"Kai, apa kau mau berjanji satu hal padaku?"
"Tentu. Aku pasti akan dengan sangat senang berusaha untuk menepati janjiku padamu. Kau mau aku berjanji apa, Soo?"
"Jangan pernah meninggalkanku. Teruslah disisiku. Selamanya, sampai maut memisahkan kita."
"Aku berjanji, Soo."
Preview last chap:
TES! TES! TES!
"Hiks... K-kai... Hiks, aku merindukanmu pabbo!"
"Permisi, apa aku bisa bertemu dengan anak bernama Kim Jongin disini?"
"Ma-maaf tuan, tuan muda Jongin sudah tidak disini."
"Ah, benarkah? Lalu, apa kau tau dimana dia?"
"Ma-maaf tu-tuan. Ta-tapi, tu-tuan muda Jongin sudah meninggal. Tuan muda meninggal kemarin karena penyakit kanker otak stadium akhir."
"A-APA? Be-benarkah? Di-dimana rumah sakit tempat ia dirawat kemarin sebelum meninggal?"
"Seoul Hospital Center tuan,"
DEG!
.
.
.
Flashback on
"Dari kecelakaan yang terjadi, lemah jantung putri anda menjadi penyebabnya, tuan Do. Dan kecelakaan ini adalah kecelakaan terparah dari Kyungsoo. Aku khawatir, fungsi penglihatannya akan hilang."
"APA DOK?"
"Benturan keras di kepalanya, merusak sel retina dan beberapa sel penglihatan penting lainnya. Kita harus mencari donor mata. Dan juga donor jantung. Jika tidak, walau Kyungsoo bisa bertahan dalam kondisi kebutaannya, tapi kemungkinan dalam 4-5 bulan kedepan Kyungsoo tidak bisa kita selamatkan karena jantungnya yang semakin melemah..."
.
.
"Kris hyung!"
"Ah, kau Jongin. Bagaimana keadaanmu? Kau baik?"
"Aku baik! Tapi aku ingin meminta bantuanmu, apa kau bersedia?"
"Tentu saja Jongin! Kau ini kan sudah kuanggap seperti adikku sendiri, bagaimana mungkin aku tak bersedia membantumu? Apa? Katakan apa yang harus kubantu? Akan kulakukan apapun untuk membantumu, Jongin"
"Hehe, yakso? Baiklah.. ehm... begini hyung, sebenarnya..."
"Haish kau ini lama sekali bicaranya, Jongin-ah! Ne, yakso."
"Dengarkan dulu hyung, kau ini tidak sabaran sekali eoh! Begini, kau punya pasien yang butuh donor mata dan donor jantung kan? Berikan milikku padanya hyung,"
"MWO? ANDWAE! Aku tak akan pernah melakukannya jika itu permintaanmu Jongin! Kau gila?! Kau itu masih bisa sehat Jongin! Jangan pesimis!"
"Haha, ayolah hyung. Aku sudah bertahan hidup 4 tahun. Dan ini sudah sangat baik kan untuk stadium akhir? Aku juga calon dokter hyung, jadi kau tak bisa membohongiku. Berikan milikku padanya hyung. Aku mencintainya, aku mencintai Kyungsoo sejak dulu. Bahkan sejak pertama dia menatap mataku saat dia terpisah dari ayahnya di stasiun 10 tahun lalu. Jangan kecewakan aku hyung. Hanya itu permintaan terakhirku padamu. Oh ya! Aku punya bingkisan untuk Kyungsoo. Tolong serahkan padanya ketika dia sudah bangun nanti ne? Aku sudah cek kondisiku, milikku itu cocok dengan Kyungsoo. Haha, ajaib ya hyung? Mungkin itu yang namanya jodoh, hyung. Kau juga begitu kan, dengan Tao noona? Hehe. Sudah ya hyung, kepalaku terasa agak berat. Aku harus kembali ke kamar. Dan ingat hyung. Jangan beritahukan pada siapapun jika aku yang jadi pendonornya. Gomawo hyung! Aku menyayangimu, sangat menyayangimu! Salam untuk Tao noona, ne? Hehe,"
"Hhh...kau selalu saja begini, Jongin. Bagaimana aku bisa tega tidak mengabulkan permintaan terakhirmu? Tapi aku juga tidak mau kehilanganmu, Jongin-ah! Aku juga sangat menyayangimu, my little brother!"
Flashback off
.
.
.
TBC
alhamdulillah diki-dikit adalah yang review mintak TBC. kalo lanjut lagi, review jangan lupa ne, nanti author lanjut kalo review udah nyampe 20 :). jadi kalo mau tau cerita lanjutannya, review jusseyo! :D
gamsahamnida sudah membaca! :)
*NB:
ide asli milik author, jalan cerita sepenuhnya milik author. no plagiat. kritik dan saran membangun ditunggu! :)
