"Hale, Derek Hale, manusia serigala yang menggigitmu?" tanyaku, agak tidak percaya.

"Ya, dan dia berbahaya! Kau tidak boleh ada di dekatnya!" seru Scott.

Aku gugup seketika. Bukan gugup bagaimana, sih, hanya saja aku tidak tahu yang dikatakan kakakku itu benar atau tidak. Scott sayang padaku, aku tahu itu, dan ia selalu ingin membuatku aman dari segala sesuatu. Aku paham dia khawatir padaku, dan aku ingin percaya padanya. Tapi ... Hale yang berbuat baik padaku dua malam berurut-urut itu ... oke, mungkin dia manusia serigala dan telah menggigit kakakku. Namun, berbahaya? Jika ia memang berbahaya, kenapa aku bisa sampai di rumah dengan selamat selama dua malam kemarin?

.

.

Disclaimer: Jeff Davis
Warning: Tidak menjanjikan Lime / Lemon, rated M hanya untuk bahasa yang agak menjurus. Sayangnya ffn tak ada rate T+. Berusaha mengikuti alur canon. Agak Mary-sue. Seperti sinetron.

.

The Sister
Chapter 2

by Fei Mei

.

.

Hari Sabtu, sekolah libur, tapi para anggota tim Lacrosse tetap disuruh datang. Scott mengajakku untuk ikut ke sekolah, ia terlalu cemas kalau harus meninggalkanku di rumah sendirian. Jadi aku ikut pergi dengannya dan Stiles, berniat menunggu mereka di perpustakaan.

Aku benar-benar melewatkan waktu di perpustakaan. Sepertinya hanya aku saja pengunjung ruangan penuh buku itu hari ini. Jelas saja, ini kan hari libur. Jam demi jam telah berlalu. Kulihat jam dinding, dan kupikir sudah seharusnya aku berangkat ke cafe, aku ada shift hari ini.

Sambil berjalan keluar dari gedung sekolah, aku memikirkan bagaimana aku bisa ke cafe. Aku tidak mungkin meminta Stiles mengantarku dengan jip—kupikir dia akan mau antar, tapi aku tidak bisa membayangkan hukuman pelatih untuknya. Scott apalagi, ia sangat ingin jadi pemain inti dan aku tidak tega membuatnya melewatkan uji coba Lacrosse yang ia tunggu-tunggu. Aku melihat ke tempat parkir, ada sepeda Scott. Bisa, sih, aku mengendarai sepeda. Tapi kalau mengingat jarak dari sekolah ke cafe serta teriknya matahari ... aku tidak yakin.

Lydia. Kucoba untuk menghubungi gadis itu, dan ia menjawab di dering ketiga. Kutanyakan padanya kalau ia bisa mengantarku ke cafe, dan ia bilang tidak ingin melewati latihan Jackson hari ini serta tak lupa minta maaf. Dengan rasa agak berat hati, aku memutus sambungan telepon setelah bilang 'tidak apa-apa'.

Pada akhirnya aku memutuskan untuk naik taksi—berharap saja ada taksi yang lewat dekat sekolah. Baru saja aku berjalan tidak jauh dari gerbang luar sekolah, sebuah mobil menepi kepadaku. Jendela tengah mobilnya terbuka dan aku bisa melihat Allison di dalamnya.

"Val? Mau ke mana?" tanya gadis itu.

"Aku mau mencari taksi di depan," jawabku sambil tersenyum.

"Pa, antar Val dulu, ya?" pinta Allison pada pria yang membawa mobil.

"Tentu, masuklah," ujar papanya Allison dengan ramah dan tersenyum.

Sambil mengucapkan terimakasih, aku naik mobil dan duduk di bangku tengah—di samping Allison. Di depan kami ada Mr Argent yang membawa mobil, dan sebelahnya ada seorang wanita berambut pendek yang kupikir adalah mamanya Allison. Kedua orangtua Allison melempar senyum padaku, dan aku membalasnya. Kemudian aku menyebutkan nama jalan tempat cafe aku bekerja itu berada. Aku tidak menyebut nomor jalan, tidak menyebut soal cafe juga. Sejujurnya, berbeda dengan Scott, aku tidak ingin orang lain—tentunya selain Scott, Stiles, dan mama—tahu soal kerja sambilanku. Tentang Lydia, ia pernah sekali tidak sengaja datang ke cafe tempat aku bekerja saat sedang shift-ku, jadi ia juga tahu soal kerja sambilanku.

"Kenapa kau sampai harus cari taksi? Mana Stiles? Dan Scott?" tanya Allison sambil menoleh padaku ketika mobil sudah benar-benar keluar dari jalanan sekolah.

"Lacrosse, ada uji coba hari ini dan aku tidak tega membuat mereka gagal tanpa mencoba," jawabku sambil mengangkat sebelah bahu.

"Lydia bilang biasanya kau menunggu mereka di perpustakaan," ujar gadis itu.

"Yah, hari ini aku ada kerja sambilan, jadi aku harus meninggalkan sekolah duluan," kataku.

"Oh, jadi biasa sehabis sekolah kau tidak langsung pulang ke rumah? Kerja dulu?" tanya papanya Allison, Mr Argent. "Kuyakin orangtuamu senang punya anak yang rajin sepertimu—aku bukan menyinggungmu, Allison."

Wajahku merona merah karena dipuji seperti itu. Huh, aku memang tidak pernah terbiasa untuk mendengarkan kata pujian. "Ah, aku hanya ingin membantu mamaku saja, aku tidak ingin dia bekerja terlalu berat."

Mr Argent mengangguk dan aku bisa melihat ia tersenyum.

"Kau bekerja sebagai apa?" Kini giliran Mrs Argent yang bertanya.

Gawat. "Uh, aku bekerja di ... semacam rumah makan. Di dalam gang kecil, tidak bisa masuk mobil jadinya mobil parkir di luar, makanya aku hanya menyebut nama jalan." Sejak kapan aku pandai berbohong? Tapi untungnya memang ada gang kecil di sekitar cafe, jadi aku tidak seratus persen bohong. Dan sebenarnya aku tidak begitu menjawab pertanyaan Mr Argent—ia tanya soal aku kerja sebagai apa, bukan di mana.

Kemudian sepanjang perjalanan, tidak ada pembicaraan yang terjadi di dalam mobil. memasuki daerah tempat cafe berada, aku langsung meminta Mr Argent untuk menepikan mobilnya dekat suatu gang kecil. Gang ini ada di deretan cafe dan aku bisa ke gang samping cafe lewat gang yang ini.

Aku mengucapkan terimakasih pada Allison dan papanya, lalu turun dari mobil. Dengan cepat aku masuk ke dalam gang, berjalan agak cepat—secepat yang aku bisa malah, tapi bukan berlari.

Sampai di cafe, aku langsung menaruh barang-barangku di loker dan ganti baju. Kuambil nampan, dan aku mulai melayani tamu di depan.

Menjelang malam, kurang lebih sejam sebelum cafe tutup, tamu sudah berkurang. Dan karena aku menganggur, jadinya aku membantu cuci piring di dapur. Tapi belum selesai mencuci, Daisy tiba-tiba masuk ke dapur dan memanggilku.

"Ada apa?" tanyaku.

"Ada tamu, dan dia bilang hanya ingin dilayani olehmu," jawab Daisy sambil menyengir.

Aku mengerutkan kening. Siapa? Aku tidak tahu. Kuharapkan bukan orang mesum.

Daisy melihatku yang memasang ekspresi penuh pertanyaan. "Itu, tuh, yang menolongmu dari pria mesum!"

Tersentak, aku nyaris menjatuhkan piring yang ada di tanganku. "Hale?"

"Cepat, cepat! Jangan membuat dia menunggu terlalu lama!" kata Daisy.

Dengan cepat aku mengangguk. Jadi aku segera mencuci tanganku yang penuh degan gelembung sabun cuci piring, lalu melap. Setelah itu aku langsung keluar dan menghampiri meja Hale yang ada di sudut ruangan, ia tampak sedang membaca daftar menu.

Gawat. Baru saja tadi pagi kakakku menyuruhku agar jangan ada di dekat Hale, malam ini malah pemuda ini yang menghampiriku. Kalau Scott bukan manusia serigala atau manusia serigala tidak punya indra penciuman yang begitu kuat, mungkin tidak akan masalah. Dan—astaga, jaket Hale! Uuuhh, kenapa aku bisa sampai lupa, sih?! Padahal aku sudah janji untuk mengembalikan jaket itu ketika ia datang di shift-ku!

"Hale," sapaku pelan.

"Hei, kau baik-baik saja?" tanyanya, memerhatikan wajahku.

"Aku baik-baik saja," jawabku. "Ada banyak pikiran, tapi tidak masalah. Jadi kau ingin pesan apa?"

"Kopi hitam saja," ujarnya.

"Oke, tunggu sebentar."

Lalu aku langsung kembali ke dapur. Kuambil cangkir, piring cangkir, gula, sendok, dan kopi bubuk, lalu aku memasak air. Daisy memang meminta para pelayan untuk menyiapkan air putih, teh, dan kopi sendiri-sendiri. Para tamu yang baru pertama kali datang tentu tidak tahu soal ini, jadi mungkin mereka akan kaget jika hari ini dan besok ketika datang dilayani dengan pelayan yang berbeda, kopi dan atau teh mereka akan terasa berbeda.

Usai menyiapkan kopi, aku meletakkan cangkir itu ke atas nampan. Berjalan dengan hati-hati keluar dari dapur. Huh, aku paling takut membawa minuman di atas nampan, takut itu akan tumpah. Waktu pertama kali Daisy menyuruhku jadi pelayan, mungkin ada sekitar sepuluh gelas atau cangkir yang pecah karena aku tidak hati-hati, atau mungkin ada dua puluh minuman yang tumpah dari tempatnya.

Sampai di meja Hale, dengan hati-hati aku mengangkat piring cangkir yang di atasnya ada cangkir berisi kopi itu sendiri, dan meletakkannya di meja.

"Kau ingin pesan yang lain?" tanyaku.

"Tidak, terimakasih."

Aku mengangguk kecil dan berusaha tersenyum, lalu kembali ke dapur.

Selama satu jam setelahnya, aku berada di dapur. Ada sekitar tiga juru masak di cafe ini, dan ketiganya sudah tidak ada kerjaan, tidak ada yang memesan makanan lagi, jadinya kami mengobrol. Daisy datang dan bilang kalau kami sudah boleh pulang. Aku langsung ganti baju dan mengambil barang-barangku. Setelah berpamitan dengan para pekerja dan Daisy sendiri, aku keluar lewat pintu belakang seperti biasa.

Setelah melewati gang samping cafe, aku melihat sebuah mobil masih terparkir di tempat parkir cafe. Itu adalah mobil yang sama yang pernah menungguiku dua hari lalu. Hale juga ada di sana. Mungkin ia sudah tahu kalau aku akan keluar lewat gang ini, makanya ia langsung menoleh padaku. Kuputuskan untuk menghampirinya.

"Aku lupa bawa jaketmu," ucapku jujur.

"Tidak masalah," katanya sambil mengangkat sebelah bahu. "Pulang sekarang?"

Aku bimbang. Kakakku pasti akan marah kalau ia tahu aku pulang diantar Hale lagi, tiga malam berurut-urut pula. Tapi Hale sudah menungguiku di sini, dan tidak sopan kalau aku menghiraukannya. Jadi aku mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Hale. Ia langsung membuka pintu mobil untuk mempersilakan aku masuk, lalu ia sendiri duduk di bangku sebelahku.

"Kau sudah tahu?" tanyanya ketika kami keluar dari tempat parkir. "Tentang aku manusia serigala?"

Aku mengangguk. "Tentang kau yang telah menggigit kakakku juga sudah tahu."

"Tidak, aku tidak menggigitnya," ujar Hale. "Aku memang manusia serigala, tapi bukan aku yang menggigit Scott."

Dengan bingung aku menatap pemuda di sampingku. Sambil terus fokus dengan jalan yang ada di depan, Hale menjelaskanku soal Alpha, Beta, dan Omega dalam istilah manusia serigala. Tentang mata Alpha berwarna merah, orang yang menjadi manusia serigala karena digigit Alpha menjadi Beta, dan bagaimana seorang Beta bisa menjadi Omega. Ia bilang bahwa dirinya dan Scott adalah Beta—bedanya adalah Scott kena gigit, sedangkan Hale sejak lahir. Hale sendiri katanya kembali ke Beacon Hills karena ingin mencari si Alpha.

"Kenapa kau mencari Alpha itu?" tanyaku.

"Dia telah membunuh kakakku, mungkin." jawabnya.

Hale tidak lagi menjawab dengan tenang, tidak seperti saat ia menjelaskan soal Alpha, Beta, Omega. Ia agak menggeram, kupikir topik soal kakaknya adalah hal sensitif buatnya. Baiklah, lain kali kalau aku bersama dengannya lagi, aku tidak akan membahas apa pun yang mungkin akan berhubungan dengan kakaknya.

Jadi setelah Hale bilang Alpha telah membunuh kakaknya, aku tidak mengucapkan apa-apa lagi. Tapi kupikir dari cara jawab pemuda ini, jelas bahwa ia ingin balas dendam, ingin membunuh si Alpha.

Keheningan tercipta sampai mobil Hale tiba di depan rumahku. Kuucapkan terimakasih pelan padanya dan tersenyum kecil, lalu turun dari mobil. Tanpa menoleh ke belakang, aku langsung masuk ke dalam rumah. Hari ini mama dapat shift malam, jadi aku tidak perlu ke ruang tengah untuk mencarinya.

.

.

Aku tertidur dengan sangat nyenyak. Begitu aku membuka mataku, sinar matahari sudah bisa sedikit menembus tirai jendelaku. Dengan malas aku duduk di ranjang, melihat ke arah jam dinding. Sudah jam delapan pagi. Jam delapan. Gawat aku telat ke sekolah!

Langsung saja aku melompat bangun dari ranjang, tapi tiba-tiba aku ingat kalau hari ini hari Minggu, tidak ada sekolah. Tapi tumben sekali, sudah lewat dari jam tujuh tapi mama maupun Scott tidak membangunkanku. Dan ... yah, tidurku itu mungkin kelewat nyenyak, ini pertama kalinya aku bangun sesiang ini, biasanya paling lambat aku terbangun jam tujuh—itu pun kalau kemarin malamnya begitu kelelahan.

Jadi aku mandi, berpakaian dan turun ke lantai satu, menuju dapur. Di sana kulihat ada kakakku dan Stiles, bersama dengan penggorengan di atas kompor yang menyala. Scott seperti sedang menggoreng sesuatu, Stiles sedang memotong-motong sejumlah bahan makanan. Dan aku bisa melihat asap di atas panci serta menangkap bau gosong.

"Apa yang sedang kalian berdua lakukan?!" pekikku, buru-buru menghampiri Scott.

Scott dan Stiles langsung memperlihatkan wajah gugup dan menjawab bersamaan. "Membuat sarapan ... ?"

"Maksudnya, kalian sedang membuat telur gosong sebagai sarapan?" tanyaku, sambil mengambil paksa spatula yang ada di tangan kakakku.

Aku segera mematikan kompor dan membuang setiap bagian yang gosong dari telur itu—nyaris semuanya gosong, sih. Dan aku melihat cukup banyak kulit telur yang dibuang di tempat sampah, tapi tidak ada satu pun kulihat telur yang benar-benar jadi. Dengan kata lain ... dari tadi Scott berusaha menggoreng telur dan tidak ada yang berhasil.

"Apa yang sebenarnya ingin kalian buat? Dan sudah berapa banyak butir telur yang terbuang?" tanyaku.

"Sandwich telur," jawab Stiles, memperlihatkan sayuran dan roti yang ia potong dengan berantakan.

"Mungkin aku sudah mencoba sekitar empat butir telur," jawab Scott. "Gosong semua."

Kuhela nafas berat, lalu kusuruh kedua remaja yang lebih tua setahun dariku itu untuk duduk di kursi meja makan. Kubilang pada mereka agar aku saja yang membuat sarapan.

Scott sudah duduk di kursi, lalu ia berdiri lagi. "Biar kubantu—"

"—Duduk, Scott," perintahku, dan kakakku menurut, ia langsung duduk lagi.

Tidak sampai tiga puluh menit kemudian, aku sudah selesai membuat membuat beberapa potong sandwich telur. Sayuran yang dipotong Stiles memang berantakan, tapi setidaknya itu tidak hancur dan masih bisa dipakai. Rotinya pun sayang kalau dibuang begitu saja, jadi aku membuat sandwich-nya kecil-kecil, mungkin setiap orang bisa makan sampai tiga potong.

Setelah menyodorkan tumpukan sandwich ke depan mereka berdua, aku mengambil tiga cangkir dan membuat teh. Tidak sampai sepuluh menit kemudian aku sudah duduk dengan Scott dan Stiles.

"Tidak sia-sia kau kerja di cafe," ujar Stiles lalu ia menyeruput tehnya.

"Kau ada shift hari ini?" tanya Scott.

Aku menggelengkan kepalaku. "Aku bebas hari ini. Kalian ada latihan Lacrosse nanti?"

"Iya. Huh, padahal hari ini hari Minggu, kemarin pun sudah latihan," dengus Stiles. "Kau mau ikut kami ke sekolah lagi? Mungkin mau ke perpustakaan?"

"Boleh juga," jawabku.

Selesai sarapan, Stiles dan Scott membereskan dapur—setidaknya mereka harus membereskan kekacauan yang mereka buat di dapur. Aku naik ke lantai dua dan mengambil tas dikamar. Kuambil ponsel dan dompet, kumasukkan keduanya ke dalam tas. Kusiapkan buku-buku perpustakaan yang ingin kukembalikan, membaca daftar buku yang diberikan pustakawan untuk melihat judul buku menarik mana yang belum kubaca. Setelah itu aku memakai sepatu sneaker hitam dan menyambar jaket dalam lemari.

Jaket. Aku melirik ke jaket yang tergantung di belakang pintu kamarku. Jaket Derek. Kapan aku bisa mengembalikannya? Yah, semoga saja saat aku ada shift, aku tidak lupa untuk membawanya.

.

.

Sampai di sekolah, kami bertiga turun dari jip Stiles. Kedua pemuda itu langsung ke lapangan, sedangkan aku masuk ke gedung sekolah sambil menggendong buku-buku perpustakaan. Sekolah memang tutup saat liburan, tapi tetap buka walau hari Sabtu dan Minggu, untunglah.

Aku masuk ke dalam perpustakaan. Tidak ada pengunjung, wajar sih. Pustakawan sedang asyik bermain ponsel ketika aku datang. Mungkin karena ia bosan duduk di sana terus. Ia tersenyum saat melihatku datang dan menaruh ponselnya di meja. Aku membalas senyumannya dan kukembalikan buku-buku yang kubawa. Selanjutnya aku berjalan menghampiri tiap rak, mencari buku-buku menarik yang belum kubaca.

Mungkin sekitar empat puluh menit kemudian aku baru duduk di kursi. Kuletakkan lima buku yang baru kuambil dari rak di atas meja. Kuambil salah satunya dan mulai membaca.

Entah berapa lama waktu telah berlalu. Ketika aku telah selesai membaca buku kedua, ponselku berbunyi. Aku langsung meraih tas dan mengambil ponsel dari dalamnya. Ada pesan masuk dari Scott.

'Dari Scott
Kami sudah selesai. Kau di mana?
'

Aku langsung mengetikkan balasannya.

'Kepada Scott
Perpustakaan. Tunggu sebentar.
'

Lalu aku langsung membereskan buku-buku itu. Ponselku bergetar lagi, kuambil dan lihat ada pesan lagi dari kakakku.

'Dari Scott
Biar kami yang ke sana.
'

Menyerngit aku membaca pesan itu, tapi setelahnya aku memasukkan ponsel ke dalam tas, mengambil dua buku untuk kupinjam. Setelah penjaga perpustakaan menandai buku yang kupinjam, pintu ruangan terbuka, kulihat Scott dan Stiles datang.

"Hai, sudah?" tanya Scott sambil tersenyum.

Penjaga perpustakaan menyodorkan buku yang kupinjam. Kuucapkan terimakasih padanya, lalu tersenyum pada kakakku. "Sudah."

Jadi kami bertiga keluar dari gedung sekolah dan naik jip Stiles. Selama perjalanan pulang, Stiles bilang kenapa aku yang sangat suka baca buku bisa berteman dengan Lydia, sedangkan ia sendiri yang berteman denganku tidak bisa berteman dengan gadis itu. Aku hanya menyengir, karena memang aku tidak tahu jawabannya.

Sampai di rumah, aku bilang terimakasih pada Stiles sebelum turun dari jip dengan kakakku, kemudian kami berdua turun dan masuk rumah.

.

.

Hari Senin, selama seharian aku mendapat kelas yang sama dengan kakakku dan Stiles. Tapi kami sama sekali tidak bertemu Allison di kelas. Dia masuk sekolah, kok, kami sempat saling lempar senyum saat bertemu mata di kantin, hanya saja jadwal kelas kami berbeda. Kupikir Scott tidak sekalipun menangkap bayangan gadis itu dari pagi, makanya ia terlihat begitu kesal.

"Kau bisa menungguinya di tempat parkir," usulku ketika bel pulang sekolah akhirnya berbunyi dan kami bersiap keluar kelas. "Dia masih anak baru, kupikir dia belum ikut klub apa pun, jadi mungkin ia akan langsung pulang. Dan kalau memang dia akan pulang, ia pasti ke tempat parkir."

Kakakku tersenyum sambil menatapku dengan tatapan 'aku tak berpikir sampai ke sana'. "Jenius! Oke, Stiles, kau ke lapangan duluan. Dan Val, eh, kau akan ke perpustakaan seperti biasa?"

Aku mengangguk sebagai jawaban pertanyaan kakakku. Lalu ia memelukku dengan cepat dan langsung keluar kelas duluan.

Di perpustakaan, aku mengambil tiga buku dari rak, kali ini bukan buku kimia melainkan novel fiksi-ilmiah. Kulihat Boyd sedang duduk seorang diri di salah satu kursi, dan kursi sebelahnya kosong. Tersenyum, aku menghampiri pemuda itu.

"Hai, Boyd," sapaku.

Boyd mendongak lalu tersenyum padaku. "Val."

Jadi lagi-lagi aku menghabiskan waktu di perpustakaan sambil mengobrol dengan Boyd. Kalau waktu itu kami sedang asyik mengobrol lalu Scott mengirim pesan ke ponselku, kali ini Lydia yang mengganggu obrolanku.

'Dari Lydia
Non, ke rumahku sekarang untuk ambil oleh-oleh dari Paris?
'

Aku segera mengetik balasan pesan itu.

'Kepada Lydia
Boleh. Tapi bukankah kau sedang menonton Jackson latihan?
'

Tidak lama kemudian Lydia membalas.

'Dari Lydia
Sesuatu terjadi, kuceritakan nanti. Aku sudah di mobil.
'

Segera aku mengucapkan sampai jumpa pada Boyd dan membawa tiga buku yang tadi kuambil untuk diberi cap. Setelah itu aku buru-buru keluar perpustakaan sambil mengirim pesan pada Scott bahwa aku akan ke rumah Lydia. Tanpa menunggu balasan pesan dari kakakku, aku berjalan cepat ke tempat parkir, mencari mobil Lydia. Begitu mataku menangkap mobil gadis itu, aku segera menghampirinya. Kubuka pintu mobil dan duduk di dalamnya.

"Ada apa?" tanyaku ketika mobil sudah jalan.

"Sedikit kecelakaan saat latihan tadi," jawab Lydia. "Kakakmu menabrak Jackson dengan cukup keras sampai Jackson harus dibawa ke rumah sakit."

Aku terperanjat. "Separah itu?! Dan kau tidak ke rumah sakit?"

Lydia mengangkat bahu. "Finstock melarang. Jadi kupikir kebetulan aku jadi bisa menyerahkan oleh-oleh buatmu."

Aku meneguk ludah. "Ng, kau tidak menculikku karena kakakku mencederai pacarmu, kan?"

"Jangan bodoh," kata Lydia sambil menyengir.

.

.

Aku ada di rumah Lydia sampai hari gelap. Tadinya kami hanya berniat serah terima oleh-oleh, tapi malah keasyikkan mengobrol tanpa memerhatikan jam. Pada akhirnya Lydia pun mengantarku pulang ke rumah.

Sampai di rumah, aku langsung naik ke lantai dua, hendak melewati kamar Scott yang pintunya sedang terbuka. Mama ada di dalam dan kudengar ia sedang berbicara dengan kakakku. Tidak begitu terdengar jelas topik pembicaraan mereka, tapi aku bisa menangkap mama bertanya apa Scott mengonsumsi obat-obatan atau tidak.

Menyerngit, aku bingung, kenapa mama menanyakan hal itu? Jadi aku memutuskan untuk menyapa keduanya di kamar itu.

"Putri mama sudah pulang," ujar mama sambil tersenyum kemudian memelukku.

"Kalian sedang membicarakan apa?" tanyaku.

"Oh, tentang pertandingan Lacrosse hari Sabtu ini," jawab mama. "Mama akan minta izin untuk libur shift malam hari Sabtu ini, soalnya itu adalah pertandingan pertama kakakmu."

Pertandingan pertama kakakku? Maksudnya, ia akan ikut main? "Kau berhasil jadi pemain inti?!"

Scott mengangguk dan menyunggingkan senyum kecil. Berbeda dengan senyumnya, aku mengembangkan senyum super lebar di wajahku, berlari kecil ke kakakku yang sedang duduk di ranjang untuk memeluknya dengan erat. Dia membalas pelukanku. Kemudian aku teringat, mama bilang ia akan ambil libur Sabtu ini, apa itu tidak apa?

"Tapi, ma, kau yakin akan ambil libur?" tanyaku memastikan.

"Oh, ya, ampun, sesaat tadi Scott baru saja menanyakan hal yang sama, kalian memang kakak-adik yang kompak," ujar mama agak terkekeh. "Mama yakin sayang, mengambil libur sehari tidak akan membuat kita terpuruk ... berlebihan."

"Aku bisa ambil shift tambahan sebelum hari Sabtu sebagai gantinya kalau mama perlu," ujarku.

"Tidak." Mama dan Scott kompak sekali melarangku, mereka mengatakan kata itu bersamaan.

"Kita akan baik-baik saja, dan lagi kau serta Scott pun sebenarnya tidak perlu sampai ikut bekerja demi keluarga kita, mama masih punya cukup tenaga untuk memberi makan kita bertiga. Mama tidak ingin membiarkan kalian mengambil alih tugas mama untuk mencari uang," kata mama.

"Kami hanya ingin membantu, Ma, sama seperti kau mencemaskan kami, kami pun cemas kalau kau bekerja terlalu banyak," jawab Scott.

Lalu mama agak terisak sambil tersenyum. Ia menghampiri kami yang ada di ranjang kakakku, ia memeluk kami berdua. "Mama sangat beruntung punya kalian berdua."

Setelahnya mama keluar dari kamar, meninggalkan kedua anaknya di kamar yang sulung. Aku meminta Scott menceritakan apa yang terjadi di lapangan tadi siang, serta memastikan kalau memang tadi ia membuat Jackson cedera. Kakakku pun menceritakan semuanya. Pelatih Finstock yang hobinya meneriaki anggota tim, dia yang—katanya—tidak sengaja menabrak kasar Jackson, kemudian Stiles menariknya ke ruang loker agar kakakku bisa menenangkan diri tapi Scott malah menyerang sahabatnya itu.

"Kau mau membunuh sahabatmu sendiri?!" pekikku, berusaha agar tidak terlalu berteriak sampai terdengar mama.

"Aku tidak tahu, rasanya aku sangat kesal di lapangan tadi, dan ingin membunuh siapa saja yang mengangguku. Dan di ruang loker itu hanya ada aku dan Stiles, untung Stiles cerdas, ia menyemprotku dengan gas pemadam api," jawabnya.

Jantungku berdetak agak cepat. Entah karena perkara kakakku bisa menjadi manusia serigala saat kesal, atau karena orang yang kusukai nyaris dibunuh kakakku. Tapi aku berusaha menyunggingkan senyum. "Ingatkan aku untuk jangan membuatmu kesal, Scott."

Scott membalas senyumku dan ia mencium puncak kepalaku. "Kau tidak pernah membuatku kesal, Val, dan aku tidak akan bisa kesal padamu."

.

.

"Bisakah kau mengenakan rok yang agak lebih panjang sedikit?" tanya Scott ketika ia masuk ke dapur, sedang aku sedang menyiapkan sarapan. "Kau memang cantik, Val, tapi rok itu hanya menutup bagian pantatmu saja."

"Tolong katakan itu padaku di hadapan Lydia, Scott," ujarku. "Jangan lupa kalau sembilan puluh sembilan persen isi lemari bajuku adalah pemberian dia, yang ia paksa aku untuk pakai. Untuk hari ini pun ia sudah berpesan untuk pakai baju yang seperti apa."

Kakakku menghela nafas berat. "Baiklah, tapi aku ingin selama kau pakai rok itu hari ini, kau akan ada di dekatku dan atau Stiles. Kalau ingin jalan dengan Lydia, harus ada kami juga. Aku ingin menjagamu dari tatapan menyebalkan anak-anak lelaki."

Aku menyengir sambil meletakkan dua porsi sarapan di atas meja makan. "Maksudmu seperti tatapanmu pada Allison?"

"Itu beda," dengus Scott, lalu kami mulai menyantap sarapan.

Scott bilang hari ini Stiles akan menjemput kami dengan jipnya. Uh, untunglah. Bayangkan saja kalau aku harus naik sepeda dengan rok super mini ini. Dasar Lydia, kenapa ia hobi memberikanku baju minim?

Sekitar tiga puluh menit kemudian kudengar pintu depan terbuka. Kupikir itu pasti Stiles, dia punya kunci rumah kami. Dan benar juga, ia menghampiri kami di ruang makan. Aku langsung mengambil piring dan gelas kosong untuk kucuci.

Kudengar Stiles bersiul pelan. "Kaki yang bagus, Val."

Aku agak menoleh ke arah Stiles sambil terkejut. Lalu kulihat Scott menjitak kasar kepala sahabatnya, Stiles pun berkata 'maaf'. Sungguh, pagi-pagi begini Stiles sudah membuat wajahku merona merah akan perkataannya. Dasar.

.

.

Usai sekolah, aku kebingungan untuk pergi ke cafe. Aku tidak bisa minta Lydia untuk mengantarku, karena ia sudah langsung pergi ke rumah sakit untuk menjenguk pacarnya. Scott ada latihan, dan aku tidak ingin menganggu latihannya yang sudah menjadi pemain inti. Kalau Stiles, aku tidak yakin. Tentu saja aku ingin diantarnya. Hell, gadis mana yang tidak mau diantar oleh orang yang dia suka? Tapi kupikir Stiles pasti sedang di lapangan untuk jaga-jaga kalau kakakku mulai berubah jadi manusia serigala lagi.

Aku tidak punya teman laki-laki lain selain Stiles. Dan Scott pun sudah bilang selama aku pakai rok ini, ia tidak ingin aku bersama dengan orang lain selain mereka berdua. Gawat, bagaimana ini?

"Miss McCall?"

Aku menoleh ke asal suara. Itu adalah suara seorang guru yang tanpa ekspresi. Mr Harris.

"Mr Harris," sapaku.

"Kau belum pulang?" tanyanya.

"Saya harus kerja sambilan dulu," jawabku. "Dan berpikir untuk mencari taksi di depan gerbang."

Mr Harris mengangguk. "Akan kuantar. Ikut aku."

Aku agak terperangah mendengar perkataan itu. Tapi karena aku bingung bagaimana bisa pergi ke cafe, jadi kuturuti saja. Sambil mengikuti Mr Harris ke tempat parkir, aku mengirim pesan pada Scott bahwa aku akan ke cafe diantar sang guru kimia.

.

.

"Val, kita sudah mau tutup cafe lho," kata Daisy, menghampiriku yang sedang mencuci piring di dapur.

"Oh?" ujarku, dengan nada bertanya. Maksudku, kalau memang sudah mau tutup, kenapa ia memberitahuku begitu? Dan tidak hanya ada aku di dapur saat ini, tapi Daisy mengucapkan kalimat itu hanya padaku.

"Pangeranmu belum datang!" pekik Daisy cemas.

"Pangeran?" tanyaku.

"Itu, yang pernah menolongmu dari orang mesum!" jawab Daisy.

"Oh, Hale? Memang kenapa?" tanyaku lagi.

"Kupikir dia akan datang lagi hari ini," jawab Daisy sambil mengerucutkan bibirnya. "Dia hanya datang di shiftmu, aku tidak pernah melihat dia datang kalau kau tidak ada shift."

"Bukankah dia sudah sering datang sebelumnya?" tanyaku sambil menaikkan sebelah alis.

"Tidak! Pertama kali aku melihatnya adalah di hari kau ditolongnya!" jawab Daisy.

Begitukah? Aneh. Aku pun baru bertemu dengan Hale hari itu, tepatnya pada siang hari. Kemudian malamnya ia muncul di cafe. Apa itu kebetulan? Atau sebenarnya dia adalah penguntit? Tidak, tidak ada penguntit yang akan menyelamatkan gadis yang ia ikuti saat si gadis mendapat perlakuan mesum.

"Mungkin ... dia sedang sibuk?" kataku pada Daisy.

Sang pemilik cafe mengangguk, mungkin ia masih belum puas akan jawabanku, tapi ia tetap meninggalkanku dengan piring-piring kotor. Daisy meminta beberapa pekerja yang sudah menganggur untuk membantunya membersihkan cafe. Ia bilang aku boleh langsung ganti baju dan pulang kalau sudah selesai dengan piring kotor.

Setelah semua selesai, aku ganti baju dan berpamitan dengan para pekerja. Aku keluar dari cafe lewat pintu belakang seperti biasa. Padahal musim panas, tapi aku bisa merasakan hawa dingin pada kakiku. Yah, mungkin karena rokku begitu pendek.

Rok pendek. Aku baru ingat. Hale tidak datang ke cafe hari ini, berarti ia tidak akan mengantarku pulang malam ini. Jadi sambil berjalan melewati gang samping cafe, aku merogoh ponsel dalam tasku, berniat menelepon Scott atau Stiles untuk menjemputku. Tapi baru aku membuka kunci ponselku, tiba-tiba sebuah mobil hitam masuk ke tempat parkir cafe. Itu bukan mobil yang asing buatku, itu mobil Hale. Kenapa dia baru datang ketika cafe sudah tutup?

Setelah mesin mobil itu mati, Hale turun dari mobil dan langsung berjalan cepat dengan kakinya yang panjang itu menghampiriku yang agak mematung di tempat aku berdiri.

"Hei," sapanya. "Aku tidak terlambat, kan?"

Aku agak tercengang. Terlambat? Jelas saja ia telat, ia baru datang saat cafe sudah tutup. "Eh, cafe-nya sudah tutup beberapa saat lalu."

"Tapi kau masih di sini, berarti aku tidak terlambat," ujarnya, sambil agak menyunggingkan senyum kecil.

"Maaf?" tanyaku.

"Aku datang ke mari untuk menjemputmu, mengantarmu pulang ke rumah," katanya. "Aku ada urusan tadi siang, jadi tidak sempat masuk cafe, makanya aku baru datang sekarang."

Tercengang lagi, kupikir aku bisa meleleh kapan pun. "Kau datang hanya untuk menjemputku?"

Hale mengangguk. "Pulang sekarang?"

Kini giliranku yang mengangguk. Aku pun berjalan menuju mobilnya. Hale membukakan pintu untukku dan aku masuk ke dalamnya. Ia berjalan dengan cepat dan duduk di kursi pengendara, mulai menyalakan mesin mobil.

Aneh, pikirku. Aku baru bertemu dengan Hale lima hari lalu, belum sampai seminggu, tapi ia sudah mengantarku sebanyak ... empat kali: tiga kali dari cafe, sekali dari rumah Lydia. Namun aku tidak merasa takut padanya. Oke, pertama kali bertemu dengannya di hutan memang membuatku merinding, tapi setelah itu ia selalu menatapku dengan lembut. Dan perlakuannya malam ini bisa membuat gadis mana pun tersentuh.

Scott menyuruhku untuk menjauhinya. Tapi aku tidak melihat sisi bahaya dari Derek Hale, kecuali fakta ia adalah seorang manusia serigala. Jika dia memang berbahaya, aneh sekali kalau aku masih hidup saat ini, padahal ia punya banyak kesempatan untuk membunuhku selama lima hari ini.

Kemudian aku teringat soal jaket Hale. Hari ini aku membawanya dalam tasku. Tadinya aku sempat merasa sia-sia membawanya karena kupikir ia tidak akan ke cafe hari ini. Tapi karena sekarang ada dia yang membawa mobil, akhirnya aku bisa mengembalikan jaket yang ia pernah pinjamkan padaku waktu Jumat malam.

Kuambil jaketnya dari dalam tas dan kusodorkan padanya. "Nih, jaketmu. Hari ini aku berhasil ingat untuk membawanya. Terimakasih."

Pas ketika aku menyodorkan jaket pada Hale, kami terkena macet, jadi Hale menghentikan mobilnya. Kemudian ia mengangguk dan mengambil jaket itu. Tapi bukannya ia menyimpan jaketnya, ia malah merentangkannya lalu meletakkannya di atas kedua pahaku.

"Kupikir kakimu pasti kedinginan," ujarnya.

Aku menatap jaket Hale yang kini menutupi kedua pahaku, setelahnya melirik pemuda itu. Aku menangkap ia sedang menatapku dalam-dalam. Tapi tidak lama kemudian ia menjalankan mobil lagi. Oh, lampu rambu lalu lintasnya sudah hijau.

Sampai di depan rumah, aku mengembalikan jaket Hale, mengucapkan terimakasih karena telah mengantar dan meminjamkanku jaketnya lagi.

"Selamat malam, Hale," ucapku sambil menyunggingkan senyum kecil dan bersiap membuka pintu mobil.

Tetapi belum aku membuka pintu mobil, Hale memanggilku. "Val." Aku pun menoleh padanya. "Derek. Panggil aku Derek."

Aku tersenyum lagi. "Selamat malam, Derek."

Dan aku turun dari mobilnya. Ia tidak langsung pergi ketika aku menutup kembali pintu mobil. Ia baru mengendarai mobilnya pergi ketika aku membuka pintu rumah.

Aku langsung naik ke lantai dua. Begitu hendak melewati kamar kakakku, kulihat lagi-lagi pintunya tidak tertutup. Kali ini pintu kamar itu terbuka sedikit.

Kuintip sedikit ke dalam dan melihat kakakku sedang mengobrol dengan Stiles lewat video call. Setelah itu aku berniat masuk ke kamarku. Baru mau meninggalkan pintu kamar Scott, aku mendengar suara seruan Stiles.

"HAI VAL!" serunya.

Aku menoleh ke dalam kamar Scott lagi, melihat wajah terlihat begitu dekat dengan layar laptop kakakku sambil melambaikan tangannya. Kulihat kakakku juga menoleh padaku dan tersenyum. Kubalas senyum mereka berdua. Scott bangkit dari kursinya. Aku tahu, ia akan membuka pintu kamarnya lebih lebar untuk memelukku.

Benar juga, ia memelukku dan mencium puncak kepalaku. Tapi begitu ia melepas pelukannya, ia menatapku dengan tatapan menyelidik. Oh, tidak, jangan sampai ia sadar kalau aku habis diantar pulang oleh Derek!

"Apa?" tanyaku pelan.

"Tidak, tidak apa-apa, mungkin hanya perasaanku saja," jawab Scott. "Kau sudah makan malam? Mau langsung istirahat?"

"Aku sudah makan di cafe. Dan ya, aku ingin langsung mandi dan tidur," jawabku.

Lalu aku mengecup pipi kakakku, melambaikan tangan pada Stiles, meninggalkan kamar kakakku, dan masuk ke kamarku sendiri.

Masuk kamar, aku langsung meletakkan tasku di kursi, meletakkan semua bukuku di atas meja. Setelahnya aku langsung mandi. Sekitar lima belas menit kemudian aku masih asyik di kamar mandi, tiba-tiba aku mendengar suatu suara. Itu seperti suara benturan yang cukup keras, seakan ada barang yang jatuh. Tapi kupikir itu bukan suara dari dalam kamarku, sepertinya dari kamar Scott.

Tidak ingin terlalu cemas, sebenarnya, tapi mengingat bahwa kakakku sekarang sudah bukan manusia normal lagi, aku jadi khawatir. Aku langsung mematikan air shower, mengambil handuk dan membalutkannya di tubuhku. Setelah itu aku pergi ke kamar kakakku yang pintunya masih tidak tertutup. Lewat celah pintu aku melihat di layar laptop Scott sudah tidak ada wajah Stiles lagi, tapi Scott sendiri tidak terlihat berhadapan dengan layar.

Kubuka pintu kamar dan mulai masuk ke dalamnya. "Scott?"

Aku agak terperanjat saat melihatnya ada di samping lemari.

"Val?" tanya kakakku, sepertinya dia juga kaget melihatku. "Kenapa kau ... dengan handuk?"

"Tadi aku sedang mandi, lalu aku mendengar seperti suara benturan dari kamarmu," jawabku. "Jadi aku langsung kemari. Kau baik-baik saja?"

"Ya, ya, aku baik-baik saja," ujar Scott.

"Wajahmu tidak terlihat kau baik-baik saja," kataku.

Scott mengerang. "Oke, jadi tadi Derek ke mari."

"Derek? Derek Hale?" tanyaku memastikan. Oke, aku tahu dia tadi datang, maksudku dia mengantarku sampai rumah. Tapi ke mari, maksudnya ke kamar ini? Kamar kakakku?

"Ya, dia, dia mengancamku untuk tidak main di pertandingan Lacrosse Sabtu depan," jawab Scott. "Suara benturan yang kau dengar itu mungkin adalah saat dia mendorongku ke dinding."

"Ya ampun, dia mendorongmu? Kau baik-baik saja?" tanyaku cemas sambil memegang lengannya. "Dan kenapa dia mengancammu?"

"Sewaktu uji coba kemarin aku nyaris ... berubah jadi manusia serigala, ingat?" ujarnya.

"Oh, kejadian kau mendorong Jackson sampai ia harus dibawa ke rumah sakit itu?" tanyaku.

"Iya, itu," jawab Scott. "Kemarin saat insiden itu terjadi, Derek ada di sana dan melihat semuanya. Kemudian ia bilang kalau aku yang belum bisa mengendalikan diri ini bermain Sabtu depan, mungkin aku akan berubah jadi manusia serigala. Pemburu akan membunuhku dan mungkin Derek juga akan mereka bunuh."

Tunggu. Apa? Pemburu? Ada pemburu? Mereka memburu apa? Manusia serigala? Kenapa aku baru mendengar soal ini?

"Pemburu?" tanyaku.

"Aku belum bilang soal pemburu?" Scott tanya balik.

Akhirnya Scott menceritakan soal pemburu yang memanah lengannya waktu malam Jumat, malam di mana harusnya ia mengantar Allison pulang dari pesta Lydia. Scott bilang Hale memberitahunya bahwa para pemburu selama berabad-abad telah memburu manusia serigala. Dan yang paling membuatku kaget adalah, salah satu dari para pemburu yang mengejar Scott waktu itu adalah papanya Allison, Mr Argent, yang pernah mengantarku dengan mobilnya.

"Omong-omong, Val, sejak kapan kau memanggil Derek Hale dengan 'Derek'? Bukankah kau selalu menyebut dia dengan nama marganya?" tanya Scott, menyelidik.

Deg.

Oke, itu antara pertanyaan karena ia penasaran, atau karena ia curiga. Aku tidak bisa berbohong, aku tahu itu. Aku tidak bisa bohong karena: satu, memang aku tidak pandai berbohong; dua, karena menurut artikel-artikel tentang manusia serigala yang ditemukan Stiles di internet mengatakan bahwa para manusia serigala bisa mendengar detak jantung manusia sehingga mereka bisa tahu sang lawan bicara sedang berbohong atau tidak.

Aku meneguk ludah dengan susah payah sebelum akhirnya aku menjawab. "Sejak malam ini."

Itu bukan bohong. Memang benar aku baru menyebut nama Derek Hale dengan nama depannya malam ini, tepatnya saat turun dari mobil Derek. Jadi aku tidak bohong.

Scott mengangguk, lalu bilang kalau aku harus segera kembali ke kamarku, melanjutkan mandi atau pakai baju, ia tidak mau aku sampai masuk angin. Kuturuti perkataan kakakku dan kembali ke kamarku.

.

.

Keesokkan harinya, aku duduk di sebelah Allison saat pelajaran bahasa Prancis. Kulihat gadis cantik itu meletakkan blazernya di atas meja. Seingatku, itu adalah blazer yang sama yang ia kenakan saat ke pesta Lydia. Allison sadar aku memerhatikan blazer itu, lalu agak mendengus pelan.

"Kau ingin tanya juga bagaimana aku bisa mendapatkan ini?"

Aku menggeleng. "Tidak, sebenarnya. Tapi ... 'juga'?"

"Kakakmu menanyakan soal blazer ini. Aneh juga, dari mana dia bisa tahu kalau aku sempat ketinggalan blazer ini waktu Jumat?" ujar Allison.

"Lalu kau jawab apa?" tanyaku.

"Kubilang kalau mungkin Lydia yang menaruh ini di lokerku. Ia pernah menebak nomor kunci lokerku dengan benar, jadi mungkin memang dia," jawab Allison, lalu ia tersenyum padaku. "Oh, kau ingin nomor kunci lokerku juga? Maksudku, mungkin suatu saat aku akan minta tolong untuk mengambil barang di sana saat aku sendiri tidak bisa."

"Kalau kau ingin memberitahuku, silakan saja," balasku.

Allison tersenyum lagi dan memberitahukanku nomor sandi lokernya, sekalian kami bertukar nomor ponsel.

Kelas bahasa Prancis adalah kelas terakhirku hari ini. Jadi begitu bel tanda kelas berakhir berbunyi, aku langsung bersiap-siap pulang. Aku langsung mendatangi loker dan mengambil buku yang kupinjam dari perpustakaan saat jam istirahat tadi. Kulihat ke seberang lokerku, sepertinya kakakku dan Stiles belum mendatangi loker mereka. Hari ini seingatku mereka bilang tidak ada latihan Lacrosse, berarti salah satu dari mereka berdua bisa mengantarku ke cafe.

Sepuluh menit aku menunggu di depan loker Scott, tapi yang punya loker tak kunjung datang. Akhirnya aku menelepon ke ponselnya.

Pada dering kedua, aku mendengar suara Scott dari ponsel. "Val?"

"Kau di mana? Aku sudah menunggumu di loker," kataku.

"Eh, aku sedang menuju tempat parkir, aku harus pergi ke suatu tempat," ujar Scott dengan nada terburu-buru.

Lalu aku dengan cepat berjalan menuju keluar gedung sambil terus berbicara lewat ponsel. "Kau harus pergi? Kau tidak akan mengantarku ke cafe?"

Hening sesaat, aku tidak mendengar balasan kakakku. Tapi kemudian ia berbicara lagi. "Astaga! Ya, ampun, Val, aku lupa! Oke, kalau begitu, eh, aku akan segera mengantarmu setelah urusanku selesai. Bisa ke parkiran sekarang?"

"Sebentar lagi sampai," kataku, berjalan semakin cepat ke parkiran.

Aku segera memutuskan sambungan telepon begitu sosok Scott terlihat dengan mobilnya—mobil mama. Ia langsung merangkul pundakku dan mencium keningku dengan cepat, lalu kami masuk mobil.

Scott mengendarai mobil dengan cepat, ia mengebut. Aku tidak tahu ia ada urusan apa, di mana, dengan siapa. Lebih lagi, aku bingung kenapa Stiles tidak ikut. Kakakku kemudian menepikan mobilnya di pinggir jalan. Aku tidak tahu ia akan berjalan kemana, tapi ini adalah tempat Stiles memarkir jipnya sewaktu kami mencari Inhaler Scott beberapa hari lalu di hutan.

Saat kakakku akan turun dari mobil, aku juga siap membuka pintu. Tiba-tiba Scott melarang dan bilang kalau aku harus menunggu di mobil. Tapi kubilang kalau aku tidak ingin tinggal sendirian di dalam mobil. Akhirnya Scott pun memperbolehkanku ikut dengan syarat tidak boleh jauh darinya. Setuju.

Kami masuk ke dalam hutan. Aku bersyukur kali ini aku tidak pakai alas kaki dengan hak tinggi. Tapi tetap saja aku takut kakiku diserang nyamuk dan serangga lain karena aku pakai terusan yang panjangnya sedikit di atas lutut.

Lalu kami tiba di daerah properti pribadi keluarga Hale. Kami berhadapan dengan sebuah bangunan yang berwarna coklat tua-hitam yang keadaannya tidak sesuai sebagai tempat tinggal—menurutku begitu. Sepertinya rumah itu bekas terbakar, tapi kenapa masih ada di sini? Kenapa tidak dibongkar? Kakakku memanggil Derek Hale. Oh, ini rumah Derek? Rumahnya yang terbakar enam tahun lalu itu? Jadi Derek kembali ke Beacon Hills dan tinggal di rumahnya yang bekas terbakar, wow.

Derek tidak langsung muncul ketika Scott memanggilnya, tapi kakakku langsung meminta orang itu agar menjauh dari Allison walau tak ada yang muncul. Ya. Hanya Allison. Dia tidak minta untuk orang lain, seperti aku misalnya.

Yang punya rumah muncul, lalu keduanya berbicara. Usai itu Scott sambil mendengus berjalan meninggalkan tempat itu sambil menyuruhku ikut dia. Dengan ragu aku melirik punggung Scott yang berjalan menjauh dari rumah keluarga Hale, lalu aku melirik ke arah Derek Hale sendiri yang ternyata sedang menatap lekat padaku.

Wajahnya terlihat begitu keras saat berbicara dengan kakakku tadi, tapi saat ini wajahnya melembut padaku. "Kau kerja hari ini?"

Kuanggukkan kepalaku. "Iya, kakakku akan mengantarku ke sana setelah dari sini."

"Kau harus simpan nomor ponselku," kata Derek. "Jaga-jaga, kalau kau butuh sesuatu, atau kau butuh bantuan soal Scott, atau kau ingin kujemput saat kakak dan temanmu tidak sempat."

Tersenyum, aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas, dan Derek menyebutkan nomor ponselnya. Kucoba untuk menelepon ke nomor yang baru kusimpan itu, dan terdengarlah dering ponsel dari saku celana Derek. Pemuda di hadapanku itu merogoh ponselnya, melihat layarnya dan tersenyum. Saat itu juga aku langsung memutuskan teleponnya, dan Derek menyimpan nomorku.

Tiba-tiba aku mendengar suara Scott yang menyerukan namaku. Dia pasti kebingungan karena aku masih belum mengikutinya berjalan keluar dari hutan.

Aku menggigit bibir. "Uh, aku harus segera menyusul Scott," kataku. "Selamat siang, Derek."

Lalu aku melambaikan tanganku yang masih memegang ponsel pada Derek. Setelah itu aku berjalan cepat menuju keluar hutan. Belum lama aku berjalan, kutemukan Scott yang sepertinya berencana berjalan kembali ke rumah Hale untuk mencariku. Dan karena ia telah menemukanku, ia segera menggandengku keluar dari hutan, masuk mobil, dan menyetir cepat ke cafe tempat aku bekerja.

.

.

"Vaaall~" panggil Daisy.

Saat ini aku sedang menyeduh tiga cangkir teh untuk tamu yang tadi kulayani. Daisy menghampiriku dengan mata berbinar-binar, seakan ia adalah gadis kecil yang baru mendapat sekantung penuh permen.

"Ya?" tanyaku.

"Pangeranmu sudah datang! Dia bilang hanya ingin dilayani olehmu!" ujar Daisy senang.

"Daisy, dia bukan pangeranku, dan namanya adalah Derek, jadi kau tak usah menyebutnya sebagai pangeran lagi," kataku sambil memasukkan gula ke dalam tiga cangkir teh.

"Oh, kau tahu namanya? Dia pacarmu, Val?" tanya Daisy, sepertinya ia benar-benar sedang senang sekarang.

"Bukan!" hardikku, gugup. "Dia ... eh, teman kakakku. Makanya aku kenal dia!"

"Hmmm, tentu saja," kata bosku sambil terkekeh. "Cepat antarkan teh-teh itu, dan segera layani Derek."

Aku mengangguk. Kebetulan tiga cangkir teh ini sudah selesai, jadi langsung kuletakkan ketiganya di atas nampan dan kubawa keluar dari dapur dengan hati-hati. Setelah mengantarkan ketiga cangkir teh, aku menghampiri meja Derek yang ada di paling pojok. Ini ketiga kalinya ia datang ke dalam cafe dan duduk di sudut sana.

"Derek," sapaku, dan ia menyunggingkan senyum kecil. "Mau pesan apa?"

"Kopi hitam," jawabnya.

Menyerngit, aku bertanya, "Kau tidak khawatir sulit tidur nanti?"

"Kafein tidak begitu memengaruhiku," ujarnya.

Tersenyum, aku meninggalkan meja Derek dan masuk lagi ke dalam dapur, menyiapkan kopi hitam untuknya. Aku baru mulai mengaduk kopi, tiba-tiba aku mendengar suara ribut dari ruang makan. Daisy yang ada di dapur buru-buru ke luar, sedangkan para pekerja selain aku yang ada di dapur—tiga koki, dan seorang pelayan lain—melongokkan kepala mereka untuk melihat apa yang terjadi. Setelah selesai dengan kopi Derek, aku ingin ikutan melihat apa yang terjadi di depan. Tapi tidak kelihatan, keempat orang yang sudah lebih dulu melongokkan kepalanya menghalangi pandanganku.

"Ada apa di depan sana?" tanyaku akhirnya, menyerah karena tidak bisa melihat apa yang ada di depan.

"Pangeranmu sedang menghajar dua orang sekaligus!" seru seorang koki.

Pangeran? Maksudnya Derek? Tapi kenapa Derek menghajar dua orang itu?

Jadilah aku menerobos untuk bisa ke ruang makan. Aku menghampiri sudut ruangan, melihat ada Daisy, Derek, dan dua orang yang seingatku tadinya duduk di depan meja Derek—dua tamu tersebut duduk di lantai dan wajah keduanya memar.

"Apa yang terjadi?" tanyaku, cemas.

Derek memalingkan wajah dariku, sedangkan Daisy menatap galak Derek. Setelah itu Daisy menatapku, ia seperti berusaha melembutkan matanya padaku. "Derek ini bilang bahwa dua tamu itu mengatakan hal-hal yang tidak pantas soal dirimu, jadi ia menghajar keduanya."

Kutatap pemuda ini dengan rasa tidak percaya. Aku tahu lewat artikel yang didapat Stiles bahwa seluruh indra manusia serigala akan lebih tajam dibanding manusia biasa, termasuk indra pendengaran—sekalipun hanya bisikan, manusia serigala bisa mendengarnya. Tapi, benar hanya karena mendengar hal buruk? Seriusan? Apa memang manusia serigala akan punya emosi yang mudah meledak?

Daisy menghampiri dua tamu yang tersungkur di lantai. "Tuan-tuan, silakan keluar dari cafe ini, kami tidak membutuhkan orang-orang mesum di sini."

Mesum? Bukankah tadi Daisy bilang bahwa kedua tamu itu mengatakan hal yang tak pantas, bukan melakukan perbuatan mesum?

Kemudian Daisy menghadap Derek. "Dan untukmu, Tuan, silakan duduk kembali di kursimu. Sekali lagi menggunakan kekerasan hanya karena mendengar suatu hal yang tidak baik tanpa bukti, antara aku akan melarangmu kembali ke cafe ini atau Val akan kupecat."

Derek menatapku sekilas, lalu ia duduk di kursinya. Daisy mengajakku kembali ke dapur.

"Hal tidak pantas apa yang diucapkan kedua tamu itu?" tanyaku.

"Kau tanya saja pada Derek, Val," kata Daisy. "Maaf aku harus mengancam seperti tadi, aku hanya khawatir Derek akan menghajar setiap orang yang ia dengar berkata hal buruk."

Aku mengangguk. Di dapur, aku segera menaruh cangkir kopi Derek yang untungnya masih panas ke atas nampan. Kubawa kopi itu kepada yang pesan dan kuletakkan di mejanya. Aku dan Derek sama-sama tidak mengucapkan sepatah kata apa pun, dan aku langsung kembali ke dapur.

.

.

Selesai kerja, aku ganti baju dan keluar dari cafe. Kulihat mobil hitam Derek terparkir di tempat parkir cafe. Seperti biasa, pemuda itu berdiri bersandar pada mobilnya. Aku menghampirinya. Menyadari aku datang, ia menoleh padaku.

"Derek," ujarku. "Apa yang kedua tamu itu ucapkan sehingga kau menghajar mereka?"

Derek menggaruk tengkuknya. "Bukan hal penting. Pulang sekarang?"

"Kalau bukan hal penting, kau tidak akan menghajar mereka berdua," kataku, agak mendesah. "Apalagi Daisy bilang keduanya membicarakan soal aku. Aku ingin tahu, Derek, hal tak pantas apa yang mereka bicarakan tadi?"

"Mereka bilang," kata Derek, ia meneguk ludah sebentar lalu melanjutkan, "mereka mengomentari soal tubuhmu. Mereka bilang, mereka ingin meremas buah dadamu, memegang pantatmu, mencium panas bibirmu, menelanjangimu. Mereka ingin menculikmu agar bisa melakukan itu semua terhadapmu. Aku mendengar itu, Val, aku mendengar semuanya."

Lagi-lagi aku tercengang. Aku tidak tahu yang mana yang membuatku tercengang: tentang ada tamu yang memikirkan hal mesum yang entah apa hanya mereka berdua saja atau lebih, atau tentang Derek yang menjadi emosi karena mendengar itu.

"Dan kau marah saat mendengarnya?" tanyaku, dan Derek mengangguk. Aku merasakan kedua bola mataku panas, kupikir aku akan menangis sebentar lagi. Kugenggam jaket Derek dan kubenamkan kepalaku di dadanya. "Terimakasih, Derek."

Air mataku tumpah perlahan, dan aku tidak mengerti kenapa aku menangis. Takutkah? Sedihkah? Terharukah? Senangkah? Aku tidak tahu. Bulir-bulir air mata mengalir begitu saja. Lalu kurasakan tangan kanan Derek membelai kepalaku dengan lembut, sedangkan tangan kirinya memeluk pinggangku.

Mungkin tidak sampai tiga detik kemudian sebuah mobil jip masuk ke tempat parkir. Itu jip Stiles, dan yang punya mobil meneriaki namaku dari jendela. Aku segera menarik diri dari tubuh Derek, dan pemuda itu melepaskan tangannya dariku. Buru-buru kulap setiap air mata yang tumpah di wajahku begitu Stiles dan Scott turun dari mobil jip.

Kedua pemuda yang umurnya setahun lebih tua dariku itu langsung menghampiriku dan Derek dengan wajah galak. Stiles langsung menarikku untuk menjauh dari Derek, sedangkan kakakku berusaha menonjok Derek. Tentu saja Derek berhasil menepis serangan Scott.

"Hentikan, Scott!" pekikku.

"Apa yang kau lakukan pada adikku, Derek?!" bentak Scott. "Dia menangis! Kau pasti telah melakukan sesuatu padanya!"

Apa? Dari mana Scott tahu kalau aku sedang menangis tadi?

Mendengar perkataan Scott soal aku menangis, Stiles menatap lekat wajahku dari dekat, ia melihat kedua mataku yang memerah. Jantungku berdegup sangat kencang karena wajah pemuda ini ada tepat di hadapanku. Dengan kedua tangannya ia mengusap pipiku yang masih basah habis menangis. Setelah mengusap pipi, Stiles mendekapku dalam pelukannya. Sungguh, kuharap ia tidak dapat mendengar suara detak jantungku yang begitu keras, gara-gara ia memelukku begitu erat.

"Matanya kelilipan, aku hanya ingin membantunya." Kudengar Derek mengatakan hal itu.

Itu diluar dugaan. Kupikir ia akan cerita soal apa yang terjadi di dalam cafe tadi. Tapi kalau ia cerita yang sebenarnya, Scott pasti akan marah padaku dan menyuruhku berhenti kerja di cafe. Aku tidak mau berhenti begitu saja, dan kupikir Derek berbohong untuk melindungi pekerjaanku.

Tunggu dulu. Derek berbohong. Manusia serigala bisa tahu kalau lawan bicaranya sedang berbohong. Berarti Scott juga bisa tahu—

"—aku tahu kau bohong," desis kakakku. Tuh, kan. "Apa yang sebenarnya terjadi?!"

Aku melepaskan pelukan Stiles. Kutatap Derek dari kejauhan. Kulihat ia juga sedang menatapku, entah maksud tatapannya itu apa: mungkin ia minta ijin padaku untuk menceritakan yang sebenarnya? Atau ia menyuruhku menceritakan sendiri? Entah.

"Scott," panggilku, dan kakakku langsung menoleh. "Dia hanya ingin menolongku."

"Val," panggil Derek, ia seakan ingin menghentikanku dari apa yang ingin kulakukan: menceritakan apa yang sebenarnya terjadi tadi.

Tapi aku sudah berniat untuk tidak berbohong pada kakakku. Jadi aku menceritakan semuanya. Aku cerita soal aku sering mendapat perlakuan mesum di cafe sejak jadi pelayan walau selalu ditolong oleh Daisy, sampai aku cerita tentang bagaimana Derek menolongku pertama kali dan yang hari ini.

Usai menceritakan semua itu, tidak ada satu pun dari ketiga pemuda ini yang mengeluarkan suara. Tapi Scott akhirnya memecahkan keheningan ini. "Val, kau harus berhenti dari pekerjaan ini."

"Aku ingin membantumu, dan mama, Scott," kataku.

"Aku tahu maksudmu baik, tapi aku lebih memilih kita hidup kekurangan daripada mengkhawatirkan adikku yang diperlakukan seperti pelacur oleh tamu-tamunya—meskipun hanya di otak mereka!" seru Scott. "Pilih Val, kau berhenti dari pekerjaanmu, atau aku akan mengadu pada mama. Yah, kalau kuadukan pada mama, kau juga akan dipaksa mama berhenti dari pekerjaanmu sih, tapi ditambah ceramah dari mama."

Kutatap Stiles yang ada di sampingku. Ia melihatku dengan tatapan sedih. Lalu kulihat pada Derek, wajahnya tanpa ekspresi. Terakhir kulihat pada Scott lagi, wajahnya begitu menampilkan amarah. Dan aku menyerah.

"Aku akan masuk ke dalam, aku akan bilang pada Daisy kalau aku berhenti," kataku.

Scott mengangguk dan mengatakan 'bagus'. Aku berjalan cepat berniat kembali ke dalam cafe lewat pintu belakang. Tetapi belum sampai di depan pintu, kulihat pas Daisy sedang menutup pintu itu.

"Val? Belum pulang? Mau kuantar?" tawar bosku.

Lalu kukatakan padanya kalau aku harus berhenti bekerja di cafenya. Kujelaskan padanya bahwa kakakku melarang. Daisy mengerti, ia tidak marah, ia membiarkanku keluar dari pekerjaan ini.

"Sekali lagi aku minta maaf, Daisy," kataku, sedih.

"Sebenarnya aku tidak kaget mendengar soal ini, entah kenapa aku sudah menduga hal ini akan terjadi cepat atau lambat," ujarnya sambil merogoh tasnya. "Malah, akhir-akhir ini aku sudah menyimpan ini untuk berjaga-jaga kalau hal ini terjadi." Daisy mengeluarkan sebuah amplop agak tebal dari tasnya, dan disodorkannya itu padaku.

"Apa itu?" tanyaku.

"Gajimu untuk bulan ini kubayar penuh. Dan aku memberimu bonus," kata Daisy sambil tersenyum. "Intip saja dulu isinya."

Kuraih amplop itu, kuturuti perkataan Daisy. Kubuka amplop itu dan melihat isinya. Baru kulihat sekilas, aku langsung menutupnya lagi dan kusodorkan padanya. "Ini terlalu banyak."

"Itu tidak terlalu banyak, Val, semuanya memang milikmu. Dua tahun bekerja denganku dan kau tidak pernah mengambil uang tip dari siapa pun. Semua tamu yang kau layani senang padamu, waktu kau masih jadi tukang masak di dapur pun orang-orang senang pada masakanmu, jadi mereka memberi tip-mu padaku. Dan semua yang ada di amplop itu adalah gaji ditambah tip selama dua tahun kau kerja di sini." Daisy tersenyum. "Ambil, Val, itu milikmu dan kau membutuhkannya."

Kulirik Daisy untuk yang terakhir kalinya, aku menyerah. Kumasukkan amplop itu ke dalam tas. Mengucapkan selamat tinggal pada wanita itu. Aku berbalik badan, dan baru melangkah dua kali, aku mendengar ia memanggil namaku.

"Kau tahu, Val, aku dikelilingi oleh orang-orang yang sayang padamu," kata Daisy.

Aku menoleh ke belakang, tapi kulihat ia juga sudah memunggungiku dan berjalan ke arah yang berbeda. Setelah itu aku kembali ke tempat parkir.

Hanya Scott, Stiles, dan jip Stiles yang kutemukan di tempat parkir. Derek dan mobilnya sudah tidak ada, mungkin ia sudah pulang lebih dulu. Kakakku menunggu di dalam mobil, sedangkan Stiles ada di luar mobil. Sahabatku itu tersenyum saat aku kembali pada mereka.

"Scott marah padaku?" tanyaku pada Stiles.

"Marah, ya. Padamu, tidak," jawab Stiles. "Dan aku setuju dengan kakakmu, kau harus menjauhi Derek. Mungkin dia baik padamu, tapi kita tidak tahu hal buruk apa yang sedang ia rencanakan."

Tidak. Aku tidak percaya akan perkataan Stiles soal Derek. Seperti yang kuyakini, Derek sudah membunuhku dari kemarin-kemarin kalau memang ia jahat. Tapi aku tahu Stiles dan Scott mengkhawatirkanku, jadi aku hanya mengangguk.

"Nah, ayo pulang," kata Stiles lagi. Tapi kami tidak langsung jalan ke mobil. Stiles memelukku, dan ia mencium keningku agak lama. Aku membelalakkan mataku. Saat Stiles melepaskan bibirnya dari keningku, aku menatapnya dengan tatapan tak percaya. Maksudku, Scott memeluk dan mencium keningku setiap hari, tapi Stiles tidak pernah memeluk apalagi mencium keningku—ia hanya sebatas menggandengku kalau perlu. "Oh, kau tahu, aku melihat Scott melakukan itu padamu tiap hari, dan aku jadi penasaran, soalnya aku tidak punya adik perempuan."

Aku mengalihkan pandanganku dari cengiran wajah Stiles.

Oh. Ternyata ia mencium keningku karena ia ingin tahu rasanya punya adik perempuan. Ia tidak memeluk aku sebagai perempuan, tapi sebagai adik.

Oh. Sepertinya aku sudah kesenangan duluan sebelum tahu apa maksud Stiles. Aku lupa, dia selalu suka Lydia.

Oh. Tentu saja, sekalipun Lydia memakaikan baju-baju dengan gaya gadis itu, aku tetaplah aku, dan Stiles tetap suka Lydia. Aku adalah adik Scott, dan Scott adalah sahabatnya, maka secara tidak langsung aku juga menjadi adik Stiles.

Aku paham. Harusnya aku tahu itu dari awal. Kenapa dengan inosennya aku bisa berharap kalau suatu saat Stiles akan suka padaku?

.

.

~TBC~

Next: #JustAFriend

.

.

A/N: Fanfict ini akan di-update setiap MOONday.