WHY ITS HARD TO LOVE YOU
Tittle : Am I Looser ...
Author : Rainy Heart
Length : Series
Rated : T to M
Cast :
- Heo Young Saeng a.k.a Saengi
- Kim Hyun Joong a.k.a Joongie
- Kim Hyung Jun a.k.a Baby (Maknae)
- Kim Kyu Jong a.k.a Kyu
- Park Jung Min a.k.a Min
Pairing : HYUNSAENG (Kim Hyun Joong x Young Saeng )
Genre : Romance / Drama
Warning : Yaoi (Boyslove), plot pasaran, ga pake EYD yang benar, and bagi yang ga suka jangan baca dah.
Summarry : Apakah aku harus egois dan menyakitinya, cinta tak seharusnya menyakiti... tapi aku juga tak ingin merasakan sakit itu.
Annyeong Readerdeul... new author mau lanjutin fic nih, mohon bantuan and reviewnya . Kritik sangat diharapkan.
Bagi yang udah mw review.. . makasih banyak ya #bungkukin badan 90 drajat#
Jeongmall Gomawoyo
Happy Reading
Preview Chap 1
Tok... Tok... Tok...
"Hyung..." Panggil Baby.
"Hyung ... buka pintunya hyung... aku ingin menceritakan sesuatu padamu... aku sangat senang hari ini hyung..."
Joongie hanya bisa terisak lirih.
Chapter 2
"Ne Baby-ah, aku akan mandi dulu.. tunggulah aku sebentar di ruang makan", kata Joongie sebiasa mungkin, mencoba menyembunyikan suara beratnya karena menangis.
"Ne hyung... cepatlah... aku sudah tak sabar ingin menceritakannya padamu."
Baby lalu beranjak meninggalkan kamar Joongie.
Tak mau membuat dongsaeng kesayangannya itu mengunggu lama, ia membersihkan pecahan kaca di kamarnya lalu membersihkan diri, dan membalut tangganya yang masih mengeluarkan darah.
"Apa yang jarus kulakukan jika begini ..." gumamnya lirih.
#Diruang Makan#
" Kajja hyung, duduklah. Aku sudah membelikanmu menu terlezat dari restoran didepan rumah. Aku ingin merayakan sesuatu." Kata Baby bersemangat, lalu mencoba meraih tangan hyungnya itu. Mengajaknya duduk.
"Wae hyung, kenapa dengan tanganmu...? Bagaimana bisa kau terluka begini... ?"
"Aku tak apa-apa Baby-ah... hanya tadi tak sengaja bertemu dengan preman saat aku pergi ke toko buku, jadi aku berkelahi dengan mereka" Elak Joongie.
"Tapi mengapa lukanya aneh begini hyung, seperti kau menghantam sesuatu. Kaca mungkin ...?"
Baby mulai curiga, merasa aneh, mengingat kejadian tadi saat di rumah Saengi. Namun segera ditepisnya pikiran itu. Ia tak mungkin tak percaya pada hyungnya. Lagi pula untuk apa hyungnya menyakiti dirinya sendiri. Seperti bukan hyungnya saja.
"Tapi kau benar tidak apa-apa kan hyung. Apa mereka melukaimu di bagian tubuhmu yang lain...?"
"Mereka hanya mau meminta uangku saja, tapi tidak kuberikan, jadi aku berkelahi dengan mereka ... jadinya malah begini."
Seraya mengusap lembut kepala dongsaengnya, " Tenanglah Baby-ah aku tak apa-apa."
Baby tersenyum manis. Ia lega sekarang, mungkin saja dugaannya memang salah. Tak mau berlama-lama ia lalu menyuruh hyungnya untuk duduk dan makan.
"Makanlah hyung. Aku sedang senang hari ini. Ini sebagai perayaan kecil-kecilan. Kau tau hyung, aku sudah menyatakan perasaanku pada Saengi hyung. Aku senang sekali"
Baby terus bercerita tentang Saengi, tanpa memperhatikan air muka hyungnya yang sudah seperti orang mati saja. Datar ... dan pucat.
"Aku sangat menyukainya hyung... sangat mencintainya. Aku tak pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya."
Joongie hanya bisa menunduk seraya memakan makanannya tak berselera.
"Dan kau tau hyung, tadi aku menciumnya ya..."
Belum sempat Baby melanjutkan perkataanynya, dipotong oleh Joongie yang entah bagaimana ia bisa tersedak.
"Uhhuk... uhhuk..."
"Pelan saja makannya hyung, tak usah terburu-buru begitu, aku juga takkan bisa menghabiskan semuanya sendiri" Baby menggoda hyungnya itu
"Minumlah hyung." .Kata baby seraya mengulurkan segelas air putih.
Sepanjang acara makan malam itu Baby terus saja membicarakan Saengi. Ia terlihat sangat bahagia.
Sedangkan Joongie, hanya bisa menahan sakit yang sangat mendera di dadanya.
'Oh Tuhan... aku menyayanginya... tapi dongsaengku... aku harus bagaimana."
#Di rumah Saengi#
Author POV
'Bagaimana ini, Baby mencintaiku. Seharusnya tak begini jadinya. Seharusnya aku tak memperhatikan Baby berlebih, mengapa jadi Saengi. Kau benar-benar Bodoh' , gumam Saengi seraya mengaduk ramennya yang sudah dingin dan tak berbentuk itu.
Ia lalu melepas cincin yang diberikan oleh Baby, terdapat tulisan love saengi disana.
"Cincin yang indah memang."
Lama memandangi cincin itu. Ia sangat bingung harus bersikap bagaimana pada baby. Ia lalu teringat kejadian aneh saat ia bersama Baby.
"Mengapa tadi terdengar seperti kaca pecah dari kamar Joongie, oh Tuhan... Jangan-jangan ia mendengar semuanya."
Saengi yakin, itu pasti Joongie. Tak mungkin suara itu berasal dari rumahnya, atau pinggir jalan... lebih tak mungkin lagi.
"Joongie... seandainya aku bisa lebih jujur padamu..."
Dan untuk pertama kalinya, ia menyesal telah menjadi orang yang terlalu pendiam. Lelah ia berfikir, akhirnya ia tertidur beralaskan lengannya sendiri. Di meja makan. Masih mengenggam cincin. Lemah dan pasrah. Terlihat titik - titik air mata di sudut mata indahnya. Ia menangis... meski dalam tidurnya.
Skip Time
1 Minggu Kemudian
"Saengi Hyung... Saranghae..." , kata Baby seraya tersenyum.
Baby dengan semangat 45-nya #pejuangkali-plissdehh# merengkuh lengan Saengi, berjalan beriringan.
"Ne..." Saengi hanya tersenyum datar, yang sangat dipaksakan. Ia terlalu lelah untuk memikirkan jawaban yang lain.
Sejak kejadian itu, Joongie menjauh dari Saengi. Tak lagi mau duduk sebangku, apa lagi hanya sekedar basa basi mengajak ke kantin. Semakin menjauh, Saengi juga kini duduk dengan Kyu. Sepertinya keadaan semakin menyedihkan untuknya.
Saengi hanya bisa terus menekan hatinya. Tak bisa berbuat banyak.
#Flashback On#
"Kyu ... bisakah kau menolongku..."Pinta Joongie pagi itu.
Ya hari ini ... hari setelah Baby menyatakan perasaannya pada Saengi.
"Ne..."
"Kau duduklah disini..., kita bertukar tempat."
Joongie lalu pindah ke bangku Kyu.
Tanpa banyak bertanya, Kyu langsung pindah ke tempat Joongie. Ia tak mau mempertanyakan alasannya. Karena pasti berhubungan dengan Saengi.
"Annyeong Saengi-ah..." Sapa Kyu lirih.
"Ne... Kyu" Saengi mengangguk, mencoba ramah. Lalu menunduk lagi, malas memperhatikan pelajaran sejarah dari Lee Songsaenim. Sibuk dengan pikirannya sendiri.
Samar-samar Saengi bisa mendengar percakapan Joongie dan Min di bangku belakang.
"Min-ah... bisakah kau mulai besok menjemput dan mengantarku pulang..?" Pinta Joongie dengan wajah yang dibuat se-memelas mungkin.
"Hei... kau bercanda...?" Min menatap tajam pada Joongie. "Memang kau pikir aku supirmu hah... Bayangkan saja Joongie-ah. Rumahku saja berlawanan dengan rumahmu. Aku kemana kamu kemana, tega sekali kau memintaku menjemputmu. "
"Tapi Min-ah... tolonglah " Joongie memasang wajah yang lebih memelas dari tadi.
"Aish... kau itu... " Min mencoba mengalihkan pandangannya dari wajah memelas Joongie.
"Min-ah... apa kau tak sayang padaku... ?" Joongie memaksa membalikkan tubuh Min yang sudah membelakanginya itu. "Kau tega sekali padaku..."
"Ya... baiklah... baiklah... kau itu seperti anak kecil saja. Mengapa selalu manja begitu. Sudah besar tapi masih bersikap seperti itu. Pantas saja, Junnie masih seperti Baby... mungkin ia salah memilih hyung yang sepertimu."
Tapi Joongie tak mau mendengar ocehan Min yang panjang lebar itu, ia malah memeluk sahabatnya dengan erat.
"Jeongmall Gomawoyo Min-ah... kau memang yang terbaik, besok akan kubelikan sekarung wortel untukmu, " Kata Joongie yang menghasilkan sebuah jitakkan di kepalanya.
Pletakkk
Joongie meringis kesakitan, sambil mengusap-usap dahinya yang tadi di jitak oleh Min.
"Aishh... kalau tak suka dengan wortelnya... jangan sembarangan menjitakku begitu. Bisa – bisa ketampananku berkurang."
"Ha... ha... haa... Percaya Diri sekali kau hah... tampan dilihat dari mana...?"
Mereka berdua terus saja bercanda tak menghiraukan keadaan sekitar. Tak menghiraukan Saengi. Apa lagi menghiraukan Lee Songsaenim yang masih sibuk membacakan dongeng sejarah yang sama sekali tak menarik.
Kyu hanya bisa terheran dengan mereka. Tingkahnya seperti anak kecil saja.
"Hei... ! Diamlah kalian... lihat Lee Songsaenim sedang menatap kalian berdua."
Kata-kata dari Kyu sukses menghentikan tawa mereka berdua yang sedari tadi tak berhenti-berhenti. Tapi dapat dilihat... tawa dan senyum Joongie seperti dipaksakan.
"Kalian kalau tidak mau memperhatikan sebaiknya pergi saja dari kelas saya." Ucap Lee Songsaenim datar seraya membenarkan kacamata tebalnya.
"Mianhe Songsaenim."
Joongie dan Min meminta maaf seraya menunduk. Lalu tersenyum jahil.
"Baiklah kita lanjutkan pelajaran kita..."
#Flashback End#
Baby POV
Pagi ini aku berangkat sekolah sendiri. Sejak berapa hari yang lalu hyungku lebih memilih menunggu jemputan dari Min Hyung. Tak biasanya. Sejak kapan juga Min hyung rumahnya jadi searah dengan rumah kami. Aku tak ingin berfikir yang bukan-bukan, tapi mengapa aku merasa Joongie hyung selalu menghindariku.
Seperti biasa, aku menghampiri Saengi hyung untuk berangkat kesekolah. Setelah aku mengatakan perasaanku padanya entah mengapa sepertinya Saengi hyung agak berubah padaku. Lebih pendiam dan menutup didri. Jarang tersenyum padaku. Tapi aku tak mau melemahkan hatiku sendiri. Aku mencintainya, dan akan kubuat ia mencintaiku.
"Saengi Hyung... Saranghae..." , kataku seraya tersenyum.
Aku mencoba merengkuh lengan Saengi Hyung. Ia tak menolakku, seperti biasa.
"Ne..." Saengi hyung hanya tersenyum datar, yang sangat dipaksakan. Sama sekali tidak imut, atau manis sekalipun. Aku sedikit merasa bersalah.
'Ayolah hyung... tak bisakah kau lihat hatiku...' Batinku.
Skip Time
Sepulang Sekolah
#Lapangan Belakang Sekolah#
Seorang namja cantik sedang duduk melamun di bawah pohon. Sibuk dengan dunianya sendiri. Sesekali menghela nafas beratnya. Sesekal i terlihat seperti menahan tangisannya.
Saengi POV
'Omona... dia menciumku'
Aku sangat senang, seperti ada butterfly yang berenang diperutku.
'I love you... i'm sorry..."
Tapi kata-kata itu sukses menghancurkan moodku. Kata – kata itu terus terngiang di kepalaku, membuat emosiku memuncak.
Tak ada yang tahu, bagaimana sakitnya hatiku saat ini. Bagaimana tidak, kini aku tak lagi bisa mencium wangi maskulin dari tubuhnya yang biasanya selalu menghangatkan hatiku. Wangi itu telah pergi.
' Paboya Joongie', Aku mengumpatnya dalam hatiku.
Aku tak lagi bisa merasakan hangat nafasnya di telingaku dan leherku... saat ia berbicara dengan Min dan Kyu di belakang bangku kami. Meski ia tak sengaja menghela nafasnya di leherku, tapi aku merasa hangatnya desiran darah di seluruh tubuhku. Jantungku berdetak lebih kencang.
"Sungguh aku ingin menangis."
Aku terdiam. Menghela nafas beratku. Rasanya dadaku sesak sekali. Mataku juga seakan ingin meluapkan kemarahannya dan menangis. Merah. Dan berkaca-kaca. Sungguh aku ingin menangis.
"Ia terasa semakin jauh. Baru saja aku akan memulai merubah sikapku padanya. Tapi apa... dia menjauhiku. Paboya Joongie..."
"Apa salahku kalau Baby suka padaku, apa salahku jika aku mencintaimu. Aku yakin kau mengerti perasaanku, tapi mengapa tak sedikitpun kau pernah mencoba untuk lebih keras berusaha membujukku, melunakkan hatiku, hingga aku dapat melepaskan bebanku. Mengapa kau malah meninggalkanku"
"Aku tadinya berpikir mencintaimu adalah suatu kesalahan. Karena kau adalah namja tampan yang digilai yeoja seluruh sekolah, pintar dan populer. Rasanya aku ingin berhenti mencintaimu. "
Aku mengusap air mataku yang entah dari mana datangnya. Sungguh aku kesal dengan kebodohan Joongie.
"Aku tau kau mencintaiku Joongie-ah. Balutan perban pada tanganmu. Darah yang samar terlihat."
Aku meremas dadaku yang makin sesak.
"Aku tak bodoh Joongie-ah. Aku yakin itu adalah luka yang kau buat sendiri dengan memecahkan kaca dikamarmu. Jika kau marah... mengapa kau tak mencegah Baby. Aku hanya ingin kau menunjukkannya padaku. Apa begitu susah... Joongie-ah. Dan raut wajahmu yang berbeda. Aku bisa meyakinkan diriku bahwa kau memang cemburu pada dongsaengmu sendiri."
Aku hanya bisa tersenyum pahit.
"Ditambah lagi dengan membiarkan Baby berangkat denganku sendiri. Apa kau mau membunuhku perlahan dengan rasa bersalahku. Dan kau dengan bodohnya, lebih memilih berangkat dengan Jung Min yang sangat pemarah seperti monster itu. Jujur aku membenci jika kau harus dekat-dekat dengan Jung Min. Kau dan dia seperti lem saja sekarang, tak terpisahkan. Aku sungguh tak bisa melihatnya. Hatiku sakit."
Sungguh tak bisa kutahan tangisku
Hiksss... hiks...
" Tapi apa kau tahu Joongieah ...!"
Hiks... hiks... aku meremas dadaku. Rasanya sakit sekali.
"Apa kau tahu Joongie-ah...!"
Aku berteriak keras. Mencoba melampiaskan amarahku.
" Joongie-ah... Apa kau mengerti... lihatlah aku Joongie-ah..."
Bukk... bukk... bukk...
Aku melampiaskan kekesalanku. Memukuli pohon besar yang tak berdaya dibelakangku.
Buuk... bukk... bukk...
Aku terus memukul pohon bodoh yang kini mencadi sandaran tubuhku. Tak terasa beberapa pukulan sudah bisa menghasilkan darah yang keluar dari jari-jariku.
"Joongie-ah... mengapa kau seperti ini...!"
Buuukkkkkkk...!
Aku memukul keras pohon itu sekali lagi, kakiku tak sanggup lagi menahan tubuhku. Aku bersimpuh pada lututku. Tanganku menahan badanku bersandar pada pohon yang sudah penuh dengan bercak darahku. Aku menunduk. Menangis. Dan darah masih terus mengalir dari jariku.
"Aku membencimu... ! Mengapa kau begitu bodoh... ! Paboya Joongie-ah ... Paboya Joongie-ah..."
Aku hanya bisa mengumpat kebodohannya lirih. Aku sudah lemas sekali. Aku sudah tak bisa mengeluarkan suaraku lagi. Rasanya dadaku ... nafasku begitu sesak.
"Sungguh menyedihkan" Batinku.
"Rasanya aku tak ingin hidup lagi"
Saengi POV End
Saengi berdiam di sana beberapa saat. Ketika langit sudah mendung, ia memutuskan untuk pulang. Ia terus melangkahkan kaki dengan lemahnya. Tak terasa langitpun menitikkan air matanya.
Gerimis.
Dingin air itu mengguyur tubuh lemah Saengi. Tapi ia tak sedikitpun merasa kedinginan. Lama berjalan akhirnya ia sampai di rumahnya. Melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Baju basah dan wajah pucat. Ia kedinginan.
Bruukkk...!
Saengi terjatuh di depan pintu kamarnya, ia meringis kesakitan. Ia ingin berdiri dan mencoba meraih kenop pintu kamarnya. Tapi badannya seakan menolak diajak untuk kompromi. Pandangannya gelap.
Ia jatuh pingsan
#Keesokan harinya#
"Hyung... aku pergi dulu... ! Pasti Saengi hyung sudah menungguku."
Baby lalu beranjak meninggalkan rumah mereka setelah menyiapkan sarapan untuk hyungnya. Roti isi dengan tomat dan telur serta keju.
"Aku sudah menyiapkan sarapanmu, makanlah hyung ... !"
Baby berjalan dengan senyumnya pagi ini. Menghampiri Saengi untuk berangkat sekolah. Baby sudah terbiasa dengan keadaannya dan Hyungnya itu. Ia hanya membangunkan Hyungnya dan memastikan hyungnya itu siap untuk berangkat kesekolah. Bersikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa. Meski sejujurnya, hatinya merasa ada yang aneh.
"Saengi Hyung... !" Baby berteriak seperti biasanya di depan rumah Saengi.
Karena Saengi tak kunjung keluar rumah, ia lalu memberanikan diri masuk ke halaman rumah Saengi.
'Mengapa pintunya terbuka' Gumam Baby.
Ia lalu mengedarkan pandangan keseluruh rumah. Mencari Saengi.
"Hyung... !"
Baby kaget karena melihat Saengi yang tergeletak didepan kamarnya yang tak jauh dari dapur itu, langsung berlari mendekati Saengi.
"Apa yang terjadi padamu hyung..." Mata baby sudah berkaca-kaca.
Sedikit mengangkat tubuh Saengi, ia lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Saengi.
"Kau demam Hyung". Baby mencoba membalikkan tubuh Saengi #Ceritanya Saengi tengkurep pingsannya#
"Astaga Hyung... Bajumu basah."
Baby lalu terdiam. Ia melihat jari tangan saengi telah penuh dengan bercak merah. Bekas darah.
"Kau kenapa Hyung..."
Tak mau berpikir terlalu lama Baby lalu memindahkan Saengi keatas sofa.
Tuuut... Tuuut... tuuuuuttt... #ceritanya bunyi telp lagi nunggu#
" Wae Baby-ah..."
"Hyung... datanglah kerumah Saengi sekarang." Baby langsung mematikan telponnya.
Baby hanya bisa terisak lirih melihat Saengi. Menyibakkan poni yang menutupi mata indah saengi.
"Apa yang terjadi padamu Hyung..."
"Wae Baby-ah... mengapa kau..." Joongie tak bisa melanjutkan acara ngomel-ngomelnya pada dongsaengnya itu. Ia sangat terkejut melihat keadaan Saengi.
"Apa yang terjadi dengan Saengi, Baby-ah..."
Baby hanya terdiam. Menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia lalu menangis.
Joongie lalu berjalan mendekati saengi.
"Astaga Baby-ah. Dia demam. Ayo cepat bantu aku. Keluarkan mobil #ceritanya mereka punya mobil gitu# dari rumah. Kita harus membawa saengi ke rumah sakit."
Tak mau membuang waktu, Baby lalu pergi pulang ke rumah mengambil mobil.
"Joongie-ah..."
Saengi memanggil joongie lirih. Ia lalu menggenggam kuat tangan Joongie.
"Kumohon... jangan sakiti aku lagi..."
Ia lalu benar-benar pingsan sekarang.
Joongie hanya bisa terisak, sembari memeluk Saengi erat.
"Mianhe... Saengi-ah... Saranghae..."
TBC
Wuah... akhirnya chap 2 lze... hadeh... malah jadi sad gini, thanks yang udah review...
Gomawo buat chiechan137, AND Kangkyumi yang dah mw review
Tapi tetep ni author juga butuh kritik and saran lagi so...
Review please...
