Luhan bersiap untuk pulang keapartemennya setelah selesai menandatangani berkas pentingnya, tiba-tiba ponselnya begetar. Luhan merogoh kantong celanannya dan megeluarkan ponselnya dari dalam sana.

From : Baekhyun

Kakak , malam ini Minseok menginap dirumahku

Luhan menghela nafasnya berat, sepertinya Minseok berniat menghindarinya, Luhan segera mengetik balasan untuk Baekhyun .

To : Baekhyun

Katakan padanya aku akan menjemputnya sekarang

From : Baekhyun

Tapi Minseok sudah tidur, lelah menangis : (

To : Baekhyun

Tak apa, aku akan tetap menjemputnya

From : Baekhyun

Baiklah, aku tunggu

Setelah membaca pesan terakhir Baekhyun , Luhan bergegas pergi meninggalkan kantor dan melaju kerumah Baekhyun . Selama perjalanan Luhan merenung, sedikit merutuki dirinya yang bicara kelewatan pada Minseok tadi. Maksud dia hanya tak ingin Minseok bertindak kekanakan, Luhan memang senang saat melihat Minseok bermanja-manja padanya namun iaa juga ingin Minseok bersikap dewasa, maksudnya menjadi wanita yang bisa menempatkan dirinya dalam segala situasi. Bukan maksud Luhan lebih memilih Zitao dari pada Minseok tapi tadi iaa terlanjur berjanji pada Zitao dan akan merasa tidak enak jika dibatalkan begitu saja. Namun iaa sadar tak seharusnya mengeluarkan kata-kata kasar dan menuruti emosinya seperti tadi. Tak terasa Luhan sudah sampai didepan rumah Baekhyun , iaa mematikan mesin mobilnya lalu keluar dan berjalan menuju pintu rumah Baekhyun .

TING TONG TING TONG

" Tunggu sebentar " Terdengar suara Baekhyun dari dalam.

CKLEK

" Ah Kakak cepat sekali sampainya " Baekhyun mempersilahkan Luhan masuk dan dengan sopan Luhan masuk kedalam rumah Baekhyun .

" kebetulan jalanan tak begitu macet, Minseok dimana? " Luhan menghempaskan dirinya disofa ruang tamu Baekhyun setelah dipersilahkan duduk oleh Baekhyun .

" Ada dikamarku, masih tidur setelah menangis seharian " Luhan tersenyum kecut, iaa sudah mengira pasti Minseok akan menangis sejadi-jadinya.

" Maaf kalau aku terkesan ikut campur kak , tapi aku hanya meminta tolong jangan bicara seperti tadi lagi dengan Minseok , dia begitu terpuruk mendengarnya. Aku mengerti pasti Kakak lelah karena sikap Minseok selama ini, tapi Kakak harus tau kalau sikap manjanya selama ini karena iaa butuh perhatian lebih dari Kakak . Sebelum kalian bertunangan, Minseok tak pernah kekurangan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Sekarang dia hidup jauh dari orang tuanya, selain pada Kakak dan padaku pada siapa lagi dia bisa mendapatkan perhatian dan kasih sayang? " Luhan terdiam sejenak memikirkan perkataan Baekhyun , iaa sadar kalau selama ini iaa terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan terkadang mengacuhkan Minseok dihari libur sekalipun.

" Ya, aku mengerti. Terima kasih atas sarannya, sekarang aku akan membawa Minseok pulang " Baekhyun mengangguk lalu mengantarkan Luhan menuju kamarnya dilantai dua. Orang tua Baekhyun belum pulang kerja sehingga Luhan tak canggung untuk memasuki kamar Baekhyun . Saat pintu kamar terbuka, Luhan melihat Minseok yang tertidur sambil meringkuk dengan mata sembab yang terpejam dan itu cukup membuat hatinya teriris. Dengah hati-hati Luhan menyelipkan tangan kanannya dileher Minseok dan tangan kiri dilekukan kaki Minseok lalu menggendongnya ala bridal style.

" Baek , bisa bantu aku membawakan tas Minseok ? " Baekhyun mengangguk kemudian mengambil tas Minseok yang ada atas meja belajarnya. Luhan dengan hati-hati menggendong Minseok dan mendudukannya didepan, Luhan mengambil tas Minseok yang disodorkan Baekhyun dan menaruhnya dibelakang, setelah menutup pintu belakang Luhan menoleh kearah Baekhyun .

" Terima Kasih sudah menenangkan Minseok , aku pulang dulu " Baekhyun hanya mengangguk kemudian melambaikan tangannya kearah Luhan .

Selama perjalanan pulang Luhan sesekali melirik kearah Minseok yang tertidur pulas disampingnya, Luhan mengelus pipi dan kepala Minseok dengan sayang.

" Maaf ya " Lirih Luhan kemudian melanjutkan perjalanannya menuju rumah, jam menunjukan pukul 8 malam dan jalanan sudah tak terlalu padat lagi sehingga Luhan sampai keapartemennya dengan cepat. Setelah memakirkan mobilnya dibesmen, Luhan menggendong tas Minseok dibelakang kemudian menggendong Minseok ala koala ( dari depan maksudnya ) Kemudian menenteng tas kerjanya lalu berjalan menaiki lift yang ada dibesmen.

Setelah menekan digit kode apartemennya, iaa segera melangkah memasuki kamar Minseok , direbahkan tubuh Minseok dengan hati-hati. Menaruh tas Minseok diatas meja belajarnya, kemudian berjalan menuju lemari pakaian Minseok dan mengambil piyama bermotif Panda . Dengan telaten dan hati-hati Luhan membuka seragam Minseok dan menggantinya dengan piyama, ini bukan pertama kalinya Luhan melakukan ini. Minseok memang sering lupa mengganti pakaiannya dan langsung tertidur begitu saja, tak sedikitpun Luhan bernafsu pada Minseok . Bukan karena tak mencintainya, justru karena Luhan sangat mencintai Minseok dan menjaga Minseok dengan hati-hati maka dari itu iaa menekan nafsunya pada Minseok sampai iaa bisa mengendalikan diri didepan Minseok . Lagi-lagi karena Luhan terlalu menyayangi dan mencintai Minseok .

Setelah selesai memakaikan Minseok piyama Luhan memandang lekat wajah Minseok yang tertidur pulas, guratan kesedihan terlihat jelas meski matanya terpejam. Luhan menyibakan poni didahi Minseok lalu mengecupnya lama, mengecupnya dengan penuh perasaan sebelum melepaskan kecupan itu dan bangkit sambil membawa seragam kotor Minseok .

.

.

.

Sinar mentari sudah mulai naik dan bangun dari tidur malamnya, sinarnya yang menyilaukan membuat gadis mungil yang sedang tidur merasa sedikit terganggu. Minseok menggeliatkan tubuhnya, mengintip dari celah matanya yang terpejam untuk melihat sekeliling namun matanya terbuka lebar ketika menyadari iaa berada dikamarnya sendiri.

" Kapan aku pulang? " Minseok menengok kesana kemari mencari tasnya, Minseok langsung beranjak dari tidurnya saat melihat tas sekolahnya berada diatas meja belajar. Minseok merogoh tasnya mencari ponsel dan saat ketemu Minseok melihat pesan Masuk.

From : Baekhyun

Min, semalam Kak Luhan menjemputmu pulang

Minseok meletakan ponselnya diatas meja belajar tak berniat membalas pesan Baekhyun , sekarang Minseok bingung apa yang harus iaa lakukan. Sungguh iaa belum siap jika harus bertemu dengan Luhan , tak tahu harus bagaimana. Minseok melangkah menuju kamar mandi setelah mengambil beberapa helai pakaian ganti dilemarinya.

Setelah selesai mandi Minseok duduk diam diatas ranjangnya, sebenarnya dia lapar tapi jika dia keluar kamar pasti akan bertemu Luhan sejujurnya dia belum siap bertemu dengan Luhan . Minseok mengambil ponselnya untuk menghubungi Baekhyun .

" Halo "

" Baekhyun sedang apa? "

" Aku sedang bersantai dan kau menggangguku "

" Baek kemarilah temani aku "

" Memang tunanganmu kemana? "

" Ishhh apa kau lupa kejadian kemarin? Aku tak mau bertemu dan berinteraksi dengannya makanya kau datanglah " Minseok meremas-remas bantal yang ada dipangkuannya.

" Mulai lagi sifat kekanakanmu, masalah itu harus dihadapi bukan dihindari " Minseok mempoutkan bibirnya saat mendengar Baekhyun menceramahinya, ayolah saat ini yang Minseok butuhkan bukan ceramah tapi teman agar bisa menghindari tunangannya yang menyebalkan dan juga tak peka itu.

" Baekhyun kau tega padaku " Terdengar helaan nafas dari seberang telepon sana.

" Kau lebih tega padaku jika memintaku berada ditengah-tengah orang yang sedang menabuh genderang peperangan " Jawab Baekhyun sengit.

" Yasudah terserah jika kau tak mau! Menyebalkan " TUT TUT TUT Minseok mematikan sepihak telepon dari Baekhyun . Benar-benar menyebalkan jika memiliki teman seperti Baekhyun , kata-kata yang keluar dari mulutnya terkadang pedas. Minseok menghela nafas sambil memegang perutnya yang terasa lapar.

.

.

Minseok POV

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku lapaaaaar tapi tapi tapiii tak mungkin kan aku keluar dari kamar ini, kulirik jam yang tergantung didinding kamarku, sudah jam 12.30 siang pantas saja perutku lapar. Ck Apa Luhan benar-benar muak dan tak peduli padaku? Seharusnya kan dia menghampiriku kekamar, mencoba membujukku agar tak marah lalu mengajakku makan diluar agar aku senang lalu pergi berkencan. Ini kan hari libur, tapi aku dengan bodohnya terkurung didalam kamar ini dan sialnya lagi dalam keadaan kelaparan. Ck kalau saja aku tak mencintainya aku sudah menyusul Orang tuaku ke Jepang. Tapi sayangnya aku terlalu mencintainya jadi aku tak mungkin bisa meninggalkannya. Ck aku tak tahan perutku perih dan cacing menyebalkan ini meronta meminta makanannya.

Aku bangkit dari dudukku dan berjalan keluar kamar, saat pintu kamar terbuka aku melirik kekanan dan kekiri. Ternyata sepi, apa Luhan tak ada dirumah yah? Kok sepi sekali, aah sudahlah lebih bagus jika dia tak ada dirumah, aku bisa leluasa mengisi perutku lalu kembali kekamar dengan segera dari pada bertemu dengannya. Aku terus melangkahkan kaki kedapur, saat sampai didapur aku melihat dimeja makan ada makanan yang kelihatannya masih utuh. Apa Luhan belum memakannya? Maid yang bekerja disini pasti sudah pulang 30 menit lalu, kalau hari libur biasanya maid hanya bekerja setengah hari. Aku baru saja bersiap untuk duduk namun terdengar suara seseorang yang tak kuharapkan muncul malah muncul sekarang.

" Kau baru bangun? " Kulihat Luhan berjalan kearah kursi yang biasa iaa duduki, saat ini aku masih berdiri karena aku membatalkan niatku untuk duduk dan makan saat iaa muncul dihadapanku.

" Hmm " Aku menjawab singkat tanpa melihat kearahnya. Luhan mulai mengambil beberapa lauk dan memasukan kemulutnya, aaah sepertinya itu enak dan aku mauuuuu tapi tidak tidak tidaaaak kalau aku makan artinya aku mempermalukan diriku tapiiii jika aku tak makan aku kelaparan. Aduh bagaimana ini, aku sungguh lapar.

" Kenapa masih berdiri? Tak makan? " Luhan menghentikan acara makannya dan menatapku.

" Aku, tak lapar " Jawabku sambil membuang muka, aku tak bisa jika ditatap seperti itu membuatku tak tahan ingin memeluknya saja sih iihhhh.

" Yasudah, aku makan dulu ya " Apaaaaaa , dia melanjutkan makannya ? Dia tak menyuruhku bahkan memaksaku untuk makan? Tak tau apa kalau aku lapar? Ini menyebalkaaaaan, bahkan meminta maaf karena kejadian kemarin saja tidak. Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca, baiklah lebih baik aku kembali kekamar dari pada dia memergokiku menahan tangis. Aku membalikan tubuhku mulai berjalan kearah kamar, aku berharap dia memanggilku dan mengajaknya makan bersama. Tapi setelah lima langkah dia tak juga memanggilku, aku menengok kearahnya dan ternyata dia sedang makan dengan lahapnya. Benar-benar jadi Lelaki tak peka, apa benar dia mencintaiku? Kenapa sikapnya seakan tidak peduli padaku? Aku memasuki kamar dan membanting pintu dengan keras.

BRAK

Aku sengaja melakukannya, biar dia sadar dan tahu jika aku marah padanya. Kesal sekali rasanya jika diperlakukan seperti ini, jika sedari awal dia tak mencintaiku buat apa dia mengajaku bertunangan. Aku menenggelamkan wajahku yah basah oleh air mata kedalam bantal, aku menangis sejadi-jadinya. Perasaanku kesal ditambah perutku lapar, lengkap sudah penderitaanku hikssss.

.

.

Minseok POV End

BRAK

Luhan berjengkit kaget saat mendengar suara pintu dari kamar Minseok yang terbanting keras. " Ada apa lagi dengan anak itu? " Guman Luhan . Namun Luhan tak mengambi pusing, iaa tetap melanjutkan makannya namun tiba-tiba ponsel disakunya bergetar mau tak mau iaa menghentikan makannya dan mengangkat telepon yang ternyata dari Chanyeol itu.

" Hmm " Jawab Luhan dengan malas.

" Lu persiapkan dirimu, aku, Lay dan Zitao sedang dalam perjalanan keapartemenmu " Luhan sedikit terkejut karena Chanyeol memberitahunya tiba-tiba.

" Hey! kalian ini kenapa tiba-tiba? aiisshh"

" Hahaha jangan frustasi begitu, justru kedatangan kami akan meramaikan hari liburmu hahaha "Luhan mencibir saat mendengar Chanyeol bicara seperti itu.

" Yasudah aku tunggu " Setelah telepon ditutup Luhan tak lagi melanjutkan makannya dan membereskan piring bekas makannya. Setelah semua beres Luhan berjalan menuju kamar dan terhenti tiba-tiba didepan kamar Minseok . Luhan meraih knop pintu hendak membuka pintu kamar Minseok .

CEK CEK CEK

" Kenapa Minseok mengunci pintunya? " Luhan mengetok-ngetok kamar Minseok namun tak ada jawaban.

" Apa dia tertidur lagi? Bukankah baru saja bangun tadi? " Luhan pun kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya.

.

.

.

" Eunghhhh " Minseok melengkuh dari tidurnya dan mengerjapkan matanya yang tadi terpejam sedikit demi sedikit terbuka. Sedikit pusing karena lelah menangis tadi, Minseok mendudukan dirinya diatas ranjang sambil memegang kepalanya yang pusing. Setelah pusingnya agak hilang, Minseok berjalan kearah kamar mandi lalu membasuhnya.

Kruuukk Kruuukkk

" Mamaaaaa Aku lapaaaaar, " Minseok cemberut sambil memandang wajahnya dicermin, matanya sembab dan kentara sekali habis menangis. Dengan langkah gontai Minseok keluar dari kamarnya, lebih baik iaa makan dari pada pingsan. Saat Minseok berjalan menuju dapur dia berpas-pasan dengan Zitao dan itu cukup membuatnya terkejut setangah mati, sedangkan Zitao sendiri menatap Minseok dari atas kepala sampai ujung kaki lalu berdecih kemudian meninggalkan Minseok begitu saja.

" Untuk apa nenek lampir itu kemari? " Batin Minseok .

Sebenarnya Minseok ingin mencari tahu namun sekarang ini perutnyalah yang terpenting, saat Minseok melihat meja makan ternyata hanya sisa-sia makanannya saja yang tersisa. Minseok kesal melihat itu, iaa berjalan menuju ruang TV dan dilihatnya Luhan sedang mengobrol-ngobol dengan Chanyeol, Lay dan Zitao yang duduk disampingnya.

"oh, kau sudah bangun? " Tanya Luhan saat melihat Minseok berdiri disampingnya sambil melipat kedua tangannya.

" Siapa yang menghabiskan makanan? " Tanya Minseok dengan dinginnya.

" Oh, tadi aku makan berdua dengan Chanyeol,Kenapa? " Tanya Zitao sambil menatap Minseok angkuh.

" Kenapa Sayang ? " Luhan bangkit dari duduknya dan mencoba mendekati Minseok namun Minseok memundurkan tubuhnya dengan mata berkaca-kaca membuat Luhan , Chanyeol dan Lay bingung sedangkan Zitao bersikap acuh.

" Aku lapaaaaaaar, aku belum makan apapun! Terakhir makan kemarin saat di XOXO Cafe hiksss menyebalkaaaan " Minseok membalikan tubuhnya dan berlari kembali memasuki kamarnya.

BRAK

" Ya Tuhan, anak itu kasar sekali membanting pintu, kau tak salah memilih tunangan Lu ? " Ucap Zitao dengan nada mengejek. Sedangkan Chanyeol yang merasa bersalah karena menghabiskan makanan pun angkat bicara.

" Coba kau bujuk Minseok dulu Lu , aku akan memesankannya makanan " Lay sendiri hanya diam dan memperhatikan saja. Luhan melangkahkan kakinya menuju kamar Minseok .

CKLEK

" Sayang " Luhan menghampiri Minseok yang duduk ditempat tidurnya menangis sambil memeluk Boneka.

" Sudahlah, hanya masalah makanan kan? Chanyeol sedang memesankanmu makanan sekarang" Minseok bungkam tak berniat menjawab Luhan . Dengan perlahan Luhan menggendong Minseok dan memindahkanya kedalam pangkuannya dan memeluknya dari belakang, kalau orang lain melihat mereka persis seperti paman yang sedang menenangkan keponakannya yang menangis -.-

" Jangan menangis, hanya makanan kenapa sekesal ini hmm? " Luhan menghapus air mata, Minseok memukul-mukul dada Luhan dan Luhan tak berontak. Biarlah Minseok menyalurkan kekesalan pada dirinya, yang penting perasaan Minseok bisa sedikit meredakan amarahnya.

" Hikssss menyebalkan! dasar tak peka! " Minseok menghentikan pukulannya didada Luhan dan tangisnya dikit demi sedikit mereda, setelah reda Luhan mengelus rambutnya dengan sayang.

" Mau mengeluhkan isi hatimu padaku ? " Tanya Luhan kini dengan nada lembut.

" Aku kesaaaal, kemarin menyakiti hatiku dan mengatakan muak padaku, membawaku pulang lalu hari ini besikap seperti tak pernah berbuat salah padaku, meminta maafpun tidak, kau sebenarnya sayang padaku tidak? Kau mencintaiku tidak? Sekarang saat aku kelaparan dan menangis menahan perih diperut kau malah mengatakan hanya makanan? Kau tidak takut aku sakit? kau menyebalkan hikssss " Luhan memeluk Minseok erat.

" Aku kemarin salah bicara, tak perlu dimasukan kedalam hati, aku juga sudah minta maaf padamu saat kau tertidur semalam. Tadi aku sudah menanyaimu soal makan juga tapi kau tidak lapar, lalu dimana letak kesalahanku? " Minseok melepaskan pelukan Luhan dan menatap Luhan frustasi.

TOK TOK TOK

Luhan dan Minseok menengok kearah pintu kamar bersamaan, Minseok menghapus air matanya lalu bangkit dari pangkuan Luhan dan berjalan menuju pintu namun Luhan menahan tangannya tapi saat itu juga Minseok menghempaskan tangan Luhan lalu berjalan kembali dan membukakan pintu kamarnya, munculah Chanyeol sambil menyodorkan plastik isi makanan dihadapan Minseok .

" Maaf karena aku menghabiskan makananmu, itu karena aku tidak tahu jika kau belum makan apapun dari kemarin, ini aku membelikanmu makanan. Segeralah makan sebelum dingin. " Minseok melihat bungkusan isi makanan tersebut kemudian tersenyum pada Chanyeol.

" Terima Kasih " Chanyeol membalas dengan senyuman setelah itu Chanyeol ingin berlalu dari sana tapi Minseok menahan tangannya.

GREP

Chanyeol membalikan tubuhnya menatap tangannya yang digenggam Minseok dengan tatapan bingung, lalu Chanyeol tak sengaja melihat Luhan yang menatap mereka intens membuat Chanyeol salah tingkah kemudian melepaskan genggaman tangan Minseok .

"Kakak Tampan?" Luhan dan Chanyeol sama-sama terbeliak kaget mendengar minseok memanggil chanyeol dengan panggilan yang cheesy seperti itu. terlebih lagi Luhan.

"Ke... kenapa? " tanya Chanyeol terbata-bata, iaa gugup saat melihat Luhan yang menatapnya intens seperti itu. Chanyeol melihat Luhan berjalan menghampiri mereka membuat Chanyeol kembali salah tingkah.

" Hmm Kakak mau tidak menemaniku makan? Aku tak sukaaa makan sendiri, temani aku Yaaaa" Minseok melakukan aegyo dengan menunjukan puppy eyes nya dan menarik-narik ujung kemeja Chanyeol dengan manjanya, Chanyeol menelan salivanya berat karena melihat tatapan cemburu yang menguar dari diri Luhan .

" Kan ada Luhan , biar Luhan saja yang menemanimu " Minseok menggeleng keras kemudian menengokan kepalanya kearah Luhan dan menatap Luhan dengan sinis.

" Aku malas makan dengan orang yang tak peduli padaku, tak mencemaskan aku, aku lebih baik makan dengan Kakak saja yang perhatian padaku, Ayo " Minseok menarik tangan Chanyeol sebelum Chanyeol kembali menolak, mereka pergi menyisakan Luhan yang berdiri dengan kedua tangan mengepal menahan amarah.

.

.

.

Setelah selesai makan Minseok dan Chanyeol ikut berkumpul diruang TV bersama Luhan , Lay dan Zitao. Posisi duduk mereka Luhan duduk dengan Zitao disamping kirinya, Lay sendiri duduk disofa single kusus untuk satu orang, Chanyeol mendudukan dirinya dihadapan Lay . Zitao sengaja merapatkan duduknya dengan Luhan agar Minseok cemburu dan bertingkah seperti anak kecil sehingga iaa bisa mengejeknya tapi yang dia lihat Minseok malah duduk disamping Chanyeol dan bisa Zitao lihat tatapan tajam Luhan yang terarah pada Minseok dan Chanyeol. Lay diam-diam memperhatikan tingkah Luhan sejak tadi, iaa hanya bisa menggelengkan kepalanya. Lay sendiri menyadari tatapan cemburu yang Luhan arahkan untuk Chanyeol dan Minseok tapi iaa bukan tipe orang yang suka ikut campur masalah orang lain kecuali orang itu meminta bantuan padanya. Lay juga memperhatikan Zitao yang sejak tadi menmpel pada Luhan , Lay tahu kalau selama ini Zitao menyukai Luhan bahkan semenjak mereka kuliah dulu. Namun Luhan hanya menganggap Zitao sebagai sahabat tak lebih, Lay menilai Minseok sangat baik dan cocok menjadi pendamping Luhan namun sifat Minseok yang kekanakan sedikit banyak akan memperhambat hubungan mereka ditambah lagi sifat Luhan yang tak peka, itu menurut Lay .

" Kakak , apa kau sudah punya pacar? " tanya Minseok pada Chanyeol, membuat Luhan , Zitao, dan Lay menatap kearahnya.

" Belum " Jawab Chanyeol.

" Benarkah?" tanya Minseok antusias menimbulkan kecurigaan dihati Luhan .

" Iya, kenapa? " Minseok mendekatkan dirinya dengan Chanyeol dan berbisik perlahan agar tak terdengar oleh Luhan , Zitao dan Lay . Bodohnya Minseok tentu saja tak akan terdengar tapi cukup menimbulkan kecurigaan dari mereka terutama Luhan yang hatinya sudah panas sejak tadi.

" Kau mau tidak aku jodohkan dengan sahabatku yang kemarin aku kenalkan, dia juga belum punya pacar dan sepertinya dia menyukaimu " Bisik Minseok ditelinga Chanyeol.

" Benarkah?" Tanpa sadar Chanyeol terpekik senang mendengar ucapan Minseok , Chanyeol menggenggam kedua tangan Minseok dengan mata berbinar.

" tentu saja aku mauuu " Luhan benar-benar sudah diujung tanduk, iaa mengepalkan tangannya begitu erat hingga telapak tangannya memutih. Melihat itu Lay berinisiatif untuk segera membawa Chanyeol pergi dari situ.

" Ah sepertinya ini sudah sore lebih baik kita pulang saja " Ajak Lay pada Chanyeol dan Zitao, Chanyeol menatap Lay sedikit kesal.

" Yak Hyuuung kenapa pulang sekarang? Aku masih ingin bicara dengan Minseok " Begitu polosnya Chanyeol saat bicara sampai-sampai tak menyadari aura membunuh dari diri Luhan , Lay menghampiri Chanyeol dan menariknya untuk bangkit.

" lebih baik pulang, kita sudah terlalu lama disini, Ayo Zitao-ah" Zitao pun bangkit dari duduknya sambil menatap Lay bingung " Bukankah rencananya kita akan disini sampai malam yah " Batin Zitao.

" Lu , kami pulang dulu yah, Terima Kasih sudah menerima kami disini " Lay menepuk bahu Luhan dan hanya dibalas Luhan dengan anggukan saja.

" Sebentar Hyung " Chanyeol melepaskan cengkraman tangan Lay dan kembali menghampiri Minseok sambil mengeluarkan ponselnya lalu memberikannya pada Minseok .

" Min, berikan nomor ponselmu padaku, kita harus bicara lebih banyak soal tadi " Minseok mengambil ponsel dari tangan Chanyeol lalu mengetikan nomornya. Luhan semakin geram, Lay semakin cemas dan Zitao yang semakin bingung sedangkan Chanyeol dan Minseok semakin tak menyadari keadaan. Rumit.

" Baiklah, nanti aku akan mengsmsmu oke? Baiklah aku pulang dulu, Luhan Bye " Lay pun menarik tangan Chanyeol keluar apartemen Luhan diikuti Zitao dari belakang.

BLAM

" Sudah puas? " Minseok menatap Luhan bingung.

" Puas apa? " Luhan berdecih kemudian berdecak pinggang dihadapan Minseok .

" Bertanya puas apa? Mengataiku tak peka tapi kau sendiri juga tak peka " Ucap Luhan dengan sinisnya, Minseok sendiri yang masih marah pada Luhan bersikap acuh dan meninggalkan Luhan menuju kamarnya membuat Luhan semakin mengeram marah, diikutinya Minseok kekamar.

BRAK

Luhan membanting pintu dengan keras membuat Minseok terkejut dan menatap Luhan ketakutan.

" Sudah puas bermesra-mesraan dengan Chanyeol hmm? " Minseok langsung menyadari arti ucapan Luhan .

" Aku tak bermesra-mesraan " Luhan menghampiri Minseok dan mencengkram kedua bahu Minseok membuat Minseok meringis.

" Luuuuu sakiiiiiit lepaskaaaaaan " Minseok mulai merengek kesakitan, Luhan pun melepaskan cengkramannya pada Minseok .

" Aku tak ada apa-apa dengan Chanyeol, kenapa mencurigaiku dengan sahabatmu sendiri sih? " Minseok mengusap-usap bahunya yang terasa sakit sambil mempoutkan bibirnya.

" Harusnya aku yang curiga padamu dan Zitao yang selalu menempel padamu, aku juga tak suka kau dekat dengan Zitao, aku tak suka saat dia menatapmu intens tapi kau seolah menikmati saat dia menempel padamu, apa kau suka padanya? Apa karena dia dewasa? Cantik? Sexy? Kau lebih suka padanya kan dari pada aku yang kekanakan, tak cantik, tak sexhmmmpphhtttt " Omongan Minseok terhenti saat tiba-tiba Luhan membungkam mulutnya dengan ciuman Luhan . Hati Minseok berdetak, ini ciuman pertamanya juga ciuman pertama yang Luhan berikan padanya setelah satu tahun bertunangan. Kakinya melemas mendapatkan serangan yang menyenangkan ini secara tiba-tiba, Bibir Luhan begitu lembut namun sedikit kasar saat menciumnya membuatnya merasakan sensasi hangat yang menjalar diseluruh tubuhnya. Luhan menatap minseok intens setelah melepas pagutan liarnya pada minseok. Lelaki itu tidak tahu harus berkata apa.

"Min..."

TBC