Raira Academy Love Story

.

Durarara! Owned by Ryohgo Narita

.

Raira Academy Love Story Owned by RuikaNanami

.

Pair : Shizuo x Kanra ( Shizuo x Fem!Izaya )

ENJOY!

Chapter 1

Gadis itu berlari sekencang mungkin, menyebabkan rambut hitamnya berkibar. Padahal biasanya pagi buta begini tidak ada yang berjalan kaki di sekitar taman itu. Kenapa hari ini ada? Sekarang Kanra –nama gadis itu– terpaksa mencari alternatif lain untuk melepaskan stressnya. Terutama karena masalah 'itu'

Setibanya di rumah, Kanra langsung membuka pintu rumahnya dan berjalan ke arah kamar ayah dan ibunya. Namun, tepat sebelum ia menggenggam gagang pintu, ia telah dikejutkan oleh suara dua orang yang sedang berdebat.

"Berisik kau, pemabuk!"

"Oh? Berani sekali kau berkata begitu kepadaku, istri penjudi!"

"Kau yang kurang ajar, suami tidak berguna!"

"Memangnya ini semua salah siapa! Bukan aku yang menyuruhmu untuk melahirkan anak brengsek macam Kanra!"

DEG.

Jantung Kanra berdetak sakit. Ia memang sudah terbiasa untuk mendengarkan debatan antara Ibu dan Ayah tirinya yang sudah menjadi sarapan sehari-hari baginya, tapi baru kali ini ia mendengar ayahnya menyebut namanya di tengah perdebatan mereka. Disebut sebagai anak brengsek, pula. Yah, Kanra memang mempunyai hobi aneh seperti mengamati manusia, merawat pisau lipat, dan sebagainya. Tapi tidak pernah dalam hidupnya ia melakukan hal-hal yang membuat dirinya dijuluki 'anak brengsek'. Paling parah juga ia hanya dikatai sebagai 'anak pembawa sial' namun itu juga bukan karena perilakunya, melainkan karena bola matanya yang berwarna merah.

'Oke, jangan berpikir yang tidak-tidak, Kanra. Mungkin saja itu karena mereka berdua sedang mabuk.' Batin Kanra kepada dirinya sendiri.

Tangan Kanra bergerak untuk mengetuk pintu, namun saat itu terdengar suara meja digebrak dengan keras dan kata 'cerai' yang langsung membuat Kanra mengurungkan niatnya dan hanya meletakkan barang belanjaannya di depan pintu kemudian berbalik arah, menuju kamarnya yang juga merupakan istananya. Rasanya malas sekali untuk pergi ke sekolah hari ini. Toh, Kanra yakin ia pasti diterima di Raira Academy. Walaupun memiliki hobi yang tidak normal, Kanra adalah gadis dengan otak yang cemerlang semenjak kecil. Dengan nilai rata-rata yang tidak pernah di bawah angka 9 dalam semua mata pelajaran, tidak mungkin ia tidak diterima di Raira Academy, kan? Apalagi dengan standar yang tidak terlalu tinggi, Kanra berani menjamin kalau namanya akan ada di deretan atas dalam papan pengumuman nanti. Kanra berniat untuk langsung meloncat ke tempat tidurnya dan mencium kasurnya saat ia masuk ke kamar jika ia tidak mendengar suara isakan dari kamar kedua adik kembarnya, Mairu dan Kururi. Ia berhenti sejenak di depan kamar mereka, kemudian mengetuk pintunya perlahan

TOK TOK

Tidak ada jawaban.

"Hei, Mairu, Kururi, aku masuk, ya?"

Masih tidak ada jawaban.

Kanra menghela nafas. Pasti kedua adik laki-lakinya itu sudah mengangguk di dalam kamar, dan berpikir kalau kakaknya itu mempunyai kekuatan supranatural sehinggan bisa melihat tembus ke dalam tembok kamar. Bagaimanapun juga, kedua adiknya itu masih anak-anak yang tidak pantas mendengar pembicaraan macam tadi. Sebenarnya kedua orangtuanya itu ingin anaknya jadi apa di masa depan, sih?

Hening.

Akhirnya Kanra langsung membuka pintu kamar tersebut, dan menemukan kedua adiknya sedang meringkuk di balik selimut. Mereka pasti menangis, pikirnya. Kanra langsung masuk ke kamar dan menutup pintunya, kemudian berjalan ke arah kedua adiknya yang sedang menangis tersebut.

"Onee-chan?" Mairu –sang adik– menoleh ke arah Kanra sambil tetap memeluk dirinya yang sedang menggigil ketakutan karena mendengar kedua percakapan orang tuanya itu. Dua detik kemudian, Kururi –sang kakak– ikut menoleh ke arah Kanra dengan wajah datar meskipun tetesan air mata masih terlihat mengalir darik kedua mata cokelatnya. Kanra mendudukkan dirinya di antara mereka berdua, dan memeluk kepala kedua adik laki-lakinya, berusaha untuk menenangkan mereka.

"Ayolah, anak laki-laki tidak akan menangis, kan?" Namun perkataannya justru membuat mereka memeluk Kanra dan membenamkan wajah mereka kepada dirinya. Dengan senyum kecil yang tersungging di paras menawan milik Kanra, ia membelai pelan rambut mereka.

"Sst... Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja..."

"Onee-chan?"

"Kenapa, Mairu?"

"Apakah Otou-san dan Okaa-san akan cerai?" Tanya Mairu dengan nada memelas.

Kanra tersenyum dan membelai lembut kepala adiknya. "Tidak apa-apa kok~ Onee-chan sudah bisa kerja, jadi tidak ada Otou-san dan Okaa-san juga tidak apa-apa~"

"...tidak apa-apa?" Giliran Kururi yang angkat bicara.

"Tidak apa-apa~ Kehidupan kita nanti pasti tidak apa-apa. Kita masih bisa hidup bertiga saja, kan?" Ujar Kanra dengan senyum palsunya.

Alis Kururi sedikit berkerut. Sedikit sekali karena hampir tidak terlihat ada perubahan di wajah datarnya. "...bukan itu maksudku."

"Lalu apa maksudmu?"

"Maksud Kuru-nii adalah, Apakah Onee-chan tidak apa-apa?" Ujar Mairu menggantikan Kururi. Kanra terdiam sejenak, kemudian ia mengecup kening kedua adiknya tersebut. "Sekarang masih terlalu pagi untuk bangun, jadi kalian tidur lagi saja, ya? Lagipula kalian masih libur, kan?" Dan Kanra langsung berdiri dan berjalan meninggalkan kamar Mairu dan Kururi setelah mengucapkan "Selamat tidur" dengan suara yang sangat pelan sehingga hampir tidak terdengar oleh mereka berdua. Mairu dan Kururi sangat pahan apa arti dari tindakan tadi. Tindakan tadi menunjukkan bahwa Kanra sama sekali tidak baik-baik saja.

"...Kuru-nii?"

"...kenapa, Mairu?"

"Kuru-nii sependapat denganku?" Kururi mengangguk sebagai jawabannya. Sedetik kemudian mereka menghela nafas bersamaan. "Memang Onee-chan terlalu sabar..."

~Kanra's PoV~

Kalian pikir aku tidak bisa mendengarnya, Mairu, Kururi? Aku bisa mendengar dengan jelas ucapan kalian, tahu?

Terlalu sabar, eh?

Kalian salah, Mairu, Kururi. Kalian salah.

Aku tidak sesabar yang kalian kira.

Memang benar, aku sama sekali tidak baik-baik saja. Walaupun aku sedikit senang karena aku bisa tinggal terpisah dari kedua orangtuaku, aku tidak yakin kalau kita masih bisa hidup baik-baik saja bila hanya bertiga. Tapi harus kuakui aku sangat senang jika mereka berdua bercerai. Mungkin saat orang lain bersimpati atas cerainya mereka, aku justru akan melompat-lompat dan tertawa-tawa kegirangan. Tentu saja, aku sudah muak tinggal bersama pemabuk tua dan penjudi. Memamng aku mencintai seluruh ras manusia, tetapi menururtku mereka bukan manusia.

Mereka iblis.

Dan aku terlahir dari salah satu dari iblis itu. Sebuah kenyataan yang bahkan membuatku ingin muntah. Kalau aku terlahir dari iblis, berarti aku juga iblis, kan? Buktinya mataku yang merah darah ini. Ibuku tidak memiliki warna mata seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana ayah kandungku, tapi menurut foto yang kuambil diam-diam dari album keluarga, ayahku memiliki warna mata emas. Warna emas yang indah, berbeda denganku. Lalu darimana datangnya warna mata merah ini, eh? Barangkali kakekku? Atau nenekku? Entahlah. Ibuku tidak pernah mengizinkan aku untuk mengetahui tentang keluargaku kecuali sepupuku saja. Dasar iblis. Dia membenciku karena aku terlahir dengan warna mata seperti ini. Memangnya aku yang mau terlahir dengan warna mata seperti ini? Asal tahu saja, aku juga tidak bisa bersosialisasi layaknya anak sebayaku karena mataku, tahu? Bahkan aku sering dipanggil menyeramkan oleh teman sebayaku.

Juga sering dipanggil anak yang aneh oleh teman sebayaku.

Anak yang dikutuk.

Anak iblis.

Dan aku berani menjamin saat hari pertama aku masuk Raira, orang-orang disekelilingku juga akan memanggilku itu. Dan mungkin juga umpatan-umpatan yang belum pernah kudengar sebelumnya. Menarik. Aku ingin mendengar apa yang mereka katakan saat melihatku. Sedikit menyakitkan, tapi tak apalah. Toh, apapun yang kulakukan, pasti mereka tetap saja menjelek-jelekkanku. Jadi lebih baik jika aku menjadi aneh sekalian, kan? Biar saja mereka semua mengataiku sepuas mereka. Memang menyakitkan, kurasa inilah jalan terbaik. Manusia memang aneh, tapi justru itu yang membuatku tertarik. Tidak apa-apa aku merasa sakit, sebab mereka semua adalah manusia yang kucintai. Walau mereka semua membenciku.

Walaupun mereka semua menjauhiku.

Walaupun mereka semua mencacimakiku.

Semuanya... kecuali Shinra.

Shinra adalah teman pertamaku, dan juga yang pertama kali membuatku merasa bahwa tidak hanya aku sendiri yang aneh. Orang yang ramah dan murah senyum itu berhasil membuatku merasa lega untuk pertama kalinya. Kalian merasa aku punya perasaan khusus terhadap Shinra? Anggap saja begitu. Memang harus kuakui, diantara semua manusia, dialah yang kuanggap paling spesial.

Entah karena tiba-tiba bangun pagi atau bagaimana, aku menguap. Salahkan si pemabuk tua itu yang menyuruhku untuk membelikan bir untuknya jam 5 pagi. Walaupun aku beruntung, karena aku dapat melihat matahari terbit (aku mencintai pemandangan indah no.2 setelah manusia dan berjalan-jalan di sekitar air mancur (atau lebih tepat jika kalian katakan menari-nari). Omong-omong, aku jadi ingat pemuda yang kutabrak tadi pagi. Pemuda yang kutinggalkan tadi pagi. Jangan salahkan aku karena meninggalkannya, itu karena dia saja yang mematung seperti orang bodoh. Tapi harus kuakui, dia orang yang cukup menarik. Kenapa, kalian tanya? Karena dia satu-satunya orang selain Shinra yang tidak jijik ataupun takut melihat penampilanku.

Mataku yang merah, kulitku yang putih pucat, dan rambutku yang hitam legam ini sering membuatku dikira setan jika aku berjalan-jalan saat malam atau pagi buta. Aku sudah mengira jika dia akan kabur atau memandang jijik kearahku, dan aku sudaj terbiasa karenanya.

Tapi dia tidak.

Dia memang mematung seperti orang bodoh (percayalah padaku, saat itu tampangnya benar-benar seperti orang idiot) tapi ia melihat ke arahku dengan tatapan yang aneh. Tatapan yang terlihat seperti... kagum?

Ah, bodohnya aku.

Mana ada orang yang kagum padaku karena penampilanku? Dan hei, dia laki-laki, tahu? Mana mungkin ia kagum, kecuali jika ia waria. Tetapi tubuhnya atletis dan tegap, jadi kurasa tidak mungkin. Lalu kenapa ia melihatku dengan tatapan seperti itu?

Yah, sudahlah.

Yang jelas saat ini aku ingin tidur dan melupakan masalah-masalah yang terus berputar di kepalaku.

~End of Kanra's PoV~

Raira Academy, 07:15 A.M

Shizuo menatap papan pengumuman, agak takut bila ia tidak diterima masuk ke sekolah ini. Sekolah ini adalah satu-satunya sekolah yang dekat dengan rumahnya. Dengan takut-takut, ia melirik ke papan pengumuman, dan mencarinya namaku di situ.

'Shizuo Heiwajima... Shizuo Heiwajima... ah, ada! Peringkat 20!'

Inner Shizuo berteriak kegirangan bukan main. Wajar, dengan otaknya yang agak kurang cerdas, ujian masuk ini sudah seperti neraka baginya. Dan hasilnya, Shizuo diterima di sekolah ini dan menduduki peringkat 20 diantara sekian ratus orang. Sungguh suatu keajaiban bagi seorang Shizuo Heiwajima. Tidak sia-sia ia meminta Tsukishima, sepupunya, untuk mengajarinya karena diantara keluarga Heiwajima ialah yang memiliki otak yang paling cemerlang.

Angin bertiup cukup kencang, menerbangkan kelopak sakura yang jumlahnya tak terhitung. Memberi sebuah kesan baru bagi para murid-murid. Shizuo memejamkan matanya, merasakan kelopak sakura yang jumlahnya tidak terhitung itu s bergesekan dengan kulitnya dan bajunya. Perlahan matanya terbuka, dan melihat kelopak sakura berterbangan. Hari ini adalah hari terindah sepanjang masa, pikirnya. Diterima di sekolah ini, dengan peringkat 20, dan bertemu dengan gadis cantik tadi pagi. Tunggu dulu, cantik?

Shizuo menggeleng-gelenkan kepalanya dengan kuat. Tunggu dulu! Ia baru pertama kali bertemu dengannya lalu langsung menganggapnya cantik? Bila si playboy itu ada disini, pasti dia akan mengatakan, 'Kau jatuh cinta pada pandangan pertama, Shizuo' dan menggodanya terus-terusan.

Tiba-tiba mata Shizuo menangkap satu sosok. Laki-laki, rambut coklat, berkacamata. Sosok yang Shizuo kenal dengan sangat baik, yang tidak lain tidak bukan adalah Shinra, tetangganya. Pemuda berambut coklat itu terlihat sedang sangat asyik mengutak-atik Handphone-nya.

"Hei, Shinra!" Seru Shizuo. Namun Shinra tidak sedikitpun menunjukkan respon bahwa ia mendengar seruan Shizuo. Shizuo menarik nafas dalam, kemudian ia berteriak, "Shinra!" Dan masih tidak ada respon. Akhirnya Shizuo berjalan mendekati Shinra dan menepuk pundaknya dengan pelan, membuat Shinra terkejut.

"Oh, Shizuo! Jangan membuatku kaget!" Kalimat itu kontan membuat Shizuo sweatdrop. Shinra tidak kaget saat ia berteriak, tapi justru kaget saat Shizuo menepuk pundaknya dengan pelan? Shinra memang aneh.

"Oh, maaf. Kau masuk kesini juga?"

Shinra tersenyum. "Ya, aku memilih masuk ke sini karena suatu tujuan"

"Tujuan apa?" Tanya Shizuo. Dua kata tersebut langsung membuat wajah Shinra memerah.

"Bu-bukan apa-apa, kok!" Shinra berusaha menutupi wajahnya yang merona. "Dan kau masuk kesini juga? Diterima atau tidak?"

"Heh, jangan meremehkanku. Aku diterima di peringkat 20, tahu."

Alis Shinra terangkat naik. "Peringkat 20?"

"Yep." Jawab Shizuo singkat.

Shinra menundukkan kepalanya sebentar, lalu berpikir. "Kau memakai jampi-jampi apa, Shizuo?"

Sebaris kalimat yang seketika langsung membuat Shizuo jengkel. "Hei! Aku ini mengerjakan ujian dengan jujur apa adanya, tahu!"

Shinra tertawa, "Maaf, maaf. Lalu kau diajari siapa?"

"Sepupuku."

"Siapa? Tsugaru?"

"Bukan, kau tidak kenal. Yang penting tadi kau sedang apa? Kau melihat handphone dengan tatapan yang sangat serius seperti itu. Ada sesuatu yang penting?"

"Yah, aku janjian dengan temanku. Dan ternyata ia belum datang, padahal biasanya ia adalah orang yang selalu datang tepat waktu." Shinra menghela nafas, mengingat berapa banyak waktu yang ia habiskan untuk menunggu temannya yang satu itu. "Kami janjian pukul 07:00, namun sampai saat ini dia belum datang."

"Oh? Siapa namanya?"

"Kanra. Kanra Orihara."

"Oh." Jawab Shizuo singkat. "Kalian berdua janjian? Memangnya mau pergi kemana?"

"Tidak ada. Hanya berjalan-jalan sebentar, untuk menghilangkan rasa bosan. Kau mau ikut?"

Dan entah karena ditarik oleh benang merah atau bagaimana, Shizuo menyetujuinya.

~ShizuKanra~

Kanra's room, 07:00 A.M

I'm here, soba ni iru kara. Call me, boku ga iru kara. Trust me...

Bunyi apa itu?

Oh, rupanya bunyi Handphone Kanra. Ia lupa bahwa ia menyetel alarm pada jam 7 pagi.

Kanra membuka matanya dengan malas, dan mengambil handphonenya. Dan seketika rasa kantuknya hilang saat ia melihat SMS dari Shinra yang isinya kurang lebih seperti ini.

From : Shinra

To : Kanra

Subject : Kau ingat, kan?

Hei, Kanra? Kau tidak lupa kalau kita punya janji hari ini, kan?

Kanra menjatuhkan hanphonenya. Ia lupa sama sekali kalau ia ada janji dengan Shinra hari ini.

Jarinya buru-buru menuliskan balasan untuk Shinra, semoga Shinra tidak kelelahan menunggunya.

Kemudian dengan cepat, ia segera menuju kamar mandi, membersihkan dirinya, mengenakan pakaiannya, dan mengambil tas dan handphonenya, kemudian berlari menuju Raira Academy.

Dan entah karena ditarik oleh benang merah atau bagaimana, Kanra berlari sekuat tenaga walaupun ia masih kelelahan.

~ShizuKanra~

Shinra melihat ke layar handphonenya. Ada balasan dari Kanra. Dengan cepat ia membukanya.

From : Kanra

To : Shinra

Subject : Maaf!

Maaf aku lupa sama sekali! Aku ke sana sekarang!

'Sudah kuduga.' Batin Shinra.

"Maaf, Shizuo. Mungkin temanku akan datang sedikit terlambat. Tidak apa-apa kan menunggu sebentar lagi?"

Shizuo mengangguk. "Hmm." Dan entah karena dorongan apa, tiba-tiba ia bertanya, "Memangnya temanmu itu orang yang seperti apa?"

"Eh? Dia orang yang baik dan manis, menurutku!"

Shinra mengedarkan pandangannya ke sekitar sekolah, sampai akhirnya ia melihat ada gadis berambut hitam yang menghampirinya. "Hei, Shizuo! Dia datang!"

"Oh? Mana?"

"Yang itu!" Shinra menunjuk ke arah gadis yang berlari mendekatinya. "Kanra!" Teriak Shinra. Yang dipanggil hanya berlari semakin cepat. Dan perasaan Shizuo saja, atau rasanya Ia pernah melihatnya?

Gadis itu berhenti sejenak di depan Shizuo dan Shinra. Kepalanya menunduk dan tangannya berada di atas lututnya. Setelah mengambil nafas, gadis itu mendongakkan kepalanya yang seketika langsung membuat Shizuo mematung di tempat.

"Maaf, Shinra! Aku terlam–" gadis itu juga mematung di tempat melihat pemuda yang berdiri di samping Shinra.

Dan kedua insan itu pun bertemu...

Pirang bertemu hitam. Mata cokelat bertemu mata merah. Pemuda bertemu dengan gadis. Dan Shinra bingung kenapa mereka berdua langsung saling mematug saat bertemu.

Baik Shizuo maupun Kanra tidak mengerti apa-apa, tetapi yang jelas benang merah takdir telah berhasil mempertemukan mereka berdua.

Sedetik kemudian Shizuo dan Kanra sama-sama berteriak. "Kau!"

~To Be Continue~

A/N:

Yey! Selesai juga! *tebar bunga*

Hweh, lebih dari 2000 kata sendiri? O.O Kok saya nggak nyadar? ShizuKanra memang bikin saya teradiksi, sampe saya nggak nyadar udah 2000 kata sendiri! XD

Terima kasih untuk REdward, Shirasaka Konoe, dannarinmaleslogindihppapahXDyang sudah mereview chapter sebelumnya! Review sudah dibalas di PM! Untuk yang anon, saya balas di sini.

REdward : Ya~ Ini saya bawa ShizuKanra ke fandom Indo~

narinmaleslogindihppapahXD : Ini udah lanjut~ Moga-moga chapter ini bias dinikmati~ (emang makanan?)

Inti kata, bersediakah untuk meninggalka sebuah review kecil?