Angle's Blood
"Nisca31tm-emerald"
Disclaimer : SUJU adalah milik Tuhan, Elfs dan diri mereka sendiri…. Hehehehe
Warning : Vamfic, OOC, Alur mungkin sulit dimengerti, banyak typo(s) dan miss typo(s). Ceritanya mungkin udah pasaran dan kurang menegangkan, tapi saya akan berusaha. Hehehe… Ini Yaoi! BXB! BOY'S LOVE! Sehingga yang tidak suka, sudah saya peringatkan dan segera menekan tombol back.
Don't like don't read …
Summary : Malaikat itu memiliki hati yang lembut, tak bisa melihat kekerasan dalam hatinya. Lalu? Saat sosok menyeramkan terdapat di dalam tubuhnya, apa yang ada di dalam pikiranmu, Lee Donghae?
Rate : T
HAPPY READING ^^
Donghae POV
Aku tak bisa melepas pandanganku dari sosok namja cantik yang ada di depanku tersebut. Aku tidak mengerti, bagaimana dia yang memiliki senyuman seindah dan sepolos itu dapat memiliki seringaian yang sangat menyeramkan seperti itu. Apakah karena dia sudah tidak memiliki perasaan sehingga mengikis nuraninya? Aku tidak bisa berhenti berpikir. Aku tak bisa berhenti walau aku sangat ingin menghilangkan pemikiranku tersebut.
Aku tercenung. Aku baru sadar jika sejak tadi kami terkena sinar matahari langsung. Dan namja yang bernama Jung Soo tersebut tidak mengeluh sedikitpun, bahkan dia terlihat santai saja. Apakah namja tersebut adalah setengah vampire seperti diriku? Jika memang begitu, bagaimana ceritanya dia bisa menjadi anak dari Ratu Heechul? Apakah dia cuma anak angkat?
"Apa yang sedang kau pikirkan, Donghae hyung?"
Lihatlah! Dia tersenyum lembut padaku dengan begitu innocent, seandainya aku tidak waras pastilah aku mengatakan jika beberapa waktu yang lalu aku hanya bermimpi melihatnya menyeringai. Namun berbeda karena memang aku sangat melihatnya, melihat dengan kedua mataku secara nyata. Dan Jung Soo memanggilku dengan sebutan 'hyung'. Padahal aku yakin dia lebih tua dariku meski dia memang terlihat lebih muda. Bagi vampire, penampilan itu sangat menipu.
"Aku hanya berpikir. Bagaimana mungkin kau dapat bertahan dengan sinar matahari? Aku pikir kau adalah darah murni." Sahutku jujur.
"Darah murni? Bagaimana mungkin aku menjadi darah murni jika Appa dan Ommaku sendiri yang menjadikanku begini?"
"Menjadikan apa?" Aku bingung. Jelas saja aku tidak paham dengan apa yang dia maksud. Memangnya bisa begitu ya?
"Tidak apa-apa. Ayo temani aku jalan-jalan! Kita tidak usah buru-buru." Jung Soo tertawa pelan dan langsung berlari kecil tidak lupa sambil menarik tanganku dengan sangat kuat.
Aku tak bisa berbuat apa-apa saat dia memaksaku untuk mengikutinya masuk ke arah Tokyo Tower. Dia bahkan tak bisa berhenti takjub saat kami menaiki lift dan sampai di puncak Tokyo Tower tersebut yang berada di lantai observasi paling tinggi. Di sini tidaklah sepi, banyak sekali pengunjung yang berkumpul. Aku bahkan hampir kesusahan menahan dahagaku, namun Jung Soo terlihat sangat biasa sekali. Seakan darah bukan makanan utamanya. Benar-benar aneh pangeran vampire ini.
Dia kembali berseru riang saat menunjuk sebuah teleskop yang sedang tidak dipakai oleh satu orangpun. Seakan paham, aku langsung mengikutinya menuju teleskop tersebut. Dia terlihat sangat antusias.
"Lihat hyung! Tokyo ternyata indah ya! Manusianya jadi terlihat kecil!"
Jung Soo terlihat sangat menikmati setiap hal yang dia lakukan saat ini, aku hanya tersenyum tipis. Tidak buruk juga namja ini, pikirku. Mungkin sekarang aku harus beranggapan jika dia benar-benar sosok malaikat. Mungkin cuma kebetulan saja wajahnya yang menyeramkan dengan seringaian keji waktu itu. Ya! Donghae! Itu hanya kebetulan.
"Aku jadi tidak sabar untuk 'mencicipi' mereka." Kata Jung Soo tiba-tiba. Dia menjilat bibir atasnya dengan penuh nafsu. Menampilkan kembali seringan yang pernah aku lihat sebelum ini.
Rupanya itu tidak kebetulan. Aku harus lebih waspada dengan namja ini. dia benar-benar pandai sekali berakting.
Donghae POV end
Donghae dan anak dari Ratu Heechul tersebut berjalan berdampingan tanpa arah. Kadang-kadang Jung Soo tertawa keras saat melihat tingkah Donghae yang dia kira lucu. Dan tak jarang Donghae mengeluh karena sikap Jung Soo yang pada dasarnya sangat kekanak-kanakkan. Apakah sifat Jung Soo ini menurun dari ibunya atau ayahnya?
"Hyung… Hari ini aku senang sekali."
"Aku juga." Sahut Donghae tulus. Dia memang sedikit banyak merasa terhibur dengan kelakuan Jung Soo.
"Leeteuk."
"Eh?" Donghae menatap Jung Soo tak mengerti.
"Appa selalu memanggilku dengan nama itu. Dia bilang aku sangat spesial untuknya. Saat dia berpisah dengan Omma, Appa tidak pernah memanggilku dengan nama Jung Soo." Jung Soo menengadah ke langit yang kini sudah berubah kejinggan. Dia menghiraukan Donghae yang tengah menatapnya tak berkedip. Antara bingung dan tidak tahu harus respon apa.
"Aku ingin kau juga memanggilku begitu."
"Baiklah, Leeteuk." Sahut Donghae.
"Hyung. Aku lapar."
Donghae tahu betul apa yang dimaksud oleh Leeteuk. Karena sejak tadi dia juga merasakan dahaga yang sama. Lapar akan darah manusia, lapar akan asupan yang sangat manis dan membuat tenaga mereka jadi terisi. Namun kalau boleh jujur, Donghae sedikit enggan untuk meminum 'langsung' darah mangsanya, karena hati nuraninya yang sudah terkikis kadang timbul kembali.
"Baiklah. Ayo berburu." Pasrah, akhirnya Donghae menjawab dengan sedikit enggan.
…
Pada sebuah gang sempit dan gelap di bayang-bayang kota Tokyo yang sangat gemerlap suara lirih dan penuh kesakitan terdengar. Seorang namja berambut pirang kecoklatan dengan cepat menahan tubuh sang mangsa yang mulai lemas karena kekurangan darah. Taringnya yang panjang dan putih masih menancap di leher sang mangsa dan terus menghisap cairan berwarna merah tersebut sampai tak tersisa.
Salah seorang namja yang juga berada di tempat itu hanya duduk pada sebuah lampu gang yang tidak menyala. Dari sudut bibirnya dapat terlihat aliran cairan berwarna merah, menandakan jika dia baru saja melakukan hal yang sama seperti namja pertama yang tengah 'makan' tersebut.
"Apa kau belum puas juga? Ini mangsamu yang ketiga." Ucap namja yang duduk pada lampu gang. Rambutnya yang berwarna hitam tertiup oleh angin. Matanya yang berwarna merah memandang iris mata yang sama yang juga tengah menatapnya. Sekali kedip, mata namja tersebut berhenti berwarna merah dan kembali seperti warna asalnya. Satu kali sapuan dengan ujung lengan baju panjangnya, darah yang semula berada di sudut bibirnya sudah tersapu bersih.
"Ayokah, Donghae-ah. Aku lapar." Sahut namja yang diajak bicara. Dia melepaskan taringnya dari leher sang korban dan membiarkan tubuh mangsanya tersebut jatuh terkulai, tanpa nyawa. Iris matanya yang semula berwarna merah berangsur-angsur berubah warna menjadi warna semula. Yakni coklat jernih yang sangat memukau. Taringnyapun memendek dan kembali seperti semula.
"Kita harus segera pulang. Ratu pasti sudah menunggu kedatanganmu." Sahut Donghae tanpa menjawab perkataan pertama sang pangeran. Dia dapat merasakan jika sang namja berambut pirang tersebut menatap tajam ke arah dirinya. Mungkin namja tersebut masih ingin bermain-main.
"Arasseo." Sahut Leeteuk dengan nada pasrah dan terkesan tidak rela. Dia menendang sebuah kaleng kosong dengan kesal.
…
Heechul mondar-mandir di depan Siwon dengan wajah tidak tenang. Sesekali Ratu tersebut mengumpat dengan sangat kasar. Menandakan jika dia sangat tidak sabar lagi. Wajahnya juga penuh dengan kecemasan yang mendalam. Siwon yang melihat sang Ratu tengah gundah hanya dapat terdiam. Dia tidak berani untuk angkat suara karena takut akan mendapatkan hal yang buruk bagi dirinya sendiri.
"Sebentar lagi mereka akan datang, Yang Mulia." Kim Kibum memberanikan diri untuk berujar. Berharap kata-kata tersebut dapat sedikit membuat Ratunya tersebut tenang. Kendatipun demikian, rupanya perkataan Kim Kibum tidaklah dapat mengusik barang sedikit perhatiannya. Heechul tetap mondar-mandir tiada henti.
"Mereka datang, Yang Mulia."
Sebuah suara dari arah pintu langsung masuk ke indera pendengaran Heechul. Sang Ratu segera memberikan senyuman terbaiknya dan berlari kecil menuju ruang utama kastilnya untuk melihat putra semata wayangnya tersebut. Dan matanya langsung berbinar saat melihat Leeteuk berdiri bersampingan dengan Donghae. Sang Pangeran tersebut terlihat sangat anggun mewarisi karisma sang Ratu.
"Jung Soo!"
Sebuah pelukan hangat dilayangkan Heechul kepada putranya tersebut. Senyuman yang sangat lembut terpoles di bibir sang Ratu. Jika seperti ini, sangat terlihat jika Ratu sangat menyayangi anaknya tersebut. Sangat berbeda dengan sosok keseharian sang Ratu yang kejam dan tidak berperasaan. Donghae menghela nafas, di balik sisi kejam ternyata makhluk ciptaan Tuhan itu memiliki perasaan juga ya? Apa vampire juga memiliki perasaan? Setahu Donghae tidak. Lalu kenapa Heechul terlihat begitu bahagia?
Pandangan Donghae melembut saat Leeteuk membalas pelukan Heechul dan mencium dahi sang Ratu dengan begitu lembut seakan menggambarkan betapa dia sangat merindukan sosok orang tua yang telah melahirkannya. Perut Donghae seakan melilit saat membayangkan hal tersebut. Kata melahirkan membuatnya langsung linglung dan pemikiran bodohnya selalu merambat dalam otaknya? Bagaimana namja bisa melahirkan? Pertanyaan yang sama dan sampai sekarang Donghae tak tahu jawabannya.
"Omma, aku merindukanmu…" Kata Leeteuk, dia berdiri berhadapan dengan sosok Heechul. Omma? Jadi memang Heechul yang berada di posisi istri? Donghae kembali mengutuk pemikirannya. Seharusnya dia sadar hal tersebut sebab Ratunya kan Heechul? Sebagai seorang Ratu wajar juga Heechul berperan jadi ibu, bukan?
"Apa yang tengah kau pikirkan, Lee Donghae?" Suara Siwon yang berat membuat Donghae sedikit bergidik, namun bukannya menjawab dia malah semakin bungkam. Lee Donghae memang tidak menyukai seorang Choi Siwon. Bukan hanya karena Siwon sangat dingin namun juga karena pandangan mata Siwon seakan bisa menembus hingga batas dasar hatinya.
…
Malam hari telah sampai pada puncaknya. Bulan purnama menggantung di langit malam yang sangat cerah walau bintang tak terlihat satu buahpun untuk menemani indahnya bulan purnama malam ini. Hutan gelap tersebut terlihat sangat menakutkan dari luar. Kadang suara burung hantu terdengar di dalam hutan yang gelap. Suara gemerutuk dedaunan yang saling beradu menambah kesan angker pada hutan gelap tersebut. Seakan mengatakan jika orang pengecut sebaiknya pulang saja.
Di dalam hutan tersebut terdapat sebuah rumah. Sebuah rumah besar berbahankan kayu sederhana yang di kelilingi oleh pepohonan tinggi menjulang, membuat rumah besar tersebut bagai tersamarkan oleh sekelilingnya yang sangat tertutup. Sebuah raungan keras terdengar dari halaman belakang rumah tersebut. Suara raungan tersebut sangat menggetarkan sekeliling seakan berasal dari sosok hewan buas raksasa. Tidak sepenuhnya salah, karena tempat itu memang tempat tinggal kumpulan serigala. Serigala haus darah yang sukanya berperang. Bukan serigala yang merupakan binatang hutan. Di sini yang dimaksud adalah serigala besar yang bisa menyerupai manusia. Wirewolf.
"Ya! Kyuhyun-ah! Kau harus bisa mengendalikan diri dari bulan purnama tersebut." Seorang namja melompat turun dari ranting pohon. Namja tersebut memandang sesosok serigala besar yang tengah meraung tak terkendali.
"Sudahlah, Sungmin." Sebuah suara lain yang berasal dari seorang namja yang tiba-tiba muncul di samping sang namja pertama.
"Mau apa kau, hyung?" Sungmin menatap namja yang dia panggil hyung tersebut dengan sedikit ketus.
Sebuah raungan panjang membuat kedua namja tersebut menoleh ke sumber suara. Serigala besar yang tadinya sulit megendalikan diri kini mulai tenang, tubuhnya menyusut, taring-taringnya yang tajam memendek, bulu-bulu hewan sudah mulai hilang dari tubuh tersebut. Kini menampilannya bak seorang namja biasa dengan pakaian serba hitam. Jubah hitam menyertai bahunya yang lebar. Matanya yang berwarna hitam pekat menatap kedua orang namja yang berdiri tak jauh darinya yang juga tengah menatapnya. Nafas namja tersebut terputus-putus seakan-akan dia sudah melewati banyak tantangan yang menguras tenaga.
Namja pertama yang bernama Sungmin menghampiri namja berambut hitam tersebut. Tangannya terulur untuk menyentuh bahu sang namja, namun tangannya dihentikan oleh namja tersebut. Tak membiarkan dirinya disentuh.
"Kyuhyun-ah. Ghwenchana?
"Ne. Ghwenchanayo…" Sahut Kyuhyun dengan tenang. Dia menatap bulan purnama yang menjadi keagungannya di atas sana. Para wirewolf memang akan menjadi tak terkendali jika berada di bawah bulan purnama. Namun mereka semua berlatih untuk dapat bertahan dengan bulan purnama tersebut. Di dalam rumah besar tempatnya tinggal, hanya dirinya yang sering tidak terkendali. Mungkin karena memang dia memiliki kekuatan yang besar. Cho Kyuhyun juga tidak mengerti.
"Kangin hyung? Kenapa kau di sini?" Kyuhyun beralih pada sosok namja yang berdiri tegap tak jauh dari mereka. Namja bertubuh besar tersebut hanya diam namun bibirnya membentuk sebuah seringaian yang amat kejam.
"Appa memanggilmu. Tugas, mungkin?
"Laki-laki tua bangka itu tidak akan mungkin memanggilku untuk tugas. Kau ingat? Laki-laki brengsek itu hanya ingin membunuhku dengan perintahnya yang di luar batas." Sahut Kyuhyun ketus. Dia memalingkan wajahnya tanda tak suka.
"Temui saja dia, maka kau akan tahu." Setelah mengatakan hal tersebut, Kangin melompat ke arah kegelapan hutan yang menelan sosoknya.
"Aku bingung dengan Kangin hyung. Kira-kira mau kemana dia? Bukankah beberapa hari ini dia hanya datang berkunjung lalu dalam hitungan menit dia langsung pergi lagi." Ucap Sungmin.
"Biarkan saja. Ayo kita masuk."
Kyuhyun memutar tubuhnya dan menuju rumah besar di depannya. Tempat tinggal mereka. Jika para vampire suka kemewahan dengan banyak benda-benda gemerlap dan terkesan elegan, maka bangsa wirewolf menyukai hal yang sederhana dan nyaman bagi mereka untuk tinggal. Tidak ada banyak kemewahan, hanya ada kekeluargaan yang kuat. Namun mereka adalah mesin membunuh, tidak ada bedanya dengan musuh bebuyutan mereka.
Ruang keluarga adalah tempat pertama yang didatangi oleh Kyuhyun dan Sungmin. Di kursi utama yakni sebuah sofa berwarna merah yang cukup mewah duduklah seorang laki-laki paruh baya yang rambutnya sudah memutih, kerutan tampak mendominasi kulit tangan dan wajahnya. Namun iris mata laki-laki tersebut menyiratkan sebuah ketegasan yang amat sangat. Jika vampire dapat hidup awet muda dan hidup abadi. Maka wirewolf kebalikannya. Mereka memang memiliki umur yang panjang, namun mereka tidak abadi. Mereka tumbuh layaknya manusia dengan banyak keistimewaan-keistimewaan.
Laki-laki paruh baya tersebut memandang Kyuhyun dari atas hingga bawah, mencoba menilai putranya tersebut dengan sangat teliti. Ya, laki-laki paruh baya tersebut adalah ayah dari seorang Cho Kyuhyun.
"Kyuhyun. Aku ingin kau melakukan sesuatu." Suara laki-laki tersebut membahana di dalam ruangan tersebut.
"Ah? Tugas seperti apa? Apa itu cara barumu untuk membunuhku?" Ucap Kyuhyun dengan ketus. Dia memang tidak suka dengan sosok laki-laki yang merangkap sebagai Appanya tersebut. Karena laki-laki ini dia harus kehilangan Ommanya. Laki-laki ini yang telah membunuh Ommanya dengan sangat keji.
"Cho Kyuhyun!"
Sebuah bentakan tak akan mampu menghancurkan kerasnya dinding hati Kyuhyun. Dia memang sudah tidak bisa bersabar lagi. Namun Kyuhyun juga tida bisa menolak apa yang diperintahkan sang Appa. Mungkin faktor kesetiaan, benarkan?
"Baiklah. Kau ingin aku melakukan apa?" Ucap Kyuhyun.
"Dapatkan darah malaikat."
"Huh?" Kyuhyun tidak mengerti. Jangan bercanda. Darah malaikat? Apakah Appanya tersebut sudah gila? Malaikat berada di surga dan mereka tak mungkin sampai di tempat penuh dengan kesucian tersebut. Itu jika memang yang namanya malaikat itu benar-benar dapat dicapai dengan tangan mereka, bukan?
"Kau tahu sebuah ritual, Kyu? Sebuah ritual yang menciptakan sesosok makhluk suci seperti malaikat? Sebuah ritual yang hanya bisa dilakukan oleh immortal?" Ucap sang Appa dengan nada datar. Matanya yang berwarna hitam dan sedikit berkilat memandang ke arah Kyuhyun.
"Aku tidak tahu sama sekali tentang ritual. Apalagi ritual yang melibatkan mahkluk immortal." Sahut Kyuhyun tidak suka. Bangsa mereka memang biasa mengatakan jika bangsa vampire adalah immortal. Sedikit banyak bangsa wirewolf ingin juga menjadi immortal. Namun tidak bisa.
"Dalam ritual tersebut akan menghasilkan makhluk special yang bisa dikatakan malaikat. Darahnya sangat manis dan memiliki banyak keistimewaan. Salah satunya membuat bangsa kita menjadi immortal."
"Tidak mungkin! Apa ritual itu begitu hebat? Kenapa tidak suruh tawanan immortal kita melakukan ritual itu?" Kini Sungmin angkat bicara. Dia kaget, tentu saja. Dia pikir para vampire hidup dengan segala kemewahan tidak mungkin mengenal ritual kuno.
"Hanya immortal tertentu saja yang bisa melakukan ritual itu."
"Maksudmu hanya Ratu atau Raja mereka? Ratu Heechul?" Sahut Kyuhyun. Dia merasa tertarik dengan perbincangan ini.
"Ya. Kangin sudah menemukan kastil mereka. Aku mengutusmu ke sana untuk mendapatkan darah malaikat tersebut."
# # #
Senandung itu terasa sangat lembut di telinga Donghae. Namja itu memang di perintahkan untuk menjaga sang Pangeran oleh sang Ratu. Donghae tidak bisa menolak karena Leeteuk juga ingin dirinya yang berada di samping sang Pangeran tersebut. Dan di sinilah Donghae berada. Di taman belakang kastil. Menemani Leeteuk yang tengah duduk santai sambil menyenandungkan lagu yang sangat lembut dari mulutnya. Membuat Donghae sedikit terhanyut. Di saat para vampire seutuhnya tidur atau sekedar bersantai di dalam kastil yang gelap tanpa sinar matahari, mereka berdua malah dengan santainya berada di bawah sinar matahari. Sekedar informasi jika Donghae adalah satu-satunya vampire berdarah setengah yang berada di koloni Ratu Heechul. Menjadikannya sebagai makhluk yang kadang diperlakukan tidak adil oleh bangsanya sendiri. Karena itu kadang Donghae menyesal menjadi bagian dari koloni.
"Apa yang kau pikirkan, Hyung?" Leeteuk bertanya dengan nada yang sangat lembut sambil menepuk bahu Donghae dengan pelan.
"Aku hanya penasaran, berapa umurmu?"
"17 tahun."
"Bohong. Bukankah Ratu Heechul sudah berumur ratusan tahun?" Donghae tidak percaya.
"Karena memang 17 tahun yang lalu aku dilahirkan, Hyung. Sudahlah. Jangan tanyakan itu, ya?" Sahut Leeteuk.
Donghae bungkam. Sekilas dia dapat melihat kilat kesedihan di mata Leeteuk, membuat hati Donghae merasa tidak nyaman. Dia memang sedikit tertarik dengan pangeran vampire tersebut. Namun entah kenapa terlalu lebar jarak yang tercipta meski kini mereka sangat berdekatan. Tiba-tiba dia merasakan bahaya, seseorang tengah mengawasi mereka.
Tep! Donghae menangkap sebuah pisau yang hampir saja mengenai kepala Leeteuk. Dengan garang dia menatap sekitarnya yang sepi. Lalu matanya berkilat marah dan segera meluncurkan pisau itu dengan kecepatan tinggi ke arah semak-semak yang berjarak puluhan meter dari mereka. Dan seketika terdengar suara raungan. Serigala! Itulah hal pertama yang terlintas di benak Donghae. Dengan sigap dia sudah berdiri di hadapan Leeteuk, untuk melindungi sang Pangeran yang sejak tadi tidak bergerak dari duduknya. Shock, mungkin?
"Araa~ ternyata di sini kalian bersembunyi ya?"
Seorang namja kekar keluar dari semak-semak yang baru saja di lempar pisau oleh Donghae. Namja tersebut memiliki perawakan yang besar, kekar dan terlihat kuat. Pakaian namja tersebut berwarna coklat kehitaman yang terbuat dari kulit, sedangkan celananya hanya selutut dengan ikat pinggang terbuat dari bulu binatang berwarna abu-abu. Lengannya tampak tergores dan mengeluarkan darah, akibat terkena pisau yang dilemparkan oleh Donghae.
"Siapa kau!?" Ucap Donghae. Tangannya melintang di depan Leeteuk. Melindungi sang pangeran yang kini sudah berdiri di belakangnya. Iris matanya berubah merah, siap bertempur.
Bukannya menjawab, namja tersebut malah tertawa dengan begitu keras. Dia merasa menang, tentu saja. Setelah pencariannya selama beberapa hari lamanya, akhirnya dia berhasil juga menemukan kastil koloni para vampire ini. Dia senang, dan saat dia memutuskan untuk memberi salam ternyata itu tidak salah. Dia menemukan pemilik darah malaikat tersebut. Aromanya saja sudah seenak ini, apalagi jika dia berhasil mencicipinya.
"Siapa kau?" Kali ini Leeteuk yang berujar. Suaranya terdengar sangat lembut.
"Aku Kangin." Namja tersebut menjawab. Sedikit banyak dia merasa tertarik dengan namja berparas malaikat itu.
Gerakan yang sangat gesit serta pukulan yang sangat kuat dari Kangin mengarah langsung ke arah Donghae dan Leeteuk. Dengan sigap, Donghae menghindar dan memukul tangan kanan Kangin yang di arahkan kepada mereka. Namun rupanya dengan gerakan kilat, Kangin berhasil berdiri di belakang Leeteuk dan akan langsung menyerang namja tersebut, namun gerakannya terhenti saat satu anak panah berwarna keemasan mendarat di samping kaki kirinya dan sedikit menggores tangannya yang terulur akan menyerang Leeteuk.
Iris mata Kangin yang berwarna hitam pekat memandang ke sumber anak panah tersebut berasal. Dia langsung memunculkan seringaiannya saat tahu anak panah tersebut berasal dari seorang namja berpakaian bangsawan dengan sangat elegan. Ratu. Ratu Heechul.
Namun seringaiannya hilang saat berpuluh-puluh anak panah lainnya menyusul untuk menyerangnya. Rupanya memang tidak semudah itu masuk ke kawasan yang penuh dengan makhluk immortal. Dia melompat menjauh dari tempat itu dan berlari berlindung. Dia kembali menyeringai saat melihat sang pemilik darah malaikat menunduk saat mata mereka bertemu.
"Sampai di sini saja perkenalan kita."
Seiring dengan selesainya ucapan dari dari Kangin. Sosok namja tersebut menghilang ditelan kegelapan hutan yang mengitari kastil para koloni vampire.
TBC
Ma'af ya bagi yang udah nunggu fanfic ini untuk lanjut. Bukannya tidak mau lanjut sih, hanya saja apa ya? Ide di otak saya berkecamuk dengan tidak terkendali. Banyak sekali inspirasi sampai saya bingung mau lanjutin yang mana. Pas udah konsisten ternyata pas ngetik satu atau dua paragraph langsung beralih lagi pada fic yang lain. Huwaa miaaaann… Tapi ini udah lanjut. Hehehe …lagi pula saya merasakan sebuah keraguan saat akan melanjutkan fic ini. Soalnya ada larangan RPF (Real Person Fanfic) di sini. Makanya saya bingung mau lanjut atau tidak, tapi karena ada reader yang menunggu fic saya ini, jadi saya putuskan untuk lanjut.
Balasan review :
Sauriva Angelast : Wow? Saya bingung mau balas gimana. Jadi saya ucapkan terima kasih udah review, Sauriva-ssi…
Hae-Hae Fishy : Ayo, ayo kita ke Tokyo Tower. Hehehe… Iya ini udah lanjut. Maaf kalau lama … dan juga terima kasih udah review…
Eun sung : Gimana ya ? rahasia, baca aj terus. Hehe … yg lainnya bakal muncul seiring berjalannya waktu … makasih udah review…
TeukTeukTeukie : hehe, baru kali ini ya? Tenang aja, Teukie emang jadi uke kok… makasih udah review…
Dew'yellow : Mian, mian, gak bisa diubah lagi. Soalnya ceritanya bakal aneh kalau saya jadikan TeukHae… sekali lagi maaf ya dan makasih udah review…
Arum Junnie : ini udah lanjut… ini haeteuk… makasih udah review…
Arumfishy : Ini yaoi, dan Hae sebagai seme. Hehe makasih udah review…
Angelika Park : Saya jg suka dgn crack couple. Khekhekhe, slihgtWonTeuk ya? Bisa terjadi tp bisa jg tdk…. #plakkk! Tentu saja Hae akn jatuh cnta dengan teuki… XD tenang aja, teukie uke kok… makasih udah review…
Ahra : Ini udah lanjut tp ga bisa sesegera mungkin… makasih udah review…
Grey Orul : hehe, ini udah update tp gk bisa update kilat … makasih udah review…
Tyateukieee : Maaf ga bisa update cepat. Alasannya seperti yang udah sya blg di atas … makasih udah review… saya melanjutkn fic ini jga krna kmu lho …
Yunitaelf : Iya, ini uda lnjut… makasih udah review…
Guest : Ini udah lanjut … maaf ya krn lama banget ,,, makasih udah review…
