Chapter 2

Cinta Tak Pernah Sama

Sehun – Luhan

Yaoi

Hasil Remake dari Novel 'Cinta Tak Pernah Sama' karya Dista Dee. Jadi ide cerita ini sepenuhnya milik Dista Dee, aku hanya sedikit mengubah nama tokoh, beberapa kalimat, dan juga aku ubah cerita ini menjadi yaoi.

Luhan bersama teman-teman grupnya sedang berada di LA saat itu, menerima kabar dari Lee Boyoung, salah satu manajer mereka, begitu sampai di hotel setelah tampil dalam sebuah event fashion runway yang diadakan oleh Jeremy Scott di Universal Studios. Para pria itu sudah mulai curiga sejak kedua manajer mereka bersikap tidak seperti biasanya dan gelisah sepanjang makan siang, tidak ada yang mereka katakan ketika Xiumin dan Luhan menanyakan apa yang salah dari keanehan ini, keduanya sengaja menunggu waktu yang tepat setelah adik-adik mereka selesai menyelesaikan tugasnya dan baru mendudukkan mereka begitu semua selesai mandi dan berkumpul di kamar hotel Xiumin.

Setelah memberitahu ke lima anggota grup kesayangannya untuk tidak terkejut ketika melihat apa yang akan ditunjukkannya, Hyuna memutarkan kembali satu segmen video yang diunduhnya dari internet, memperlihatkan saat-saat ketika Sehun bercerita sebuah kisah tentang pertemuan pertama mereka saat di New York tahun 2012 lalu , hingga saat ketika Sehun pertama kali mengakui bahwa pria itu menyukainya.

"Sehun benar-benar mengatakannya padamu? Kenapa kau tidak pernah cerita?" Tanya Xiumin yang terlihat sangat terkejut setelah menontonnya sementara Luhan hanya menggeleng tanpa menjawab pertanyaan itu.

"Apa kata Sajangnim soal ini?" Tanya Luhan kemudian pada manajernya dengan nada sedikit cemas, seraya menekuk kakinya naik ke atas bed duduk disamping Chen kembali mengulang menonton video yang sebelumnya diperlihatkan padanya. Sajangnim yang Luhan maksud adalah Bang Yongguk, CEO Apple Ent. –agensi tempat Luhan dan ke empat temannya bernaung. Dalam keadaan seperti ini hanya orang itulah yang ada di dalam kepala Luhan, pria itu pasti jelas tidak akan menyukai tayangan ini, ia benci skandal.

"Sebelum aku memberitahumu, dia hanya ingin tahu apakah kau tahu tentang ini, bahwa Oh Sehun akan melakukannya di TV nasional,"

Luhan menjawab pertanyaan itu dengan tatapan yang kosong ke udara, ragu menjawabnya. Dia memang tidak pernah menduga Sehun akan bersikap sejauh itu hanya untuk menarik perhatiannya, tapi dia juga merasa harus bertindak lebih hati-hati dalam menjawab setiap pertanyaan yang terkait akan hal ini supaya tidak menyakiti pria itu. Hal buruk bisa saja terjadi bila dia ceroboh mengatakan sesuatu.

"Luhan, apa Oh Sehun pernah memberitahumu sebelumnya bahwa dia akan mengatakannya di televisi?" Chen yang kali ini bicara, mengulangi pertanyaan manajer mereka dengan serius, yang kemudian Luhan jawab dengan gelengan kepala lemah,

"Aku.. dia tidak pernah mengatakan apapun padaku. Apa ini akan menjadi masalah yang besar?"

Hyuna –salah satu manajer mereka- mendesah pelan lalu mengangkat bahunya, "Entahlah, meski ini bukan pertama kalinya seorang idol menyatakan perasaannya pada seseorang di TV nasional, kasusnya sedikit berbeda karena yang melakukannya adalah anggota boyband papan atas semacam Oh Sehun, mereka boyband yang terlalu besar, .. bila aku boleh bilang ini sama saja seperti sebuah deklarasi perang terhadap sasaeng dan antifans , netizen sudah mulai banyak yang membicarakannya tapi aku belum sempat mengecek lagi bagaimana perkembangannya.." ujarnya dengan nada datar tapi sarat dengan simpati.

Lee Boyoung, wanita bertubuh besar yang telah mengurusi kelima pria itu sejak debut, mendapatkan dirinya di tengah lingkaran pembicaraan , dengan memangku iPadnya dia menunjukkan senyumnya sekilas seraya menepuk punggung Luhan dan mengungkapkan berita yang dimilikinya, "Perwakilan Apple mengatakan pada media beberapa jam yang lalu bahwa kau dan Oh Sehun hanya berteman selama ini, kita tidak akan berkomentar apapun tentang cerita yang dia katakan di televisi. Yongguk sajangnim akan bertemu dengan CEO mereka besok untuk membicarakan hal ini, tapi dia meminta kalian untuk tidak terlalu memikirkannya." Ujarnya dengan jelas, yang dijawab Luhan dengan anggukan kepala mengerti sebelum kemudian membahas jadwal mereka selanjutnya, "Kalian akan melakukan pemotretan untuk Vogue besok lusa, Xiumin, Chen, Luhan kalian akan terbang ke New York, Karl Lagerfeld akan memotret kalian bersama Channel. Lalu Tao dan Lay, Steven Klein yang akan memotret kalian disini, lalu malamnya kita kembali ke Seoul."

"Dan Luhan, maafkan aku, tapi aku harus menahanmu tetap di States sementara ini. sajangnim berpikir akan lebih baik bila kau tidak sering berada di Korea dulu sementara dia menyelesaikan kericuhan media dan netizen, setidaknya hingga pertengahan bulan depan.."

"Pertengahan bulan depan? Itu berarti Luhan tidak akan bergabung dengan Apple Entertainment untuk rekaman Speak Out?" Tanya Chen terkejut mendengar satu berita mengejutkan lainnya dari sang manajer, sementara Luhan hanya menghela nafas pelan tanpa mengatakan apapun.

"Kalau Luhan tampil di Speak Out, mereka pasti akan melakukan segalanya agar bisa membahas topik ini walaupun Yongguk sajangnim tidak ingin satupun diantara kita membicarakannya di media manapun untuk menghentikan isu ini. Selain di panggung musik, Luhan akan melakukan kegiatan yang terpisah dengan kalian, mereka akan mencari alasan ketidak hadirannya saat syuting nanti,"

"Alasan seperti apa contohnya?" ujar Lay yang kini ganti bertanya mengekspresikan rasa penasaran semua kepala yang berada di dalam kamar, sementara manajernya mengangkat kedua alisnya terlihat tidak yakin,

"Perpanjangan visa, kau harus mengurus perpanjangan visamu tahun ini kan? Atau… mungkin alasan kesehatan, yang pasti ketika kalian syuting. Luhan tidak berada di Korea saat itu. Kau bisa tinggal di New York, atau LA, kami akan mengurus hotelmu.. Lalu minggu depan kau bergabung kembali dengan kami di Tokyo mempersiapkan single album kalian."

Sudah diputuskan. Begitu mereka mendengar kedua manajer menjelaskan situasi yang sedang mereka hadapi saat itu, tentang segala hiruk pikuk kericuhan yang tengah menyerang sisi keheningan mereka, kelima pria itu mengerti tidak ada yang bisa mereka lakukan selain mematuhi apa yang CEO mereka katakan. Kedua manajer beserta Tao, Lay keluar meninggalkan keheningan dikamar itu. Sementara Chen turun dari tempat tidur dan duduk di kursi terdekat tanpa berkata apapun, hanya menatap pemandangan didepannya dalam diam.

"Tenanglah Luhan… aku akan menyelamatkanmu," katanya kemudian, yang dilontarkannya sebagai kalimat terakhir sebelum Boyoung kembali masuk ke dalam kamar dan meminta mereka kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Mereka masih memiliki segudang tanggungjawab yang harus dilakukan.

Luhan menekan tombol 'stop' dan mematikan video yang sedang ditontonnya sejak dua jam sebelumnya , malam itu dia tidak bisa tidur dan memutuskan untuk duduk didepan laptop menonton semua video musik boybandnya sejak pertama kali debut dan juga penampilan panggung mereka di internet. Sepertinya baru lima jam sejak para anggotanya kembali ke Seoul, meninggalkannya sendiri di kamar hotel yang entah kenapa semakin lama terasa semakin sempit tiap kali Luhan mengedipkan matanya, dan tiba-tiba saja dia sudah merasa sangat merindukan mereka.

Selama hampir tiga tahun ini Luhan terbiasa mendengar suara ke empat pria itu beserta kedua manajernya, bercanda bersama mereka dan membuat keributan. Mereka saling mendukung dalam tiap kegiatan, dan saling menghibur dalam keadaan terberat pun. Di saat seperti ini, Luhan sebenarnya sangat ingin berada di antara mereka , setidaknya hanya dengan kehadiran para anggotanya suasana hatinya terasa jauh lebih tenang dan menyenangkan. Walaupun tidak asing lagi dengan kota Los Angeles, dimana sebenarnya dia bisa saja keluar dan berjalan-jalan untuk menghilangkan penatnya, kesendirian tetap saja tidak pernah membuatnya nyaman.

Nafasnnya terbuang cepat dan kembali mencelos saat melihat pesan masuk di mini hompage yang dibiarkan terbuka sejak tersambung di internet beberapa jam yang lalu. Mengawasi ratusan komentar yang bermunculan secara otomatis di timelinenya hanya dalam 10 menit, matanya basah membaca sumpah serapah dari orang-orang yang tidak pernah dia kenal memakinya seolah dia makhluk yang tidak pantas hidup di dunia ini.. Chen dan kedua manajernya sudah mewanti-wantinya untuk tidak mengakses segala macam akun jejaring sosialnya sementara ini, tapi Luhan tidak bisa menghentikan dirinya melawan rasa penasaran meski itu sangat menyakitinya. Menutup jendela browsernya, Luhan kemudian mengklik aplikasi Skype di sudut homescreennya, menatap daftar contactnya hanya untuk menemukan nama Oh Sehun terlihat menyala yang menunjukkan bahwa pria bermata elang itu juga sedang online.

Luhan menatap nama itu lekat-lekat. mengklik namanya dua kali membuka jendela profilnya kemudian kembali menatap foto yang terpasang disana beberapa saat. Rasa kecewa menandak memuncak begitu saja di dalam hatinya bila mengingat lagi rangkaian event yang mereka lalui bersama, sebuah pertemuan, obrolan tatapan dalam keheningan, sebuah kenangan.. dia sangat kecewa menemukan bahwa dirinya merasa terkhianati dengan sikap yang Sehun ambil dalam usahanya 'memperbaiki' hubungan mereka berdua.

Tadinya Luhan berpikir, meski mereka tidak pernah membuat kesepakatan secara verbal, cerita tentang pertemuan mereka di Central Park dalam perjalanan solo pertama Sehun di Manhattan akan selalu menjadi sebuah rahasia yang menjadi tanda adanya ikatan tanpa kata yang mereka berdua miliki. Selama bertahun-tahun Luhan menyimpan cerita itu dalam kenangannya, hanya membiarkan satu orang kepercayaannya mendengar kisah ini dan tidak pernah lagi membahasnya dengan siapa pun. Dia bahkan tidak pernah memberitahu Chen, seorang sahabat dan teman bicaranya, tentang ini. Kenyataan bahwa Sehun tiba-tiba saja membongkar semua itu di depan seluruh pemirsa di dunia tanpa pernah mendiskusikannya terlebih dulu ini membuatnya kesal, sangat kesal sehingga rasanya ingin menangis.

Masih menatap foto yang sama setelah beberapa menit, Luhan tersentak ketika tiba-tiba sebuah jendela lain muncul memperlihatkan pemberitahuan ada yang menghubunginya melalui Skype atau layanan mengobrol online telah biasa mereka lakukan bila terpisahkan dalam jarak dan waktu yang panjang, dulu mereka biasa mengobrol dengan santai saling menanyakan kabar atau bercerita kesibukan masing-masing hingga semuanya berhenti begitu saja.

Membiarkan panggilan itu terus menyala tanpa berniat menjawabnya, Luhan menyalakan ponselnya yang tidak aktif sejak pagi ini, menemukan begitu banyak panggilan tak terjawab, pesan suara, dan juga pesan-pesan yang kebanyakan berasal dari nomor asing. Dia tidak bisa mempercayai orang-orang itu menemukan nomor yang hanya dia pakai ketika sedang berada di Amerika, mengirimkan pesan dengan nada mengancam dan lebih banyak kecaman penuh dengan kebencian karena seseorang yang sama. Jendela profile pria yang ditatapnya tadi menunjukkan sebuah pesan sebelum kembali menelepon lagi beberapa detik kemudian.

Jawablah panggilanku, aku tahu kau ada di sana.

Luhan memutuskan untuk mengacuhkannya. Dengan mata yang basah dia menekan deretan nomor dari ponselnya, menunggu beberapa saat sebelum di seberang sana seseorang menjawab.

"Hi, sweetheart, tumben kau menelpon pagi-pagi begini… Ada apa? Kau baik-baik saja?"

TBC

Heeya~ aku tahu mungkin kalian sedikit merasa bosan membaca chapter yang ke 2 ini, karena aku akui di chapter dua ini dialognya tidak terlalu banyak dan chapter ini cukup singkat bila dibandingkan dengan chapter yang pertama. Tetapi terlepas dari itu chapter ini memfokuskan tentang bagaimana isi kepala Luhan –yang selama ini Sehun ingin tahu xD. Jadi jangan berpikiran bahwa Luhan jahat atau apapun itu, karna sebenarnya dia juga tersiksa dengan keadaan ini huhu. Poor Luhan~

Fyi, chapter 3 nanti mungkin bakalan lebih panjang dari chapter pertamanya '-' dan pastinya ceritanya makin seru dong :3

Taenggoo : jadi ceritanya kris sama chanyeol itu bertaruh gitu, siapa yang lebih disukai sama Luhan. Nah Luhan nyangkanya Kris sama Chanyeol suka sama dia gegara pertaruhan ini, nah kalo masalah Luhan kenapa, kalo kamu baca terus jalan ceritanya pasti bakalan ngerti ko. Kalo aku jelasin sekarang kan ga seru ya :3 ya ga? xD

NoonaLu : sudaah~ :3

Fujoshi203 : hihi kalo masalah hangulnya aku kurang tahu sih xD oke, udah dilanjut ya :3