" Sebenarnya ada satu cara ampuh yang tidak perlu mengorbankan nyawa siapapun…"Bisikannya terdengar berat dan seduktif. Entah kenapa perasaanku jadi tak enak.
" M-mwo?"
" Berhubungan badan denganku. Aku harus 'menidurimu' dulu."
liciousnam
Present~
.
.
.
.
The Ring
Genre : Romance, Fantasi, Horror
Rating : T
Cast : Lee Sungmin, Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kim Ryeowook dan akan terus bertambah.
Pairing : Kyumin and other
Length : Series
Disclaimer : All cast in my fic are belong to God and themselves. This fic absolutely mine.
Warning : Abal| OOC| EYD yang tidak sesuai| Typo| Boys Love| YAOI| GAJE | Membosankan
Summary : Gara-gara hampir tertimpa rak buku di perpustakaan sekolah Sungmin jadi berurusan dengan dewa egois yang menyebalkan….
Don't Like Don't Read!
.
.
Enjoy~
.
.
.
.
.
Previous Chapter
Aku berinisiatif menjalankan kehendak perawat muda itu berhubung kedua teman Sunny tengah berduka dan menangis tersedu-sedu. Kulihat Heechul ahjussi ikut mengeluarkan air mata bahkan aku yang baru saja mengenal Sunny ikut merasakan pilu tersebut.
Aku bergegas menuju ruang guru. Membiarkan sosok Kyuhyun tersenyum puas dengan hasil kerjanya yang membuatnya terlihat sebagai makhluk yang mengerikan di mataku. Detik ini juga aku mulai merasa takut padanya.
Chapter 2 : About the luck and a soul
" Jangan dekat-dekat denganku! Kau tadi mengaku apa? dewa pencabut nyawa? Cih! Kau lebih pantas disebut iblis pencabut nyawa!"Seruku berjalan setengah berlari menjauhi Kyuhyun. Namun namja mengerikan itu terus mengikutiku di belakang tanpa berniat berhenti sedikitpun.
" Itu sudah ketetapan. Aku hanya membantunya dan melaksanakan tugasku. Itu saja."Suara datar Kyuhyun terdengar dari belakang. Aku langsung menghentikan langkahku. Bukan, bukan karena kalimat yang dewa pabbo itu lontarkan melainkan karena mataku menangkap sosok Heechul ahjussi yang tengah memasuki sebuah kelas dengan mata yang agak sembab.
Aku beringsut untuk menangkap suara yang keluar dari ruang kelas tersebut. " Yeorobun, kita baru saja kehilangan teman sekelas kalian yang sangat kita cintai. Lee Soonkyu meninggalkan kita karena penyakit yang selama ini berusaha ia lawan dengan penuh perjuangan. Ia adalah anak baik dan cerdas yang selama ini menjadi salah satu murid panutan di sekolah ini. Ia bahkan ingin menghabiskan waktu terakhirnya di tengah-tengah kalian. Dia tetap ceria bersama kalian. Dia tetap tersenyum bersama kalian. Dia ingin 'pergi' karena mendapat banyak kebahagian dari kalian bukan karena kanker otak yang selama ini menggerogotinya…."Hatiku meringis mendengar kalimat demi kalimat yang mengalir dari mulut ahjussi cantik itu. Aku merasa jeongmal pabboya karena tidak bisa menolong Sunny.
Seharusnya tadi aku mencegah Kyuhyun 'memutuskan' roh Sunny dari raganya. Sunny mungkin bisa tertolong karena ada banyak orang yang sangat menyayanginya.
" See! Kau liat sendiri 'kan kalau memang sudah saatnya yeoja itu meninggalkan orang-orang disekitarnya."Ujar Kyuhyun yang ternyata masih setia berdiri dihadapanku dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya. Ia bersikap angkuh. Membuatku semakin muak dengan dewa yang menyerupai setan ini. Aku menarik napas panjang. Berharap emosiku ikut lepas bersamaan dengan napas yang ku hembuskan tersebut.
" Aku takut dekat denganmu. Menjauhlah."Kalimat dengan nada lemah lah yang berhasil terlontar dari mulutku. Aku lelah menghadapi namja egois yang ada di depanku ini.
" MWO?"Namja berkulit pucat yang mengaku dewa pencabut nyawa itu menatapku geram sampai-sampai ia menggeretakkan giginya dan tangannya mengepal kuat. Tiba-tiba saja ia menarik tanganku dengan kasar. Ia mengiringku secara paksa.
Langkahku terseok-seok mencoba menyesuaikan langkah cepatnya yang panjang. Aku ingin berontak tapi tak bisa. Ingin melarikan diri tapi tangannya mencekal tanganku begitu erat. Akhirnya aku hanya bisa pasrah di seret oleh namja gila ini.
Sesampainya di dalam sebuah ruangan kelas yang kosong, ia menarikku masuk dan menutup pintu tak berdosa -yang ada di ruangan tersebut dengan kasar. Detik selanjutnya namja gila itu menghentikan langkahnya dan berdiri tepat di hadapanku. Ia tersenyum –err licik. Jujur saja, aku benar-benar takut sekarang. Meski sama-sama namja tapi dia 'kan bukan manusia. Dia itu dewa! Dewa pencabut nyawa malah. Dan aku? Aku cuma manusia biasa. Itu membuatku terdesak untuk merasakan rasa takut yang agak berlebihan.
" DENGAR! Aku tidak mau bermain-main lagi denganmu! Aku mulai geram dan kehabisan kesabaran menghadapi manusia pabbo sepertimu. Kau tidak mengerti kinerja tugasku ini. Kau tidak tau apa-apa! Jadi, kembalikan cincinku sekarang karena aku tidak bisa kembali untuk menerima tugasku selanjutnya tanpa cincin itu. Cincin itu sangat penting bagiku!"Teriak Kyuhyun yang terlihat sangat murka. Nada suaranya terdengar dingin dan tajam. Ia menatapku lekat-lekat. Begitu menusuk. Membuatku merasa sangat risih. Dan takut pastinya.
" Aku sudah menolongmu paling tidak berterima kasihlah dengan mengembalikan cincin itu!"Pintanya kali ini mulai melunak.
Perlahan tanganku yang terlihat gemetar mulai berusaha menarik cincin perak di jari manisku agar segera terlepas. Aku terus dan terus berusaha bahkan berkali-kali mengumpat kesal karena cincin laknat itu tidak juga lepas. Perasaanku campur aduk. Takut, kesal, geram bahkan aku hampir menangis sekarang. Bukan, aku bukan namja yang gampang menangis tapi semua keadaan ini, semua perasaanku juga perilaku Kyuhyun entah kenapa membuat cairan nista ini meleleh begitu saja.
" Arghh.."Isak tangisku bercampur dengan erangan kekesalan yang tak bisa kutahan. Aku terus saja berusaha dengan begitu gugupnya. Tapi usahaku sia-sia. Sampai tubuhku berkeringat dingin dan napasku tersengal-sengal 'pun tetap saja cincin tersebut tidak bisa lepas. Memang terdengar agak berlebihan tapi seperti itulah keadaanku sekarang. Cukup mengenaskan.
Kyuhyun menarik napas geram. Tanpa ada rasa iba sedikitpun di sudutkannya aku hingga menyandar tepat di dinding ruangan. Kedua tangannya menumpu ke dinding yang tengah kusandari. Ia berdiri dengan kedua tangan yang mengurungku seolah tak ingin aku kabur bahkan kabur dari tatapan matanya sekalipun. Oh Tuhan! Apa yang harus aku lakukan sekarang?
" Baiklah. Aku menyerah. Sekarang terserah padamu saja. Jika kau ingin memotong jariku juga tak apa yang penting kau puas!"Saking geram dan kesalnya aku, aku sampai berbicara asal-asalan di depan dewa pencabut nyawa ini tanpa memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu.
Aku menghapus airmataku dengan kasar. Biarlah. Aku benar-benar putus asa sekarang. Aku sudah mati-matian berusaha tanpa mempedulikan jemariku yang keadaanya cukup memprihatinkan sekarang tapi tetap saja hasilnya nihil. Dan sekarang Namja menyebalkanitu menyeringai tajam. Ia menatapku intens. Sedangkan aku memilih untuk menyembunyikan wajahku dengan menunduk. Harus kuakui dengan tatapan seperti itu saja aku sudah merasa bahwa nyawaku sudah dalam genggaman tangannya. Mengerikan.
" Aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan cincin itu kembali karena kau tahu sendiri kalau cincin itu bukan cincin biasa. Cincin itu sangat mempengaruhi jati diriku sebagai dewa pencabut nyawa. Dan kau juga perlu tau beberapa hal mengenai cincin itu. Pertama, kalau cincin itu tidak aku kenakan dalam jangka waktu panjang aku bisa kehilangan tugas, kehilangan kekuatan, kehilangan jati diri bahkan 'mati', intinya cincin itu berpengaruh besar untukku…"Nada suaranya tetap tajam dan dingin.
' Benarkah? Benarkah begitu? Lalu kenapa kau bisa sebegitu cerobohnya terhadap cincin ini? Kenapa terus-terusan menyalahkanku? Kau 'lah yang mengacaukan itu semua'Tentu saja kalimat penuh kekesalan dan amarah ini hanya tertahan dalam hatiku saja.
"Kedua, kalau cincin itu dikenakan orang lain atau lebih tepatnya manusia pabbo sepertimu kau bisa melihat ritual yang berhubungan dengan kematian, melihat roh dan makhluk lainnya yang sejenis denganku…"Aku yakin ia masih menatapku saat ini. Untuk kali ini aku setuju dengannya. Aku bisa melihat roh Sunny sudah merupakan bukti yang cukup kuat. Untuk saat ini hal tersebut bukan masalah besar untukku.
"Tetapi jika cincin itu dipaksa lepas darimu dengan cara apapun kau akan langsung mati. Karena apa? karena cincin itu akan menyerap semua energimu. Energy manusia."Ia kembali menjelaskan dengan sikap tenangnya yang entah kenapa membuatnya semakin menyebalkan dimataku.
Ternyata cincin ini memang bukan cincin biasa. Bukan kehebatan dan pengaruhnya saja yang begitu besar, kekuatan magisnya juga mempunyai dampak buruk pada manusia biasa sepertiku. Dampak mengerikan yang membuktikan kalau cincin ini tidak boleh digunakan oleh sembarangan orang. Cincin ini hebat dan keren tapi tidak terlalu pintar untuk melekat di jariku. Bukankah cincin ini bodoh? Atau memang ada sesuatu pada cincin ini? Aishhh..semakin konyol saja pemikiranku ini.
Lalu tadi dewa di depanku ini bilang apa? Mati? Yang benar saja. Membayangkannya saja sudah membuatku bergidik. Tubuhku langsung terasa lemas dan bergetar. Walau terdengar memalukan, kuakui kali ini aku sangat takut. Dan aku benar-benar menggigil ketakutan sekarang. Semuanya jelas terasa sendu dan menyedihkan." Lebih baik kau tidak usah menolongku."Lirihku sarat akan kekecewaan.
" Jadi kau menyesali nyawamu yang selamat beberapa jam lalu? Dan kau sudah siap untuk mati? Baiklah. Mati beberapa jam lalu digantikan dengan mati sekarang sepertinya penawaran yang bisa ku terima."Tawa mengejek terdengar dari mulut namja yang malas kusebutkan namanya.
Aku memberanikan diri mengangkat wajahku dan menatapnya tajam. " Aku tidak mau mati dengan cara seperti ini!"Bentakan kasar terlepas tanpa sempat ku cegah. Ku tatap Kyuhyun dengan penuh kebencian. Dia malah tertawa sinis dan mendekatkan wajahnya ke telingaku. Namja tinggi itu menjilat daging tak bertulang –telinga- milikku membuatku kontan saja merasa geli. Detik selanjutnya ia mulai membisikkan sesuatu disana.
" Sebenarnya ada satu cara ampuh yang tidak perlu mengorbankan nyawa siapapun…"Bisikannya terdengar berat dan seduktif. Entah kenapa perasaanku jadi tak enak.
" M-mwo?"
" Berhubungan badan denganku. Aku harus 'menidurimu' dulu."Bisikan Kyuhyun membuat telingaku langsung memanas. Panasnya menjalari seluruh sisi wajahku tanpa sempat ku cegah. Mataku ikut membelalak kaget. Dengan cepat ku dorong tubuh kurus yang sedari tadi mengurungku. Ia termundur beberapa langkah tapi wajahnya tetap menyunggingkan senyum penuh arti.
" Micheosseo! Apa kau bercanda? Mana ada cara seperti itu. Kau mau membodohiku? Atau jangan-jangan kau ini homo!"Aku langsung memanfaatkan kesempatan untuk balik menyerangnya. Kyuhyun tertawa kecil dan bersenandung pelan. Aku menantikan kata 'just kidding' keluar dari mulutnya. Namun ia justru mendekatiku dan menatapku lekat.
" Jangan berbicara sembarangan! Dewa homo, eoh? Yang benar saja! Aku tau segalanya tentang cincin yang sekarang kau kenakan. Aku juga sudah berbaik hati untuk tidak mengorbankan nyawamu tetapi kau malah berkata seperti itu. Dasar manusia tidak tau diri!"Nada bicaranya terdengar datar, tak beda jauh dari raut wajahnya. Namun mata obsidian itu berkilat tajam. Menyorotkan kemarahan yang sebenarnya.
Tiba-tiba saja jemari dengan kulit pucat itu bergerak cepat untuk menggapai pergelangan tanganku. " Arraseo! Kajja! kita potong jari tanganmu sekarang! Tapi sebelumnya kau ku ijinkan untuk berpamitan dengan orang-orang terdekatmu sebelum kematianmu."Kyuhyun berujar tanpa mempedulikan aku yang mulai ketakutan lagi. Tanpa ragu ku tarik kembali tanganku sehingga lepas dari pegangannya.
" Bukankah kau bilang kematianku sudah di tetapkan? Kenapa repot-repot menolongku kalau akhirnya aku mati sebelum waktu yang di tetapkan?"Pancingku berusaha mencari-cari alasan. Aku berharap Kyuhyun tidak serius dengan kata-katanya tadi.
" Dengar ya manusia bodoh! Sebelumnya kau bukan siapa-siapa, kau cuma manusia biasa tetapi sekarang sudah berbeda. Walaupun sebagian insiden ini karena kecerobohanku tapi tetap saja kau sudah di cap sebagai manusia perusak sistem kerja kami. Dengan kata lain manusia sepertimu demi kebaikan, keseimbangan dan keamanan alam semesta kau wajib untuk disingkirkan! Dimusnahkan! Agar tidak mengganggu dan menghalangi kinerja kami. Arra?"Penjelasan Kyuhyun membuatku tak bisa mengatupkan mulutku. Jantungku berdegup kencang dan darahku mendesir hebat. Great! Aku ketakutan lagi sekarang.
" Andwae! Aku tidak mau! Aku belum siap mati!"Aku berteriak penuh ketakutan seraya mengambil langkah cepat menuju pintu. Sialnya pintu tersebut tak bisa ku buka. Aku terpaksa berteriak dan menendang-nendang pintu laknat tersebut. Ketika aku menolah aku kembali bergidik melihat tatapan dingin Kyuhyun. Ia berjalan mendekatiku perlahan. Sementara aku terus meronta di depan pintu seperti orang gila. Masa bodo! yang penting aku bisa kabur sekarang. 'Siapa saja, kumohon tolong aku!'
Entah karena seseorang mendengar jeritan batinku atau memang Tuhan sedang berpihak padaku, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dengan dorongan keras dari luar. Dorongan itu membuatku sedikit terjungkal ke belakang dengan tidak elit. Ku usap pelan kepalaku yang sempat mencium sisi pintu dan menyebabkan benjolan kecil di dahiku. Meski terdengar penuh kesialan tapi aku masih bisa bersyukur. Setidaknya aku bisa kabur dari dewa gila itu sekarang.
" Gwenchanayo Sungmin hyung? kenapa bisa ada disini?"Sebuah suara milik namja yang membukakan pintu terdengar sarat akan kecemasan. Suaranya tidak asing di telingaku. Dengan inisiatif sendiri aku mendongak dan mendapati namja bertubuh kekar yang ku ketahui bernama Siwon sedang berusaha membantuku untuk berdiri. Hoobae yang lumayan akrab denganku ini tersenyum lembut padaku.
" Gwenchana, Siwonnie. Tadi aku terkunci dari dalam. Gomawo ne."
" Aigoo..hyung, kau kenapa jadi pabbo begini sih? Kajja! Kita harus gabung kesana sekarang. Kau belum berdoa untuk Sunny 'kan?"Ajak Siwon disahut anggukanku yang kemudian berjalan mengikutinya. Aku sempat menoleh ke belakang sejenak. Kyuhyun si namja yang sangat menyebalkan itu sudah tidak ada di sana.
-o00o-
Hari ini sekolah kami berkabung. Kehilangan satu murid kebanggaan sekolah merupakan kenyataan yang agak pahit untuk diterima apalagi murid tersebut mempunyai sifat yang patut di acungi jempol.
Perasaan bersalah semakin menggerogoti nuraniku. Aku jadi tidak tenang mengikuti ritual 'doa bersama untuk Sunny'. Apalagi ketika berdoa aku melihat makhluk-makhluk mengerikan berlari menjauhi kami. Seperti kata Kyuhyun tadi. Aku bisa melihat berbagai jenis makhluk halus sekarang. Dan itu karena cincin yang aku kenakan saat ini. Ya, cincin bodoh yang tidak bisa lepas dari jariku.
Mataku menangkap makhluk-makhluk dengan tubuh besar berwarna hitam gelap dan mata merah yang terlihat mengerikan sekali. Mungkin mereka yang dinamakan iblis atau setan. Ada juga makhluk yang berpakaian serba merah namun berwajah cantik dan tampan. Ada yang berpakaian serba putih dengan wajah yang bersinar maksimal. Ada juga yang cuma sekelebat bayangan berwarna putih tanpa bentuk –roh- yang bergerak lincah di sekitar ruang doa. Untung saja mereka tidak tahu kalau aku bisa melihat mereka. Mungkin saja makhluk hitam mengerikan itu akan menggangguku karena mengetahui keberadaan mereka. Bagaimanapun juga mereka 'kan setan dan setan tentu saja bertugas mengganggu manusia. Sama seperti si Kyuhyun itu. Dia itu setan yang kebetulan berprofesi sebagai dewa pencabut nyawa. Entahlah. Sepertinya ada kekeliruan pada makhluk yang menetapkan Kyuhyun sebagai dewa pencabut nyawa.
Aisshh..kenapa jadi memikirkan dewa menyebalkan itu sih? Seharusnya aku waspada dengan makhluk-makhluk hitam mengerikan yang berkeliaran di hadapanku saat ini. Aku takut mereka menggangguku. Aku takut sekali jika itu benar-benar terjadi. Oke, lupakan kata-kataku tadi yang mengatakan ini bukan masalah. Ini masalah yang sangat MENGERIKAN bagiku. Lihatlah! bahkan bentuk wajah mereka saja sangat tidak beraturan begitu. Benar-benar mengerikan.
Jengah memperhatikan makhluk-makhluk berbadan besar yang membuatku merinding, mataku memutuskan untuk melihat salah satu bayangan putih berkelebat yang kemudian berubah bentuk menjadi sosok anak kecil. Roh dalam bentuk anak kecil itu mendekatkan diri ke Siwon yang tengah khusyuk berdoa dengan mata terpejam. Roh itu mungkin sedang mendengarkan doa Siwon yang terlontar dalam hati. Roh anak itu tersenyum dengan wajah berseri-seri. Sepertinya Siwon berdoa mengenai suatu hal yang membuat roh anak itu senang. Entah apa isi doanya aku tidak tau pasti. Cincin ini tidak berfungsi untuk mendengar doa orang taat seperti Siwon. Tunggu dulu! aku ini bicara apa sih? Memang apa yang ku harapkan dari cincin milik dewa pencabut nyawa ini. Tentu saja kekuatan magisnya berhubungan dengan kematian semua. Benar-benar menyeramkan.
Akhirnya pemandangan yang tak biasa ini lambat laun mulai bisa ku nikmati. Apalagi ketika Siwon mulai menggumamkan beberapa bacaan dalam alkitab yang lumayan di ingatnya seketika itu juga makhluk hitam yang mengerikan berlari dan bertabrakan dengan teman-temannya yang tak kalah mengerikan. Mereka terlihat lucu juga menggemaskan tapi tetap saja kesan mengerikannya tidak luntur.
Ternyata sekolahku ini lumayan angker juga dengan makhluk-makhluk halus yang berkeliaran dimana-mana -dalam ruang doa-.
" Annyeong..."Terdengar suara yang agak melengking berasal dari sebelah kananku. Aku menoleh dan mendapati sosok yeoja mungil dan manis mengenakan kemeja putih polos berlengan panjang dengan rok penuh lipatan berwarna hitam. Rok sebatas lutut tersebut memperlihatkan kaki jenjang putih mulus miliknya. Dia juga mengenakan sepatu berwarna hitam. Pakaiannya sama persis seperti yang Kyuhyun kenakan hanya saja ini versi yeoja-nya.
" Kau siapa?"Tanyaku mengernyit heran. Ia tersenyum ramah.
" Kim Ryeowook imnida. Kau bisa memanggilku Wookie. Aku dewa keberuntungan."Ujar yeoja mungil itu yang sepertinya remaja seumuran denganku dan Kyuhyun juga. Tunggu dulu! Dia bilang apa tadi? Dewa?
"MWO! Kau namja?"Teriakanku tertahan. Sebisa mungkin ku coba meredakan kekagetanku agar tak mengganggu orang yang tengah khusyuk berdoa termasuk Siwon. Yeoja –err maksudku namja, namja itu menggaruk tengkuk kepalanya yang aku yakin tidak gatal sama sekali. Wajahnya memerah menunjukkan kalau namja mungil ini tengah malu dan gugup.
" Begitulah. Mianhae sudah membuatmu kaget. Dewa gila itu mengajakku kemari secara mendadak sehingga aku salah mengambil seragam hehe."Namja berwujud dewa yang bernama Ryeowook itu nyengir lebar. Memperlihatkan barisan giginya yang putih dan rapi.
" Gwenchana. Lee Sungmin imnida."Jawabku singkat masih bingung dengan namja yang sempat ku kira yeoja ini.
" Bangapseumnida, Sungmin-ah! Ah..Aku tidak salah lagi. Kyuhyunnie, sampai kapan kau mau terus bersembunyi?"Ryeowook bersenandung dan tertawa-tawa kecil. Kelakuannya di depanku memperlihatkan kalau ia adalah dewa dengan sifat ceria sekaligus menyenangkan, beda 180 derajat dengan Kyuhyun yang dingin dan kasar itu.
Tak berapa lama Kyuhyun juga muncul dan berdiri di sampingku. Ryeowook mengganti posisinya agar bisa berhadapan dengan kami berdua.
" Dia temanmu?"Tanyaku sinis tanpa berniat menoleh karena masih merasa kesal pada namja tinggi itu. Jangan kira aku sudi melupakan kejadian di ruang kelas itu. Cih! Dia benar-benar mengerikan tadi.
" Dia dewa keberuntungan yang mungkin bisa menolong kita melepaskan cincin itu dari jarimu."Ujar Kyuhyun singkat, padat, jelas dan terpercaya.
" Bagaimana caranya?"Lagi-lagi pertanyaan ketus yang aku lontarkan. Kali ini aku menoleh untuk melemparkan tatapan tajam padanya. Tetapi wajah tampan itu tetap terlihat datar dan tenang.
" Well, kau adalah manusia. Manusia memiliki berbagai keberuntungan. Jadi coba kita lihat apakah keberuntungan bisa menolongmu lagi dari ancaman kematian."Ujar Kyuhyun seraya menyedekapkan tangannya, berpose angkuh seperti biasanya. Kalimat yang keluar dari mulut namja gila itu terdengar enteng sekali, seolah-olah kematian cuma cubitan kecil pada kulitku. Sialan!
" Kajja! kita lihat sekarang. Sungminnie, berikan tanganmu."Pinta Ryeowook penuh kelembutan. Aku lantas menurutinya dengan menyerahkan tanganku padanya. Ia memperhatikan telapak tanganku dengan teliti.
Untuk beberapa saat mata Ryeowook bercahaya. Seluruh bola matanya berubah menjadi warna biru muda. Sama hal-nya seperti saat Kyuhyun tengah beroperasi juga, hanya beda pada warna matanya saja.
Ryeowook yang tengah beroperasi ternyata menarik perhatian makhluk-makhluk lainnya. Mereka terbang menukik mendekati kami. Bayangan berkelebat berwarna putih, makhluk-makhluk cantik yang bersinar indah bahkan makhluk besar bertubuh hitam dengan mata merah juga berdiri tepat di depanku. Mereka memperhatikan Ryeowook -yang tengah berkonsentrasi penuh dengan seksama.
" Hwaaaaaaaaaaaa!"Aku melonjak kaget saat salah satu makhluk hitam hendak menyentuh telapak tanganku juga. Dengan cepat kutarik tanganku hingga terlepas dari genggaman Ryeowook. Namja mungil itu tersentak kaget. Dalam hitungan detik bola matanya berubah warna seperti semula.
" Apa yang kau lakukan, manusia pabbo?"Tanya Kyuhyun menatapku dengan murka. Aku menunjuk makhluk hitam yang ada di depanku.
" Dia menakutiku, Kyu."Ujarku dengan nada yang sangat lemah dan terdengar cukup –err manja. Kyuhyun menggeleng geram. Sejenak tatapannya melunak dan ia tersenyum lembut padaku seolah ingin menenangkanku saat ini. Apa aku tak salah lihat? Dia tersenyum? Ya, dia memang tersenyum bukan menyeringai seperti biasanya. Ah, apa dia tak sadar senyumnya itu menambah ketampanannya beribu kali lipat.
" Apa yang kalian lakukan? Pergi dari sini!"Bentak Kyuhyun dengan wajah yang benar-benar murka. Makhluk dengan bayangan putih terlihat takut dengan Kyuhyun, mereka terbang menjauhi kami. Sedangkan makhluk hitam mengerikan itu tetap saja tidak mau enyah dari hadapan kami.
" Kau dewa pencabut nyawa 'kan? Kami ingin protes denganmu!"Ujar salah satu makhluk berwarna hitam tersebut.
" Aku sedang ada urusan penting. Kalian kira kalian siapa sehingga bisa protes padaku, eoh?"Kyuhyun tak kalah mengerikannya dari makhluk-makhluk hitam itu. Ia menatap galak makhluk mengerikan itu. Tatapan menusuk yang sangat mengerikan sekaligus tatapan andalannya yang pernah membuatku menggigil ketakutan.
" Sudahlah, Kyunnie. Sebaiknya kita pergi dari sini."Ujar Ryeowook yang sedari tadi terlihat tetap tenang.
" Nah, kau dewi keberuntungan bukan? Apakah makhluk seperti kami masih punya keberuntungan? Apa keberuntungan yang bisa aku dapat?"Makhluk hitam itu berbalik mendekati Ryeowook.
" Sesuai ketentuan, kalian bukan lagi manusia jadi…"
" Hwaaaaaaaaaaaaaaaa!."Aku kembali histeris saat salah satu teman si hitam yang sama-sama mengerikannya mendekatiku dan menyeringai menakutkan. Aku refleks bergerak menyembunyikan tubuhku di balik tubuh tegap Kyuhyun.
" Dia bisa melihat kami?"Tanya makhluk hitam yang menakutiku itu. Entah pada siapa. Aku bernapas ngos-ngosan mencoba melawan rasa takut yang terus memburu.
" Ne, dan dia sebentar lagi akan mati dan bergabung dengan kalian. Jadi jangan ganggu kami kalau kalian tidak mau di kirim ke neraka!"Ancam Kyuhyun mencoba membantuku namun justru membuatku berbalik takut padanya. Makhluk-makhluk hitam itu terlihat takut pada ancaman Kyuhyun tetapi tidak dengan makhluk hitam yang ada di depanku. Jaraknya yang sangat dekat denganku membuatku lemas dan nyaris pingsan. Sebelum hal yang tak di inginkan itu terjadi, tanpa pikir panjang aku berlari meninggalkan mereka menuju pintu ruang doa.
Aku sangat takut dan berharap makhluk-makhluk itu tidak mengikutiku lagi termasuk Kyuhyun. Dengan nyali dan tekad yang cukup besar aku berhasil keluar dari ruang doa meninggalkan Siwon yang masih khusyuk berdoa. Terlalu khusyuk malah. Atau mungkin dia tertidur kali ya sampai tak mendengarku berteriak begitu? Ah tapi mana mungkin bocah gereja seperti dia tertidur saat berdoa. Kkkk~
-o00o-
Author's Note :
Hwaaaaaaaaaa~ mianhae readerdeul tersayang alurnya makin jelek ya? makin gaje ya? *readers: banget!* abis cuma ini yang ada di kepala saya tapi tenang aja ketidakjelasan, kebingungan dan semua tanda tanya bakal terjawab di chap selanjutnya kok *kalo masih ada yang sudi ngikutin ff nista saya ini sih*. Semuanya gak ngambang gitu aja kok #apasih. Mungkin next chap bakal saya ceritain detail tentang cincin itu dan semua sangkut pautnya. Yauda sekian deh cuap-cuap gak jelas dari author amatiran ini kalau mau kritik, saran dan lain-lain sebagainya sihlakan tuangkan di kotak REVIEW. Tak lupa saya hanturkan beribu terima kasih dan...
.
.
REVIEW pleaseeee~
