Unrequited Love

By Onsoonisecret

Remake by adrianlee

Original pair OnKey (Onew and Key (SHINee)

Cast: Park Jimin, Min Yoongi, Kim Seokjin, Jeon Jungkook, and others

a/n: FF ini 1000% milik ka ONSOONISECRET. Aku disini cuman me-remake aja karna demi apapun suka banget sama semua karya ka Onsoo. Kalau ada yang suka OnKey juga, silahkan dibaca karya-karyanya ka Onsoo di .com Tapi jangan lupa bua kasih review kalau udah selesai baca ya. Jangan lupa juga kasih review disini karna aku sadar pasti masih ada kesalahan di bagian pengeditannya.


Seokjin terjaga dari tidurnya. Tengah malam terpaksa ia terseret dari mimpinya karena mendengar suara-suara di luar kamarnya. Karena ia memang sudah siaga akan hal ini, tanpa pikir panjang ia bangkit, buru-buru mencari sumber suara itu. Makin mendekat, suara itu makin jelas, memperdengarkan suara tersiksa memuntahkan sesuatu yang sia-sia.

Miris sekali, seakan suara itu menusuk telinganya. Tidak tega mendengar betapa tersiksa sahabatnya itu. Berkali-kali ia mendengarkan suara penuh pemaksaan dan penekanan diiringi aliran air, kemudian isakan lemah, seakan memohon-mohon pada tubuhnya untuk berhenti.

"Yoongi.…" Memanggil sepelan mungkin. Memutuskan untuk membuka pintu tanpa izin. Setidaknya ia sudah memberitahu keberadaannya pada Yoongi.

Saat pintu terbuka, ia bisa melihat betapa menyedihkannya kondisi Yoongi . Bersandar di sudur kamar mandi, pakaiannya kusut. Bagian bibir dan dagu basah. Rambut lepek karena keringat. Ia mendongak, mempertlihatkan mata yang menatapnya tanpa semangat, lemah seperti bangkai ikan, "Seokjin-ah, othoke? A… Aku takut mati…" Melirih pelan.

Mensejajarkan dirinya dengan namja berwajah pucat itu, "Yoongi, ku mohon. Turuti kata-kataku."

"Aku… tidak bisa…" Akhirnya namja cantik itu merengek seperti bayi. Menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Seakan menolak apa saja yang akan masuk ke dalam telinganya. Entah kenapa, tiba-tiba ia jadi takut mati. Takut meninggalkan dunia ini.

"Jebal—"

Mata kucing itu menatap sendu ke arah Seokjin, basah dan memerah karena tangisan yang memaksa terus keluar. Ia lelah, sangat lelah dengan seluruh rasa sakit yang menyiksanya. Tak bisa dihindari bahwa ia hanyalah manusia tak berdaya yang sebentar lagi akan tersapu oleh kejamnya seleksi alam, "Kau mau aku mempertaruhkan sisa hidupku yang sedikit dengan lima persen keberhasilan operasi. Lalu jika gagal aku akan mati di meja operasi. Meski pun aku hidup, ada kemungkinan aku cacat. Kau pikir aku akan berkata iya dengan bodohnya? Aku tak bisa mati begitu konyol atau jadi gila…"

"Apa ini karena orang tuamu?"

"Mulanya begitu, tapi… Park Jimin, aku tidak mau dia melihatku terbaring tak berdaya di rumah sakit…"

"Kenapa Jimin? Kenapa orang bernama Park Jimin itu. Aku bahkan belum mengenalnya sama sekali bisa membuatmu berpikiran bodoh begini? Apa kau begitu menyukainya? Kau begitu menyukainya sampai-sampai kau mau menyerah?!" Geramnya gusar, tidak mengerti dengan tindakan Yoongi.

"Eoh, Aku menyukainya, Jin-ah. Aku sangat menyukainya. Aku tidak tahu kenapa aku bisa begitu cepat mengatakan hal ini. Tapi, aku hanya… Menyukainya…" Senyuman itu lemah, sangat lemah. Tapi, kenapa ia masih mau menyunggingkannya ketika menyebut kata 'suka' itu.

Seokjin melemas mendengar ucapan Yoongi yang terdengar sangat tulus, rasanya ia tak mampu berkata apa-apa lagi jika menyangkut rasa suka. Karena ia juga merasakan hal itu terhadap suaminya, "Dia orang baik, eh?" Mendekat ke sebelah Yoongi, menarik pundak namja cantik itu untuk bersandar di lengannya. Sekedar untuk memberikan kenyamanan dibanding sebuah dinding kamar mandi yang dingin dan keras. Karena sepertinya Yoongi tak mau beranjak dari sini.

"Yah," mengusap air mata dengan tangan yang gemetar, "aku suka saat pertama kali melihatnya. Dia sangat tampan, senyumnya indah, tatapannya hangat, pelukannya penuh kasih sayang. Selalu membuatku tertawa tanpa alasan, ucapannya begitu manis selaras dengan nada suaranya."

"Dia mencintaimu?"

Yoongi menunduk dalam, serinai air matanya berjatuhan membasahi jeans hitam miliknya. Mengepal tangannya erat untuk menahan rasa sakit. Bukan di kepalanya, tapi di dadanya. Disitu rasanya sakit sekali. "Y… Yah… Dia sangat… Mencintai aku…"


Jimin mengetuk-ngetuk fountain pen-nya pada permukaan meja. Membuat bunyi yang berisik di tengah sunyi ruangannya. Berkali-kali mata tipisnya memperhatikan jam yang terletak di atas mejanya. Sebenarnya ia tidak sedang menunggu sesuatu, tapi matanya selalu refleks melihat ke arah benda tersebut. Dua hari setelah ia berselisih dengan Taehyung, kemudian menghabiskan malam dengan namja cantik itu.

Begitu banyak permasalahan yang dihadapinya beberapa hari ini hingga ia harus mengalihkan seluruhnya dengan pekerjaan. Lembur, kurang tidur, perut hanya diisi kopi hangat yang membuatnya justru mengidap insomnia. Seperti malam ini, juga memilih pulang terlambat dibandingkan pegawainya hanya untuk menyiapkan proyek outlet baru di salah satu departemen store terkemuka di Jepang sana.

Jimin mengurut kepalanya yang pening. Menatap lembaran proposal yang dipegangnya. Kata-kata terusun rapat membuat matanya sakit, seiring berkunang-kunang pandangannya.

One missed call from Min Yoongi.

Hah, namja ini? Namja yang mampu membelah pikirannya menjadi dua antara Taehyung yang selalu mengganggu hubungannya dengan Jungkook atau telepon Yoongi yang memintanya untuk berbohong. Bukannya dia sok suci untuk menolak berbohong. Tapi, kebohongan yang diminta Yoongi sangat mengganggunya. Membuatnya lumayan terusik karena terus memikirkan dimana namja cantik itu menginap. Kenapa mesti berbohong pada Min Hari mengenai hal ini, huh? Mungkin saja, Yoongi benar-benar jalang yang tidur di sembarang tempat lalu memanfaatkan Jimin untuk berbohong. Apa itu masuk akal? Jimin sama sekali tak bisa percaya Yoongi melakukan semua itu dengan wajah polos dan cantik itu. Dia juga tahu benar, bahwa dirinya adalah yang pertama bagi Yoongi.

Lagi-lagi pikirannya begolak. Memutuskan untuk menelpon balik namja cantik ini atau tidak. Semua ini seakan meruntuhkan seluruh sikap angkuh dan sinisnya dalam menghadapi Yoongi. Ia terlalu penasaran, dan mungkin sedikit kesal dengan permintaan Yoongi saat itu.

Dan akhirnya, tak bisa mengalah dengan rasa penasaran itu.

"Ada apa?"

"Ah? Ku kira kau sudah tertidur Jimin-ssi. Apa aku mengganggumu?"

"Aku masih bekerja. Cepat katakan urusanmu… Ah, kau tidak memintaku berbohong lagi kan?" Singgungnya langsung. Tenggorokannya terasa kering. Ia menatap gelas kopi di atas meja di tengah ruangan. Semua itu urung ketika kepalanya pening saat ia mendadak berdiri. Hanya samar-samar mendengarkan suara Yoongi disana…

"Oh? Aniyo Jimin-ssi. Aku memintamu bertemu besok. Ini yang terakhir kali jadi aku mohon untuk menyetujuinya, ok? Bagai— "

Bruuk! Beberapa suara berisik membuat Yoongi mengehentikan kalimatnya. Perasaan tidak enak mulai meliputi.

"Yeoboseyo? Yeoboseyo?! Jimin-ssi gwenchanayo? Jimin-ssi!"


Pening menyerangnya saat pertama kali ia sadarkan diri. Sekelebat sinar menyilaukan mata, ketika mata tipis itu membuka. Perlahan, cahaya yang masuk ke matanya mulai teratur. Memperlihatkan langit-langit putih terang jauh di depannya. Bau obat-obatan menyengat, suara dentingan teratur, atau suara ranjang beroda diiringi langkah terburu-buru. Bukankah ini rumah sakit?

Hiks…

Suara isakan itu membuatnya menoleh. Menampakkan sosok cantik yang menutupi matanya dengan punggung tangan. Sesuatu yang bening mengalir disana. Hidung dan bibirnya memerah karena kegiatan menangisnya, kontras sekali dengan kulit pucatnya. Melihat semua itu, kenapa ia merasakan sesuatu yang sangat tidak enak dalam dirinya. Tidak nyaman, tidak suka. Atau merasa ganjil. Bukankah mereka belum lama saling mengenal? Terlebih lagi ia sudah berkata kasar, berbuat jahat padanya. Apa masih pantas dia untuk ditangisi huh? Kenapa namja cantik ini mau menangis untuknya.

Ini tidak masuk akal.

"Uh? Kau sadar?" Mata kucing itu akhirnya menyadari tatapan Jimin, membuatnya cepat-cepat menghapus air mata.

Jimin mengangguk, memegang kepalanya yang masih berat. Mengerutkan wajahnya menahan sakit saat ia berusaha akan bangkit untuk duduk.

Beringsut membantu, memegang pundak namja itu untuk memudahkannya, "Apa yang kau lakukan Jimin-ssi? Kenapa kau bekerja sampai selarut ini eoh? Dokter bilang kau kelelahan, lambungmu kosong." Yoongi berujar, menatap sekilas wajah Yoongi yang masih menyesuaikan diri dengan bangunnya yang tiba-tiba.

Tak menjawab, hanya merapikan pakaiannya yang kusut karena berbaring. Menyapu rambutnya kebelakang lalu beranjak dari ranjang kecil itu, "Aku mau pulang. Dokter membolehkan ku kan?" Langsung saja pergi tanpa menunggu balasan Yoongi.

"Aku antar! Kita kesini dengan mobilku tadi." Ucapnya seraya menahan lengan Jimin. Namja itu hanya menoleh sejenak, lalu kembali berjalan mendahului Yoongi.

Yah, entah Seokjin yang akan mencekiknya atau Tuhan yang langsung menghukumnya. Pertama kali saat ia mendengar hal yang ganjil di seberang line telponnya. Langsung saja ia mengemudi tanpa memikirkan keadaannya yang dapat terkena serangan kapan pun. Juga saat melihat Jimin tak sadarkan diri di kantornya, sendirian. Dia langsung kehilangan akalnya. Dan sekarang… Lagi?

"Aku mengemudi," Jimin menahan tangan Yoongi yang baru saja akan membuka pintu audi itu. Namja cantik itu menatap bingung. Berpikir apakah Jimin tahu bahwa ia tidak dalam kondisi baik untuk mengemudi.

"Wae? Kau takut?" Bertanya setelah melihat ekspresi Yoongi yang membeku, masih memegang handle pintu mobil. Jimin menepis tangan kurus itu dari sana, sedikit mendorong namja cantik itu kemudian masuk ke bangku kemudi.

"Kau masih belum pulih, Jimin-ssi!" Yoongi menghardik saat ia sudah menaiki bangku disebelah kemudi. Sedikit merasa bodoh karena ia juga adalah orang yang dilarang mengemudi.

"I'm fine," selanjutnya hanya berdiam diri dalam kesibukan pikiran masing-masing saat melewati jalanan lengang Seoul di tengah malam.

Lima belas menit berlalu. Namja tampan itu, Park Jimin merasa risih saat Yoongi masih saja mengikutinya ke apartemen. Tidak habis pikir, kenapa namja cantik ini masih saja mau beramah-tamah setelah apa yang ia lakukan. Lagipula sekarang sudah terlalu larut untuk bertamu. Apa yang diinginkan namja cantik bernama Yoongi ini.

"Mau apa kau?" Tanya Jimin saat mereka sampai di depan pintu apartemennya. Lagi-lagi memperhatikan wajah pucat Yoongi yang melempar senyum polosnya. Terkadang membuat Jimin muak, atau ia juga bisa terdiam karenanya.

"Bukankah sudah ku bilang. Aku ingin membicarakan sesuatu. Sebenarnya aku ingin mengatakan semua ini besok. Berhubung kita sudah bertemu, kenapa tidak sekalian saja? Aku janji, hanya sebentar kok…"

Namja pemilik mata tipis itu hanya berdecak membuka pintu apartemennya. Tak terlalu mempedulikan dengan namja cantik yang mengikutinya dari belakang. Terus melangkah menuju ruang tengah dimana terdapat sofa untuk para tamunya. Menghempaskan tubuhnya disana, melepas satu kancing teratas kemeja untuk mengurangi sesak.

"Cepat katakan,"

"Um," mengeluarkan sebuah map biru langit dari tas selempang. Map yang lumayan familiar di mata Jimin. Ia sudah bisa menebak apa yang ada di dalam map itu.

"Ini desain terbaru yang aku buat, aku harap kau menggunakannya." Meletakkan map biru itu di atas meja. Sedikit mendorongnya ke arah Jimin sebagai tanda penyerahan.

Jimin mendesah. Berpikir bahwa jika hanya hal ini, mereka bisa membicarakannya besok. Kenapa seperti kehabisan waktu untuk bertemu? "Kami belum berencana melun—"

Memotong kalimat Jimin, "Tidak apa jika kau tidak berminat, aku hanya ingin memberikannya padamu karena itu desain terakhirku." Menunduk saat mengucapkan kalimat tersebut, kali ini terlihat sedikit memaksakan senyum dengan tatapan mata yang… Kecewa?

Kalimat Yoongi berhasil membuat Jimin berhenti untuk membuka map biru langit di tangannya. Beralih menatap mata yang sedikit mengempis karena senyuman tipis yang disunggingkan namja cantik itu. Lagi-lagi namja cantik ini melakukan sesuatu yang sangat menguntungkan baginya.

"Terakhir?"

Yah, kata 'terakhir' itulah yang membuatnya terusik. Perasaannya mendadak tidak nyaman. Melemparkan nada bertanya yang mengandung makna penasaran. Menaikkan sebelah alisnya untuk menuntut sebuah jawaban.

"Ah… Aku akan berhenti mendesain, karena aku harus pergi ke suatu tempat."

Hanya mengangguk mengerti. Itu memang terlalu angkuh. Tapi setidaknya bagi Yoongi sangat melegakan karena namja itu tidak menanyakan kemana dia akan pergi. Hm, bahkan itu lebih baik. Sangat baik malah.

Yoongi menepuk pahanya kecil, mengembalikan senyum indahnya untuk terakhir kalinya, "Dan… Aku minta maaf karena telah mengganggumu selama ini. Aku harap kau dan Jungkook-ssi berjalan lancar." Berdiri setelah kembali memakai tas selempangnya, "Baiklah, aku permisi."

Hanya itu? Hanya itu kah? Dan namja cantik itu akan pergi? Kenapa ia jadi merasa berat hati melihat pundak sempit itu menjauh dan menjauh. Ingin memanggil tapi harga diri ini terlalu tinggi untuk diabaikan. Ingin mengatakan untuk tetap tinggal disini sebentar lagi tapi ia sendiri tidak memiliki alasan untuk itu. Apakah hanya sampai disitu sebuah salam perpisahan setelah apa yang mereka lewati? Tsk-memangnya apa yang telah mereka lewati.

"Ah, kunci mobilku?"

Suara berdecak itu melenyapkan lamunan Jimin. Menatap tubuh ramping itu kembali mendekat ke arahnya. Mengambil sebuah kunci mobil yang tergeletak di atas meja di depannya. Ada perasaan lega saat kembali dapat melihat wajah itu. Sebenarnya ada apa ini, hm? Nalarnya sekarang tak mampu lagi bermain.

"Kau tidak membenciku? Ku pikir kau akan menggangguku selamanya, huh?" Kata-kata itu meluncur begitu saja, bagai sebuah sayatan yang menerobos telinga Yoongi. Menghentikan gerakannya yang masih menunduk untuk kemudian menegakkan tubuhnya. Menyadari bahwa mata tipis itu memandangnya sinis seperti biasa, "Bagaimana aku bisa yakin bahwa kau tidak akan mendatangiku lagi?"

Mendesah berat, jujur saja ia sudah terlalu lelah dengan kata-kata Jimin. Apa lagi yang harus ia lontarkan untuk menanggapi kalimat namja ini. Hatinya sakit tentu saja, sangat ingin mata indah itu menatapnya penuh kelembutan, "Kau bisa menciumku? Ciuman yang tulus?" Ucapnya bergetar, namun dalam waktu beberapa detik ia tertawa kecil. Menunjukkan wajah cerianya seperti biasa, "Yah, ku rasa kau tak bisa melakukannya huh? Kau tenang saja, aku—"

Entah kapan Jimin sudah berdiri dan menahan tangan Yoongi yang akan segera berbalik. Tangannya terangkat, menempelkan tissue yang beberapa saat yang lalu ia dapatkan dari mejanya ke bawah hidung namja cantik itu, "Kau mimisan…"

"Ah… Maafkan aku," mengambil alih tissue dari tangan Jimin untuk membersihkan darah di hidungnya sendiri, "terima kasih, Jimin-umh.."

Namja cantik itu tak sadar ketika mata tipis Jimin memandangi wajahnya. Tak lama… satu tangan kokoh itu merangkul pinggangnya, sedang yang satu lagi menekan tengkuknya. Dan bibir apel itu menutup bibir cherrynya sempurna. Menyentuhi bibirnya dalam dengan halus, perlahan tanpa tuntutan nafsu. Sedikit ragu, membalas kecil. Hanya saling menikmati betapa manisnya bibir lembab bercampur saliva hangat. Dipercantik dengan pelukan erat yang menyatukan tubuh mereka.

Ingin menangis rasanya saat Jimin benar-benar mengabulkan keinginannya. Sebuah ciuman yang tulus, ciuman yang sebenarnya. Ia bisa merasakan bagaimana lembutnya Jimin bergerak membelai bibirnya. Betapa namja itu juga tidak sabar untuk memperdalam kecupan ini. Menciuminya seakan memendam sebuah kerinduan yang dalam. Hanya darahnya yang berdesir dalam pembuluhnya, jantung yang begitu senang memompa, seluruh rongga dadanya terisi sesuatu yang hangat. Perasaan bahagia…

Saat tautan itu terlepas, keduanya mengeluh pelan masih berusaha untuk saling mendekatkan bibir mereka sekilas. Tidak rela saat ciuman itu terpaksa di hentikan karena tipisnya udara disekitar mereka. Memisahkan diri juga dari pelukan yang sangat intens tadi.

Pemilik mata tajam itu kembali menjadi dirinya, menatap lurus ke arah Yoongi yang masih berdiri kaku dihadapannya.

"Cukup kan? Pastikan kau tidak akan kembali…"

Sesinis apa pun tatapanmu, sekotor apa pun ucapanmu…Jangan menatapku, jangan bicara tidak, cintaku akan terus memilihmu…


Satu hari.

Dua hari

Satu minggu.

Namja cantik dengan mata mempesona itu benar-benar menepati janjinya. Sama sekali tidak mendatangi dirinya. Sama sekali tidak menghubunginya. Tidak ada sedikit pun kabar mengenai dirinya. Bukan hanya namja cantik itu, tapi juga Min Hari yang biasanya ia temui di kantor atau di acara resmi ikut menghilang.

Dan itu membuat dirinya mengalami hal-hal aneh beberapa setelah perpisahan mereka. Sedikit merasa kehilangan sesuatu, atau justru sangat banyak. Hampir setengah dari pekerjaannya terbengkalai hanya karena memaksa otaknya untuk memikirkan senyum cantik dan mata indah yang membuatnya kadang terdiam. Satu hal lagi yang selalu sulit untuk ia hindari, yaitu berlama menatap ponselnya sebelum akhirnya memutuskan untuk menghubungi namja cantik itu, meski akhirnya urung. Bukankah dia yang menginginkan kepergian namja cantik itu? Apa mungkin seorang Park Jimin akan menjilat ludahnya sendiri?

Ada apa dengannya?

"Jimin hyung?"

Suara manis itu mengagetkannya. Mata itu akhirnya memperhatikan sosok yang baru saja memasuki ruangannya. Namja cantik kekasihnya, Jeon Jungkook. Sudah lama ia tak bertemu dengan Jungkook. Aneh sekali, saat ini ia bisa santai-santai saja saat Jungkook jarang menemuinya ke kantor. Bahkan sama sekali tak tertarik mendengarkan alasan Jungkook. Apa penyakit posesif-nya sudah sembuh? Atau karena hal lain kah?

"Ah.. Sejak kapan kau disini?" Jimin mengganti posisi duduknya dari bersandar, kini memeriksa beberapa file di atas mejanya. Atau hanya sebuah alasan karena ia terlihat bengong dari tadi.

"Aish, aku memanggil-manggilmu dari tadi," keluh Jungkook menatap kesal wajah Jimin. Duduk di barisan sofa di depan meja kerja Jimin. Meletakkan tas ranselnya begitu saja di sofa yang ada di sebelahnya.

"Mian, ku pikir aku kelelahan." Melepaskan map yang ada ditangannya. Beringsut berdiri, melangkah ke arah Jungkook lalu duduk di sofa yang berseberanbgan diagonal dengannya. Tangannya terulur mengusap lembut rambut almond Jungkook.

Jungkook mengernyitkan keningnya, "Kau aneh, seperti mayat hidup. Apa masalah kantor begitu berat hingga kau terlihat pucat begini?"

Hanya melempar senyum tipisnya. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Jungkook. Bahwa dia tak ubahnya sesosok mayat hidup yang tak memiliki pikiran. Hampir seharian ia lakukan untuk bekerja, satu atau dua jam untuk menutup mata. Seluruh pekerjaan yang ia lakukan dilewati dengan kepala kosong hingga tak dapat selesai cepat.

Namun, tiba-tiba ia mengingat satu hal. Mungkin bisa ia jadikan sebuah alibi bahwa ia masih memperhatikan Jungkook dengan baik. Sosok yang dulu selalu membuatnya naik darah.

"Kau sudah menyelesaikan masalahmu dengan si Taehyung itu?"

Nama Taehyung sukses merubah mood Jungkook. Sama sekali tak menjawab, mennunduk memperhatikan tangannya yang mengepal di atas pahanya. Sungguh, ia sangat menyayangi Jimin sebagai orang yang selalu membuatnya bahagia, merasa terlindungi… Dan akhir-akhir ini banyak sekali yang membuatnya berpikir ulang. Mungkin benar kata Taehyung bahwa hatinya berpihak pada namja itu. Apa lagi saat ia mengetahui suatu hal dari Taehyung. Sesuatu yang membenarkan seluruh pemikirannya mengenai Jimin beberapa hari ini. Yah, ia mulai mengukur seberapa besar cintanya pada Jinki di banding namja bermata runcing itu. Dan miliknya mungkin tidak seberapa.

"Tak perlu kau jawab," Jimin kembali bersuara setelah melihat reaksi Jungkook yang enggan. Bahkan tidak mau menatap matanya. Mungkin buku-buku jari yang tergeletak dipaha kurus itu lebih menarik untuk di pandang.

"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Min Yoongi?" Akhirnya membalas tatapan mata Jimin yang beberapa hari ini makin meredup rasa sayangnya. Mungkin kali ini ia harus memastikan satu hal untuk menolong namja mayat hidup di hadapannya. Juga untuk menolong dirinya sendiri dari sakitnya rasa patah hati.

"Apa maksudmu?"

Jungkook mendesah berat. Namja ini mulai memasang topeng wajah kepura-puraannya. Tidak peduli dengan beratnya keinginan yang sudah ia tutupi, tertimbun di sudut hatinya. Berlagak baik-baik saja, padahal sesuatu yang ia simpan sudah melukai dirinya. Bodoh… Bodoh…

"Aku tidak akan marah hyung, tolong jawab saja. Apa hubunganmu dengannya?"

"Dia calon tunanganku," menjawab malas tanpa menatap Jungkook. Memejamkan mata sabitnya seraya mengurut kening yang serasa pecah karena terlalu sering digunakan.

Jungkook tersenyum, bukan senyuman manis seperti biasa. Adalah senyuman masam yang mengiringi keelokan wajah itu. Hatinya terluka mendengarkan suara khas Jimin. Bahkan dulu namja itu merahasiakan semuanya, berpura-pura tidak mengenal. Tapi kenapa sekarang begitu mudah mengatakan, sesantai itu memberitahunya. Huh, ini hanyalah awal Jeon Jungkook…

"Kau menyukainya?" Yah, pertanyaan yang sukses membuat Jimin membuka matanya kembali. Menatap tak percaya dengan apa yang di ucapkan dari bibir plump itu, "menurutmu bagaimana perasaannya padamu?"

Sebentar tertegun dengan pertanyaan Jungkook. 'Bagaimana perasaan Yoongi terhadapnya?' Bukankah mereka melakukan ini hanya karena mereka akan dijodohkan. Karena orang tuanya memilih Jimin sebagai calon suami. Karena itu Yoongi mendekatinya. Hanya itu kan?

Jimin sekuat tenaga kembali mengisi pikirannya, "Berhenti bicara ngelantur, jika kau tidak ada perlu kau pulang saja." Ucapnya tegas. Hebat sekali. Ini pertama kalinya ia bicara dengan nada seperti ini pada Jungkook. Nada yang biasa ia gunakan terhadap Yoongi. Entah kenapa rasa sesal itu tiba-tiba mengganggunya. Apa salahnya bersikap ketus pada Yoongi hah?

"Oh, sudah berani mengusirku hyung?" Jungkook terkekeh geli. Ia juga melihatnya dengan jelas, juga mendengarnya. Nada Jimin yang selama ini lembut, berubah menjadi sedikit keras. Jimin mungkin sudah tidak menyimpan namanya di dalam otak mayat hidupnya. Dan itu membuat sayatan dihatinya bertambah.

"Aku tidak mengusirmu—"

"Aku—hanya merasa aneh, Yoongi hyung… Dia menemui Taehyung dan meminta namja itu untuk melepaskan aku agar bisa bersamamu. Berkata bahwa dia dan Taehyung hanyalah orang ketiga. Haruskah aku berterima kasih? Aku tidak tahu jika nyatanya dia calon tunanganmu." Terangnya setelah memotong kalimat Jimin. Entah yang ia sampaikan ini baik atau tidak. Setidaknya ia tahu bahwa ini akan membuatnya terpental jauh lalu kesakitan. Sekumpul air sudah menumpuk di pelupuk matanya. Hanya mampu menunda kedipan mata agar semua itu tak terurai.

Walau remang karena air mata, ia masih bisa melihat wajah Jimin mulai berubah setelah mendengarkan penjelasannya barusan. Membeku seperti ikan mati dalam lemari es. Mata sabit indah itu hampir kehilangan cahayanya. Mungkin tidak pernah terpikirkan olehnya, bahwa Min Yoongi, namja cantik yang tak pernah ia perlakukan baik malah memikirkan kebahagiaannya. Kebingungan, penyesalan, emosi, merasa paling bodoh di dunia. Mungkin semua itu yang dirasakan namja tampan itu. Isi kepalanya mulai terurai, semua yang paksa ia tutupi kini tersirat.

Dengan seluruh tenaga terakhirnya untuk berucap…

"Ah, kau mulai memahami sesuatu kan hyung?"

Tak selamanya orang ketiga menjadi orang ketiga, Tak selamanya cinta tak terbalas menjadi cinta tak terbalas.


"Omonim, ayo makan siang. Kau belum makan apa pun dari tadi pagi, hm?"

Seokjin menyentuh bahu kurus itu lembut masing-masing dengan kedua tangannya. Menguatkan tubuh yang saat ini sangat rapuh, makin hari makin mengurus karena kehilangan nafsu makan. Yeoja cantik paruh baya yang biasanya begitu modis, cantik nan elegan melangkah kini terlihat tak berdaya. Bahkan seluruh pekerjaan pentingnya di tinggalkan begitu saja hanya untuk duduk di tempat ini. Yang menurutnya jauh lebih penting.

"Kau saja Seokjin-ah, aku masih ingin disini." Menjawab lembut, mungkin takut mengganggu sosok yang terlelap di hadapannya. Sangat cantik meski wajah itu terlihat pucat, bibir mengering juga lingkaran hitam disekitar matanya dan kepala yang sudah terkulai lemah diatas bantal. Setiap hari, ia berniat akan terus menatap sisa kecantikan itu sebagai bentuk rasa penyesalan. Selalu menemani anak kesayangannya yang dulu selalu ia abaikan. Semua ini salahnya. Salahnya yang tidak pernah memperhatikan anaknya. Jika saja ia bisa menjadi ibu yang baik. Mungkin ia takkan semenyesal ini…

Saat pertama kali mendengar dari Seokjin mengenai semua ini, saat itulah dimana ia merasakan kiamat dalam hidupnya. Seakan menjadi gila dalam waktu beberapa detik saja. Seluruh sumpah serapah dalam hati hanya tertuju untuknya. Ibu mana yang tak mengetahui keadaan anaknya dan hanya mementingkan pekerjaan, uang, perusahaan. Bahkan anaknya ini selalu menunjukkan senyumnya saat mengalami penderitaannya. Tanpa berniat memberi tahu. Takut bahwa semua itu akan menghambat pekerjaan sangumma. Bodoh… Bukan anaknya, tapi dia… Bodoh…

Seokjin berdecak pelan, "Ayolah omonim, kau harus makan atau aku akan melarangmu berkunjung lagi! Kau tenang saja, akan ada perawat yang menjaga malaikat cantik ini."

Min Hari mendongak, menatap sahabat anaknya dengan mata sendu miliknya. Cara Seokjin membujuknya lumayan memancing nafsu makannya. Bukannya ia tak tahu Seokjin hanya bercanda. Tapi, ia harus tetap sehat untuk menjaga malaikatnya yang selama ini ia acuhkan.

Alunan lagu memecah kesunyian. Seokjin merogoh saku jas dokternya, menatapi layar ponsel yang menyala karena sebuah panggilan. Sebuah nama yang tidak asing di telinganya, untuk apa namja ini menelpon Yoongi?

"Sebentar omonim, aku angkat telepon dulu."


Sunyi senyap. Saat dua namja duduk berhadapan di sebuah cafe di pinggiran Hongdae. Saling menatap, menunggu salah satu dari mereka untuk buka suara. Yah, ini adalah pertemuan pertama mereka. Bahkan Seokjin—salah dari namja itu—hanya mengetahui namja ini dari Yoongi.

"Jadi kau Park Jimin?" Akhirnya Seokjin mulai berbicara setelah lama memperhatikannamja bernama Jimin ini. Memainkan cuping gelas miliknya untuk sekedar menghilangkan kebosanan.

"Yah, itu aku."

"Jadi, kenapa kau mengajakku bertemu?" Seokjin mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Jimin. Mata bulatnya memperhatikan penampilan Jimin.

"Kenapa kau bisa memiliki ponselnya?"

Seokjin mendengus dengan seringaiannya, sedikit geli bahwa Jimin menemuinya hanya untuk menanyakan ini saja. Setidaknya, ini yang menjadi pertanyaan pertama yang keluar dari bibir namja ini, "Jika ku katakan aku adalah kekasihnya, kau akan marah?" Tanyanya menggoda, dan sangat puas ketika melihat mata tipis namja itu melebar karena terkejut, "Tsk—tenang saja, aku sudah memiliki suami dan itu bukan Yoongi-mu,"

Sengaja menekankan kata 'Yoongi-mu' di akhir kalimatnya. Hanya penasaran bagaimana sesungguhnya perasaan namja ini. Setidaknya sekarang. Lama, Jimin tak merespon ucapannya. Kembali memutuskan untuk berbicara, "Sekarang aku yang bertanya, kau siapa-nya Yoongi?"

Lagi-lagi hanya diam. Bukannya tak mau menjawab. Hanya saja ia sendiri bingung untuk menentukan apa yang akan ia ucapkan. Ingin mengatakan ia adalah calon tunangan Yoongi tapi sebelumnya, ia sendirilah yang berkeras menolak Yoongi. Juga calon tunangan mana yang mencari pasangannya pada orang lain? Dia tidak mengetahui apa pun sekarang.

Mata besar Seokjin memperhatikan, "Well, tidak kau jawab pun aku tahu kau dengan jelas."

Tahu sekali bahwa Jimin tidak akan merespon, menunggu kalimat selanjutnya yang akan ia lontarkan.

"Yoongi banyak menceritakan mengenai dirimu…"

Jimin menghirup nafasnya dalam, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya. Pantas saja jika Seokjin bersikap dingin padanya huh? Pasti Yoongi sudah menceritakan semua kelakuan jahatnya pada namja ini. Bersiap-siap jika namja di depannya ini mencercanya dengan kata-kata yang pedas untuk menggantikan sahabatnya. Mungkin saja kan?

Seokjin berdiam dalam beberapa saat untuk melempar tatapan tajamnya, kemudian memulai, "Kau Park Jimin, namja tampan yang memperlakukannya dengan sangat baik. Mencintainya sepenuh hati. Menatapnya hangat. Membuatnya tertawa. Membuatnya bahagia dengan ucapan manismu. Membelikannya makanan yang enak. Memeluknya sayang. Membuatnya jatuh cinta padamu saat pertama kali melihatmu… Benarkah begitu?"

Apa?

Apa?!

Kapan ia pernah melakukan semua hal yang disebutkan tadi? Yah, yah! Tidap pernah sekali pun. Dan Yoongi mengatakan semua hal baik mengenai dirinya pada Seokjin. Apa tujuannya? Ahh, hatinya teriris-iris mendengarkan semua itu. Merasa menjadi manusia yang paling stupid di dunia ini. Hanya dapat terdiam, nafasnya mulai terasa sesak. Ingin menangis tapi tak mampu… Sial…

Seokjin tersenyum sinis. Entah berapa lama ia harus menunggu namja bermata tipis ini untuk membuka suaranya. Apa seluruh penjelasannya sangat mengejutkan hingga Jimin tak dapat bersuara? Dan kembali memutuskan untuk berbicara lagi. Lebih kepada kenyataan yang ia lihat, bukan ucapan manis yang keluar dari bibir Yoongi.

"Kau tidak menjawab? Dan sepertinya kau tidak begitu iya kan? Hanya dengan melihat air matanya, aku tahu bagaimana kau memperlakukannya…"

Seokjin menengadahkan kepalanya, menghela nafas berat. Rasanya ingin menangis, tapi tak mungkin ia melakukannya di depan Jimin. Hanya merasa sangat kasihan dengan beban yang disimpan sahabatnya. Dan lagi, keberuntungan apa yang dimiliki Jimin eoh? Kenapa namja sepertinya bisa mendapatkan hati seorang Yoongi. Namja cantik yang polos, tak tersentuh siapa pun bak rapunzel dalam menara.

"Kenapa kau bisa begitu mencintai namja ini, Yoongi-ah?" Seakan Yoongi ada disana, tersenyum lembut, kemudian kembali menatap mata Jimin, "Aku tak habis pikir bagaimana bisa kau menyia-nyiakan malaikan cantik seperti Yoongi. Kau tahu? Bukan hanya padaku, ia menceritakan seluruh kebaikan palsumu pada bumonimnya. Hanya untuk membahagiakan mereka… Dia ingin kami melihatnya berbahagia…"

Namja itu kembali merasakan sesuatu menghantam hatinya. Berkali-kali. Bahkan setiap hantaman itu datang rasanya akan lebih keras dan menyakitkan. Apa telinganya tuli? Jika begitu kenapa kata cinta itu begitu jelas terdengar di telinganya? Oh, dia bisa gila sebentar lagi. Yoongi, mencintainya? Benarkah? Lalu, apakah ini juga yang ia rasakan hm? Sebuah alasan kenapa malam itu ia bisa mencium Yoongi dengan sepenuh hatinya. Ini cinta… Sesuatu yang terlambat…

Kenapa seorang yang sebaik dan seindah itu bisa jatuh padanya. Demi terlihat bahagia, Yoongi berbohong. Kebohongan yang membuatnya merasa sangat tak berharga. Ia hanyalah lelaki kurang ajar yang telah berkata kasar, bahkan menodainya.

Semuanya… Bahkan saat malam itu Yoongi memintanya untuk berbohong. Juga untuk membuat Min Hari berbahagia.

"Bisakah kau berhenti bicara dan beritahu aku dimana Yoongi berada sekarang?" Jimin akhirnya mengeluarkan suaranya. Menuntut pada namja dihadapannya agar memberitahunya. Sebelum rasa penyesalan ini makin besar. Sebelum semuanya terlambat. Atau… Telah terlambat… Entahlah, ada sesuatu yang membuatnya tidak yakin.

"Maaf, tapi aku tak bisa mempertemukannya denganmu…"

"Kenapa? Apa maksudmu?"

"Dia bilang, dia tidak mau kau melihatnya dalam keadaan terbaring di ranjang dengan wajah pucat dan tidak bergerak…"

"Apa?! Hei, yang jelas kalau bicara…" Jimin mendelikkan mata tipisnya. Belum terlalu mengerti dengan apa yang diucapkan lelaki di hadapannya. Atau mungkin, hanya menghibur diri sendiri dan berharap apa yang ia dengarkan barusan hanya sebuah kesalahan.

"Satu minggu yang lalu, dia mengalami kecelakaan. Entah apa yang dilakukannya tengah malam begitu. Dia bodoh sekali. Aku sudah melarangnya menyetir tapi dia tetap melakukannya. Sepertinya ia mendapat serangan saat menyetir." Menjeda sebentar, "Yoongi, dia menderita gegar otak, kecelakaan itu membuat kondisinya tambah parah, dan sekarang dia—"

Semuanya hilang, bahkan suara Seokjin seakan tertelan bumi. Matanya hanya dapat menatap kosong wajah Seokjin yang masih menjelaskan bagaimana keadaan namja cantik itu. Hanya mampu melihat gerakan bibir namja itu. Selebihnya pikiranya tepecah-pecah. Bayangan senyuman Yoongi menghantuinya, juga jeritan memohon Yoongi saat ia dengan paksa meniduri namja cantik itu. Sebenarnya, apa yang telah ia lakukan huh? Laknat! Tak pantas disebut manusia! Hatinya serasa terbakar, dihantam batu berjuta kali lalu dibalur dengan air asam. Ingin rasanya ia menjatuhkan dirinya ke jurang. Tuhan, apa semua ini karena dirinya? Hari itu, saat Yoongi membawanya ke rumah sakit. Jika saja hal itu tidak terjadi maka—haish, bayangan Yoongi makin nyata. Tapi, ia masih merasakan semua ini hanyalah kebohongan. Apa dia masih pantas hidup, sementara Yoongi—


Lelaki tampan dengan senyuman angkuh itu kini tak lagi sama. Hari-hari dikantornya ia habiskan kebanyakan untuk melamun. Sekitar delapan puluh persen jadwalnya selalu di tunda dari waktu kewaktu. Pipinya menirus, lingkaran hitam tampak jelas di bawah matanya.

Jatuh cinta, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan seorang Jimin. Tapi, cinta yang ia rasakan jauh berbeda dengan cinta yang orang lain umum rasakan. Saat jatuh cinta mungkin mereka bahagia, mereka tersenyum, tertawa. Namun, baginya, jatuh cinta jauh lebih menyiksa meneteskan air garam di atas lukanya, harus kelaparan selama tiga hari, insomnia, sesak nafas, mata sakit menahan air mata, bahkan menusuk-nusuk dibagian dada, dia merasakan semua itu secara bersamaan. Karena kata cinta.

Pikirannya melayang entah kemana. Atau mungkin, ia hanya memikirkan satu nama dan itu disertai dengan kenangannya yang kadang menyakitkan. Penuh penyesalan yang percuma, berujung dengan rasa nyeri luar biasa menyerang dadanya.

Bahkan ia tak sadar ketika sekertarisnya sudah berada di hadapannya, memanggil berkali-kali sebelum mendapat perhatiannya…

"Maafkan saya mengganggu, Tuan. Video presentasi dari perusahaan dept. Store Hyundai sudah saya kirimkan beberapa hari yang lalu ke email anda. Mohon di cek, kita akan melakukan meeting dua jam lagi. Kita sudah menunda meeting dengan pihak mereka dua kali. Kita tidak bisa menunda lebih lama lagi, Tuan. Sekali lagi maafkan saya…"

"Baik, kau boleh keluar," potongnya, tak ingin berlama-lama mendengarkan ucapan sekretarisnya.

Terpaksa Jimin meraih tablet PC-nya setelah sekretarisnya menghilang di balik pintu ruangan. Mencari video yang dimaksudkan lalu menontonnya. Sekuat tenaga ia mengumpulkan minatnya untuk memahami isi presentasi, tapi tak satu yang mampu ia serap.

"Argh…"

Kepalanya sakit. Memilih untuk menyerah dengan menekan tombol stop.

Namun, sesuatu yang lain menarik perhatiannya… pilihan recent video muncul begitu saja di layar tabletnya. Kapan dia merekam ini? Seingatnya, dia tidak pernah menggunakan tablet PC-nya untuk merekam. Dan yang membuat hatinya berdesir adalah tampilan awal video itu. Wajah cantik Min Yoongi terlihat disana.

Tidak… tidak… dia tak sanggup melihatnya… Tapi keinginannya jauh lebih besar yang mungkin berasal dari kerinduannya…

Hatinya menghangat ketika video itu di putar. Wajah pucat Yoongi tegambar jelas disana, duduk menghadap ke arahnya. Video itu di rekam di officetel-nya, hari dimana ia melakukan dosa terburuk pada Yoongi. Kapan Yoongi merekam ini, huh? Mungkin saat ia sedang tertidur kah?

Yoongi mulai membuka suaranya…

Aku tidak tahu kapan kau akan melihat video bahkan tidak mengira bahwa kau akan melihatnya…

Ia tersenyum lembut, mata felinenya berbinar.

Park Jimin, untuk seseorang yang sangat aku cintai. Park Jimin…

Jimin mendesah berat mendengar pernyataan cinta itu, ribuan jarum menusuk hatinya…

Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu. Mungkin kedengarannya bodoh…Jujur saja aku juga tidak mempercayai cinta, apalagi cinta pada pandangan tidak mendapatkan 'cinta' dari orang , kau malah memperkenalkan aku pada cinta…

Aku mencintaimu, tapi orang sepertiku, takkan menjadi egois untuk memilikimu. Aku tak memiliki kelayakan untuk memiliki seseorang…

Yoongi menjeda ucapannya, menahan desak tangis. Kemudian tersenyum lagi…

Jika kau tanya apa aku benar-benar ingin bersamaku. Maka aku akan menjawab iya. Tapi, jika kau bertanya apa aku ingin menikah denganmu. Meski pun aku sangat menginginkannya, jawabanku adalah 'tidak'.

Awalnya aku berpikir hanya karena dirimu adalah pilihan orang tuaku, tapi… begitu aku mencintaimu. Aku jadi tidak memiliki niatan untuk menikah denganmu… Mana mungkin aku tega melakukan hal itu. Aku adalah orang yang sebentar lagi akan mati. Kau hanya akan rugi.

Aku hanya ingin merasakan bagaimana mencintai seseorang dengan tulus sebelum aku tak pernah berharap kau itu, aku tak pernah marah saat kau menyakitiku. Bahkan malam ini pun, aku mendiamkan semua tindakanmu…

Jika saja aku punya umur yang lebih panjang, mungkin aku akan menamparmu, mengutukmu, membencimu. Tapi, tidak… aku bahagia, aku hanya bisa berbahagia kau mau menyentuhku…

Darimu aku belajar bagaimana mencintai…Dan bahkan lebih baik karena ini adalah cinta tak terbalas. Aku sangat bersyukur…Karena jika begini, aku tidak akan melukaimu, jika nanti aku pergi…

Terima kasih, karena kau tidak membalas perasaanku…Itu membuat semuanya menjadi lebih mudah untukku…

Jimin perlu beberapa detik, beberapa detik untuk merasakan bagaimana sakitnya luka berdarah itu kembali di tusuk begitu hebatnya, mengeluarkan darah yang lebih banyak. Mengucur hebat. Matanya nanar ketika menatap wajah Yoongi yang akhirnya mengeluarkan tangisan. Sekuat tenaga menutup bibir manisnya agar tak membangunkan Jimin di kamar itu.

Oh, dan dia pun akhirnya belajar bagaimana mencintai. Bagaimana ketulusan bisa membuatnya bertekuk lutut dan tak bisa berkutik. Bagaimana sakit ini membuatnya tersiksa setengah mati. Mencintai, merindukan. Mengutuk diri sendiri, mengapa bisa dirinya begitu lamban, begitu laknat. Dia memang tidak akan pernah pantas untuk menemui Yoongi. Bahkan untuk menemaninya di akhir waktu Yoongi. Dirinya menjijikkan untuk namja sesuci dan setulus Yoongi. Siapa dirinya… Dia tidak pantas mendapatkan cinta ini…

Jimin meremas dadanya, menggigit kepalan tinju di tangannya. Ah, bagaimana bisa ia mengeluarkan air mata ini. Jika saja ia bisa, menggantikan Yoongi yang masih terdengar menangis pilu dalam video itu. Jika saja ia bisa membelai wajahnya, mengusap air matanya. Maka ia akan melakukannya dengan segera. Tapi, kata terlambat itu sungguh membuatnya setengah mati menderita. Tak cukup hanya merutuki diri sendiri, tak cukup rasa sakit ini yang menggerogoti dirinya. Min Yoongi jauh lebih sakit dari ini….

Ia ingin lebih lama lagi menatap wajah Yoongi… dan dia menemukan sesuatu yang lain di dalam video itu…

Jantungnya berdegub cepat… map yang sangat ia kenal ada di hadapan Yoongi. Dengan buku desain yang masih terbuka lebar. Gambar desain belum selesai seluruhnya. Dan video itu berhenti…

Seketika ia melempar tablet PC-nya, berjalan menuju bookself di ruangannya. Tepat di bagian dimana map-map kumpulan desain dari Min Yoongi dia letakkan. Satu persatu menarik dan membukanya tak sabaran. Melemparkan ke lantai jika isi tak sesuai dengan dugaannya. Tak peduli jika ruangan kantornya bising, berantakan. Ia hanya ingin mencari…

DEG…

Tangannya berhenti bergerak, menatap map biru langit yang terbubuh tanggal di sampulnya. Tanggal yang sama ketika mereka tidur bersama, tanggal yang sama dengan video yang di tontonnya barusan. Jemarinya gemetar, membuka lembaran kertas desain di dalamnya.

Waktu seakan berhenti, tubuhnya lemas, kakinya kehilangan tenaga sehingga tubuhnya ambruk begitu saja. Ada desakan di dadanya, sangat kuat sehingga ia merasakan mual, matanya panas, dan akhirnya ia mampu menangis. Mulanya dalam kesunyian, hingga akhirnya tangisan itu lepas. Meraung-raung memeluk gambar desain itu. Meremas rambutnya, bahkan memukul-mukul dadanya, sumber rasa sakit yang mampu membuatnya begitu terpuruk seperti sekarang…

Jimin merogoh ponselnya, bersusah payah menghubungi sebuah nomor…

"Y-yeoboseo, Kim Seok—jin? B—bisa kau izinkan aku bertemu Yoongi, sekali saja…k—kumohon,"

Hening sejenak, dirinya gelisah menunggu balasan Seokjin.

"Maafkan aku, Jimin-ssi…" Suara Seokjin terdengar berat dan serak, mirip seperti miliknya. Dia tidak mau menebak apa yang terjadi, perasaannya sungguh tak enak… "Aku menyesal harus mengatakan ini. Tapi, Kau bisa menemuinya di rumah duka. Yoongi pergi satu jam yang lalu…"

Di bagian belakang desain itu tertulis…

"Meski aku tidak ingin menikah denganmu, tetap saja, impian terbesarku adalah menikah denganmu. Tapi, akhirnya aku hanya mampu mendesain pakaian untukmu. Kau harus memakai ini saat menikah dengan Jungkook. Aku akan senang jika kau melakukannya…"

FIN.

06/06/2016