"Bagaimana dengan hasil ulangan semestermu?" Sehun bertanya setelah dirinya sampai dirumah
"Sehan... Sehan..." Sehan tergagap untuk menjawab pertanyaan Appanya
"Kenapa gugup?" Sehun menatap datar anaknya yang sedang gugup
"Sehan hanya mendapat nilai enam puluh untuk setiap pelajaran" Sehan malu karena nilainya tidak ada yang bisa dibanggakan namun dirinya sudah cukup berusaha keras
"APA? KAU BELAJAR ATAU BERMAIN. KENAPA BISA CUMA MENDAPAT NILAI ENAM PULUH"
"Hiks..."
Luhan sibuk menenangkan Bram terlebeih dahulu dan setelah Bram reda tangisannya, Luhan meletakkan Bram didalam kamar tepat diatas kasur sedangkan dirinya keluar dari kamar untuk menyelesaikan masalah yang dibuat Sehun lagi.
"AMPUN APPA... HIKS..."
Sehan menangis ketika Appanya memukul pantatnya dengan kuat sedangkan Luhan yang mendnegar tangisan anaknya merasakan sakit hati luar biasa karena dirinya saja tidak pernah memukul anaknya sendiri.
"SEHUN!" Luhan mendekati suaminya dan memberikan tatapan tajam pada suami tercintanya
"APA? KAU MAU MEMBELANYA LAGI" Sehun sangat tidak terima jika anaknya salah selalu dibela oleh istrinya sendiri
"KENAPA KAU SELALU MENYIKSA SEHAN HAH? KAU TIDAK ADA OTAK UNTUK BERPIKIR SEDIKITPUN TENTANG SEHAN" tidak ada keharmonisan lagi dalam keluarga tersebut untuk menyelesaikan suatu masalah
"KAU SELALU MEMBELANYA, DAN GARA – GARA ANAK SIAL INI KITA SELALU BERKELAHI"
PLAK
PLAK
PLAK
"Aku kecewa. AKU KECEWA PADAMU"
Luhan membawa Sehan kedalam kamar anaknya dan tidak mempedulikan suaminya yang kesakitan sehabis ditampar.
"Hiks... Eomma... Maafkan Sehan Eomma..."
Luhan membawa anaknya kedalam pelukannya dan mendekapnya erat, Luhan tidak tahan melihat anaknya menangis untuk kesekian kalinya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan nak"
Luhan menyesal karena sudah membiarkan anaknya demam tinggi ketika masih kecil dan berdampak pada daya pikirnya yang lambat.
"Tapi Eomma Hiks... Gara – gara Sehan Hiks... Eomma dan Appa bertengkar Hiks..."
"Tidak nak, itu sudah kewajiban Eomma untuk melindungi anak Eomma Hiks..."
Luhan juga menangis karena menyangka jika Sehan akan lebih memikirkan orang tuanya dibandingkan dirinya yang kena pukulan dari Sehun.
"Hiks... Eomma ulgo shipji ana" Sehan menghapus air mata Eomma tercintanya
"Sehan juga ulgo shipji ana" Luhan juga menghapuskan air mata anaknya yang tersayang
"Sudah, ayo makan nak" Luhan membawa Sehan untuk makan didapur
"Sehan takut Eomma" Sehan tetaplah anak – anak yang takut kena marah Appanya
"Sehan dengar Eomma, Eomma akan selalu membela Sehan apapun yang terjadi"
"Hm, Sehan percaya dengan Eomma"
"Bagus, ayo kita bawa Bram untuk makan malam bersama"
Luhan dan Sehan memasuki kamar Bram dan menemukan Bram sedang menangis lucu diatas tempat tidur.
"Hiks.. Hyung..." Bram menangis dan memanggil Hyungnya karena sedari tadi dirinya mendengar kalau Hyungnya menangis
"Shh.. Bram jangan menangis ne. Hyung disini" Sehan memeluk adiknya Bram yang sedang terisak lucu
"Hm" Bram menghapus air matanya dengan cepat karena tidak mau membuat Hyungnya merasa kecewa padanya
"Adik Hyung sangat tampan" Sehan gemas dengan adiknya yang tampan dan imut disaat bersamaan
"Hyung juga tampan"
"Sudah, ayo makan" Luhan membawa Bram kedalam gendongannya dan Sehan memegang tangannya yang bebas
Sesampainya dimeja makan, Luhan tidak menemukan keberadaan Sehun namun dirinya tidak terlalu memikirkan kondisi suaminya karena suaminya saja tidak memikirkannya dan hanya memikirkan gengsi yang selalu dianut keluarga Oh.
"Appa tidak makan Eomma?" Bram bertanya dengan polosnya pada Eomma sedangkan Sehan menegang ditempat karena dirinya masih takut dengan Appanya
"Kita makan bertiga saja"
Luhan bingung untuk menjelaskan apa pada putra bungsunya dan lebih baik mereka makan duluan saja daripada menunggu Sehun yang tidak tahu kemana.
Selesai makan malam, Luhan memilih untuk membawa Bram tidur bersama dikamar Sehan yang cukup luas untuk bertiga.
"Kita tidur bersama Eomma?" Bram bertanya karena selama ini mereka jarang tidur bersama
"Ne" Luhan tidak bisa meninggalkan Bram sendirian sedangkan dirinya ingin bersama Sehan karena takut Sehun membunuh anaknya karena terlalu geram
"Cha, ayo tidur"
..
..
..
Hari ini merupakan hari ulang tahun Kris sehingga semuanya diundang direstoran mahal yang dikelola oleh istrinya. Sehun merupakan adik kandung Kris juga diundang dalam acara tersebut dan membawa keluarganya untuk acara tersebut.
"Ayo cepat" Sehun menyuruh cepat namun dirinya tidak menegur sapa istrinya maupun anaknya Sehan
"Hm" Luhan dan berdehem dan membawa Sehan untuk langsung memasuki mobil karena acara tersebut akan segera dimulai
Selama perjalanan menuju restoran yang sudah disepakati, Luhan dan Sehan lebih banyak diam namun hanya Bram yang sibuk menyanyi lagu – lagu yang diputar Appanya diplaylist mobil.
Sehun fokus pada handphonenya karena ada beberapa urusan penting dan tidak terlalu fokus menyetir dengan baik dijalan raya.
"SEHUN, ADA MOBIL DIDEPAN"
Luhan berteriak panik karena ada mobil tepat didepan mereka sedangkan Sehun langsung mengalihkan pandangannya dari handphone kearah depan untuk melihat mobil yang dikatakn Luhan. Dirinya cukup terkejut karena mobil tersebut menuju arah mereka dengan sangat cepat dan Sehun mengambil tindakan membanting stir kearah kanan dan menabrak pohon besar didepan mereka
BRAK
Semuanya pingsan karena tabrakan yang terjadi tersebut, para warga sibuk membantu untuk mengeluarkan semua korban namun cuma Sehan yang masih bisa bangun dan tidak terluka.
"Hiks Eomma" Sehan menangis ketika melihat Eommanya pingsan dengan lumuran darah
"Bawa kerumah sakit, dek ayo ikut" seorang warga mengajak Sehan untuk ikut dengan mobil yang mengantar orang tuanya dan adiknya kerumah sakit
Selama diperjalanan dirinya banyakan menangis karena kondisi Eomma dan adik kesayangannya yang masih belum sadar namun untuk Appanya dia tidak terlalu mempedulikan tentang Appanya.
"DOK.. TOLONG BANTU SAYA SELAMATKAN EOMMA DAN ADIK SAYA"
Sehan memohon kepada dokter setelah sampai dirumah sakit untuk menyelamatkan dua orang yang sangat disayanginya didunia ini.
"Baik Dek. Kami mohon tunggu dan berdoa lahh" sang dokter menutup pintu dan memulai pemeriksaan pada pasiennya
"Apakah ada keluarga yang bisa dihubungi nak?" seorang warga bernama Lay bertanya pada Sehan yang masih menangis
"Ada" Sehan mengambil ponselnya dan menelepon Kris samchon
"Hallo, Samchon Hiks..." Sehan menelepon Kris sambil menangis
"Ada apa nak?" Kris menjawab dengan lembut dan cukup terkejut karena Sehan menangis disebrang sana
"Samchon.. Appa, Eomma, dan Bram mengalami pingsan Hiks..."
"Jelaskan dengan pelan – pelan nak" Kris juga panik mendengar kata pingsan
"Tadi mobil Appa menabrak pohon sehingga semuanya terluka dan pingsan Samchon Hiks..."
"Ok OK. Kalian ada dimana sekarang" Kris sagat terkejut dengan kondisi keluarga adiknya\
"Seoul Hospital Samchon"
"Baiklah kami akan kesana"
Kris mematikan teleponnya dan menyuruh semuanya untuk berkunjung kerumah sakit karena keluarga mereka terluka parah.
CLECK
"Apakah ada keluarga pasien disini" sang dokter bertanya pada pria bernama Lay
"Saya Dok Hiks... Bagaimana keadaan Eomma dan adik saya Dok" Sehan tidak ada hentinya menangis karena masih khawatir dengan keadaan Eomma dan Adiknya
"Eomma dan Appa anda selamat dan hanya pingsan, namun adik anda mengalami buta"
Sehan terkejut bagaikan disambar petir ketika mendengar bahwa adiknya mengalami buta dan tidak bisa melihat lagi.
"Apa Dok?" Sehan ingin mencoba mengulangi perkataan sang dokter yang mungkin salah didengarnya
"Maaf untuk mengatakannya namun adik anda mengalami kebutaan" sang dokter merasa prihatin dengan keadaan anak tersebut
"Hiks... Dokter.. apakah tidak ada cara untuk menolong adik saya" Sehan ingin sekali menolong adiknya yang buta
"Ada, namun sampai saat ini belum ada pendonor yang cocok dengan mata adik anda" sang dokter menyamakan tingginya dengan anak tersebut dan mengusak rambutnya
"Hiks.. Dok... Saya ingin memberikan mata saya kepada adik saya Hiks..." Sehan rela menukar apapun untuk adiknya Bram yang tercinta
"Kenapa dek, kamu masih terlalu muda untuk merelakan mata kamu untuk orang lain" sang dokter tidak menyangka jika ada malaikat sebaik anak tersebut yang rela memberikan barang yang paling berharga
"Karena saya menyayangi adik saya dok. Saya mohon Hiks..." Sehan memohon kepada dokter untuk mengabulkan permintaannya
"Baiklah, tetapi saya harus mengeceknya terlebih dahuku"
"Hm, tapi jika cocok maka saya memohon satu hal kepada dokter"
"Apa?"
"Mohon jangan beritahu kalau Sehan yang mendonorkan mata Sehan Hiks..."
"Baiklah"
Sang dokter tidak bisa memberitahukan tentang pendonor karena atas permintaan sang pendonor bahwa dia tidak mau diberitahukan pada orang lain.
..
..
..
"Nghh..." Luhan terbangun dari tidurnya dan terkejut karena melihat desain ruangan yang serba putih
Luhan terbangun dari tidurnya dan melihat sekeliling untuk mencari tahu dirinya sedang berada dimana saat ini.
CLECK
"Luhan~" Tao berteriak dan mendekati Luhan yang hendak turun dari ranjang
"Tao, aku ada dimana" Luhan masih belum bisa mengetahui dirinya sedang berada dimana karena kepalanya sangat sakit
"Kau sedang ada dirumah sakit karena kalian satu keluarga mengalami kecelakaan"
Tao menjelaskan dengan sabar sedangkan Luhan melebarkan matanya karena ingin tahu kondisi anak – anaknya bagaimana.
"SEHAN~ BRAM~" Luhan turun dari ranjang terburu – buru dan Tao hanya bisa mengikuti langkah Luhan dengan sangat hati – hati
Luhan sibuk melihat sekitar namun ketika melihat seorang perawat yang berjalan kearahnya membuat hatinya ingin bertanya langsung pada perawat tersebut.
"Suster.." Luhan memanggilnya dengan nada lemah karena suarnya sangat kering
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" sang suster bertanya pada pasien yang mungkin sedang butuh bantuan
"Saya ingin bertanya, anak saya yang bernama Bram ada dimana?" Luhan bertanya dengan panik sedangkan sang suster mencoba untuk mengingat pasien yang bernama Bram
"Ah... Tadi baru saja dipindahkan keruangan disebelah anda" sang suster memberitahu letak anak pasien tersebut
"Lalu anak saya Sehan sus?" Luhan sangat khawatir dengan Sehan karena sedari tadi hatinya tidak tenang dengan kondisi anaknya
"Sehan? Setahu saya pasien yang disini cuma bernama Sehun saja dan yang bernama Sehan tidak ada" sang suster mengecek nama pasien yang masuk tadi malam dan memang tidak menemukan pasien yang bernama Sehan
"Sehun adalah suami saya sedangkan Sehan adalah anak pertama saya" Luhan panik ketika sang suster mengatakan bahwa anaknya Sehan tidak ada dirumah sakit
Sang suster mengecek ulang nama – nama pasien yang baru masuk rumah sakit namun tetap saja yang bernama Sehan tidak tertera didatanya.
"Maaf Nyonya, yang bernama Sehan memng tidak ada dilist rumah sakit kami" snag suster sang kasihan karena pasiennya mulai menangis
"Hiks... Baiklah terima kasih" Luhan pamit dan langsung menuju ruangan anaknya dengfan bantuan Tao yang baru saja datang
CLECK
"Luhan" Sehun bangun dari tidurnya ketika istrinya membuka pintu ruangannya
"Hun, Bram mana" Luhan bertanya panik sambil menangis
"Dia ada disana" Sehun membuka tirai yang menutupi Bram dan membuat Luhan lega
"Sehan satu ruangan denganmu kan?" Sehun bertanya pada istrinya karena dirinya juga khawatir dengan kondisi keluarganya atas kelalaiannya
Luhan menggeleng dan membuat Sehun mengerutkan dahinya tanda tidak mengerti dengan apa yang dikatakan istrinya melalui kode.
"Apa maksudmu dengan gelengan kepala?"
"Hiks.. Aku sudah bertanya pada suster. Hiks... katanya pasien tidak ada yang bernama Sehna. Sehun bagaimana ini Hiks..." Luhan tetap lah wanita lemah jika didepan suaminya dan menangis sambil berlutut
"APA?" Sehun berteriak tanpa sadar karena cukup terkejut dengan perkataan istrinya
"Kau jangan berteriak, istrimu sedang depresi karena anaknya tidak ada dirumah sakit" Tao memarahi adik iparnya yang sedang kambuh gilanya
"Hiks..." Luhan hanya bisa menangis dengan kehilangan anaknya yang entah kemana
Sehun mendekati istrinya dan memeluknya untuk memberikan ketenangan sedangkan Luhan yang sedang rapuh tidak bisa menolakl ataupun berteriak. Sehun mengambil handphonennya dan menelepon seseorang
"Hallo, tolong kalian carikan anakku Sehan secepatnya" Sehun memang tidak menyukai Sehan anaknya yang bodoh dan lemot namun istrinya adalah salah satu kelemahannya
Sehun membanting handphonenya dengan kasar diatas kasur karena tidak tahan melihat tangisan istrinya dan tanpa sadar suara mereka membangunkan seseorang.
"Eomma~"
"Nak" Luhan bangun dari posisinya dan memeluk anaknya yang mengalami kecelakaan juga bersamanya
"Eomma~ Hiks..." Bram menangis dan membuat Luhan terkejut karena anak bungsunya sangat jarang mau menangis
"Kenapa menangis nak?" Luhan bertanya sambil menghapus air mata anaknya
"Bram tidak bisa melihat Eomma"
Perkataan Bram bagaikan petir karena terkejut dengan pengakuan sang anak sedangkan Tao sudah berlari keluar untuk memanggil dokter dan menjelaskan semuanya secara detail saat ini juga.
"Bram.. Hiks..." Sehun dan Luhan menitikan air mata karena tidak menyangka akan kejadian tersebut menimpa keluarganya dengan sangat berat
"Maaf, ada yang bisa saya bantu" sang dokter masuk dan menginterupsi kegiatan keluarga tersebut
"Dok, kenapa anak saya tidak bisa melihat Hiks..." Luhan bertanya dengan susah payah karena perasaannya sedang hancur untuk saat ini
"Maaf untuk mengatakannya namun ini lah yang terjadi pada keluarga anda. Adik kecil tersebut mengalami kebutaan atas kejadian yang menimpa anda sekeluarga namun kami sudah memiliki pendonor mata yang cocok dengan adik tersebut"
"Lalu apakah ada pasien yang bernama Sehan dok?" Luhan berharap bahwa suster tadi salah mengatakan bahwa anaknya tidak ada dirumah sakit namun sang dokter agak lama diam untuk menetralisir suaranya yang takut grogi
"Sehan tidak ada dibawa kerumah sakit"
"Hiks... Sehan..." Luhan merasa dunianya hancur saat itu juga ketika kedua anaknya mengalami musibah besar
"Hyung~... Hiks..." Bram juga menangis ketika tahu bahwa Hyungnya tidak berada bersama mereka
"Saya permisi dulu" sang dokter tidak bisa berlama – lama karena dia memiliki banyak pasien untuk diurus
"Eomma~... Hiks" Bram menangis sambil memanggil Eommanya sedangkan Luhan memeluk anak bungsunya karena tahu bahwa anaknya juga merindukan Hyungnya
"Sudah lah nak" Luhan mencoba tegar dan berharap bahwa orang suruhan Sehun bisa menemukan anaknya secepat mungkin
Seorang suster masuk kedalam ruangan tersebut dan tersenyum lembut pada Bram yang sama sekali tidak bisa melihat. "Adik kecil silahkan siap – siap karena sebentar lagi akan dioperasi"
"Baiklah" Luhan menjawab karena anaknya masih menangis merindukan Hyungnya
Sehun menjambak rambutnya menyesal karena lebih mementingkan pekerjaan sambil mengemudi dan mengakibatkan dampak besar bagi keluarga tercintanya. Sehan hilang entah kemana, Bram mengalami kebutaan, dan terakhir orang yang selalu dipujanya mengalami depresi berat karena bencana yang menimpa anak – anaknya.
"Ayo" sang suster dan Luhan menuntun Bram untuk masuk kedalam ruangan operasi
"Eomma~ Hiks.. Bram takut"
"Bram harus bisa, karena jika Bram berani maka Bram akan bisa melihat seperti sebelumnya" Luhan memberikan kata – kata semangat pada anaknya yang takut untuk dioperasi
"Hm Eomma" Bram memiliki keberanian karena kekuatan dari Eommanya dan dirinya sudah memasuki ruangan operasi sedangkan Luhan dan Sehun berdoa kepada Tuhan agar proses operasi anaknya berjalan lancar
Satu jam kemudian sang dokter keluar dari ruangan operasi dan membuat Luhan terburu – buru untuk mengejar sang dokter.
"Bagaimana Dok?" Luhan bertanya karena ingin tahu kondisi anaknya
"Operasinya berjalan lancar"
"Terima kasih Dok"
Luhan dan Sehun senang karena operasi yang dijalani anaknya sukses besar namun sang dokter memberikan kata – kata yang kasar kepada mereka yang sudah berharap besar.
"Semuanya tergantung pada pasien apakah bisa menerimanya dengan baik atau tidak"
Sang dokter meninggalkan kedua orang yang sudah banyak berharap atas lancarnya operasi tersebut, sang dokter yang mengenal Sehan beberapa jam lalu merasa kecewa dengan orang tuanya yang tidak mencari keberadaan anak sulungnya.
"Berdoa saja Lu" Sehun memberikan kata – kata semangat pada istrinya yang rasa senangnya sudah muali luntur
"Hm" Luhan mengganguk saja
Setelah satu jam berlalu, Bram dipindahkan keruangan rawat untuk membuka kain yang menutup matanya. Sang dokter membukanya dengan perlahan – lahan.
"Silahkan buka matanya, perlahan – lahan saja" sang dokter menyuruh Bram untuk membuka matanya secara perlahan – lahan
Bram membuka kedua matanya secara perlahan – lahan dan melihat kesekitar untuk mencoba mata barunya.
"Eomma Appa" Bram menyapa kedua orang tuanya ketika dirinya sudah bisa melihat dengan jelas
"Sudah bisa melihat nak?" Luhan panik takut anaknya masih belum bisa melihat
"Sudah Eomma, sangat jelas" Bram senang karena dirinya bisa melihat kembali
"Bagus lah, tolong dijaga dengan baik dan tidak boleh terkena cahaya terlalu banya"
"Terima kasih dok"
Luhan senang karena satu masalah sudah selesai dengan sempurna dan tinggal mencari anak sulungnya yang hingga saat ini tidak tahu entah kemana.
~TBC~
