Fvckin Doctor

Kim Jongin, Do Kyungsoo, others

Romance, Angst, Hurt/Comfort

Its yaoi, don't like don't read.


Summary: Do Kyungsoo, seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan sial itu tidak mengetahui bahwa ia sudah diperkosa berkali-kali oleh dokter kurang ajar yang merawatnya, Kim Jongin. Apa reaksinya begitu ia sadar?

KAISOO NC 21 FANFICT


Jongin baru saja menutup telfonnya tadi, memilih untuk duduk dan memejamkan matanya sejenak, memikirkan apa yang baru saja dia katakan kepada yeoja-chingunya, krystal.

Kenapa aku memutuskannya?

Jongin bingung, kenapa dia melakukan itu kepada krystal, memang benar krystal sikapnya sangat egois, karena haus akan perhatian jongin. Tapi apa perlu sampai mengorbankan pasien dalam keadaan darurat seperti ini?

Hell no.

Lebih baik memperhatikan wajah kyungsoo yang tenang dan damai. Mata yang masih terpejam, nafas nya teratur, dan pakaian yang berantakan, karena ulah jongin barusan.

Jongin terkekeh, ia segera merapikan pakaian kyungsoo yang tadi menjadi korban nafsu dadakan itu, dan ia kembali mengelus surai halus kyungsoo.

"Hyung.. Irreona"

Jongin tahu itu percuma, tapi sungguh yang sangat jongin inginkan sekarang adalah untuk berbincang dan berinteraksi langsung dengan kyungsoo. Ingin mengenal lebih jauh, mungkin dia orang yang menyenangkan?

Jongin juga dapat menerka, tampaknya kyungsoo merupakan orang baik. dilihat dari raut wajahnya sudah sangat menjawab pertanyaan jongin, tampaknya detak jantung jongin sudah tidak bisa dikendalikan lagi.

Tidak mungkin apabila jongin menyukai sesama pria, tapi dia tidak bisa membohongi akal sehatnya bahwa tadi ia mencium kyungsoo. Jongin mendesah frustasi dibuatnya, bisakah pikiran ini menghilang?

Mata jongin juga tidak sengaja menangkap sesuatu yang keunguan di leher kyungsoo,

a kissmark, maded by jongin.

Dengan perlahan dan berhati-hati ia mendekati kasur kyungsoo, memperhatikan wajah itu lekat-lekat. Jongin kagum dengan semua yang dimiliki kyungsoo, mulai dari rambutnya, mata yang terpejam(bahkan itu juga menjadi daya tariknya), bibir penuh kyungsoo dan pipi gembul itu.

Oh, jangan lupakan leher yang jenjang itu terlihat sangat putih dan aslinya memang mulus seperti bayi, sangat bersih. Perut datar kyungsoo, dan nipple pink yang menggoda itu.

Nipple..

Sial, kumohon jangan sekarang! Jongin bergumam dan mengutuk adiknya sekarang. Baru saja jongin membayangkan nipple kyungsoo tetapi sudah berhasil membuat adik jongin merasa sesak lagi dibawah sana.

Jongin menghela nafas dan membuangnya kasar. Sekarang masih tengah malam, mungkin tidak apa-apa dia sedikit nekat melakukan ini, salahkan saja kyungsoo kenapa diciptakan begitu indah.

Mempersempit jarak wajah diantara mereka, dengan kepala sedikit dimiringkan jongin kembali mengecup bibir itu, bibir yang selalu manis di mulut jongin. Hanya mengecup dan melumat secara lembut, jongin meraih tengkuk kyungsoo untuk memperdalam ciumannya.

"Uuuhhhh" jongin membuka mulut kyungsoo dengan menarik dagunya, dan memasuki lidah ke goa hangat sang empu. Mengabsen deretan gigi rapi kyungsoo, menggelitik langit-langitnya, menekan-nekan dalam lidah kyungsoo yang jongin tahu bahwa, kyungsoo tidak akan pernah membalas ciumannya selama dia masih koma.

Bagi jongin ini tidak masalah, yang penting dia dapat merasakan untuk menyentuh kyungsoo. Pasien favoritnya.

Dia menghisap lidah itu, merasakan saliva kyungsoo yang sangat tawar, dan kembali menjelajahi goa itu tanpa bosan, mengelus pipi kanannya dan bibir jongin kembali menguasai bibir kyungsoo.

Mengigitnya kasar dan tidak karuan, membuat nafas jongin tercekat dan terbatuk, merasakan adiknya ingin dipuaskan, jongin segera membuka celana pasien kyungsoo. Mengocok adiknya sendiri dengan tempo sedang, dan mata jongin tidak lepas dari adik kyungsoo yang masih terkulai lemas.

Imut sekali. Itulah yang ada dipikiran jongin tentang junior kyungsoo.

Setelah merasa cukup, jongin mengenggam junior kyungsoo dan mengulumnya tidak sabaran, menaik turunkan wajahnya dengan tempo cepat, menghisap kuat-kuat karena ia tahu sangat tidak mungkin kyungsoo ber-orgasme.

Jongin menjilat-jilat junior kyungsoo, menyukai rasa manis dari jr imut itu, sedikit melirik kearah junior miliknya(jongin) yang secara ukuran terpaut sangat jauh.

Masa bodoh, jongin kembali memijat-mijat jr kyungsoo dan mengemut twinsball yang menyimpan jutaan sperma disana.

"Nnnggghh….Aaahh" mengigit-gigit kecil twinsball kyungsoo dan mencium paha dalam yang masih berbau karena bekas jongin tidak memikirkan itu, bau khas kyungsoo 'vanilla' masih sangat melekat, walaupun ia baru saja kecelakaan dan selesai operasi, bau itu masih dan tidak hilang.

Jongin memasukkan satu jarinya ke hole kyungsoo, kali ini dia tidak perlu khawatir bahwa ia tahu bahwa kyungsoo tidak akan kesakitan untuk saat ini, you-know-what-i-mean. Kyungsoo tidak akan mendesah, dan itu semakin membuat jongin bermain kasar di hole sempit itu.

Dengan gerakan zig-zag, jongin menambah 2 jarinya langsung dan kali ini jongin harus menelan ludahnya kasar, hole itu sukses menjepit kuat jarinya yang masih tertanam alias terjepit sempurna disana.

Pikiran jongin mulai berfantasi tentang apa yang akan dirasakan bila miliknya lah yang memasuki hole ini. Tanpa banyak berfikir, ia memasang ancang-ancang dan mulai menaiki kasur single-bed kyungsoo demi memudahkan aksinya.

Memang sedikit kesusahan mengingat kyungsoo masih koma, kedua kaki kyungsoo ia letakkan di pinggulnya, dan tanpa menunggu lama jongin mendorong juniornya langsung ke hole kyungsoo.

Sempit, fuck!

Jongin mengadahkan wajahnya keatas, memejamkan matanya erat-erat karena tidak menyangka hole kyungsoo sukses membuat jongin menjadi gila. Dia ingin menikmati sejenak dengan tidak menggerakan pinggulnya terlebih dahulu, karena rasa nikmat ini, tubuh jongin merinding merasakan sensasi aneh yang menerjang tubuhnya.

Setelah nafas jongin stabil, dia mulai menggerakkan pinggulnya. Gerakan in-out ini terbilang masih terlalu slow karena jongin masih sedikit kerepotan karena memegang kedua kaki kyungsoo dipinggulnya sementara dengan posisi bertumpu lutut di kasur ia harus memajukan jrnya kedalam hole kyungsoo.

Jongin mulai mempercepat gerakannya, hole itu terasa luar biasa menjepit jr milik seme, dengan telaten dan sabar ia terus memasuk dan mengeluarkan jrnya tanpa ada jeda sama sekali.

"Hhh…hyung-ngghh" jongin mendesah keenakan, sebentar lagi jongin akan mencapai puncaknya, sementara ia tak tahu dimana letak prostat kyungsoo. Seandainya dia dalam keadaan sadar, pasti cara jongin memperkosa kyungsoo sudah berbeda.

Bayangan kyungsoo yang mendesah keenakan karena prostatnya ditumbuk oleh adik jongin, pasti akan membuat libido jongin semakin memuncak hingga ke ubun-ubun.

Tapi itu untuk sekarang, jongin harus lebih bersabar.

Setelah gerakan ke 73, jongin akhirnya klimaks. Menumpahkan banyak sekali sperma ke dalam hole kyungsoo, jongin tersenyum puas. Mengecup junior kyungsoo sekali, jongin langsung membenarkan pakaian kyungsoo.

Dan membersihkan sperma yang berserakan dilantai dan sprei kasur. Kaki jongin tampaknya akan kram karena terlalu lama berlutut tadi, tapi persetan dengan itu semua ia sangat puas hari ini.

Mengecup kening kyungsoo, dan tertidur pulas di sofa ruangan vvip itu.

Sementara kyungsoo? Tetap saja dia tidak bisa merasakan apa-apa, semuanya gelap dan hampa. Inilah koma.


Paginya jongin terbangun karena teriakan Luna tepat di telinganya, mengerjabkan matanya yang masih sangat mengantuk, dan menguap dengan tidak elitnya. Membuat luna menghela nafasnya kasar.

"Hei, kau semalaman menemani kyungsoo?"

"Ne, waeyo?"

"Kau terlihat aneh, apakah kau sehat jongin-ah?"

"Tentu saja aku sehat. Ada apa noona kemari? Menukar infus?"

"Aku sebetulnya mencarimu, begitu menemukanmu disini, kulihat infus kyungsoo sudah habis. Yasudah karena kebetulan aku sedang membawa infus baru jadi kutukar saja"

"…"

"Krystal mencarimu diluar sana, dia memaksaku untuk diantarkan mencarimu. Tapi aku tidak mau, dia terlihat menakutkan untuk sekarang"

"…."

"Yak! Hei hitam! Kau mendengarkanku tidak?!"

"…."

"KKAMJONG-AH IREONAAA!"

"Tidak perlu berteriak noona, aku mendengar semua celotehan berisikmu, kumohon pelankan suaranya"

"Sudahlah temui saja krystal diruang kerjamu, daritadi dia hanya bisa membuat beberapa suster disini harus menyumpal telinga mereka dengan kapas. Dia berteriak-teriak seperti orang gila dan mengacak-acak rambutnya sendiri"

"Benarkah? Usir saja dia"

"Eoh?! Mengusir? Kau ini bodoh atau bagaimana jongin-ah, dia daritadi hanya meneriaki namamu terus-terusan! Kumohon buatlah dia berhenti membuat kekacauan disini"

Jongin berjalan menuju ruang kerjanya, setelah keluar dari lift, banyak sekali kerumunan perawat yang tampak berbisik-bisik begitu melihat sosok dokter muda itu.

Tapi jongin mencoba untuk acuh dengan itu semua, melangkahkan kakinya ke ruangan mewah miliknya. Dan tercengang karena mendengar teriakan yeoja yang cukup memeka telinga jongin. Mungkin ini alasan kenapa banyak sekali kerumunan didepan ruangan dokter jongin.

.

.

.

"AARGGHH! SIALAN KAU KKAMJONG HITAM!"

"DASAR BULUK! TIDAK TAU PERASAAN YEOJA!

"KAU JELEK! JAHAT!"

.

.

.

"Whoa, apakah dia berteriak seperti itu daritadi?" tanya jongin kepada salah satu perawat yang berada di dekatnya, jongin belum memasuki ruangannya. Tampaknya akan sangat mengerikan untuk masuk kesana.

"Sudah dari tadi dok, kami sampai takut untuk menenangkan krystal-eonni. Dia sangat menakutkan, aku takut dia nanti akan memakiku jika aku menyuruhnya diam" perawat itu menjawab pertanyaan jongin.

Jongin terkejut, ada apa dengan anak ini? Apa perlu jongin membawa dia ke rumah sakit jiwa?

"Bahkan dia berteriak-teriak nama anda terus menerus, saya mohon anda menenangkan kekasih anda ini" suara bass mengalihkan perhatian jongin dari teriakan krystal yang masih saja menggema di koridor gedung vvip rumah sakit itu.

"Jangan berlagak formal kris. Weirdo" jongin kembali menelan ludah begitu ia mendengar suara pecahan kaca dari dalam ruangannya. Jongin melirik kris, dan menatapnya

'apa-yang-harus-ku-lakukan'

"Cium saja dia, siapa tahu dia memaafkanmu" kris menepuk bahu jongin untuk menenangkannya. Jongin menghela nafas dan mengangguk, berjalan perlahan ke arah ruangannya, dan perlahan memasuki ruangan itu.

Bahkan, semua orang yang berada di sekitar sangat penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

.

.

.

.

"Ya! Bodoh! Kemana saja kau!" baru saja jongin menutup pintu, teriakan krystal sukses membuat gendang telinga jongin mendengung.

Ya Tuhan, tenangkan dia kumohon.

"Baru mengecek pasienku, kurasa kau berhasil menarik perhatianku dengan tingkahmu memalukan itu" jongin memamerkan smirk andalannya dan menggantung jas putih ala dokter ke salah satu paku.

Krystal terdiam, lebih memilih untuk mengambil nafas sejenak karena lelah berteriak terus menerus. Jujur saja apabila melihat keadaan krystal sekarang ingin membuat jongin tertawa.

Rambut berantakan, wajah yang menyedihkan, dan penampilan yang sangat tidak karuan.

Krystal duduk di depan meja jongin, meneteskan air mata. Jongin sebenarnya tahu dia menangis, tapi ia mencoba memancing krystal dengan mengacuhkannya.

"M-ma..malam itu kenapa ka-kau.. mengakhiri hubungan kita?" tanya krystal to the point, jongin sedikit terkejut dengan pertanyaan krystal, apa mungkin dia menjawab;

"Ya aku memutuskanmu, karena salah seorang pasien berhasil menarik perhatianku"

Tapi jongin masih punya hati, tidak mungkin dia ingin menambah sakit di hati krystal, mendengar saran dari kris tadi ia mencoba duduk di samping krystal.

"Kau egois krys, kau selalu marah dan tidak terima ketika pasien membutuhkan aku. Apabila semakin diteruskan, aku meragukan sikap mu yang seperti itu. kesehatan dan keselamatan pasien menjadi prioritas dokter, kau tahu kan?"

Entah apa yang jongin katakan, kalimat itu keluar saja dari mulut jongin. Ataukah malaikat mengirimkan kalimat ini ke otaknya? Entahlah.

Jongin mengelus rambut krystal, perempuan cantik itu menghapus air matanya.

"Bisakah aku memohon satu permintaan?"

"Apapun"

"Cium aku"

Tidak ingin menunda waktu, jongin langsung menempelkan bibirnya ke bibir krsytal, melumatnya sebentar dan akhirnya melepaskan ciuman itu.

"Maafkan aku krys, mungkin ini yang terbaik"

"Arraseo, aku pamit"

"Ehm tunggu"

"Ne?"

"Rapikan dulu pakaian dan rambutmu, terlihat sangat menggelikan"

"…."

.

.

.

Namja dengan tampang menyedihkan sedang terdiam sambil menatap pemandangan Seoul di pagi hari. Hanya menatap kosong sambil melamun dan menghela nafasnya pelan.

Pemandangan yang terlihat dibalik jendela apartemennya itu tampaknya sedang mengejeknya, langit masih mendung dan salju masih turun dengan lebatnya.

Hingga ia tidak menyadari seseorang memasuki kamarnya.

"Mau sampai kapan kau seperti itu?"

"…."

"Ayolah, kau harus makan. Pasti kau lapar, agar kau segera pulih. Dan kau harus segera menghilangkan rasa bersalahmu setelah kecelakaan itu"

"Tidak mau"

"Dasar keras kepala, hei dengarkan aku"

"Apa lagi?!"

"Kau sekarang menjadi buronan, ubahlah penampilanmu"

"Seperti apa?"

"Mungkin namja dengan aksen angelic dan ramah. Merubah sedikit perubahan pada penampilan mungkin akan mengecohkan polisi"

"Menarik juga, baiklah aku setuju. Aku ingin menjenguk kyungsoo"

"Baguslah, segera bersihkan dirimu dan ayo makan, akan kuberitahu rencanaku"

"Apakah kau yakin? Akan kuapakan kau apabila polisi menyadari keberadaanku?"

"Percayalah padaku kim joon myeon"

"Baiklah"


KYAA! TBC/End? T_T Jangan lupa untuk review lagi, biar aku tambah semangat untuk ngelanjutin ff ini. Semakin banyak review semakin cepat update!

Saya juga sangat terbuka untuk menerima kritik/saran dari kalian. But no flame/bash juseyoo~ Jujur aja author seneng banget ngeliat respon kalian aduh bikin aku terharu:") terima kasih untuk yang sudah ngereview, check balesan review kalian di pm ya!

Mind to RnR?;)