Seorang gadis berambut sewarna permen kapas sedang mendekap beberapa map dokumen, sambil berjalan menuju ruang yang tak asing lagi; ruang arsip. Dan terlihat, seorang pemuda berambut biru yang membawa dua dus berukuran sedang berisi map dokumen yang serupa, mengekor di belakangnya.

"Hei, Nona Setokai, apa tak masalah bila aku masuk kembali ke ruang arsip?"

"Jika kau bersamaku, itu tak akan jadi masalah. Lagi pula, kita ke sini karena para guru itu menyuruhku untuk meletakkan map-map itu di sini," jelas sang gadis Setokai.

"Mereka tidak akan curiga padaku?" tanya pria bersurai biru itu tidak yakin.

"Kau tak bisa berbuat macam-macam, kalau ada aku," tukas gadis itu cepat sambil menyunggingkan seringai kecil.

Dan pria bersurai biru itu tak dapat membalas perkataannya, selain menelan ludah.

.

.


Click!

.

.

Document named Negasi Semu created by Kie2Kei

+under licensed from Crypton Future Media Inc., Yamaha Corp., INTERNET Co. Ltd., PowerFX, AH Software, and Sony Music Distribution Inc.

.

Warning. This document contains typos, some abalism words, etc. Because just readers who know exactly about it.

.

Do you want to read it?

If you don't wanna read, you can push the back button.


.

.

"Hei, kau, tolong ambilkan map dari dus pertama," perintah sang gadis bermanik azure pada pemuda bersurai biru, sambil membenahi dan menyortir dokumen-dokumen yang akan dimasukkan kedalam brangkas data siswa.

"Aku punya nama, Megurine-chan," keluh pemuda tersebut sambil membawakan isi dari dus pertama.

"Jangan panggil aku begitu, Shion." Untuk sesaat, gadis ini; Luka Megurine, melirik tajam pemuda di sebelahnya.

"Lalu aku harus memanggilmu apa?" tanya pemuda itu sambil menggambil isi dus kedua, dan memberikannya pada Luka.

"Cukup panggil Megurine."

"Itu terkesan formal, kenapa tidak yang lain?"

"Bukankah beberapa hari lalu saat aku menemukanmu di ruang arsip ini, kau telah berjanji untuk melakukan apapun perintahku kan?"

Tak terdengar balasan dari pemuda itu; Kaito Shion, yang berdiri di sampingnya.

"Jika kau tidak patuh, aku akan mencantumkan namamu di lembar kenakalan siswa. Masa kau melupakan janjimu sendiri, Kaito Shion?" lanjut Luka sambil menolehkan kepalanya ke tempat Kaito berada.

"Tentu saja, Luka Megurine." Kaito menghembuskan nafas panjang. Ia tahu inilah kewajibannya sekarang, yaitu menuruti semua perintah Luka.

.

.

Luka memasukkan map terakhir ke sebuah brangkas data siswa. Setelah selesai, ia terdiam sejenak.

Kaito yang berada beberapa langkah di samping Luka mulai heran. Ia pun mengurangi rentangan jarak antara dirinya dan Luka.

"Kau kenapa?" Kaito menaikkan sebelah alisnya. "Bukankah sudah selesai?"

Hening. Tapi tak lama kemudian Luka menjawab, "Aku hanya teringat bahwa aku belum tau alasanmu menyusup ke ruang arsip kala itu,"

Kini giliran Kaito yang terdiam.

Luka melirik Kaito sekilas, lalu ia memfokuskan kembali pandangannya pada tempat semula.

"Apa karena dia?" tanya Luka kembali sambil mengarahkan telunjuknya pada brangkas di hadapannya, yang berlabel nama seorang siswi tahun ajaran pertama di sekolah ini.

Kaito terperangah. Luka mengembangkan senyum kemenangan.

Tanpa ampun, Luka kembali mencecar Kaito dengan pertanyaan dan pernyataan lainnya. Dan Kaito hanya bisa menjawabnya dengan pasrah.


.

.

Yak, inilah Kaito Shion. Pikirannya telah dikunci oleh suatu perasaan hangat yang memenuhi dadanya.

Hanya demi mengetahui data diri dari gadis incaran-nya, ia rela menjerumuskan dirinya kedalam masalah. Di mana saat itu; ia berada di ruang arsip ini tanpa seizin guru. Dan parahnya, Luka melihatnya sedang mendekap beberapa berkas dari brangkas yang berlabel nama gadis yang secara diam-diam ia kagumi.

Miku Hatsune.

.

.

Karena sebuah kebetulan atau karena bentuk keprihatinan Tuhan yang kasihan pada Kaito, ia dipertemukan dengan gadis itu; Miku Hatsune. Untuk pertama kalinya, Kaito akhirnya tau apa itu love at first sight.

.

.

Pada waktu itu, saat ia pergi sekolah. Tiba-tiba pedang kayunya yang sering ia pakai untuk latihan di Klub Kendo terjatuh di tengah jalan, pada saat ia menyeberang.

Tadinya ia mau mengambilnya kembali, sayangnya lampu penyeberangan sudah berwarna merah; yang menandakan bahwa siapa pun tak boleh menyebrang.

Tiba-tiba sebuah mobil melaju dan akan menggilas pedang kayu kesayangan Kaito.

Raut muka Kaito berubah panik dan gusar. Ia tak ingin melanggar aturan, dan ia juga tidak mau kehilangan pedang kayunya. Ia akan kerepotan bila pedang kayu tersebut rusak. Karena, pedang kayu itu dibelikan oleh ayahnya ketika ia memenangkan Juara I Lomba Kendo Se-provinsi untuk Remaja.

Pedang itu merupakan aset yang tak ternilai bagi Kaito, sebagian nyawanya terdapat di dalam pedang kayu itu. Walau terdengar hiperbolis, sejujurnya dia memang menyayanginya.

.

.

Tanpa diduga, sesosok bayangan segera menyambar pedang kayu tersebut dengan gesit, tanpa mempedulikan rambu dilarang menyebrang. Ia berlari begitu cepat, tepat 1 meter lagi mobil itu akan menggilas pedang kayu itu, sosok itu telah memungut pedang kayu milik Kaito dan berada di sampingnya. Syukurlah, pedang kayu Kaito pun dapat di selamatkan. Kaito hanya bisa menaikkan kedua alisnya dan terheran-heran.

Lalu sosok itu, sosok wanita yang berseragam sekolah serupa dengan Kaito, segera mengembalikan pedang kayu tersebut pada pemiliknya. Seulas senyuman muncul di wajah porselennya, "Lain kali senpai harus lebih hati-hati."

Kaito hanya termangu, dia masih memproses kejadian yang ia saksikan barusan. Rasanya, rentetan kejadian sebelumnya masih berputar di dalam otak Kaito.

"Kalau begitu, saya duluan, karena hari ini ada latihan pagi Klub Atletik," lanjutnya masih dengan seulas senyuman sambil mendahului Kaito dan bergegas pergi ke sekolah.

Kaito pun menatap kepergiannya. Berbeda dengan kedatangannya yang membuat Kaito tercengang. Entah kenapa, kepergiannya membuat kehangatan menyeruak di muka maskulin Kaito. Apalagi tiap mengingat senyumannya, jatungnya akan memompa darah lebih cepat dari biasanya.

Sayangnya, ia tak pernah tahu namanya. Sampai ia menanyakannya pada salah satu temannya yang mengikuti Klub Atletik. Dan untuk mengetahui data diri dari siswi ini, ia menumbalkan dirinya sebagai budak Luka karena risiko dari mengintip data siswa dan masuk ruang arsip tanpa izin.

Lagi pula ia tak mau tercatat sebagai murid yang berprilaku tak baik, karena sebuah kekonyolannya. Ia juga tidak ingin nama baik dirinya sebagai ketua Klub Kendo tercemar.


.

.

Miku Hatsune memang membutakannya.

Itu yang terbesit di dalam pikiran Luka. Kaito telah jatuh kedalam ruang semu bernama asmara.

"Kalau begini terus sepertinya kau tak akan pernah bisa mendapatkannya," komentar Luka setelah selesai mengintrograsi Kaito.

"Kau jangan mengganggapku remeh seperti itu." Kaito menghembuskan nafas panjang. Ia sedikit sebal dengan argumen Luka.

"Tidak, bukan begitu. Maksudku, seharusnya ada mediator yang membantumu untuk mendapatkannya," jelas Luka.

"Mediator? Maksudmu, seperti seorang cupid eh?"

"Ya."

"Lantas siapa yang jadi mediatornya?"

"Kau masih bertanya? Bukankah aku akan membantumu?" Luka bersedekap dan mengangkat kedua alisnya heran.

"Apa? Jangan memakai bahasa yang sulit dimengerti," protes Kaito yang tak percaya akan apa yang ia dengar.

"Dasar Bakaito! Sudahku bilang, aku akan membantumu." Suara Luka sedikit meninggi karena kesal. Perlu dicatat, bahwa Luka tidak suka mengulang kalimat yang ia katakan.

"Bakaito? Kau se-enaknya memanggilku..., tunggu, kau mau membantuku?"

"Tentu saja. Berapa kali harus kukatan sih." Luka menutup kedua kelopak matanya perlahan dan membukannya kembali untuk menahan rasa jengkelnya. Ia sebal dengan otak Kaito yang berkerja di bawah rata-rata. Dan ia jengkel dengan Kaito yang tidak peka bahwa Luka kadang tidak suka mengulang apa yang ia bicarakan untuk kedua kalinya.

.

.

Ketika mendengar jawaban dari Luka, mata biru gelap milik Kaito membulat dan memancarkan binar kesenangan.

"Terima kasih, Luka-chan." Tanpa sadar, Kaito menggenggam kedua tangan Luka sambil menyunggingkan senyum lepasnya.

Luka yang menatap Kaito dalam diam, hanya bisa merasakan kehangatan tangan Kaito yang menjalar di kedua permukaan telapak tangannya.

Tapi tak lama kemudian...

PLAKK!

Luka melepas genggaman Kaito dan memukul kepala si biru itu dengan tangan kanannya. Kaito pun meringis, "Kau kenapa sih?"

"Mana ada bawahan yang tak tau diri sepertimu," lanjut Luka dengan emotionless.

"Apa? Kau bilang apa Luka?"

"Ba-ka-i-to." Luka mengejek Kaito dengan mengeja nama ejekkannya.

"Argh, LUKAA!" Kaito meledak. Tapi, sesaat kemudian ia tertawa renyah.

Raut muka Luka berubah heran, "Kau kenapa?"

"Hanya konyol saja, tiba-tiba kita saling memanggil dengan nama yang tidak formal begitu," jelas Kaito yang masih tertawa.

Luka terdiam, ia baru saja melewatkan poin terpenting. Tanpa ia sadari, Luka membawa dirinya terasa begitu dekat dengan Kaito.

"Walau pun begitu, aku tetap menjadi atasanmu."

Kaito pun mengangguk perlahan. "Ya, aku tahu itu."

Luka menggit bibir bawahnya perlahan, "Apakah tak masalah bila, kita memakai panggilan ini sampai nanti?" ucapnya perlahan.

"Tentu," jawab Kaito dengan cengiran lebar khasnya.

Tanpa Kaito ketahui, Luka tersenyum tipis di dalam hatinya.

.

.


Sadar atau tidak, negasi itu mulai mendekatinya. Perlahan, tapi pasti.


.

.

TBC

.

.


Output dari Kei:

Walau sepertinya fic ini kurang peminat, saya usahakan update cepet buat para silent readers. :))

Hits-nya membuat saya melanjutkan fic ini, dan mungkin, saya akan fokus ke fic ini agar bisa ditamatkan(?) dengan baik.

Mungkin di-update kurang lebih 2 minggu sekali ato sebulan sekali(kalo lagi banyak urusan) setiap malam jum'at ato malam sabtu-an. LOL

Stay tune, okay...

.

.

Mind to review?