Naruto © Masashi Kishimoto

涙色 © Hanabi no Sakura Ft Reynaras

Romance, Hurt/Comfort

Rated M

Naruto - Tsunade

Sesuai dugaan Hidan, Yahiko dan Juugo akan memimpin diposisi terdepan. Keduanya merupakan atlet basket di Konoha High School, dan sudah seharusnya sebagai atlet basket, keduanya berlari melebihi kecapatan rata-rata. Sementara Kisame yang sejujurnya memiliki kekuatan lebih di renang, tertinggal di belakang bersama dengan Sasori yang memang tidak ada niatan untuk ikut lomba sama sekali. Salahkan teman-teman kelompoknya yang memilih untuk menonton Naruto dibanding membantunya berlari.

"Tsunadee! Kuserahkan padamu!"

"Tsunaaa .. tunggu akuu. Aku tidak akan kalah dari mu!"

"Kejaar aku!, aku tidak akan mengalah untuk yang satu ini!"

.

.

.

Yahiko dengan sigap memberikan tongkat kayu itu pada Tsunade, pelari kedua yang akan mewakili kelompok Naruto untuk berlari menuju pos berikutnya. Di belakangnya, kelompok Juugo bersiap untuk menyusul setelah Juugo memberikan tongkat kayunya. Sementara Karin dan Kakuzu yang akan mewakili kelompok Kisame dan Sasori, masih berteriak menyemangati teman mereka yang sudah nampak kelelahan.

Hutan yang biasanya sunyi sepi dan begitu tenang, berubah menjadi arena olimpiade dengan sorak-sorai para penonton yang menyemangati para pelari menjadi bukti nya. Sengitnya perlombaan terus berlanjut, Tsunade masih memimpin di depan, diikuti dengan Dan yang semakin menipis jarak antara keduanya. Dibelakang mereka Karin yang kebetulan memiliki kemampuan lebih sebagai atlet Voli di sekolah, tampak tidak kesusahan untuk segera menyusul Dan. Tidak perlu menanyakan kabar Kakuzu di belakang yang berlari sembari mengumpat akibat rekan sebelumnya berlari sangat lamban.

"Pelari ketiga! Bersiap di posisi!" Nagato memberi aba-aba bagi pelari ketiga untuk segera berdiri di garis di mana tongkat akan diserah terimakan.

Deidara berdiri di belakang Naruto yang masih belum bergerak dari tempatnya. Pasalnya, sudah menjadi kesempatan bahwa Naruto akan menjadi pelari ketiga dalam permainan ini, namun kenapa ia belum juga bergerak?

"Oy, Naruto! Kenapa melamun! Cepat bersiap di posisi!"

"H-hai.." Sejujurnya, mereka tidak perlu membandingkan kecepatan lari mereka dengan Naruto. Jika kelompoknya sudah memimpin di depan, sudah dapat di prediksi jika kelompok Naruto adalah pemenangnya, berhubung Naruto sangat suka berlari dan termasuk dalam atlet lari peraih medali emas di sekolah lamanya. Namun kali ini ia harus berpasangan dengan Tsunade, seorang gadis yang lebih tua dua tahun darinya. Bisa kalian bayangkan betapa gugupnya Naruto?

"Naruto-kun, hayaku!" Dari kejauhan, Tsunade mengeluarkan suaranya untuk membangunkan lamunan Naruto.

"D-dia memanggil namaku.. Dengan sufix.. Kun?" Bukannya bergerak, Naruto semakin berkeringat mendengar panggilan Tsunade. Untuk pertama kalinya ia mendengar Tsunade memanggil namanya. Tsunade tidak pernah memanggil Nagato dengan sebutan Nagato-kun.. Bagaimana ia bisa memanggilku Naruto-kun?

"Naruto-kun!"

"H-HAI! YOSH! AKU BERSIAP!" Bagai bara yang sulut api, Naruto tidak berpikir dua kali untuk merekatkan kedua tali sepatunya sebelum ia berlari menuju posisi siap. Untuk sesaat ia melirik ke arah Nagato yang sedang menyeringai kearahnya. Naruto membalas seringan kakaknya dengan tawa, sembari ia menunggu kehadiran Tsunade yang tampaknya sudah semakin dekat. Nagato yang melihat perubahan besar pada Naruto tidak kuasa bangga dengan dirinya sendiri. Tidak sia-sia ia membawa Naruto kemari. Setidaknya ia sudah bisa membuat Tsunade dan Naruto saling bicara bukan?

Jangan kalian pikir, Nagato tidak mengetahui rahasia kecil adiknya yang sudah menyukai teman sekelasnya sedari lama. Nagato tau betul bagaimana perasaan adik semata wayangnya pada Tsunade, sejak setahun yang lalu ia menemani Naruto lari pagi saat Naruto sedang mempersiapkan pertandingan musim gugur di sekolahnya. Saat itu Tsunade yang kebetulan sedang berlari ditaman bertemu dengan keduanya, walaupun akhirnya hanya Nagato yang bertegur sapa dengan Tsunade. Sejak saat itu, pandangan Naruto tidak pernah lepas dari Tsunade, dan memilih datang untuk berlari di waktu yang sama, hampir setiap hari. Nagato tidak berniat untuk memberi tau Naruto, berhubung Naruto sedikit kurang peka dengan sekitarnya.

Biarlah untuk yang satu ini, Nagato akan membantunya dari jauh.

"Naruto-kun, bersiap!"

"Hai!"

Baru saja Tsunade akan memberikan tongkatnya pada Naruto, saat sesuatu yang keras menghantam wajahnya.

"Akh!"

"Tsunade nee-san!" Naruto sungguh tekejut saat mendapati Tsunade terantuk batu, hingga membuat dirinya kehilangan keseimbangan hingga jatuh. Tongkat itu menggelinding menjauhi keduanya, saat Naruto mendekati Tsunade dan menggenggam tangannya.

"Naruto-kun!.. Ambil tongkat itu dan lanjutkan pertandingannya!"

"Tidak mungkin! Kau terjatuh, nee-san!"

"Baka! Sudah biasa bagi manusia untuk jatuh! Suigetsu sudah menggantikan Dan didepan! Sekarang pergilah! Aku akan membencimu seumur hidup jika kau berhenti hanya karena aku, Naruto-kun!"

"N-nee-san.."

"Naruto-kun.. Aku percaya padamu."

Tatapan galak Tsunade tak kuasa membuat Naruto menurutinya. Sembari mengeluarkan beribu maaf, Naruto melesat mengambil tongkat kayu itu, dan berlari sekencang yang ia bisa. Jika Tsunade sudah berkata bahwa ia percaya padanya, maka tidak ada satupun celah bagi orang lain untuk mengalahkan Naruto.

"YOSSHHHH! AKU PERGI!"

Semua orang yang berada di dekat Naruto dapat merasakan raut wajahnya berubah menjadi sangat serius. Entah dari mana, Naruto yang terlihat malu-malu dan lebih banyak diam berubah menjadi garang dan bersemangat, bahkan dengan kecepatan seperti itu sangat mudah untuknya mengejar Suigetsu yang sudah jauh di depan.

"Anak itu.." Tsunade tidak menyangka jika Naruto adalah seorang pelari yang begitu cepat. Seakan lupa dengan perihnya luka di kedua lutut, Tsunade menatap Naruto dengan takjub.

Tidak hanya Tsunade, para fangirls Naruto tidak ketinggalan meneriaki namanya dengan sangat agresif.

"Kyaaa, Ganbatte Naruu!"

"Kamu pasti bisa Naruto-kun!!"

Meski berlari dari urutan terakhir, Naruto mampu mengimbangi bahkan menyusul Itachi di urutan ke-tiga. Tak butuh waktu lama pula bagi Naruto menipiskan jarak dengan Utakata dan saat ini bersaing ketat dengan Suigetsu di Posisi pertama. Tidak ada yang mau mengalah di antara mereka ber-empat, sampai pada akhirnya Naruto berhasil melewati Suigetsu dan menjadi pemenang perlombaan lari estafet ini. Sorak sorai untuk pria bersurai pirang ini terus berdatangan. Bahkan pria yang bisa disebut paling muda dari semuanya mendapat hadiah pelukan.

"Naruto-kun, selamat yah tim kita menang!"

Mei Terumi tiba-tiba saja datang dan memeluk Naruto, sontak saja wanita bersurai merah ini jadi bulan-bulanan dari seluruh wanita yang ada disana.

"Hoi, Ototou. Selamat kau menang!" Beruntung bagi si bungsu Namikaze sang kakak datang dan menghentikan pelukan Mei.

"Naruto-kun, selamat. Kau memang hebat," Dengan senyuman manisnya, Tsunade datang menyelamati Naruto yang tentu saja membuat si empunya iris sapphire itu bersemu merah.

"Umm.. Tsunade nee-san, arigatou. Bagaimana keadaanmu, apa kakimu baik-baik saja?"

"Tidak usah dipikirkan, aku baik-baik saja. Ayo kita lanjutkan permainan selanjutnya."

"Ihhh, kalian mengganggu saja deh," Gerutu Mei. Bahkan Naruto yang sedang dalam pelukan nya tidak bergeming, Naruto lebih memilih membalas ucapan dari Tsunade.

"Haha, sudah Mei. Lepaskan adikku sekarang. Permainan selanjutnya akan segera dimulai." Mau tidak mau, Mei menuruti permintaan Nagato.

"Nagato no baka.. Awas kau ya!" Teriak Mei yang disusul dengan tangan mungilnya yang memukul lengan Nagato ditanggapi dengan tawa manis dari Tsunade. Tentu saja Naruto yang baru pertama kali melihat tawa manis itu dari dekat dibuat berdesir hatinya.

"Minna-san!, perlombaan lari estafet selesai dan pemenangnya adalah adikku yang paling tampan, Naruto. Peserta berikutnya silahkan bersiap. Kalian hanya punya waktu istirahat 10 menit!"

Teman-teman Nagato yang sebagian menjadi penonton di permainan pertama kali ini tengah bersiap untuk menjadi pemain di permainan berikutnya. Beberapa orang terlihat sibuk mengenakan kaos sekedarnya dan celana pendek, karena permainan kali ini akan dilakukan di danau dekat Hutan Nara. Berhubung semua akan masuk ke dalam air, orang-orang seperti Hidan, Samui, Kisame dan Suigetsu yang akan turun tangan. Dengan kemampuan Kisame dan Suigetsu yang sama-sama pernah mendapat medali emas di tahun sebelumnya dalam olahraga renang, teman-teman satu timnya sungguh mengharapkan poin besar dari keduanya.

Sedangkan Naruto yang masih sedikit terengah-engah duduk di bawah pohon, mencoba menghirup setiap molekul oksigen yang dikeluarkan pohon ketika bernafas. Sorot matanya masih mengamati Tsunade yang saat ini tengah dirawat oleh seorang teman dekatnya. Dari yang Naruto dengar, namanya adalah Shizune.

"Hoi, Tsuna! Kau baik-baik saja kan? Jangan berlagak sok kuat," Sebagai ketua yang bertanggung jawab dalam tim, tentu Hidan mengkhawatirkan Tsunade. Tapi bukan Hidan namanya, jika ia terang-terangan mengutarakan rasa khawatirnya. Ia lebih suka menguji kesabaran Tsunade dengan cara meneriakinya.

"Hah! Ini bukan apa-apa. Lagipula, aku tidak akan mengikuti perlombaan apa-apa setelah ini," Balasan Tsunade memang terdengar biasa saja bagi yang lain, tapi tidak bagi Naruto, dalam lubuk hati nya dia sangat berharap bisa berdansa dengan gadis itu.

"Luka Tsunade tidak parah, Hidan. Aku sudah memberinya obat merah, yah paling tidak Tsunade masih bisa ikut berdansa nanti malam," Ucapan Shizune barusan membangkitkan asa dalam diri Naruto, tak banyak yang memperhatikan saat ini sedang senyum-senyum sendiri.

Tak lama kemudian, atensi mereka kembali tertuju pada sosok bersurai merah yang saat ini sedang berbicara lewat pengeras suara.

"Yo Minna! istirahat sudah berakhir, aku akan umumkan peraturan perlombaan yang kedua. Masing-masing tim wajib mengirimkan dua orang perwakilan, perlombaan akan di mulai disini, lalu peserta pertama dari masing-masing tim harus berenang sampai ke sisi danau di seberang sana. Peserta kedua akan menunggu dengan sampan kecil di seberang. Lalu setelah kalian sampai disana kalian harus menaiki sampan dan kembali lagi kesisi tempat aku berdiri. Jadi, bisa di bilang ini adalah perlombaan renang sekaligus balap sampan, jika ada pertanyaan kalian bisa sampaikan sekarang."

Masing-masing tim mempersiapkan diri, para perenang hebat yang mengikuti perlombaan ini sudah teruji, karena mereka memang berasal dari klub renang dan menjadi andalan bagi KHS, yang menjadi masalah adalah siapa diantara mereka yang memiliki cukup tenaga untuk mendayung sampan. Masing-masing tim di beri waktu 10 menit untuk mengatur strategi.

"Hidan, aku kira ini adalah perlombaan renang biasa. Kenapa si baka Nagato merubah peraturan nya?" Gerutu Deidara.

"Hahh, biarkan saja lah! Lagipula dari awal kita sudah sepakat menjadikan dia ketua acara liburan kita."

"Deidara benar, si rambut merah sialan itu selalu saja seenak jidat nya."

"Haha sudahlah, kita nikmati saja liburan kita ini. Lagipula tujuan kita untuk bersenang-senang kan."

Di tengah perdebatan Naruto hanya diam saja mendengarkan sambil sesekali sorot mata nya memandang Tsunade. Salahkan kecantikan Tsunade yang membuatnya tidak bisa berpaling.

Kini ke empat peserta renang sudah berada di garis start dan menunggu aba-aba dari Nagato. Bunyi peluit menjadi tanda di mulai nya lomba ini, Hidan, Kisame, Shuigetsu, dan Samui melompat terjun dan mulai melakukan renang gaya bebas. Sementara itu Deidara, Juugo, Kakuzu, dan Yagura yang berada di sisi seberang danau menyemangati rekan-rekan nya.

Suhu dingin menjadi tantangan tersendiri di perlombaan kali ini, selebih nya ke empat perenang ini tidak mengalami kesulitan sama sekali. Sejak awal Kisame berhasil memimpin di posisi pertama, di susul Samui dan Shuigetsu. Sementara Hidan tengah berusaha keras mengejar ketiga nya.

Meskipun awalnya Hidan berada di posisi terakhir, ia akhirnya melewati Samui dan mensejajarkan diri dengan Shuigetsu. Pria dengan wajah stoic ini berusaha membalas rival abadi nya yaitu Kisame.

Kedua nya tidak ada yang mau mengalah, jarak diantara mereka hanya beberapa inci saja. Dramatis Hidan berhasil menyusul Kisame, pada pertandingan mereka sebelum nya tak pernah sekalipun Hidan menang.

"Yoshaa! Kisame aku mengalahkanmu!" Teriak Hidan sesaat setelah sampai di atas sampan

"Khe, ingat skor kita masih 50-49 dan aku masih unggul 1 kemenangan," Balas Kisame.

Hidan dan Deidara sudah mulai mendayung sampan mendahului peserta yang lain. Kisame dan Juugo sudah memulai perlombaan, disusul pasangan Samui Kakuzu serta Shuigetsu dan Yagura. Para lelaki KHS memang tidak berpengalaman mendayung, namun bukan mereka namanya jika tidak bermain gengsi satu sama lain. Bagaimanapun masing-masing dari mereka ingin terlihat hebat di depan gadis-gadis.

"Kakuzu, dayung yang benar! Sial lihat mereka sudah jauh."

"Kalau begitu Bantulah aku! Jangan cuma teriak seperti itu!"

Pasangan Samui dan Kakuzu terlihat agak kesusahan, posisi mereka sekarang berada di urutan terakhir. Hidan dan Deidara masih memimpin di depan, diikuti oleh Kisame dan Juugo yang membayangi mereka. Tenaga kedua pasangan itu seperti nya tak terbatas.

Rekan-rekan satu tim mereka mendukung dari pinggiran danau, meneriaki setiap pria tangguh yang bermain melawan air dan tongkat dayung di genggaman mereka. Nagato masih sibuk dengan pengeras suara di tanganya, berlaga seperti komentator sepak bola di pertandingan piala dunia. Namun dari sekian banyak orang yang melihat pertandingan, Naruto tidak berfokus ke arah sana.

Ia menyadari sesuatu yang janggal dari belakang sampan Kakuzu dan Samui yang masih berjuang di urutan terakhir. Dalam sekali tatap, sepertinya ada seekor hewan buas yang mengikuti sampan Kakuzu, entah apa itu Naruto tidak begitu tau, yang pasti ia harus segera menghentikan pertandingan ini sebelu-

"Kakuzu di belakangmu!"

Belum sempat berbalik, sampan Kakuzu sontak terguling akibat serangan dari hewan buas yang mirip seperti buaya. Nagato segera memanggil orang-orang mereka untuk menolong Kakuzu yang berenang sekuat tenaga ke pinggiran danau. Samui yang sepertinya sudah terlalu lelah mulai menunjukan tanda-tanda akan pingsan, terlebih setelah merasakan kakinya yang sempat di gigit oleh buaya yang seharusnya tidak ada di danau itu.

Insting Naruto langsung bergerak untuk membantu Samui naik ke daratan. Dirinya langsung menceburkan diri ke danau, melukai kepala buaya itu hingga ia melepaskan gigitannya dari kaki kanan Samui. Naruto menarik Samui yang sudah lemas dikelilingi oleh cairan merah yang mewarnai permukaan air. Sayangnya, ide gila Naruto membuat karnivor itu berontak dan juga mengigit lengan kanan Naruto.

"Akh!"

Samui berhasil ditarik oleh Nagato, sedang orang-orang suruhannya langsung menjala mulut buaya itu. Beberapa orang lainnya langsung menelpon pihak hutan untuk menangai urusan buaya ini.

"Naruto!" Nagato segera menangkup tubuh Naruto yang lemas di pinggir danau. Semua teman-teman yang berada di sekitar langsung dibubarkan detik itu juga, seiring dengan dibawa perginya Samui dan Naruto ke klinik terdekat.

"Aku tidak apa-apa, Nii-san."

"Tidak apa-apa bagaimana! Lihat lenganmu tertusuk sangat dalam!"

"Aku tau, tapi tolong jangan hentikan acaramu hanya karena aku."

"Dasar bodoh. Acara ini tidak lebih penting daripada adikku!"

"Nii-san.."

"Sudah diam saja! Aku akan ikut denganmu ke klinik!"

Kegiatan itu berakhir dengan berangkatnya Naruto, Nagato, Samui dan Karui yang diminta untuk mendampingi Samui. Namun sebelum mobil ambulans itu berangkat, Tsunade yang entah mengapa sangat mengkhawatirkan Naruto mengejutkan Nagato dengan permintaannya untuk ikut dengannya.

"Kau yakin ingin ikut?"

"Tentu saja. Aku khawatir dengan Naruto!"

"Kau.. benar Tsunade kan?"

"...eh?"

"Tidak apa, tidak biasanya kau mengkhawatirkan orang lain selain Dan."

Tsunade tidak menjawab. Nagato juga tidak pernah menolak Tsunade untuk ikut dengannya, akhirnya ia memutuskan untuk tidak peduli dan tetap naik ke mobil, duduk di samping Naruto yang memasang raut terkejut dan bingung.

"Nee-san?"

"Hm, aku ingin memastikan kau baik-baik saja. Sekarang jangan banyak bicara."

"U-um.."

Sebuah tangan mungil itu menyusup di balik lengan kekar Naruto, mengambil alih jemari yang sedang menggengam lengan lainnya yang terluka. Naruto tidak merepon apapun selain mempererat genggaman mereka. Ia tidak peduli dengan pandangan Nagato yang sedang menahan senyum ke arah mereka, ia tidak peduli dengan segala mata yang dari jauh mengawasi mereka, bahkan ia tidak peduli sikap aneh Samui dan Karui yang seakan meneriaki Tsunade. Naruto hanya merasa hangat. Genggaman itu sama seperti genggaman ibunya, sama seperti suasana rumah yang selalu ia dapatkan dari kedua orang tua dan kakaknya.

Naruto hanya merasa tenang.

"Nee-san.."

"Hm?"

"Arigatou."

Yoo Minna-san! Chap nya update lagi nih, gimana ? semoga kalian suka yaah :3

Sedikit bocoran, untuk Fict Hana "Mekarnya Sakura setelah 10 Tahun Kematianmu" sudah mulai Hana tulis lagi, semoga bisa di update secepatnya..

Balas Review,

Uzumaki121 : Ini udah lanjut yaaa :3

Uyab4869 : suka aja sama pair ini,

Fandhi-kun : ini sudah di lanjutt yaa

Paijo Payah : Jangan, kalau terlalu manis nanti diabetes xoxo :3