Withered Soul (c) prxmroses
Taehyung/Jungkook ; bxb–Shounen-ai
T – ( M for words and suggestive contents only )

.

.

.

Happy reading!

Sudah hampir pukul sebelas malam, tapi Jeongguk masih terjaga dengan tidurnya. Dengan telinga kanannya yang menempel dengan bahu kanannya–menjepit ponselnya– kedua tangan pria itu sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam tas ranselnya. Suara dari seberang sana tampak terus menginterupsinya, menanyakannya berbagai macam hal yang pada akhirnya hanya akan di jawab oleh gumaman singkat seperti 'hmm' dan 'ya' oleh Jeongguk. Kedua kakinya melangkah menuju lemarinya, membuka lemari tersebut dan memilah beberapa baju yang tergantung dengan apik disana. "Aku hanya membawa dua baju ganti, kalau kau terserah. Bawa satu juga cukup," ujarnya ketika kegiatan memilah bajunya terhenti oleh suara yang kembali memanggil namanya–meminta sarannya.

"Apa sendok dan garpu perlu aku bawa juga?"

Suara berat milik Taehyung kembali terdengar–ternyata ia sedang bertelepon dengan Taehyung setelah pria itu pulang dari apartemennya beberapa jam yang lalu– dan bertanya. Jeongguk menaikkan sebelah alisnya, memerlukan sekitar beberapa detik untuk dapat merespon ucapan Taehyung hingga pada akhirnya ia memilih untuk bungkam–terlalu malas untuk membalasnya. Selagi Jeongguk sibuk melipat bajunya dan memasukannya ke dalam ransel, samar-samar ia dapat mendengar suara nafas Taehyung–sambungan telepon mereka sama sekali belum terputus– yang berhembus menggelitik indra pendengarannya. "Hey, kau baik-baik saja?" Taehyung bertanya, ketika sadar Jeongguk sudah hampir lebih dari tiga menit tidak menjawab pertanyaannya.

"Bawa saja, kan aku sudah bilang, ini persiapan. Siapa tahu saat kau mendapat paket konsumsi, sumpit atau sendoknya tidak bersih," jawabnya sembari menutup ranselnya dan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Singkat, Jeongguk dapat mendengar gumaman Taehyung dan langkah kaki pria itu yang terdengar menggebu-gebu ; tanpa melihatpun Jeongguk tahu Taehyung pasti tengah berlari menuju dapur dan mengambil sendok–terlebih suara khas alumunium yang bergesekan dapat terdengar. "Memangnya kau belum menyiapkan apa-apa dari tadi?" Jeongguk bertanya, sekedar berbasa-basi karena tampaknya Taehyung tampak mulai sibuk merapihkan ranselnya dan tak lagi mengajukan pertanyaan apapun padanya.

"Sepulang dari apartemenmu aku langsung tidur, baru terbangun setengah jam sebelum aku meneleponmu," jawabnya singkat. Jeongguk hanya menganggukkan kepalanya, tak tahu harus merespon apalagi, ataupun berbasa-basi apalagi. He's not good at keeping the conversation on, lagipula memang dari kemarin sejak awal pertemuannya Taehyung lah yang selalu berkoar memaksanya untuk merespon seluruh ucapannya. Ia bawel, humoris, idiot, konyol, dan mengganggu, begitu pikir Jeongguk mengenai Taehyung. Tapi setidaknya ia tidak sombong, tipikal publik figur yang supel dan mudah berteman dengan siapapun. "Apa yang dilakukan bocah SMA pada tengah malam seperti ini, tidak baik untuk anak remaja. Lebih baik kau tidur saja, besok jam setengah tujuh aku ke apartemenmu."

"–aku juga baru menyiapkan kebutuhanku, idiot," ujarnya malas sambil memutar kedua bola matanya, "memangnya setengah tujuh tidak terlalu pagi? Jangan bodohi aku, managermu sudah memberiku jadwalmu bulan ini, walaupun acaranya dimulai pukul delapan tapi giliranmu itu pukul dua siang," ungkapnya kesal.

"Tidak, tidak. Kita bisa berjalan-jalan terlebih dahulu, kan? Lagipula aku ingin membeli beberapa baju untuk Sujeong. Kalau begitu kau tidur duluan, besok ku jemput. Dadah bocah"

Sambungan telepon terputus begitu saja, membuat Jeongguk terdiam untuk beberapa saat dan segera membanting ponselnya asal ke ranjangnya. "Idiot, jangan bilang besok aku akan berakhir seperti pembantu di drama-drama picisan, sibuk membawa ratusan tas belanja," gumamnya sarkastik tatkala punggungnya yang perlahan mulai ia sandarkan pada kepala ranjang. "Tapi ia memperlakukan dirinya seperti asistenku– bahkan menjemputku. Dasar model idiot, cara berpikirnya tidak logis sama sekali."

...

Jeongguk menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan telapak tangan kanannya, matanya masih tertutup dengan rapat–sudah terjaga, tapi masih mengantuk. Jika saja Taehyung tidak menggedor-gedor pintu apartemennya–karena bel sepertinya tak dapat membangunkannya– mungkin Jeongguk tak akan terbangun dari tidurnya. Dan jika saja Taehyung tidak memaksa pria itu untuk segera mandi, mungkin Jeongguk masih akan terbaring di ranjangnya. "Astaga, buka matamu," Taehyung mendengus, ketika ia memakaikan bocah SMA itu beanie. Posisinya berpindah ke hadapan Jeongguk yang terduduk di kursi dan masih sibuk menutup matanya, sambil melihat penampilan Jeongguk jemarinya tergerak untuk merapihkan poni bocah itu. "Sudah panjang, memangnya tidak berniat memotongnya?" Taehyung bertanya dengan tangan yang sibuk menyingkirkan poni Jeongguk dari sepasang matanya yang masih dengan setia terkatup rapat. Pertanyaan yang diajukan olehnya sama sekali tak mendapat jawaban apapun dari Jeongguk selain beberapa gumaman yang membuat Taehyung gemas sendiri menghadapi bocah SMA ini.

"Ya Tuhan Jeon Jeongguk, ini sudah pukul setengah tujuh lewat," tutur Taehyung sembari menepuk-nepuk pipi pria yang lebih muda, namun tetap belum ada reaksi apapun darinya. Mau tak mau saat itu juga Taehyung segera membopong tubuh bocah SMA tersebut dengan ransel merah milik Jeongguk yang tersampir di bahu kirinya. Sekalipun seperti ini, pria bergigi kelinci ini sama sekali tak berminat untuk membuka matanya dan tetap melanjutkan tidurnya– dan itu yang mampu membuat Taehyung menggelengkan kepalanya.

"Hey, astaga, Jeongguk, bangun!" Taehyung mendekatkan bibirnya dengan telinga Jeongguk dan membisiki pria itu, menyuruhnya untuk segera bangun. Posisinya yang kini berada di dalam lift membuat beberapa orang memandanginya aneh, terlebih dengan penampilannya–penyamaran– yang membuat mereka sedikit menjaga jarak dengan Taehyung. Singkatnya, bagaimana bisa orang dengan kacamata hitam dan masker yang terpasang di wajahnya tidak membuat orang-orang di dalam lift merasa was-was, terlebih pria itu membopong tubuh seorang anak remaja yang tak sadarkan diri di bahu kanannya, sedangkan di bahu kirinya tersampir ransel merah. Dan Taehyung baru menyadari sebuah hal yang menjadi alasan mengapa kini ia menjadi tontonan orang-orang ; sekarang ini ia terlihat seperti seorang penjahat yang mengincar anak remaja seperti Jeongguk.

"Kau merepotkan sekali, aku berani bersumpah," gerutu Taehyung tatkala pintu lift terbuka dan membuatnya segera melangkah menuju mobilnya– masih dengan Jeongguk yang tertidur di bahunya. Ia mencoba mati-matian untuk tidak mempedulikan pandangan orang-orang yang terus tertuju padanya– persetan, lagipula ia memang tidak melakukan apapun pada Jeongguk, ia bahkan berani untuk segera membangunkan Jeongguk dan menyuruh pria itu memberi tahu seluruh orang yang sejak tadi memperhatikannya bahwa dirinya merupakan orang baik-baik. Hanya saja sekalipun Taehyung sudah mencoba untuk membangunkan Jeongguk sejak tadi, tetap saja bocah SMA ini terus tertidur dan tak berminat untuk membuka matanya.

Sambil meletakkan ransel Jeongguk di jok kursi belakang, Taehyung segera melepaskan kacamata hitam dan maskernya lalu menghembuskan nafasnya lega ketika pada akhirnya kini ia dapat sampai di mobilnya setelah terus dipandangi sebagai seorang penculik hanya karena pria di sampingnya– Jeongguk. Pria itu menggelengkan kepalanya sejenak lalu segera menyalakan mobilnya dan membawa kendaraan beroda empat itu pergi dari gedung apartemen Jeongguk.

Keadaan jalanan Seoul yang cukup lengang di pagi hari membuat Taehyung dapat dengan bebas membawa mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi– kebiasaan buruknya yang tak pernah hilang sejak dulu, entah alasan apa yang membuatnya senang membawa mobilnya dengan gila seperti pengendara ugal-ugalan. Sekalipun Sujeong sudah memarahinya karena hobi anehnya yang bahkan tak dapat menjamin keselamatannya– Taehyung tak peduli. Dan mungkin karena salah satu hobinya yang tengah terlaksana pagi ini, model tampan itu tak menyangka jika membawa mobilnya dalam kecepatan tinggi seperti ini dapat membuat bocah SMA di sampingnya secara reflek membuka matanya dan berteriak dengan volume suara yang tak dapat dibilang pelan– terlebih ia memanggil Taehyung gila karena sudah mengajaknya pergi menantang maut disaat ia baru saja terbangun dari tidur tampannya.

"Astaga bodoh– pelankan kecepatannya, pelankan!"

Taehyung lantas menatap Jeongguk dengan hasrat ingin tertawa yang mati-matian tengah ia tahan, melihat bagaimana bocah SMA ini terlihat sekarang; jemarinya menggenggam safety belt yang mengikat tubuhnya remat-remat, sedangkan raut wajahnya tampak menyiratkan kekhawatiran yang begitu tinggi. Akibat tak kuasa melihat Jeongguk yang bisa saja jatuh despresi akibat rasa takutnya sendiri yang disebabkan oleh Taehyung yang membawa mobil dengan kecepatan tinggi, pria bermarga Kim itu perlahan mulai menjalankan mobilnya dengan normal tatkala lantas sebuah tawa lolos dari kedua celah bibirnya. Ia tertawa, setiap kali ingatannya jatuh pada saat-saat ketika Jeongguk menunjukkan ekspresi ketakutannya yang berlebihan– namun itu terlihat sangat lucu disaat yang bersamaan. "Idiot! Jangan tertawa!" Jeongguk memaki Taehyung, ketika perlahan ia melepaskan rematan jemarinya pada safety belt yang sebelumnya ia cengkram dengan erat.

Jeongguk menunjukkan wajah masamnya ketika ia menyadari Taehyung yang tak kunjung berhenti tertawa sedangkan pandangannya terus tertuju dan terfokus pada jalanan di hadapannya. Kedua matanya terarah menuju jam tangan merahnya yang melingkari pergelangan tangan kirinya; sudah pukul tujuh lewat delapan menit. Masih sebuah awal di hari Minggu ini. Perlahan Jeongguk menghembuskan nafasnya dengan kasar, wajahnya terlihat semakin masam ketika ia menyadari sebuah hal;

Ini masih sebuah awal, dan Jeongguk sudah pasrah dengan seluruh kebodohan Taehyung yang muncul begitu saja berlawanan dengan paras arogannya– selain pasrah, ia juga lelah.

...

Jeongguk baru tahu jika seperti inilah rasanya berjalan berdampingan dengan seorang publik figur ternama pada sebuah tempat ramai– Taehyung yang menarik lengan Jeongguk menyusuri setiap sudut pusat perbelanjaan terbesar di Seoul; jelas saja hal ini menarik perhatian semua orang yang memandangnya dengan pandangan tak suka. Sekalipun ia ini seorang pria yang berarti sudah jelas tak akanmemiliki hubungan spesial apapun dengan Taehyung, namun tetap saja pandangan sinis yang menusuknya dengan rasa ketidak sukaan dan keirian membuat Jeongguk risih dibuatnya. Mungkin, inilah yang Sujeong rasakan setiap kali berkencan dengan Taehyung– mendapatkan ribuan tatapan kebencian dari para penggemar Taehyung yang tak senang melihat keduanya bersama.

"Lepaskan tanganku, aku bisa jalan sendiri," desis Jeongguk dengan malas ketika menyadari bahwa sedari tadi ia merasa tak lebih dari seorang anak kucing yang tengah di tuntun oleh pemiliknya mengitari pusat perbelanjaan yang luas. Bocah SMA itu mendesis kesal, ketika Taehyung bertingkah seakan dirinya tuli tak mendengar desisannya dan terus menarik pergelangan tangannya– lihatlah bahkan ia melangkah dengan santai seakan tak memiliki beban dan tak merasakan aura aneh yang muncul dari sosok di belakangnya.

"Akhirnya sampai! Hey, bantu aku memilih baju untuk Sujeong, ya? Seleramu itu bagus, mungkin Sujeong akan senang menerima baju pilihanmu," ungkapnya sambil menolehkan kepalanya ke belakang, menunjukkan senyuman lebarnya disertai sederet giginya yang berjajar dengan rapih ke arah Jeongguk, lalu kembali menarik tangan yang lebih muda masuk ke dalam toko pakaian wanita. Perlahan namun pasti Jeongguk dapat merasakan jemari Taehyung yang awalnya melingkari pergelangan tangannya dengan erat, kini mulai meregang hingga pada akhirnya kontak fisik keduanya berakhir. Kedua jenjang kaki Taehyung melangkah mengitari setiap sisi toko pakaian tersebut, sambil sesekali memperhatikan beberapa pakaian yang menarik perhatiannya.

"Jeongguk-ah, kemari sebentar!" Suara berat Taehyung tampak menggema di dalam toko tersebut, memanggil nama Jeongguk dengan tangan kanan yang tergerak untuk menyuruhnya menghampiri model tersebut. Dengan malas, Jeongguk melangkah mendekati Taehyung dan menatap pria tersebut dengan pandangan bertanya. Jemari Taehyung terarah menuju salah satu gaun pendek berwarna white broken disampingnya, sedangkan pandangannya memberikan Jeongguk sebuah pertanyaan mengenai sarannya– apakah gaun ini akan terlihat cocok ketika Sujeong gunakan atau sebaliknya.

"Ini bagus," gumam Jeongguk ketika secara tak sadar tangannya terulur untuk mengambil gaun tersebut dan memperhatikan detailnya lebih dalam. Jemarinya mengusap bahan gaun tersebut, lalu mengulas senyuman tipis di wajahnya, "warnanya yang pucat akan terlihat sepadan dengan kulit cerah Sujeong, dan bentuknya yang ringan dan lebih di dominasi oleh warna polos cocok dengan bentuk tubuhnya yang tinggi. Pilihan yang bagus," ungkap Jeongguk, masih dengan senyuman tipis yang terulas di wajahnya.

Mendengar respon Jeongguk yang baik, lantas Taehyung segera menarik kedua sudut bibirnya melengkung ke atas. Pandangan ramahnya langsung bertabrakan dengan senyuman Jeongguk, membuat pria itu segera mengusak kasar rambut Jeongguk dan mengambil gaun yang berada di tangan anak SMA tersebut lalu menyampirkannya pada bahunya. "Kalau begitu ayo kita cari yang lain," ujarnya tatkala jemarinya kembali menyambar pergelangan tangan Jeongguk dan membawa pria yang lebih muda melangkah lebih dalam menuju toko tersebut. Kali ini, Jeongguk tidak memberikan protes maupun desisan sama sekali. Sepasang matanya hanya terfokus pada baju-baju yang terpajang pada toko tersebut.

"Kau berminat membeli salah satunya?" Ketika bertanya, Taehyung membalikkan badannya menghadap Jeongguk dan menatap pria tersebut dengan cengiran khasnya– cengirannya yang berbentuk persegi yang rata. Jeongguk mengerutkan keningnya, tampak mencoba untuk mencerna pertanyaan yang dimaksud oleh Taehyung, hingga pada detik selanjutnya ketika otaknya sudah menangkap sepenuhnya arti dari pertanyaan Taehyung, pria bermarga Jeon itu segera bergumam kesal, "idiot," dan ini merupakan yang kesekian kalinya Jeongguk memanggil Taehyung dengan kata idiot.

Lagipula ini kan toko pakaian wanita, yang benar saja Taehyung menawarkannya untuk membeli baju disini.

...

"Sudah pukul setengah sebelas siang, apa sebaiknya kita segera pergi ke festival sekarang?" Jeongguk menatap arloji merah darahnya yang melingkari pergelangan tangan kirinya, lalu sepasang hazel kelam itu menatap Taehyung yang tengah terduduk dengan santapan makan siang di hadapannya– dan jangan lupakan, belanjaannya yang diletakkan mengelilingi tempat dimana ia tengah terduduk. Taehyung tampak mengabaikan ucapan Jeongguk dan terus kembali menyatap makan siangnya dengan santai, beberapa kali ia menyambar minumannya dan menegaknya. Sifat menjengkelkan model itu lantas saja membuat Jeongguk berdecak kesal, lalu menghentakkan kakinya dengan cukup keras– kegiatan yang lantas mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya dan juga Taehyung. Melihat apa yang baru saja dilakukan oleh pria yang lebih muda, pria bermarga Kim itu melantunkan tawa kecilnya yang lolos dari kedua celah garis bibirnya. Ia tertawa, diatas wajah masam Jeongguk.

"Acara fashion shownya dimulai pukul dua siang, dan kau mendapatkan empat bagian untuk tampil– salah satunya sebagai pembuka. Bagaimana bisa kau bersikap santai seperti ini sedangkan aku sebagai asistenmu yang kewalahan membayangkan jika kau terlambat datang dan membuat jadwal acara tersebut berantakan," ujar Jeongguk sambil menarik piring makanan Taehyung jauh-jauh dari pria tersebut–secara tidak langsung ia sudah memutuskan kontak mulut lapar Taehyung dengan makanannya. Tangannya pun tergerak untuk menyambar minuman Taehyung dan membiarkan model dihadapannya ini menatapnya dengan pandangan menyedihkan; ia memberikan Jeongguk sejuta tatapan memohon, dengan mulut yang penuh dengan makanan. Jeongguk mendecih, lalu bangkit dari duduknya, "kita berangkat sekarang, minumnya nanti saja di mobil," tuturnya sambil melangkah pergi, meninggalkan Taehyung yang kini tengah susah payah mengunyah makanannya dan dengan sekuat tenaga mencoba untuk mengejar Jeongguk, dengan belasan tas belanja yang dibawanya.

Sadar bahwa jaraknya dengan Taehyung sudah terlampau cukup jauh, Jeongguk segera membalikkan badannya dan menatap pria yang lebih tua kini tengah berlari kecil mengejarnya dengan susah payah. Rasanya sulit untuk menahan senyumannya yang secara tak sadar terukir dengan begitu jelas; Taehyung benar-benar jauh dari kata sombong. Sekalipun ia melamar dirinya sebagai asisten Taehyung, pria itu sama sekali tak memintanya untuk membawakan semua barangnya–ia mandiri dan melakukan semuanya dengan usahanya, selagi ia pikir ia masih mampu melakukannya sendiri, maka ia tidak akan pernah meminta bantuan. "Sini kubantu," ujar Jeongguk ketika menyadari Taehyung yang kini sudah berada di hadapannya. Tangan kanannya terulur untuk mengambil beberapa tas belanja dari sisi Taehyung, lalu kembali melangkah dengan model tersebut yang berjalan di sampingnya, "kau ini belanja banyak sekali."

"Habisnya sudah lama aku tidak menghabiskan waktu bersama Sujeong, paling-paling kami hanya bertemu di kafe saat ada waktu luang sebelum jam kuliah berlangsung. Bulan depan Sujeong mulai vakum sejenak dari kegiatan kuliahnya untuk persiapan comeback dan tour concertnya, aku juga–kupikir kau sudah membaca jadwalku untuk dua bulan ini dari managerku, jadi mungkin aku tidak perlu menjelaskannya. Sujeong tidak pernah meminta aku membelikan apapun, tapi kurasa ia akan senang menerima hadiah ini; apalagi kalau aku memberitahunya kalau kau juga membantuku dalam memilih baju-baju ini untuknya."

Dalam langkahnya yang tenang, Jeongguk menolehkan kepalanya dan menatap Taehyung dengan pandangan mengintimidasi. "Kutebak kau pasti sudah menceritakanku pada kekasihmu itu?" Jeongguk bertanya, dan pada detik selanjutnya Taehyung langsung tertawa dengan keras–membuat keduanya lantas menjadi titik fokus para pengunjung di pusat perbelanjaan tersebut. Taehyung tidak mengenakan masker maupun kacamata hitamnya, dan itu yang membuat orang-orang dalam sekejap mata langsung terpana melihat bagaimana sosok yang mereka panggil sebagai 'the most beautiful human being' itu kini tengah tertawa dengan ikhlas. Jeongguk mengangkat bahunya acuh tatkala matanya memperhatikan reaksi orang-orang disekitar mereka, nasib seorang publik figur, batinnya santai sambil terus melangkah dan mencoba menghiraukan setiap pandangan bertanya yang hadir dari orang-orang disekitarnya–pandangan yang tertuju tepat padanya.

"Kau tidak risih dipandangi seperti itu oleh orang-orang?" tanya Taehyung sambil menata beberapa belanjaan yang dibawanya pada jok belakang, sudut matanya menangkap Jeongguk yang tampak tenang meletakkan belanjaan Taehyung dan tak berniat menjawab pertanyaan model tersebut. Setelah dirasanya cukup, ia segera menghempaskan bokongnya pada jok disamping kursi pengemudi–kursi yang diambil alih oleh Taehyung– dan melepaskan beanie yang sebelumnya terpasang di kepalanya. Pria yang lebih muda perlahan menyandarkan punggungnya pada jok mobil, sedangkan mulutnya sibuk meniup helaian poninya yang jatuh menutupi setengah indra penglihatannya.

"Hey, jawab aku."

Taehyung jengkel rupanya.

Kedua retina Jeongguk menatap perpotongan wajah Taehyung dari samping. Raut wajahnya terlihat begitu serius ketika pandangannya hanya terfokus pada jalanan di hadapannya, sedangkan sisi lain dari rahang tegasnya yang terpahat dengan begitu tajam memberikan efek 'kesempurnaan' lainnya pada diri Taehyung yang dapat Jeongguk rasakan; terlebih, dengan cahaya matahari yang menerobos jendela mobil dan menyiram wajah Taehyung dengan menawan–membuat kedua hazel almond yang sudah berwarna cokelat itu menjadi semakin terlihat terang akibat siraman sinar matahari siang. "Biasa saja, memangnya ada hubungan apa aku dengan mereka," Jeongguk akhirnya menjawab pertanyaan Taehyung yang sejak tadi sudah dihiraukannya–setelah sadar dari lamunannya.

"Sepertinya kau harus membuang jauh-jauh sifat cuekmu. Seharusnya pelajar sepertimu mencoba untuk peduli dengan keadaan sekitar," ucap Taehyung tatkala tangannya mencoba untuk membuka dashboard yang berada di hadapan Jeongguk–mencoba untuk mengambil kacamatanya. Tahu bahwa hal bodoh yang tengah Taehyung lakukan bisa membuang nyawa keduanya secara percuma, Jeongguk segera menyingkirkan tangan Taehyung dari dashboard dan mengambil alih gerakan pria itu untuk mengambil kacamata hitamnya. "Aku belum mau mati, asal kau tahu," ujar Jeongguk sambil menjulurkan kacamata Taehyung dengan malas.

Mendengar ucapan bocah SMA itu, mau tak mau Taehyung terkekeh lalu menerima kacamata yang Jeongguk ulurkan dan mengenakannya. Kedua tangannya kembali sibuk mengatur kemudi mobilnya, lalu membungkam mulutnya setelah terkekeh dengan puas–membiarkan Jeongguk yang terduduk di sampingnya menikmati keheningan yang sejenak terjadi di antara keduanya. Pandangan Taehyung sesekali menatap Jeongguk yang tampak sibuk memandangi pemandangan di luar jendela. Melihatnya jadi membuat Taehyung kembali teringat kejadian kemarin lusa ketika ia mengantarkan Jeongguk pulang, pria itu terlihat sangat senang menatap pemandangan Seoul– sedangkan Taehyung tampaknya sudah tak lagi tertarik dengan hal-hal yang berada di Seoul.

"Kau sudah berapa lama di Seoul?" Taehyung bertanya, sekedar berbasa-basi mengingat dirinya yang memang tak tahan dengan keadaan yang hening dan tenang. Kali ini, Jeongguk tidak merespon pertanyaannya seperti biasanya–diam; cuek, pria itu langsung membenarkan posisi duduknya dan membuka mulutnya menjawab pertanyaan Taehyung.

"Dua bulan, mungkin," jawabnya sedikit ragu. Raut wajahnya tampak kebingungan dan tak yakin dengan jawabannya sendiri. Taehyung mengulas senyumannya, kedua matanya nampak masih dapat dengan jelas menangkap ekspresi wajah Jeongguk di balik kacamata hitamnya. Sebelum pada akhirnya ia mengarahkan mobilnya memasuki gedung pencakar langit tempat dimana acara fashion show yang ia ikuti berada, Taehyung kembali mencuri pandang ke arah Jeongguk yang tampak terkejut dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya. Anak SMA ini terlihat sangat tak mempercayai apa yang tengah dilihatnya.

"Besar sekali," gumamnya, dan hal itu kembali membuat Taehyung mengulas senyuman di wajahnya untuk yang ke sekian kalinya. Ia melepaskan safety belt yang sebelumnya melilit tubuhnya lalu menyambar ransel hitam miliknya dan ransel merah milik Jeongguk. Kakinya melangkah keluar dari mobil, dengan dua ransel yang tersampir pada masing-masing bahunya. Sebelum menutup pintu mobilnya, Taehyung membuka suaranya sejenak untuk menyadarkan Jeongguk dari 'kegiatan-mengagumi-gedung-pencakar-langit' nya. Suara beratnya yang serak lantas membuat Jeongguk tersadar dalam sekejap mata.

Bocah SMA itu segera membalikkan tubuhnya menghadap jok belakang mobil, mencoba menemukan ransel merahnya–sebelum akhirnya Taehyung kembali membuka suaranya dan menunjukkan ransel merah miliknya yang tersampir di bahu kiri Taehyung. Ia menghembuskan nafasnya kasar, lalu segera melangkah keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan asal. Kedua tungkai kakinya berjalan menghampiri Taehyung, tangan kanannya mencoba untuk mengambil ransel merahnya dari bahu Taehyung– namun model itu menolak. Ia menghindari gerakan Jeongguk yang mencoba untuk mendapatkan ranselnya.

"Biar aku saja yang membawanya," Jeongguk memilih untuk bungkam ketika Taehyung sudah memotong ucapannya sekalipun ia belum mengucapkan apapun. Ia menghembuskan nafasnya kasar sambil menyisir surai rambutnya dengan jemarinya dan menyampirkan beberapa helai poninya di balik daun telinganya. Matanya menangkap punggung lebar Taehyung yang kini tengah melangkah dengan santai di hadapannya, bahunya tampak tak terlihat terbebani sekalipun ia tengah menopang dua ransel sekaligus. Mau tak mau walau sedikit enggan dan merasa tidak enak dengan Taehyung, Jeongguk segera menggerakkan kedua tungkai kakinya melangkah mengekor mengikuti Taehyung.

Saat itu Jeongguk hanya merasa aneh,

ia enggan di perlakukan layaknya asisten pada umumnya,

namun juga enggan melihat Taehyung yang tidak memperlakukannya seperti seorang asisten.

...

"Bagaimana?" Jeongguk yang saat itu tengah sibuk mengeluarkan beberapa potong pakaian Taehyung dari ranselnya menolehkan kepalanya sejenak ketika sebuah suara berat tampak menginterupsinya. Kepalanya terangkat, menatap tubuh Taehyung yang tengah berdiri di hadapannya. As an opening, he looks so perfect with those outfits. Kemeja putih yang melapisi tubuhnya, celana panjang yang merangkap jenjang kakinya dengan begitu sempurna, tatanan rambut yang dipola dengan begitu maskulin, dan jas hitam yang membuat segalanya menjadi more than perfect. Jeongguk akui– sebenarnya Taehyung memang pantas mengenakan setelan apapun, sekalipun yang tampak santai tanpa selera fashion; pria bermarga Kim itu sudah seperti anak Tuhan yang mendapatkan begitu banyak kelebihan. Tak ada sedikitpun cacat yang dimilikinya– kecuali otak idiotnya, well.

"Perfectly perfect," ungkap Jeongguk sambil tersenyum tipis, mengacungkan kedua jempolnya untuk meyakini Taehyung dan kembali sibuk membenahi isi tas pria bermarga Kim tersebut. Mendengar jawaban Jeongguk yang cukup memuaskan, Taehyung segera menghampiri anak SMA itu dan membantunya membenahi pakaiannya. "Tidak usah, hari ini aku benar-benar tidak merasa seperti asistenmu. Kau menjemputku, lalu membawaku pergi, dan sekarang membantuku melakukan tugasku. Biarkan aku menjadi 'asistenmu yang sebenarnya' kali ini," ungkap Jeongguk, sambil mendorong pelan dada Taehyung–memberinya kode untuk melangkah mundur dan pergi menjauhinya.

"Aku tidak tega melihat anak SMA sepertimu melakukan tugas seorang asisten, kau tahu–sekalipun kau memang asistenku. Kau itu sudah kuanggap sebagai adikku sendiri, jadi santai saja, aku tidak menuntut apa-apa dari itu semua; well, kecuali sikap cuekmu yang harus sedikit diperbaiki. Tidak baik jika anak SMA terlalu banyak cuek seperti itu," ucap Taehyung dengan jenaka, lalu tertawa terbahak-bahak–tertawa sendiri seperti biasa, Jeongguk bahkan nampaknya tak merasa tertarik dengan lelucon garing Taehyung.

Melihat respon Jeongguk kepadanya yang tidak mengalami perubahan sejak pertama kali mereka bertemu (masih tetap cuek), Taehyung memilih untuk duduk di kursinya dan membiarkan stylishnya mulai mempoles wajahnya.

...

"Sempurna," ujar Jeongguk ketika Taehyung keluar dari ruang ganti, menanyakannya mengenai penampilannya beberapa menit yang lalu. Sukses sebagai opening, lalu 3 shifts sisanya ia lakukan secara berurutan membuat tugasnya kini telah selesai dalam kurun waktu kurang dari tiga jam. Masih tersisa banyak waktu, dan Taehyung enggan untuk segera kembali pada apartemennya ataupun apartemen Jeongguk.

"Kau ingin langsung pulang?" Jeongguk bertanya, sambil menyampirkan ransel merahnya pada bahunya. Taehyung yang mendengar tawaran Jeongguk menggelengkan kepalanya, sedangkan tangannya menyambar tas hitam besarnya lalu melangkah pergi–diikuti oleh Jeongguk yang mengekor kecil di belakangnya. "Kau mau kemana? Pergi ke toko baju lagi? Berbelanja lagi?" Tanya Jeongguk, sambil bersusah payah menyamakan langkah kakinya dengan Taehyung.

"Aku punya banyak tempat untuk dikunjungi sebenarnya, sih," jawab Taehyung dengan lugu, lalu menatap lemat-lemat ekspresi bocah SMA disampingnya ini–ia terkejut, hendak protes kepada Taehyung untuk segera membawanya kembali ke apartemennya karena ia rasa ia tidak sanggup untuk menemani Taehyung mengunjungi semua tempat yang muncul di otaknya. "Tapi kurasa festival makanan di dekat sini boleh juga, ngomong-ngomong aku juga lapar. Kemarikan ranselmu, biar aku taruh di mobil, kau menunggu saja di depan gerbang," ujar Taehyung, mengulurkan tangannya dan segera mengambil ransel Jeongguk. Jari telunjuknya tergerak untuk menunjuk tempat dimana Jeongguk harus menunggunya, lalu tersenyum tipis melihat pria yang lebih muda kini tengah berlari kecil menghampiri tempat yang Taehyung maksud.

Dengan gesit, Taehyung segera membuka mobilnya dan meletakkan tas hitamnya serta ransel milik Jeongguk. Setelah itu, ia segera menutup dan mengunci pintu mobilnya, lalu berjalan menghampiri Jeongguk yang baru saja sampai. "Jalan kaki saja, ya? Kau tidak rematik, kan? Aku bosan naik mobil terus," Taehyung segera merangkul pundak Jeongguk dan menyeret anak SMA itu untuk berjalan lebih cepat. Habisnya, Jeongguk tidak akan berjalan ataupun bergerak cepat sebelum ada yang memaksa atau mendorongnya untuk bergerak. Dan sepertinya, menarik atau merangkul Jeongguk akan menjadi keseharian baru bagi Taehyung untuk kedepannya karena asistennya ini benar-benar lama jika sedang berjalan; terutama kalau benar-benar sedang tidak niat berjalan.

"Apa di Busan ada festival makanan seperti ini juga?"

"Eum– jarang, sebenarnya. Tapi kalau sedang mengadakan perayaan tahun baru atau hari besar, selalu ada stan makanan di pinggir pantai. Mungkin itu festival makanan, tapi hanya di hari tertentu saja," ujar Jeongguk, dengan kedua matanya yang sibuk terfokus pada apa yang tengah dilihatnya sekarang. Beberapa meter di hadapannya sudah terpajang ratusan, atau mungkin ribuan stan makanan yang menjajakan makanan kecil–bahkan samar-samar Jeongguk dapat melihat makanan khas Busan yang juga disediakan disana.

"Odeng!" Jeongguk mencicit kesenangan, ketika pandangannya tertuju pada salah satu stan yang menjual odeng–makanan favoritnya. Kedua tangannya segera tergerak untuk merangkak masuk ke dalam saku celananya, sebelum pada akhirnya ekspresi wajah pria itu segera berganti. Ia tampak terkejut, dan ekspresinya tersebut mampu membuat Taehyung yang berdiri di sampingnya mengerutkan keningnya.

"Ada apa?"

"Dompetku tertinggal di ranselku!" Ia menjerit tertahan, hampir berteriak frustasi. Sedangkan Taehyung, kini sibuk menahan mulutnya untuk tidak menyemburkan tawanya. Jeongguk si bocah SMA cuek yang hobi memanggilnya idiot dan selalu mencaci-makinya ini kini benar-benar terlihat konyol hanya karena dompetnya yang tertinggal di ranselnya. Come on, tertinggal bukan berarti hilang, bukan? Seluruh uang, kartu kredit, atau mungkin kartu Time Zonenya masih aman seratus persen.

"Tidak baik jika seorang hyung sedang berjalan berdua dengan dongsaengnya seperti sekarang ini membiarkan dongsaengnya membeli makanan ataupun barang yang diinginkannya dengan uangnya sendiri. Karena aku ini hyung yang baik dan kau adalah dongsaeng yang luar biasa jutek; tidak bisa sopan dengan hyungnya; terkena syndrom calling-Taehyung-idiot–semua yang kau ambil hari ini adalah traktiranku."

"Woah– serius?"

"Percaya padaku atau semua traktiranku kucabut?"

"Percaya, percaya! Kalau begitu ayo beli Odeng!" Jeongguk segera menarik pergelangan Taehyung dan melesat dengan susah payah menembus rombongan orang-orang yang berdesakkan menuju stan Odeng yang sejak tadi diincarnya. "Ahjussi! Odengnya dua porsi, this idiot will pay it all!" Jeongguk berteriak keras, dari antrian terbelakang yang kini ditempatinya. Suaranya yang terdengar nyaring diantara para pembeli di stan Odeng itu lantas menarik perhatian dan menatap bocah SMA tersebut–lalu beralih pada Kim Taehyung, si pria berparas malaikat yang mampu membuat semua orang tercekat melihatnya.

Terlalu tercekat, sampai-sampai si penjual Odengpun sudah seperti mayat yang terbujur kaku melihat sosok yang selama ini dielu-elukan oleh masyarakat mengenai betapa tampannya ia. Jeongguk hanya mengangkat bahunya tak acuh melihat reaksi orang, lalu diam-diam menerobos masuk ke antrian terdepan. "Ahjussi, cepat Odengku! Taehyung akan membayarnya nanti!" Jeongguk mengguncang tubuh pria tambun penjual Odeng dan menyadarkannya dari lamunannya.

"Nak, apa porsi yang satunya ini untuk Kim Taehyung-ssi?" Pria itu bertanya, sambil mengarahkan pandangannya menuju Taehyung yang tengah dikerubuti banyak orang. Persis gula yang dikerubuti semut. Orang manis memang banyak penggemarnya, pikir Taehyung bangga sambil meladeni beberapa fansnya yang memintanya untuk mengambil foto bersama.

"Untukku, tentu saja! Tapi yang akan membayarnya dia!"

"A- astaga, ambil saja, gratis, gratis! Sampaikan salamku padanya, lalu bilang mampirlah sekali-kali ke kedai Odengku di distrik Seongpa!" Jeongguk mendecih ketika pria paruh baya itu segera memberinya dua porsi Odeng persis seperti pesanannya lalu segera mendorong punggungnya untuk menjauh–atau lebih seperti mendorongnya untuk segera menghampiri Taehyung dan menyampaikan pesannya.

"Tae, ayo!" Sebuah tendangan kecil yang susah payah Jeongguk berikan dari sela-sela keramaian penggemar Taehyung yang mengerubuninya mampu membuat Taehyung segera menemukan keberadaan Jeongguk. "Pfft– astaga, bocah SMA konyol," gumamnya menahan tawa saat tak sengaja menangkap Jeongguk yang kini tengah terhimpit diantara penggemarnya sambil mati-matian menahan kedua Odeng yang tergenggam erat di tangannya agar tidak tumpah.

Dengan mudah menggunakan tubuh kerempengnya, Taehyung menyelip keluar dari kerubunan penggemarnya dan segera menarik lengan Jeongguk agar anak itu mengikuti langkahnya untuk melarikan diri. "Ya Tuhan, pelan-pelan, pelan-pelan! Nanti Odengku tumpah!" Jeongguk menjerit tertahan ketika ia berlari dan beberapa tetes kuah Odengnya mengalir keluar, bahkan beberapa kali menciprati tangannya dan menghasilkan sensasi melepuh yang luar biasa.

"Kau ini kenapa masih bisa-bisanya mengutamakan Odengmu sih?"

"Aku lapar, sial."

"Yasudah, mana Odengku?"

"Kau kan tidak memesan Odeng denganku tadi!"

"Tapi kau membeli dua–"

"Enak saja, dua-duanya punyaku! Lagipula penjualnya memberikan ini gratis, aku tidak jadi menggunakan uangmu, jadi tidak perlu balasan apapun untuk itu!"

Taehyung mengelus dadanya mati-matian menahan emosinya untuk tidak segera menendang bocah SMA (yang sayangnya asistennya ini) dihadapannya ini. Jeongguk memang terlihat tenang dan tidak banyak bicara, hanya saja Taehyung tak menyangka jika bocah SMA yang hidup penuh sarkasme ini ternyata seseorang yang bawel jika sudah menyangkut makanannya. Mengingatnya Taehyung segera tersenyum miris–bahkan nampaknya eksistensi dua porsi Odeng di hadapan Jeongguk jauh lebih berarti bagi bocah SMA itu dibandingkan dengan keberadaannya. Bahkan ia bisa-bisanya melahap Odengnya tanpa sedikitpun melirik ke arahnya.

"Odengnya enak, mau mencicipinya?"

Lamunan Taehyung pecah dalam hitungan kurang dari setengah detik ketika Jeongguk mendadak membuka suaranya dan menyodorkan sepotong ikan yang ia apit di sumpitnya, tepat di hadapan mulut Taehyung. "Mau tidak?" Tanyanya lagi, masih dengan setia mengarahkan sumpitnya di hadapan mulut Taehyung. Melihat perlakuan jarang-jarang-baiknya Jeongguk, Taehyung segera membuka mulutnya dan memasukkan sepotong ikan yang disodorkan oleh Jeongguk dengan cepat. "Enak, kan? Aku tidak pandai berbohong kalau soal makanan," ujarnya bangga. "Oh iya, paman penjualnya ini menitipkan salam kepadamu, katanya juga kau harus mengunjungi kedai Odengnya sesekali di distrik Seongpa. Kau harus pergi untuk membuatnya senang, tapi jangan lupa mengajakku! Lalu kau harus menjadi hyung yang baik kepada dongsaengnya dengan mentraktirku. Arrachi?" Tanyanya memastikan, lalu kembali melahap Odengnya.

Taehyung meringis kecil–alih-alih menyampaikan pesan, Jeongguk lebih terlihat seperti tengah merayunya untuk mentraktirnya makan di kedai Odeng tersebut. Mau tak mau, Taehyung hanya mengangguk pasrah menyetujui celotehan Jeongguk–lalu berakhir dengan Jeongguk yang menjerit kesenangan, dan kembali melahap Odengnya seakan hidupnya hanya bergantung pada makanan berbahan dasar ikan tersebut.

"Sudah jam tujuh, kau masih mau berjalan-jalan mengelilingi Seoul atau langsung kembali ke apartemen? Ngomong-ngomong, besok Senin. Jadwalku kosong, dan itu berarti kau harus sekolah. Jangan pulang terlalu malam," ucap Taehyung sambil menatap Jeongguk di sampingnya. Bocah SMA disampingnya itu tak bergeming untuk beberapa saat sampai akhirnya ia segera menghentikan langkahnya dan menahan pergelangan tangan Taehyung, "...ada apa?" Taehyung bertanya dengan ragu.

"Aku belum menyelesaikan tugas matematikaku, astaga, astaga! Mati aku, mati aku!" Jeongguk menjambak ujung rambutnya kasar, sedangkan matanya terus menatap Taehyung seakan ia meminta pertolongan kepadanya. Melihat ekspresi wajah Jeongguk, mau tak mau Taehyung hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Kubantu, aku berani bersumpah aku cukup handal menyelesaikan soal matematika," ucap Taehyung dengan santai, tangannya segera menyambar pergelangan tangan Jeongguk. "Yang sekarang harus diutamakan itu untuk cepat-cepat membawamu pulang biar kau bisa menyelesaikan tugasmu, jadi besok pagi pelajaranmu tidak akan terganggu karena mengantuk atau whatever, pokoknya aku sudah pernah memperingatkanmu tentang waktu sekolahmu," lanjutnya, lalu tanpa rasa bersalah segera mendorong tubuh Jeongguk masuk ke dalam mobil ketika keduanya sudah sampai pada tempat dimana Taehyung memarkirkan mobilnya.

Mendengar ucapan Taehyung, Jeongguk segera memincingkan matanya tak senang dan menatap pria yang kini tengah memasang safety beltnya, dengan malas. Ia masih mengingat jelas sederet kalimat Taehyung yang tak akan mengurusi ribuan masalahnya jika itu menyangkut sekolahnya–terutama mengenai nilainya yang anjlok atau mewakili kedua orang tuanya jika ia mendapatkan panggilan konseling. Mengingat opsi kedua, Jeongguk hanya bisa mendecakkan lidahnya malas. Dari awal ia memang tidak pernah meminta Taehyung untuk mengurusi masalahnya mengenai hal ini, itu atau apapun itu; tapi tetap saja pria itu memperingatinya.

"Dengar ya, sekalipun kau ini asistenku, kau masih duduk di bangku SMA. Kau pikir aku bisa meminta anak SMA sepertimu untuk meluangkan seluruh waktumu dan menuruti kemauanku, melakukan ini itu. Aku ini hyungmu, bagaimanapun juga–sekalipun kita tidak sedarah, sekalipun kau tidak sudi menganggapku sebagai hyungmu, bagaimanapun juga aku lebih tua darimu dan mulai dari sekarang kau akan lebih banyak menghabiskan waktumu bersamaku. Kau yang masih muda tidak bisa membuatku untuk memperlakukanmu seperti asisten pada umumnya, dan itu berarti aku harus menjagamu."

Menyadari tatapan memincing dari Jeongguk, Taehyung kembali membuka suaranya dan berceloteh panjang lebar–membuat yang lebih muda hanya bisa memutar kedua bola matanya malas. Hubungan antara Jeongguk dan Taehyung jauh lebih seperti air dan api–Jeongguk yang tenang dipertemukan dengan Taehyung yang membara; sikap keduanya ini jelas saling melawan satu sama lain. "Kau benar-benar ingin menjagaku?" tanya Jeongguk tak acuh, dengan pandangannya yang sibuk menatap keluar jendela–kebiasaannya yang selalu Taehyung temukan setiap kali Jeongguk menaiki mobilnya.

"Tentu saja, kau pikir aku main-main?"

"–anyway, aku tidak pernah memintamu melakukan itu, sih. Jadi kalau kau mengharapkan bayaran, aku tidak cukup kaya untuk menggajimu–karena itu kan aku bekerja menjadi asistenmu."

"...bocah SMA keparat tidak tahu diri."

Taehyung mendecih, mencemooh pria yang lebih muda disampingnya itu. Sedangkan yang dicemooh, hanya terus memalingkan wajahnya menatap pemandangan diluar jendela–dengan segaris senyuman tipis di bibirnya. Puas membuat pria yang lebih tua stres dengan sikap jutekmu, Jeon?

...

"Astaga, aku tak mengerti! Jelaskan lagi!"

Suara buku yang dilempar asal terdengar dari ruang apartemen Jeongguk. Pria itu menatap bukunya yang baru saja ia lempar dengan malas, sedangkan Taehyung yang terduduk disampingnya hanya bisa menyeruput minumannya. Sudah dua jam lebih keduanya terduduk di sofa dengan Taehyung yang menjelaskan setiap soal matematika yang dianggap susah oleh Jeongguk. Sudah hampir pukul sepuluh malam, itu berarti, seharusnya Jeongguk sudah tidur sejak jam sembilan tadi–setahu Taehyung itu jam tidur seorang pelajar yang benar.

"Ya Tuhan, aku berani bersumpah, Jeon Jeongguk. Dari tadi aku berceloteh menerangkan satu rumus yang sama untuk ratusan kalinya, dan kau tetap tidak mengerti? Kita sudah dua jam seperti ini, dan dari sepuluh soal yang kau dapat– tidak satupun yang sudah selesai! Otakmu dimana, astaga, otakmu! Aku sudah menjelaskan semuanya dengan cara termudah, dan kau benar-benar tidak memahaminya secara baik?!"

"Kau menjelaskannya terlalu cepat!"

"Kau tadi menggamparku karena menjelaskannya terlalu lambat!"

"Maksudku tidak terlalu cepat, tidak terlalu lamban!"

"Terus sekarang maumu apa?!"

"Jelaskan lagi..."

Taehyung memijat pelipisnya melihat tatapan memohon Jeongguk yang terpapar di hadapannya. Ia benar-benar tidak kuat kalau sudah diberikan tatapan menyedihkan seperti itu–bahkan Sujeong sendiri menggunakan jurus tersebut sebagai jurus ampuhnya untuk membuat Taehyung menuruti kemauannya ketika mereka bertengkar hebat. "Tuhan tolong aku, kalau begini terus aku tidak bisa mati dengan tenang," gumam Taehyung, masih terus memijat pelipisnya mencoba untuk menghilangkan stresnya.

"Ini sudah terlalu larut untuk melanjutkannya lagi. Lebih baik sekarang kau mandi, biar aku menjawab semua soalnya, setelah mandi aku bisa menjamin aku sudah menyelesaikannya dan habis itu kau bisa menyalinnya di bukumu."

Taehyung mengibaskan tangannya, menyuruh Jeongguk untuk cepat-cepat pergi. Yang lebih muda hanya bisa mendengus kesal lalu melangkahkan kakinya menuju kamar, lalu kembali dengan handuk yang tersampir di bahu kanannya dan setelan baju di bahu kirinya. Jeongguk melangkah melewati Taehyung sambil mendengus kasar, persetan dengan Taehyung yang sudah membantunya mengerjakan soal matematika walau nihil hasilnya sejak tadi. Masa bodoh. Ia benar-benar lelah hari ini dan yang ia butuhkan hanya istirahat.

...

Jeongguk memandangi Taehyung yang sedang berkutat dengan kertas kosong di genggamannya. Handuk yang terletak asal di atas kepalanya tampak membuat penglihatannya tidak begitu baik–salahkan poninya dan handuknya yang sama-sama bekerja sama menutupi kedua belah matanya, membuat pria itu beberapa kali tersandung saat berjalan-jalan melewati karpet ruang tamunya.

"Keringkan dulu rambutmu, jangan berjalan seperti itu, bodoh," Taehyung mengomentari asal Jeongguk yang kini terlihat konyol di matanya. Ia mendecak malas sambil memutar kedua bola matanya–terlalu lelah untuk kembali bertengkar dengan Jeongguk walau perkataannya secara tidak langsung sudah menyulut emosi yang lebih muda. "Hey, kemari sebentar, cepat selesaikan tugasmu," interupsi Taehyung sambil menepuk-nepuk ruang kosong di sampingnya, menyuruh Jeongguk untuk duduk. Tangannya terulur untuk memberikan secarik kertas dengan angka dan beberapa coretan yang memenuhinya.

"Salin!"

"Aku tahu, idiot."

Jeongguk menyahuti perintah Taehyung dengan ketus tatkala tangannya segera menyambar kertas yang diulurkan oleh Taehyung, lalu mengambil bukunya yang masih terpojok akibat lemparannya sekitar setengah jam yang lalu. Kedua kakinya melangkah ogah-ogahan menuju ruang makan lalu duduk dengan asal di kursi meja makan–mengabaikan Taehyung yang sejak tadi menepuk-nepuk sofa yang tengah di dudukinya seakan ia sudah mempersilahkan bocah SMA itu untuk duduk di tempat yang lebih nyaman. Perilaku Jeongguk membuat Taehyung mencelos, ingin kembali berceloteh untuk menyudutkan pria yang lebih muda–tapi terbesit rasa malas juga karena ia yang tak mungkin melakukan hal tersebut pada Jeongguk. Bagaimanapun juga, sekurang ajar apapun Jeongguk, ia itu masih dibawah umur–mengingatnya saja mampu membuat Taehyung meringis.

Apa benar ada anak dibawah umur sekasar Jeongguk?

"Hari ini aku menginap di apartemenmu saja, sudah terlalu malam," ucap Taehyung, sambil perlahan bangkit dari duduknya si sofa. Kedua kakinya melangkah mendekati Jeongguk yang kini tampak tenang menyalin jawaban matematika yang dikerjakannya tadi. "Kau tidak maukan melihat wajah tampanku masuk dalam kabar berita karena meninggal ketika mengendarai mobil malam-malam dalam keadaan mengantuk, dan ternyata setelah dicari tahu alasan mengapa ia mengendarai mobil ketika mengantuk seperti itu karena ternyata asistennya tidak membiarkannya menginap di apartemennya," lanjutnya.

"Peduli apa aku dengan kau yang mati."

Jeongguk menyahuti, dengan nyolot.

"Terserah astaga, dasar cumi-cumi bau amis," umpat Taehyung, hampir menendang kursi yang di duduki Jeongguk jika saja ia tidak ingat jika malam ini ia akan menginap di apartemen bocah SMA ini–atau bisa saja jika ia tetap menendang kursi tersebut, pada detik selanjutnya Jeongguk akan segera menginjak-injak tubuhnya dengan sadis. "Aku pinjam kamar mandi, kebelet pipis!"

Jeongguk memincing, ketika melihat Taehyung yang melesat menuju kamar mandi begitu saja setelah menghampirinya. Pria berambut hitam legam ini hendak kembali menggoreskan pulpennya diatas buku matematikanya, jika saja fokusnya tidak mendadak hancur mendengar suara pintu kamar mandi yang dibanting–ulah Taehyung; mendengar hal tersebut Jeongguk segera menjerit dan mengumpat Taehyung dengan berbagai sumpah serapah mematikannya.

Selang beberapa menit di kamar mandi– (dan saat itu juga Jeongguk harus mati-matian menahan emosinya dan menutup kedua telinganya ketika mendengar suara Taehyung yang sibuk menggelar konser di dalam kamar mandi) Taehyung melangkahkan kakinya dengan santai keluar dari kamar mandi. Wajahnya tampak basah, disusul dengan beberapa helai rambutnya yang lepek meneteskan air. Aroma lemon menguar diikuti dengan keluarnya pria tersebut–membuat Jeongguk lantas mengerutkan keningnya.

"Kau mandi?"

"Tidak," jawab Taehyung santai, namun juga disandingi dengan aksen serius yang menandakan bahwa ia memang tidak bermain-main mengenai jawabannya tadi. "Aku hanya menggunakan sabun mandimu untuk mencuci kaki dan tangan," lanjutnya, sambil beberapa kali mengusak surainya yang basah.

"Bagaimana tugasmu, sudah selesai?"

Jeongguk menggeleng, lalu menatap buku matematikanya dengan lesu. "Aku tidak tahu kalau matematika di tingkat SMA akan sesulit ini," desahnya frustasi. Seulas senyuman tergambar di wajah Taehyung ketika kedua matanya secara tak sengaja menangkap ekspresi penuh derita Jeongguk. Pria yang lebih tua lantas menarik salah satu kursi di dekatnya dan menariknya mendekati Jeongguk, lalu meletakkan bokongnya di kursi tersebut.

"Kerjakan, akan aku temani sampai selesai."

Setelah Taehyung menyelesaikan ucapannya, keheningan langsung menyelimuti keduanya. Jeongguk belum benar-benar kembali melanjutkan kerjanya, matanya hanya menyalang kosong menatap bukunya–sedangkan sudut matanya sibuk mencuri pandang ke arah Taehyung yang terduduk memperhatikannya di sampingnya.

"Taetae hyungie...,"

"Ya?"

"Terimakasih untuk hari ini."

Jeongguk menatap Taehyung untuk sesaat, lalu segera menyambar pulpennya dan kembali menyalin jawaban Taehyung di bukunya. Mendengar ucapan singkat Jeongguk, pria yang lebih tua sedikit tersentak–entah reflek atau apapun itu. Tapi ia baru menyadari satu hal, bahwa mungkin ini pertama kalinya ia mendengar Jeongguk bersikap semanis itu. Selain itu–malam ini merupakan pertama kalinya Jeongguk memanggilnya dengan sebutan 'hyung' didampingi dengan nama panggilan yang entah didapatkannya dari mana.

"Taetae hyungie...,"

Lumayan, namanya menjadi terdengar lebih manis.

Tanpa sadar sebuah senyuman kembali melintasi celah diantara kedua garis bibir Taehyung. Kedua mata elang model tersebut menatap Jeongguk yang kini tengah sibuk berkutat dengan tugasnya. Pandangannya berganti menjadi ramah untuk sesaat–lalu ia menyeringai kecil. Dasar anak SMA labil, batinnya.

.

.

.

TBC

Uwoooh, akhirnya apdet juga 9*^*)9 saya udah cukup stres ngurusin Police and Detective, dan nekat nambah ff dengan length chaptered. But lumayanlah happy, sekarang saya bisa apdet chapter for 6k+ words, for this chapter and the newest one of Police and Detective.

And anyway, buat yang request minyoon di Police and Detective, saya minta maaf say, request-an kamu belum bisa saya penuhin ;;; bukannya mau ngecewain or anything else, alur cerita saya udah klop buat ngejadiin yoonmin. But tenang, k. Saya kan bilang saya ini klop in both yoonmin or minyoon, so ada kemungkinan buat nambahin pair minyoon di ff ini (mereka udah muncul juga di chap awal, kan?)

Dan anyway soal genre, saya udah meringatin bakal ada 'angst' sekalipun di chap awal gak keliatan, total. Angst bakal ada di chap akhir, so jangan protes kalo nanti endingnya bener-bener diluar harapan (happy ending).

SO PLEASE, REVIEW, REVIEW! PLEASEEEEE!