Aku mempercepat lariku menuju kantor, agar tidak terlambat sampai disana. Hari ini uang ongkos untuk ke kantor kuberikan pada Jaemin karena hari ini ada buku yang harus adikku beli.
Akhirnya aku sampai juga ditempatku bekerja, hahh lari berkilo-kilo meter membuat tubuhku kelelahan juga, keringat langsung membanjiri tubuhku tapi tak apa ini demi adikku juga.
Aku bergegas ganti baju di ruang ganti OB, setelah itu keluar menemui Baekhyun.
"Hai, Baekhyunie." Sapaku
"Oh, hai Lu, kau baru saja datang?"
"Iya, hemm Baek..."
"Ya, ada apa Lu?"
"Baekhyunie, apa hari ini kau bawa uang lebih?..jika ya, aku ingin pinjam uang padamu..."
"Lu, hari ini aku bawa uang pas, maafkan aku, tapi jika ini sangat mendesak, jam istirahat aku akan meminta chanyeol untuk bawakan uang kemari, bagaimana?"
"A-ah tidak apa-apa jika tidak ada, aku tidak mau merepotkan Chanyeol..."
"Maafkan aku ya, Lu...memang uang itu untuk apa?"
"Hari ini batas terakhir pembayaran listrik di rumah, jika hari ini aku tidak bayar, maka listrik di rumah akan di putus."
"Atau begini saja, nanti pulang kau mampir dulu kerumahku untuk mengambil uang, oke!"
"Baiklah, terima kasih ya Baekhyuni."
Sesaat setelah berbicara dengan Baekhyun tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara pukulan pada pintu ruangan dengan sangat keras, ketika aku berbalik untuk melihat kebelakang, aku makin tersentak saat kulihat Sehun dan bawahannya sedang berada di dekat pintu dan melihati kami.
"Jam berapa sekarang! Bukannya kalian bersiap-siap kerja malah asyik-asyiknya mengobrol! Apa kalian sudah tidak ingin lagi bekerja di kantorku?!" Sehun berbicara pada kami dengan wajah marahnya. Perkataan Sehun tak elak membuat tubuhku bergetar hebat! Tidak, jangan sampai Sehun memecat kami. Dengan tubuh yang bergetar aku memberanikan diri melangkah selangkah mendekati Sehun, membungkuk di depan Sehun dan bawahannya,
"Maafkan saya tuan Presdir, saya berjanji ini terakhir kalinya kami lalay dalam bekerja, tolong jangan pecat kami."
"Jangan berjanji jika kau belum tentu bisa menepatinya, aku memberikan kalian kesempatan. Jangan sampai kejadian ini terulang kembali." Setelah itu Sehun pergi dari ruangan OB.
"Baekhunie, maafkan aku." Sesalku
"Tidak apa-apa, sekarang ayo kita mulai bekerja jangan sampai tuan Presdir kembali dan benar-benar memecat kita."
Akhirnya aku dan Baekhyun mulai berkerja seperti biasa..
###########
"Luhan," Taeyeong memanggilku
"Ada apa Tae?"
"Pak Suho memanggilmu keruangannya" jawab Taeyeong.
"Ada apa ya, Pak Suho memanggilku?"
"Aku tidak tahu, lebih baik kau segera menemuinya Lu."
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu." Ada apa ya, pak Suho memanggilku, apa ini ada hubungannya dengan kejadian tadi pagi? Apa Sehun berubah pikiran, dia akan memecatku?! Ahh tidak-tidak aku tidak boleh berpikiran negative dulu..
Aku mengetuk pintu ruangan Pak Suho, setelah mendengar ijinnya untuk masuk, baru aku memasuki ruangan.
"Maaf, tadi Taeyeong memanggilku, katanya anda ingin berbicara dengan saya?"
"Benar. Aku memanggilmu kemari karena ada yang ingin aku bicarakan. Begini, jadi mulai sekarang kau aku tugaskan untuk jadi OB khusus tuan Sehun, jadi tugasmu mulai hari ini adalah bertanggung jawab dalam kebersihan ruangan tuan Presdir, mengantarkan kopi pada Presdir dan sebagainya yang bersangkutan dengan Presdir. Kau mengerti?" Jujur aku kaget dengan printah pak Suho, aku tidak masalah mengerjakan pekerjaan itu, tapi bagaimana dengan Sehun, aku takut kesalan kecil yang mungkin tak sengaja aku lakkan akan menjadi alasannya untuk memecatku.
"Luhan." Aku kembali tersadar dari lamunanku,
"Ah baiklahlah, saya mengerti, apa ada yang lain lagi?" tanyaku
"Untuk saat ini hanya itu saja, sekarang kau biasa kembali bekerja." Aku keluar dari ruangan itu dengan perasaan cemas, bagaimana ini?...
###########
Ini adalah waktunyaa mengantarkan kopi ke ruangan Sehun, jantungku serasa ingin meledak saking gugupnya aku, aku ketuk pintu dan menunggu ijin Sehun untuk masuk ke dalam, setelah mendapatkan ijin aku masuk kedalam. Kulihat Sehun sedang fokus dengan dokumen-dokumennya tanpa melihat ke arahku sedikitpun.
"Tuan Presdir ini kopi anda," kataku. Aku meletakan kopi itu di meja, aku meminta ijin pergi setelah itu berbalik pergi meninggalkan meja. Namun baru saja aku melangkah pada langkah yang ketiga, suara gelas yang di lempar ke lantai mengagetkanku, bahkan pecahannya sampai ada yang mengenai kakiku.
"APA KAU BERNIAT MERACUNIKU, kopi buatanmu sungguh tidak layak diminum olehku?!" katanya dengan suara yang menggelegar. Aku syok, belum pernah selama aku hidup, aku mendengar bentakan seperti itu yang ditujukan untukku. Tubuhku menegang, juga gemetar hebat.
"Maafkan saya tuan, biar saya ganti dengan yang baru." Jawabku dengan suara bergetar karena takut, sebisa mungkin aku menahan air mata yang mungkin saja bisa menetes dengan sekali berkedip.
"Berapa sendok gula yang anda inginkan tuan?" tanyaku sambil mengumpulkan pecahan gelas yang berserakan di lantai. Sesekali aku mgeringis karena tanganku tidak sengaja terkena goresan beling. Tapi itu tak seberapa sakit ketimbang hatiku yang jauh lebih terluka.
"Itu tugasmu untuk mencari tau kopi apa yang aku suka, kau bisa bertanya pada siapapun. Dan jika besok kau masih tidak tahu kopi apa yang aku suka, maka bersiap-siaplah untuk menerima surat pemecatanmu. Sekarang keluarlah, aku ingin melihatmu berlama-lama di dalam ruanganku." Jawabnya dengan wajah dingin yang dia perlihatkan padaku. Aku mengangguk dan undur diri setelah itu.
Setelah menutup pintu itu kembali, aku merosot jatuh ke lantai karena tidak kuat menopang tubuhku yang lemas ini, sakit sungguh sakit hatiku. Aku cepat-cepat kembali berdiri, aku tidak ingin memperlihatkan kekejaman Sehun pada orang lain, aku tidak ingin orang-orang membicarakan Sehun dengan kata-kata buruk. Karena Sehun orang baik aku yang mungkin mengubahnya jadi Sehun yang seperti ini.
T
B
C
Note; buat temen2 diminta saran dan kesannya ya, biar aku tahu kekurangan apa yang aku miliki dalam menulis(mengetik) cerita ini, apa masih layak di lanjut atau enggak, oke ;)..
Cerita ini tidak sempet aku edit, maaf ya hehehehe
