"Nijimura-san melamun terus," kata Akashi sambil tersenyum miring, beberapa menit setelah episode mimisan yang dialami kekasihnya. "Sedang memikirkan tentang kita?"

"Sedang memikirkan dosenku... Pede amat sih."

"Oh." Balas Akashi singkat, tengsin.

.

.

.

.

.

nijimura shuuzo against the world © 100% cocoa

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Warning: uke!Akashi, Nijimura & Mayuzumi nista, mungkin OOC, situasi Oreshi-Bokushi yang bikin bingung, bahasa kadang baku kadang enggak, dll.

Rating : M (untuk chapter ini ada lime)

A/N: terima kasih banyak yg sudah review/fav/alert! kali ini chapternya jauh lebih panjang. mungkin awal2 akashi memang sangat manis sopan pengertian baik hati dan tidak sombong, tapi jangan lupa kalau dia kan oreshi.

.

.

.

.

.

Berdehem sekali, ekspresi pemuda bersurai merah itu kembali berubah dingin seperti biasa. "...Nijimura-san jahat. Padahal sudah jauh-jauh datang dari Kyoto, tapi sesampainya disini aku tidak digubris sama sekali."

"Aku sedang banyak tugas, Akashi..." Keluh Nijimura sambil menyilangkan kedua tangannya di atas meja, lalu menenggelamkan wajahnya disana. Diam-diam ia menjerit senang dalam hati. Akashi yang manja memang fenomena alam yang jarang sekali terjadi—biasanya dirinya yang bermanja-manja pada Akashi yang mengelus kepalanya, menjelma menjadi sesosok yang keibuan—namun yang namanya tugas tetaplah tugas. Mungkin untuk kali ini pacar harus dinomorduakan.

Ingin rasanya ia memeluk tubuh ramping itu, menghirup aroma rambutnya, menciumi leher putih yang indah itu sambil tidur-tiduran di kamar seharian. Jangan salah, meski bertampang garang dan bibirnya terlihat mengintimidasi, gini-gini Nijimura orangnya unyu-unyu kalau pacaran. Tapi sepertinya untuk seminggu ke depan hal-hal seperti itu cukup dalam mimpi saja...

Kedua alis Akashi bertemu, memandang mahasiswa di sampingnya dengan pandangan tidak suka. Kemudian ia mengangkat dagunya dan berkata dalam nada yang mutlak, "Aku tidak suka jika Nijimura-san memaksakan diri dan bekerja terlalu keras."

Nijimura mengangkat wajahnya, melotot galak. "Apa itu yang barusan? Aku tidak bisa mendengarmu, Tuan Super-Sibuk-Yang-Menjabat-Sebagai-Ketua-OSIS-Ketua-Tim-Basket-Ketua-Kelas-Dan-Penerus-Akashi-Conglomerate. Ngaca dulu sana kalau bicara tentang memaksakan diri dan kerja keras!"

"Berbeda dengan Nijimura-san, aku sanggup mengerjakan tugas-tugas dan kewajibanku dengan mudah," Nijimura rasanya seperti tertohok panah mendengar 'berbeda dengan Nijimura-san'. "Dan aku sudah berhenti menjabat jadi ketua OSIS tahun ini. Walaupun jam belajarku bertambah karena Ayah ingin mempersiapkanku sebagai penerus lebih matang lagi—"

"Nah, itu. Itu!" Seru Nijimura sambil mengacungkan telunjuknya. "Itu yang membuatku kesal! Kau pikir aku tidak cemas melihatmu yang selalu belajar belajar dan belajar, dikelilingi jadwal super padat dan orang-orang dewasa yang selalu menuntutmu untuk jadi sempurna? Pikirkan perasaan orang-orang yang peduli padamu juga!"

Mata Akashi sedikit melebar, tertegun sejenak sebelum ujung bibirnya tertarik ke atas karena ia tidak dapat menahan senyum dan perasaan hangat yang melandanya tiba-tiba. "Terima kasih. Bukan maksudku untuk membuat Nijimura-san cemas tapi... Rasanya menyenangkan. Karena ada orang yang mengkhawatirkanmu, maksudku."

Nijimura terhenyak.

...ini... Maji tenshi parah...

"Akashi," Nijimura beranjak dari duduknya. "Ayo pergi."

"Apa kita akan pergi kencan?" Nijimura menangkap nada penuh harap pada pertanyaan inosen Akashi, dan untuk kedua kalinya dalam hari itu ia merasa bersalah.

"...Bukan. Kita akan ke rumahmu yang di Tokyo. Aku akan menghajar si tua bangka yang maunya cepat-cepat pensiun itu—"

"Jangan, Nijimura-san."


Nijimura kembali berkutat pada PR-nya, baik tugas menggambar maupun soal-soal menghitung, dengan Akashi yang duduk manis di pangkuannya. Pemuda yang lebih pendek itu sesekali melempar komentar tentang tulisan Nijimura yang kurang rapi atau ampas-ampas penghapus yang belum dibereskan, bahkan beberapa kali mengingatkannya tentang rumus-rumus cepat fisika yang lebih efektif. Tapi Nijimura tidak keberatan sama sekali. Dagunya bertengger di puncak kepala bersurai merah itu dan ia berpikir, ia tidak akan bosan mendengar suara khas milik kekasihnya yang bossy minta ampun itu, meski Akashi mengomeli hal-hal kecil sekalipun.

Nijimura menghentikan aktivitas menulisnya, dan memutuskan untuk meladeni Akashi sekaligus break sebentar dari tugas kuliah. Pacaran jarak jauh Tokyo-Kyoto itu tidak mudah (terutama jika kau memacari oujisama macam Akashi) karena itu momen-momen kecil seperti kunjungan ke apartemen Nijimura beberapa minggu sekali ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Mereka terlibat dalam obrolan ringan—melepas rindu dan menyegarkan pikiran—dan Nijimura berpikir kenapa tadi ia bisa-bisanya mengabaikan Akashi hanya untuk tugas-tugas terkutuk itu.

Namun di tengah-tengah obrolan mereka, Akashi memutuskan untuk mengangkat satu topik yang paling Nijimura hindari sejak pertama Akashi menginjakkan kaki di apartemen kecilnya saat ia berkunjung pertama kali.

"Teman sekamar Nijimura-san seperti apa orangnya?"

"...Hah?" Padahal dalam hati bilangnya shimatta. "Pertanyaan barusan itu datang darimana?"

"Hm... Mungkin setelah memperhatikan apartemen Nijimura-san lebih lanjut lagi, aku jadi tertarik." Jelas Akashi seraya mengalihkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang tengah tempatnya berada. Kotatsu, karpet, bantal-bantal kecil, meja panjang berlaci, televisi, tempat sampah di pojok ruangan. "Kupikir ia tipe orang yang kurang mementingkan kebersihan, tapi tiap sudut tempat ini bersih tanpa ada sampah yang berserakan. Di dapur juga tidak ada tumpukan piring-piring kotor, padahal tempat ini dihuni dua manusia laki-laki," katanya dengan penuh penekanan. Sambil mengangkat satu alis, Akashi melanjutkan, "Apa kalian tidak pernah makan dirumah karena tidak bisa masak?"

"Menurutmu kami kurang jorok, begitu?" Tanya Nijimura, sebuah perempatan muncul di dahinya karena kesal. "Dan kami memang lebih sering pesan antar daripada masak sendiri." Terus kenapa kalau gak bisa masak?

"Kalian sudah tinggal bersama selama tiga bulan lebih," lanjut Akashi. "Kurasa tempat ini terlalu... Hampa."

"Biar saja, lagian si ubanan itu memang sudah antisosial sejak hari pertama," cibir Nijimura malas.

Itu membuat Akashi sedikit terkejut. Pasalnya, pemuda yang lebih tua satu tahun darinya itu hampir tidak pernah cerita apa-apa tentang sosok misterius yang merupakan roommate–nya. Dan apa maksudnya dengan 'ubanan'? Antara teman sekamarnya itu manula atau penuaan dini. "Nijimura-san tidak senang sekamar dengannya?" Tanyanya penuh selidik.

Mampus, aku salah bicara. "Eh? Bukan, bukan begitu—"

"Orangnya seperti apa? Menyebalkan? Menyebalkannya seperti Aomine atau seperti Kise? Apa Nijimura-san merasa terganggu karena dirinya?"

"Satu-satu kalau bertanya Akashi! Dia memang menyebalkan, pake banget malah... Tapi aku masih bisa hidup di dekatnya untuk beberapa bulan ke depan kok," jelasnya cepat-cepat.

Namun bukan jawaban itu yang diinginkan Akashi. "Orang ini jelas-jelas membuat Nijimura-san tidak nyaman," ucapnya dengan nada mutlak yang sama seperti tadi. "Apa aku perlu mengunjunginya langsung? Atau menghubungi kantor di bawah untuk mencarikanmu roommate baru?"

"Tidak! Jangan dibunuh, Akashi!" Jawab Nijimura gak nyambung. Ini yang membuatnya mengurungkan niat tiap ingin curhat soal teman sekamarnya—Akashi pasti rempong, baru diceritakan sedikit pasti langsung parno. Ia juga tidak ragu untuk mengambil langkah ekstrim sebagai jalan keluar. Memang mantan adik kelasnya seperti ini karena ingin yang terbaik untuk dirinya (Nijimura diam-diam senang sih) tapi Nijimura ingin meluruskan masalahnya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Terutama tanpa seorang Akashi Seijuuro.

"Orangnya seperti apa?" Tanya Akashi melanjutkan interogasinya. "Apa dia berandalan? Atau malah orang cupu?" Akashi tau cupu darimana coba. "...Jangan-jangan dia cowok shota."

"Hah?" Ini Akashi kenapa makin ngawur, Nijimura bertanya-tanya dalam hati. "Kenapa kau jadi berasumsi kalau dia cowok shota?!" Membayangkan teman sekamarnya yang amit-amit itu shota itu... Iuh.

Mata Akashi mendelik tajam, malah salah berasumsi akan jawaban Nijimura. "Oh, jadi benar dia cowok shota? Masuk akal. Pasti karena itu Nijimura-san tidak pernah mau cerita."

"Bukan bukan bukan!" Seru Nijimura panik. Ia sudah belajar dari pengalaman kalau Akashi yang sedang cemburu itu berbahaya, jangan dikasih makan rumput laut—ralat, dalam keadaan apapun jangan dikasih rumput laut. Intinya jangan sampai si pendek itu cemburu!

"Respon Nijimura-san makin mencurigakan."

"Kau saja yang curigaan tanpa alasan yang jelas!" Nijimura memutar otak, mencari-cari alasan yang tepat untuk dijadikan pengalih perhatian. "...Daritadi aku menemanimu, memberikanmu perhatian utuhku dan memanjakanmu tapi kenapa kau bersikeras ingin tau tentang pria lain?" ...geblek, kenapa ini terdengar seperti dialog telenovela yang sering ditonton Ibu?! "Kurasa ini sedikit tidak adil, Akashi, kau tidak mempertimbangkan perasaanku sama sekali." Sudah cukup bicaranya, mulut bebek!

"Eh..." Wajah Akashi yang tadinya galak lengkap dengan mata menyeramkan yang berkilat-kilat kini terlihat bingung. Ia mencerna kata-kata Nijimura berulang kali hingga tak lama ekspresinya berubah—menjadi persis seperti anak kucing yang dibuang di pinggir jalan—dan kucing yang bersangkutan tersebut menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Go... Gomennasai."

Akashi minta maaf karena cemburu padahal dia cemburu karena sayang tapi dia malah minta maaf karena aku ngomong seenak jidat— Nijimura rasanya ingin buang diri ke laut.

Ia kembali dibanjiri perasaan bersalah, untuk ketiga kalinya, cuman kali ini rasanya seperti bonus ditiban sekarung batu bata. "...Akashi."

"Ya?"

Nijimura memajukan pipi kanannya. "Ta... Tampar saja wajahku. Atau tinju, terserah," ia terdiam sebentar. "Tapi jangan pakai benda tajam." Maunya sih bilang gunting, tapi nanti kesannya menyindir sekali.

Di luar dugaan Akashi beneran mendekat, dan Nijimura sempat berpikir mampus dia benar-benar ingin menghajarku sebelum—chu.

...

Pemuda bermanik rubi itu menarik mundur kepalanya, dan dari jarak sedekat ini Nijimura dapat melihat semburat merah tipis yang menghiasi wajah tampan itu, sekaligus merasakan nafas hangat Akashi yang menyapu permukaan wajahnya. Pipi kanannya terasa sedikit basah, dan Akashi memberikan senyum kecil yang terlihat seperti permohonan maaf. "Tanpa sadar aku telah bersifat egois. Gomen, Nijimura-sa—"

"Diam." Nijimura menyela, pandangannya tidak bisa lepas dari bibir pink Akashi yang jaraknya sudah sangat dekat dengan miliknya sekarang. Pertahanan dirinya bisa runtuh kalau begini terus. "Pokoknya diam. Jangan minta maaf lagi."

"Tapi—"

"Kubilang diam."

"Niji—"

Nijimura mendorong wajahnya, mempertemukan bibir mereka berdua kemudian melumat bibir lembut itu dengan kasar, menghiraukan lenguhan protes dari Akashi dan matanya seakan berkata tadi kan sudah kuperingatkan, jangan bicara lagi, aku tidak bisa menahan diri lagi.

Tak lama Akashi membuka mulutnya dan Nijimura bukanlah orang bodoh yang menolak undangan tersebut. Lidahnya masuk menyapu rongga dalam mulut Akashi, mengajak lidah yang satunya bermain, dan pemuda bersurai eboni itu berusaha untuk tidak memejamkan mata. Ia tidak ingin ketinggalan ekspresi wajah Akashi yang begitu menggiurkan, matanya setengah tertutup, nafasnya terengah-engah, dan desahan-desahan kecil terus keluar dari mulutnya—

Persetan sama tugas.


Mayuzumi Chihiro, 20 tahun. Sudah setahun berstatus sebagai mahasiswa Tokodai. Hobi membaca—baik light novel maupun manga—dan jago utak-atik komputer. Anak tunggal, padahal dari dulu pengen punya adik perempuan yang moe.

Zodiak? Makanan favorit? Idih, kepo.

Rambutnya mencapai tengkuk leher, berwarna abu-abu silver indah dan sangat kece (menurutnya) saat diterpa angin. Selain wajahnya yang juga lumayan tampan, iris kelabu dan ekspresi wajahnya yang dingin menambah kesan misterius seorang Mayuzumi. Wajah boleh ganteng, tapi pemuda yang satu ini amit-amit sekali kalau sudah buka mulut. Bukan karena mulutnya bau jigong, tapi karena kalau dirinya sudah angkat bicara, bisanya bikin sakit hati melulu. Kalau gak sarkastik naujubilah, omongannya tajam seperti gunting dan pedas bagaikan wasabi.

Mayuzumi yang memang pada dasarnya tidak suka komunikasi sama manusia, merasa bahwa image bishonen misterius bermulut pedasnya itu oke-oke saja. Dengan begitu kan orang-orang akan enggan mengajaknya bicara. (Diam-diam sih dia senang, berasa mirip karakter protagonis kece dari light novel. Tinggal ditambah heroine yang femme fatale atau tsundere sebagai partner). Hari-hari kuliah pun ia jalani dengan damai, ditemani gadis-gadis LN manis yang sayangnya beda dimensi. Yah, Mayuzumi Chihiro memang jomblo, tapi setidaknya dia gak ngenes.

(Karena positive thinking dan membohongi diri sendiri itu beda tipis.)

Mayuzumi tinggal di Kyoto sejak kecil, namun karena satu dan lain hal ia memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di Tokyo selepas SMA. Ingin mencoba lingkungan baru dan hidup jauh-jauh dari orang tua yang dianggapnya menyebalkan—dasar anak durhaka—juga merupakan faktor pendukung. Namun, jika orang-orang di sekitarnya (Mayuzumi menolak menyebut mereka teman) bertanya kenapa jauh-jauh kuliah di ibu kota, biasanya ia menjawab singkat: di Kyoto ada alien.

Gak bercanda. Ini serius.

Ia pernah tidak sengaja mendengar seseorang di kelas yang sama dengannya berkomentar 'Si Mayu itu udah mulutnya jelek orangnya freak lagi'. Kata-katanya nyelekit hati, tapi mau protes juga susah, soalnya Mayuzumi lupa wajah dan nama si pelaku (lebih tepatnya ia menganggap orang-orang di sekitarnya tidak penting). Akhirnya ia hanya bisa misuh-misuh sendiri, ngedumel kalau manusia itu bisanya cuma ngomong di belakang.

Tapi ia terus bersikeras kalau di kampung halamannya itu ada alien. Aliennya cebol, bermata belang, jago main basket dan mengidap kamidere serius. Teman sekelasnya makin bingung, ini persilangan Light Yagami yang heterokromia dengan Nishinoya Yuu yang bosan main bola voli atau gimana.


Nijimura dan Akashi terlibat ciuman panas yang sangat seru sebelum tangan-tangan mantan senpai itu mulai aktif menelusuri lekuk-lekuk tubuh mantan kouhai-nya. Dari punggung, turun ke bawah, kemudian naik lagi ke bagian dada dan Nijimura menggoda tonjolan-tonjolan kecil yang sudah agak mengeras disana. Akashi mengerang, matanya terpejam kuat-kuat dan Nijimura menggigit pipi putihnya karena gemas. Lidahnya menjilati dari pipi sampai perpotongan antara leher dengan bahunya, dan desahan Akashi semakin menjadi-jadi.

Nijimura meremas bokongnya tiba-tiba, dan Akashi mencengkram bahu mantan kaptennya karena terkejut. "N-Niji.. ahhn Nijimura-saan..." Ia mengerang sambil bergerak-gerak tidak nyaman, berusaha melepas pegangan Nijimura pada bagian belakang tubuhnya. "Kita... kita pindah ke kamarmu s-sajaaa..."

"Disini juga mmn tidak apa-apa, Akashi," balas Nijimura disela-sela kegiatan jilat-menjilatnya. Tangannya melepas cengkramannya tadi dan meraih pinggul Akashi, mendekapnya lebih dekat, dan kejantanan mereka tidak sengaja bergesekkan satu sama lain. Nijimura mengerang nikmat, sedangkan Akashi menggigit bibir untuk meminimalisir suara-suara (yang menurutnya) memalukan yang terus dikeluarkannya.

"Aku inginm-melakukannya di kamar saja," pinta Akashi, wajahnya terlihat sedikit frustasi karena permukaan kulit mereka masih terhalang celana masing-masing. "Ini tempat Nijimura-san belaj—aaahhh Nijimura-saannn," desahnya nikmat saat tangan Nijimura yang satunya menyusup ke balik celana dan meremas keras benda miliknya. "S-sudaaahh Nijimura-san.. Nanti konsentrasimu buyar s-setiap belajar disini..."

"Malah... hhh bagus kan?" Tanya Nijimura terengah-engah, tangan kanannya sibuk memberikan handjob pada Akashi. Ekspresi kekasihnya barusan itu bagus banget. "Aku belajar sambil terbayang-bayang wajah yang menggoda ini."

"Hentikann..."

"Apa kau bisa melakukannya, Akashi?" Tanya Nijimura tepat di telinganya, tidak mengindahkan permohonan pemilik surai merah itu sama sekali. "Apa kau bisa keluar... Hanya karena tanganku saja?" Mendengar suara nafas Akashi yang semakin memburu, ia melanjutkan, "Kau cukup diam dan nikmati... Aku akan memberikanmu handjob terhebat sepanjang masa."

Tangan Nijimura terus memainkan milik Akashi yang sudah menegak sempurna, menggigiti cuping telinga yang kemerahan itu sampai Akashi mengerang keras-keras. Peluh membasahi wajahnya yang terasa sangat panas, dan salivanya tidak berhenti mengalir dari ujung bibir. Nijimura meneguk pemandangan indah tersebut dengan rakus, karena kapan lagi melihat Akashi Seijuuro yang vulnerable seperti ini.

"Shuuzo..." Kata Nijimura tiba-tiba. "Panggil aku Shuuzo."

"S-Shuuzo-sannn.."

"Jangan pakai keigo.." Lanjut Nijimura, nafasnya semakin menderu. "Ayo panggil namaku... Seijuuro."

Nijimura boleh bangga karena dapat membuat seorang Akashi mendesah keras, nyaris kehilangan kontrol dan keluar saat itu juga—nyaris.


Mayuzumi bukanlah keturunan dukun atau punya indera keenam, tapi perasaan merinding yang dirasakannya begitu menginjakkan kaki di pintu masuk gedung bertingkat tempat ia tinggal itu bukanlah merinding akibat dinginnya udara kota Tokyo. Lagian musim gugur kan baru mulai beberapa minggu lagi, aneh dong kalau ia tiba-tiba menggigil. Mungkin semacam firasat buruk, batinnya. Bodo amat lah.

Apartemen yang ditinggalinya terletak di lantai tiga, yang sekaligus lantai teratas gedung tersebut. Tempatnya bagus, nyaman, lokasinya strategis: dekat dari Stasiun Tamachi dan kampus tempatnya belajar, tidak jauh dari toko buku langganannya, tidak jauh dari pusat kota, pemandangan bagus, dan lain-lain. Pokoknya Mayuzumi sangat menikmati kehidupan barunya yang damai sejahtera, meski ia sendirian. Namun tiga bulan lalu ia sempat kebingungan karena tidak sanggup membayar uang sewa lagi—hidup dan membayar sewa seorang diri selama setahun dinilainya sudah cukup—dan setelah galau berhari-hari ia memutuskan untuk menyewa apartemen untuk dua orang agar bisa membayar separuh-separuh. Mayuzumi si kepala batu bersikeras ingin tetap tinggal di gedung itu karena sudah pewe, bukannya cari tempat tinggal yang lebih murah di tempat lain.

Namun pemuda yang notabene antisosial itu mau cari teman sekamar bagaimana coba? Sudah antisosial, hawa keberadaannya tipis macam makhluk halus pula.

Kebetulan saat itu seorang maba berambut hitam dengan tampang desperate sedang celingukan di pinggir jalan, ternyata ia juga kebingungan mencari tempat tinggal. Almameter yang ditenteng di tangan kanannya terlihat tidak asing, dan rupanya dia juga anak Tokodai. Mayuzumi menghampirinya, menjelaskan situasi tentang 'apartemen untuk berdua' kepada pemuda yang jelas-jelas orang asing itu, dan tahu-tahu mereka sudah jadi teman sekamar. Si anak baru itu asal terima karena desperate, sedangkan Mayuzumi tidak punya pilihan karena siapa lagi yang mau dimintainya.

Pemuda bersurai abu-abu itu akhirnya punya seseorang yang dapat dipanggilnya teman juga—meski dengan hati yang super berat. Kouhai dekil yang tingginya hampir sama dengannya itu bernama Nijimura Shuuzo, anak Mechanical Engineering, punya kebiasaan buruk manyun seperti bebek kalau sedang berpikir keras, jago karate dan pernah tinggal di Amerika selama dua tahun. Si pelangi itu pernah bercerita bahwa ia pernah berantem dengan preman-preman LA yang kalah menantangnya main basket dan bagaimana ia menyelinap ke warehouse markas para berandalan tersebut untuk menyelamatkan temannya yang diculik, dan Mayuzumi berpikir ini anak kenapa hidupnya seru amat kayak film-film action.

Ia hampir merasa kalah kece, tapi pemikiran itu Mayuzumi buang jauh-jauh.

Tiga bulan mereka jalani tinggal satu atap di apartemen bagus itu dengan normal—Mayuzumi masih suka sebal kalau Nijimura berisik dan mengganggu waktu bacanya, sedangkan Nijimura tidak pernah tidak kaget setiap Mayuzumi muncul secara tiba-tiba (persis seperti salah satu kouhai-nya waktu di SMP dulu yang hawa keberadaannya tidak kalah tipis, dan Nijimura nostalgia sejenak tentang sesosok pendek bersurai biru langit)—tapi tetep aja senormal-normalnya anak cowok sih.


Mayuzumi terdiam, merasa horor sendiri. Kenapa aku flashback awal-awal ketemu si bibir itu? Kan kalau tau-tau orientasi seksualnya juga belok bisa berabe, karena seingatnya kouhai gak sopan yang merupakan teman sekamarnya itu sudah punya pacar. Lagipula Mayuzumi masih demen perempuan juga kali (entah ini fakta atau dia membohongi diri sendiri lagi). Ia mendengus, cowok urakan macem Nijimura kenapa bisa dapet pacar coba. Yang ini ngiri apa ngiri?

Tiba-tiba telinga Mayuzumi menangkap suara-suara yang janggal, dan langkahnya terhenti di ujung tangga. Ia sempat berpikir bahwa itu cuma imajinasinya saja, tapi suara aneh itu samar-samar terdengar lagi, dan agaknya berasal dari ujung lorong. Hari ini hari Sabtu, kebanyakan penghuni apartemen lainnya pergi berakhir pekan, pasti karena itu tidak ada yang keluar untuk mencari sumber suara. Perasaan Mayuzumi semakin tidak enak begitu ia berjalan menuju pintu kamarnya—yang terletak di ujung lorong—dan suara-suara itu terdengar makin jelas. Tunggu sebentar.

Sepertinya ia melupakan sesuatu yang penting di hari Sabtu...

...

Pacar Nijimura datang berkunjung.

Mayuzumi membeku, membongkar memorinya untuk mengingat-ingat isi email yang dikirim kouhai kurang ajar itu saat ia tengah menikmati Sabtu paginya nongkrong di maid cafe; numpang WiFi gratis dan mengerjakan tugas, sekalian cuci mata melihat gadis-gadis moe. Ia memutuskan untuk mengecek ponselnya, membuka pesan paling atas yang ada pada inbox tersebut dengan perasaan campur aduk.

[ Sat, 09:11 AM

From: Bibir

Subject: pulang malem

sei-ku main kerumah, pulang malem aja yah yu, kami mau berduaan. anaknya rempong, kalau kalian ketemu nanti malah ribet. ]

...Sial. Ia benar-benar lupa, malah memutuskan untuk langsung pulang setelah membeli dua LN baru yang sudah diincarnya sejak awal bulan. Mayuzumi bisa saja balik badan dan angkat kaki dari gedung ini sekarang—ia benar-benar tidak mau berurusan dengan kekasih Nijimura yang lewat cerita-ceritanya saja sudah terdengar menyebalkan—tapi ia tidak bisa membiarkan teman sekamarnya seenak jidat melakukan sesuatu di dalam sana—di apartemen tercintanya.

Mayuzumi merogoh saku celana untuk mencari kunci kamar, mempercepat gerakannya, segera membuka kunci lalu memutar gagang pintu, dan yang terus-terus terngiang di pikirannya adalah awas kalau mereka anu-anu di ruang tengah.


Akashi keluar di tangan Nijimura, bibirnya terus mengucap Shuuzo Shuuzo Shuuzo dan Nijimura mencium leher jenjang itu sambil membisikan Seijuuro

Dan beberapa detik kemudian pintu terbuka.

"Nijimura teme, kalau sampai ada yang menempel di selimut kotatsu akan kubunuh kau—"

Akashi mengerjap dua kali, pandangannya sedikit berkabut—masih larut dalam kenikmatan—namun mata rubinya menangkap sepasang iris kelabu yang menatapnya kaget. Warna abu-abu itu familiar, namun jelas bukan Nijimura.

Di samping Akashi, Nijimura meremas kaus bagian dada kirinya—ini jantung rasanya hampir copot.


Hening.

Sunyi.

Jangkrik negeri Sakura bunyi krik krik krik.

...

...

...

Awkward abis. Nijimura rasanya ingin gali kubur, kuburannya Mayuzumi.

Ia hendak membuka mulut, siap melancarkan segala sumpah serapah pada si pendatang baru, tapi suara Akashi mendahuluinya. "Tidak kusangka kita akan bertemu lagi di tempat dan.. suasana seperti ini," tatapannya menajam. "Chihiro."

...Hah?

"Aku sudah mengira kau akan kembali mengganggu hidupku cepat atau lambat, Akashi," balas Mayuzumi kalem, mencoba menyembunyikan keterkejutannya. Manik abu-abu itu naik dan turun mengamati lawan bicaranya—nafas tidak teratur, rambut berantakan, tubuh bermandikan keringat, baju acak-acakan dan ampun Kamisama itu celananya basah. "Tapi tak kusangka hari itu akan datang secepat ini."

Nijimura skot jantung, berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Apa-apaan ini?! Kenapa mereka menyapa satu sama lain layaknya teman lama? Akashi kenapa adem anyem saja? Itu mata Mayuzumi barusan lihat kemana?!

Nijimura melirik pemuda pendek di sampingnya, mendapati Akashi yang duduk tenang dengan ekspresi wajah yang tidak bisa ditebak. Wajahnya netral, padahal beberapa saat lalu ia blushing parah sambil mendesah-mendesah malu. Nijimura juga sedikit terkejut mendapati iris mata kiri wakil kaptennya dulu itu terlihat lebih terang dari warna biasanya—oranye? Jingga?

Atau hanya tipuan cahaya lampu?

Akashi masih terlihat sama, namun pembawaannya sangat tenang—terlalu tenang malah—untuk situasi semacam ini. Auranya juga sedikit berbeda... Nijimura yakin betul ada yang tidak beres.

Akashi yang sadar sedang diperhatikan menoleh, "Apa ada yang salah, Nijimura-san?"

JLEB. Sebilah pisau menancap di dada pemuda bersurai hitam itu. "T-tidak..." Padahal tadi sudah berhasil manggil 'Shuuzo'...

Suara Mayuzumi membuyarkan acara pundungnya, dan pengganggu itu melangkah mendekat ke meja kotatsu. "...Aku rasa pria straight sekalipun bisa naik libidonya kalau melihat wajah dan penampilanmu sekarang... Nice, Akashi."

"Dua tahun berlalu dan sifatmu masih memuakkan seperti dulu."

"Aku memujimu, Yang Mulia. Aku memang tau kalau kau bakat jadi uke, tapi kalau melihat langsung seperti ini—"

"Stop stop stop!" Pekik Nijimura. Tangannya menarik Akashi ke belakang, menghalanginya dari tatapan Mayuzumi yang lama kelamaan kok rasanya semakin mesum. "Akashi, apa maksudmu dengan 'Chihiro'?! Makhluk ubanan yang ada disitu namanya Mayuzumi!"

"Sepertinya kau menjadi lebih bodoh dibanding pagi tadi, Nijimura." Ini orang mablang, batinnya. Ia memutuskan untuk duduk, berseberangan dengan dua makhluk yang bikin kacau apartemennya. Kantung plastik berisi belanjaannya di toko buku tadi ia letakkan begitu saja di atas meja. "Kalau begitu ayo mulai dari awal lagi. Perkenalkan, namaku Mayuzumi Chihiro. Nama keluargaku Mayuzumi dan nama pemberianku Chihiro. Yoroshiku."

"Diam brengsek! Sarkasmemu itu bikin muak, alis ubanan!" Bentak Nijimura kesal, menahan tangannya untuk tidak melempar kepala abu-abu itu dengan buku fisika. "Gue yang pacarnya aja masih dipanggil Nijimura-san kenapa elo tau-tau dipanggil Chihiro!" Ternyata itu yang membuatnya mencak-mencak.

Mayuzumi memutar bola matanya. "Kenapa... katamu?" Sorot matanya mendingin. Lalu dengan ekspresi yang berubah serius, ia melanjutkan, "Mungkin karena aku pernah menjalin hubungan dengan Akashi Seijuuro."

...

...

...

"...Nijimura-san, tolong jangan membatu dulu," Akashi menghela nafas panjang. Mayuzumi menahan diri untuk tidak kelepasan ngakak karena wajah Nijimura barusan priceless abis. "Dan tolong jangan percaya apapun yang keluar dari mulut manusia sarkastik ini, Chihiro memang perangainya buruk seperti itu. Dan pribadinya semakin rusak saja karena pengaruh-pengaruh light novel bacaannya yang tidak mendidik."

Alis-alis Mayuzumi—KITAKORE!—bertaut, "Jangan bawa-bawa LN."

"T-tapi.. Tapi.." Kalau kalian terlihat super akrab begitu kan aku jadi..!

"Ngomong-ngomong Nijimura-san," panggil Akashi sambil menarik kaus yang bersangkutan, menyita perhatiannya. "Aku ingin... Pinjam kamar mandi. Mau bersih-bersih," ia terdiam sejenak. "Kalau bisa pinjam baju juga. Bolehkah?"

Nijimura facepalm keras-keras secara mental. Ia bahkan lupa habis melakukan yang iya-iya sebelum si brengsek Mayuzumi itu datang, mengutuki dirinya yang tidak peka terhadap ketidaknyamanan Akashi yang ia tahan sejak tadi. Kenapa dia tidak bilang dari awal saja?! Anak ini terlalu sopan untuk kebaikannya sendiri. Nijimura kembali dilanda perasaan bersalah untuk yang keempat kalinya.

"Akan kucarikan baju ganti. Kau mandi dulu saja, Aka—Mayuzumi TEME, LIHAT KEMANA KAU HAH? GUE CUNGKIL JUGA MATA LO!"

Mayuzumi yang tertangkap basah sedang mencuri pandang ke celana Akashi yang basah—KITAKORE!—cuma mendengus malas. "Jepang negara liberal kali."

"TAPI INI UKE GUE."

"Itu tidak salah, Chihiro," timpal Akashi, menepuk-nepuk pundak kekasihnya yang terbakar emosi. "Tapi perlu kutambahkan bahwa selain liberalisme, Jepang sempat berpegang kuat pada fasisme yang dipelopori oleh Perdana Menteri Tanaka, di bawah kepemimpinan Kaisar Hirohito. Kalau kau masih ingat pelajaran Sejarah, ini berkaitan erat dengan Restorasi Meiji—"

"Akashi, yang barusan itu cuma ungkapan. Aku benar-benar tidak peduli mau negara ini menganut liberal atau fasis."

"Sifat tidak sopanmu itu tidak hilang-hilang juga ternyata. Pikir dua kali sebelum seenaknya memotong pembicaraanku, Chihiro."

"Ngapain coba capek-capek mikirin gituan."

Kali ini Nijimura facepalm beneran. Memang susah punya pacar jenius yang berintelektual tinggi... Mencoba untuk tidak marah-marah, ia menyarankan, "Akashi, mending sekarang kau segera pergi mandi... Aku akan mendengarkan penjelasanmu tentang Restorasi Meiji atau apapun itu lah setelah kau selesai nanti." Ia memijit pangkal hidungnya, mulai pusing dengan semua kegilaan ini.

"Sepertinya Nijimura-san salah fokus," balas Akashi yang sudah beranjak dari duduknya. "Bukannya Nijimura-san ingin tau tentang hubunganku dengan Chihiro?"

"Grr yang itu juga!" Dasar kucing!


Sepeninggal Akashi ke kamar mandi, Nijimura yang sudah ganti pakaian dan cuci tangan tengah merapikan kertas-kertas tugas yang amburadul karena aktivitas serunya tadi. Mayuzumi sibuk menyemprotkan spray pengharum ruangan yang ditemukannya di dapur, yang bahkan belum pernah mereka buka segelnya, sembari berkomentar dengan muka datar kalau "ruangan ini bau keringat dan bau semen".

Nijimura diam, mendengarkan suara guyuran showerdari kamar mandi, mencoba mengabaikan manusia lain yang berada di ruangan yang sama dengannya.

"...'Sei-ku' yang kau maksud di email tadi pagi," kata Mayuzumi membuka pembicaraan. Nijimura langsung gondok, padahal ia niat ngacangin Mayuzumi sampai Akashi selesai mandi—kalau bisa sampai mati deh. "Maksudnya Akashi 'Sei'juuro?"

"...Diam, ubanan."

"Ini abu-abu silver, bibir, bukan uban," protesnya kalem. Kemudian ia melanjutkan dengan nada mengejek, "Kalian bahkan belum first name-basis." Namun perkataannya itu lebih terdengar seperti haha kasian gue aja dipanggil nama kecilnya sama Akashi. Nijimura ingin nonjok sesuatu, lebih spesifik lagi ingin nonjok mukanya Mayuzumi.

Pemuda bersurai abu-abu itu meletakkan spray aroma bunga-bunga di meja, kemudian menghampiri teman sekamarnya. Bohong jika ia mengatakan bahwa ia tidak kaget begitu mengetahui pacar Nijimura yang rempong itu adalah Akashi, tapi entah kenapa rasa kagetnya itu tidak berlangsung lama. Akashi memang tidak pernah gagal membuatnya terkejut, dan sesuai dugaannya alien itu benar-benar kembali untuk mengganggu hidupnya lagi. Tapi ia juga merasa sejak kapan Jepang jadi sesempit ini.

Ia menepuk bahu Nijimura dan berkata dengan nada tak acuh dan wajah sedatar tembok, "Goshuushousama. Memacari seorang Akashi Seijuuro… Aku tidak tau kalau kau ternyata seorang masokis. Aku akan dengan senang hati membacakan pidato di hari pemakamanmu yang tak akan lama lagi, karena kau pasti mati muda karena digerogoti stres, Nijimura."

...

Nijimura melayangkan tinjunya. Mayuzumi menghindar dengan (sok) elit.

"DASAR COCKBLOCKER! LALET! PHO!"

"SIAPA SURUH GREPE-GREPE DI RUANG TENGAH."

"LO UDAH JANJI GA BAKAL PULANG SEBELUM MAKAN MALAM!"

"INI TEMPAT GUE BACA, NONTON TV, SANTAI-SANTAI DI BAWAH KOTATSU DAN BAHKAN MAKAN, JI."

"APA-APAAN LAGI ITU TERNYATA LO KENAL SAMA AKASHI? DASAR MT, MAKAN TEMEN."

"POKOKNYA BESOK SELIMUT KOTATSU HARUS DI-LAUNDRY DAN LANTAINYA DIPEL."

"DASAR JOMBLO."

"GAK USAH NGUNGKIT-NGUNGKIT ITU—"

Akashi yang sedang sabunan menatap pintu kamar mandi dengan heran. Itu mantan-mantan senpai-nya kenapa jadi OOC semua?


Beberapa menit kemudian Akashi sudah duduk manis di samping Nijimura, rambutnya sedikit basah oleh bulir-bulir air dan wajahnya masih hangat sisa-sisa air mandi. Ia mengenakan kaus berwarna hitam polos berukuran besar yang dipinjami sang kekasih; lingkar leher yang luas mengekspos kedua tulang selangkanya, serta ujung lipatan kaus tersebut mencapai hingga pertengahan paha. Moe abis, batin Mayuzumi. Akashi juga mengenakan celana boxer putih miliknya yang ternyata tertinggal di lemari Nijimura sejak kunjungan terakhirnya ke apartemen ini. Alibinya sih si mulut bebek itu terus-terus kelupaan untuk mengembalikannya, padahal Nijimura sengaja tidak mengembalikan pakaian dalam sang uke. Katanya sih buat obat kangen.

Mayuzumi mendengus, dua LN yang baru dibelinya masih tersegel rapi di dalam kantung plastik dan terlantar di atas meja. Bakalan lama nih, pikirnya saat Nijimura mengajak (lebih tepatnya memaksa) dirinya dan Akashi untuk berbicara empat mata di ruang tengah (di TKP yang sekarang bau bunga-bunga). Mayuzumi tau si kouhai bego itu benar-benar mengira dia pernah berpacaran dengan Akashi, karena itu ia memutuskan untuk buang-buang waktu meladeninya—dengan begitu mungkin kehidupan kuliahnya akan lebih menarik, lebih berwarna seperti waktu ia kelas tiga SMA dulu.

Karena apapun yang berkaitan dengan Akashi Seijuuro selalu berujung menarik. Meski pada awalnya pasti menjengkelkan, membuatnya frustasi, dan harga dirinya terancam terinjak-injak.

(Mayuzumi mengingat bagaimana dulu ia dijadikan phantom sixth man kedua yang sudah dibangga-banggakan tapi malah gagal karena prototype yang asli sanggup melampauinya, dan dadanya terasa seperti dicubit sesuatu.)

Nijimura berdehem, menarik perhatian dua orang lainnya yang sibuk dengan pikiran masing-masing. Akashi yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu masih terlihat tenang—kelewat tenang—seperti bukan Akashi. Atau setidaknya bukan Akashi yang kukenal, batin Nijimura. Ia memutuskan untuk mengesampingkan hal itu dan fokus pada masalah yang ada di depan batang hidungnya, dan ia pun melancarkan pertanyaan pembuka.

"Uh. Jadi... Kalian kenal darimana?"

...

...ini kenapa berasa mergokin pacar yang lagi jalan bareng selingkuhannya sih...

.

.

.

.

.

tbc


A/N: apa? bagian anu-anunya kurang hot? yang penting kan nijiaka nya unyu. /ditabok. kenapa pula itu terakhirnya mayuyu galau? soalnya selama setahun terakhir hidupnya damai ga diganggu alien, kangen dia. /disepak.

menulis tentang mayuzumi itu seru banget, emang nista tuh orang akakaka. chapter depan adalah "the talk" yang ga kalah nista dan jujur saya sangat enjoy menulis fic ini. kasian ya bang niji, udah berusaha jauhin mayuyu dari akashi eh ternyata mayuaka udah saling kenal.

mayuzumi benar2 mendeskripsikan akashi sebagai, saya quote langsung dari translate-an replace v, "like an alien, he opened the door to a different world (to a me that i don't know)". anjas :') fic ini memiliki banyak referensi dari replace novel, epilogue, kurofes, ng-shuu dll jadi saya ga ngawur2 amat kok.

komentar2 dan saran2nya saya tunggu lewat review, atau yang mau fangirlingan tentang nijiaka/mayuaka doang juga sok atuh. XD