Disclaimer: DGM milik Hoshino Katsura.
Warning: AU, sedikit OOC, Chara Death, dan lain-lain.
.
.
Aku dibonceng Lavi dengan motor ninja-nya. Bagaimana kelanjutan perjalananku ke Black Order Junior High School ya..?
.
.
Normal's POV
Brum! Brum! Brum! (AN: author nggak tahu gimana bunyi mesin motor ninja)
Lavi menancap gas dengan kecepatan 80 km/h. Yah, maklumilah, 'kan daerah rumahnya Lavi itu bukan di jantung kota. Jadi, ya, nggak begitu rame. Suara mesin motor ninja yang senada dengan warna rambutnya itupun berbunyi nyaring nan melengking. (?)
.
Allen nampak kebingungan, namun bukan karena ada alat tulis yang ketinggalan atau karena sapu tangannya yang tertinggal, tapi karena dia bingung menyesuaikan suasana di perjalanan ke Black Order Junior High School ini. Kalau dari berangkat, terus sudah sampai di Black Order Junior High School nggak ngomong-ngomong atau basa-basi sama Lavi ya nggak enak, 'kan? Terkesan nggak sopan sama orang yang sudah mau sukarela mengantarkan ke sekolah, iya 'nggak? Untungnya, karena Allen terkenal sebagai 'murid teladan' di Black Order Junior High School, selain disiplin, dia juga murid yang cerdas dan pintar. Dia pandai 'memungut' hikmah dari segala peristiwa yang ada.
Kesimpulan: Allen telah mendapatkan ilham untuk berbasa-basi dengan Lavi. Begini basa-basinya..
.
"Eh, Lavi. Tadi kamu habis dari arah kiri, 'kan? Darimana?" (AN: ini ceritanya masih dibonceng gitu, lho)
"Apa?"
"Tadi kamu habis darimana?" Allen mengulangi pertanyaannya dengan penuh cinta (?)
"Hah?"
"TADI KAMU HABIS DARIMANA?" Allen mengulangi pertanyaannya. Kali ini dengan penuh caps lock.
"Hah? Apanya yang habis?" (AN: Lavi benar-benar nggak denger apa yang Allen bicarain, lho. Jadi jangan salahkan Lavi, ya. Tapi authornya~)
"TADI KAMU HABIS DARIMANA? JADI ORANG JANGAN BUDEK-BUDEK AMAT BISA, NGGAK?" Allen bertanya—(lebih tepatnya membentak) Lavi dengan pose berdiri di jok motor dan mencekik leher Lavi. Nampaknya Allen sudah naik pitam dan nggak bisa menahan emosinya lagi. Kali ini dengan penuh caps lock dan bold.
"U.. UWOO.. AEEN!" (baca: Allen)
Lavi tersentak. Berusaha mencari oksigen, serta menyetir dengan baik, benar, dan tepat. (?)
Suasana kembali serius, ketika Allen melihat mobil sedan silver tepat di belokan perempatan. Coba kalau Allen nggak nyekik Lavi. Lavi juga nggak bakalan menyetir ugal-ugalan.
Saat ini, motor ninja Lavi dan mobil sedan silver—entah milik siapa—itu beradu pandang. Kurang lebih jarak mereka sekarang kurang dari 400 meter. Di perempatan sempit.. kecepatan 80 km/h.. ini, sih, tinggal nunggu siapa yang duluan 'dipanggil' saja, deh.
"Lavi, awas!"
Allen pun melepaskan cekikannya dari Lavi dan kembali duduk layaknya penumpang waras (?), karena memahami keadaan. Lavi mengerutkan keningnya. Dia tidak mengambil oksigen dahulu karena sibuk dengan 'objeknya'. Mata emeraldnya tiba-tiba membesar, pupil matanya mengecil, dan mulutnya terbuka 2 centimeter. Otaknya—yang hanya jenius apabila menyangkut masalah kendaraan—mulai mencerna keadaan yang sepertinya sulit dihindari itu. Tapi, ada masalah yang paling penting, nih..
.
"Allen, kok, motor gue nggak bisa di-rem, ya?"
Nah, ini, nih.. kalo yang punya motor nggak tahu banyak tentang motornya sendiri.
"Lha? 'Kok, tanya sama gue? Yang punya motor ini elo, 'kan?" Allen menjawab pertanyaan Lavi sekenanya. Jawaban Allen yang gue-elo itu, sih, Cuma ikut-ikutan Lavi saja.
'Eh, tadi Lavi bilang 'gue'? Aku yang salah denger? Atau Lavi yang salah ngomong?'
Di sisi lain, Lavi pun memiliki pemikiran yang sama seperti Allen.
'Apa? Tadi Allen bilang 'gue-elo'? Gue tadi salah denger, 'kan? Oya, gue kan belum korek kuping 6 bulan! Pasti gue yang salah denger!'
.
Gara-gara kebanyakan mikir yang nggak penting, alnasib, motor ninja Lavi nabrak mobil sedan silver itu.
Allen jatuh dari motor, motor ninjanya menindih tangan kiri Allen. Posisi Allen saat ini tengkurep. Berbeda dengan Lavi. Lavi saat ini berpose dengan wajah nemplok di kaca depan mobil sedan silver itu. Tepat di depan kaca sopir. Soalnya tadi Lavi sempet loncat ke depan pas nabrak mobil sedan silver itu. Otomatis Lavi bisa lihat siapa yang nyetir, dong..
.
"A.. aduh.."
Lavi berusaha 'menaikkan' ikat kepala yang sekarang menutupi mata emeraldnya itu. Dengan pelan-pelan dia menaikkannya, karena tangan kirinya sedang mati rasa. Saat ikat kepalanya sudah terangkat sampai dahi, betapa kagetnya dia ketika melihat 'siapa' yang ada di depan matanya saat ini. Manusia..? Sepertinya bukan. Monster..? Bukan juga. Yang ini lebih mirip manusia. Lalu apa, ya..? Lavi tidak berniat untuk menentukan 'siapakah' atau 'apa-kah' yang ada di depan matanya saat ini. Keringat dingin mulai bercucuran dari ujung rambut sampai ujung kaki, tubuhnya seakan tidak bisa digerakkan, matanya mulai berkunang-kunang. Semuanya seakan menjauh dari pandangannya, dan.. gelap. Semua pandangan Lavi saat ini gelap. Sepertinya dia pingsan. Tak berapa lama setelah melihat 'siapa' yang ada di depan matanya. Bagaimana dengan Allen? Hm.. keadaannya sama seperti Lavi. Dia tak sadarkan diri.
.
.
.
Lavi's POV
"Ah.."
Perlahan aku membuka mataku. Tempat apa ini? Semuanya putih. Warna ini.. rasanya aku pernah kenal. Ah, iya. Ini 'kan warna rambut Allen. Tapi.. ini dimana?
Aku bangun pelan-pelan. Badanku rasanya sakit semua. Semua yang kulihat saat ini memang aneh. Tapi, ada yang lebih aneh.
"Ma.. mataku?"
Memang aku merasa penglihatanku lebih 'sempit' sedari tadi bangun tidur dan ternyata benar, mata kananku saat ini diperban.
.
Aku meraba daerah di sekitar mataku yang diperban. Betapa kagetnya aku, ketika tidak merasakan keberadaan mata kananku.
"A.. apa? Tidak.. ini tidak mungkin.."
Aku tidak mengerti. Kenapa aku harus kehilangan sebelah mata emeraldku? Padahal, selama ini, aku selalu membanggakan mata emeraldku. Aku bangga karena terlahir sebagai anak yang memiliki mata indah, dan juga bercahaya. Aku berusaha mengingat kejadian sebelumnya.. Ah, iya, aku kecelakaan, ya? Tapi aku tetap tidak bisa menerimanya. Hanya karena kecelakaan, lantas aku kehilangan sebelah mataku? Aku bertanya.. dan terus bertanya.. walau tak seorang pun yang menjawab..
.
Aku menghentikan kegiatan berpikirku, ketika sesaat teringat akan Allen. Oh, iya.. dimana dia..?
Aku keluar dari pintu kamar tempat aku pingsan tadi. Setelah aku keluar, aku melihat sekeliling dengan bingung. Sepi. Itulah yang kata yang terbenak di kepalaku. Sepertinya bangunan ini memang terdiri dari beberapa kamar. Setiap kamar memiliki nomor. Aku berbalik, melihat kembali pintu kamar tempat aku pingsan tadi. Kamarku nomor 202. Di bawah nomor itu, terdapat namaku yang tertera disana, Lavi.
.
Awalnya aku hanya cuek dengan apa yang aku lihat itu. Tapi, kemudian aku berpikir sambil menopang daguku, tempat ini.. apa ya? Aku belum pernah kesini. Apa Allen juga ada disini?
Aku berjalan dengan tenang mengelilingi satu persatu kamar yang tertera nomor dan nama 'penghuni'nya. Barang kali Allen juga ada di sekitar sini. Begitu pikirku.
.
Tepat di depan kamar nomor 208, tertera nama "Allen Walker" disitu. Aku kaget, bercampur senang. Sampai-sampai aku tidak menyadari adanya tetesan air mata yang jatuh ke pipiku. Senyum bahagia terpancar di bibirku. Aku senang karena dia masih ada 'disini'. Aku tidak ingin dia pergi..
.
Cklek!
"Allen..?"
Aku membuka pintu kamar itu dengan sangat perlahan. Sambil sekali menyebut nama penghuni kamar itu dengan suara pelan. Tapi tidak ada yang menyahut. Saat aku mendekati 'tempat tidur' penghuni kamar itu..
"Cih.."
Sepertinya Allen belum siuman. Senyum yang tadinya menghiasi wajahku pun lenyap sudah. Badanku tiba-tiba saja terasa lemas, hingga aku terhempas di kursi sebelah kiri Allen. Entah telah berapa lama aku terdiam, melihat wajahnya yang damai, dan tenang. Terlihat seperti sedang bahagia di alam bawah sadarnya. Andai.. aku juga bisa merasakannya..
Aku menggenggam tangan kiri Allen. Melihat wajahnya yang tenang apabila tertidur itu.. entah mengapa aku malah jadi merasa sedih.. aku tidak suka dia yang tenang.. aku lebih suka dirinya yang bersemangat..
"Hontou ni sumimasen, Allen.."
To Be Continued
Lavi: "Kok sedikit amat fic-nya?"
Toge: "Iya, maaf. Habisnya lagi buntu ide, ini.. ~.~"
Allen: "Katanya judulnya bakal ada kaitannya di chapter selanjutnya.."
Toge: "Hey, sabar, dong. Lagian masih jauh, ini.."
Allen: "Yak, saatnya untuk balas review!"
Lavi: "Hm.. benar juga. Oy, Toge. Ayo balas review."
Toge: "Lavi wakilkan, ya."
Lavi: *sigh* "Yasudah, aku yang wakilkan."
Reikyaku Kinri, soal incest atau nggak-nya, sepertinya nggak, deh. Toge berusaha sebisa mungkin biar hubungan mereka sebatas saudara. ^^"a Terima kasih banyak atas review-nya yang membuat Toge bersemangat untuk melanjutkan fic ini kembali.
Rii-chan the 12thAlchemist, wah, ternyata anda menyadari ke'tergesaan' itu. Mungkin sebaiknya Toge buat agar tidak terlalu tergesa-gesa. Saya akan menyampaikan hal ini pada Toge. Terima kasih atas masukan anda yang sangat berguna. Kemungkinan besar Toge akan merubahnya untuk tidak tergesa-gesa lagi di chapter selanjutnya."
Allen: "Saatnya ucapan terima kasih!"
Lavi: "Baiklah, untuk yang baca sampai habis, kemudian tidak me-review, kami ucapkan terima kasih banyak!"
Allen: "Untuk yang sekadar buka, tapi nggak baca juga makasih ya!"
Toge: "Atau untuk yang cuma lihat judul cerita ini juga makasih, deh!"
