"Hinata, kau baru pulang? Darimana saja kau semalam?"

"Maaf, Neji-niisan aku lelah. Aku ingin istirahat."

.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU, sedikit OOC.

Maafkan Kesalahanku!

Don't Like Don't Read!

.

.

.

.

Chapter 2

Naruto Pov!

Sudah dua hari ini Hinata tidak masuk kuliah, kemana dia? Aku harus segere minta maaf, aku tidak ingin dia marah terus-terusan kepada ku.

Cukup hubungan cinta kita yang dulu berakhir, aku tidak ingin hubungan pertemanan ku (yang setidaknya ada dalam pikiran Hinata) ikut berakhir juga. Itu terlalu menyakitkan untuk diriku, aku harus segera menemuinya.

Naruto Pov End!

.

.

.

.

.

"Hanabi, apa Hinata sudah makan?" Tanya Neji pada Hanabi.

Saat ini mereka berdua sedang sarapan pagi di kediaman Hyuga.

"Entahlah nii-san, sudah dua hari ini aku tidak melihat Hinata-neechan keluar dari kamarnya." Jawab Hanabi.

"Sebenarnya ada apa dengan dia?" Tanya Neji lagi.

Hanabi hanya bisa menggelengkan kepala, tak tahu apa yang terjadi pada kakak perempuannya tersebut.

Suasana hening menyelimuti ruangan tersebut, tanpa ada satupun yang ingin memulai percakapan.

"Setelah ini ikut aku Hanabi." Ujar Neji.

"Eh? Ada apa kak?" Tanya Hanabi.

"Aku akan mendobrak kamar Hinata, aku jadi khawatir dengannya."

"Kau serius?"

"Ya!"

Keputusan Neji untuk mendobrak kamar Hinata sudah bulat, kini ia dan Hanabi sedang berdiri didepan kamar Hinata mencoba untuk memanggilnya terlebih dahulu.

Tok... Tok... Tok...

Hanabi mencoba mengetuk pintu kamar Hinata, tapi sama sekali tak ada respon sama sekali dari sang pemilik kamar.

Tok... Tok... Tok...

Hanabi kembali mencoba mengetuk, tapi tak ada respon sama sekali.

Tok... Tok... Tok...

Hanabi mencoba mengetuk untuk ketiga kalinya, tapi lagi-lagi tak ada respon. Neji yang sudah habis kesabaran menyuruh Hanabi untuk menyingkir.

"Minggir Hanabi." Perintah Neji.

"Tapi kak, ja..."

BRAAAKKK!

Kata-kata Hanabi terhenti setelah melihat pintu kamar kakak perempuannya sudah terbuka, akibat didobrak oleh Neji.

Hanabi dan Neji sempat terkejut melihat keadaan kamar Hinata yang berantak seperti kapal pecah, mereka berdua tahu Hinata orang yang cinta akan kerapian, dia tidak akan membiarkan satu barangpun tergelatak sembarangan. Tapi jika melihat keadaan saat ini sungguh mencengangkan, berbeda dengan Hinata biasanya.

Hanabi dan Neji bisa melihat sebuah gundukan besar tertutup selimut diatas tempat tidur Hinata, yang mereka berdua yakini adalah Hinata. Hanabi mengambil inisiatif untuk berjalan ke arah kasur Hinata, sedangkan Neji berjalan ke sisi lainnya.

Hanabi mencoba untuk membangunkan kakak perempuannya tersebut dengan cara menyibak selimutnya, tapi betapa terkejutnya Neji melihat raut wajah mengerikan Hinata. Bagaimana tidak, wajah pucat dengan lingkaran hitam dibawah bola matanya benar- benar menandakan saat ini Hinata sedang ada masalah. Posisi tidur Hinata saat ini memunggunggi Hanabi yang duduk disampingnya, jadi Hanabi tidak mengetahui keadaannya saat ini.

Neji mengulurkan tangannya mencoba untuk menyentuh Hinata, yang entah kenapa ditepis oleh Hinata. Neji dan Hanabi terkejut dengan sikap yang ditujukan Hinata saat ini, Hinata saat ini duduk dengan posisi siaga.

Hanabi mencoba untuk menyentuh pundak Hinata, tapi ditepis.

"Kak?" Panggil Hanabi.

"Jangan sentuh aku!" Teriak Hinata.

"Hinata?" Kali ini Neji mencoba menyentuh pundak Hinata, yang lagi-lagi ditepis.

"Jangan sentuh aku!" Teriak Hinata lagi.

Hanabi yang melihat keadaan Hinata yang seperti itu hanya bisa menahan air matanya agar tidak menetes, dengan emosi yang meluap Hanabi langsung memeluk Hinata dengan erat. Tapi Hinata malah berontak, berusaha untuk melepaskan diri.

"Lepaskan aku, jangan sentuh aku!" Teriak Hinata histeris.

"Kak, ini aku Hanabi. Adik kakak." Ujar Hanabi sambil memeluk erat Hinata tanpa mau melepaskannya.

"Hanabi." Bisik Hinata, tapi masih bisa didengar oleh Hanabi.

"Iya, aku ini Hanabi."

Hinata memalingkan wajahnya ke arah Hanabi dan memperhatikan dengan seksama wajah adiknya tersebut.

"Kau Hanabi?" Tanya Hinata sambil menangkupkan kedua tangannya ke wajah Hanabi.

Sedangkan Hanabi hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum tulus ke arah kakak perempuannya tersebut.

"Hanabi..." Hinata langsung memeluk adiknya tersebut dengan erat, bahkan sangat erat.

Neji yang melihat adegan tersebut hanya bisa memandang sedih ke arah punggung Hinata.

'Aku akan menghajar siapa saja yang berani membuat kau seperti ini, Hinata.' Batin Neji.

.

.

.

.

.

Sudah lebih dari tiga puluh menit Hinata menangis dipelukan Hanabi, ia kini sudah jauh lebih tenang.

"Kak, sebenarnya ada apa denganmu?" Tanya Hanabi yang kini mulai mengendurkan pelukannya.

Hinata hanya diam saja tak menjawab pertanyaan Hanabi.

"Sudahlah Hanabi jangan bertanya apa-apa dulu pada Hinata." Ujar Neji. "Nah Hinata sebaiknya kau membersihkan diri, apa kau ingin bertemu dengan ayah dan ibu dengan keadaan seperti ini?" Tambah Neji pada Hinata.

"A-ayah dan ibu?" Tanya Hinata.

"Ya, mereka akan pulang hari ini." Jawab Neji. "Cepatlah bersihkan dirimu, sebentar lagi mereka pasti akan datang. Soal kamarmu biar aku suruh para maid untuk merapikannya dan pengawal untuk membetulkan pintunya." Tambah Neji.

"Um..." Angguk Hinata.

Butuh waktu sedikit lebih lama bagi Hanabi untuk mendandani Hinata hingga terlihat segar seperti sedia kala, dan tak terlihat wajah mengerikan milik kakaknya yang ia lihat beberapa jam yang lalu.

"Ayo, ayah dan ibu pasti sudah tiba." Ajak Hanabi.

Hinata hanya menurut ditarik oleh sang adik menuju lantai bawah.

Dan benar saja dilantai bawah telah berdiri pria paruh baya yanga sedang terlibat pembicaraan dengan Neji.

"Ayah." Panggil Hinata.

Pria paruh baya tersebut segera mengalihkan pandangannya ke arah suara yang memanggilnya. ya dialah Hiashi Hyuga, sang kepala rumah tangga dan juga ayah bagi Hinata dan Hanabi.

Hinata dan Hanabi segera berlari ke arah Hiashi untuk memeluk melepas rindu mereka.

"Ayah, aku rindu ayah." Isak Hanabi.

"Aku juga." Sahut Hinata.

"Ayah juga rindu pada kalian berdua." Ujar Hiashi.

Hinata dan Hanabi mulai mengendurkan pelukannya.

"Ayah ibu mana?" Tanya Hinata.

"Ibu disini nak." Ujar seorang wanita yang berdiri dibelakang Hiashi. Dialah Hikari Hyuga, ibu dari Hinata dan Hanabi.

Melihat sang ibu yang sudah merentangkan tangannya, kedua gadis tersebut segera berlari untuk memeluk sang ibu.

Sedangkan Neji yang melihat adegan tersebut hanya tersenyum penuh arti.

"Kemarilah nak." Panggil Hikari kepada Neji.

"Eh?" Neji merasa kikuk untuk mengambil bagian dalam adegan bahagia antara ibu dan anak tersebut.

Hiashi yang melihat ke kikukkan Neji langsung mendorong tubuh Neji agar lebih dekat, sedangkan Hikari langsung menarik tangan Neji agar ikut ambil bagian dalam adegan berpelukan.

"Aku merindukanmu, bu." Bisik Hinata yang masih bisa didengar Hikari.

"Ibu juga merindukanmu, Hinata."

Mereka berempat mulai melepaskan pelukan tersebut.

"Nah, siapa yang lapar?" Tanya Hikari, yang langsung dijawab dengan semangat oleh kedua putrinya.

Hikari hanya tersenyum melihat tingkah lucu kedua putrinya tersebut.

"Neji, kau ingin makan apa?" Tanya Hikari pada Neji.

"Eh?" Neji terlihat bingung ditanya seperti itu.

Hikari menyentuh kedua lengan kekar Neji.

"Kau sudah bibi anggap seperti putra bibi sendiri, katakan apa yang kau inginkan bibi akan akan membuatkannya untukmu." Ujar Hikari. "Dan satu lagi bibi mungkin tidak bisa menggantikan posisi ibumu, tapi tidak ada salahnyakan kalau kau memanggil bibi dengan panggilan ibu?" Pintanya.

"Ayahmu menitipkanmu pada paman sejak kecil, agar paman bisa merawatmu dan menjagamu. Kau sudah paman anggap seperti anak paman sendiri, kau sudah menjadi bagian keluarga ini." Tambah Hiashi.

"Baiklah a-ayah, i-ibu. Apapun yang ibu masak, aku akan memakannya." Ujar Neji.

"Baiklah, kalau begitu ibu akan memasak untuk kita semua." Ujar Hikari.

"Biar Hinata bantu." Pinta Hinata.

"Ayo..."

Kebahagian benar-benar dirasakan oleh Hinata hari itu, ia bisa sejenak melupakan kesedihannya.

.

.

.

.

.

Seperti biasa hari ini Naruto berangkat ke kampusnya menggunakan sepeda kesayangannya, walaupun tidak ada jadwal kuliah ia tetap berangkat ke kampus. Ada tujuan lain yang ingin ia lakukan.

Ia ingin bertemu dengan Hinata dan meminta maaf soal kejadian tempo hari, sebuah kesalahan yang teramat sangat fatal. Naruto tidak ingin hubungan baiknya dengan Hinata hancur berantakan.

Kali ini dewi keberuntungan sedang berpihak kepadanya, dengan cepat ia mengayuh sepedanya ke arah gadis yang sedang berjalan memasuki gedung universitas. Diapun menghentikan sepedanya tepat didepan sang gadis, Hinata yang merasa jalannya dihalangi mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang menghalanginya.

"Hinata kita perlu bicara." Ujar Naruto.

Hinata hanya diam tak menanggapi, ia malah akan berjalan melewati Naruto jika saja lengannya tidak dipegang oleh Naruto.

"Lepaskan aku Naruto." Berontak Hinata.

"Kita harus bicara." Pinta Naruto.

"Tidak ada yang harus kita bicarakan." Ujar Hinata sambil berusaha melepaskan diri dari Naruto.

"Kumohon Hinata, aku ingin minta maaf padamu soal tempo hari." Mohon Naruto.

Sedangkan Hinata tak menanggapinya, ia terus berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Naruto dilengannya.

"Hinata maafkan aku." Pinta Naruto lagi.

"Aku tidak akan memaafkanmu." Sentak Hinata berhasil melepaskan diri dari cengkraman Naruto. "Aku membemcimu, Naruto." Tambahnya.

Merasa menjadi perhatian, Hinata segera berlari masuk ke gedung universitas. Sedangkan Naruto hanya tertunduk sedih setelah mendengar kata-kata Hinata.

.

.

.

.

.

Entah kenapa beberapa hari ini Hinata kehilangan nafsu makannya, dan ia kini juga merasa cepat lelah saat melakukan aktivitas. Hal inilah yang membuat Hikari khawatir.

"Kau tidak apa-apa, Hinata?" Tanya Hikari.

"Aku tidak apa-apa bu, ibu tenang saja." Jawab Hinata.

"Tapi wajahmu pucat, nak."

"Aku tidak apa-apa, ibu tenang saja." Hinata mencoba menenangkan ibunya.

"Ya sudah kalau begitu, kau ingin ibu membuatkan sesuatu?" Tanya Hikari.

"Ramen, aku ingin ramen." Jawab Hinata.

Sejenak Hikari mengernyitkan dahinya, tapi dengan senyum tulus Hikari beranjak untuk membuatkan ramen. Tak butuh waktu lama ramen buatan Hikari telah siap, Hikari langsung membawanya ke meja makan dimana Hinata sudah menunggu.

Dengan lahapnya Hinata langsung menyantap ramen buatan ibunya tersebut, tapi mendadak ia langsung mual dan berlari ke westafel untuk memuntahkan semua isi perutnya. Hikari yang melihat anaknya tiba-tiba seperti itu langsung menghampiri Hinata, ia khawatir terjadi sesuatu dengan putrinya.

"Kau kenapa Hinata?" Tanya Hikari.

"Aku tidak tahu." Jawab Hinata.

"Apa ramen buatan ibu tidak enak?" Tanya Hikari lagi, yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Hinata.

"Lalu ada apa, apa kau sakit?"

"Aku merasa pus..."

BRRUUUKKK!

"Hinata!" Teriak Hikari yang melihat Hinata tiba-tiba pingsan.

.

.

.

.

.

TBC

Yoooo! Ini chapter keduanya, gimana readers sekalian apakah sudah panjang? Ryu minta maaf kalau masih mengecewakan para readers semua.

Ryu ucapin terima kasih buat readers yang udah nyempatin baca fic Ryu dan mau repot-repot mereview juga, jadi kalau ada saran tulis dikolom review. Okeee!

Minnaaa! RREEEVVVIIIEEEWW!