Disclaimer © Fujimaki Tadatoshi – KnB (I own my story).
Warning : Miss typos, slight OOCness, sedikit gaje, ide pasaran, OC dan AU (only for this story). Segala sesuatu yang ada dalam cerita ini hanyalah rekayasa belaka. Jika ada kesamaan dalam bentuk dan hal apapun, hal itu merupakan suatu ketidaksengajaan. Hope you can enjoy it. Happy reading~!
.
.
.
A KnB fanfiction
C.I.N.T.A
.
~ 2nd Part ~
(Akashi Seijuurou X OC: Amano Yuzuki)
.
.
.
C untuk Curious
Akashi Seijuurou adalah seorang yang absolut. Mutlak. Atau setidaknya begitulah yang dikatakan orang-orang mengenai sosok pemuda berambut merah dengan tinggi badan 173 cm itu. Lahir dari keluarga bangsawan dan memiliki kharisma layaknya seorang raja menjadikan sosok yang sebenarnya memiliki kepribadian ramah dan perhatian itu selalu diidentikan dengan tuan penguasa yang bertangan besi. Tidak bisa dibantah.
Well, kalau kita berkaca sejenak ke belakang mungkin sebutan sang penguasa tiran memang cocok disandingkan dengannya. Memiliki kepribadian yang dualis membuat dirinya sempat bertindak egois yang membuat semua orang, tak terkecuali, tunduk untuk mengikuti semua perintahnya dan juga takluk di hadapannya.
Dengan kata lain, kalau mau hidupmu selamat sentosa, jangan pernah mencoba mencari masalah dengannya. Jika tidak, maka kau mau tak mau harus mempertaruhkan seluruh kehidupanmu saat itu juga. Sebab sudah dipastikan bahwa sampai ke ujung dunia pun, kau tak akan lolos dari amukan sang kaisar merah.
Namun berkat kekalahan yang dialaminya dalam pertandingan Rakuzan vs Seirin di Winter Cup yang lalu, kini sang kaisar bisa dibilang sudah kembali ke sosoknya yang dulu. Atau katakan saja ia punya kendali untuk mengontrol kepribadiannya yang satu lagi. Hebat kan?
Sayangnya, tak banyak yang mengetahui hal ini kecuali orang-orang yang dekat dengan sang kaisar. Dan salah satu yang tidak mengetahui hal itu adalah gadis manis bermahkota keperakan yang baru saja pindah ke Rakuzan dengan status 'siswa baru', Amano Yuzuki.
Desas-desus yang didengarnya sebelum pindah ke Rakuzan awal Januari – mengenai sang kaisar – membuatnya sangat berhati-hati dan bahkan cenderung menjaga jarak dengan Akashi. Meski seharusnya ia tahu, bahwa orang yang pertama kali akan ditemuinya saat masuk ke SMA Rakuzan adalah Akashi Seijuurou sendiri, sang Ketua Komite Disiplin.
Ah, jangan lupakan fakta bahwa Akashi itu genius. Dari sisi manapun kau berusaha menyembunyikan sesuatu, bukanlah menjadi soal bagi Akashi untuk menariknya keluar dan mengungkapkannya. Seharusnya Amano menyadari hal itu.
"Amano Yuzuki-san. Atau lebih baik kupanggil dengan Amano-san saja. Kautahu ? Seharusnya menurut etika yang berlaku adalah tidak sopan untuk menghindari tatapan dari lawan bicara saat yang bersangkutan sedang berbicara kepadamu."
"Eh? Su-sumimasen, Akashi-san bu-bukan maksudku untuk –,"
"Hoo? Apa kau mau mengatakan kalau kau takut padaku?"
"Ti-tidak!"
"Menarik sekali. Sudah lama tidak ada yang bersikap seperti itu saat berbicara denganku. Menurutmu apa aku menakutkan?"
"Ha-hah?!"
Akashi terkekeh di dalam benaknya, atau sebenarnya sedang tertawa? Yang pasti ia merasa senang. Entah mengapa. Tanyakan saja padanya.
Meski yang tampak di luar hanyalah seringai jahil, tapi sanggup membuat para gadis di luar sana terpesona dan para fansnya akan menjerit histeris – karena melihat seringai nakal tapi seksi itu bertengger di wajah sang kaisar. Namun sayang, bagi Amano hal itu justru malah terlihat menakutkan.
'Hiiiy, aku akan mati. Hiks, bagaimana ini? Sepertinya aku sudah membuat Akashi-san marah," tangis sang gadis di dalam hati.
Sementara itu bagi Akashi, ia seperti menemukan sesuatu yang menarik daripada kejuaraan Interhigh yang akan diadakan musim panas tahun ini. Ada rasa ingin tahu yang menggelitik dalam diri Akashi. Penasaran.
'Gadis ini lucu sekali. Entah dia ketakutan atau apa, tapi ekspresi wajahnya sangat lucu. Aku jadi ingin menggodanya.'
"Aku tidak suka dibuat menunggu Amano-san. Jadi bisa jelaskan sikapmu ini?"
Amano menggigit bibirnya, ketakutan. Memberanikan diri menatap sang kaisar, Amano pun berujar, "Maafkan atas ketidaksopanan ini, Akashi-san. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Dan … dan …." Akashi menunggu. "Aku tidak takut pada Akashi-san. Ha-hanya saja, tolong berhenti memandangku seolah aku ini adalah mangsa."
Detik berikutnya Akashi tertawa terbahak-bahak.
.
I untuk Imperfect
Nebuya dan Hayama terpingkal-pingkal. Saat mendengar bocoran cerita mengenai gadis bersurai keperakan itu dari beberapa anggota Komite Disiplin yang kebetulan berada di tempat kejadian saat peristiwa itu terjadi.
Ayolah, siapa yang tidak tertawa jika kejadiannya seperti itu. Mibuchi sendiri memilih tidak ambil pusing mengenai hal itu, walau sebenarnya ia penasaran dengan sosok gadis yang mampu membuat Sei-chan tertawa seperti itu.
Akashi jarang tertawa, walau bukan berarti tidak pernah. Namun sampai membuat sang kaisar terbahak-bahak adalah peristiwa langka, yang patut dicari tahu kebenarannya. Setidaknya itulah yang ada dipikiran Mibuchi saat itu.
Karenanya setelah latihan selesai, ketiganya pun mendatangi Akashi yang sedang beristirahat sejenak di bench gym.
"Sei-chan? Ada waktu?"
Kening Akashi berkerut meski tak terlalu kelihatan. Cengiran tipis terukir di bibirnya. "Ya? Ada apa Mibuchi-san?"
"Kautahu? Kami mendengar rumor yang cukup … menghebohkan, yang terjadi di ruangan Komite Disiplin baru-baru ini. Jadi, sebenarnya apa yang terjadi?"
"Hoo. Aku tak tahu kalau peristiwa itu akan menjadi gempar seperti ini, tapi, yah … bukan hal yang harus dirahasiakan juga sih. Aku tidak tahu kalau Uncrowned King menyukai hal-hal seperti ini."
Ketiganya seketika berkeringat dingin begitu mendengar perkataan Akashi. Kouhai mereka yang satu ini memang berbeda dari yang lain. Jadi, meskipun Akashi sudah kembali ke sosok yang ramah, tapi aura penguasa miliknya itu tak akan pernah bisa berganti semudah itu. Tetap saja Mibuchi, Hayama dan Nebuya harus berhati-hati supaya tidak membangkitkan pribadi yang satunya lagi.
Akashi terkekeh geli memandang reaksi ketiga senpai-nya itu
"Ada apa Mibuchi-san, Hayama-san dan Nebuya-san? Tenang, aku sama sekali tidak berencana untuk menambah porsi latihan kalian hanya karena kalian bertanya tentang kejadian yang amat menarik di ruangan Komite Disiplin kemarin itu."
Ketiganya menghela napas lega.
"Huuffft … kami kira kau akan menghukum kami dengan berlari 10 kali putaran lagi," ujar Hayama sambil mengusap keringatnya dengan handuk yang tersampir di pundaknya.
"Tentu saja tidak. Seperti yang kalian dengar …."
Akashi pun menceritakan pada mereka kejadian hari itu. Tentang kejadian lucu yang membuatnya penasaran dengan gadis bersurai keperakan dengan bola mata hijau seperti batu emerald.
" … begitulah kejadiannya," ujar Akashi menutup ceritanya.
"A-aku tak menyangka gadis itu bisa membuatmu bertingkah tak seperti biasanya, Akashi."
"Benar. Aku juga tak menyangkanya. Aku harap aku bisa melihat kejadian itu secara langsung."
"Maksudmu, kau tidak percaya dengan ceritaku, Mibuchi-san?"
"Tidak. Bukan begitu, hanya saja, Sei-chan tertawa terbahak-bahak. Itu sama sekali di luar pemikiranku."
"Reo-nee betul. Aku juga sama."
"Hooo, maksud kalian, aku yang mutlak ini tidak bisa tertawa? Hmmph, sudah kuduga kalian akan mengatakannya. Yah, dalam beberapa hal aku memang mutlak karena prediksiku akan sesuatu tidak pernah meleset. Namun perlu kalian ketahui bahwa aku juga manusia. Setelah kekalahan kita pada Seirin di Winter Cup yang lalu membuatku menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna. Dan diriku yang satu lagi juga sudah belajar banyak mengenai hal itu.
"Jadi, menurutku tertawa adalah hal yang wajar dan manusiawi sekali. Terlepas bahwa aku memang bertindak sedikit 'kelepasan' karena tidak dapat mengontrol diriku sendiri pada saat itu. Ada yang keberatan?"
Baik Mibuchi, Hayama maupun Nebuya hanya tersenyum lebar sambil menggelengkan kepala mereka. Bahkan seorang kaisar yang menganut paham absolutisme seperti Akashi sekalipun hanyalah seorang manusia yang punya kekurangan bukan? Amano Yuzuki telah menunjukkannya.
.
N untuk Nerveous
Amano berkali-kali mencubit lengannya sendiri. Berkali-kali juga ia menepuk kedua pipinya. Sakit. Jadi, ini bukan mimpi kan? Ini nyata kan?!
Mari kita tengok beberapa hari sebelumnya di mana ia harus menemui sang kaisar merah di ruang Komite Disiplin untuk kesekian kalinya. Bukan karena pelanggaran atau apa. Namun Akashi yang sedang disibukan dengan pekerjaan di Komite Disiplin memintanya untuk bertemu.
Was-was dan khawatir telah bergelayut di benak gadis itu. Meski terlihat ia sepertinya sudah mulai terbiasa dengan keberadaan sang kaisar di dekatnya. Psst, Amano sama sekali tidak tahu kalau Akashi menaruh perhatian padanya.
EEEHH?! Kapan hal itu terjadi?! Hmm, sekali lagi jawabannya tanyakan saja pada Akashi yang sudah duduk di balik mejanya, dan sedang membaca proposal acara festival musim panas yang diajukan oleh anggotanya tadi pagi.
"Ano, sumimasen."
"Ya? Silakan masuk."
Amano pun memasuki 'ruang kerja' sang Kaichou.
"Akashi-san … maaf, kalau boleh tahu. Apa yang ingin kaubicarakan padaku?"
Akashi berhenti membaca sejenak. Manik scarlet-nya menatap sang emerald dengan mantap, seolah menantang untuk beradu pandang. Sang emerald pun salah tingkah. Berlari menghindar, memilih menatap lantai. Ah, itu dia! Senyum sang kaisar pun melebar.
"Apa hari Minggu kau sibuk?"
"Eh?" Manik hijau itu membulat sempurna. Bingung, terkejut, takjub. Bercampur menjadi satu dalam emosi sang gadis yang menghadirkan kesenangan tersendiri bagi Akashi. Lucu, ng … menggemaskan?
"Aku tidak suka mengulangi pertanyaanku, Amano-san. Jadi?"
"Tidak … aku rasa."
"Aku rasa?"
"Biasanya hari Minggu aku pergi bersama ayah dan ibuku. Tapi hari Minggu ini aku tidak yakin karena sepertinya ayah dan ibu punya kesibukan tersendiri."
"Kalau begitu kujemput jam 9 pagi. Sampai jumpa hari Minggu." Lalu kembali sibuk membaca.
"Haah?!"
Akashi terkekeh geli. "Aku tidak tahu kalau Amano-san adalah seseorang yang cukup lambat dalam bereaksi untuk suatu hal. Atau kau memang seseorang yang terlalu sederhana dan polos?"
Gadis itu memberengut sebal. Pipi menggembung lucu dengan rona samar yang memikat. "Akashi-san! Maaf saja bila aku memang tak mengerti dengan apa yang kaubicarakan. Tapi maafkan aku karena aku tidak terima bila kau sengaja mengatakan hal itu untuk menyinggungku!"
"Ah! Ya ampun, di mana kesopananku? Maafkan aku, Amano-san. Itu bukan hinaan, melainkan pujian. Kau ini sungguh menarik." Sang gadis semakin merona, Akashi menyukainya. "Maksudku adalah aku ingin kau menemaniku pergi pada hari Minggu besok. Kurasa kita telah menyepakatinya, jadi seperti yang kukatakan barusan, kau akan kujemput jam 9. Jadi, bersiaplah."
Kembali ke masa sekarang di mana Amano berada di depan cermin toilet dari sebuah café, sementara Akashi sedang duduk dan menikmati kopi miliknya dengan santai di salah satu meja di sana. Ia pergi dengan Akashi. Pergi dengan Akashi, demi Tuhan! Aaaahhh! Apa yang kulakukan?! Jeritnya frustrasi di dalam hati.
Apa ia takut? Hmm, mungkin. Tapi sebenarnya ia … gugup. Amano sangat gugup sampai-sampai ia tak sadar bahwa ia sudah berada di sebuah café bersama Tuan Muda Akashi yang selama ini berusaha dihindarinya. Sayang ia gagal total. Akashi selalu dapat menemukan dirinya, dan membuatnya jadi salah tingkah.
Setelah berjalan mondar-mandir di dalam toilet seperti setrikaan selama hampir 15 menit akhirnya ia pun keluar dan menemui Akashi. Tubuhnya masih gemetar dan dadanya berdebar kencang. Belum lagi tangannya yang tiba-tiba terasa dingin padahal udara sudah mulai menghangat karena musim semi telah tiba.
Akashi tersenyum saat mendapati dirinya duduk di hadapannya. Amano balas tersenyum kaku. Akashi tidak suka. Malah membuat nyali Amano semakin mengerut. Yang Akashi mau adalah melihat ekspresi sok berani sang gadis, yang menatapnya takut-takut. Namun ada sirat penasaran yang terkandung di dalamnya.
Bukan ekspresi yang bercampur aduk, tak terdefinisi seperti sebuah robot seperti ini. Akashi menghela napasnya. Lalu tangannya terulur, meraih telapak tangan sang gadis yang berada di atas meja. Menggenggamnya dengan hati-hati lalu menautkan jari-jemari mereka. Menyalurkan kesungguhan dan keyakinan yang menenangkan pada saat yang sama.
Perlahan pipi itu pun merona. Nah, itu dia!
Senyum malu-malu pun diperlihatkan. Amano masih gugup, tapi berkat tangan Akashi yang menggenggam tangannya, entah kenapa ia malah jadi menyukai sensasinya. Sepertinya gugup itu bukan hal yang buruk juga.
.
T untuk Truth
Jatuh cinta itu tidak bisa dipaksa, tapi bila sudah mengena, bisa dipastikan kau juga tak bisa menolaknya. Sejauh apa pun kau berusaha menghindar, maka ia justru semakin gencar mengejar.
Sebaik apa pun kau menyangkal, maka ia justru akan menginvasi semakin brutal.
Namun bila kau memilih untuk menerimanya, bersiaplah dengan kejutan-kejutan yang tidak kau sangka-sangka. Sama seperti sang kaisar yang hatinya beberapa bulan belakangan ini hatinya berbunga-bunga. Bukan karena mentang-mentang musim semi terlewat hingga jejaknya membekas dalam diri Akashi – yang tiba-tiba berubah sedikit melankolis dan manis. Padahal sekarang sudah memasuki awal musim panas. Ehem, maksudnya Akashi sedang jatuh cinta.
Tak percaya? Lihat saja pada pemuda bersurai merah itu. Bahkan Mibuchi, Nebuya dan Hayama saja geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Akashi tak pernah bisa ditebak maunya. Apa lagi jalan pikirannya. Namun bila tiba-tiba Akashi berubah menjadi lebih ramah dan murah hati daripada biasanya. Sudah dipastikan bahwa gadis bersurai keperakan yang bermata hijau itulah penyebabnya.
"Akashi?! Kau yakin kau tidak mendisiplinkan mereka karena terlambat 15 menit?!" Sang punggawa berteriak sangsi.
Sang raja mengangguk pasti. "Tidak perlu, lagi pula mereka sudah melapor pada Pelatih. Karena itu cukup lanjutkan latihan seperti biasa." Lalu ia kembali melanjutkan berlari mengitari arena gym untuk pemanasan.
Tiga raja tak bermahkota terperangah dengan mulut menganga. Sepertinya besok pagi di Kyoto akan turun hujan salju berwarna merah jambu.
"A-apa Sei-chan sakit?"
"Hmm? Sepertinya sih bukan sakit dalam arti yang sebenarnya, Reo-nee."
"Huh, bocah itu jadi lebih lembut daripada biasanya!"
"Se-Sei-chan, jatuh cinta?"
"Nah, itu kemungkinan yang paling mendekati. Mengingat hal yang terjadi pada Akashi belakangan ini selalu berkaitan dengan siswi dari kelas 2B itu." Mibuchi dan Nebuya pun mengangguk-angguk, menyetujui kesimpulan Hayama.
"Mibuchi-san, Hayama-san, Nebuya-san, kalau kalian begitu semangat mengobrol saat latihan. Aku rasa lari keliling kompleks sekolah sebanyak 10 kali mungkin bisa membuat kalian lebih berkonsentrasi pada pemanasan sebelum latihan dibandingkan dengan berlari keliling gym."
Ketiganya langsung menatap horor pada perintah sang Kapten yang baru saja berkumandang dengan jelas di tempat itu.
"Bu-bukan maksud kami–"
"Kami Cuma –"
"Sama sekali tidak bermak –"
"Oh, sepertinya 20 kali lebih baik ketimbang –"
Ketiganya segera berlari keluar gym sambil menjeritkan, "MAAFKAN KAMIIIIIIIII!"
Kenyataannya, jatuh cinta atau tidak, Akashi tetap unpredictable. Dan kebenarannya adalah mutlak!
.
Sore hari, setelah latihan selesai …
"Tapi Akashi-san, seharusnya kau tidak boleh begitu."
"Tidak bisa, Amano. Seorang atlit harus berdedikasi dan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Ia harus tahu perbedaan antara hak dan kewajiban yang harus diembannya. Meskipun hanya pemain basket tingkat SMA, aku tidak akan membiarkan mereka berbuat seenaknya pada saat latihan."
"Baiklah kalau begitu. Jadi, kita pulang sekarang?"
"Tentu."
Kebenaran lainnya adalah bahwa Akashi sangat menikmati saat-saat berdua dengan Amano akhir-akhir ini.
.
A untuk Absolutely, Yes!
Bila menggunakan perhitungan matematika, maka kronologis seorang Akashi bisa jatuh cinta pada Amano Yuzuki bisa dijabarkan dengan konsep seperti ini. Satu kali pertemuan di bulan Januari cukup untuk membangkitkan rasa penasaran sang Kapten tim Rakuzan. Lalu seminggu adalah waktu yang digunakan Akashi untuk mencari seluk-beluk latar belakang sang pencuri hati.
Kemudian tiga bulan berikutnya digunakan untuk melakukan pendekatan yang tidak disadari oleh Amano, tapi cukup efektif untuk membuat sang gadis beradaptasi dengan keberadaan sang kaisar. Dan tidak membuat yang bersangkutan berlari menghindar karena takut dengan aura penguasa dan kharisma sang penakluk yang menguar dari sosok Akashi.
Anggaplah Akashi sedang menguji teori probabilitas maka ia bertaruh pada dirinya sendiri bahwa hanya dalam waktu 3 hari, ia akan dapat mengajak si gadis pergi. Dan sekali lagi prediksinya 99,99% akurat.
Jadi, dengan menggunakan teori yang sama ia akan menguji kembali validitas dan reliabilitas dari keakuratannya dalam memprediksi langkah terbesar dalam hidupnya. Yaitu dengan mengklaim secara mutlak perasaan Amano Yuzuki. Ng … apa kepemilikan? Err, terserah apa pun sebutannya.
Ya, Akashi bertaruh bahwa gadis itu memiliki perasaan yang sama dengannya. Maka hari ini ia akan membuktikan kebenaran mutlak dari prediksinya tersebut dengan menyatakannya secara gamblang pada Amano.
Setelah mengenal sosok Amano selama lebih dari 6 bulan. Akashi memahami bahwa pada dasarnya pemikiran Amano jauh lebih sederhana daripada gadis-gadis bangsawan kebanyakan. Ia berasal dari kalangan terhormat tetapi lebih mementingkan kebersamaan dibandingkan keegoisan. Ia mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.
Dan yang lebih penting bagi Akashi, ia sangat jujur pada dirinya sendiri. Sehingga dengan kejujuran itu, ia membuat siapapun menjadi nyaman bersama dengannya.
Meski Akashi sendiri tahu bahwa Amano cukup ceroboh dan kikuk saat berada di luar zona nyamanya. Namun itulah yang membuat Akashi yakin bahwa Amano adalah sosok yang dicarinya selama ini. Kesederhanaan yang memikat seperti daisy.
Akashi tidak mempersiapkan rencana apapun. Jadi, ia hanya mempersiapkan mentalnya secara matang sebelum mengajak gadis manis itu pergi ke taman akhir pekan nanti. Yang dijawab Amano dengan anggukan bingung tapi malu-malu.
Dan di sinilah mereka. Di sebuah taman yang sering didatangi Akashi bersama pemain starter tim inti klub basket Rakuzan lainnya untuk sekedar bermain mengusir kepenatan. Atau hanya untuk beradu taktik di bawah ring.
"Padahal aku sering menghabiskan waktu bersama ayah dan ibu di taman seperti ini. Tapi, aku belum pernah mengetahui bahwa ada satu taman yang dipenuhi dengan bunga daisy sebanyak ini. Terima kasih sudah mengajakku kemari, Akashi-san."
Akashi tersenyum saat melihat sepasang manik emerald itu berbinar takjub menatap hamparan bunga daisy yang sedang mekar di taman itu. Lihat, tebakannya tentang bunga favorit sang gadis terbukti tepat!
"Ya, sama-sama." Jawaban pendek itu membuat Amano mengalihkan atensinya pada Akashi.
"Mungkin hanya perasaanku, tapi sepertinya ada yang sedang kaupikirkan Akashi-san. Boleh kutahu ada apa?"
Seringai tipis menjelma. Akashi hanya menggelengkan kepala kalem. "Tidak apa-apa."
Amano tercenung. "Oh …," bergumam lirih, lalu terdiam.
Amano risih, tapi tak tahu harus bagaimana mengatasi keheningan di antara mereka. Biasanya, ia memang yang lebih banyak diam, hanya menjawab seadanya jika ditanya. Namun kali ini entah kenapa kesunyian ini membuatnya gelisah.
1st tactical succesed. Next.
"Nee, Akashi-san? Aku sama sekali tak mengerti."
"Hm?"
"Kau benar-benar … ng, bagaimana mengatakannya? Setahuku, Akashi-san memang sosok yang tenang penuh perhitungan, tapi Akashi-san yang ada di hadapanku sekarang ini lebih pendiam daripada biasanya. Kau yakin kau tidak ada masalah atau apa?"
Akashi menaikan sebelah alisnya, ini menyenangkan. Seringai nakal ditebar.
"Aku tidak tahu kalau Amano-san begitu memerhatikanku sampai sebegitunya."
Blush! 2nd tactical accomplished.
"A-aku tidak– errr, me-memangnya salah? Maafkan aku kalau itu ternyata mengganggumu, Akashi-san."
"Koreksi, Akashi saja. Atau kaupanggil dengan nama depanku pun aku tak keberatan. Suffiks -san kedengaran terlalu formal dan membuatku seperti sudah berumur saja."
"Eh?!"
"Panggil aku Seijuurou. Karena mulai hari ini, Yuzuki–,"
"Apa yang kaumaksudkan –,"
"– kau harus mau menjadi kekasihku, dan aku tidak menerima kata 'tidak'."
Manik hijau itu membelalak sempurna. "Haaah?!" Lalu mengerjap pelan.
Sekali …
Dua kali …
Tiga kali …
Semburat merah itu pun timbul. Bersemu dari pipi hingga ke cuping telinga. Lupakan hari itu yang cukup panas, karena tempat mereka duduk sekarang terlindung, sehingga kemungkinan wajah Amano memerah karena terkena sinar matahari bisa disingkirkan. Jadi, sudah jelas bukan? Ia merona karena tersipu malu.
Amano tertunduk, seketika tak berani menatap Akashi. Perintah bernada pernyataan atau pernyataan bernada perintah yang baru saja didengarnya itu membuatnya masuk dalam dilema. Itu tadi apa? Yang benar yang mana? Perintah? Atau pernyataan? Namun mengapa hatinya justru menyukainya?
"Kupikir aku tahu jawabanmu tanpa harus kausuarakan, Yuzuki." Jemari Akashi meraih telapak tangan Amano. Lalu dikecupnya punggung tangan itu dengan penuh perasaan. "Kau menyukaiku dan setuju menjadi kekasihku."
Wajah Amano merah padam. Sebelah tangannya menutupi rona merah yang disukai Akashi. "Dasar Akashi-kun. Selalu semaumu sendiri."
Akashi terkekeh geli. "Langkahku telah diperhitungkan dengan tepat. Selalu. Dan aku tidak pernah salah dalam mengambil keputusan. Jadi?"
Amano memalingkan wajahnya. "Haruskah kujawab, Akashi-kun? Sementara kau sendiri telah berlaku curang karena kau sudah tahu apa jawabanku."
Sebelah tangan Akashi meraih dagu Amano dan membuatnya menatap lurus kepadanya. Emerald tertumbuk pada Ruby. "Sekali pun aku sudah tahu, tak ada salahnya untuk mendengarnya secara langsung."
Emerald mencari cara supaya tak terperangkap dalam pesona ruby yang memangnet. Namun sayang ruby selalu punya jalan untuk menawan sang emerald dengan hipnotisnya. Mengumpulkan keberanian, sang emerald pun tertutup sejenak.
"Absolutely, yes."
Kaisar mengklaim cinta dari permaisuri hatinya. Mission completed.
.
.
.
End
A/N:
Hai, minna-san! Chrisanne Sakura datang lagi. Kali ini membawa kado spesial buat Akashi-sama yang berulang tahun tanggal 20 Desember kemarin. Semestinya ini selesai tadi malam, tapi berhubung di tempatku sedang pemadaman listrik (tapi berntung listriknya cepat menyala, biasanya kalau sudah mati bisa lama nyalanya, hiks) jadi baru bisa diselesaikan hari ini. Gomen ne, Akashi-sama. Otanjoubi omedetou! Wish you all the best. #lovelove
Maaf bila Akashi sedikit OOC di sini. Dan Amano Yuzuki adalah OC milikku, hehe. Sifatnya sedikit mirip sama Kouki. Aku baru sadar setelah membaca ulang draft yang kubuat untuk OC-ku ini. #sweatdrop #plak
Akhir kata, terima kasih karena teman-teman sudah mau meluangkan waktu untuk membaca fic ini. Terima kasih juga untuk teman-teman yang sudah me-review, mem-follow bahkan mem-fave fic ini. Semoga kalian menyukai chapter berikutnya ini. Sampai jumpa di fic lainnya. \(^_^)/ Aku masih belajar, sehingga kesalahan mungkin masih ada meski aku berusaha meminimalisirnya. Karena itu mohon bantuan kritik dan sarannya untuk memperbaiki setiap kesalahan yang ada. Nah, minna-san, doumo arigatou gozaimasu, jaa ne! (^_^)/
Love and Peace,
Chrisanne Sakura
