Disclaimer

Takabayashi Tomo/Matsumoto Temari

Pair

YuuRam

Genre

Drama, Romance, Humor, Family, AU.

Rate

T

%Arrogant Prince%

Suasana pagi dikediaman keluarga Bielefeld terasa sangat tenang, para pelayan dan para pekerja lainnya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Beberapa tukang kebun merapikan sekitar rumah. Menyapu dedaunan kering, menata rerumputan, bunga dan merapikan perkebunan anggur. Seorang penjaga kebun terlihat sedang memandikan kuda putih kesayangan sang tuan muda.

Di dalam istana beberapa pelayan terlihat hilir mudik. Ada yang membersihkan istana, merapikan, memasak, menata meja makan dan beberapa pelayan lainnya sibuk membawakan baju untuk tuan mereka.

Tak ingin mengulangi kesalahannya kemarin Conrad segera berjalan menuju kamar Wolfram diikuti oleh Doria yang membawakan menu sarapan untuk Wolfram. Lalu Sangria yang juga mengikuti Conrad menuju kamar Wolfram. Tugasnya adalah menyiapkan seragam sekolah dan kamar mandi yang akan digunakan Wolfram.

Setelah mengetuk pintu beberapa kali Conrad membuka salah satu daun pintu yang tidak terkunci dan masuk diikuti oleh dua pelayannya.

Kamar Wolfram sangat luas dengan arsitektur klasic kerajaan inggris. Lampu Kristal nan megah tergantung di tengah langit-langit kamar. Terdapat satu set sofa dengan ukiran yang juga terkesan megah. Beberapa lampu hias disetiap sudut ruangan. Tanaman hijau beraroma min terdapat dikedua sisi sebuah jendela besar yang langsung terhubung pada balkon kamar yang menyuguhkan taman bunga-bunga langka milik Cheri-sama.

Dibagian kanan kamar terdapat sebuah lemari kaca besar berisi buku-buku milik sang tuan muda. Dan beberapa barang antic lainnya tersusun dengan rapih di beberapa tempat. Namun sayang sudah hampir dari setengah barang antic di kamar tersebut hancur oleh sang empunya kamar. Dan biasanya tempat kosong akan diisi kembali oleh Cheri-sama dengan barang yang tak kalah bernilainya dengan barang lama yang sudah berserakan di tempat pembuangan.

Sebuah ranjang ukuran king size dengan balutan sprei dan selimut putih berbahan sutera asli menjadi tempat beristirahat Wolfram lengkap dengan dua bantal empuk dan satu guling. Tempat tidur tersebut ditutupi oleh tirai berwarna merah maroon yang tergantung langsung ke langit-langit kamar. Dikedua sisi terdapat meja hias dan ada satu lemari besar dengan empat pintu diujung ruangan sebagai tempat pakaian. Saat turun dari tempat tidur pun sang pangeran tidak akan langsung menyentuh lantai karena tempat tidurnya berada diatas sebuah permadani tebal.

"Wolfram ayo bangun, matahari sudah mengintip dari celah jendela." Ucap Conrad, tangannya terulur untuk menyentuh surai pirang Wolfram.

"Mhh.." Gumam Wolfram dalam tidurnya. Conrad tersenyum. Remaja perparas tampan tapi juga cantik itu membuka matanya perlahan dan saat melihat sosok Conrad dia segera berpaling memunggungi.

'Dia masih marah..' Batin Conrad. "Aku membawakan sarapan, hari ini biar nii-san yang mengantarmu ke sekolah." Ucap Conrad berusaha mendapatkan hati sang adik.

"Doria cepat suruh orang asing ini pergi! Dan katakan pada Dacarcos untuk menyiapkan mobil." Perintah Wolfram tanpa menoleh. Mendengar perintah dari tuannya tentu saja membuat Doria bingung.

"Semoga harimu menyenangkan," Conrad mengecup kening Wolfram sebelum beranjak pergi. Tentu dia sudah hafal dengan sifat adiknya. kalau dipaksa malah semakin buruk, lebih baik turuti saja apa maunya nanti juga baik sendiri.

"Biar aku yang menyampaikan pada Dacarcos," Bisik Conrad saat melewati Doria. Sang pelayan membungkuk hormat.

"Maaf Wolfram-sama saya akan menyiapkan kamar mandi anda," Izin Sangria kemudian masuk ke kamar Wolfram menuju kamar mandi. Menyiapkan air hangat dan berbagai keperluan lainnya.

"Wolfram-sama silahkan sarapannya," Doria yang sejak tadi berdiri diambang pintu pun masuk ke kamar dan meletakkan sarapan Wolfram di atas meja yang juga terdapat sofa ukiran disekitarnya.

Pagi ini berlalu tanpa ada tragedy pelemparan dan sebagainya, sang tuan muda yang angkuh pun terlihat tenang. Tidak setelah dia sampai ke sekolah barunya…

"Masuk." Perintah Wolfram saat Dacarcos memberhentikan mobilnya di depan pintu gerbang.

"Ta-..tapi Wolfram-sama..Gwendal-sama bilang-"

"Masuk atau ku pecat kau!" Ancam Wolfram dengan angkuhnya. Dacarcos menelan ludah paksa, mau tak mau dia harus menuruti tuan mudanya sekarang. Supir botak itu pun mengarahkan mobilnya ke dalam gerbang sekolah. Beberapa siswi dan siswa langsung tersedot perhatiaannya saat melihat mobil mewah memasuki gerbang sekolah mereka.

"Waaah apa kita kedatangan artis terkenal?"

"Mungkin kaisar datang mengunjungi sekolah kita."

"Siapa itu ya.."

Dan bisik-bisik lainnya. Wolfram masih duduk dengan angkuh di kursi belakang menunggu Dacarcos membukakan pintu. Dacarcos segera bergegas turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Wolfram kemudian keadaan semakin riuh saat Wolfram keluar dari mobil.

"Eh itu kan anak baru dari kelas IA.."

"Ya Tuhan lebih tampan dari gossip yang beredar.."

"Wajahnya benar-benar seperti pahatan kami-sama.."

"Apa dia anak bangsawan ya? Tapi kenapa dia sekolah disini?" Dan lain sebagainya…

Seperti biasanya Wolfram tak memperdulikan orang-orang disekitarnya.

"Bawa." Wolfram melemparkan tasnya pada Dacarcos dan berjalan memasuki sekolah. Dacarcos segera mengikuti tuannya tak ingin kalau tuan muda itu kembali mengamuk. Para siswi dan siswa yang tidak terbiasa tentu saja heran melihat Wolfram yang membawa pelayannya masuk ke sekolah hanya untuk membawakan tas.

"Ada apa diluar kenapa ribut sekali?" Tanya Murata penasaran karena keadaan diluar kelasnya sangat riuh.

"Tidak tahu," Jawab Yuuri cuek dan enggan beranjak dari kursinya.

Tap

Tap

Sosok angkuh Wolfram memasuki ruang kelas dan seorang pria botak mengikutinya dari belakang.

'Dia membawa ayahnya' Batin Yuuri.

"Ohayo Wolfram-kun.." Sapa para gadis berharap Wolfram mau membalas sapaan mereka. Tapi pada kenyataannya Wolfram bahkan tak menganggap mereka ada. Sang tuan muda berjalan menuju kursinya dan berdiri tepat disamping kursi. Dacarcos masih setia mengikuti Wolfram.

"Apa yang kau tunggu!? Cepat bersihkan benda kotor ini." Perintah Wolfram pada Dacarcos.

"Ba-Baik Wolfram-sama." Dacarcos segera mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap kursi serta meja Wolfram kemudian meletakkan tasnya di meja. "Silahkan tuan.." Dacarcos mempersilahkan tuannya duduk. Keadaan kelas menjadi hening. Sekarang mereka benar-benar merasa kalau Wolfram bukanlah orang biasa.

"Pergilah dan jangan biarkan Conrad yang menjemputku."

"Baik Wolfram-sama, saya permisi." Dacarcos membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan ruang kelas tuannya.

"Ternyata bukan ayahnya. Berlebihan sekali, apa dia seorang pangeran." Yuuri speechless

"Mau kutanyakan?" Tawar Murata.

"Jangan, aku belum mau mendengar kalimat pedasnya." Tolak Yuuri.

"Hey kau! Jangan menggerutu dengan suara seperti perempuan."

Jleb!

Serasa ada pisau dapur yang menusuk ulu hati Yuuri saat mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Wolfram.

"Kalau begitu aku minta maaf.." Yuuri berusaha bersabar dan tersenyum walaupun ujung bibirnya berkedut.

"Cih! Hanya perempuan yang menggerutu sepertimu." Ejek Wolfram dengan senyum meremehkan.

"Grrr…aku sudah tidak tahan lagi!" Yuuri bangkit dari duduknya. "Apa sih masalahmu!? Jangan mengatai orang lain seperti perempuan kalau wajahmu sendiri bahkan lebih cantik dari perempuan!?" Amuk Yuuri sambil menunjuk Wolfram.

Krik..Krik..

Suasana kelas langsung hening dan Yuuri membeku saat menyadari kalimat yang baru saja dia ucapkan.

"Sekali henna choko tetap henna choko." Wolfram tersenyum mengejek pada Yuuri. "Aku tidak membutuhkan penggemar sepertimu," sambungnya.

"Memangnya siapa yang mau menjadi penggemarmu!? Dasar angkuh, sombong, menjengkelkan, untung saja wajahmu sa- hmpp!" Murata langsung membekap mulut Yuuri sebelum sahabatnya itu membuat kesalahan untuk yang kedua kalinya dipagi ini.

.

.

.

Saat jam olah raga

"Tempat menjijikkan apa ini!?" Wolfram menatap ngeri pada ruang ganti baju pria saat akan berganti baju olah raga.

"Ini namanya ruang ganti, kau saja yang terlalu berlebihan." Jawab Yuuri cuek sambil membuka bajunya.

Wolfram langsung pergi dari ruang ganti tanpa mengatakan apapun lagi.

"Wah kau membuat pangeran kita marah Shibuya.." Celetuk salah seorang teman sekelas Yuuri.

"Sayang sekali padahal aku ingin berganti pakaian bersama~" Celetuk yang lain dengan gaya tubuh yang dibuat-buat.

"Mungkin dia malu karena memakai pakaian dalam wanita,"

"Hahahaaa…" Gelak tawa pun pecah diantara para siswa.

"Hey hey kalian kelewatan tahu." Yuuri sweatdrop melihat tingkah teman-temannya.

Saat ruang ganti kosong dan para siswa juga siswi sudah turun ke lapangan barulah Wolfram memaksakan diri masuk ruang ganti dan berganti pakaian disana walaupun dia benar-benar merasa jijik dengan ruangan yang menurutnya sempit dan kotor itu.

Setengah jam kemudian Wolfram turun dengan mengenakan seragam olah raga. Koas lengan pendek berwarna putih dengan logo sekolah di dada sebelah kirinya dan celana olah raga berwarna biru dongker diatas lutut.

Sinar mentari pagi yang cerah membuat Wolfram merasa silau dan sang pangeran menggunakan tangan kanannya untuk menghalangi sinar tersebut. Kulit Wolfram yang memang putih terawat semakin terlihat putih dan bersinar dibawah terpaan sinar matahari. Rambutnya yang sewarna dengan sinar matahari membuatnya terlihat berbeda. Belum lagi pakaian olah raga membuat beberapa bagian tubuhnya tak tertutupi dan lekuk tubuhnya yang sispax terlihat jelas.

"Kyaaaa!"

Bruk!

Bruk!

Bruk!

Para gadis yang sedang berlari mengelilingi lapangan poli jatuh bertumpuk karena tak memperhatikan langkahnya dan justru terpesona oleh sosok Wolfram.

"Hooaaa…aku melihat bidadari.." Ucap Yuuri tanpa sadar. Kedua matanya membulat dan mulutnya menganga bahkan bola yang sejak tadi berada ditangannya terjatuh begitu saja dan mengggelinding ke sisi lapangan. Para siswa yang lain pun tak lepas dari jerat pesona Wolfram.

"Julukan henna choko yang diberikan oleh Wolfram-kun memang sangat cocok untukmu Shibuya. Kau benar-benar terlihat payah," Murata speechless berat melihat sahabatnya.

"Apa lagi yang kalian tunggu para petarung!? Ayo cepat berlari mengelilingi lapangan sepak bola!" Seru seorang guru olah raga dengan rambut abu-abu kribo dan kumis tebal. Para siswa laki-laki pun membuat barisan dan berlari mengelilingi lapangan sepak bola.

'Fufufu~ tuan mudaku memang penuh pesona.' Ucap sang guru olah raga dalam hati, guru tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Yozak yang menyamar.

Yuuri memimpin di depan disusul oleh Murata dibelakangnya namun tiba-tiba saja ada seseorang yang mendahului Yuuri. Sang ketua kelas melongo melihat ternyata Wolfram lah yang mendahuluinya.

"Ya ampun aku kaget ternyata pangeran arrogant itu bisa berlari juga," Komentarnya.

"Sepertinya dia sangat terlatih, terlihat jelas dari postur tubuhnya yang bagus dan tegap." Sahut Murata dari belakang.

"Kalau masalah tenaga dan kecepatan aku juga tidak akan kalah!" Mendengar ucapan sahabatnya Yuuri jadi panas dan mempercepat larinya untuk menyusul Wolfram.

"Cih! Mau apa kau!?" Wolfram melihat sinis padaYuuri yang sudah berada disampingnya.

"Aku tidak akan kalah dari pangeran cantik sepertimu!" Lalu anak kedua dari keluarga Shibuya itu berlari mendahului Wolfram.

"Apa!? Beraninya kau menantangku!" Wolfram yang tak mau kalah pun berusaha mengejar Yuuri. Sampai akhirnya mereka berlari saling mendahului dan saat mereka sejajar keduanya akan saling mendorong menggunakan tubuh hal tersebut terjadi berulang kali.

"Ya ampun tak ku sangka Wolfram-sama dan Yuuri-sama bisa akrab secepat ini~" Kedua mata Yozak berkaca-kaca. "Ini benar-benar takdir yang indah."

.

.

.

Bruk!

"Hah..hah..hah..ternyata tenagamu boleh juga." Komentar Yuuri setelah menjatuhkan dirinya pada rumput disisi lapangan.

"Hmpp! Jangan sok akrab! Hah..hah.." Wolfram masih berdiri walau kedua lututnya sudah gemetaran. Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya.

"Ku kira kalian tidak akan berhenti berlari, ini.." Murata memberikan sebotol minuman isotonic dan handuk kecil pada Yuuri. "Ini untukmu Wolfram-kun," Murata juga menyodorkan minuman isotonic lain pada Wolfram.

"Aku tidak butuh!" Tolak Wolfram mentah-mentah. "Dacarcos! Dacarcos!" Panggil Wolfram pada pelayannya. Sang tuan muda berjalan mencari pelayannya yang tiba-tiba menghilang.

"Fufufu~ maafkan saya tuan muda tapi saya sudah mengamankan Dacarcos atas perintah langsung dari Cheri-sama. Anda harus belajar mandiri tuanku," Ucap Yozak disisi lain lapangan.

"Dacarcos dimana kau!?" Teriak Wolfram. "Eh!?"Eentah karena lelah atau tak memperhatikan jalan Wolfram tersandung batu kecil disisi lapangan dan terhuyung kedepan.

"Gyaaaaaaaa! Wolfram-samaaaaa!" Teriak Yozak kalang kabut.

Syuut…

Tubuh Wolfram terhuyung kedepan.

Grep!

"…!?" Wolfram terkejut dan menoleh kebelakang saat merasakan ada yang menarik lengannya sehingga dia tidak jadi terjatuh.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Yuuri.

"Syukurlah Yuuri-sama anda memang malaikat pelindung yang diciptakan dewa untuk tuan muda kami.." Yozak lepas kendali dan menangis haru dengan berderai air mata, namun saat menyadari beberapa orang murid memperhatikannya sang guru samaran itu pun segera berdehem dan kembali ke sikap normal.

"Kau!? Lepaskan tanganku!" Wolfram melepaskan tangannya dengan paksa saat mengetahui ternyata Yuuri yang menolongnya. "Dasar henna choko!" Gerutu Wolfram dan berlalu meninggalkan Yuuri.

"Anak ituu…benar-benar membuat darahku mendidih." Geram Yuuri.

'Benar-benar payah,' Batin Murata.

.

.

.

Sampai sekolah usai Wolfram masih tidak menemukan Dacarcos sementara Yozak terjebak di ruang rapat bersama para guru.

"Kemana supir botak itu sebenarnya!? Tunggu sampai dia muncul dihadapanku." Geram Wolfram. Sang tuan muda berjalan mondar mandir di halaman karena ruang kelas sudah sepi dari siswa dan sisiwi.

"Kau masih disini, mau ku antar pulang?" Tawar Yuuri yang ternyata baru akan pulang bersama Murata.

"Maksudmu kau ingin aku naik sepeda tua itu?" Tanya Wolfram melihat sepeda yang dinaiki Yuuri.

"Haha.. jangan khawatir sepeda ini cukup kuat kok untuk kita berdua."

"Cih! Jangan harap! Cepat panggilkan aku taxi." Pinta Wolfram dengan nada memerintah.

"Kau ini benar-benar tidak bisa berbicara manis ya? Sudah ku bilang kalau mau minta tolong itu bicaralah yang sopan." Nasihat Yuuri.

"Memangnya siapa kau sampai aku harus sopan padamu? Cepat panggilkan taxi untukku."

"Cari saja sendiri." Jawab Yuuri. "Ayo kita pulang murata,"

"Sayonara Wolfram-kun," Pamit Murata.

"Dasar kau henna choko! Orang-orang miskin memang menyebalkan!" Teriak Wolfram.

"Masa bodo kau mau bilang apa. Dasar Arrogant Prince," Sahut Yuuri sambil mengayuh sepedanya.

.

.

.

"Menjengkelkan." Gerutu Wolfram yang memilih untuk berjalan mencari taxi. Tapi sejak tadi dia tak menemukan satu pun taxi yang lewat. Keberadaan Dacarcos pun tidak kelihatan sampai sekarang. Bahkan para pengawal yang lain sepertinya tak ada yang mencarinya.

Zzrrsss….

Hujan lebat turun dari langit membasahi bumi juga Wolfram yang masih berjalan di terotoar jalan. Tak ada tempat yang bisa digunakan untuk berteduh. Ditempat lain Yozak akhirnya bisa lepas dari ruang rapat dan segera menelpon Conrad untuk menanyakan apakah Wolfram sudah pulang atau belum.

.

.

.

Di rumah Wolfram.

"Aku akan segera mencarinya, Yozak kau juga tolong segera cari Wolfram!" Pinta Conrad pada sahabatnya.

[Baik Conrad-sama.]

Setelah sambungan telpon terputus Conrad segera naik ke kamar Wolfram, mengambil satu handuk tebal dan pakaian ganti untuk Wolfram. Berjaga-jaga kalau Wolfram kehujanan. 'Diluar hujannya lebat sekali' batin Conrad.

.

.

.

Sementara dikediaman keluarga Shibuya.

"Kenapa aku terbayang wajahnya terus ya? Dan kenapa diluar malah hujan lebat?!" Ratap Yuuri. Remaja tampan namun tidak popular itu jadi serba salah. Duduk, berdiri, mondar mandir sampai menungging dan guling-guling tak ada satupun yang bisa membuatnya tenang.

.

.

.

"Wolfram-samaaaa!" Teriak Yozak. Sang bodyguard sudah melepaskan penyamarannya dan berlari dibawah guyuran hujan. Dia sempat bertanya pada penjaga sekolah dan penjaga tersebut bilang kalau siswa dengan rambut blonde berjalan sendirian keluar gerbang sekolah. Karena itulah Yozak memilih untuk segera berlari menelusuri jalanan, dia bahkan lupa kalau tidak membawa mobilnya.

"Wolfram-sama anda dimana? Wolfram-sama!" Panggil Yozak.

Sementara itu Conrad yang juga mencari Wolfram memacu mobil sport hitamnya dengan kecepatan tinggi. Delapan pengawal ber jas hitam pun disebar keseluruh penjuru yang memungkinkan untuk dilewati oleh Wolfram. Dia tahu benar adik bungsunya itu tidak akan tahu jalan pulang karena bahkan gatget miliknya pun disita oleh Gwendal, jika tidak dia bisa saja menghubungi rumah atau menggunakan gps untuk penunjuk jalan.

"Wolfram!" Hati Conrad terasa lega namun miris saat melihat seorang remaja berambut pirang berjalan di trotoar jalan dibawah guyuran hujan lebat. Segera saja Conrad memarkirkan mobilnya di tepi jalan dan berlari keluar.

"Wolfram!" Conrad meraih lengan Wolfram dari belakang. "Eh!?" Dan alangkah terkejutnya dia saat sosok tersebut justru terhuyung kebelakang. "Wolf?" Conrad menahan tubuh Wolfram menggunakan kedua tangannya.

"Wolfram kau baik-baik saja sayang?!" Conrad terduduk memeluk Wolfram dan memegang wajah adiknya tersebut.

"Onii-chan..aku mau pulang…" Ucap Wolfram lemah, kedua matanya terlihat sayu.

"Wolfram!" Panik Conrad. 'Demam.' Batinnya saat menyentuh dahi Wolfram. Conrad segera mengangkat tubuh Wolfram bridal style.

"Conrad-sama! Wolfram-sama!" Panggil Yozak yang muncul dari arah belakang.

"Yozak! Cepat bukakan pintu mobil." Pinta Conrad. Yozak segera membukakan pintu bagian belakang dan saat kedua tuannya masuk dia kembali menutup pintu tersebut dan masuk untuk mengambil kemudi.

"Wolfram, kau akan baik-baik saja sayang." Conrad segera melepaskan semua pakaian serta sepatu yang melekat di tubuh Wolfram. Mengeringkan tubuhnya dan mengganti bajunya dengan yang kering. Kakak kedua dari Wolfram itu mendudukkan adiknya dipangkuan dan memeluk Wolfram.

"Maafkan saya Conrad-sama, saya tidak bisa menjaga tuan muda." Ucap Yozak merasa bersalah.

"Tidak Yozak ini bukan salahmu, sekarang yang terpenting kita harus segera sampai ke rumah." Jawab Conrad bijak.

"Baik Conrad-sama." Yozak mempercepat laju mobilnya.

Conrad mengambil handphonenya dan menghubungi Gunter. "Aku sudah menemukan Wolfram. Cepat hubungi Gisela, Wolfram demam tinggi." Ucap Conrad.

[Ba-baik! Kami akan menyiapkan semuanya disini.] Jawab Gunter dari sebrang sana.

Saat mobil yang dikendarai Conrad datang Gunter dan beberapa pelayan sudah menunggu di depan pintu. Begitu mobil berhenti Conrad segera keluar sambil membopong Wolfram yang sudah tidak sadarkan diri. Dua orang pelayan dengan sigap memayungi Conrad.

"Wolfram-sama…" Doria, Sangria, Lila dan Eve yang merupakan empat pelayan utama langsung berkaca-kaca melihat tuan muda mereka terkulai lemas dalam dekapan Conrad.

"Wolfram-samaaa…" Dacarcos malah menangis sesegukan karena merasa kalau ini adalah salahnya. Semua yang bekerja di istana besar itu merasakan kesedihan yang sama. Walaupun Wolfram terkenal angkuh dan sombong tapi tak pernah sekalipun mereka mendapatkan perlakuan kasar atau makian yang membuat hati mereka sakit.

Wolfram hanya akan mengamuk dengan melemparkan barang-barang disekitarnya dan tak pernah mengarahkannya pada para pelayan. Kecuali Gunter dan Conrad yang memang sudah beberapa kali terkena lemparan Wolfram.

Conrad segera membawa Wolfram naik ke kamarnya dan membaringkan tuan muda itu disana. Doria dan Sangria dengan sigap membawakan air hangat dan Gisela selaku dokter pribadi keluarga pun tengah menunggu di kamar Wolfram.

Gisela segera memeriksa keadaan Wolfram dan memberikan beberapa obat.

"40°C, jika sampai nanti malam masih belum turun juga terpaksa Wolfram-sama harus diinfus." Ucap Gisela pada Conrad.

"Lakukan yang terbaik, aku percaya padamu." Jawab Conrad.

"Baik, Conrad-sama. Kalau begitu saya pamit." Gisela meninggalkan kamar Wolfram diikuti oleh para pelayan dan hanya tersisa Conrad dan Gunter.

"Apa perlu menghubungi Cheri-sama?" Tanya Gunter.

"Sebaiknya jangan dulu,"

"Nnh..Onii-chan…Aniue..aku mau pulang..Onii-chan..Onii-chan.." Igau Wolfram.

Conrad segera menghampiri Wolfram dan duduk disisi ranjang, memegang tangan yang terasa dingin itu. "Onii-chan disini sayang, kau sudah berada di rumah. Jangan khawatir sebentar lagi juga Aniue pulang." Ucap Conrad pelan berharap kegelisahan sang adik bisa berkurang.

"Hiks..Aniue..Onii-chan.." Igau Wolfram berulang-ulang. Air mata mengalir dari balik kelopak mata yang terpejam itu.

"Demamnya sangat tinggi, dia pasti bermimpi buruk. Sebaiknya aku segera menghubungi Cheri-sama saja," Ucap Gunter khawatir.

"Usahakan untuk tidak membuat Hahaue khawatir, aku tidak ingin terjadi apa-apa padanya." Saran Conrad.

"Aku mengerti," Gunter segera pergi ke luar kamar untuk menghubungi sang ratu.

Tap

Tap

Tap

Brak!

"Wolfram!" Pintu terbuka dengan paksa memunculkan sosok Gwendal yang masih mengenakan jas abu-abunya. Ramutnya terlihat berantakan dan dasinya hilang entah kemana, nafasnya tersengal-sengal dan keringat pun bercucuran walaupun diluar sedang hujan deras.

"Wolfram! Apa yang terjadi pada Wolfram!?" Sang kakak pun berjalan memasuki kamar Wolfram, terlihat jelas kepanikan diwajahnya.

"Dia demam, tapi Gisela sudah memeriksanya dan memberi obat. Sebentar lagi juga obatnya bereaksi," Jawab Conrad berusaha bersikap tenang agar sang kakak tidak bertambah panic.

"Kenapa sampai seperti ini.." Sesal Gwendal.

"Hiks..Aniue..Onii-chan..hiks..aku mau pulang..Aniue.." Igau Wolfram lagi. Gwendal dan Conrad duduk disisi kanan dan kiri Wolfram, menggenggam jemari lentik itu untuk memberikan dukungan.

Wolfram bukan orang yang gampang sakit tentu saja ini menjadi pukulan yang lumayan terasa bagi kedua kakaknya. Terlebih Gwendal yang memang jarang punya banyak waktu luang untuk adik bungsunya itu.

.

.

.

"Hiks..Wolfram-sama..hiks.." Isak Eve di dapur.

"Sudahlah Eve kau jangan menangis terus, kami kan jadi ingin menangis juga." Ucap Lila yang juga sudah berkaca-kaca.

"Demam Wolfram-sama tinggi sekali, dia bahkan sampai mengigau…huweeee…Gisela-san bilang nanti malam kalau demamnya belum turun juga Wolfram-sama akan diinfus..huweee..Wolfram-samaaa…" Tangis Doria pecah.

"Doria kau kan yang paling tua kenapa kau malah menangis seperti itu!? Seharusnya kau menenangkan kami." Ucap Sangria sok kuat padahal wajahnya sudah basah oleh airmata. Mereka berempat memang pelayan utama yang mengurusi segala keperluan Wolfram tentu ini juga merupakan pukulan bagi keempatnya.

"Ck! Kalian ini apa-apaan sih!? Menangis seperti itu, Wolfram-sama akan segera sembuh. Jadi berhentilah merengek!" Anissina sang koki muncul sambil berkacak pinggang.

"Anissina-san. Kau juga kan menangis…" Ucap keempatnya bersamaan.

"Ini karena aku habis mengiris bawang merah..hiks..mataku panas…" Elak Anissina sambil berlalu.

.

.

.

Skip time keesokan harinya di sekolah.

"Mencari Wolfram-kun?" Tanya Murata pada Yuuri yang sejak tadi memperhatikan tempat duduk Wolfram.

"Siapa bilang? Untuk apa aku mencari pangeran cerewet itu." Yuuri mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

"Oh begitu," Sahut Murata cuek, kemudian siswa berkacamata itu pun melanjutkan kalimatnya. "Aku Cuma mau menyampaikan pesan dari Hube-sensei kalau hari ini Wolfram tidak masuk karena sakit."

"Sakit!?" Yuuri langsung menoleh ke arah Murata.

"Yups.." Murata duduk di kursinya. "Tadinya Hube-sensei menyuruhku untuk menjenguk Wolfram-kun bersamamu tapi karena kau tidak mau terpaksa aku harus pergi sendirian."

"Siapa bilang aku tidak mau!?" Seru Yuuri tak terima.

"Hooo..jadi kau mau ya?" Goda Murata sambil menggerak-gerakkan kedua alisnya.

"A- aku kan ketua kelas. Tentu saja aku harus menjenguk jika ada teman sekelasku yang sakit." Kilah Yuuri berusaha bersikap angkuh untuk menutupi degup jantungnya yang tidak karuan.

"Iya iya, aku mengerti ketua kelas-sama."

Padahal baru dua hari bertemu dengan Wolfram dan dalam dua hari itu pun Yuuri menganggap kalau hidupnya di sekolah bagaikan neraka. Tapi belum ada satu hari Wolfram menghilang Yuuri benar-benar merasa seperti ada bagian yang hilang dalam hidupnya. Sekolah terasa sepi dan membosankan.

.

.

.

"Murata apa kau yakin kita tidak tersesat?" Tanya Yuuri pada sahabatnya itu. Keduanya tengah berdiri tepat didepan sebuah gerbang besar.

"Ini alamat yang diberikan Hube-sensei, dia bilang hanya kita berdua saja yang boleh tahu." Jawab Murata sambil mengecek kembali kertas bertuliskan alamat yang diberikan senseinya.

"Aku merasa seperti sedang berdiri di depan sebuah istana megah.." Yuuri terdiam membayangkan betapa jauhnya dia harus berjalan melintasi halaman untuk sampai ke bangunan megah didepan sana.

"Permisiiiiii….." Seru Murata.

"Hey Murata kau mau apa!?" Panik Yuuri.

"Tentu saja menjenguk Wolfram-kun, memangnya apa lagi?"

"Maaf, yang tidak berkepentingan dilarang masuk." Tiba-tiba saja seorang penjaga menggunakan setelan jas serba hitam dan kacamata hitam muncul di dalam gerbang.

"Kami teman Wolfram-kun dari sekolah, wali kelas kami meminta kami untuk menjenguk Wolfram-kun. "Murata menunjukkan keranjang berisi buah yang ada ditangannya.

"Kalau begitu silahkan masuk, pihak sekolah sudah mendapatkan izin dari Cheri-sama." Penjaga tersebut membuka gerbang dan mempersilahkan keduanya masuk.

"Arigato.."

Halaman yang sangat luas dan berbagai tatanan taman membuat Yuuri dan Murata terkagum-kagum. Terasa seperti berada di zaman beberapa ratus tahun yang lalu saat masih banyak kerajaan.

'Jangan-jangan Wolfram benar-benar seorang pangeran' Batin keduanya.

"Silahkan, mari biar saya tunjukkan dimana kamar Wolfram-sama." Ucap Doria yang sudah menunggu dipintu masuk.

"Waaahhh…." Yuuri dan Murata langsung terpana melihat bagian dalam rumah. Lampu Kristal besar meggantung ditengah ruangan. Lantai yang mereka pijak pun bahkan bisa digunakan untuk berkaca. Dibeberapa sudut ruangan terdapat patung-patung dengan arsitektur luar biasa, vas bunga besar yang berisi bunga segar, lukisan-lukisan indah terpasang di dinding dan ditengah ruangan terdapat tangga besar menuju lantai atas. Dilantai dua tangga terbagi menjadi dua arah, pada bagian tengah tangga pun dilapisi oleh karpet berwarna merah.

"Silahkan tuan, kamar Wolfram-sama ada di atas." Ucap sang pelayan karena kedua tamunya tak juga beranjak dari tempat semula.

"Ah..iya maaf.." Ucap Yuuri tersadar.

"Maaf ini baru pertama kalinya kami masuk ke dalam istana," Ucap Murata.

"Tidak apa-apa," Doria tersenyum, keduanya berjalan mengikuti sang pelayan menuju lantai atas dan mengambil arah ke kanan dimana kamar Wolfram berada. Ketiganya berhenti di sepasang pintu besar berwarna putih yang terkesan elegan.

Tok

Tok

Tok

"Maaf Conrad-sama, utusan dari sekolah Wolfram-sama sudah datang." Ucap Doria setelah membuka pintu. Tak lama kemudian Conrad membuka pintu dari dalam.

"Terimakasih, kau boleh pergi dan bawakan minum kemari."

'Dia!?' Kedua mata Conrad melebar saat melihat sosok Yuuri.

"Selamat siang, maaf mengganggu. Kami datang untuk menjenguk Wolfram,"Ucap Yuuri sambil membungkuk hormat.

"Jangan sungkan, masuklah." Conrad mempersilahkan keduanya masuk. Dan lagi-lagi keduanya terpaku melihat betapa luar biasanya kamar seorang Wolfram.

'Kepalaku pusing,' Batin Yuuri.

'Apa aku salah masuk dan membuka pintu menuju negeri dongeng?' Murata bertanya-tanya dalam hati.

"Hahaue, kedua teman Wolfram datang untuk menjenguk." Panggil Conrad pada sang ibu yang sejak semalam tak mau lepas dari sisi putra bungsunya itu. Begitu diberitahu kalau putra bungsunya demam tinggi dan mengigau memanggil-manggil ibunya maka sang lady pun segera bertolak ke Jepang menggunakan jet pribadinya.

"Salam kenal namaku Yuuri Shibuya dan ini temanku Murata Ken."

"Oh? Selamat datang." Wanita yang masih terlihat muda dan berparas cantik itu segera menoleh. "Eh?!" Reaksi yang sama ditunjukkan oleh ibu dari tiga anak itu saat melihat Yuuri. Conrad yang berada dibelakang Yuuri dan Murata meletakkan telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan pada sang bunda agar diam. Mengerti akan maksud putranya maka sang ibu pun tersenyum.

"Kemarilah," Panggil Cheri-sama pada keduanya. "Sayang sekali Wolfram baru saja tertidur setelah diberi obat." Sesalnya.

'Wolfram..' Hati Yuuri terasa sakit melihat keadaan Wolfram. Sosok itu tertidur di ranjangnya seolah tak berdaya, wajahnya pucat tapi terdapat rona merah dikedua pipinya menandakan kalau dia sedang demam tinggi. Nafasnya pendek dan cepat, ditangan kirinya terpasang infuse.

"Sejak kemarin demamnya tidak turun juga, padahal Wolfram sangat jarang sakit." Sang bunda terlihat sedih.

'Sejak kemarin?' Batin Yuuri. 'Ini salahku, dia pasti kehujanan kemarin.'

"Maaf, apa sudah dilakukan cek laboratorium?" Tanya Murata memberanikan diri.

"Sudah, hasilnya bagus. Tidak ada masalah apapun, tapi demamnya tidak kunjung turun. kalau sampai malam ini masih belum turun juga kami terpaksa membawanya ke Jerman. Aku punya kenalan dokter yang bagus disana," Sang lady terlihat cemas.

"Tenanglah Hahaue, Wolfram akan baik-baik saja." Conrad memegang kedua pundak ibunya dari belakang. Mencoba memberikan kekuatan pada wanita yang telah melahirkannya. "Mungkin ada hal yang membuat Wolfram kesal atau ada sesuatu yang sangat dia inginkan yang belum terpenuhi." Sambung Conrad.

"Eh? Bisa karena itu juga?" Ucap Yuuri tanpa sadar.

"Faktor pendukung ya?" Ucap Murata.

"Iya, dulu juga Wolfram pernah demam tinggi. Aku ingat saat itu usianya baru 5 tahun, kami mengajaknya berkunjung ke pemukiman kumuh yang ada di Belanda." Conrad mulai bercerita, senyum terlihat jelas diwajahnya. Yuuri dan Murata medengarkan dengan seksama.

"Saat itu ada empat anak perempuan yang menghampiri kami dan meminta makanan, keempatnya anak yatim piatu. Aku ingat Wolfram memberikan semua makanan yang dia punya. Dan saat akan pulang Wolfram meminta pada ibunya untuk membawa keempat anak perempuan itu pulang ke Jepang. Tentu saja kami menolak karena tidak semudah itu bisa melakukannya."

"Lalu apa yang terjadi?" Tanya Yuuri penasaran.

"Setelah sampai di jepang tiba-tiba saja Wolfram demam tinggi dan mengigau. Demamnya baru turun saat kami membawa keempat anak itu ke Jepang." Jawab Conrad dengan senyum cerah.

"Apa keempatnya tinggal di Jepang?" Tanya Murata.

Conrad mengangguk, "Salah satunya yang mengantar kalian ke sini tadi," Ucap Conrad.

"Heeee?! Kakak cantik tadi?" Tanya Yuuri kaget.

"Jadi keempatnya bekerja disini? Beruntungnya nasib mereka, tidak akan pernah kelaparan lagi dan tinggal di tempat yang sangat indah." Komentar Murata.

"Itu berkat Wolfram," Lady Cheri dan Conrad tersenyum.

"Mmh..henna choko..aku membencimu..henna choko.." Igau Wolfram, raut wajahnya terlihat gelisah dengan mata terpejam erat.

"Lagi-lagi dia mengigau itu," Gumam sang ibu. "Conrad apa kau tahu siapa yang dia maksud? Apa dia bertemu dengan pangeran dari belanda itu lagi?" Tanya sang ibu pada keduanya.

"Tidak, Saralegi belum datang ke Jepang lagi beberapa bulan ini. Aku juga tidak tahu siapa yang Wolfram maksud." Jawab Conrad pada sang ibu.

"Hey Shibuya.." Murata menyikut pelan sahabatnya itu.

"Aku tahu.." Jawab Yuuri pelan. "Umm..maaf..yang dimaksud henna choko itu..mm.." Yuuri bingung harus mengatakan apa.

"Yuuri-kun kau tahu siapa yang dimaksud Wolfram?" Tanya sang lady.

"Umm..itu.."

"Henna choko itu panggilan yang diberikan Wolfram-kun pada Shibuya." Celetuk Murata. Yuuri tertawa hambar.

"EH!?" Lady Cheri dan Conrad terlihat kaget. "Ahahahaa…jadi begitu ya? Kalau begitu kemarilah, mendekat." Lady Cheri justru tertawa dan meminta Yuuri mendekat.

Merasa tak ada pilihan maka Yuuri pun berjalan mendekat. Remaja tampan namun kurang popular itu duduk di kursi yang berada tepat disamping ranjang Wolfram dimana sang lady semula duduk.

"Haaah.." Yuuri menghela nafas. "Maaf kemarin aku tidak mencarikanmu taxi, dan selalu membuatmu kesal." Sesal Yuuri.

'Bagus-bagus, minta maaf lah dengan gentle Yuuri.' Ucap Murata dalam hati sambil manggut-manggut. Conrad dan ibunya bertukar pandang kemudian tersenyum senang.

"Kalau kemarin aku memanggilkan taxi untukmu pasti kau tidak akan kehujanan dan demam, aku benar-benar minta maaf." Sesal Yuuri. "Tapi itu juga karena kau menolak ku antar pulang dan malah mengatai sepedaku besi tua. Coba kalau kau menurut. Bicaramu juga selalu tidak sopan padaku, kau angkuh dan sangat keras kepala." Cerocos Yuuri.

'EH!? EH!? EEEEEHHHH?! Bicara apa kau Shibuya?' Batin Murata horror.

Lady Cheri justru tertawa pelan. ' Memang cocok untuk Wolfram, aku tidak menyesal menyetujui keputusan almarhum ayahnya.' Ucap sang Lady dalam hati.

Yuuri kembali menarik nafas, tangan kanannya terulur menyentuh kening Wolfram. Apa yang dilakukan Yuuri membuat ketiga orang yang berada disana terdiam penasaran.

"Tapi walaupun begitu aku tidak keberatan, kau memang galak, angkuh, bicaramu juga sering membuat orang kesal. Tapi aku tahu sebenarnya kau memiliki hati yang sangat baik." Yuuri tersenyum begitu pun ketiga orang lainnya. "Kau boleh memintaku melakukan apapun, dengan satu syarat. Kau harus segera sembuh dan kembali bersekolah." Ucap Yuuri tanpa melepaskan tangannya dikening Wolfram.

"Rasanya aku ingin menangis," Gumam lady Cheri. Conrad tersenyum dan menepuk-nepuk pundak sang ibu.

'Kau membuatku jantungan Shibuya,' Murata menghela nafas lega.

Perlahan Wolfram yang terlihat gelisah mulai tenang, tarikan nafasnya terdengar teratur menandakan kalau sang tuan muda tertidur pulas.

"Maaf kalau aku lancang, waktu kecil ibuku selalu melakukan itu kalau aku sedang demam. Tangan ibu membuatku nyaman," Ucap Yuuri.

"Tidak apa-apa, nanti juga kau boleh menyentuh bagian munapun yang kau suka Yuuri-kun. Wolfram memang dilahirkan untukmu." Jawab Cheri-sama.

"EH!?" Yuuri dan Murata saling tukar pandang.

"Hahaue." Panggil Conrad mengingatkan sang bunda.

"Hahahaa..sudah lupakan saja."

Setelah hampir satu jam berada di kamar Wolfram akhirnya Yuuri dan Murata berpamitan pulang. Mereka tidak pernah menyangka sebelumya kalau ternyata semua keluarga Wolfram sangat ramah dan baik hati. Dan mereka pun tak pernah menyangka kalau Wolfram benar-benar seorang pangeran. Jadi inilah alasan kenapa Hube-sensei meminta mereka merahasiakan alamat Wolfram.

.

.

.

"38,7°C.." Ucap Gisela setelah memeriksa suhu tubuh Wolfram.

"Turun dengan sangat cepat, cinta memang obat paling hebat." Lady Cheri tersenyum cerah.

"Anda benar Cheri-sama, beruntung Yuuri-sama yang datang kemari." Gisela tersenyum senang, sekarang barulah dia bisa sedikit bernafas lega.

"Jangan-jangan Hahaue memindahkan Wolfram bersekolah disana karena tahu kalau Yuuri juga bersekolah disana?" Tanya Conrad curiga.

"Tanpa ku rencanakan pun mereka memang akan segera dipertemukan," Jawab sang lady ambigu. "Sebaiknya kau segera menghubungi kakakmu, dia pasti sangat khawatir disana."

"Jangan khawatir, aku sudah menghubunginya." Jawab Conrad.

Gwendal memang sedang tidak ada di rumah, pagi-pagi sekali dia terpaksa harus pergi ke luar kota untuk urusan bisnis.

"Aniue bilang dia akan pulang saat acara pertemuan besok," Ucap Conrad lagi menyampaikan pesan dari sang kakak.

"Itu berita bagus, aku juga sudah menghubungi Jennifer-san dan Shibuya-san. Akhirnya setelah lebih dari 15 tahun menunggu sekarang tiba juga waktunya." Lady Cheri menerawang jauh ke luar jendela.'Sayang, besok hari yang penting untuk anak kita Wolfram. Do'akan semoga semuanya berjalan lancar.'

TBC

Sepertinya masih belum bisa end di ch 2 ini. Yah pokoknya buat yang udah baca suka gak suka mohon tinggalkan reviewnya.. arigatooo…