Adinda P. Pertiwi

Nama tersebut terukir indah di lempengan perunggu yang sangat halus, ditanamkan ke dalam bantalan kulit berwarna Cokelat muda. Terdapat pula title kecil dibawahnya dalam gaya penulisan yang sama, 'Scholarship Student'. Kemewahan tersebut dimiliki oleh kotak kecil yang hanya dapat dibuka dengan kunci kecil, juga terbuat dari perunggu dengan kepala kunci berbentuk huruf H cantik berlapiskan emas. Kotak tersebut menyimpan beberapa seri kunci kecil yang masih belum diketahui untuk membuka apa saja. Beberapa kuncinya bertahtakan seperti batu mulia—yang mengejutkannya adalah batu mulia sungguhan—yang sangat elegan. Kunci-kunci tersebut mungkin bagian awal dari benda mewah lainnya yang akan gadis tersebut terima.

Gadis berambut Hitam dengan paras sangat manis befigur mungil dan penuh tenaga, adalah teman dari gadis tersebut. Ia memegangi kotaknya dengan sangat erat, wajahnya tertutup oleh rambut panjang yang bergelombang di bagian ujungnya. Pemandangan tak biasa tersebut membuat si gadis mendatangi temannya yang mungil.

"Ada apa?"

"Hah! Jangan lihat!" Ia berseru tiba-tiba, mengejutkan si gadis. "Aduh, bikin kaget ya, Adinda? Namaku salah di tulis, memalukan deh kalau ketahuan."

Adinda, gadis berkuncir kuda dengan rambut hitam lebat, melihat teman barunya dengan ekspresi bingung. Tubuhnya yang diatas tinggi rata-rata perempuan—mendekati 170, berkulit Cokelat gelap, terlihat sangat kontras diantara murid-murid perempuan lainnya yang rata-rata berambut dan berkulit terang, dan terlihat sangat manis, berdandan, memakai pakaian bermerek, rok, terusan dengan rumbai-rumbai putih atau hitam. Gelang dan kalung terbuat dari antara perak, atau emas atau emas putih. Anting-anting, cincin. Semua yang tak dapat dimiliki Adinda, semua yang membuat Adinda sangat berbeda dengan lainnya, juga mempertegas statusnya sebagai murid Beasiswa. Beasiswa yang ia dapatkan secara tak sengaja saat ia mendaftarkan dirinya ke SMA-SMA yang terdaftar pada daftar sekolah setelah ia lulus SMP di kampung halamannya—kota kecil yang agak terlalu dekat dengan kota besar, membuat kota kecil tersebut terkena sentuhan modern.

Otak cerdas bukan saja apa yang selalu bibinya puji dari Adinda. Kekuatannya yang besar dari berolahraga rutin, hobinya untuk berlari empat kali sehari memutari kota, memberikannya stamina yang tak dapat ditandingi gadis biasa, dan juga kaki kuat yang membuatnya dihadiahi lima medali emas, dan dua perak dalam lomba lari dan Marathon. Berkat bibinya, yang selalu ingin tahu, yang selalu penasaran, yang selalu bertanya, "kenapa bisa?" dan tak menyerah sampai ia mengetahui akar dari hal yang ia ingin ketahui, menghujani Adinda dengan ilmu pengetahuan, dengan rasa ingin tahu yang tinggi sejak ia kecil. Berbeda dengan orang tua lainnya yang akan kebingungan dan menghindar saat anaknya terus bertanya "kenapa?", bibi justru menganggap itu sebagai tantangan untuknya mencari tahu lebih dalam lagi demi keponakannya yang sangat manis. Semangat bibinya pula saat beliau masih muda membuat Adinda menyukai bidang olahraga.

Dan Adinda akan membalas kebaikan bibinya selama ini dengan lulus dari sekolah ini—Asrama Hetalia, sekolah yang sangat terdepan, dan rata-rata memiliki murid dari kelompok ekonomi menengah keatas—, hal pertama yang akan ia lakukan saat bertemu dengan bibinya saat wisuda adalah memeluk bibinya, berterima kasih sebanyak yang ia mampu, dan bekerja, menggantikan peran bibinya, menyudahi beban hidupnya.

"Adinda?" Temannya melambai-lambai persis di depan wajah Adinda. "Pertiwi?"

"Aku tak melamun, hei Mei." Adinda menunjuk ke arah kerumunan murid-murid, "aku mencari Elizaveta, Elizaveta Hedervary."

"H-hah? Hedervary? Hedervary kembali—. . ." Ia mulai bergumam pelan, mengatakan sesuatu dengan wajah yang terlihat tegang.

Xiao Mei. Gadis manis berwajah oriental. Figurnya yang kecil membuat Adinda terlihat seperti raksasa saat ia berada di samping Mei. Ia datang dari negeri seberang. Ia juga yang memberitahukan Adinda kalau banyak sekali keluarga—termasuk keluarga Mei—yang sudah bersekolah di asrama Hetalia bahkan sedari kakek dari kakek buyutnya, dan kebanyakan adalah termasuk dari murid kebanggaan asrama Hetalia. Di samping itu, Mei juga membantu Adinda mengetahui skema letak-letak bangunan yang ada di dalam kompleks asrama karena tadi pagi, murid sudah diharuskan untuk memasuki kompleks, diberitahukan peraturan-peraturan dasar, lalu diperkenalkan dengan guru-guru yang akan mengajar, dan setelahnya langsung menyuruh murid-murid untuk beristirahat di asrama yang dibagi menjadi dua, asrama Laki-laki dan perempuan. Bangunan asrama pun dibagi lagi menjadi tiga bangunan menurut tingkatan kelas para murid.

Bangunan asrama perempuan memiliki delapan lantai untuk kelas satu. Kepala asrama untuk ketiga bangunan asrama perempuan adalah Françoise Bonnefoy, dengan panggilan miss Franci, wanita yang sangat cantik dan elegan dengan rambut emas bergelombang panjang yang ia kuncir dan tata. Mata birunya menghipnotis para murid laki-laki saat hari pertama mereka masuk ke kompleks asrama. Beliau adalah guru yang mengajarkan tata krama, bahasa, dan sopan santun di program kelompok Reguler. Beliau juga yang akan menghukum murid perempuan. Beliau juga termasuk dari kelompok guru yang mendisiplinkan murid, menjaga keamanan di dalam kompleks asrama, dan yang akan bertanggung jawab jika murid perempuan melakukan tindakan yang tak menyenangkan di luar kompleks. Mei juga menambahkan kalau dahulu miss Franci adalah alumni dari asrama Hetalia, salah satu yang terbaik pula.

Di depan pintu gudang yang berada di selatan bangunan kelas satu asrama wanita di lantai lima, miss Franci sedang menjelaskan kegunaan masing-masing kunci; kunci untuk membuka loker di bangunan sekolah, kotak surat di bangunan asrama perempuan, kunci loker pakaian seragam di bangunan sekolah, dan kunci-kunci lainnya dengan fungsi yang sama—membuka sesuatu. Tetapi Adinda merasa janggal saat tiba-tiba miss Franci bilang kalau ia ada keperluan saat Adinda bertanya mengenai beberapa kunci terakhir yang tak dijelaskan kegunaannya oleh miss Francis. Mei pun menghindari pertanyaan Adinda dengan menjawab,

"Mungkin duplikat kalau kita kehilangan kunci lain?"

Sebagai keponakan dari bibinya, jawaban itu tak memuaskan Adinda. Dan ia memiliki perasaan yang kuat kalau hal ini bukanlah hal yang sepele, jadi ia menulisnya di jurnal jika suatu saat ia butuh diingatkan mengenai ini. Tetapi ia belum menyerah dan bertanya kepada gadis mungil lainnya—lebih mungil dari Mei—dengan rambut pirang pendek.

"Ah! Aku ingat bruder pernah berbicara soal... Uh, kekacauan? Sepertinya itu mengenai—," tanpa Adinda duga, Xiao Mei langsung menutup mulut gadis tersebut. Wajahnya keras, marah, takut, panik. Tetapi ekspresi itu segera hilang dan berganti dengan wajah ceria yang biasanya.

"Ayo Lili, Adinda, mau makan malam?"


Adinda merasakan ingin sedikit berpetualang dengan indra pengecapnya dan mencoba beberapa makanan yang baru ia lumayan kenal, biarpun ia pernah lihat dan dengar bagaimana rasanya oleh orang-orang yang berlalu lalang di kota asalnya. Makanan tersebut makanan dari negeri barat, dan negeri yang selalu bersalju setiap tahunnya. Ada juga yang dari negeri asal miss Franci. Roti, daging sapi panggang dengan bumbu saus yang sangat menggugah selera, minuman bersoda, jus dengan campuran berbagai macam buah juga susu yang dinamai Smoothie. Namun sayangnya Adinda tak dapat memuaskan perutnya karena ia berasal dari timur dimana makanan pokoknya adalah Nasi. Begitu pula dengan Mei yang juga kurang menyukai menu, terasa "Kosong", katanya, biarpun ia sudah menduganya.

Sementara itu, Lili Zwingli, adalah gadis yang berasal dari barat bersama kakaknya, di negeri yang bertetangga dengan banyak negeri lainnya. Porsi itu untuknya agak terlalu berlebihan, selain karena memang ia mungil dan tak memerlukan terlalu banyak asupan makanan untuk memenuhi tanki tenaganya.

"Adinda." Tiba-tiba Mei memotong Adinda saat ia sedang berbicara mengenai musik karya musisi terkenal yang berasal dari barat dengan Lili.

"Ada apa Mei?"

"Soal apa yang Lili katakan mengenai 'kekacauan', lupakan lah."

Permintaan tersebut membuat Adinda agak terkejut. Ekspresi Mei pun terlihat agak serius, matanya menatap tajam lurus, iris matanya memantulkan wajah ragu Adinda.

"Bisa berbahaya. Jangan sampai tahu, nanti tak bisa kembali." Ia masih terus menatap Adinda, dan setelah beberapa detik, barulah ia kembali memakan salad nya dengan senyuman tipis.

Mendengar kalimat Mei, Lili kini merasa bersalah telah memberitahukan Adinda tentang hal tersebut. Biarpun kejadian tersebut sudah terjadi sudah sangat lama. Disisi lain, perasaan Adinda benar mengenai hal ini, dan ia kali ini tak menganggap remeh peringatan Mei, karena tahu terlalu banyak mengenai suatu sejarah kelam pasti ada bahaya dan konsekuensinya, itu biasa. Tetapi ia sangat ingin tahu apa sebenarnya kekacauan tersebut, namun peringatan dari Mei membuatnya mengkhawatirkan jika bibinya akan ikut terseret dengan masalah yang mungkin akan menimpanya jika ia ingin mencari tahu lebih jauh. Hal ini sepertinya sepele, sejarah biasa, tetapi yang memantik api rasa keingin tahuannya adalah Xiao Mei. Ekspresinya saat ia menjawab pertanyaannya mengenai beberapa kunci yang tak ada gunanya, juga bagaimana Mei menghentikan Lili, dan bagaimana ia beberapa saat lalu memperingati Adinda dengan seserius itu.

Xiao Mei mungkin baru Adinda kenal sedari tadi sore, saat tiba-tiba menyamai kecepatan lari Adinda—yang memang tak terlalu cepat karena menyeret koper, membawa tas besar di punggungnya, membawa tas selempang di bahunya, dan menenteng jaket milik Elizaveta yang menyelimuti Adinda saat tertidur di kereta. Mei pula yang berbicara terlebih dahulu, dan tak berhenti sama sekali. Mei pun mau berbaik hati memberitahukan macam-macam kepada Adinda yang terbilang baru di kota kecil yang dikelilingi bukit tersebut. Kebaikan Mei membuat Adinda khawatir akan perubahan yang tiba-tiba tersebut semenjak Mei melihat nama di kotak kuncinya yang salah tulis.

Sebenarnya apa yang terjadi?