Disclaimer: Naruto bukan punyaku

Warning: OC, OOC, typos, dll. rate M for safe.

Enjoy :)


Chapter 2

.

.

.

.

.

Dia berbeda dengan yang lain.

Mata merahnya mendelik tajam, menatap wanita berambut pirang yang balas mendelik ke arahnya. "Nama," Sasuke membuka mulutnya, matanya masih terpaku pada wanita itu. Mata biru itu menajam, senyuman mengejek muncul di bibirnya.

"Sayang sekali, aku tidak akan memberikan namaku pada orang yang tidak mau mengenalkan dirinya, Sasuke."

Sasuke terpaku, berkedip. Dia menoleh ketika mendengar tawa pelan Itachi. Lelaki berambur raven itu langsung mendelik ke arah kakaknya. "Tumbal kali ini sangat menarik," Itachi kembali bergumam. Dia berdehem sesaat, menatap wanita itu. "Sayang sekali, kau tidak banyak pilihan. Kau harus memberitahu namamu pada kami sebelum kami mengorek isi kepalamu."

Wanita itu terdiam sesaat, masih menelitinya dan Itachi. "Naruko," dia berujar pelan. "Naruko Uchiha."

"Itachi Uchiha," Itachi tersenyum lebar, mengabaikan tatapan Naruko yang terbelalak. "Dan ini adikku. Sasuke Uchiha, majikanmu."

Naruko tidak bereaksi mendengar kata 'majikan' itu, hanya menatap Sasuke dengan tatapan kosong. Sasuke tidak bisa menahan rasa penasarannya ketika melihat wanita ini. Baru kali ini dia melihat tumbal yang tidak menjerit ketakutan atau menangis melihat mereka berdua. Mau bagaimana pun, mata mereka berdua tidak seperti mata manusia biasa. Ada mayat hancur di depan matanya, dan dia baru saja jatuh dari jurang.

Tapi Naruko hanya terdiam.

"Ayo pergi," Itachi melangkah dan di detik berikutnya dia sudah berada di atas pepohonan. "Kita sudah menghabiskan waktu terlalu lama di sini."

Naruko berkedip, menatap Itachi yang lenyap dari hadapannya. Tanpa bicara apa-apa, Sasuke mengulurkan tangannya. Naruko hanya bisa menatap tangan yang terulur itu dengan tatapan kosong. "Kau tidak akan bisa mencapai tempat kediaman kami dengan kedua kakimu itu," Sasuke berujar tajam.

"Apakah kau akan membawaku ke dunia lain?" Naruko menyeringai, menerima tangan Sasuke. "Ayo."

"Kau tidak takut," Sasuke kembali terdengar takjub. Dia terdiam sesaat ketika merasakan tangan Naruko yang dingin, jauh lebih dingin dari tangannya. "Kau panik."

"Aku tidak takut karena aku tahu kalau kalian tidak akan memakanku begitu saja," Naruko berujar santai. Mata birunya terpaku pada tangan pucat Sasuke. "Aku panik karena…"

"Karena?"

"Ini untuk pertama kalinya seseorang menggandengku. Aku tidak tahu aku harus bagaimana."

Sasuke berkedip. Dia mengira kalau Naruko hanya menyindirnya, namun untuk pertama kalinya, mata biru itu terlihat serius. Tanpa bicara apa-apa, Sasuke menarik Naruko, melingkarkan lengannya di sekitar pinggang ramping Naruko. "Kau hanya tumbal," dia berujar pada Naruko. "Kalau kau tidak bisa… behave, kau akan tewas lebih cepat dari yang kau bayangkan."

Sebelum Naruko sempat menjawab, Sasuke mulai melangkah. Dan di detik itu juga, mereka melesat, melompati pepohonan. Dia melirik sesaat, terpaku ketika melihat mata biru itu sama sekali tidak tertutup, melainkan terbuka lebar.

Wanita apa ini?

xxx

"Kukira kau akan membawaku ke dunia lain?" Naruko terdengar kecewa ketika kakinya menginjak bangunan megah itu. Bangunan ini terlihat seperti istana di dongeng, hanya saja terletak di bawah tanah. Sejak tadi tangannya tetap digandeng oleh Sasuke Uchiha. Lelaki yang terlihat seusianya ini menuntunnya sehingga dia sampai ke ruangan kecil. Dia tidak tahu Itachi ada di mana. Yang pasti, Sasuke sejak tadi membawanya.

Naruko terpaku ketika melihat kamar tanpa jendela itu. Tidak ada lampu di ruangan itu, hanya lilin yang redup di ujung meja kayu. Kamar ini besar, berbeda dengan kamarnya di kediaman Uchiha. Di kamar ini tidak ada perlengkapan yang banyak, hanya kasur lebar di pojok ruangan. Di kediaman Uchiha sana, dia tidur di futon yang sangat tipis.

"Udara akan masuk ke ruangan ini," Sasuke menunjuk ke salah satu lubang yang terlihat seperti ventilasi. "Kau tidak akan bisa melihat matahari lagi."

"Sebelum kalian mengunciku," Naruko berujar cepat ketika melihat Sasuke yang berjalan pergi. "Boleh aku bertanya sesuatu?" Naruko bertemu mata dengan mata merah Sasuke. "Apa kalian?"

"Menurutmu?" Sasuke tersenyum mengejek, membuat Naruko entah kenapa ingin menampar cowok itu.

"Vampir? Kalian tinggal di bawah tanah. Berarti kalian tidak bisa melihat matahari."

"Kami bukan vampir," Sasuke menjawab singkat. "Kami bukan manusia. Itu saja yang perlu kau ketahui."

"Dan apa aku? Tumbal? Makanan untuk kalian?"

"Bukan urusanmu," Sasuke memutar tubuhnya, membuat Naruko kembali ingin menghantam lelaki itu.

"Tentu saja urusanku," Naruko menggeram. "Aku yakin aku bukan makanan biasa. Kalian bisa menculik banyak wanita pirang dari luar sana, tapi kalian memilihku."

Sasuke tidak menjawab. Dia terdiam sesaat dan mulai membuka mulutnya. "Kalau kau membutuhkan sesuatu, bilang pada pelayanmu besok."

Naruko menyipitkan matanya, menatap Sasuke yang berjalan pergi. Dia mengira kalau Sasuke akan menutup dan mengunci pintu kamar ini, namun kamar itu dibiarkan terbuka entah kenapa.

Naruko beranjak, terpaku menatap pintu yang tidak ada kenop itu. Kenapa tidak ada kenop di pintu ini. Dia menutup pintu itu dan di detik itu juga, pintu ini kembali terbuka, meninggalkan celah kecil antara pintu dan dinding. Naruko hanya bisa menaikkan sebelah alis. Dia tahanan, tapi pintunya tidak dikunci?

Dia bisa kabur.

Naruko terdiam lagi. Tidak. Kabur di mana? Dia tidak ada tempat untuk kembali. Dia yakin kalau keluarga Uchiha itu kan melemparnya ke jurang lagi kalau dia kembali pada mereka. Selain itu, tadi ketika dia masuk ke istana bawah tanah ini, dia hanya bisa masuk melalui satu gerbang dan gerbang itu dikunci oleh Itachi.

Naruko tidak bodoh, dia tahu kalau dua lelaki itu bukan manusia dan meski Itachi tersenyum, dia terlihat lebih menyeramkan dari Sasuke.

Wanita 20 tahun itu menghela napas, menghempaskan tubuhnya di kasur. Dia terpana sesaat ketika merasakaan kasur yang empuk itu. Perlahan-lahan dia beranjak, memeluk selimut yang hangat.

Dia tidak pernah memiliki selimut sehangat dan selembut ini sebelumnya.

Naruko berbaring lagi, menatap atap-atap yang gelap itu. Banyak pertanyaan di kepalanya.

Apa Sasuke dan Itachi?

Kenapa marga mereka Uchiha juga?

Selain itu… ada yang aneh dengan perkataan Itachi. Ayo pergi. Kita sudah menghabiskan waktu terlalu lama di sini.

Kenapa tidak boleh terlalu lama di hutan? Tidak ada siapa-siapa di sana. Dan kenapa rumah ini ada di bawah tanah?

Naruko memejamkan matanya, mendengus. Semua pertanyaan itu tidak akan ada habisnya. Tanpa ada jawaban, satu pertanyaan hanya akan membawa pertanyaan baru. Dia hanya tahu satu hal. Dia tidak akan mati begitu saja. Naruko menghela napas, memeluk bantal empuk dan selimut hangat itu.

Di detik berikutnya, dia sudah tertidur lelap.

xxx

"Selamat pagi, ojou-sama."

Naruko membuka matanya, terpaku mendengar suara itu. Kamarnya gelap gulita. Dia mengusap matanya, mengerutkan kening. Dari mana asal suara itu? Pagi? Sudah pagi? Karena dia tidak bisa melihat matahari, dia tidak tahu kalau hari sudah pagi.

"Apa yang anda inginkan sebagai sarapan?"

Kening Naruko semakin berkerut. Dia bisa mendengar suara, tapi dia tidak tahu dari mana asal suara itu. Dia tidak bisa melihat siapa pun. Naruko beranjak, meraih lilin kecil di ujung meja. Dia menyalakan lilin itu, langsung mematung ketika menatap seekor monyet di dekat kakinya.

"Mau sarapan apa ojou-sama?" Monyet itu menelengkan kepalanya, menatap Naruko.

Naruko menahan diri untuk tidak ternganga. Dia tidak salah lihat bukan? Monyet? Monyet berbicara di dalam kepalanya? Dia menoleh, menatap keranjang trolley mungil di sebelah sang monyet. Di dalam keranjang itu, dia melihat berbagai jenis buah-buahan dan air minum. "Aku mau minum," Naruko menjawab pelan, menguji monyet tersebut.

"Baiklah," suara itu kembali muncul di balik kepala Naruko. Wanita tersebut hanya bisa terpaku ketika menatap sang monyet meraih gelas dan menuangkan air di dalam gelas itu. Sang monyet menyodorkan air itu untuk Naruko.

"Terima kasih…" Naruko berbisik pelan, menunduk dan meraih gelas itu dari tangan si monyet. Monyet itu terkikik girang, menyodorkan buah pisang untuk Naruko.

"Ojou-sama tidak menjerit melihatku."

"Tidak," Naruko tersenyum. "Untuk apa. Kau baik, memberiku makanan."

Sang monyet kembali terkikik girang. Dia melompat dan duduk di meja sehingga dia sejajar dengan Naruko. "Namaku Konohamaru. Aku pelayan di kediaman Uchiha ini."

"Namaku Naruko. Panggil aku Naruko saja," wanita itu langsung melahap pisang di tangannya. "Konohamaru, boleh aku tanya sesatu?"

"Silahkan. Aku memang di sini untuk menjawab semua pertanyaanmu."

Naruko bergumam pelan, memikirkan pertanyaan apa yang harus dia tanyakan duluan. Sangat banyak pertanyaan yang bertebaran di kepalanya. "Di mana aku?"

"Di kediaman klan Uchiha."

"Tapi di atas tebing itu juga ada kediaman klan Uchiha juga," Naruko berujar. "Dan aku tinggal di sana selama 15 tahun."

"Itu Uchiha palsu," Konohamaru berkikik marah. "Uchiha di sini Uchiha yang asli."

"Begitu?" Naruko mengangkat sebelah alisnya. "Bisa ceritakan padaku kenapa Uchiha di atas sana bisa palsu?"

"Dulu sekali… seratus tahun yang lalu… klan Uchiha sudah lama menguasai Jepang, tapi tidak semua anggota keluarga di klan Uchiha ini baik."

"Oke. Aku tahu itu," Naruko merasa dirinya sebagai orang idiot karena memang raut wajah serius dan berbicara dengan monyet. Tapi apa boleh buat. Sudah keajaiban dia masih bisa duduk santai dan tidak menjerit seperti ini. "Lalu?"

"Dan pada waktu itu, seorang nenek tua meminta ijin untuk menginap di istana ini, tapi salah satu anggota keluarga Uchiha menolak, mengusir nenek itu. Dan sang nenek mengutuk keluarga Uchiha dan para pelayannya. Mereka semua menjadi makhluk buruk rupa."

Naruko terpaku sesaat. "Seperti dongeng."

"Aku maklum kalau kau tidak percaya padaku…" Konohamaru menundukkan kepalanya, terlihat sedih.

"Aku percaya," Naruko cepat-cepat berujar. "Lanjutkan, Konohamaru."

"Setiap kali matahari terbit, mereka akan berubah menjadi binatang."

Naruko terpaku. Percakapannya dengan Sasuke semalam mulai muncul.

Vampir? Kalian tinggal di bawah tanah. Berarti kalian tidak bisa melihat matahari.

Kami bukan vampir. Kami bukan manusia. Itu saja yang perlu kau ketahui.

Pantas saja tempat ini ada di bawah tanah. Karena setiap kali matahari terbit, mereka akan menjadi binatang, bahaya jika ada yang melihat mereka.

Jadi… Sasuke dan Itachi yang keren itu menjadi monyet di pagi hari? Naruko berusaha untuk menahan tawanya. "Lalu? Selain itu apa saja?"

"Selain itu… setiap kali mereka keluar dari tempat ini, mereka akan tewas. Mereka cuma boleh keluar rumah untuk 'pertemuan' saja."

Naruko bergumam pelan. Pantas saja Itachi semalam berkata kalau mereka tidak bisa di luar lama-lama. "Apa maksudmu dengan 'pertemuan'?"

"Satu-satunya cara untuk menghancurkan kutukan ini adalah pernikahan antara anggota klan Uchiha dan wanita berambut pirang dan bermata biru. The beauty. Mereka berdua harus saling mencintai satu sama lain, apa adanya."

"Dan akulah beauty kali ini?" Naruko menaikkan sebelah alis.

"Benar," Konohamaru menyeringai. "Setiap pergantian generasi, keluarga Uchiha palsu akan membawa beauty. Dan kau adalah beauty ketiga."

Naruko bergumam pelan. "Alasan kenapa aku adalah orang ketiga dan kutukan ini belum lepas…" mata birunya menajam. "Korban-korban sebelumnya gagal? Mereka tidak bisa mencintai anggota klan Uchiha dengan apa adanya?"

Konohamaru langsung terlihat sedih. "Tidak mudah bagi para beauty itu untuk mencintai makhluk lain… selain itu, jika mereka gagal saling mencintai dalam waktu tertentu, mereka berdua akan tewas."

Mata biru Naruko terbelalak. "Tewas?"

"Obito-sama dan Shusei-sama tewas karena itu…" Konohamaru merintih. "Dan kali ini… Sasuke-sama akan dipasangkan denganmu."

"Tunggu," Naruko menggelengkan kepalanya. "Kenapa harus wanita berambut pirang dan bermata biru? Dan kenapa harus Uchiha palsu yang menyediakan wanita-wanita itu? Kenapa kalian tidak mengambil dari luar?"

"Kami tidak bisa keluar karena kutukan. Kami cuma bisa keluar ketika kami hendak menjemput sang beauty. Karena itu kami tidak bisa 'menculik' beauty dari luar. Kami harus mengundang beauty untuk masuk ke dalam tempat ini. Dan keluarga palsu itu mau melakukan ini selama kami memberikan mereka uang. Klan Uchiha punya harta yang tidak terhitung."

Naruko hanya bisa terpaku.

"Dulu, kami hanya mengharuskan keluarga palsu itu untuk menyediakan wanita berambut pirang dan bermata biru. Tapi mereka semua tidak berotak," Konohamaru mendengus. "Karena itu, kali ini Sasuke-sama menginginkan wanita yang berotak. Wanita yang mau bernegosiasi supaya mereka bisa saling mencintai."

Naruko menahan diri untuk tidak melongo. "Dia kira cinta itu bisa muncul begitu saja? Dengan negosiasi?" Ternyata karena Sasuke dia dipaksa belajar dari kecil. "Alasan kenapa wanita-wanita sebelumnya tidak bisa mencintai orang-orang di sini karena sosok mereka bukan manusia di pagi hari bukan?"

Konohamaru langsung merintih. "Benar… kami menjadi binatang di pagi hari selain itu kami punya insting binatang juga… terkadang sulit untuk menahan insting ini," sang monyet meraih pisang dari keranjang, melahap pisang itu. "Tapi Naruko, kau harus menyukai Sasuke. Kau harus mencintainya. Kutukan ini sudah lama ada di keluarga ini dan…"

"Jadi aku harus mencintai seseorang yang tidak kukenal kalau tidak aku akan mati bersamanya?" Naruko tidak tahu bagaimana caranya suaranya bisa setenang itu dan tidak terdengar terkejut. "Berapa lama batas waktunya?"

"Satu tahun."

Naruko bergumam. Mencintai monyet dalam waktu satu tahun? Mungkin bisa. Dia ingin tetap hidup. Mungkin dia bisa bernegosiasi dengan Sasuke atau apalah.

"Dalam waktu satu tahun harus ada pembuahan dari kalian berdua. Kalau tidak…"

Naruko nyaris saja tersedak pisangnya. "Pembuahan? Maksudmu…"

"Harus ada anak," Konohamaru menyeringai.

Naruko melongo kali ini. "Anak? Kau mau aku seks dengan monyet?"

"Monyet?" Kali ini Konohamaru yang menelengkan kepalanya. "Kenapa monyet?"

"Bukankah kalian berubah wujud di pagi hari? Para Uchiha itu menjadi monyet di…"

"Tidak. Hanya kami para pelayan yang menjadi monyet."

Naruko langsung mendelik. "Dan mereka jadi apa? Uchiha? Kipas begitu? Kelinci?"

"Beda jauh," Konohamaru tiba-tiba melompat kaget. Monyet itu anehnya menjadi panik, melompat kesana-kemari. "Uchiha-sama… ah tidak! Sasuke-sama akan tiba! Akan tiba!"

Naruko menaikkan sebelah alis ketika melihat Konohamaru yang melompat keluar dari kamar. Ternyata itu alasan kenapa pintu kamar ini tidak ada kenop, tinggal didorong untuk terbuka… para binatang tidak bisa masuk kalau ada kenop. Naruko terdiam sesaat, mengunyah pisangnya. Sasuke akan datang? Sebaiknya dia sisakan pisangnya supaya Sasuke juga bisa makan bukan?

Wanita itu bergumam pelan, menyisakan pisangnya dan menyalakan beberapa lilin lainnya. Dia memutar tubuh, menguncir rambutnya yang panjang itu menjadi kunciran kuda. Nenek aneh. Seenaknya mengutuk seperti itu. Kenapa juga harus wanita berambut pirang dan bermata biru? Karena beauty? Sayang sekali, dia sama sekali tidak seperti itu.

Tapi dia tidak mengerti kenapa wanita-wanita sebelumnya tidak bisa mencintai anggota klan Uchiha. Meski di pagi hari mereka menjadi monyet, di malam hari mereka tetap menjadi manusia dengan sosok yang menawan itu. Bahkan di kelurga Uchiha palsunya, mereka semua tampan dan cantik.

Suara pintu yang terbuka membuat Naruko meraih pisang di tangannya. "Sasuke? Aku sudah dengar ceritanya dari Konohamaru. Aku tahu kalau kau berubah wujud menjadi binatang di pagi hari," dia meringis ketika melihat pintu yang terbuka namun dia tidak melihat apa pun. Pasti Sasuke menjadi monyet mungil yang duduk di depannya. "Sasuke? Kau mau pisang? Aku menyisakan pisang untukmu," Naruko mengayunkan lilin, mencoba untuk mencari sosok Sasuke. Namun, dia tidak bisa menemukan sosok monyet.

Dia bertemu mata dengan sosok…

"Aku tidak butuh pisang."

Di detik ketika Konohamaru melesat pergi dari kamar ini, pertanyaan baru muncul di kepala Naruko.

Kenapa Konohamaru ketakutan? Sangat ketakutan. Seakan-akan dia akan mati di detik Sasuke masuk ke dalam ruangan.

Naruko mundur selangkah. Tangannya menjadi dingin.

Di depannya, sosok panther hitam berdiri dengan megah di depannya. Tinggi panther itu nyaris mencapai dadanya. Mata merah itu seakan-akan bersinar dari balik kegelapan. Suara geraman pelan muncul dari panther tersebut, menunjukkan taring yang mencuat.

Sekarang dia tahu kenapa wanita-wanita sebelumnya tidak bisa mencintai anggota klan Uchiha…

Kami menjadi binatang di pagi hari selain itu kami punya insting binatang juga… terkadang sulit untuk menahan insting ini.

… karena mereka tewas dimakan oleh anggota Uchiha tersebut.

xxx

Sasuke mengayunkan ekornya, menatap Naruko dengan tatapan takjub. Ketika dia terpilih untuk menjadi suami sang tumbal, Itachi sempat melawan, hendak mengambil posisinya. Karena mereka semua tahu kalau dia gagal membuat sang tumbal wanita mencintainya, dia akan mati bersama-sama dengan wanita itu.

Sasuke tidak ingin Itachi yang tewas, jadi dia tidak melawan ketika dia yang terpilih. Dia memberi syarat pada para tetua Uchiha. Dia ingin tumbal berikutnya pintar dan bisa diajak untuk bernegosiasi, tidak seperti dua tumbal sebelumnya. Ada untungnya dikutuk. Meski mereka menjadi binatang di pagi hari dan tidak bisa keluar, mereka awet muda.

Umurnya tetap 21 sejak 100 tahun yang lalu sampai sekarang, seakan-akan waktu berhenti di rumah ini.

Ketika dia bertemu dengan Naruko, dia tahu bahwa wanita ini pintar. Tapi Naruko licik. Dia tidak takut akan apa pun. Mungkin jika melihat sosoknya yang sekarang, wanita itu akan takut. Sasuke mendengus, menatap Naruko yang menegang. Apa yang dilakukannya? Mungkin Naruko sudah ketakutan setengah mati dan tidak akan mencintainya lagi.

"Pantas saja kau tidak butuh pisang," Naruko berbisik. Suaranya bergetar sesaat. "Kau butuh aku sebagai makanan bukan?"

Sasuke tidak menjawab, dia hanya berjalan, berputar sesaat. Matanya tidak lepas dari Naruko, seakan-akan sedang memantau sarapan paginya.

"Kata Konohamaru, sulit bagi kalian untuk menahan insting binatang kalian. Apakah kau sendiri sedang tenggelam dalam insting panther-mu itu?"

Sasuke menggeram sesaat, membuat wajah Naruko memucat. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan Naruko.

"Oke. Kau boleh memakanku," Naruko mendesis, membuat Sasuke menggoyang ekornya. "Tapi cukup satu jari ini saja," Naruko menyodorkan jari kelingkingnya. "Sisanya untuk besok."

Sasuke berhenti berjalan, menatap Naruko dengan tatapan takjub. Wanita ini dengan suka rela menawarkan jarinya?

"Aku sudah makan," Dia menjawab, membuat Naruko berkedip.

"Kukira kau sudah tenggelam di insting binatangmu."

"Aku menghabiskan 100 tahun di tempat ini bukan untuk cuma-cuma." Sasuke mendengus, berbaring di sisi ranjang Naruko, membuat wanita itu terpaku sesaat.

"Kau tidak akan seks denganku sekarang bukan?"

Sasuke kembali mendengus. Kalau saja dia sedang di sosok manusianya, dia akan menyeringai lebar. "Tidak sekarang."

Naruko memutar bola matanya, mulai mengunyah pisangnya lagi. "Kukira apa," mata birunya menatap Sasuke dan dia terpaku ketika melihat mata merah itu menjadi hitam kelam. "Matamu berubah."

"Warna mata asliku hitam."

Naruko bergumam pelan. Dia masih memperhatikan Sasuke dan Sasuke membiarkan Naruko melihatnya.

"Jangan terlalu percaya padaku," Sasuke memberitahunya. "Kau tidak tahu kapan aku akan lepas kendali dan melahapmu."

"Apakah Obito juga melahap calon istrinya?"

Sasuke tidak menjawab. Dia hanya memejamkan matanya, mulai mengabaikan Naruko. Dia membuka matanya sesaat ketika merasakan sentuhan tangan Naruko di kepalanya.

"Bulumu halus," Naruko bergumam kagum.

"Kau tidak mendengar ucapanku tadi?"

"Tentu saja aku mendengarmu," Naruko mendengus. "Tapi… sebelum kau melahapku…" wanita itu meraih lilin, menyeringai lebar. "Aku akan membakarmu. Kita lihat siapa yang mati duluan," dia menyeringai lebar.

Sasuke hanya bisa terpaku. "Kau aneh."

"Aku bukan beauty. Sayang sekali," mata biru itu berkilat-kilat dari bawah cahaya lilin. "Mungkin kita akan mati bersama karena kita gagal saling mencintai. Tapi aku tidak ingin mati begitu saja. Bukankah kau juga begitu? Karena itu kau menginginkan tumbal yang cerdas dan bisa kau ajak bernegosiasi?"

Sasuke terdiam.

"Ayo negosiasi, Sasuke," cengiran itu melebar. "Apa syaratnya supaya kutukan ini bisa lepas."

"Di detik kau masuk di rumah ini, kau tidak bisa keluar," Sasuke memberitahu Naruko. "Kutukan ini harus lepas."

"Oke. Lalu?"

"Kau harus melahirkan anakku. Tapi untuk itu, kita harus saling mencintai. Kalau kita tidak, tidak akan ada buah yang lahir."

Naruko bergumam sesaat. "Oke. Caranya supaya kita saling mencintai?"

"Aku punya beberapa ide," Sasuke menatapnya. "Tidur bersama."

"Seks maksudmu?"

"Tidak," Sasuke mendengus. "Itu nanti. Tidur bersama. Hanya tidur. Kau, dan aku yang sedang bersosok panther."

Naruko bergumam. "Ahh aku tahu, supaya aku bisa merasa nyaman dengan sosokmu yang sekarang bukan?"

"Tidak sekarang," Sasuke mendengus lagi. "Kau masih takut pada sosokku."

"Dan aku akan selalu takut kalau aku tidak mencoba," Naruko mendelik. Di detik kemudian, wanita itu sudah memeluknya dengan erat, menggesekkan wajahnya di leher Sasuke, membuat lelaki itu menegang.

"Apa yang kau lakukan?" Sasuke menggeram. "Kalau aku kehilangan kontrol, kau sekarang akan kucabik-cabik."

"Kau tahu," Naruko menyeringai. "Tapi di saat ketika kau berada di balik instingmu… dan kau tidak berpikir untuk memakanku… itulah saat di mana kau benar-benar mencintaiku."

Sasuke terpaku.

"Ahhh, meski sudah pagi, aku merasa mengantuk di balik kegelapan ini," Naruko menguap. "Kapan-kapan kita bicara lagi. Aku mau tidur."

Sasuke hanya bisa mematung ketika Naruko menyeret selimut dan tidur di sisinya. Dia memperhatikan Naruko. Benar kata Itachi. Wanita ini bukan beauty.

Tapi beast.

Menarik.

Sasuke menggeserkan wajahnya di bahu Naruko, memejamkan matanya.


TBC

AN: chapter kali ini pendek, akan kupanjangin di chap berikutnya. haha

sampai jumpa di chap depan :)