Part 2

.

.

.

Hari minggu Kris habiskan waktu dengan tiduran di sofa setelah menghabiskan jajangmyeon yang dipesannya tadi pagi. Sekarang pukul 2 siang. Sebelum menuju tidur tenangnya, ia berinisiatif mendengarkan lagu yang kemarin Chanyeol -teman kerjanya- sarankan. Katanya lagu keren keluaran terbaru dari boyband ngetren Korea Selatan yang dirilis dalam bahasa Jepang.

Kris mengeluarkan smartphone dari saku celananya agak kesusahan karena posisinya saat ini sedang tengkurap di atas sofa. Perlahan musik asing mengalun ke telinga, memenuhi ruang apartemen dan membuatnya merasa sedikit nyaman. Lagu rekomendasi Chanyeol memang tidak mengecewakannya mengingat mereka memiliki selera musik yang tak jauh berbeda.

Bounce bounce abareteru Heart

hibana tobichireba Boom

It's gonna be electric

shibireru shigeki de Down

It's gonna be electric

Ooh baby, baby mada furenai te

saiaku na kisu ga shitainda

sou nokoridasu made

kono mama jirashite ii kai

So electric, so electric yeah

tareta tareta dare ga dare no nani wa ni

ireba baka ga baka ni haba wo kikaseteru

Baby, baby what it is yeah

Baby, baby what it is

Oh baby, baby what it is

(Yeah)

TING TUNG TING

Sejenak Kris mendengar suara bel apartemennya ditekan -entah oleh siapa- yang membuatnya menutup telinga dengan bantal. Kris tidak menerima tamu di hari libur. Bukannya berhenti, suara bel apartemennya makin brutal setelah dia abaikan beberapa menit.

Mendengus kesal, Kris pun berjalan geram ke arah pintu. Tanpa mengecek sang tamu dari intercom, pintu dibuka kasar. "BRENGSEK INI HARI MING-umfhhh-" makian Kris tertahan oleh ciuman panas di siang itu.

Seorang pemuda yang lebih pendek darinya memeluk pinggang Kris amat erat. Ada gemetar di sana. Kris memutuskan mundur seraya menutup pintu apartemennya sebelum tetangga melihat perbuatan mereka.

Lay -nama pemuda itu- melenguh beberapa kali setelah Kris menekan tubuh pemuda itu diantara pintu masuk dan tubuhnya, melumat dan menggigit lidahnya. Saliva menetes dari sudut bibir bersama air dari pelupuk matanya. Kris hanya diam ketika melihat wajah Lay dipenuhi luapan emosi dan rasa putus asa. Di saat seperti ini hanya 1 hal yang dapat Kris pikirkan.

Sex.

Brukkk

Tak butuh waktu lama baginya untuk mengangkat dan membanting tubuh kurus Lay ke atas sofa serta melucuti celana pemuda itu. Kini ganti Kris yang melepas celananya. Lay masih terisak di atas sofa seraya menutup kedua matanya dengan punggung tangan.

Kris merasa kurang nyaman karena Lay tidak bersikap nakal seperti biasa. Kali ini pemuda itu tampak rapuh dan menyedihkan. Namun di sisi lain itulah yang membuat nafsu Kris bertambah.

Digesekkannya ujung penis yang sudah basah ke pintu lubang Lay yang terasa kering. Dengan beberapa tusukan ringan di awal, benda berurat itu akhirnya melesak masuk. Menghantam titik ternikmat Lay yang merespon dengan erangan bercampur lenguhan serak khas orang menangis. Tubuh pemuda itu mengejang sejenak dengan dada membusung dan kedua puting tercetak di kemeja putihnya.

Kris menghentak kejantanannya beberapa kali sampai gemetar di tubuh Lay menghilang. Suara tangisan pemuda itu berubah desahan karena permainan Kris yang agak keras. Kancing kemeja Lay sudah lepas, Kris mencumbui kedua putingnya bergantian. Menghisap kadang menggigitinya meski ia tahu air susu tak akan keluar dari sana.

"D...dia melupakan hari jadi kami... Dia bilang sedang makan siang bersama dosennya."

Suara serak Lay tak membuat Kris berhenti dari kegiatannya mencumbui tubuh pemuda itu. "Kadang aku takut... Dia akan meninggalkanku... Meninggalkanku dan pergi bersama pria lain... Ahh..."

Kris tidak memberikan jeda hentakan di anal si pemuda. Dia memang sudah tidak memainkan nipple Lay. Dia tampak memandangi wajah pemuda itu yang sembab. Dikecupnya kening Lay, lalu membalik tubuh itu saat air mata akan tumpah lagi dari kedua maniknya.

Lay terpaksa menungging di atas sofa, Kris mencengkeram kedua pinggangnya. Membiarkan pantat pemuda itu menghantam pinggulnya sampai suara plop plop terdengar nyaring, mengalahkan suara mp3 player smartphonenya.

Ai wo dandan noboritsumetai

Chikazuku kuchibiru ga

It's gonna be electric

Furenai girigiri de

It's gonna be electric

Ooh baby, baby me wo tojinaide

Bounce bounce abareteru Heart

Hibana tobichireba Bang

It's gonna be electric

Shibireru shigeki de Down

It's gonna be electric

Ooh baby, baby mada furenaide

Lay mendesah panjang ketika mencapai klimaks pertamanya, begitu pula Kris. Dia segera mencabut penisnya hingga lelehan sperma meluber turun melewati paha putih Lay yang dipenuhi garis merah bekas sabetannya kemarin.

Kini Kris sudah memakai celananya. Dia duduk di sofa satunya sambil melihat Lay memungut celana. "Sekarang apa yang akan kau lakukan?"

"Aku tidak tahu."

Kris mengangguk. Ia bangkit, meraih dagu Lay dan mengecup bibir penuh pemuda itu singkat. Tak lama kemudian terdengar suara panggilan dari smartphonenya. Kris mengangkatnya, sementara Lay merapikan diri. Itu dari kekasih Kris. Tampaknya hubungan mereka baik-baik saja. Pacar Kris memberitahunya kalau dia akan mengirimkan cokelat saat valentine beberapa minggu lagi.

Diam. Lay merasa iri dengan hubungan mereka. Tiba-tiba Kris mencium lehernya yang sensitif. Lay melihat jika sambungan telepon masih terhubung. Dia berusaha agar tidak membuat suara aneh meskipun kini Kris malah usil membuat mark di lehernya. Saat Kris menggigit agak keras, Lay mengerang secara reflek. Membuat suara wanita dari seberang terheran.

"Wufan? Suara apa yang barusan?" Tanya wanita itu dengan suara meninggi. Kris diam, wajahnya datar. Dia justru memandangi Lay yang memasang ekspresi khawatir seraya meremas kaos Kris takut.

Ingin rasanya Kris tertawa. "Tidak apa-apa, baby. Hanya suara video."

"Aish, kau ini. Jangan-jangan mengangkat telpon sambil 'bermain'?" Tanya wanita itu setengah bergurau.

"Apa aku tidak boleh 'bermain' selama kau tidak ada?"

"Aniya, kau tentu saja boleh melakukannya saat aku tidak ada dan saat aku kembali, aku yang akan 'memainkanmu'."

Kris terkekeh kalem mendengar suara speaker dari smartphone. Lay menatapnya dengan wajah yang sulit diartikan. Dia terkejut dengan jawaban pacar Kris, meskipun tahu kata 'bermain' yang mereka gunakan berbeda makna. Namun sikap 'biasa' Kris yang membuatnya kagum. Bak aktor, ia bisa membuat situasi rumit tadi menjadi 'biasa'. Tanpa rasa gugup maupun dibuat-buat. Lay merasa lega, tatapi juga takut di saat yang bersamaan. Ia takut jika Kris akan melakukan hal yang sama padanya.

Akhirnya telepon selesai. Lay segera bangkit. "Maaf, aku ingin pulang."

Kris menahan lengan pemuda itu, membuat Lay diam. "Kau harus segera memutuskan kelanjutan hubunganmu, Lay." Lay tak bergeming. "Aku tak ingin kau menyiksa dirimu sendiri..." Lay tetap diam.

Kris melepas genggamannya dan Lay pun berjalan menuju pintu keluar tanpa suara.

Klek

Pintu tertutup. Kris diam seorang diri. Dia menyalakan lagi mp3 playernya. Menghela napas kasar. "...karena itu juga membuatku tersiksa, Lay." lanjutnya.

Karada wa koko ni ite

Kokoro wa koko ni inai

Come on, tell me where you at

(Tell me, tell me where you at)

Why don't you tell me where you at

(Come on, tell me where you at, at)

Forty seconds no ma ni

Shiranai kimi ni naru

Come on, tell me where you at

(Tell me, tell me where you at)

Why don't you tell me where you at

(Come on, tell me where you at, at)

.