menghela napas. "Tidak heran. Ini bukan yang pertama kalinya. Salahkan saja kenapa aku perempuan, bukannya laki-laki," gadis itu menggumam.
Joonmyeon lagi-lagi mengerutkan kening. Sekilas dia menangkap raut getir di wajah cantik Yixing yang memberikan efek tak nyaman bagi Joonmyeon.
"Sorry?"
Yixing melirik sekilas pada Joonmyeon, enggan menatapnya seakan-akan Joonmyeon seekor Basilisk yang bisa membuatmu mematung bahkan sebelum sempat menjerit. Gadis itu berdiri dari bangkunya, mengagetkan Joonmyeon.
"Excuse me, boleh bergeser sedikit? Aku mau keluar," kata Yixing tanpa menatap Joonmyeon.
Eh?
Joonmyeon baru sadar kalau dirinya berdiri persis di sebelah meja Yixing, menghalangi akses gadis itu. Maklum, meja Yixing persis di sebelah tembok hingga satu-satunya akses untuk keluar adalah melalui sisi yang tertutup tubuh kurang tinggi milik Joonmyeon.
"Sorry." Ya ampun, sepertinya kata sorry menjadi favorit Joonmyeon sejak bertemu Zhang Yixing alias Nona Ogah-Ogahan. Dia buru-buru minggir, memberikan akses untuk Yixing lewat.
Yixing melewati Joonmyeon tanpa permisi, sejenak mengisi penciuman Joonmyeon lewat aroma parfum yang menguar dari pori-pori kulitnya. Wangi musk yang sangat dikenali Joonmyeon sebagai produksi Calvin Klein. Heol, Yixing bahkan memakai parfum laki-laki!
Joonmyeon sesaat terlena, sampai akhirnya tersadar bahwa Yixing telah mencapai pintu kelas. Pemuda pemilik senyum angelic ini kontan melesat untuk menyusul Yixing.
"Perlu kutemani?" tawar Joonmyeon ramah, tak lupa dengan senyum angelic sebagai bonus. Sebagai school buddy yang ditunjuk wali kelasnya untuk mendampingi Yixing sang murid baru, menawarkan bantuan tentu sebuah kewajiban meski Joonmyeon sama sekali tak merasa tawarannya sebatas kewajiban belaka. Lagipula dia khawatir Yixing tersesat mengingat gadis itu baru tiga hari bersekolah di SIBS.
Yixing menghentikan langkahnya. "No, thanks. Aku bisa sendiri," tolaknya halus.
Gadis itu melanjutkan langkahnya tanpa repot-repot menunggu respon Joonmyeon. Tampak sosoknya yang ramping melangkah ke luar kelas dengan dua tangan di saku celana seragamnya, meniru gerak-gerik beberapa murid laki-laki yang kebetulan berpapasan dengannya. Gerak-geriknya terkesan canggung, bahkan menggelikan. Joonmyeon tersenyum kecil melihat Yixing tak berhasil menunjukkan gerak-gerik maskulin yang natural, kendati gadis itu berusaha menegakkan punggung dan membusungkan dada. Ayolah, Yixing itu perempuan tulen dan dia tak memiliki aura maskulin secuilpun kendati rambutnya ditata menyerupai laki-laki dan dia memilih mengenakan celana alih-alih rok. Joonmyeon sama sekali tak paham kenapa Yixing begitu memaksakan diri untuk terlihat maskulin.
Itu membuatnya penasaran.
Yixing membuatnya penasaran.
Dan rasa penasaran itu memandu langkah Joonmyeon untuk mengikuti arah yang dituju oleh Yixing. Joonmyeon penasaran, ke mana tujuan Zhang Yixing?
Joonmyeon bersyukur Sehun dan Jongdae sudah melesat ke kelas pacar masing-masing begitu bel istirahat berbunyi. Jika tidak, dia tak akan memiliki kesempatan untuk ini.
Membuntuti Zhang Yixing.
-000-
Yixing agaknya tak peka, buktinya gadis itu sama sekali tak menoleh ke belakang. Joonmyeon sendiri cukup pintar untuk menjaga jarak agar tak terdeteksi. Hampir sepuluh meter di belakang Yixing, pemuda itu menjaga langkah sembari tersenyum menyapa sosok-sosok yang kebetulan ditemuinya.
Joonmyeon otomatis menghentikan langkah begitu Yixing menghentikan langkah di depan sebuah ruangan dalam gedung serbaguna milik SIBS yang berfungsi sebagai markas seluruh kegiatan ekstrakurikuler. Adapun ruangan yang dituju Yixing adalah ruangan yang dikenali Joonmyeon sebagai sekretariat merangkap studio milik klub tari SIBS, The Dance Supremacy.
Tunggu! The Dance Supremacy? Jangan bilang kalau Yixing…
Joonmyeon buru-buru berpura-pura membaca koran yang tersedia di lobi gedung serbaguna begitu melihat sesosok gadis cantik keluar menemui Yixing. Joonmyeon mengandalkan sudut matanya untuk mengawasi Yixing dan gadis yang dikenalnya sebagai Hyoyeon, siswa XII 1 merangkap ketua The Dance Supremacy.
Hyoyeon membawa Yixing memasuki sekretariat The Dance Supremacy. Joonmyeon sengaja menunggu selama sepuluh menit untuk menyusun strategi memata-matai Yixing. Beruntung otaknya cerdas hingga tak sulit baginya menyusun strategi. Joonmyeon tersenyum tampan. Dia menegakkan punggung dengan penuh percaya diri sebelum melangkah menuju sekretariat The Dance Supremacy.
"Hyoyeon Seonbae ada di studio balet." Taemin, sekretaris klub, memberitahu Joonmyeon begitu sang ketua OSIS memasuki sekretariat The Dance Supremacy. Berdalih mencari Hyoyeon untuk menanyakan konsep segmen tari di Festival Musim Semi dua bulan lagi, Joonmyeon berharap menemukan petunjuk tentang maksud kedatangan Yixing di tempat ini.
"Studio balet?"
Taemin mengangguk. Pemuda berwajah manis itu kembali sibuk dengan laptopnya, khas sekretaris-sekretaris klub di SIBS.
Joonmyeon tidak perlu menanyakan letak studio balet. The Dance Supremacy hanya memiliki dua studio, studio balet dan modern dance. Terpujilah penggagas klub tari yang satu ini lantaran The Dance Supremacy memiliki ruangan paling luas yang bisa digunakan untuk sekretariat dan dua studio sekaligus.
Sekretariat The Dance Supremacy terbilang sepi lantaran hanya ada Taemin yang sibuk dengan laptop dan Seulgi yang asyik menjahit salah satu kostum tari hingga Joonmyeon merasa aman untuk mengintip studio balet dari balik jendela. Dia tak ragu untuk mengintip, karena bila ketahuan Joonmyeon cukup berdalih hendak menemui Hyoyeon.
Alasan yang masuk akal, 'kan?
Studio balet terletak di ujung, jauh dari tempat Taemin dan Seulgi. Ruangannya berhadapan dengan studio modern dance yang kebetulan kosong. Studio berukuran 6x6 itu memiliki jendela di sebelah pintu, memungkinkan siapa pun untuk mengawasi seisi studio.
Joonmyeon berdiri di depan jendela, agak bergeser sedikit ke pintu. Pemuda ini mendadak tertegun begitu melihat sosok ramping di sebelah Hyoyeon.
Zhang… Yixing?
Joonmyeon meneguk ludah. Matanya jelas belum rabun. Yang berdiri di sebelah Hyoyeon memang Yixing, tapi… Ke mana gerangan perginya blazer, kemeja, dan celana sialan yang seolah memaksa gadis itu menjadi laki-laki?
Yang dilihat Joonmyeon sekarang adalah gadis remaja bertubuh ramping dengan leotard lengan panjang berwarna hitam yang begitu anggun melekat di tubuh rampingnya, begitu kontras dengan warna kulitnya yang seputih susu. Persetan dengan rambutnya yang nyaris cepak. Halle Berry pernah memiliki model rambut seperti Yixing, tapi tak pernah kehilangan kecantikannya. Yixing sama saja. Ya ampun, dia malah berkali-kali lipat memesona hingga Joonmyeon mematung dengan ekspresi tolol di balik jendela.
Lalu degup jantung Joonmyeon berubah tak beraturan begitu pemandangan baru tersaji cuma-cuma di hadapannya. Itu Yixing, yang tanpa aba-aba melenggang ke tengah studio dengan Hyoyeon mengawasi dari samping. Nona Ogah-Ogahan itu, ah, tidak. Dia sama sekali tak terlihat ogah-ogahan kali ini. Yixing terlihat bersemangat. Gadis itu mendadak menjatuhkan diri ke lantai dengan gerakan split yang sempurna, sebelum menggerakkan tubuhnya dengan begitu gemulai mengikuti alunan musik yang menyapa lembut gendang telinga Joonmyeon.
The Swan Lake karya Tchaikovsky. Salah satu yang paling diingat Joonmyeon dari koleksi kesayangan ibunya.
Siapapun, tolong sadarkan Joonmyeon sekarang juga!
Pemuda itu bak kena sihir seiring gerakan-gerakan anggun nan gemulai tercipta dari anggota tubuh Yixing yang memikat. Gadis itu seakan memiliki kekuatan magis, menyihir Joonmyeon lewat gerakan-gerakan yang hanya dikuasai para balerina. Yixing bahkan berhasil melakukan fouetté en tournant alias whipped turning dengan sempurna.
Gadis itu seakan-akan terlahir untuk menari.
Bahkan Hyoyeon tampak bertepuk tangan dengan penuh kekaguman.
Degup jantung Joonmyeon semakin tak terkomando. Dia bahkan nyaris tak percaya dengan pemandangan yang tersaji di hadapannya. Apa benar gadis dengan leotard hitam itu Zhang Yixing? Zhang Yixing, Nona Ogah-Ogahan yang berlagak maskulin dan nekat mendaftarkan diri menjadi bek The Chivalries, apa benar itu dia?
Joonmyeon terlalu terpukau sampai-sampai butuh beberapa detik baginya untuk menyadari sosok Hyoyeon telah muncul dari balik pintu, menyebut namanya dengan kening berkerut.
"Lho, Joonmyeon-ah?"
Dan Joonmyeon bersumpah, raut wajah gadis dengan leotard hitam di belakang Hyoyeon berubah sedingin lapisan es milik St Petersburg yang diingat Joonmyeon dalam salah satu kunjungannya ke Rusia untuk menemani sang ibu menonton pertunjukan balet di Mariinsky Theater beberapa tahun lalu.
Zhang Yixing menatapnya. Tajam. Menusuk.
Mati aku!
-000-
Zhang Yixing memang tak mengatakan sepatah pun dan Joonmyeon tak berminat untuk mencari pembelaan agar gadis itu tak berpikir macam-macam tentangnya. Toh akting Joonmyeon tadi cukup meyakinkan hingga Hyoyeon percaya bahwa dia memang datang ke studio untuk membicarakan persiapan Festival Musim Semi di bulan Mei, salah satu acara paling dinanti di SIBS.
Joonmyeon mencoba menepis prasangka bahwa Yixing marah padanya meski gadis itu tak mengatakan apa pun, tak menunjukkan ekspresi apa pun selain ekspresi ogah-ogahan yang menjadi trademark-nya. Bukankah Yixing terbiasa memasang ekspresi ogah-ogahan yang menjurus datar dan dia termasuk tipe irit bicara kepada siapa pun, kecuali mungkin Hyoyeon? Ah, sudahlah. Joonmyeon tak ingin memikirkannya terus-menerus. Dia tak ingin pertunjukan balet Yixing yang terekam sempurna dalam benaknya terkontaminasi prasangkanya sendiri. Lagipula Joonmyeon sudah cukup lelah lantaran sepulang sekolah tadi harus memimpin rapat rutin OSIS yang memakan waktu hampir tiga jam. Dia butuh relaksasi.
Maka Joonmyeon pulang ke rumahnya dengan bayangan Yixing yang menari-nari dalam benak, membuatnya tersenyum-senyum sendiri sepanjang perjalanannya menyetir Bentley Continental Supersports perak-nya yang super mentereng.
"Alors, Joonmyeon-ah."
Sosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik lagi super modis menyambut Joonmyeon dalam bahasa Perancis. Itu ibunya, Hong Miyeon.
"Eomma! Kapan pulang?" Joonmyeon menghambur ke pelukan ibunya. "Kenapa tak memberitahuku kalau Eomma akan pulang? Appa mana?"
"Sengaja," jawab Miyeon riang. "Biar jadi kejutan. Appa-mu masih tertahan di Bordeaux. Nah, cepatlah mandi dan ganti baju. Eomma tunggu di meja makan."
"Arasseo."
Joonmyeon mengecup kening ibunya penuh sayang, sebelum melesat menuju kamarnya. Perasaannya luar biasa senang, pasalnya dia begitu merindukan sang ibu yang sudah hampir tiga bulan ikut ayahnya ke Perancis. Ayah Joonmyeon seorang diplomat senior yang selalu melanglang buana dari satu pos diplomatik ke pos diplomatik lainnya. Tahun ini ayahnya kebagian pos di Perancis, konon bakal jadi pos terakhir sebelum diangkat jadi duta besar. Berbeda dengan ibunya yang setia mengikuti ayahnya, Joonmyeon memilih menetap di Korea bersama sang kakak yang sibuk mengurus bisnis keluarga menggantikan ayah mereka yang memilih jadi diplomat alih-alih businessman.
Ibunya sudah menunggu di meja makan dengan masakan favorit Joonmyeon yang begitu menggoda selera. Miyeon terkekeh melihat ekspresi kelaparan Joonmyeon. Buru-buru diisinya mangkuk Joonmyeon dengan nasi dan lauk-pauk, mulai dari jangjorim hingga sigeumchi namul yang kelewat menggoda selera.
"Bagaimana sekolahmu?" Miyeon bertanya. "Eomma harap nilai-nilaimu tetap stabil meski kau sibuk dengan OSIS."
"Semuanya oke," Joonmyeon menjawab dengan mulut setengah penuh. "Eomma tak perlu khawatir. Putramu ini tak akan mengecewakanmu."
"Good boy, Kim Joonmyeon." Ibunya memuji dengan tulus. "Ah, ya. Ngomong-ngomong bagaimana dengan Lenka? Eomma dapat kabar kalau dia sekelas denganmu. Dia cantik, 'kan?"
Joonmyeon mengerutkan kening. "Lenka? Siapa Lenka?" tanyanya heran.
Miyeon gantian mengerutkan kening. "Lho, masa' kau tidak tahu Lenka? Yang benar saja, Joonmyeon."
Joonmyeon makin keheranan. "Eomma, tidak ada yang bernama Lenka di kelasku. Aku memang bukan ketua kelas, tapi aku hapal betul siapa saja personel di kelasku," bantah Joonmyeon.
Miyeon sesaat terdiam, tampak berpikir-pikir sejenak.
"Aigoo, sepertinya Eomma melupakan sesuatu. Ya, ya. Pastinya Hangeng mendaftarkan dia dengan nama Tiongkok-nya. Joonmyeon-ah, kau pasti kenal Zhang Yixing, bukan? Dia yang Eomma maksud. Yixing, tapi biasa dipanggil Lenka di rumah. Lenka Katerina. Itu nama Ceko-nya."
Joonmyeon seketika berhenti mengunyah karena terkejut. Lenka Katerina? Zhang Yixing? Nama Ceko?
"Lenka… Katerina? Ceko?" Joonmyeon mengulangi nama yang disebutkan ibunya.
Astaga, Joonmyeon sungguh tak paham! Otaknya yang cerdas mendadak kesulitan mencerna penjelasan ibunya.
"Ya," jawab Miyeon. "Ibunya orang Ceko, makanya Yixing punya nama Ceko sendiri. Dia lahir dan besar di Praha. Semua orang memanggilnya Lenka."
Begitu rupanya. Zhang Yixing ternyata punya darah Ceko dari ibunya. Joonmyeon baru paham.
'Pantas dia secantik itu!' Joonmyeon berseru dalam hati.
"Bagaimana Eomma bisa tahu? Eomma kenal dengan Yixing?" Joonmyeon meletakkan sumpitnya dan buru-buru menelan makanannya, tak sabar menginterogasi sang ibu.
Ibunya tersenyum-senyum melihat ekspresi penasaran Joonmyeon yang menyala-nyala.
"Tentu saja," jawab Miyeon kalem. "Mana mungkin aku tak mengenal calon tunangan putra bungsuku sendiri? Eomma bahkan hadir dalam upacara baptisnya di Praha. Kau masih terlalu kecil pada saat itu, tapi Eomma masih ingat persis kau mengulurkan tanganmu ke wajah Lenka, membuatnya menangis sampai orang-orang di katedral kaget."
Mata Joonmyeon seketika membelalak sempurna. God, apa dia tak salah dengar? Ibunya bilang apa tadi? Calon tunangan?
Calon tunangan!
"Calon… Tunangan?" Joonmyeon tergagap. "Zhang… Yixing?"
Miyeon kembali mengulas senyum cantik dan mengangguk penuh semangat. "Oui, Joonmyeon. Eomma dan Appa berencana mempertunangkanmu dengan Lenka. Kebetulan orang tua Lenka menyetujui rencana ini, makanya mereka memutuskan untuk menyekolahkan Lenka di SIBS agar kalian saling kenal."
Siapapun, tolong cubit Joonmyeon keras-keras agar dia sadar kalau saat ini dia tidak sedang bermimpi!
Calon tunangan. Zhang Yixing, ah, Lenka Katerina… Calon tunangannya?
Joonmyeon meneguk ludah, tak tahu harus bereaksi seperti apa untuk menanggapi Hong Miyeon yang terkekeh di hadapannya.
TBC
Chapter II berakhir dengan tak elitnya. Maafkan apabila mainstream lagi membosankan, maklum saya masih newbie. Mudah-mudahan bisa jadi alternatif hiburan ditengah kelangkaan asupan fanfiction SuLay HE HE HE :D
Terima kasih untuk reviews, follows, dan favs. Semoga bisa senantiasa menjadi moodbooster saya.
SALAM SULAY
EXO SARANGHAJA!
