"Nona kemana bocah jabrik yang bersemangat itu? Apa dia tidak datang?" tanya paman itu bertubi-tubi melihat Sakura datang seorang diri.
"..."
"Jangan bilang kalian sedang bertengkar?" merasa pertanyaan tidak dihiraukan muncul pemikiran yang tidak-tidak melihat raut wajah Sakura yang terlihat sedih.
"Ah kalian tidak mungkin putus, kan?" tanya paman itu lagi merasa di acuhkan Sakura yang tidak juga menjawab pertanyaannya.
"Tidak" suara Sakura terdengar bergetar, matanya terasa panas air telah menggenang dipelupuk matanya sudah siap untuk jatuh.
"Dia-" Sakura menggulung lengan Yukata yang di gunakannya agar tidak basah dan mulai memasukan saringan kertas kedalam air.
SREET
BREEK
Jaring yang di gunakan Sakura terkoyak ikan emas yang hampir di dapatkannya berhasil kabur.
TES
"-sudah meninggal"
MIRACLE HANABI
Disclaimer © Masashi Kisimoto
Ranted: T
Gender: Romance, Tragedy
Warning: AT, AU, OOC, Gaje, EYD berantakan, Typo bertebaran dan Dead Charat
Story © Kimika ReiKyu
Pair: NaruSaku Slight SasuSaku
Don't Like, Don't Read!
ZRAAATS
Angin berhembus menerbangkan dedaunan dan menyapa lembut wajah seorang gadis yang sedang menangis sesenggukan di sebuah bangku taman, tempat dimana Sakura dan Naruto satu tahun yang lalu menonton pertunjukan kembang api.
Sakura menangis hatinya begitu sakit, hancur tak berbentuk. Keputusannya untuk pergi ke festival—setelah hampir satu bulan terus-menerus mengurung diri di kamar—agar bisa menyembuhkan luka hatinya, kini berbalik berubah menjadi pisau-pisau tajam yang mengiris hatinya, membuat ingatan kematian Naruto muncul kembali.
Satu bulan yang lalu Naruto meninggal karena sebuah kecelakaan lalu lintas, motor yang ia gunakan untuk menjemput Sakura pergi kencan di tabrak oleh sebuah truk. Dokter sudah berusaha sebisanya tetapi takdir berkata lain. Kami-sama telah memisahkan mereka, padahal Sakura kini benar-benar mencintai laki-laki itu.
Karma, mungkin saja? Mengingat ia dulu selalu mengacuhkan laki-laki yang mencintainya dengan tulus. Tetapi kenapa takdir begitu kejam, disaat mereka sudah saling mencintai maut memisahkan mereka.
Tangisan Sakura begitu kencang sesekali dengan suara yang bergetar nama "Naruto..." terucap di sela-sela isakan tangisnya.
SYUUT
"Sakura-chan"
DEG
DUAAR!
Suara kembang api yang begitu keras tidak dapat membuat suara yang begitu dirindukannya tenggelam. Sakura menolehkan kepalanya ke kanan, disana telah duduk manis seorang laki-laki tampan berambut pirang jabrik tersenyum, pandangan matanya tertuju pada kembang api yang menghiasi langit malam.
Senyuman itu bukanlah senyuman bodoh yang satu tahun lalu selalu menghiasi tampang bodohnya. Dalam waktu hampir satu tahun sosok itu telah berubah menjadi laki-laki tampan yang gagah, walaupun terkadang kebodohannya masih sering kembali. Hal itu bukanlah masalah bagi Sakura, karena kebodohan Naruto merupakan salah satu alasan kenapa Sakura bisa begitu mencintainya.
"Na-naruto?!" rasa tidak percaya dan bahagia memenuhi ruang hati Sakura saat melihat laki-laki yang dicintainya kini berada di sebelahnya.
"Apa kau bahagia Sakura-chan?" tanya balik Naruto tanpa mengalihkan pandangan matanya dari letusan warna-warni kembang api didepan.
"Ti-tidak, aku tidak mungkin bahagia jika hidup tanpamu Naruto." raut keterkejutan Sakura berubah kembali menjadi sedih, sedih yang teramat sangat.
"Kumohon, bawa aku bersamamu Naruto!" lanjut Sakura memohon kepada Naruto, tak ada gunanya Sakura hidup jika di dunia ini Naruto tidak ada.
SYUUT SYUUT
"Sakura-chan, apa kau percaya keajaiban?" tanya Naruto pelan seperti bisikan. "Aku percaya, dan sekarang aku berdoa semoga Sakura-chan bisa hidup bahagia." perlahan Naruto menolehkan kepalanya ke kiri Blue Sappir Naruto menatap Emerald Sakura yang sudah basah tergenang air mata.
"Ta-tapi Naruto, kebahagianku adalah kau!" Sakura masih teguh dengan pendiriannya, baginya Naruto adalah segalanya, hidupnya.
DUAR DUAAR DUARR
"Kau salah Sakura-chan, kau yang kebahagianku"
"Walau sebentar aku bahagia bisa terus bersamamu dan sekarang aku ingin kau mencari kebahagianmu sendiri Sakura-chan." perkataan Naruto begitu tulus sehingga bisa tersampaikan kepada Sakura.
"Hiks... Na-naruto" Sakura tidak mampu mengatakan apa pun, suaranya tertahan ditengorokan dan hanya isakan kecil yang dapat keluar dari mulutnya.
SYUUT
"Berjanjilah Sakura-chan, kau akan hidup bahagia!" Naruto menatap mata Sakura begitu tegas tanpa ada keraguan sedikitpun.
"Hiks..hiks ya, hiks... aku berjanji." Sakura menganggukan kepalanya, air mata terus mengalir jatuh melewati pipi tirus dan dagu runcingnya.
DUARRR!
"Aku mencintaimu Sakura-chan, SELALU" Naruto mendekatkan wajahnya dan mencium jidat Sakura lembut penuh cinta, sedangkan Sakura hanya bisa menutup kedua matanya menikmati rasa hangat yang menjalar dan memenuhi hatinya yang dingin dan kosong.
"Aku juga mencintaimu Naruto." perlahan Sakura membuka matanya. Sepi, sudah tidak ada siapa-siapa lagi hanya ada dia sendiri. Perlahan senyuman yang menghilang hampir satu bulan ini kembali kewajah tirus Sakura. "terima kasih kami-sama." Sakura sudah memutuskan akan memegang janjinya, janji kepada orang yang paling dicintainya.
~~MIRACLE HANABI~~
10 TAHUN KEMUDIAN
"Kaa-chan cepat!" seorang anak laki-laki berusia sekitar 4 tahun yang mengenakan Hakama berwarna biru Dongker berlarian di sepanjang festival yang ramai. Badannya yang kecil berlari-lari riang, pipi Cubby-nya memerah, rambut dan mata Onxy hitamnya berbinar.
"Eh!" pandangan anak laki-laki itu terhenti pada sebuah kios permainan. "Kaa-chan, Rei mau main itu!" jari kecil anak laki-laki bernama Rei itu menunjuk-nujuk sebuah kios permainan menangkap ikan emas yang berada tidak jauh darinya.
Tanpa menunggu persetujuan dari ibunya, Rei sudah lebih dulu mendekati kios permainan dan mulai berjongkok. Mata Onxy hitamnya berbinar senang saat melihat ikan-ikan emas kecil berenang kesana kemari.
"Mau coba bocah?" tanya seorang laki-laki berbaju hijau ketat dengan potongan rambut mangkok sambil memberikan sebuah saringan kertas dan mangkok kepada Rei.
Rei menolehkan kepalanya kebelakang, tidak begitu jauh dari tempatnya berjongkok seorang wanita cantik mengenakan Yukata berwarna biru muda dengan motif bunga lily putih, rambut merah muda panjangnya digulung keatas dan ditusuk dengan sebuah tusuk konde berwarna merah dengan hiasan bunga-bunga kecil berjalan pelan mendekati kios dan berjongkok tepat sebelah Rei.
"Kau boleh bermain Rei-kun." senyum wanita itu begitu lembut sehingga membuat laki-laki yang melihatnya terpesona dengan wajah memerah padam.
Senyuman manis berkembang di wajah imut Rei saat mendengar perkataan ibunya. Segera diterimanya jaring kertas dan mangkok yang disodorkan oleh laki-laki penjaga kios kepadanya.
"Kau-" laki-laki penjaga kios itu terkejut melihat wajah wanita disebelah Rei "-gadis permen kapas!" lanjutnya saat menyadari wanita didepannya adalah gadis manis berambut merah muda yang dilihatnya 10 tahun yang lalu, Sakura.
Sakura hanya bisa tersenyum mendengar julukan yang diberikan paman penjaga kios. "Sudah lama tidak bertemu Ji-san, anda tidak berubah." ujar Sakura ramah tanpa melepaskan senyum manis dari bibirnya.
Sudah 10 tahun Sakura tidak datang ke festival musim panas. Setelah peristiwa pada saat pertunjukan kembang api sepuluh tahun yang lalu, Sakura memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya ke Universitas di luar Negeri dengan menerima beasiswa dari sekolah demi mengejar cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. Setelah semua impiannya terwujud, Sakura memutuskan untuk kembali tinggal di kota kelahirannya, Konoha.
"Aahhhhhhhhhhh!"
Teriakan Rei menyadarkan sakura dari lamunannya, ditolehkannya kepalanya kekiri melihat keadaan putranya. Rei balas menatap Sakura dengan pandang sedih, karena jaringan kertas yang digunakannya kini terkoyak dibagian tengahnya.
"Kaa-chan!" Rei menatap Sakura dengan pandangan sedih yang berkaca-kaca seakan ingin menangis.
Melihat tatapan mata Rei membuat Sakura tersenyum lembut, diusap-usapnya sayang kepala Rei berusaha menenangkannya.
"Biar Ji-san ajarkan teknik menangkap ikan." Laki-laki penjaga kios berdiri dari posisi duduknya, berjalan menghampiri Rei dan berjongkok disebelahnya.
"Pertama-tama, kau harus melakukannya dengan cepat bocah. Menangkap ikannya jangan menggunakan bagian yang tengah tapi gunakan bagian kayu yang keras, dorong ikannya dari bawah agar terlempar dan tangkap!" laki-laki penjaga kios mengenggam erat tangan munyil Rei dan menggerakannya sesuai dengan instruksi yang ia berikan.
PLUK
Berhasil ikan emasnya sukses masuk kedalam mangkok yang di pegang Rei, karena senang Rei melompat-lompat kegirangan sedangkan Sakura yang melihat tingkah laku putranya hanya tersenyum.
Laki-laki penjaga kios itu berdiri sambil membawa mangkok yang tadi dipegang oleh Rei dan berjalan masuk kedalam kiosnya. Ikan yang ditangkap Rei dimasukan kedalam kantong plastik yang sudah diisi dengan air dan udara, ujung plastik di ikat dengan tali yang dibiarkan memanjang berfungsi sebagai pegangan dan memberikannya kepada Rei.
"Terima kasih" ujar Rei senang "Ji-san hebat! bisa menangkap ikan emas" tambah Rei kagum.
"Tidak, yang hebat itu Okaa-san mu, Ji-san belajar dari dia." kata paman penjaga kios sambil mengusap-usap rambut hitam Rei yang mencuat kebelakang.
Rei memandang ibunya dengan mata berbinar karena kagum.
"Kaa-chan hanya menganalisa saja sayang." Sakura tersenyum lembut kearah putranya.
Sakura berdiri dari posisi dan mengenggam tangan munyil Rei. "Kami permisi dulu Ji-san" kata Sakura sopan sambil menundukan kepalanya di ikuti oleh Rei.
"Kau tidak perlu seformal itu nona" ujar pemilik kios. "Aku senang melihatmu sekarang, datanglah lagi tahun depan." tambah paman itu ramah.
Sakura hanya menganggukan kepalanya dan mulai melangkah pergi meninggalkan kios permainan itu.
"Kaa-chan pernah pergi ke festival?" tanya Rei memecahkan keheningan.
"Ya sayang, tapi itu sudah lama sekali."
"Apa yang paling Kaa-chan suka?"
Mendengar pertanyaan putranya Sakura kembali tersenyum, sepenggal ingatan muncul di dikepalanya. "Pertunjukan kembang api" jawab Sakura.
"Wow kembang api, Rei mau lihat Kaa-can!" teriak Rei antusias.
"Baiklah, karena sepertinya sebentar lagi kembang apinya dimulai, sebaiknya kita pergi ketempat rahasia Kaa-chan."
"Rahasia?" Rei membulatkan mata bingung mendengar perkataan ibunya.
"Ya, rahasia." ulang Sakura dan mulai menarik Rei menuju pepohonan yang ada di sebelah kanannya.
.
.
.
Sakura dan Rei telah tiba ditempat rahasia Sakura, angin lembut berhembus seakan-akan menyambut kedatangan mereka. Sakura tersenyum. "Tidak berubah" pikir Sakura saat melihat tempat yang penuh dengan kenangan itu. Padahal sudah 10 tahun tetapi tidak banyak yang berubah, hanya beberapa pepohonan saja yang nampak berubah menjadi semakin tinggi.
Rei melepaskan genggaman tangan Sakura dan berlari menuju pagar besi yang masih berdiri kokoh walau sudah 10 tahun berlalu.
"Hati-hati sayang!" kata Sakura memperingatkan Rei sambil berjalan mendekatinya.
"Bintang!" ujar Rei senang sambil melihat pemandangan kota Konoha di malam hari yang dipenuhi kerlap-kerlip lampu.
"Ya, cantik sekali."
"Kaa-chan, Too-san akan datang?" tanya Rei tiba-tiba sambil menundukan kepalanya, Sakura dapat melihat kesedihan di wajah Rei.
"Tentu saja sayang, Kaa-chan sudah memberi tau tempat kita kepada Too-san." jawab Sakura sambil menyamakan tinggi badannya dengan Rei. "Too-san hanya sedikit terlambat." tambah Sakura sambil mengusap pucuk kepala Rei lembut.
SREK
Suara daun yang bergesek menarik perhatian ibu dan anak itu, sehingga secara kompak mereka memutar kepala mereka.
Tak jauh dari tempat mereka seorang pria tampan bermata Onxy dan berambut hitam gaya emo berdiri dengan gagahnya, jas hitam dengan dalam kemeja putih begitu sesuai untuknya, tak ada kata yang bisa memperjelas penampilannya.
"Too-san!" teriak Rei saat melihat pria yang ternyata adalah ayahnya dan langsung berlari memeluknya.
"Too-san lama. Lihat! Rei dapat ikan" Rei mengangkat tangan munyilnya yang menggenggam kantong plastik berisi ikan emas dan raut wajah Rei yang semula tampak cemberut kini berubah menjadi girang saat menunjukan ikan hasil tangkapannya. Sedangkan pria itu hanya menggendong putranya.
"Kami sudah menunggumu dari tadi Sasuke-kun." Sakura berjalan menghampiri ayah dan anak yang begitu mirip. Yang kecil terlihat seperti versi Chibi-nya dan yang besar terlihat seperti versi dewasanya.
"Hn, jalan menuju kesini begitu padat." kata Sasuke—nama pria berambut hitam—memberikan alasan keterlambatannya tanpa mengalihkan perhatiannya dari Rei yang kini berada dalam gendongannya.
Uchiha Sakuse laki-laki yang 11 tahun lalu menolak cinta seorang Haruno Sakura adalah suami sekaligus ayah dari anaknya. Ah, ceritanya panjang kenapa mereka bisa menikah. Intinya setelah kepergian Sakura ke luar negeri, Sakura bertemu dengan Sasuke yang entah kebetulan atau takdir juga melanjutkan ke universitas yang sama tetapi beda jurusan, Sakura Kedokteran dan Sasuke Manajemen Bisnis.
Awalnya pertemuan mereka biasa-biasa saja, toh didalam hati Sakura hanya ada Naruto, tetapi lama kelamaan mereka semakin sering bertemu dikarenakan Sasuke dan Sakura merupakan salah satu mahasiswa dengan nilai tertinggi. Pihak universitas sering memasangkan mereka dalam berbagai hal seperti perlombaan dan seminar. Lambat laun hubungan mereka mulai berkembang dan walaupun dalam hati Sakura hanya ada Naruto tapi perasaan cinta pertamanya kepada Sasuke masih ada dan entah sejak kapan bersemi kembali.
Tiga tahun setelahnya Sasuke menyatakan perasaannya pada Sakura, Sakura cukup terkejut dan dilanda kebingungan yang luar biasa. Sakura mencintai Naruto, dan Sasuke tau itu tetapi perasaan Sakura pada Sasuke masih ada belum sepenuhnya hilang. Dengan taruhan yang besar(?) Sakura memutuskan menerima perasaan Sasuke. Hubungan mereka berjalan alot(?) Sasuke bukan orang yang romantis, garis bawahi. Tapi Sasuke punya caranya tersendiri untuk menunjukan perasaan cintanya kepada Sakura walau dengan tampang Stoic andalannya itu, ya tak beda jauh dari si bodoh jabrik yang masih di cintainya sampai sekarang.
Walaupun terkadang pertengkaran dan sejenisnya sering menghiasi hubungan Sasuke dan Sakura toh akhirnya hubungan yang alot(?) itu berakhir di pelaminan tiga tahun setelahnya. Dari pernikahan itulah Uchiha Rei lahir, wajah dan gaya benar-benar dituruan dari DNA Uchiha sang ayah tetapi sifatnya diturunkan dari sang ibu, walau terkadang sifat dingin ayahnya muncul jika sudah berhadap dengan orang yang tidak dikenalnya.
"Too-chan, Rei dan Kaa-chan akan menonton kembang api" ujar Rei riang menceritakan rencananya.
Sakura tertawa kecil mendengar perkataan Rei yang begitu antusias, dielusnya sayang kepala Rei.
"Ayo Sasuse-kun, Rei-kun kita duduk disana!" tawar Sakura sambil menunjuk sebuah bangku taman.
"Hn," guma Sasuke dan mulai melangkahkan kakinya menuju bangku yang ditunjuk oleh Sakura sambil menggendong Rei, di belakangnya Sakura mengikuti Sasuke dan sesekali tersenyum melihat tingkah ayah dan anak itu.
Sakura duduk di bangku taman, di sebelah kirinya Sasuke ikut duduk sedangkan Rei duduk manis dalam pangkuan ayahnya.
"Sasuke-kun" panggil Sakura memecahkan keheningan yang dibalas gumaan oleh Sasuke "Apakah kau percaya keajaiban, Sasuke-kun?" tanyanya.
"Kau tau Sasuke-kun, ada legenda yang mengatakan jika kau berdoa pada saat kembang api festival musim panas dinyalakan maka permohonanmu akan terkabul." jelas Sakura, walau Sasuke hanya diam tapi Sakura tau Sasuke pasti mendengarkannya.
Sasuke dengus bosan mendengar perkataan istrinya. "Itu hanya omong kosong yang dibuat untuk menarik perhatian masyarakat." ujar Sasuke sambil melirik Sakura dari ekor matanya.
Sakura tertawa geli mendengar perkataan suaminya, perkataan yang sama dengan yang diucapkannya dulu saat ditanya pertanyaan yang sama.
"Tapi aku percaya Sasuke-kun" Sakura mendongakan kepalanya menatap langit malam diatasnya. "Karena aku sudah membuktikannya sendiri." lanjut Sakura sambil menutupkan kedua kelopak matanya merasakan hembusan angin yang menerpa wajah Sakura dan perlahan mulai membayangkan sosok laki-laki berambut pirang jabrik yang selalu tersenyum kearahnya, entah kenapa tiba-tiba perasaan rindu memenuhi ruang hati Sakura.
SYUTT
"Sakura-chan"
DUAAR
Sakura menolehkan kepalanya ke kanan, matanya membulat. Sosok itu, sosok yang selalu dirindukannya selama ini, sosok yang sering muncul di dalam mimpinya dan sosok pemilik hatinya, Naruto.
SYUUT SYUUT
DUAAR DUARRR!
"Naruto..." guma Sakura kecil yang lebih pantas disebut bisikan saat melihat sosok Naruto, sosok yang masih sama dengan yang dilihatnya 10 tahun lalu, kini sedang tersenyum hangat kearahnya.
"Apa kau bahagia Sakura-chan?" tanya Naruto, senyuman hangatnya masih belum lepas dari bibir tipisnya.
Sakura membalas senyuman Naruto walaupun di sudut matanya air hangat sedang menggenang siap terjatuh kapan saja. "Ya, aku bahagia Naruto." jawab Sakura.
"Syukurlah..." ujar Naruto lega mendengar jawaban Sakura. "Aku juga bahagia melihatmu Sakura-chan." Perlahan, Naruto menggerakan tangannya menyentuh pipi Sakura dan mengusapnya lembut.
Sakura memejamkan matanya, membiarkan air hangat yang sudah menumpuk di ujung matanya menetes. Sentuhan ini adalah sentuhan yang masih sama dengan yang terakhir kali dirasanya, perasaan hangat langsung menjalar kehati Sakura.
"Aku SANGAT mencintaimu Sakura-chan." Naruto mendekatkan wajahnya dan perlahan menempelkan jidatnya ke jidat Sakura. Memandangi wajah cantik Sakura begitu dekat membuat lengkungan halus terpahat apik diwajah Naruto.
SYUUT
"Ya, aku juga SANGAT mencintaimu Naruto." Sakura membuka matanya, Emerald dan Blue Sappir akhrinya bertemu kembali. Perlahan tangan Sakura bergerak menggenggam erat tangan Naruto yang masih menyentuh pipinya.
"Semoga kau bisa hidup bahagia selamanya Sakura-chan." doa tulus Naruto untuk wanita yang paling dicintainya sambil memperlihatkan senyuman yang begitu tulus.
Perlahan tubuh Naruto bersinar terang dan sosoknya mulai menghilang. Sakura mengeratkan genggaman tangannya pada Naruto, berharap sosok itu tidak akan lenyap meninggalkannya.
Semakin lama sosok Naruto mulai menghilang berubah menjadi keping-keping kecil cahaya. Sakura sudah tidak dapat membendung air matanya yang terus saja menetes dengan deras.
DUAAARR
Bersama dengan letusan kembang api yang terakhir sosok Naruto menghilang.
"Naruto..." guma Sakura lirih saat melihat Naruto yang sudah menghilang dari hadapannya.
"Kaa-chan" suara kecil Rei menyadarkan Sakura, perlahan ditolehkannya kepalanya ke kiri menghadap Rei yang memasang tambang bingung, masih didalam pangkuan Sasuke.
"Kaa-chan menangis?" tanya Rei khawatir saat melihat butir-butir air mata yang masih berjatuhan dari mata indah Sakura, dibelakang Rei tampak Sasuke yang mengerutkan alisnya tidak mengerti kenapa istrinya menangis.
Perlahan Sakura menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil menghembuskan nafas, perlahan Sakura mencoba menenangkan perasaannya dan mulai menghapus sisa-sisa jejak air mata dikedua pipinya.
"Sakura..." suara berat Sasuke terdengar khawatir melihat kondisi istrinya yang tidak biasa.
"Maaf Sasuke-kun, Rei-kun! Aku hanya terharu melihat kembang apinya." ujar Sakura bohong, tidak ingin membuat suami dan anaknya semakin mengkhawatirkan keadaannya.
"Kau yakin Sakura?" tanya Sasuke tidak percaya.
"Ya, aku baik-baik saja Sasuke-Kun." perlahan senyuman hangat Sakura kembali dan mulai berdiri. "Pertunjukan kembang apinya sudah selesai. ayo, kita pulang!" tawar Sakura.
"Yaaa~ aku masih mau lihat kembang api" ujar Rei kecewa sambil mengembungkan pipi Cubby-nya.
"Tahun depan kita datang lagi." mendengar perkataan ayahnya Rei tersenyum senang dan Sasuke balas tersenyum tipis, senyum yang hanya akan diperlihatkan kepada orang-orang yang dicintainya. Sasuke mulai berdiri, perlahan diletakannya Rei keatas bangku dan mulai melepaskan jas yang dikenakannya lalu dipasangkannya kepundak Sakura.
"Sasuke-kun, aku baik-baik saja." tolak halus Sakura sambil mencoba melepas jas Sasuke dari pundaknya.
"Itu bukan untukmu" ujar Sasuke datar dan mulai kembali menggendong Rei. "Aku melakukannya untuk calon bayiku yang ada di dalam perutmu." tambah Sasuke sambil menyeringai dan mulai meninggalkan Sakura yang masih mencerna perkataannya.
BLUSH
Wajah Sakura memerah menyadari perkataan suaminya, dieratkannya jas Sasuke dipundaknya dan mulai berlari kecil mengejar Sasuke yang berjalan didepannya.
Saat posisi Sakura sejajar dengan Sasuke, perlahan tangan Sasuke yang bebas digenggam erat oleh Sakura dan mulai melangkah pergi meninggalkan taman dengan senyuman manis menghiasi wajahnya.
"Ya aku bahagia Naruto, Sangat bahagia. Terima kasih atas semuanya"
"Aku tidak akan pernah melupakanmu. Kau akan selalu memiliki tempat khusus dihatiku, SELALU."
Kebahagian itu relatif tergantung dari cara kita mensyukurinya, cintai semua orang yang ada disekitarmu jangan pernah sia-siakan mereka karena penyesalan selalu datang terlambat.
Dan takdir tidak akan pernah mempermainkan seseorang, karena takdir tau mana yang baik mana yang tidak maka terimalah apa yang takdir berikan kepadamu sesungguhnya itu adalah yang terbaik untukmu.
~FIN~
Author Note:
Huaaaaa akhirnya Fict pertama saya selesai dengan sangat memaksa dan gajenya. Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Reader-sama yang sudah menyempatkan diri untuk membaca dan meninggalkan Review untuk Fict gaje dari Author pemula seperti saya ini. Dan saya tidak lupa mengucapkan terima kasih atas saran dan masukan dari Reader-sama yang sangat membantu saya dalam memperbaiki cara penulisan saya yang masih sangat berantakan.
Dan Special Thanks saya ucapkan untuk sahabat saya Youlee-chan yang dengan sabar membantu saya memeriksa Typo yang tidak terhitung jumlahnya dan bersedia saya ganggu setiap hari hehehe.
Emh, sebenarnya saya sedikit bingung dengan cara penulisan menggunakan tanda titik diakhir dialog dan juga Bold. Apa semua dialog harus diakhiri tanda titik? Dan apakah saya sudah benar menggunakkan Bold untuk bagian dialog arwah Naruto yang berbicara itu? (jika tidak keberatan tolong dijawab).
Baiklah ini balasan atas Review yang saya terima:
Rinzu15 The 4th Espada: Begitulah Naru beneran meninggal dan sejujurnya aku juga gak ikhlas nulis Naru kayak gitu #dirasenggan.
Terima kasih sudah bersedia memberikan Review pertama serta saran dari Rinzu, dan semoga di Chapter kali ini kesalahannya sudah sedikit berkurang
Miyoko Kimimori: Salam kenal Miyoko-chan! Naru emang beneran meninggal dan untuk alasannya sudah dijelaskan diatas (;_;)
Aku ucapkan terima kasih atas saran dan masukan dari Miyoko-chan, tenang itu bukan Flame kok aku malah senang berkat Review dari Miyoko-chan aku jadi sadar dimana letak salahnya, sekali lagi terima kasih. Dan aku berharap semoga Chapter kali ini gak begitu mengecewakan.
Ammai Hardinata: Aku ucapkan terima kasih kepada Hardinata karena sudah bersedia meninggalkan Review di Fict ini. Untuk Chapter kedua ini aku sudah berusaha sebaik mungkin memperbaiki penulisan yang salah, itu juga berkat masukan dari Review yang aku terima.
Aku harap semoga Chapter terakhir ini sudah lebih baik dari Chapter sebelumnya dan tidak terlalu mengecewakan Hardinata.
Aurora Borealix: hehehe terima kasih atas pujiannya (/)
Sayang sekali Naruto emang beneran meninggal, sebenernya gak mau buat Naruto kayak gitu tapi apa boleh buat ini demi pengembangan cerita. (T.T)
Aurora terima kasih sudah mau baca dan meninggalkan Review di Fict gaje perdana aku ini, dan semoga Chapter terakhir ini gak mengecewakan ya... :D
Youlee-Chan: Kyaaaa terima kasih sudah mampir dan menyempatkan diri untuk Review Youlee hehehehe
Aku beneran terharu Youlee-Chan buat acount demi bisa Review Fict aku #nangis. Dan terima kasih juga sudah mau jadi Beta Reader untuk orang cereboh sepertiku ini (_ _)
Tapi sepertinya aku harus minta maaf, karena kedepannya aku akan semakin membuatmu repot, loh... XD #Digorok
.3: Maaf, apa boleh buat (^.^")a
Ya ini sudah lanjut, semoga Chapter terakhir ini gak mengecewakan.
Thanks to:
Rinzu15 The 4th Espada
Miyoko Kimimori
Ammai Hardinata
Aurora Borealix
Youlee-Chan
.3
Salam hangat,
Kimika Reikyu
