Kyaaaa saya masih pengen nulis yang sadis-sadis. Gara-gara liat film dari laptop temen aku.
Aduuuhhh gimana donk.
Dan terimakasih sudah membaca dan mereview.
Aku sih udah pasrah aja sama fic ini. Yang penting kesadisan saya bisa tersalurkan (all: WOOOYY)
Ups.. hehehe
Terimakasih minna-san
Aku nggak tau ini sad or happy ending.
Haduuuhhh... beneran. Ada yang minta sad ada juga ada yang minta happy.
Sad, happy, sad, happy, (ngitung kancing)
Oke oke dari pada makin panjang mending langsung aja
^_^ Selamat membaca ^_^
Maaf alur kecepatan dan kata kata yang berbelit-belit
Yaya berjalan menuju kedai tok aba dengan lesu. Karena memikirkan kejadian mengerikan di pulau Rintis ini. Sampai di depan kedai ia melihat gadis yang kemarin mengobrol dengannya dan mengajaknya dan Boboiboy untuk main kerumahnya. Ia adalah Touko Rin. Dan juga Yaya melihat Tok Aba yang sedang membersihkan kedai.
"Selamat pagi tok aba." Sapa Yaya sopan.
"Iya. Yaya boleh titip kedai sebentar?"
"Iya tok. Atok mau kemana?"
"Atok. Mau ambil sesuatu dirumah sebentar."
"Hai.. Rin. Pagi-pagi kau sudah disini saja." sapa Yaya sambil duduk disamping Rin. Rin yang sedang menikamati hot chocolate meletakkan gelasnya dan menyapa Yaya.
"Hai Yaya. ia aku dirumah sendirian sih. Aku bosan jadi aku kesini aja deh."
"Kemana orang tuamu?"
"Ehmm... mereka dinas di luar kota" ucap Rin. Yaya menatap Rin heran,ia heran melihat Rin yang matanya bergerak gerak seperti orang yang mencari alasan. Dan senyuman itu terasa ganjil. Tangannya bergerak-gerak tak nyaman begitu pula kakinya. Yaya menatapnya tajam. Merasa tak enak ditatap seperti itu, Rin membalikkan badannya dan menghadap kearah Yaya.
'Apa yang disembunyikannya? Apa mungkin?"
"Yaya. ada yang salah denganku?" tanya Rin melihat Yaya yang menatap tajam kearahnya. Yaya yang ditanya seperti itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa" ucap Yaya merasa bersalah mencurigai Rin bahwa dialah sang pelaku pembunuhan keji yang terjadi di pulau Rintis akhir-akhir ini. Rin yang mendengar itu tersenyum lebar pada Yaya.
"Ohh... aku fikir aku kelupaan sesuatu. atau dandanan ku ada yang aneh." Ucap Rin sambil mengelus-elus rambutnya.
"Hahaha.. enggak kok. Kamu cantik seperti biasanya."
"Eh.. benarkah? Kau tau kata-katamu tadi mirip sekali dengan orang yang aku kenal dulu. Yang pernah bermain denganku juga. namun sayang ia sudah pergi" ucap Rin murung. Ia menundukkan kepalanya.
Yaya yang melihat itu mengusap kepala gadis didepannya itu. Rin yang merasakan ada yang mengelus rambutnya mendongak dan tersenyum lebar kearah Yaya. Yaya yang melihat senyum Rin mengerutkan keningnya bingung.
"Ada apa?"
"Ah.. tidak dia juga suka mengelus kepalaku. Aku suka itu. Tapi sayang dia harus pergi secepat itu" ucap Rindan kembali menunduk murung.
"Hey... sudahlah. Dia sudah tenang di alam sana." Ucap Yaya menenangkan Rin dan memeluknya.
"Iya.." gumam Rin dan membenamkan wajahnya di pelukan Yaya. Yaya merasa ini adalah pelukan pertama Rin. Ia merasa bahwa Rin tak pernah dipeluk oleh orang lain. Yaya melepaskan pelukannya. Ditatapnya Rin dengan tatapan sayang. Yaya merasa Rin seperti adiknya. Yaya merasa sayang, dan senang dengan perilaku Rin yang kekanak-kanakan.
"Hai.. Yaya. Eh... Rin, kamu sudah disini pagi-pagi seperti ini?"
"Hay.. Boboiboy. Iya aku bosan dirumah sendiri. Nanti kalian jadi nggak pergi kerumahku?" tanya Rin tak lupa dengan senyuman khasnya.
"Eng... Aku tak tau." kata Boboiboy menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Rin yang mendengar jawaban Boboiboy tertunduk lesu. Yaya yang melihat itu mengusap bahunya untuk menenangkan Rin. Boboiboy juga merasa tak enak ia mengambil tempat duduk disamping Yaya dan Rin.
"Sudahlah Boboiboy. Pergilah! Temani Rin." Kata Tok Aba yang baru datang ke kedai.
"Tapi Tok nanti malamkan Boboiboy mau menyeli... auu..." belum tuntas Boboiboy berbicara pada Atoknya, Yaya menginjak kaki Boboiboy.
"Sakit lah.. Yaya!"
"Menye... Apa?" tanya Tok Aba tajam. Rin yang mendengar Boboiboy tadi hanya menatapnya datar.
"Ahh.. Tidak. Boboiboy takut kalau malam pergi. Atok kan tau sendiri."
"Ohh... sekarang saja. kau temani Rin. Kasian dia sendirian dirumah."
"Tapi Atok bagaimana? Nanti kalau kedai ramai bagaimana?"
"Alaaaaahhh... Atok selalu mengerjakan ini semua sendiri. Kau kan selalu pergi patroli."
"Eh.. Iya ya. Bagaimana Yaya?"
"Boleh, Kita pergi sekarang" ucap Yaya dan tersenyum lembut kearah Rin.
Rin menatap perdebatan itu dengan pandangan datar dan berganti dengan senyum cerah ketika mendengar Boboiboy dan Yaya setuju untuk pergi kerumahnya sekarang. Rin segera menghabiskan Hot chocolatenya. Selesai menghabiskan Hot chocolate nya. Rin segera berdiri dan menggandeng tanga Yaya riang. Yaya hanya tersenyum dan mengikuti Rin yang berjalan riang sambil bersenandung riang. Boboiboy juga hanya menggelengkan kepala dan berjalan dibelakang mereka.
"Tok aba kami berangkat dulu"
"Iya. Hati-hati"
Mereka melewati gang-gang sempit dan panjang seperti tetap berjalan denga riang menuju rumahnya sambil menggandeng tangan Yaya. Sampailah mereka di sebuah massion yang cukup besar. Massion itu terlihat berantakan dan mengerikan. Tanaman-tanaman tumbuh tak terurus di halaman rumah itu. Jendelanya tertutup semua dan hanya satu pintu besar di depan massion itu. Massion ini terasa sepi karena tak ada tetangga di sekitarnya.
'Kraakkk,...' suara burung pembawa kematian menambah keseraman bangunan tua itu.
"Ini rumahmu Rin? Kau tak takut tinggal disini sendirian?" tanya Yaya ketika melihat rumah itu.
Rin tersenyum dan berbalik kearah Boboiboy dan Yaya.
"Iya. Maaf jika berantakan yang tinggal aku sendiri sih. Ohh.. aku tidak terlalu takut sudah terbiasa soalnya." Ucap Rin dengan senyuman khasnya. Rin kembali berbalik dan berjalan menuju rumah dan diikuti Boboiboy dan Yaya. Boboiboy dan Yaya saling tatap antara takut dan bingung.
Sesampainya di pintu Rin membuka pintu rumah itu. Terlihat ruang tamu dengan korden besar yang menutupi ruangan lain. Ruang tamu ini terlihat bersih dan terawat. Sofa besar berwarna biru tua yang terlihat elegan. Ada juga lukisan lukisan yang menambah kesan klasik dan elegannya ruangan itu. Tembok di cat biru namun menenangkan. Dengan perapian kecil tanpa foto yang hanya diberi beberapa hiasan lilin dan lukisan-lukisan kecil. Suasana ruangan ini sangat berbeda dengan halaman dan suasan rumah dari depan.
"Rin kau suka warna biru ya?" Tanya Yaya masih terus menatap ruangan itu.
"Iya. karena sama seperti warna rambutku." Kata Rin dengan senyum ceria. "Ayo duduk. Aku buatkan minuman sebentar ya! Jangan masuk ke dalam! Kalian tunggu disini saja!" ucap Rin dan berjalan kearah dalam rumah.
Boboiboy dan Yaya mengambil tempat duduk. mereka menatap heran Rin yang berjalan kedalam namun ketika melewati korden, ia seperti berhati-hatu agara Boboiboy dan Yaya tidak melihat dalam rumahnya.
"Yaya. Kenapa Rin melarang kita masuk? Aku penasaran dengan apa yang ada didalam. Aku mau lihat." Kata Boboiboy. Boboiboy berdiri dan akan berjalan kearah korden. Namun tangannya ditarik Yaya yang menatapnya tajam.
"Tak boleh. Itu tak sopan." Omel Yaya. Boboiboy yang melihat itu hanya memutar matanya dan kembali mendudukkan diri.
Beberapa menit berlalu dan Rin datang dengan 3 cangkir minuman hangat dan meletakkannya di depan Boboiboy dan Yaya.
"Silahkan. Maaf ya kalau tak seenak buatan tok aba. Special hot chocolate tok aba memang terbaik deh.." ucap Rin sengan senyum ceria yang selalu terpatri diwajahnya. Rin mendudukkan diRinya di depan Boboiboy dan Yaya. mengambil cangkir miliknya dan meminumnya. Begitu pula dengan Boboiboy dan Yaya mereka mengambil cangkir mereka masig-masing dan meminumnya seteguk. Meletakkannya kembali dan berbincang dengan Rin.
Rin terlihat sangat ceria dan tertawa bersama Boboiboy dan Yaya. semakin lama Boboiboy dan Yaya semakin mengantuk. Rin menatapnya dan bertepuk tangan ketika melihat Boboiboy dan Yaya yang sudah tertidur. Ia menarik Yaya kedalam rumahnya dan meletakkannya disebuah kamar. Rin mengikat tubuh Yaya pada sebuah kursi yang bisa diputar. Begitu pula dengan Boboiboy yang diletakkan di kamar lain namun hanya ditidurkan diranjang tanpa mengikatnya. Tak lupa Rin mengambil jam-jam kuasa milik mereka dan meletakkannya di dalam brangkas yang ada di masing-masing kamar itu.
Rin mengambil kunci kecil dari brankas yang berisi jam tangan Boboiboy dan kunci-kuci lainnya. Kunci itu sangat kecil. Rin berjalan kearah Boboiboy dan menyentuh pipinya dengan ujung jari-jari tangannya. Dan tertawa senang.
"Kurasa ini akan lebih menarik dari pada yang lalu-lalu." Ucap Rin dan menelan kunci kecil itu.
OooooooooooooO
Boboiboy perlahan membuka matanya. Yang ia lihat pertama kali adalah ruangan yang asing baginya. Ruangan itu terasa mengerikan. Ia mendudukkan diRinya dan menatap sekeliling dan betapa terkejutnya dia saat melihat isi ruangan itu. Ada beberapa kepala bayi yang menggantung di setiap pojok ruangan. Ada juga jari-jari yang menjadi hiasan sebuah cermin besar. Dia melihat disamping tempat tidurnya dan terkejut ketika melihat sebuah mayat wanita yang tidak membusuk namun dadanya dibelah. Dan mata kepalanya yang diukir manis namun tidak mengeluarkan darah. Tangannya hilang entah kemana dan hanya ada kakinya yang terselonjor lurus. Wajahnya tampak terbelalak ketakutan yang abadi.
"Huaa..." Boboiboy terlonjak dan langsung lompat turun dari tempat tidur. menapaki lantai yang dingin. Dilihatnya langit langit yang keadaannya mengerikan seperti tempat lainnya. Disana ada sepasang tangan yang disilangkan membentuk seperti kipas dan berputr-putar kekanan dan kekiri. Ia menatap ke dinding disana tertulis 'DEATH GAME'menggunakan darah. Badannya bergetar hebat.
"Ja-Jadi selama ini..." Boboiboymeraba tangannya dan terkejut ketika mendapati jam tangannya yang tak ada di tangannya. Boboiboy semakin panik, ruangan itu sangat mengerikan. Penuh dengan tubuh-tubuh manusia yang disusun seperti hiasan. Ia segera berlari kearah pintu. Namun pintu itu terkunci, ia memutar mutar kenop pintu itu. 'Yaya?' pikiran Boboiboy semakin panik ketika tidak melihat Yaya di ruangan itu.
"YAYAAA...? KAU DIMANA? YAYAAAAA...?" Boboiboy berteriak memanggil nama sahabat sejak kecilnya itu. Ia mencoba mendobrak pintu itu.
'Ini gawat jika Rin memang pembunuhnya, Kami pasti akan mati. Apalagi jam kuasaku tidak ada.' Pikiran Boboiboy semakin kalut ia masih tetap mencoba mendobrak pintu-pintu itu.
"DENG...DENG...DENG..." suara jam menggelegar di rumah itu.
"Hai.. Boboiboy.. Aku tau kau sudah bangun. Bagaimana kamarku keren kan? Hahahahahaha... Kau mencari Yaya? hahaha dia ada disini tenang saja. Dia bersamaku. Kau mau menyelamatkannya tidak?" terdengar suara seorang gadis dari sebuah speaker di ruangan itu. Suaranya sangat ceria seperti tak terpengaruh dengan ini semua.
"Rin.. LEPASKAN YAYA.. JANGAN KAU APA-APAKAN DIA" teriak Boboiboy memutar tubuhnya guna mencari asal suara.
Hahahaha... Aku takkan apa-apakan dia. Mari main game. Ini menyenangkan lhoooo... Aku beri tahu peraturannya. Kau harus mencari ruangan tempat aku dan Yaya berada. Dan jika kau tidak bisa menemukanku setiap 15 menit aku akan menusukkan pisauku ketubuh Yaya. hahahaha... Bagus kan?"
Mata Boboiboy terbelalak ketika mendengar hal itu. Yaya? dalam lima belas menit? Ini gila.
"TIDAAAKKK... Jangan kau apa-apakan Yaya!"
"Ohh... Kau tidak mau main sama aku ya?" Rin menyahut dengan suara yang murung. Namun segera berganti dengan tawa ceria namun mengerikan secara bersamaan. "Hahahaha... Kalau begitu aku akan membunuhnya sekarang."
"TIDAAAKKK..." Boboiboy kembali berteriak. Ia sama sekali tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Ini pilihan yang sama-sama bisa membunuh Yaya. jika ia menerimanya Yaya akan tersakiti namun jika ia menolaknya Yaya akan mati. 'Apa yang harus kulakukan sekarang?'
"Hahaha.. kita main sekarang. Disana ada brangkas bukan?" mendengar suara dari speaker itu. Boboiboy segera mengedarkan pandangannya diseluruh ruangan dan mendapati ada brangkas kecil yang diletakkan dalam kerangka manusia yang hanya tinggal tulang rusuk dan tulang belakangnya.
"Disana ada jam kuasamu dan kunci untuk membuka rumah ini serta brangkas tempat jam kuasa Yaya berada. Brangkas jam kuasa Yaya ada diruangan tempatku dan Yaya berada. Kunci brangkas itu telah ku telan. Jadi jika kau ingin keluar kau harus membunuh dan membelahku." Boboiboy semakin bergetar. Ini gila. Dia harus membunuh dan membelah seseorang untuk keluar dari sini? Ini benar-benar gila. Rin benar-benar sudah gila.
"Kunci pintu ruangan itu ada di salah satu kepala bayi yang ku gantung. Kurasa ada dimulutnya. Oke semua sudah aku jelaskan sekarang.. GAME DIMULAI... hahahahahhaha" ucap Rin. Dengan segera Boboiboy mencari kunci pintu itu. Dengan wajah yang pucat pasi dan tubuh yang bergetar hebat. Boboiboy mencari kunci itu dan menyelamatkan temannya.
OooooooooooO
Sementara itu ditempat Yaya. Terlihat Yaya yang terikat di kursi dengan tangan yang diikatkan kebelakang dan kaki yang diikat dikedua kaki kursi. Matanya tertutup, pertanda bahwa ia masih belum sadar. Perlahan mata Yaya terbuka, dan kepalanya yang tadi tertunduk mendongak. Hal pertama yang dilihatnya adalah tubuh seorang gadis berambut panjang yang kepalanya tertancap tongkat besi tajam tepat di dahi yang menyangganya tetap di dinding dan tangan yang membentang juga tertancap tongkat besi. Tubuhnya di gambari dengan benda tajam membentuk goresan-goresan dalam yang terlihat rapi dan sangat cantik bila tidak digoreskan ketubuh manusia. Kakinya tergantung begitu saja namun dengan ukiran-ukiran seperti tubuh atasnya.
"Kyaaaaa..." otomatis Yaya berteriak. Ia sangat ketakutan dan mencoba melepaskan diri. Namun tangan dan kakinya sama sekali tak bisa digerakkan. Nafasnya terengah-engah dan wajahnya pucat pasi. Rin yang tadinya sedang tiduran diranjang sambil memainkan jantung yang direndamnya kedalam toples kaca langsung berdiri dan menghampiri Yaya.
"Kau sudah bangun?" ucap Rin langsung berdiri dan berjalan sambil melompat-lompat senang kearah Yaya.
Yayamenutup matanya. Ia sangat takut dengan apa yang di depannya. Ia tak menanggapi perkataan Rin dan tubuhnya bergetar hebat.
"Hahaha.. Buka matamu Yaya. lihat kamarku kerenkan?" tanya Rin sekali lagi dan menyentuh dagu Yaya. didongakkanya kepala Yaya menghadap ke tubuh manusia itu. Yaya masih menutup matanya, ia masih tak berani menatap tubuh itu.
"Yaya. Jika kau tidak membuka matamu aku akan menusuk matamu dan mencongkelnya keluar!" ancam Rin dingin sambil menyentuhkan sebuah pisau kecil ke mata Yaya. namun tidak sampai menggores mata itu. Yaya yang merasakannya langsung membuka matanya, tubuhnya bergetas semakin hebat. Ketika melihat Rin membawa pisau yang telihat sangat tajam dan mengacungkannya kearah Yaya.
"Hahaha... Kau pintar sekali Yaya." ucap Rin tertawa puas.
"Kau tahu? Ini lah orang yang kusebut tadi pagi. Namanya mei. Dia cantik kan?" ucap Rin yang berjalan kearah tubuh gadis itu dan mengelus pipinya. "Ada juga. Lihat kemari.." kata Rin berjalan dengan ceria kearah sisi dinding yang lain. Yaya memutar kepalanya menatap sisi dinding yang ditunjukkan Rin. Terlihatlah disana seorang pemuda yang terlihat tampan jika ia masih hidup. Tangannya di sangga membentang dengan ditusuk besi tajam berwarna hitam. Jika gais tadi ditusuk keningnya untuk membuatnya tetap mendongak. Pemuda ini di paku kepalanya menggunakan baja yang diikat ujungnya dan digantungkan seperti jam dinding. Tubuhnya sangat mengerikan. Matanya dicongkel dan hilang entah kemana. Dan dadanya seperti di sentuhkan dengan besi panas dan membentuk lambang cinta. Tangan dan kakinya juga masih ditusuki oleh jarum-jarum yang terlihat seperti landak. Wajahnya ditulisi 'LOVE' dengan benda tajam.
"Ini pacar pertamaku. Namanya rey.. Dia keren dan tampan kan?" ucap Rin menyentuk pipi pemuda itu dan mengelus-elusnya lama. "tapi sayang sekali dia berselingkuh. Padahal dia keren." Gumam Rin pada diRinya sendiri.
"Hahahaha...Ahhh.. Kau lihat disana." Ucap Rin dan segera berlari kecil kearah Yaya dan memutar kursi Yaya menghadap ke ranjangnya. Disana lebih mengerikan lagi. Ada seorang gadis kecil berumur sekitar 5 tahunan. Yang tangan, kaki, pinggang dan lehernya diikat dan digantung dinding atas ranjang. Wajah gadis kecil itu seperti meleleh dan tidak membentuk wajah. tubuhnya di gamari dengan coretan-coretan tak berarti. Disisi-sisi ranjang yang biasanya tersusun kayu. Sekarang diganti dengan potongan potongan tubuh yang bervariasi. Seperti tangan, kaki, kepala, badan dan sebagainya. Ada juga seorang Gadis cantik yang tangan yang membujur kebawah dan kakinya juga. seperti sebuah guling. Yaya menatap gadis itu lama
"Gadis ini. Aku tak tahu namanya. Dia terlalu imut. Aku iri dengannya jadi dia tak boleh memiliki wajah itu." Ucap Rin ceria. Dia berjalan dan memeluk tubuh manusia yang terbujur diranjangnya. "Dia kakakku.. Namanya Touko Shilla. Dia cantikkan? Ahh... Yang lain hanya gelandangan-gelandangan yang aku dan kakakku rayu untuk datang kerumahku. Kau tahu? Aku sangat suka menghias kamarku. Dulu aku selalu melakukannya dengan kakakku ini. Tapi dia mati duluan sihh 1 bulan yang lalu.. hahahaha... hal yang paling menyusahkan adalah memumikan tubuh-tubuh ini agar tetap seperti ini. tapi aku dan kakakku bisa membeli sebuah cairan yang bisa membekukan mayat. Ahh... aku senang sekali. Tapi sayang kakakku tak bisa menikmatinya juga."
"Shilla? Jadi dia kak Shilla?" ucap Yaya dengan bibir bergetar. Ia benar-benar takut sekarang. Kak Shilla yang perhatian dan sering mengajaknya bicara. Dia sosok kakak yang di idam idamkan oleh Yaya. namun Shilla menghilang 5 bulan yang lalu.
"Heeeee... Kau mengenal kak Shilla ya? hahahaha.. yah.. Kak Shilla memang melarangku keluar. Kau tahu? Aku lebih dari kak Shilla. Aku tak bisa menahan diriku. Jadi kak Shilla melarangku pergi keluar." Ucap Rin sambil terus mengelus pipi kakaknya.
"Tap-tapi rumah kak Shilla kan?"
"Ohhh... Kau juga pernah ke rumah kecil itu? Yah itu rumah kak Shilla. Disana normal tapi disini berbeda. Ini tempat yang paling sering di kunjungi kak Shilla sebenarnya. Dia selalu membawa beberapa orang dengan mobilnya kesini. Dan tentu saja mereka hanya gelandangan sihh. Mereka dengan bodohnya menerima ajakan kak Shilla yang kalian kenal sangat perhatian dan sering memberikan para gelandangan itu makanan. Padahal mereka hanya berakhir sebagai pajangan disini. Hahahaha" ucap Rin tertawa senang dan mendekati Yaya.
"Kau mau tahu bagaimana aku memancing mereka?" ucap Rin kembali memutar kursi Yaya menghadap ke 2 tubuh manusia yang dipajang tadi.
"Kak Shilla pernah mengajakku pergi ke luar kota dan seperti kalian mereka mau berteman denganku begitu saja. yahh.. memang mereka tak secepat kalian mau ikut pergi dengan kami. Kami perlu 1 bulan penuh untuk bisa mendapat kepercayaan mereka. Hahahaha... Apalagi Rey. Dia terlalu percaya bahkan sampai menembakku dan menjadikanku pacarnya. Tapi sayang sekali aku melihat Rey bergandengan tangan dengan cewek lain. Hahahahaha.. dan kau mau tahu tidak dimana cewek itu?" tanya Rin pada Yaya. Tidak sampai Yaya menjawab pertanyaan Rin. Rin sudah berjalan menuju sebuah lemari yang tampak usang. Dia membuka lemari itu dan terlihatlah seorang gadis dengan luka bakar di tubuhnya namun tidak semua. Kakinya benar-benar hancur seperti di tusuki besi panas. Rambutnya tinggal sedikit dan seperti dibakar. Kedua bahunya ditancapi besi dengan panjang sekitar 30 cm. Wajahnya meleleh setengah. Tubuhnya benar-benar mengerikan seperti disiksa sampai mati.
"Hahaha.. teriakannya benar-benar melengking sampai aku harus menusuk mulutnya juga dengan besi panas. Ohh... aku ingat sekali."
"Jad-Jadi?" tubuh Yaya semakin bergetar dan air mata jatuh dari kedua bola matanya.
"Sttt...Jangan menangis" melihat Yaya menangis Rin menghapus air mata Yaya dan meletakkan jari telunjuknya di bibir Yaya.
"Game baru dimulai Yaya" bisik Rin tepat ditelinga Yaya.
TBC or Disc
KYYAAAAAAA... ini apa? (menatap kosong ke layar)
Ini kecepeten banget alurnya.
Oh.. jika kalian bertanya kenapa saya tulis dirumah seperti ini?
Ini saya dapat inspirasi ini dari salah satu anime favorit saya. kalian tau nggak? (ALL: enggak...)
Ehh... (ALL: pengen tau)
Haaaa #sweatdrop... oke abaikan yang diatas
Ini terinspirasi dari Akame Ga Kill episode 1. Saat Aria merayu para gelandangan dari desa untuk bisa datang kerumahnya dengan makanan dan tempat tinggal. Tapi sampai dirumah Aria dan keluarganya menyiksa gelandangan-gelandangan itu di sebuah gudang tua dirumahnya. Bahkan Sayo dan Ieasu pun sampai mati juga. apalagi matinya Sayo.. huaaa kasian banget Cuma gara-gara rambutnya lembut dan terawat dia disiksa sampai mati.
Loh? Kok aku malah menceritakan anime? Yahh.. pokoknya itu deh...
Pengennya cuma Rin doank. Tapi kupikir-pikir bakalan aneh deh kalo Cuma Rinyang notabene seumuran sama BBB dan Yaya. truss mayatnya sebegitu banyaknya. Jadi aku tambah Shilla yang lebih dewasa jadi enak buat korban-korban yang berhasil dirayu mereka lalu disiksa.
Ini kacau banget sumpah... saya beneran nggak tau kalo jadinya malah kayak gini.
Yahh... mau gimana lagi otak saya lagi penuh sama ulangan sihh...
Game akan dimulai di chapter depan (mungkin).. hahaha
Oh.. okay minna-sama review please
