"J-jadi?" Izuku menatap mereka bingung. Ia masih belum dapat menerka apa tujuan para gadis itu membawa dirinya dan Kaminari kemari.
"Etto.. Midoriya-san, Kaminari-san.. Aku ingin kalian mengajari kami membuat cokelat valentine. Hari ini. Sekarang juga."
Oh.. hanya membuat cokelat valentine? Izuku dan Kaminari yang mengajari para gadis itu?
"APA?!"
Love Potion?
Getar ponsel mengusik rasa keterkejutan Izuku. Dengan sigap ia menekan password locker ponselnya dan di sana menunjukan sebuah notifikasi pesan.
From : Todoroki Shōto-kun
Subject : none
Text : Midoriya, aku menunggu di depan gerbang. Apakah ada urusanmu yang belum selesai? Aku bisa menunggunya. Kau di mana? Aku akan menyusul.
Izuku memekik. Todoroki mengirimkannya pesan dan ia menanyakan letak Izuku berada saat ini.
Gawat.. gawat! Aku tidak ingin Todoroki-kun tahu perihal hal ini. Aku harus apa?
"Bilang saja untuk pulang duluan, Midoriya-san. Katakan jika kau ada keperluan bersama dengan All Might."
Yaoyorozu tersenyum manis dan Izuku malah dibuat merinding karenanya. Apakah wanita itu tahu kalau Todoroki yang mengirimkannya sebuah pesan singkat?
"A-anu.. t-tidak bisakah jika hanya Kaminari-kun saja yang mengajari kalian?"
Kaminari mendelik galak dan Izuku memilih untuk mengabaikannya. Mencoba mengelak sedikit walaupun hasilnya tetap mengecewakan. Ya.. Jawaban dari pertanyaan Izuku dijawab dengan kata 'tidak!' oleh keenam gadis di sana.
Baiklah.. maafkan aku Todoroki-kun..
To : Todoroki Shōto-kun
Subject : none
Text : Maafkan aku Todoroki-kun. Aku ada keperluan dengan All Might dan sepertinya akan sangat memakan waktu lama. Kau boleh pulang duluan. Maaf sudah membuatmu menunggu.
Izuku mengetik pesan itu dengan jari-jarinya yang bergetar tidak beraturan. Melihat hal itu Hagakure menyeletuk jahil. "Kau pasti tidak pernah berbohong eh? Midoriya-kun~ tanganmu gemetaran lho."
Satu buah ucapan seperti itu terasa menancap langsung ke dalam hatinya. Kata siapa ia tidak pernah berbohong? Sesekali Izuku pernah kok! Begitu Izuku menekan tombol 'send' di layar ponsel pintarnya, beberapa detik kemudian muncul lah sebuah notifikasi pesan yang ternyata adalah balasan dari Todoroki.
From : Todoroki Shōto-kun
Subject : none
Text : Baiklah. Jangan pulang terlalu malam.
Mereka berakhir di sebuah ruang kelas memasak. Bahkan Izuku tidak tahu ada sebuah ruangan khusus untuk memasak di Akademi Yuuei. Lengkap dengan apron yang terpasang, mereka pun melelehkan cokelat disebuah kuali kecil.
"Oi.. aku belum pernah membuat cokelat lho! Jangan salahkan aku jika cokelat buatan kalian rasanya akan berakhir dengan buruk!" Kaminari berujar dengan nada kekesalan yang begitu kental. Sesekali ia mengumpat karena plastik cokelat miliknya sulit sekali untuk dibuka.
"Daijoubu, Kaminari-san. Aku memiliki berbagai buku resep cokelat valentine. Tidak mungkin kita akan gagal membuatnya karena ada buku panduannya bukan?" Si gadis bersurai hitam dengan gaya pony tail menunjukkan berbagai buku resep koleksinya.
"Walaupun ada buku resep, bukankah kemarin kita tetap gagal membuatnya?" Ashido menyeletuk dan langsung dibungkam oleh Uraraka. Gadis ber-quirk zero gravity itu tertawa terbata. Yaoyorozu mendadak murung, Uraraka pun mencubit pelan pipi si gadis pink.
"A-A-A! Bukankah hari ini kita pasti akan berhasil membuatnya? Selain itu, alasan Midoriya dan Kaminari berada di sini adalah untuk memperbesar presentase keberhasilan kita dalam membuat cokelat kan?!"
Pemilik mata bersclera hitam memicing tajam seolah menelanjangi Izuku dan Kaminari secara bersamaan. Dengan gerakan kepala kikuk, keduanya pun mengangguk patuh.
"O-ou! Benar sekali Yaomomo! Tenang saja, karena aku sudah di sini pasti semuanya akan berjalan lancar dan kita pasti berhasil membuat cokelat yang enak! Dengan begitu kau akan menjadi pac—hii!"
Earphone jack sebelah kanan milik Jirō memanjang dan menyetrum Kaminari di bagian lehernya. Dengan desis berbahaya, ia pun berkata. "Jangan mencoba untuk mengatakan hal-hal bodoh, Kaminari."
Entah untuk yang kesekian kalinya Izuku dibuat menghela nafas berat karena kerusuhan mereka. Sebenarnya keberadaan Izuku disini berguna atau tidak?
"A-ano.. Yaoyorozu-san.. bisakah kita mulai sekarang. K-kata Ibuku, aku tidak boleh pulang terlalu malam." Izuku merona mengatakan hal itu. Lihat? Ia berbohong bukan? Sebenarnya yang mengatakan hal itu adalah Todoroki, walaupun hanya melalui pesan singkat.
"Ara.. kalau begitu ayo kita selesaikan ini dengan cepat, teman-teman." Untuk alasan lain, Yaoyorozu menutup mulutnya dengan kedua tangan. Pipinya merona, entah karena hal apa sepertinya ia merasa malu.
Mungkinkah karena ia tahu kalau Izuku berbohong?
"Yosh! Ayo kita selesaikan semua ini!" Hagakure berteriak semangat dan yang lain pun mengucapkan 'Ou' secara serentak.
Sibuk. Mereka semua terlihat sibuk dengan aktivitas masing-masing. Uraraka terlihat kewalahan ketika berusaha menuangkan cokelat yang sudah cair kedalam cetakan. Sementara, Ashido terlihat memotong er.. lobak? Dan memasukkannya ke dalam kuali berisi cokelat mendidih. Hei.. bukankah mereka sudah tahu tata cara pembuatan cokelat valentine melalui buku resep milik Yaoyorozu?
Memangnya seberapa sulit membuat cokelat valentine? Izuku yang terbiasa memasak makan malam untuk sang Ibu pun merasa kalau membuat cokelat seperti ini tidak terlalu sulit.
"Ne, Deku-kun! Cokelat buatanmu akan kau berikan pada siapa?" Uraraka mengerling jahil, seketika Izuku memalingkan wajahnya karena begitu mendengar pertanyaan Uraraka, satu nama yang terlintas di benaknya adalah milik Todoroki Shōto. Kekasihnya sendiri.
"U-um.. mungkin aku akan membiarkan teman-teman sekelas mencoba cokelat buatanku?—dan aku akan membuat giri-choco spesial untuk Todoroki-kun saat sesampainya nanti di rumah." Lanjutnya dalam hati.
Uraraka mengangguk dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Asui yang hanya dibalas dengan acungan jempol oleh si gadis beriris onyx tersebut.
"Souka~ kalau begitu sisakan sedikit untukku ne, Deku-kun!"
Uraraka menepuk bahu Izuku pelan dan hendak pergi ke lemari pendingin di ujung ruangan. Karena tidak ingin obrolan tersebut berakhir, Izuku pun berinisiatif untuk mengajak gadis berhelai cokelat itu mengobrol walaupun lebih tepatnya jika disebut bertanya.
"A-ano.. Uraraka-san.. k-kepada siapa kau akan memberikan giri-choco buatanmu?" Izuku bertanya takut-takut. Ia sedikit ngeri kalau ucapannya mengganggu privasi si gadis gravitasi.
"Tentu saja aku akan membuatnya untuk Bakugō-kun! Meskipun ia pasti akan melontarkan sumpah serapah atau kata-kata kasar.." Uraraka tertawa renyah dan membuat Izuku tersenyum kecil.
Kacchan ya.. Ahaha.. rasanya lucu sekali jika mereka berdua disatukan.
"Daijoubu Uraraka-san! Aku akan mendukungmu!" Izuku tersenyum lebar seperti saat ia mencoba menyelamatkan Eri dari tangan Chisaki. Mungkin empunya sendiri tidak menyangka jika gadis di depannya sibuk ber-fangirl ria ketika melihat senyumannya.
DEKU-KUN! KAU MANIS SEKALI! AKU INGIN MEMASANGKANMU DENGAN SHINSOU-KUN DARI DEPARTEMEN KELAS BIASA! KEMISTRI KALIAN SAAT FESTIVAL OLAHRAGA SUNGGUH MENGGELORA!
Izuku melambaikan kedua tangannya di hadapan ekspresi fuwa-fuwa yang Uraraka tunjukan padanya.
"M-maafkan aku, D-Deku-kun! Kalau begitu semoga berhasil!" Dengan secepat kilat, Uraraka pun melipir dari sisi Izuku dan pergi ke ujung ruangan tempat tujuannya, lemari pendingin.
... semoga berhasil?
.
.
Kegiatan membuat cokelat valentine itu pun berakhir ketika matahari sudah tenggelam di ufuk barat, melenyapkan sinarnya. Di sebuah ruangan yang katanya disebut kelas memasak, terlihat beberapa siswa yang masih asyik mencetak cokelat valentine yang dibuat dengan hasil jerih payahnya masing-masing.
"... kau membawa botol itu?"
"Aku membawanya-kero! Tenang saja, Ochako-chan!"
Uraraka tersenyum puas, meneteskan beberapa air dari sebuah botol mencurigakan yang dibawa oleh Asui ke dalam cokelat valentine yang dibuat oleh Izuku.
"Hihi.. kuharap Shinsō-kun akan bersatu dengan Deku-kun! Kyaa!"
"Ochako-chan.. mimisanmu.."
Uraraka menyumpal kedua lubang hidungnya dengan tisu yang ia ambil secara cuma-cuma dari dekat pantry milik Ashido. Bagaimana bisa cokelat yang dibuat Izuku jatuh ke tangan Uraraka?
Flashback.
"Oi, kalian masih belum selesai?" Kaminari menguap malas dengan Izuku yang menatap layar ponselnya cemas tanpa menghiraukan para gadis yang sibuk di masing-masing pantry miliknya.
"Cerewet, Kaminari bodoh! Sudah berapa kali kau bertanya hah?" Jirō mengerang jengkel. Karena memang sedari tadi Kaminari tidak berhenti bertanya kapan selesainya kegiatan ini. Berbeda dengan Izuku yang nampak tenang dengan ponsel di genggaman.
"Kaminari-chan, Midoriya-chan.. kalian boleh pulang terlebih dahulu kalau mau-kero. Nanti kami yang akan memindahkan cokelat milik kalian ke dalam lemari pendingin-kero."
Si pemilik quirk listrik menjerit senang dan hanya ditanggapi oleh para gadis dengan senyum merekah. Tak terkecuali Jirō yang ikut terpesona akibat senyuman yang dipamerkan Kaminari.
Kaminari/-kun/-san/-chan.. kawaii...
"Yosh! Kalau begitu kuserahkan pada kalian! Otsukare! Ayo Midoriya." Kaminari menarik pergelangan tangan Izuku secara tiba-tiba membuat si helai hijau lumut limbung dan nyaris menjatuhkan ponsel miliknya.
"K-Kaminari-kun?! E-eh.. A-a.. k-kalau begitu mohon bantuannya Yaoyorozu-san."
Yaoyorozu mengangguk pelan dan melambaikan sebelah tangannya seraya bergumam 'hati-hati, kalian berdua'
Flashback end.
Terkikik misterius, si gadis gravitasi tanpa batas memikirkan sebuah ide gila yang tiba-tiba saja terlintas di dalam kepalanya.
Bagaimana jika aku meneteskan love potion ke dalam cokelat buatanku lalu kuberikan kepada Bakugō-kun?
Mengingat sifat Katsuki yang sedikit-ehem-mengerikan membuat Uraraka menghalau jauh-jauh pikiran itu dan melupakannya. Akan lebih baik jika Katsuki jatuh cinta padanya dengan cara yang baik dan benar tanpa menggunakan alat bantu apapun seperti love potion milik Asui.
Walaupun berbeda masalah jika ingin menjodohkan OTP tercinta. Uraraka harus gencar melakukan sesuatu bahkan jika harus menggunakan cara paksa seperti love potion yang ia campurkan ke cokelat milik Izuku.
"Uraraka! Apakah love potion milik Tsuyu-chan masih memiliki sisa? Aku ingin mencampurkannya dengan cokelat milikku agar Kirishima tergila-gila padaku~"
Pipi gadis berwajah bulat itu menggembung kesal ketika Ashido mengacaukan lamunan idealnya. Tapi.. yasudah lah.
"Tentu saja!" Memberikan botol aneh yang berisi cairan berwarna kehijauan tersebut kepada si gadis bertanduk.
Dengan penuh semangat, Ashido pun meneteskan beberapa tetes cairan itu ke dalam cokelat buatannya tanpa menyadari jika cokelat yang ia tetesi cairan itu adalah bukan miliknya.
"Momo-chan? Kau tidak ingin meneteskan beberapa love potion itu ke dalam cokelatmu-kero?"
Yaoyorozu menggeleng anggun. Ia menolak dengan halus tawaran dari Asui. Entah apa yang dipikirkan gadis bangsawan itu.
"Asui-san, jangan sampai lupa untuk memindahkan cokelat milik Midoriya-san dan Kaminari-san ke dalam lemari pendingin ne?"
Si gadis berhelai hijau tua dengan aksen pita di ujung rambutnya pun tersenyum manis seraya mengangguk semangat.
"Baiklah! Ayo kita selesaikan sekarang." Yaoyorozu bergegas untuk membereskan kekacauan di pantry yang ia tempati dan hal itu pun berlaku kepada semua gadis yang ada di ruangan tersebut.
Setelah membereskan kekacauan yang bak neraka cokelat, masing-masing dari mereka memindahkan cokelat yang sudah dicetak kedalam lemari pendingin.
"Yosh! Setelah pelatihan dasar pahlawan, kita akan kembali kesini! Otsukare minna!" Ashido menyeru semangat dan meninju udara dengan kuat.
Begitu sampai di apartemen yang Izuku tinggali. Ia langsung memasak makan malam, beruntungnya Inko belum sampai di rumah.
Ketika ia selesai memasak, suara bel mengganggu kegiatannya saat menata piring. Kaki-kakinya berjalan terburu-buru dan membuka pintu dengan kasar.
"Okā-san okae-Todoroki-kun?"
Si pemilik surai putih-merah membatu di depan pintu apartemen Izuku dengan pakaian semi formal.
"Maaf mengganggu Midoriya.. bolehkah aku ... menginap?"
Izuku terdiam untuk beberapa saat. Sepertinya ia masih belum mencerna keseluruhan perkataan yang Todoroki tujukan padanya.
"Menginap?
Anggukan kepala si helai ganda memperkuat konfirmasinya. Izuku tergagap. "B-boleh.. silakan masuk."
Sepasang iris berbeda warna milik Todoroki bergulir, mengobservasi apartemen yang Izuku tinggali. Sepertinya tidak banyak yang berubah. Memang hari ini bukanlah kali pertama Todoroki menyambangi tempat tinggal Izuku.
Pemuda mungil si pemilik tempat tinggal menyuruh Todoroki untuk makan malam bersama selagi menunggu Ibundanya pulang ke rumah. Izuku harap-harap cemas dan khawatir akan keadaan sang bunda. Namun getar ponsel di dekatnya mengubah hal itu.
From : Okā-san
Subject : none
Text : Izuku, gomenne! Saat berbelanja tadi, Ibu tidak sengaja bertemu teman lama dan ia menawari Ibu untuk menginap di rumahnya sekaligus mengadakan acara reuni. Jadi, hari ini Ibu akan menginap di tempat teman Ibu. Besok sore Ibu akan pulang. Kau boleh meminta Katsuki-kun untuk menemanimu di rumah.
Bagaikan tersambar petir, Izuku mematung begitu selesai membaca keseluruhan isi pesan singkat yang dikirimkan Inko padanya. Lalu.. meminta Katsuki untuk menemaninya disini?
From : Okā-san
Subject : none
Text : Atau mau Ibu izinkan ke bibi Mitsuki agar ia menyuruh Katsuki-kun menemanimu?
Getar ponsel kembali menyapa kulitnya beserta notifikasi dari pesan yang datang. Begitu membaca isi pesan, Izuku kelabakan bukan main.
T-TIDAK! TIDAK! JANGAN LAKUKAN HAL ITU, IBU!
Nyaris menggunakan one for all, Izuku mengetik balasan pesan untuk Inko dengan kecepatan luar biasa. Selang beberapa detik setelah ia mengirim sang Ibu pun membalas dengan kata 'oke' beserta emotikon lucu. Disaat yang sama, Izuku pun menghela nafas lega. Setidaknya ia berhasil mencegah kekacauan yang hampir terjadi di rumahnya.
"Midoriya.. kau tak apa?"
Sosok yang terlupakan kini kembali mendapatkan atensinya. Izuku hampir saja melupakan kehadiran Todoroki.
"U-um.. Aku tidak apa.."
Entah karena apa, si pemilik iris dua warna berbeda di sana tiba-tiba berdiri tegak dan berjalan ke arah Izuku. Raut wajahnya terlihat lelah.
"Midoriya.." Kedua lengan kekar milik Todoroki merangkul erat pinggang Izuku. Ia menenggelamkan wajahnya di antara perpotongan leher si hijau lumut dan menghirup aroma tubuhnya rakus.
"T-Todo—"
Tidak diizinkan untuk berbicara lebih lanjut, Todoroki mencium bibir Izuku dengan ganas. Menyesap seluruh rasanya, saling bertukar saliva hingga keterbatasan oksigen menghentikan kegiatannya.
"Aku merindukanmu." Bisiknya rendah.
Mendengar hal itu membuat Izuku tersenyum tipis dan membiarkan salah satu telapak tangannya mengusap helai putih-merah yang sehalus sutra milik kekasihnya. Untuk beberapa saat, mereka saling terdiam dalam posisi seperti itu. Izuku menepuk pipi Todoroki pelan dan membisikkan sesuatu.
"Todoroki-kun? Ayo makan malam, aku sudah memasak makanan. Seharusnya Ibuku pulang hari ini. Namun sepertinya harus di tunda karena ia bertemu dengan teman masa sekolah menengahnya."
Todoroki terdiam dan mulai melonggarkan rangkulan tangannya.
"Haha.. bahkan tadi Okā-san ingin meminta Kacchan untuk menemaniku disini. Padahal tidak perlu sampai seperti itu." Izuku tersenyum aneh.
"... Bakugō?"
Mendengar nama teman masa kecilnya diucapkan oleh Todoroki membuat Izuku mengerenyitkan dahinya. Apakah ia salah bic—tunggu dulu! Mengapa pelukannya semakin mengerat?!
"Aku ingin makan malam.."
Mendengar Todoroki berbicara seperti itu, Izuku pun tersenyum sumringah. "Tentu saja! Ayo kita makan.."
Anehnya, si bungsu keturunan Endeavor masih terdiam. Memeluk erat kekasih kecilnya. Nafas hangat menerpa perpotongan leher Izuku dan membuat empunya meremang.
Baritone milik Todoroki berbisik rendah. "Aku ingin makan Midoriya.."
Izuku menelan ludah ketika gigi-gigi tumpul milik si quirk es-api menancap dalam di perpotongan lehernya. Menciptakan bekas gigitan melingkar disana.
"S-sakit.. T-Todoroki-kun..?" Izuku merintih. Bagian leher sebelah kirinya terasa pegal.
"...af. M-maafkan aku Midoriya.."
Izuku hanya diam seraya mengulas senyum. Sebelah tangannya beralih bekerja untuk mengusap helai sisi merah si bungsu putra Endeavor.
"... Ayahku. Ayahku, ia berulah lagi. Memaksaku untuk menemaninya ke dalam pertemuan antar agensi pahlawan. Aku sudah menolaknya karena memang aku tidak tertarik. Tapi tetap saja ia memaksaku dan karena muak, akhirnya aku kabur."
Todoroki menceritakan sebab dari kedatangannya ke tempat tinggal Izuku. Dan ternyata masih ada sangkut pautnya dengan Todoroki senior. Jika menyangkut soal Endeavor, Izuku tidak dapat berbuat banyak karena memang setiap keputusan ada di tangan kekasihnya sendiri.
Todoroki melepaskan pelukannya dan menatap Izuku dengan senyum tipisnya. Tangan kanan si helai ganda menggenggam telapak tangan Izuku dan mengecupnya singkat.
"Aku mencintaimu."
Izuku merona pekat karena mendadak perlakuan Todoroki begini romantis kepadanya. Malu-malu, surai hijau tuanya bergoyang lembut disertai bisikan lembut. "Aku juga, Todoroki-kun.."
.
.
Setelah insiden Todoroki yang tiba-tiba muncul di depan pintu apartemen Izuku, akhirnya mereka memutuskan untuk makan malam bersama. Menyiapkan air hangat untuk Todoroki dan futon. Sungguh waifu material yang sangat diidamkan setiap orang.
"Midoriya.. kau membuat cokelat?"
つづく
a/n : Hoho, akhirnya chapter 2 dari fic ini up juga :" mau update ASAP gagal kemarin huhu, btw Ao dah megang lepi lagi~ Yeay! Ohiya, ada sedikit revisi di chap 1, tapi gak terlalu mempengaruhi alur cerita kok. Jadi kalo gak dibaca ulang pun ndak papa~
Naru Frau Rivaille : Hoho.. gimana ya? Ao bertaruh kayaknya Shinsō bakal naksir Izuku juga~ ngehehehe, tapi di chap ini belum kelihatan(?) So, ditunggu chap depan okiiee? Terima kasih sudah membaca dan mereview cerita gajelas ini~
shirocchin : Jangan dipaksakan kalo kuota kamu mepet shirocchin wwwww Ayo jadi midnight squad bareng Ao www pemakai(?) kuota malam yang demen begadang(?) ngahahaha. Hayoo~ ramuan apa ya~ keknya disini belum terlalu kelihatan dan ya.. Shouto sama Ijuku mereka pacaran aw aw~ tapi masih ditutupin(?)
Review, Onegaishimasu!
