She Is My Girl, Isn't She?
Disclaimer : J. K. Rowling ©
Note : I decided to re-write this fan fiction because of some personal reasons.
I hope you guys can enjoy this one.
Chapter 2
"Gadis kecil itu putriku, kan?"
Rose memaksa dirinya untuk tertawa. Dan suara tawanya melengking dengan ganjil. Dia menghentikan tawa anehnya itu lalu menatap pria yang berdiri di depannya itu dengan tajam. "Putrimu? Omong kosong macam apa itu?!"
Tetapi pria itu tak mengubah ekspresi kosong di wajahnya yang dingin itu. Dia masih tetap menatap Rose sama tajamnya. "Gadis yang bernama Thea itu, dia putriku, kan?" ulangnya.
Rose merasakan perutnya mencelos mendengarnya.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Scorpius Malfoy. Dan jika niatmu muncul di tempat ini hanya untuk melihat-lihat kurasa masih banyak tempat lainnya yang lebih menarik."
Rose lalu beranjak dan melewati Scorpius tetapi Scorpius dengan sigap menangkap tangannya. "Berhentilah berpura-pura, Rose," desisnya. Tetapi Rose tidak menghiraukannya, dia melepaskan tangan Scorpius yang mencengkram lengannya.
"Pergilah dari sini!" serunya saat mendaki undakan depan rumahnya.
"Kau membiarkan orang asing bercengkrama dengan putriku dan kau malah menyuruhku pergi?"
Rose membeku di tempatnya.
"Putriku berhak tahu siapa ayah kandungnya. Dari keluarga mana dia berasal. Kau.. kau tidak berhak untuk menyembunyikan kebenaran ini darinya," kata Scorpius lagi.
Rose lalu berbalik, kembali menghadap pria itu. "Bagaimana kau bisa menyimpulkan sesuatu secepat itu? Putrimu? Sungguh? Selera humormu ternyata buruk sekali, Malfoy," katanya.
Tetapi Scorpius malah menyeringai saat mendengarnya. "Kau mungkin bisa membohongi dirimu sendiri. Tapi siapapun yang melihat kami berdua pastilah bisa melihat kemiripan di antara kami. Tidakkah kau menyadari itu?"
Rose berkacak pinggang mendengarnya. "Heh, jadi menurutmu hanya Malfoy yang boleh berambut pirang? Sayang sekali, tetapi ada banyak sekali Muggle di dunia ini yang juga berambut pirang."
"Jadi, kau menghina status darah anaku dengan mengatakan bahwa dia adalah putri dari seorang Muggle?" tanya Scorpius tajam. "Hebat sekali, Rose Weasley," tambahnya sambil melemparkan senyum sarkas.
Rose lalu melipat tangannya di depan dadanya. Dia menatap Scorpius yang masih menyunggingkan senyum yang sangat membuatnya muak. "Katakan apa maumu dan cepat pergilah dari tempat ini."
Scorpius tidak langsung menjawab karena dia melihat pintu rumah kembali terbuka. Dan pria asing yang membuatnya cemburu itu keluar dari dalam rumah dan menuruni undakan tangga. Rose pun menoleh saat pria asing itu memanggilnya. Pria itu lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Rose seolah tidak ingin dia menguping pembicaraan mereka. Tapi percuma, karena dia punya pendengaran yang cukup baik.
"Siapa sebenarnya orang itu?" tanya pria asing itu dengan setengah berbisik.
"Akan kuceritakan nanti," jawab Rose sambil mengerlingnya. "Pergilah, tak apa. Aku bisa menanganinya."
"Kau yakin?"
Rose mengangguk.
"Maaf aku harus pergi, akan kutelpon kau nanti," bisik pria itu. Pria itu lalu menatapnya tajam seolah mengancamnya untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa menyakiti Rose. Dan itu membuatnya mendengus.
"Baiklah, Dave. Hati-hati ya," balas Rose sambil merengkuh tubuh pria itu sekilas. Pria asing yang bernama Dave itu mengangguk lalu menuruni undakan tangga dan berjalan melewatinya. Dia lalu masuk ke dalam kendaraannya dan menghilang di ujung jalan.
Setelah itu, dia kembali berpaling ke wanita di depannya. Yang kembali menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Yang netra hazelnya masih menatapnya dengan tajam. Yang tahu segalanya tetapi menolak untuk memberi tahu. Yang memegang kunci gembok dari rantainya yang hilang.
"Pergilah dari sini, Scorpius."
Wanita itulah yang akhirnya memecah keheningan. Tatapannya yang awalnya mengancam kini terlihat melunak. Tak lagi mengancam, melainkan memohon. Ya, wanita itu memohon agar dia pergi. Dan setelah mengatakannya, Rose berbalik dan mendaki undakan tangga terakhir di depan rumahnya. Tetapi baru saja dia akan membuka pintu rumahnya suara kedebuk keras dan pecahan kaca terdengar dari dalam rumah.
"Asterella!"
Wanita itu segera menerjang pintu di depannya dan berlari masuk. Dan dia, yang awalnya masih berdiri mematung di pinggir jalan, segera ikut berlari masuk ke dalam rumah yang tuan rumahnya sendiri menolak kehadirannya. Tak peduli diinginkan atau tidak, dia butuh untuk melihat apa yang terjadi. Dan napasnya seketika sesak ketika melihat gadis kecil berambut pirang platina terbaring di lantai dengan darah mengucur di pelipisnya. Pecahan kaca-kaca dan beberapa keramik terlihat menutupi lantai.
Rose berlutut di sisi gadis kecil itu, meletakan kepalanya di pangkuannya. Tetapi Scorpius bertindak cepat, dia meraih gadis kecil itu ke dalam pelukannya, menarik lengan Rose bersamanya, lalu membawa mereka berdua ber-Apparate bersamanya.
Dia menatap pintu ruangan penyembuhan yang masih belum terbuka sementara Rose yang duduk di sampingnya masih terisak pelan. Wanita itu menenggelamkan wajahnya di dalam kedua telapak tangannya dan bahunya bergerak naik turun.
"Dia akan baik-baik saja," ucapnya pelan. Dia sebenarnya lebih memaksudkan kalimat tu untuk menenangkan dirinya sendiri tetapi Rose juga menoleh saat mendengarnya. Dia balas menatapnya lalu kembali berpaling ke arah pintu ruangan penyembuhan.
Dan tak lama, penyembuh St Monica keluar dari ruangan itu. Dengan jubah abu-abu keperakan berlambang rumah sakit sihir Amerika itu terembos di bagian dadanya, dia menghampiri mereka berdua.
"Bagaimana keadaannya?" tanyanya cepat.
"Itu kecelakaan sihir. Kurasa putri kalian terlalu menahan kekuatan sihirnya sehingga sihir itu malah meledak-ledak tak terkendali," jelas si penyembuh. "Tetapi luka-lukanya tak terlalu serius. Dengan mantra dan ramuan yang telah kami berikan keadaan akan segera membaik. Walau begitu, saya rasa Anda berdua perlu melatihnya untuk mengontrol sihirnya. Karena jika tidak, kekuatan sihir putri kalian yang semakin menguat malah akan berbalik menyerangnya sendiri."
"Tapi.. bagaimana bisa?" desisnya pelan.
"Kasus seperti ini terjadi jika seorang anak kaget dengan kemampuannya sendiri dan tak terlatih untuk menyalurkan kemampuan sihirnya. Biasanya memang terjadi pada keturunan Muggle yang masih sangat awam dengan sihir, sehingga anak tersebut merasa berbeda dengan lingkungannya dan berusaha melenyapkan kekuatan sihirnya sendiri."
Scorpius menyipitkan matanya, dia lalu menatap Rose dengan tajam. "Kaget dengan sihir?"
"Ya," jawab si penyembuh. "Oh iya, ramuan yang kami berikan mungkin akan membuatnya tertidur sampai besok pagi tetapi itu bukan masalah. Kalian bisa menemuinya sekarang."
Si penyembuh itu pun berlalu sementara asistennya meminta Scorpius untuk mengikutinya dan menyelesaikan masalah administrasi. Sementara Rose masuk ke dalam ruangan tempat putrinya dirawat, Scorpius mengikuti asisten penyembuh itu. Dia melakukan administrasinya dengan cepat dan bergegas ke ruangan putrinya untuk melihat kondisinya. Dia juga butuh penjelasan atas semua ini.
"Dan kau masih akan mengingkarinya, Rose? Apakah kau sungguh setega itu?" tanyanya saat memasuki ruangan dan melihat Rose duduk di samping ranjang pasien putrinya sambil membelai lembut kepala gadis kecil itu.
Rose menatapnya lalu menggeleng. "Aku punya alasan," katanya pelan. Dia lalu mengalihkan tatapannya ke arah jendela kaca, air matanya sudah akan menetes dan dia tak ingin menangis di hadapan Scorpius.
Scorpius mendekat. Mengeluarkan tongkatnya lalu menyihir sebuah kursi dari ketiadaaan dan duduk di samping ranjang putrinya. Gadis kecil itu terbaring dengan damai dalam tidurnya. Bekas luka kemerahan di pelipisnya sudah mulai mengering. Dan melihatnya seperti ini membuatnya semakin yakin bahwa gadis kecil ini memang adalah putrinya. Dia tidak mungkin salah, setidaknya nalurinya pasti mengatakan sesuatu yang jujur.
Scorpius lalu menyapukan tangannya ke kepala gadis kecil itu, membelai helaian rambut pirang platinanya dengan lembut. Bagaimana mungkin gadis kecil ini bukan putrinya, bukankah hanya seorang Malfoy yang memiliki rambut platina seindah ini?
"Kalau begitu beri tahu aku apa alasanmu," katanya sambil tetap memandangi putrinya itu dengan haus, seperti… bahkan jika ratusan tahun pun dihabiskannya hanya dengan memandangi putrinya, semua itu tidak akan membuatnya puas.
Rose menarik napas dalam mendengarnya. Dia sungguh tidak ingin bercerita sekarang, namun dia harus melakukannya. Scorpius benar, bagaimanapun juga Scorpius adalah ayahnya dan dia pantas mengetahuinya. Rose berjalan ke arah jendela, membelakangi Scorpius dan putrinya yang cantik, menatap lautan dalam Samudra Pasifik. St Monica memang dibangun di sebuah pulai kecil di Kepulauan Hawaii. Dan pemandangan yang cantik dari setiap jendela di bangsalnya sungguh merupakan obat penyembuh tambahan selain dari ramuan dan mantra-mantra yang diberikan oleh para penyembuh.
"Aku punya seorang putri tapi baru mengetahuinya saat dia sudah sebesar ini. Sedangkan pria asing itu, entah siapa dia, kau membiarkannya menjadi sedekat itu dengan putriku. Bagaimana menurutmu perasaanku, Rose?" Scorpius kembali bersuara.
"Aku tidak melakukan semua ini untuk kesenanganku," jawab wanita itu. "Apakah menurutmu semua ini juga mudah untukku?" dia balas bertanya.
Scorpius tidak menjawabnya. Tetapi dia berpaling ke arah Rose yang masih berdiri membelakanginya. "Vienna? Apakah malam itu?"
Dan yang ditanya kembali menghela napas lalu mengangguk pelan dalam diam. Dan kejadian sembilan tahun lalu itu kembali terputar di hadapannya.
o0o
"Aku akan menikahi gadis itu, Weasley. Acara pertunangannya akan berlangsung setelah kita kembali ke Inggris," kata pemuda itu saat mereka saja turun dari kereta. Mereka baru saja kembali dari acara makan malam para delegasi yang diadakan oleh Dewan Keamanan Sihir Dunia.
"Jadi, itu hal yang bagus?" tanyanya pada pemuda itu.
Pemuda pirang bermata kelabu itu tidak menjawabnya. Dia hanya mengerdikan bahunya singkat lalu berjalan di sepanjang peron menuju pintu keluar stasiun. Rose mengikuti langkah pemuda itu dalam diam. Sejuta pikiran berkecamuk di kepalanya dan dadanya mendadak sesak dengan perasaan aneh yang seperti menyumpal paru-parunya. Membuatnya kesulitan bernapas di tengah-tengah udara musim gugur yang berangin itu.
Dia lalu menghentikan langkahnya. Berusaha keras untuk menjejalkan oksigen ke paru-parunya yang sakit sementara wajahnya mulai memanas. Menyadari tak ada suara sepatu bertumit tinggi yang membentur beton keras di belakangnya membuat pemuda itu juga berhenti. Dia berbalik dan melihat gadis yang dari tadi mengikuti langkahnya itu berdiri mematung di tengah-tengah trotoar.
Gadis itu lalu mendongak ketika mendengar suara langkah pemuda di depannya yang berbalik, berjalan ke arahnya. Pemuda itu lalu tiba di hadapannya, tepat di hadapannya karena sekarang ujung-ujung sepatu mereka bahkan sudah bersentuhan. Dia sudah mengenakan sepatu bertumit tinggi yang membuatnya bertambah tinggi setidaknya tiga inchi tetapi ternyata pemuda itu masih lebih tinggi darinya.
"Kau pikir kau siapa? Hah?" tanyanya tajam. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Tak terkendali, sementara dadanya semakin sesak dengan gumpalan rasa sakit yang menekan-nekan tulang rusuknya.
Dan yang ditanya hanya diam. Gadis itu sama sekali tidak bodoh sehingga tidak mengenal siapa pemuda itu. Dia jelas kenal pemuda itu. Siapasih memangnya yang tidak mengenal seorang Scorpius Malfoy? Pewaris tunggal dari klan Malfoy?
Tak peduli berapa banyak makian yang pernah diteriakkannya pada pemuda itu, berapa banyak kata-kata penyangkalan yang pernah terlontar, tak peduli seberapa keras dirinya menolak perasaan itu, pada akhirnya dia kalah. Dia menyerah dan harus mengakuinya, bahwa dia mencintai pemuda itu. Hubungan mereka memang aneh, tak pernah hangat tetapi tak bisa dibilang dingin. Mereka berciuman di sela-sela perdebatan mereka, tidak peduli bahwa masing-masing dari mereka selalu menganggap yang lain menyebalkan, mereka tidak pernah betah berlama-lama tidak bicara kepada satu sama lain, tidak peduli bahwa setiap pembicaraan mereka selalu diwarnai dengan perbedaan pendapat.
"Merasa dirimu Casanova, eh? Apakah kau sungguh berpikir dirimu sehebat itu?" tanyanya lagi. Dan sekali lagi, kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa kendali. Dia sudah lelah mengendalikan dirinya selama ini, dia sudah lelah menyimpan semuanya seorang diri, salahkan jika kali ini dia ingin meluapkan semuanya. Toh, pada akhirnya tetap tak akan ada akhir yang bahagia untuknya bukan?
Bagaikan sebuah setelan busana di etalase toko, pemuda ini sudah dilabeli dengan harga. Tetapi sayang, berapapun yang dibayarnya tetap dia tak bisa membawa pulang busana itu, karena ternyata di label itu bukan hanya tertera harga, tetapi juga untuk siapa busana itu dari awal dibuat. Dan bukan untuknya, Scorpius Malfoy dari awal memang tak pernah dimaksudkan untuknya.
Dan kemudian air matanya meleleh. Berjatuhan di pipinya dan berlarian menuju bumi, seolah memaksa bumi juga ikut merasakan sakit hatinya. Dia berusaha menahan dirinya, tetapi ternyata dia sudah tak sanggup lagi. Dia sama sekali tak punya kekuatan untuk menahan tangisnya meledak. Dia terlalu lelah.
Bahunya sudah mulai berguncang tak terkendali dan lututnya terasa lemas, tak mampu lagi menopang berat badannya sendiri. Bumi seperti berputar di sekelilingnya, sementara angin musim gugur yang dingin seolah meneriakinya, ikut menghujam ketidaktahuan dirinya. Namun kemudian lengan pemuda itu menariknya dalam pelukannya. Pemuda pucat yang dulu sering dihinanya sebagai setengah albino itu merengkuhnya dalam kehangatan kedua lengan kekarnya.
Dan dia? Tak ada yang bisa dilakukan seorang gadis sepertinya di dalam pelukan pemuda superior itu selain menangis dan membasahi bagian depan mantel cokelatnya. Dalam dekap lembut itu ada sesuatu yang meleleh di dalam hatinya, tetapi dia tahu bahwa dia tak boleh kelewatan. Dia punya batasan, mereka punya batas yang tak boleh dilanggar. Maka, dengan segenap kekuatan yang masih dimilikinya, dia mendorong pemuda itu menjauh, berusaha melepaskan diri dari hangat dekapnya, berusaha bangun dari mimpi indah yang dia tahu tak mungkin bertahan lama.
Tetapi Scorpius Malfoy bertindak jauh dari yang diperkirakannya. Pemuda itu malah menariknya, menautkan bibirnya pada miliknya, melumat kedua belahnya dengan lembut, menyesapinya dan membuatnya merasakan sensasi manis yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Ini mungkin bukan ciuman pertamanya, walaupun ciuman pertamanya juga telah dicuri pemuda ini—saat mereka sama-sama mendapat detensi di Hogwarts saat kelas lima—tetapi yang kali ini rasanya sungguh lebih manis dari Pena Bulu Isap, lebih panas dari Wiski Api dan lebih memabukkan dari Vodka manapun yang pernah dicobanya—astaga, dia bahkan tak pernah minum Vodka.
Dia kira mereka tak akan berhenti, atau paling tidak itulah yang diharapkannya: dia tak mau mereka berhenti. Tetapi ketika pada akhirnya mereka berdua sama-sama butuh untuk bernapas, mereka saling melepaskan diri. Pemuda bersurai platina itu menatapnya tajam, netra kelabunya masuk ke dalam hazel miliknya. Dan kemudian pemuda itu mengulurkan tangannya, dan dia sudah tak peduli lagi dengan dunia, setelah ciuman itu, pemuda itu membuatnya candu. Dan dia tak ingin melepasnya begitu saja, tidak. Dia bukan malaikat berhati emas yang bisa merelakannya saat pemuda ini saja sudah mengulurkan tangan padanya. Maka, dia membiarkan malam itu menjadinya miliknya dan pemuda itu. Dan sepanjang malam itu Scorpius Malfoy adalah milik Rose Weasley seorang.
o0o
Rose berhenti, dia menarik dirinya kembali ke masa kini. Malam itu mereka menghabiskan malam di kamar hotel Scorpius. Sudah bisa ditebak apa yang terjadi. Dan walaupun sejak memulainya Rose tahu semua itu tidaklah benar tetapi dia tak bisa mengalahkan hatinya malam itu. Dia meminta hati pria itu malam itu, dan sebagai gantinya dia juga memberikan segenap hatinya pada pria itu. Tetapi, rasa bersalah itu ternyata tidak sabaran.
Begitu pagi menjelang, begitu matahari kembali menampakkan dirinya, dia tahu kisah Cinderella miliknya telah berakhir. Dia tak bisa memiliki pria itu lagi. Pria itu sudah akan menikah dengan gadis lain yang memang sederajat dengannya. Dia tak bisa bersikap egois, jika dia menjadi gadis itu dia juga tak ingin ada orang asing yang menyelinap di hubungannya dengan pria itu. Sudah cukup dia mencuri pria itu semalam, tak boleh lebih dari itu. Jadi, salahkan kalau pada akhirnya dia memilih untuk menghilang seperti mimpi indah pada musim panas?
Scorpius masih terpaku ketika Rose sudah menyelesaikan ceritanya. Sejuta penyelasan menggumpal di kerongkongannya. Dan berjuta kata 'andai jika' memenuhi pikirannya. Andai jika dia bangun lebih awal, akan ditahannya Rose agar tidak melarikan diri darinya. Andai jika malam itu dia mendekap Rose lebih erat, mungkin tak akan terpikir oleh perempuan itu untuk melarikan diri. Namun…
"Tapi kenapa? Kenapa aku sama sekali tak ingat apapun?" tanyanya.
Rose berbalik. Menatapnya ke dalam mata kelabunya. "Aku memodifikasi ingatanmu... Itulah mengapa yang kau ingat malam itu, setelah kau menciumku di depan stasiun, aku menamparmu."
Scorpius sekarang benar-benar merasakan lututnya lemas. "Demi Salazar, Rose! Kau boleh pergi begitu saja, melarikan diri, menghilang, bersembunyi dariku, tapi berani-beraninya kau memodifikasi ingatanku!"
"Pilihan apa yang kupunya?! Tolong beritahu aku pilihan apa yang kupunya, Scorpius!" jerit Rose. Suaranya terdengar pilu dan kelu.
Scorpius diam sesaat. "Baik, mungkin kau memang tak bermaksud buruk. Tapi, Rose, mengapa saat kau tahu ternyata hubungan kita malam itu membuatmu hamil, mengapa kau tak memberitahuku?"
Rose tersenyum sinis. Dia menatap Scorpius seolah-olah Scorpius adalah makhluk yang paling perlu untuk dikasihani di dunia ini. "Tolong coba kau tanyakan pada dirimu sendiri, Scorpius Malfoy yang terpandang. Apakah kau akan mempercayaiku kalau aku tiba-tiba datang kepadamu dan mengatakan bahwa aku mengandung anakmu? Apakah yang ada dipikiranmu tentangku jika aku melakukannya sementara tak ada yang kau ingat pada malam itu selain bahwa aku menamparmu dengan keras dan kau mabuk-mabukan di kamar hotelmu setelahnya?"
Scorpius tidak menjawabnya.
Maka Rose melanjutkan. "Terima kasih. Tetapi aku masih merasa sanggup untuk membesarkan anakku seorang diri, tanpa bantuan, maupun penghinaan darimu dan keluargamu."
Scorpius ingin sekali menjelaskan. Bahwa dia tidak mungkin melakukan itu. Bahwa semua yang disangkakan Rose kepadanya tidak benar. Tetapi pada akhirnya keluar dari bibirnya adalah sesuatu yang berbeda.
"Kapan kau mengetahui tentang kehamilanmu?"
"Seminggu sebelum pernikahanmu dengan si Beatrice Zabini itu, tiga bulan setelah aku dialihtugaskan ke Rumania," jawab Rose. "Lihat? Apakah menurutmu pantas bagiku untuk muncul di depanmu saat kau dan pengantinmu akan menaiki altar dan mengatakan bahwa aku mengandung anakmu?"
Rose menatap Scorpius tajam.
"Tidak. Tentu saja tidak. Bukan hanya tentang kau, atau aku, atau keluargamu. Tetapi juga tentang bagaimana perasaan calon pengantinmu itu. Menurutmu, apakah aku cukup pantas untuk menghancurkan impiannya untuk menikahi putra tunggal dari klan Malfoy? Tidak, aku tahu aku tidak seberharga itu."
Semua yang dikatakan Rose menusuk Scorpius. Dia sadar, bahwa seharusnya dia tidak langsung menyimpulkan dan menganggap Rose bersalah atas semua hal yang menimpa mereka. Saat itu, Rose pastilah berada dalam dilema yang membuatnya bingung. Dan bukan salahnya, kalau dia memutuskan untuk menghilang dan menjalani hidupnya tanpa campur tangan dari siapapun. Andai saja ada lebih banyak pengertian yang mereka tukar, andai saja tidak terlalu banyak ego dan kesombongan di antara mereka berdua…
"Jadi umurnya delapan tahun?" tanyanya memecah keheningan.
"Ya, tepat delapan Agustus kemarin," jawab Rose. Wanita itu sekarang sudah kembali duduk di kursinya. Tangannya menggenggam tangan putrinya sementara Scorpius di sisi lain tubuh putrinya masih membelai puncak kepalanya dengan lembut.
Scorpius menatap putrinya yang cantik dalam tidurnya. Demi Salazar, anaknya sudah berusia lebih dari delapan tahun saat dia baru sadar bahwa dia memiliki seorang anak? Takdir macam apa yang didapatnya ini.
"Siapa namanya? Siapa nama yang kau berikan padanya?" tanyanya lagi. Yang dia tahu putrinya ini dipanggil Thea dan Asterella, dia harus tahu nama lengkapnya bukan?
"Asterella. Asterella Cassiopeia Hermione Weasley."
Scorpius menghentikan tangannya yang bergerak di kepala Asterella. Berpaling kepada Rose dan menatap wanita itu, sekali lagi, dengan marah. Apakah untuk memakai namanya di belakang nama anaknya saja wanita itu sebegitu tidak sudinya?
"Aku akan segera mengganti nama belakangnya. Kau tidak bisa mencegahku, dia anakku. Namaku harus ada di belakang namanya."
"Kau tidak bisa merampasnya dariku," sela Rose.
"Tidak, aku memang tidak akan merampasnya darimu. Aku tidak akan tega memisahkan anakku sendiri dari ibunya. Tidak seperti kau yang tega memisahkannya dari ayahnya. Aku akan memastikan dia selalu mendapat kehangatan dari ibunya," balas Scorpius.
"Lalu apa yang kauinginkan?"
"Aku ingin kita berdua membesarkan Asterella bersama-sama."
"Apa maksudmu?" Rose memicingkan matanya.
"Menikahlah denganku."
Rose hanya diam. Bibirnya terkatup rapat sementara tangannya yang masih menggenggam tangannya putrinya mendadak berkeringat. Apa yang dikatakan pria di depannya ini adalah lamaran? Rose tersenyum sarkas. Tidak mungkin. Memangnya bumi akan berhenti berputar sehingga Scorpius Malfoy sampai-sampai melamar seorang Weasley, tidak—pria itu pasti hanya sedang berkelakar.
"Aku akan menemui perawat untuk menanyakan apakah mungkin membawa Thea pulang sekarang," katanya menghindari tatapan Scorpius. Dia sudah bangkit dan hendak menggapai kenop pintu ketika Scorpius dengan sigap menjegal tangannya yang bebas.
Dia berhenti, lalu berbalik dan menatap pria itu. Mata hazel bertemu dengan abu-abu. "Rose—"
"Hentikan!" potongnya cepat. Dia tidak tahan jika harus mendengar pria itu melengungkan namanya seperti itu. "Kumohon, dewasalah. Anakku tidak tahu apa-apa soal dirimu, yang dia tahu dia hanya punya seorang ibu. Aku juga belum menjelaskan padanya soal dunia sihir. Ini semua akan sulit untuk diterimanya. Dan aku tidak mau kondisi psikisnya terganggu. Jadi, tolong biarkan aku membawanya pulang, kembalilah ke Inggris, dan biarkan kami hidup seperti yang seharusnya."
"Seperti yang seharusnya?" ulang Scorpius. Ada nada kesal dalam suaranya yang dalam. Dia menggeleng seolah tidak habis pikir dengan pemikiran Rose. "Kau mengatakannya seolah-olah dia hanya anakmu, dia hanya milikmu. Mungkin kau lupa, tapi dari benihkulah Asterella lahir."
"Scorpius!"
"Apa? Rose, kau tak bisa selamanya hidup seperti ini. Asterella berhak tahu kebenarannya. Dia berhak tahu siapa ayah kandungnya. Dan kau, semua ini bukan yang benar-benar kau harapkan, kan? Kalian tidak seharusnya di sini. Tidakkah kau merindukkan keluargamu? Tidakkah kau ingin pulang?"
Rose menelan ludahnya. Keluarga. Sudah lama sekali dia tidak memikirkan itu. Dia bahkan hampir lupa bagaimana rasanya punya keluarga besar. Hidup bertahun-tahun hanya berdua dengan putrinya seperti membuatnya mati rasa, tetapi bohong kalau dia bilang dia tidak merindukan keluarganya, dia bahkan hampir sekarat karena memikirkan mereka semua, memikirkan penghianatan dan kesalahannya kepada mereka semua.
"Juga kurasa kau tidak bisa terus menerus menyembunyikan identitas Asterella. Kau dengar apa yang penyembuh itu katakan tadi, sihirnya semakin menguat dan jika dia terus menahannya maka sihir itu malah akan meledak-ledak tak terkendali. Dia penyihir, seperti kau dan aku. Dan kau tak bisa terus menerus membesarkannya seperti muggle."
Nada yang digunakan Scorpius tidaklah tinggi. Pria itu mengatakannya dengan tenang tanpa emosi. Bahkan pria itu seperti sudah menjadi jauh lebih dewasa dari yang diingatnya dulu. Sepertinya malah dia yang saat ini bersikap kekanak-kanakan. Dia tahu Scorpius benar. Dan akan sangat egois kalau dia memaksakan kehendaknya dan tetap menjalani semuanya seperti yang diinginkannya: dia tak ingin ada konfik. Tetapi, semua ini jauh lebih rumit dari yang terlihat.
"Pikirkanlah. Aku yang akan menemui perawat, kalau memungkinkan mari kita bawa Asterella pulang hari ini juga," kata Scorpius lagi. Pria itu lalu melewati Rose dan menghilang di balik pintu.
To Be Continued...
