INDIGO ROSE Chap.2

Pairing: Sasu/Hina always

Rating: T

Tags: AU/ Familly/ Angst/OOC

Disclaimer: All characters in this story belongs to Masashi Kishimoto

Happy reading..

##############################

Pria itu mengenakan kaos bertuliskan Provos dibagian punggungnya dan emblem korps militer dibagian dada kiri.

Rambutnya hitam kebiruan, begitupun dengan matanya yang kini menatapnya dengan begitu tajam.
Bibirnya tipis, mengatup kuat dengan rahang yang tampak mengeras.
Begitu kentara tengah menahan gejolak emosi yang siap untuk meledak.

Padahal biasanya tidak pernah begitu.

Seingat Hinata, dia, pria yang ia kenal 30tahun lamanya itu, lebih suka mengenakan kaos bergambar kelinci pilihan Hinata saat bersamanya.

Rambutnya memang mencuat dan kaku, namun lembut saat disentuh untuk bermanja.
Matanya yang menyalang tajam itu selalu akan menatapnya dengan lembut saat tengah berdua seperti sekarang.
Begitupun dengan bibir yang selalu mengecup mesra dan menyebut namanya penuh pemujaan.

Namun tidak saat menyebut,

"Indigo.. Rose.."

Hinata menegakkan tubuhnya saat nama itu disebut.
Membuat lelaki didepannya itu semakin menguarkan aura penuh ketidak sukaan.

"Anata.." Hinata tersenyum lembut pada lelaki yang tadi pagi masih sempat ia buatkan sarapan dan kopi.

"Lelucon apa ini, Hime?" Sasuke menunduk untuk menyembunyikan luka hatinya, "diantara semua mata - mata negara yang tertangkap.. mengapa harus ada kau disana? Jika ini jebakan konyol untuk persiapan ulang tahunku.. maka akan ku katakan kalau aku sama sekali tidak merasa ini lucu.."

Hinata hanya mampu menanggapi ucapan suaminya dengan tatapan dan senyum sendu.

"Anata.. aku tidak ingin kau mempertaruhkan dirimu untuk melindungiku.. aku hanya minta dirimu untuk percaya padaku.."

Sasuke membisu, tangannya meraup berkas didepannya dan mulai membuka halaman demi halaman profile istrinya.

"Apapun itu.. semua tidak seperti yang kau dengar dan kau bayangkan, Sasuke kun.." Hinata melembut, mencoba meraih tangan suaminya walau pada akhirnya penolakan justru membuatnya kecewa, "tidakkah sedikit saja kau percaya padaku?"

Melihat Sasuke menjaga jarak dan mencoba bersikap defensif, Hinata pun memutuskan untuk menarik kembali tangannya.

"Aku tidak tahu.." Sasuke akhirnya angkat bicara, "bahkan saat inipun aku tidak tahu yang manakah dirimu yang asli.. begitu juga tentang 30 tahun pernikahan kita, Hinata.."

.
.

Sasuke menatap berkas didepan matanya dengan pandangan lesu.

Hinata sama sekali tidak mengatakan bahwa dirinya terlibat, namun ia juga tidak menyangkal.

Perempuan itu bahkan menanggapinya dengan tenang setiap pertanyaan yang disodorkan padanya, seolah sesi interograsi yang mereka hadapi saat itu, tidak lebih seperti percakapan saat sarapan mereka tadi pagi.
Tentu saja minus pelukan dan kecupan mesra.

Aaaargh!
Tangannya menarik rambut hitamnya frustrasi.

Sasuke selalu mengatakan semua tentang dirinya pada Hinata, dan ia pun mengira begitu sebaliknya.
30 tahun bukan waktu yang singkat, namun ternyata tidak pernah cukup untuk menjadikanmu mengenal seseorang luar dalam.

"Apa yang lebih idiot dari pada tindakan seorang pemburu yang hidup dengan buruannya tanpa ia sadari?" Ejek Danzo sinis saat mengetahui marga Uchiha telah menjadi bagian dari nama spionase nomor wahid buronan negara ini, "lulusan terbaik ternyata tidak menjamin instingnya tajam untuk bisa membedakan antara cinta dan jebakan musuh.. yah.. memang tidak bisa dipungkiri kau terlena jika mengingat godaan fisik yang dimiliki perempuan itu.. entah kau lelaki keberapa yang telah jatuh dalam pesonanya.."

Dada Sasuke kembang kempis teringat ejekan Danzo diruang rapat tadi.
Terlepas dari statusnya sebagai mata - mata, Sasuke bersumpah Hinata masih perawan saat menikah dengannya.
Namun kini semua juga tampak meragukan, dulu mungkin tidak, tapi bagaimana dengan sekarang?

Menggunakan pesona fisik dan memiliki berbagai identitas hanya sekedar untuk menjerat informasi, jelas bagian dari hidup seorang mata - mata.

Tangan Sasuke mengepal erat hingga buku - buku jarinya memutih saat membayangkan tubuh istrinya terjamah pria selain dirinya.

Sebuah tangan terulur dengan segelas kopi yang masih mengepulkan asap membuat Sasuke menegakkan kepalanya.

Senyum pria matang yang serupa dengannya itu tampak begitu canggung dimata Sasuke.

"Aniki.."

Itachi duduk didepan Sasuke menyandarkan punggungnya dan meletakkan sebuah amplop berwarna coklat.

"Keputusan sudah diturunkan.." Kata pria berpangkat Mayor itu dengan nada penyesalan, " aku dan ayah tidak mampu untuk membantu lebih jauh, atau seluruh keluarga kita juga akan dicurigai terlibat.."

Sasuke mengeram penuh amarah dan membalikkan meja didepannya.

"JAGA SIKAPMU, SASUKE!"

Itachi sebetulnya tidak ingin membentak, namun ia juga tahu betapa rapuh adiknya sekarang.

"Besok Hinata akan dikirim ke penjara wanita fasilitas tingkat pertama sambil menunggu persiapan sidang.." Itachi menepuk bahu Sasuke untuk menyampaikan empati, "jenguklah dia besok.. mungkin.. ini akan menjadi terakhir kalinya kalian bertemu.."

#bersambung..